23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gde Dana dan Made Suke, Penganyam Bambu dari Tajun — “Keben” dan “Sokasi” yang Khas dan Estetik

Komang Sujana by Komang Sujana
January 6, 2023
in Feature, Pilihan Editor
Gde Dana dan Made Suke, Penganyam Bambu dari Tajun — “Keben” dan “Sokasi” yang Khas dan Estetik

Jro Gde Dana dan hasil kerajinan anyaman bambu berupa wakul dan keben

SEJAK TAHUN 1990-AN masyarakat Desa Tajun di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, pasti tidak asing dengan keben atau sokasi  tempat banten buatan Gde Dana dan Made Suke.

Tidak sedikit masyarakat Desa Tajun menggunakan keben buatannya saat upacara keagamaan. Bahkan sampai sekarang produk keben dan produk anyaman bambu lain dari Gde Dana dan Made Suke tetap eksis di masyarakat. Bisa disebut, kakak-beradik itu adalah penganyam bambu legendaris dari Desa Tajun.

Gde Dana (44) dan Made Suke (43)  adalah dua bersaudara yang lahir di Desa Tajun dari keluarga sederhana pasangan Putu Ngurah dan Made Mirah. Orang tuanya hanya bisa menyekolahkannya sampai SD. Mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan membuat kerajinan bambu baik di sekolah maupun di masyarakat.

Lantas bagaimana ceritanya, mereka bisa menjadi perajin anyaman bambu yang produknya tidak hanya digunakan oleh masyarakat Desa Tajun dan sekitarnya tetapi beredar sampai ke Kabupaten Bangli dan Gianyar?

Jero Gde Dana, begitu ia dipanggil sekarang. Nama Jro di depan namanya adalah sebutan kehormatan karena ia kini menjadi salah satu pamangku kahyangan desa di Desa Tajun sejak tahun 2000.

Ia mengenal anyaman bambu sejak kelas 1 SD. Adalah bibinya, Made Subanda, yang pertama kali mengenalkannya pada anyaman bambu.

 Saat itu ia memerhatikan bibinya membuat anyaman bambu yaitu pangukusan (alat untuk menanak nasi). Jero Gede Dana kemudian tertarik untuk bisa menganyam. Ia belajar autodidak. Ia mencermati contoh anyaman bambu yang sudah ada. Akhirnya Jero Gede Dana berhasil menjual anyaman pangukusan pertama kali saat kelas 4 SD.

Made Suke dari Tajun sedang mengayam

Sadar bahwa anyaman bambu bisa mendatangkan uang, Jero Gede kemudian benar-benar menekuni kerajinan anyaman bambu. Saat kelas 6 SD, ia dan adiknya Made Suke latas belajar bersama untuk bisa membuat produk lain, seperti keben dan wakul.

Kata Made Suke, saat itu keben milik orang tua yang sudah jadi ia bongkar untuk bisa mencontoh pola anyamannya. Setelah bisa meniru secara utuh, ia lantas secara kreatif mengembangkan pola anyaman sehingga produknya khas.

Kondisi orang tua yang tidak mampu adalah penyebab utama Jero Gde Dana dan Made Suke menggeluti kerajinan anyaman bambu. Lahir dari keluarga sederhana, mereka sadar betul tidak bisa bersekolah lebih tinggi.

Namun, mereka tidak patah semangat. Justru kondisi ini menjadi pemantik dua bersaudara ini untuk terus belajar agar setelah tamat SD bisa memiliki keterampilan yang menghasilkan untuk meringankan beban orang tua.

Tidak hanya  mampu meringankan beban orang tuanya. Jero Gede Dana dan Made Suke merasakan betul hasil kerajinan anyaman bambu mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.

Pada tahun 2001, Jero Gede Dana bahkan pernah menjadi tutor membuat anyaman bambu tingkat kecamatan di Desa Bontihing. Pada tahun itu juga pemerintah memberikan legalitas usaha berupa SK Nomor 299/KBU/PLS/TJN/2001  dengan nama Kejar Usaha Anyaman Bambu “Sidha Karya”. Bantuan modal usaha juga pernah diperoleh dari pemerintah untuk mengembangkan usaha kerajinannya.

