13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Orang Tua Itu Membangun Jembatan Sendiri Supaya Anak-Anak Mereka Bisa ke Sekolah

Jaswanto by Jaswanto
September 2, 2023
in Khas
Para Orang Tua Itu Membangun Jembatan Sendiri Supaya Anak-Anak Mereka Bisa ke Sekolah

Warga Desa Ringdikit, Ularan, dan Lokapaksa gotong royong membangun jembatan | Foto: Dok. Jaswanto

SEORANG anak laki-laki usia Sekolah Dasar mengendarai sepeda bermerek Rally Robinson—buatan Inggris—dengan susah payah untuk berangkat ke sekolah. Sepeda itu ukurannya terlalu tinggi untuk anak seusianya. Kakinya yang pendek, sekali lagi, harus susah payah menjangkau pedal sepeda. Belum lagi ketika sepeda berhenti, pantat harus berada di batang besi sepeda agar kaki bisa menjangkau tanah.

Lintang terpaksa mengendarai sepeda orang dewasa itu, selain jarak rumah ke sekolahnya sangat jauh, juga karena kendaraan itu satu-satunya yang keluarganya punya. Bukan hanya soal sepeda dan jarak sekolah yang menjadi masalah, tapi juga medan yang harus dilaluinya saat berangkat ke sekolah adalah hutan belantara, genangan air, sampai ancaman yang paling ekstrem: habitat buaya.

Ya, di atas adalah salah satu fragmen dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kisah dalam novel yang telah difilmkan tersebut memang terinspirasi dari kisah nyata dengan beberapa hal yang—tentu saja—didramatisasi. Akan tetapi, meminjam apa yang telah dituliskan Ahmad Khadafi dalam tulisan Saat Anak-Anak Pemberani Pergi ke Sekolah, “ini bisa dijadikan gambaran bahwa kadang ada hal yang dilupakan dari sekadar kebutuhan pendidikan untuk setiap anak Indonesia, yakni akses pendidikan.”

Benar memang. Acap kali pemerintah lupa bahwa berbicara soal pendidikan tentu tidak hanya berhenti pada sistem, kurikulum, sertifikasi guru, atau insfrastruktur sekolah. Lebih dari itu, juga menyangkut soal akses sekolah.

Percuma rasanya sekolah dibangun dengan megah—atau sistem dan kurikulum dirancang serapi mungkin—tapi jangkauan lokasinya terlalu berisiko bagi anak-anak. Meski pada kenyataannya tidak sampai sedramatis seperti yang Lintang hadapi, akan tetapi tetap saja membuat miris menyaksikan anak-anak harus bertaruh nyawa hanya untuk berangkat ke sekolah.

Para siswa SDN 5 Ringdikit saat menyeberang Sungai Saba / Foto: Dok. Kardian, 2023

Itu yang terjadi dengan anak-anak dari SD Negeri 5 Ringdikit, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali. Berbeda dengan Lintang yang kisahnya agak dibumbui fiksi Andrea Hirata, kisah anak-anak yang tinggal di tiga desa, yakni Ringdikit, Ularan, dan Lokapaksa itu, benar-benar nyata.

Setiap hari, saat berangkat dan pulang sekolah, mereka akan melepas sepatu begitu sampai di sisi Sungai Saba—sungai yang membelah Desa Ringdikit, Ularan, dan Lokapaksa—dan menyeberangi sungai selebar 20 meter itu tanpa pegangan apa-apa. Itu jika musim kemarau. Jika musim hujan, dan arus sungai begitu deras, maka sudah bisa dipastikan bahwa beberapa anak ini tidak akan masuk sekolah.

“Setiap hari harus lepas sepatu. Sebelum nyeberang lepas sepatu; setelah nyeberang pakai sepatu. Pulang juga begitu,” kata Komang Arya Arta, siswa kelas 6 SDN 5 Ringdikit, Sabtu (2/9/2023) pagi.

Bocah 12 tahun itu bercerita, meski dengan kondisi demikian, dia dan teman-temannya selalu bersemangat setiap kali berangka ke sekolah, sekalipun itu musim hujan. Jika ada siswa yang masih kecil, beberapa siswa yang sudah besar akan menggendong adik-adik kelasnya menyeberangi sungai.

