6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Dudik Ariawan: Melukis di Atas Lontar dan Mengubah Hobi Menjadi Profesi

Jaswanto by Jaswanto
July 8, 2023
in Persona
Putu Dudik Ariawan: Melukis di Atas Lontar dan Mengubah Hobi Menjadi Profesi

Putu Dudik Ariawan berpose dengan salah satu karyanya | Foto: Dok. Dudik

MELUKIS itu tampak gampang di mata tapi sulit di tangan. Dan kalau melukis di kanvas saja sulit, apalagi, misalnya, melukis di atas lontar. Tapi, yang sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Nyatanya, sosok pelukis muda yang satu ini cincai-cincai saja saat melakukannya.

Melukis (menggambar) di atas lontar (seni lukis prasi) tentu bukan sesuatu yang baru. Seni yang dikerjakan dengan pengrupak—pisau khusus khas Bali—itu memang sudah dilakukan leluhur Nusantara dulu—di Bali bahkan masih dilestarikan sampai hari ini. Tetapi, di zaman sekarang, tampaknya seni lukis di atas lontar ini belum cukup mendapat perhatian.

Adalah Putu Dudik Ariawan, pelukis kelahiran Kaliasem, 24 Juni 1996, itu termasuk sedikit seniman yang banyak mengeksplorasi daun lontar. Menurutnya, nilai-nilai lontar memiliki aura mistis-magis, kuno, dan sakral.

Dudik—panggilan akrabnya—tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat—sampai memasuki ruang-ruang terkecil kehidupan manusia—dan hal ini memiliki pengaruh besar terhadap caranya memandang lontar.

Ia merasa bahwa banyak orang memandang lontar sebagai benda mistis dan tidak tersentuh, padahal lontar adalah sebuah jembatan untuk mengakses pengetahuan, catatan sejarah, sampai karya seni. “Melalui seni lukis, saya ingin memaknai ulang daun-daun yang dianggap sakral tersebut,” ujarnya kepada Tatkala.co, Kamis (6/7/2023) siang.

Tetapi,seperti umumnya seniman lukis, Dudik, pelukis muda dari Banjar Dinas Lebah, Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Sigaraja, Bali, itu sebelum tertarik dengan seni lukis prasi, ia mengaku menekuni seni lukis aliran realis dan melukis di kanvas terlebih dahulu—ia melukis wajah seseorang dan peristiwa sama bagusnya dengan hasil foto kamera keluaran terbaru.

Lukisan karya Dudik Ariawan / Foto: Dok. Dudik

Dilansir dari Invaluable, seni lukis realis adalah gerakan seni modern pertama yang dimulai di Perancis sekitar tahun 1840. Realisme adalah aliran seni lukis yang melukiskan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari seperti aslinya dan tampak nyata. Tokoh seni lukis beraliran realisme adalah Andrew Wyeth, Edward Hopper, Thomas Eakins, Gustave Courbet, Adolphe Bougeureau, Ivan Kramskot, Gustove Corbet, Adolph Menzel, dan Jean-Francois Millet.

“Awalnya tetap melukis di kanvas. Saya melukis di kanvas sejak SMA. Dan gaya saya dari dulu—dari SMK—memang realis, walau sekarang agak bercampur dengan surealis,” kata Dudik sambil tertawa.

Lukisan karya Dudik Ariawan / Foto: Dok. Dudik

Seniman yang baru saja menjadi seorang ayah itu, mengaku menyukai seni gambar sejak SD. Ia menggambar nyaris di semua buku pelajaran. “Hobi saya memang menggambar, sejak SD, dan sering ikut lomba menggambar waktu itu. Dan SMP saya ikut ekstra lukis, SMK mulai mendalaminya,” ujar perupa alumni jurusan Seni Lukis SMKN 1 Sukasada itu.

Sebagai seorang pelukis, Dudik bisa dikatakan seniman yang berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang diperolehnya, seperti penghargaan Karya Cat Air Terbaik I pada Workshop “Water Colour” 2015, juara II Lomba Melukis Buleleng Bali Dive Festival “BBDF” 2015, juara I Lomba Melukis Buleleng Bali Dive Festival “BBDF” 2016, juara 1 Drawing Contest UN International Day of Peace 2019, dan sebagai Finalist Titian Prize 2020.

Pada tahun 2019, dalam Pameran “Kata Rupa” di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Center Denpasar, Dudik pernah mencoba mengakutualisasi puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Pemacu Ombak—puisi yang terhimpun dalam buku Lagu Pemacu Ombak (1978)—ke dalam sebuah lukisan.

Lukisan karya Dudik Ariawan merespon puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Pemacu Ombak / Foto: Dok. Dudik

“Merespon karya penyair sebenarnya di luar kebiasaan saya dalam berkarya, tapi itulah tantangannya. Waktu itu saya mesti mencari geografi Sutan Takdir untuk menebak pesan apa yang ingin disampaikan dalam puisinya itu,” ujar Dudik.

Ketertarikan terhadap lontar

Dudik mulai jatuh cinta terhadap seni prasi sejak menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Pada masa kuliah, ia tidak hanya mendapat berbagai teknik melukis di kelas, tetapi juga soal benturan wacana di lingkungan pergaulannya di kampus dan luar kampus.

