24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ciri-ciri Toxic Relationship dan Bagaimana Cara Kita Terlepas darinya

Dewa Ayu Yuliarini by Dewa Ayu Yuliarini
April 29, 2023
in Esai
Ciri-ciri Toxic Relationship dan Bagaimana Cara Kita Terlepas darinya

Ilustrasi tatkala.co

ANAK-ANAK tidak akan mampu memilih orang tua seperti apa yang diinginkan. Namun, kita mampu menentukan akan menjadi orang tua seperti apa, kelak ketika memiliki anak.

Tentu, menjadi orang tua bukan hal yang mudah. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan. Salah satunya adalah memilih pasangan yang baik.

Pasangan yang baik, akan jauh dari kata toxic. Dan pasangan yang toxic memang harus ditinggalkan. Jika masih ada yang mempertahankannya, berarti itu orang aneh, nggak waras, atau… jangan-jangan dia memang kena guna-guna. Hehe.

Ya, begitulah kata-kata yang tepat untuk mereka yang saat ini masih mempertahankan hubungan toxic relationship.

Kesempatan untuk melakukan toxic relationship biasanya lahir dari perasaan sayang yang teramat besar kepada seseorang, yang tanpa sadar akan membuat kita memaklumi hal-hal yang bahkan tidak seharusnya dilakukan. Seperti memaklumi perselingkuhan, memaklumi tindakan-tindakan kasar karena pelampiasan emosi, dan posesif yang berlebihan. Hingga aturan-aturan tidak masuk akal yang dibuat, dengan alasan saling menyayangi.

Tapi, bagi sebagian orang, toxic relationship seperti candu, bahkan banyak orang yang “belum dewasa” menganggap bahwa hubungan toxic relationship adalah hal yang menantang ketika dijalani. Padahal, tanpa disadari mereka telah mempertaruhkan masa depannya.

Seperti seorang teman saya, misalnya, yang terbiasa dikekang, dibatasi, tapi ketika tiba-tiba dia dibebaskan, justru dia merasa rindu akan hal itu.

Artinya, seolah-olah kita terbebas, justru semakin tersiksa. Hidup menjadi sepi dan tidak berwarna, hanya karena terbiasa ada yang posesif. Hubungan toxic rasanya memang seperti bermain roller coster, yang menegangkan tapi menyenangkan.

Toxic relationship dikenal sebagai hubungan yang beracun, hubungan ini dapat berdampak buruk bagi keadan fisik maupun mental seseorang yang ada didalamnya. Toxic relationship tidak hanya terjadi dalam hubungan kekasih, hal ini bisa saja terjadi dalam hubungan persahabatan, pertemanan, friendzone, bahkan dikeluarga.

Bagi sebagian orang tidak menyadari, bahwa dirinya sedang berada di sebuah hubungan toxic, mereka akan menganggap itu merupakan bentuk kasih sayang pasangannya, meskipun sedikit berlebihan. Tetapi bukankah hal yang berlebihan selalu tidak baik?

Buat Anda yang tidak sadar ada di hubungan toxic, Anda bisa baca ciri-ciri seperti di bawah ini, siapa tahu relate dan anda belum menyadarinya:

Tidak bisa menjadi diri sendiri

Bagaimana keadaan Anda ketika  menjalin sebuah hubungan? Masih tetap bisa menjadi diri sendiri? Atau justru sibuk menjadi orang lain, karena mengikuti ekspektasi pasangan anda?

Humm… hal ini sepertinya harus dipertanyakan, apakah tujuan pasanganmu baik, atau justru memang dia tidak menerima Anda apa adanya?

Jika tujuan pasanganmu baik, dan tidak memaksamu berubah secara instan, hal ini belum bisa dikatakan sebagai toxic relationship, justru menjadi motivasi agar Anda menjadi lebih baik.

Sering dibohongi

“Jika seseorang bisa berbohong tentang hal kecil, tentu dia juga bisa berbohong tentang hal besar.” Begitulah ungkapan yang diberikan, kepada mereka yang selalu berbohong. Untuk menutupi satu kebohongan, seseorang akan membuat kebohongan yang lainnya.

Jadi, berhati-hatilah ketika Anda suka berbohong, atau bersama dengan seseorang yang suka berbohong, karena ini akan membentuk karakter seseoran—karena kebohongan tetaplah kebohongan, tidak bisa dibenarkan.

