2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gde Dana dan Made Suke, Penganyam Bambu dari Tajun — “Keben” dan “Sokasi” yang Khas dan Estetik

Komang Sujana by Komang Sujana
January 6, 2023
in Feature, Pilihan Editor
Gde Dana dan Made Suke, Penganyam Bambu dari Tajun — “Keben” dan “Sokasi” yang Khas dan Estetik

Jro Gde Dana dan hasil kerajinan anyaman bambu berupa wakul dan keben

SEJAK TAHUN 1990-AN masyarakat Desa Tajun di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, pasti tidak asing dengan keben atau sokasi  tempat banten buatan Gde Dana dan Made Suke.

Tidak sedikit masyarakat Desa Tajun menggunakan keben buatannya saat upacara keagamaan. Bahkan sampai sekarang produk keben dan produk anyaman bambu lain dari Gde Dana dan Made Suke tetap eksis di masyarakat. Bisa disebut, kakak-beradik itu adalah penganyam bambu legendaris dari Desa Tajun.

Gde Dana (44) dan Made Suke (43)  adalah dua bersaudara yang lahir di Desa Tajun dari keluarga sederhana pasangan Putu Ngurah dan Made Mirah. Orang tuanya hanya bisa menyekolahkannya sampai SD. Mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan membuat kerajinan bambu baik di sekolah maupun di masyarakat.

Lantas bagaimana ceritanya, mereka bisa menjadi perajin anyaman bambu yang produknya tidak hanya digunakan oleh masyarakat Desa Tajun dan sekitarnya tetapi beredar sampai ke Kabupaten Bangli dan Gianyar?

Jero Gde Dana, begitu ia dipanggil sekarang. Nama Jro di depan namanya adalah sebutan kehormatan karena ia kini menjadi salah satu pamangku kahyangan desa di Desa Tajun sejak tahun 2000.

Ia mengenal anyaman bambu sejak kelas 1 SD. Adalah bibinya, Made Subanda, yang pertama kali mengenalkannya pada anyaman bambu.

 Saat itu ia memerhatikan bibinya membuat anyaman bambu yaitu pangukusan (alat untuk menanak nasi). Jero Gede Dana kemudian tertarik untuk bisa menganyam. Ia belajar autodidak. Ia mencermati contoh anyaman bambu yang sudah ada. Akhirnya Jero Gede Dana berhasil menjual anyaman pangukusan pertama kali saat kelas 4 SD.

Made Suke dari Tajun sedang mengayam

Sadar bahwa anyaman bambu bisa mendatangkan uang, Jero Gede kemudian benar-benar menekuni kerajinan anyaman bambu. Saat kelas 6 SD, ia dan adiknya Made Suke latas belajar bersama untuk bisa membuat produk lain, seperti keben dan wakul.

Kata Made Suke, saat itu keben milik orang tua yang sudah jadi ia bongkar untuk bisa mencontoh pola anyamannya. Setelah bisa meniru secara utuh, ia lantas secara kreatif mengembangkan pola anyaman sehingga produknya khas.

Kondisi orang tua yang tidak mampu adalah penyebab utama Jero Gde Dana dan Made Suke menggeluti kerajinan anyaman bambu. Lahir dari keluarga sederhana, mereka sadar betul tidak bisa bersekolah lebih tinggi.

Namun, mereka tidak patah semangat. Justru kondisi ini menjadi pemantik dua bersaudara ini untuk terus belajar agar setelah tamat SD bisa memiliki keterampilan yang menghasilkan untuk meringankan beban orang tua.

Tidak hanya  mampu meringankan beban orang tuanya. Jero Gede Dana dan Made Suke merasakan betul hasil kerajinan anyaman bambu mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.

Pada tahun 2001, Jero Gede Dana bahkan pernah menjadi tutor membuat anyaman bambu tingkat kecamatan di Desa Bontihing. Pada tahun itu juga pemerintah memberikan legalitas usaha berupa SK Nomor 299/KBU/PLS/TJN/2001  dengan nama Kejar Usaha Anyaman Bambu “Sidha Karya”. Bantuan modal usaha juga pernah diperoleh dari pemerintah untuk mengembangkan usaha kerajinannya.