Salah satu hal yang membuatnya tertarik dengan lukisan daun lontar adalah cara kerja melukis di daun lontar berbeda dengan melukis pada umumnya. Ia menyebut, melukis di atas daun lontar sebagai “seni melukai”.

Dalam dunia lukis pada umumnya, perupa bisa langsung melihat torehan garis yang ia buat. Tetapi pada daun lontar, garis tidak langsung terlihat. Sebab, melukis di daun lontar menggunakan alat-alat berupa pisau kecil yang disebut pengerupak dan kemiri yang sudah diolah.

Lukisan Dudik Ariawan di atas lontar / Foto: Dok. Dudik

“Pisau ditoreh untuk membuat garis demi garis dan pada proses ini, garis belum terlihat, baru setelah daun lontar dipoles dengan kemiri, hasilnya terlihat,” jelas Dudik.

Dalam proses mendekatkan diri dengan media lontar, Dudik mulai berkunjung ke Gedong Kirtya—museum yang mengoleksi lontar warisan lelulur—yang terletak di Kota Singaraja, Bali. Tak hanya itu, ia juga membaca dan mempelajari sebuah buku berjudul Mengenal Prasi (1979) yang ditulis oleh I Ketut Suwidja.

“Melukis di daun lontar atau seni prasi sesungguhnya sudah ada sejak lama, tapi sebagian besar berkisah tentang cerita pewayangan dan gambarnya per helai daun, mirip komik,” katanya.

Dudik memang belajar dari lontar yang sudah ada, tapi tidak terpaku pada gaya lama. Sebab, ia sadar betul bahwa pelukis dahulu dan dirinya memiliki cara pandang berbeda terhadap dunia.

Karya-karya Dudik di atas lontar banyak berbicara mengenai isu-isu terkini—dan itu adalah salah satu langkahnya untuk meruntuhkan tembok mistis, sakralitas lontar. Hal ini sekaligus jalan untuk mengajak banyak orang masuk pada substansi lontar dan tidak memandang lontar hanya sebagai benda eksotis semata.

Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni prasi mewarnai proses Dudik dalam berkarya, seperti Pameran Titian Prize 2020 di Titian Art Space, Ubud Bali;Pameran Prasi “Contemporary Palm Leaf Work in Soutsheast Asia” di Center for the book Sanfancisco Amerika Serikat tahun 2019; dan Pameran Prasi “(O)P(E)Rasi” di Santrian Gallery tahun 2018.

Lukisan Dudik Ariawan dalam Pameran “Politik Titik Titik” Tatkala May May May 2023 / Foto: Dok. Dudik

Tak hanya itu, soal pameran, dari mulai tahun 2014 sampai 2023, Dudik memang sudah memiliki banyak pengalaman, di antaranya, yang terbaru, Pameran “Politik Titik Titik” serangkaian Tatkala May May May 2023  di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Bali.

Dari hobi menjadi profesi

Tak seperti kebanyakan alumni Pendidikan Seni Rupa Undiksha, yang ketika lulus memilih jadi guru, Dudik memilih menjadi seniman. Ia percaya seni bisa menghidupinya dan keluarga kecilnya. Keyakinannya itu tumbuh sejak ia kuliah, tepatnya sejak ia mulai menghasilkan uang dari lukisannya. “Saya berusaha mengubah hobi menjadi profesi,” katanya.

Tak mudah memang, mengingat, Dudik hidup di tengah masyarakat yang masih memiliki pola pikir bahwa seni tak banyak menghasilkan materi.

Mayoritas masyarakat kita memang masih berpikir bahwa profesi seniman itu tak lebih baik daripada PNS, guru, dokter, pilot, polisi, tentara, dan profesi-profesi lain yang dinilai lebih mudah mendapatkan uang—profesi yang jelas-jelas saja.

Tetapi, Dudik percaya, bahwa hobinya, apa yang ia tekuni, juga bisa menghasilkan. Terbukti, sampai hari ini, ia masih banyak menerima pesanan lukisan. Dudik mengaku memasarkan lukisannya di media online. “Banyak pesanan dari hotel, perusahaan-perusahaan, dll,” pungkasnya.[T]

Pelukis Dudik Ariawan Merespon Puisi Sutan Takdir Alisyahbana
I Ketut Wisana Ariyanto: Guru Muda Pelukis Naturalis
Putu Bagus Sastra, Pelukis Cilik Itu Meraih Medali Emas Porsenijar Bali 2023
I Ketut Santosa, Pelukis Wayang Kaca yang Santun dan Sederhana Itu Telah Berpulang
Melawan Keterbatasan – Sosok Pelukis Gede Surya
Tags: lukisanlukisan watercolorSeni RupatokohTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Santi Dewi | Di Terik Akhir Juni

Next Post

Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails

Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

DI sebuah pementasan karya guru dan siswa SMAN 1 Kuta Selatan, Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati, pada Sabtu...

Read moreDetails

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

by Dede Putra Wiguna
January 10, 2026
0
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

TAHUN 2026 baru berjalan beberapa hari ketika Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mencatat peristiwa penting dalam sejarah akademiknya. Rabu,...

Read moreDetails

Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

by Dede Putra Wiguna
December 29, 2025
0
Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

BERTEPATAN dengan Peringatan Hari Ibu Tahun 2025, Senin, 22 Desember 2025, di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Nyoman Wirayuni, SH.,...

Read moreDetails
Next Post
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co