 Jero Gede Dana mengatakan walaupun di sela-sela kesibukannya sekarang sebagai melayani umat dirinya tetap menerima pesanan dan menganyam. Ini karena sudah menjadi janji dan komitmen bahwa tidak akan pernah meninggalkan profesi perajin yang sudah memberikan  kehidupan yang luar biasa.

Jenis Produk

Produk yang pertama kali ia buat adalah keben untuk tempat banten. Gede Dana dan Made Suka membuatnya dalam tiga jenis ukuran sesuai pesanan, yaitu ukuran besar 60 cm, menengah 40 cm, dan kecil 25 cm. Oleh karena hasil karyanya diminati, mereka lantas membuat produk anyaman lain seperti wakul tempat daksina dan tas gandek tempat bajra atau genta.

 Motif Khas, Estetik, dan Tahan Lama

Produk anyaman yang dibuat memiliki kekhasan dan keunggulan sehingga tetap diminati sampai sekarang.

 Motif yang unik adalah ciri khas anyaman bambu Jero Gede Dana dan Made Suke. Motif anyaman mulai dari motif pita, cakra, swastika, windu, sampai motif rantai.

 Selain motif tersebut, produk kreatifnya juga bisa diisi tulisan seperti nama sesuai dengan permintaan pembeli. Ini membuat keben dan wakul semakin estetik.

Produk keben dan wakul hasil olah tangan Gde Dana dan made Suke

Keben dan wakul yang dibuat juga kuat atau tidak lemas karena dibuat dari bambu pilihan. Bambu yang digunakan adalah jenis bambu (tiing) tali. Made Suke membelinya dari masyarakat Desa Tajun.

 Bambu terlebih dahulu dicat kemudian dibelah tipis-tipis. Setelah itu baru dianyam. Dengan ini warnanya pun menjadi lebih mengkilap dan tahan lama.

Pemasaran Sampai ke Gianyar

Pembeli produk-produk anyaman bambunya pada awalnya adalah masyarakat Buleleng khususnya Desa Tajun dan desa-desa sekitarnya. Oleh karena motif yang unik dan kualitas yang bagus pemasarannya sampai ke Kabupaten Bangli dan Gianyar. Made Suke menuturkan pada tahun 2010 sempat kewalahan memenuhi pesanan dari Gianyar. Bahkan semua pesanan saat itu berisi nama.

Mengenai harga tentu tidak menguras isi kantong. Harga keben ukuran kecil misalnya, tidak lebih dari Rp 50 ribu. Sedangkan ukuran menengah harganya Rp 80 ribu, dan yang besar Rp 150 ribu.  Pun dengan harga wakul daksina berkisar Rp 40 ribu.

Seiring perkembangan zaman, berbagai jenis keben pun hadir di pasaran, seperti berbahan kayu dan plastik. Namun, produk-produk Jero Gede Dana dan Made Suke, seperti keben, wakul, tas gandek masih tetap diminati. Ia sampai sekarang menerima pesanan langsung di rumahnya juga melalui media sosial seperti facebook dan whatsapp.

Produknya tetap diminati selain karena kualitas bagus dan harga terjangkau, tentu juga karena motif unik dan estetik. [T]

Bukan Hanya Cengkeh dan Tuak, Desa Tajun Punya Atlet Voli, Karate Hingga Motocross
Ada Durian Emas di Desa Tajun | Yang Punya Pohonnya Bisa Hidup Sejahtera
Dari Tajun, Komang Lolak Sastrawan yang Anak Buruh itu, Mendunia Lewat Karate
Wisata Spiritual “Malukat” di Pura Bukit Sinunggal | Suci di Dalam, Suci di Luar
Turnamen Bola Voli Lokal Desa di Tamblang: Sensasi dan Kemeriahan ala Desa Perkebunan
Tags: Desa TajunKerajinan BambuUMKMusaha rakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wayan Subagia Jual Teh dan Krupuk Beras Merah Hingga Dubai

Next Post

Romantisme Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dalam Buku Jumantara

Komang Sujana

Komang Sujana

Guru SMP Negeri 2 Sawan. Suka menulis puisi Bali. Biasa jadi komentar dalam turnamen bola voli

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails
Next Post
Romantisme Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dalam Buku Jumantara

Romantisme Puisi-puisi Wayan Jengki Sunarta dalam Buku Jumantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co