 Jero Gede Dana mengatakan walaupun di sela-sela kesibukannya sekarang sebagai melayani umat dirinya tetap menerima pesanan dan menganyam. Ini karena sudah menjadi janji dan komitmen bahwa tidak akan pernah meninggalkan profesi perajin yang sudah memberikan  kehidupan yang luar biasa.

Jenis Produk

Produk yang pertama kali ia buat adalah keben untuk tempat banten. Gede Dana dan Made Suka membuatnya dalam tiga jenis ukuran sesuai pesanan, yaitu ukuran besar 60 cm, menengah 40 cm, dan kecil 25 cm. Oleh karena hasil karyanya diminati, mereka lantas membuat produk anyaman lain seperti wakul tempat daksina dan tas gandek tempat bajra atau genta.

 Motif Khas, Estetik, dan Tahan Lama

Produk anyaman yang dibuat memiliki kekhasan dan keunggulan sehingga tetap diminati sampai sekarang.

 Motif yang unik adalah ciri khas anyaman bambu Jero Gede Dana dan Made Suke. Motif anyaman mulai dari motif pita, cakra, swastika, windu, sampai motif rantai.

 Selain motif tersebut, produk kreatifnya juga bisa diisi tulisan seperti nama sesuai dengan permintaan pembeli. Ini membuat keben dan wakul semakin estetik.

Produk keben dan wakul hasil olah tangan Gde Dana dan made Suke

Keben dan wakul yang dibuat juga kuat atau tidak lemas karena dibuat dari bambu pilihan. Bambu yang digunakan adalah jenis bambu (tiing) tali. Made Suke membelinya dari masyarakat Desa Tajun.

 Bambu terlebih dahulu dicat kemudian dibelah tipis-tipis. Setelah itu baru dianyam. Dengan ini warnanya pun menjadi lebih mengkilap dan tahan lama.

Pemasaran Sampai ke Gianyar

Pembeli produk-produk anyaman bambunya pada awalnya adalah masyarakat Buleleng khususnya Desa Tajun dan desa-desa sekitarnya. Oleh karena motif yang unik dan kualitas yang bagus pemasarannya sampai ke Kabupaten Bangli dan Gianyar. Made Suke menuturkan pada tahun 2010 sempat kewalahan memenuhi pesanan dari Gianyar. Bahkan semua pesanan saat itu berisi nama.

Mengenai harga tentu tidak menguras isi kantong. Harga keben ukuran kecil misalnya, tidak lebih dari Rp 50 ribu. Sedangkan ukuran menengah harganya Rp 80 ribu, dan yang besar Rp 150 ribu.  Pun dengan harga wakul daksina berkisar Rp 40 ribu.

Seiring perkembangan zaman, berbagai jenis keben pun hadir di pasaran, seperti berbahan kayu dan plastik. Namun, produk-produk Jero Gede Dana dan Made Suke, seperti keben, wakul, tas gandek masih tetap diminati. Ia sampai sekarang menerima pesanan langsung di rumahnya juga melalui media sosial seperti facebook dan whatsapp.

Produknya tetap diminati selain karena kualitas bagus dan harga terjangkau, tentu juga karena motif unik dan estetik. [T]

Bukan Hanya Cengkeh dan Tuak, Desa Tajun Punya Atlet Voli, Karate Hingga Motocross
Ada Durian Emas di Desa Tajun | Yang Punya Pohonnya Bisa Hidup Sejahtera
Dari Tajun, Komang Lolak Sastrawan yang Anak Buruh itu, Mendunia Lewat Karate
Wisata Spiritual “Malukat” di Pura Bukit Sinunggal | Suci di Dalam, Suci di Luar
Turnamen Bola Voli Lokal Desa di Tamblang: Sensasi dan Kemeriahan ala Desa Perkebunan
Tags: Desa TajunKerajinan BambuUMKMusaha rakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Subagia Jual Teh dan Krupuk Beras Merah Hingga Dubai

Next Post

Romantisme Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dalam Buku Jumantara

Komang Sujana

Komang Sujana

Guru SMP Negeri 2 Sawan. Suka menulis puisi Bali. Biasa jadi komentar dalam turnamen bola voli

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails
Next Post
Romantisme Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dalam Buku Jumantara

Romantisme Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dalam Buku Jumantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co