Cemburu dan mengekang berlebihan

Perasaan cemburu adalah hal normal dan wajar di sebuah hubungan, lalu bagaimana jika berlebihan?

Nah, hal ini yang bahaya, dan bisa dikatakan sebagai toxic relationship. Ketika perasaan cemburu dijadikan alasan menyakiti satu sama lain, tidak menggambarkan hubungan yang dijalani sehat.

Hal ini sejalan dengan pasangan yang selalu mengontrol kita.

Adanya kekerasan fisik

Jika Anda sudah menerima kekerasan fisik, dalam sebuah hubungan, hal ini sudah tidak dapat dibenarkan lagi. Apalagi jika hanya sebatas pacaran. Hufttt.

Untuk kaum wanita terutama, coba Anda bayangkan, ketika Anda membiarkan tubuh Anda menjadi samsak pelampiasan emosi oleh pasangan? Bagaiman jika hal tersebut terjadi berulang-ulang? Tidakkah Anda membayangkan perasaan orang tua Anda? Ketika anak-anaknya diberikan nutrisi yang baik, justru orang lain yang menyakiti Anda.

***

Setelah membaca ciri-ciri di atas, sudah tentu Anda bertanya-tanya bukan? Tentang bagaimana cara terlepas dari toxic relationship, coba baca ulasan di bawah ini, semoga bisa membantu Anda perlahan keluar dari ruang gelap toxic relationship.

Menyadari Yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahanmu

Orang-orang yang berada dalam toxic relationship, akan dibunuh oleh perasaannya sendiri, perasaan-perasaan bersalah yang timbul akibat doktrin dari pasangan akan membuat kita semakin susah terlepas dari hubungan toxic.

Dengan memahami bahwa hal-hal yang terjadi, bukan kesalahanmu, akan membuat Anda bisa menerima hal-hal yang terjadi dan tidak menghakimi pasangan atau dirimu sendiri.

Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik

“You deserve better”, kata-kata ini sudah tentu sering Anda dengar, ketika curhat dengan teman Anda. Ya, kalimat tersebut, bukan hanya sekadar kalimat penenang.

Ketika Anda diperlakukan buruk oleh satu orang, bukan berarti kamu akan diperlakukan buruk oleh orang lain.

Sudah seharusnya Anda beranjak untuk mencari orang baik, yang lebih menghargai Anda.

Mencintai diri sendiri

Hal ini sudah mungkin terdengar sangat klise untuk Anda, atau hal ini justru hal yang paling sulit Anda lakukan?

Hmmm… mencintai diri sendiri merupakan hal yang cukup sulit dilakukan, apalagi seperti saya. Hahaha

Tetapi hal ini harus tetap dilakukan ya. Dengan kita mencintai diri sendiri, itu juga bentuk kita menghargai diri sendiri. Ketika kita menghargai diri sendiri, bukankah orang lain juga akan menghargai kita?

Cari bantuan profesional

Terbiasa berada dalam toxic relationship akan menyulitkan kita ketika ingin melangkah keluar. Kita akan merasa ketakutan, merasa sendiri, tidak berdaya, dan kasihan, sehingga membuat kita terus terjebak. Jika ada diposisi tersebut, Anda bisa meminta bantuan kepada mereka yang lebih profesional.

Nah, itu tadi, beberapa pembahasan tentang cara agar Anda bisa beranjak dari hubungan toxic, jangan mewajarkan hal yang tidak seharusnya ya, karena hidup adalah pilihan kita sendiri, jadi jangan mau terus-terusan terjebak di hubungan yang toxic.[T]

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Pertimbangan untuk Putus bagi Kalian yang Doinya Sering Kaya Gini
Postingan Galau di Media Sosial Bisa Merusak Personal Branding?
Love Language: Bukan Pilihan, Tapi Keharusan!
Tags: cintacinta kasihesai
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggar Seni Kebo Iwa: Anak Adalah Aset Kebudayaan Kita

Next Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Legenda Harimau Jawa

Dewa Ayu Yuliarini

Dewa Ayu Yuliarini

Lahir di Singaraja, tahun 2001. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Legenda Harimau Jawa

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Legenda Harimau Jawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co