Seorang siswa menggendong kedua adiknya saat menyeberangi Sungai Saba / Foto: Dok. Kardian, 2023

“Kalau musim hujan dan arus sungai deras, kami usahakan tetap masuk sekolah, meski harus menempuh jarak yang sedikit lebih jauh dan terpaksa harus melewati jembatan itu,” terangnya, sambil menunjuk jembatan gantung yang sudah lapuk.

Anak-anak dari ketiga desa tersebut tak punya pilihan lain, karena memang tidak ada sekolah yang lebih dekat. Satu-satunya sekolah terdekat dari dusun mereka tinggal hanyalah SDN 5 Ringdikit di Dusun Rawa, Desa Ringdikit, yang letaknya sangat terpencil, di tengah sawah, jauh dari pemukiman warga.

Sekolah Dasar yang dibangun sejak Orde Baru itu, menurut I Nyoman Aryadha, Kepala SDN 5 Ringdikit, kebanyakan siswa berasal dari Desa Ularan dan Lokapaksa, dua desa yang terletak di seberang sungai. “Total siswa 45 sekarang, dari kelas 1 sampai kelas 6,” imbuhnya.

Jembatan gantung semi permanen yang dibangun pemerintah tahun 2017 / Foto: Dok. Jaswanto, 2023

Kisaran tahun 2016, kisah anak-anak ini sebenarnya sudah ramai diberitakan. Bahkan, pada tahun 2017—setelah pemberitaan di berbagai media massa tentunya—melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Bali, pemerintah membangun jembatan gantung dari kayu yang menghubungkan Dusun Bukit Sari, Desa Lokapaksa, dengan Dusun Rawa, Desa Ringdikit.

Kondisi jembatan gantung saat ini / Foto: Dok. Jaswanto, 2023

Akan tetapi, jembatan yang dibangun dengan anggaran mencapai Rp150 juta tersebut, hari ini kondisinya sudah menakutkan. Ada lubang menganga lebar di ujung jembatan. Sedangkan kondisi papan kayunya, tampak lebih cocok digunakan sebagai bahan bakar merebus ubi daripada alas jembatan.

Dengan segala keterbatasan, anak-anak kecil ini tetap berangkat sekolah. Tak tampak wajah kesusahan atau khawatir. Kesusahan, lebih tepatnya kecemasan, sering kali justru muncul dari orang-orang dewasa. “Saya nggak takut, sudah terbiasa,” ucap Arya.

Anak-anak tetap saja pada tabiatnya sebagai anak-anak, merasa bahwa perjalanan berat yang mereka lalui justru menjadi petualangan baru yang mengasyikan, sekalipun tentu saja di bawah pengawasan orang tua yang selalu waspada terhadap keselamatan anaknya.

“Sebenarnya ini sudah terjadi sejak dulu—sejak saya masih sekolah di sana,” ujar Dewa Ketut Darmayasa, warga Desa Lokapaksa, alumni sekaligus wali murid SDN 5 Ringdikit, kepada tatkala.co, Jumat (1/9/2023) siang. Dewa bercerita bahwa ia juga pernah mengalami apa yang dialami oleh anaknya kini. “Dulu saya bersama teman-teman sampai telanjang bulat, supaya seragam tidak basah,” kenangnya, sambil tertawa.

Sebagai orang tua, Dewa sadar bahwa akses sekolah anaknya sangat berbahaya. Ia merasa khawatir, cemas, setiap kali musim hujan. Oleh karena itulah, bersama wali murid lainnya, ia berinisiatif untuk membangun jembatan semi permanen—di atas Sungai Saba—yang menghubungkan Desa Ularan dan Lokapaksa dengan Dusun Rawa, Desa Ringdikit, tempat SDN 5 berdiri.

Kekuatan Gotong Royong

Siang itu, di tepi Sungai Saba, puluhan warga Dusun Rawa, Ringdikit, Desa Ularan, dan Dusun Bukit Sari, Lokapaksa, beramai-ramai mengumpulkan batu-batu sungai ke tepian. Batu-batu tersebut akan digunakan sebagai fondasi jembatan yang mereka kerjakan sejak dua bulan yang lalu itu. Tak hanya laki-laki, para ibu-ibu—bahkan anak-anak—juga ikut bekerja.

Perlu diketahui, pembangun jembatan tersebut dikerjakan secara swadaya, gotong royong, oleh para wali murid SDN 5 Ringdikit. Mereka mengumpulkan dana, dari iuran sampai menjual kupon makanan, untuk membeli material seperti besi, semen, dan pasir. Dan ini yang mengharukan sekaligus heroik, tujuan pembangunan jembatan tersebut adalah supaya anak-anak mereka aman saat berangkat sekolah.

“Ini untuk anak-anak kami. Sebab, menuntut ilmu itu penting. Kami tidak mau kalau anak-anak bolos sekolah gara-gara tidak bisa menyeberang sungai,” ujar Kompyang Dangin, warga Desa Ularan sekaligus wali murid SDN 5 Ringdikit.

Warga gotong royong membangun jembatan / Foto: Dok. Jaswanto, 2023

Pentingnya pendidikan anak bagi warga Ringdikit, Ularan, dan Lokapaksa, telah mendorong mereka—rata-rata berprofesi sebagai petani—untuk membangun jembatan sendiri, tanpa menunggu uluran tangan dari siapapun. Para wali murid itu rela mempertaruhkan waktu, biaya, dan teganya, demi kenyamanan anak-anak mereka dalam menuntut ilmu.

Seolah mereka mengerti bahwa, seperti sajak penyair Jerman Friedrich Schiller (1723-96), “hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.” Dan mereka seolah juga paham, bahwa perkembangan sebuah peradaban memang tidak bisa lepas dari campur tangan dunia pendidikan.

Pembangunan jembatan secara swadaya seperti ini bukan yang pertama kalinya. Dulu para warga sudah sempat membangunnya, tapi tidak kuat menahan arus sungai yang deras.

“Dulu ada tapi sudah rusak. Kami buat jembatan darurat dari kayu supaya siswa bisa nyebrang. Tapi karena arus sungai besar, banjir, jembatan darurat hanyut. Tidak ada jembatan lagi. Akhirnya muncullah inisiatif untuk gotong royong,” terang Perbekel Desa Ringdikit, Putu Sumadi, sebagaimana dikabarkan koran Bali Express, Selasa (29/8/2023) siang.

Warga mengumpulkan batu sungai / Foto: Dok. Jaswanto, 2023

Ia menambahkan, warga desa terpaksa iuran karena menurutnya Dana Desa tidak bisa digunakan untuk membantu pembangunan jembatan ini. Pada tahun 2020, menurut Sumadi, pembangunan jembatan ini sudah dianggarkan. Namun tiba-tiba anggaran tersebut hilang dan berdampak pada batalnya pembangunan.

“Kemungkinan karena korona itu hilang. Kalau tidak salah Rp1,5 miliar dari pusat. Kami berharap persoalan ini bisa segera diatasi. Kami prihatin dengan siswa-siswa yang harus berjuang untuk ke sekolah,” ungkap Sumadi.

Sementara itu, menurut Dewa Ketut Darmayasa, berdasarkan hitungan-hitungan di atas kertas, jembatan dengan panjang 29 meter itu, jika dibangun secara permanen, membutuhkan dana sampai 250 juta. “Karena kami tidak punya dana, maka cukup dibangun semi permanen aja dulu,” kata koordinator pembangun jembatan itu. Ia menambahkan, untuk sementara waktu, alas jembatan akan dibuat dari bambu.

Sampai sejauh ini, dengan dana yang sudah terkumpul, warga baru bisa membuat tiang-tiang penyangga jembatan. Tiang-tiang itu, selain menggunakan batu sungai sebagai fondasi, mereka juga menggunakan ban-ban mobil bekas yang disatukan dengan menggunakan cor beton.

“Kalau ada dananya, paling sebulan sudah jadi ini,” ujar Dewa. Benar. Untuk saat ini, kendala yang mereka hadapi hanya persoalan dana. Mengenai tenaga kerja tak ada masalah. Banyak warga yang membantu.

Maka dari itu, sembari tetap membangun jembatan sendiri, warga juga berharap kedatangan seseorang semacam Don Vito Corleone dalam The Godfather (1969) Mario Fuzo atau sosok pemimpin, pemangku kebijakan, yang dapat membantu mereka menyelesaikan masalah ini.[T]

Tags: balibulelengPendidikanSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dan Jalan Panjang Penetapan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2023

Next Post

Perjalanan Hidup, Perjalanan Puitik; Metamorfosis Frans Nadjira dari Jendela dan Sesudahnya

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Bukan Liyan, Lebur Tiada Jarak:  Faisal Baraas dalam Leak

Perjalanan Hidup, Perjalanan Puitik; Metamorfosis Frans Nadjira dari Jendela dan Sesudahnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co