14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Melempem” Adalah Musuh Paling Berbahaya

Putu Susila Darma by Putu Susila Darma
December 3, 2022
in Esai
“Melempem” Adalah Musuh Paling Berbahaya

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

 “Penemuan terbesar sepanjang masa adalah bahwa seseorang dapat mengubah masa depannya hanya dengan mengubah sikapnya” –Oprah Winfrey

SUKSES hanya dapat tumbuh dari kegagalan.Benjamin Disraeli, mantan Perdana Menteri Inggris mengatakan, “Semua keberhasilan saya telah dibangun di atas kegagalan saya.”

Memang, kegagalan adalah titik kritis ketika seseorang berada di jalan menuju kesuksesan. Tanpa kegagalan, kita sebagai manusia tidak belajar dan gerakan kita menuju kesuksesan menjadi stagnan. Biarkan kegagalan membimbing Anda menuju kesuksesan bukan menjadi titik berhenti Anda.

Hikmah apa yang dapat Anda jadikan ilham dari pernyataan itu? Jangan hanya karena takut gagal Anda berhenti mengambil keputusan yang menantang. Fokuslah jika kita ingin meraih sesuatu yang kita harapkan dengan benar dan tuntas, serta jangan pernah berhenti.

Ketika saya menulis kata melempem sebagai suatu tindakan yang berbahaya, saya teringat dengan para pakar kesuksesan yang sering lantang berbicara, “Keluarlah dari zona nyaman”.

Pernyataan itu sangat benar. Keluar dari zona nyaman artinya Anda harus melakukan tindakan dan berbuat kebiasaan-kebiasaan baru dalam hidup Anda. Kebiasaan tidak baik yang sudah mendarah daging dalam diri Anda harus di redesain kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya. kalau tidak, Anda hanya akan bertahan nyaman sementara dan akan rusak selamnya.

Bagaimana melatih pikiran Anda untuk dapat keluar dari zona nyaman? Salah satu cara adalah membaca buku. Mengubah kebiasaan-kebiasaan dengan membaca buku. Dengan membaca buku, pikiran-pikiran kering, kalut dan kusam akan tersingkir. Pikiran berangsur-angsur pulih dan munculah gairah baru dalam kehidupan.

Mulai sekarang beranilah untuk tinggalkan zona nyaman Anda. Hal ini memang sangat berlaku dalam seluruh aspek kehidupan untuk meraih sukses termasuk sukses secara finansial.

Belajarlah untuk keluar dari zona nyaman sedikit demi sedikit, berusahalah untuk melakukan hal-hal hebat yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya. Zona nyaman adalah keadaan yang paling disukai banyak orang, namun bisakah kita merenungkan kembali pertanyaan dari Satenig St. Marie.

Ia bertanya apakah kita bersedia mengorbankan sesuatu yang kita sukai untuk melakukan sesuatu yang harus kita lakukan? Jawaban Anda pastilah harus. Sukses itu adalah akumulasi dari usaha-usaha kecil. Jika kita hanya duduk diam dengan berteori saja belum tentu apa yang kita pikirkan akan berhasil. Sukses adalah praktik langsung.  

Selama ini Anda terlalu asyik ada di zona nyaman. Anda hanyalah sibuk bergelut dengan pencarian informasi lowongan sana-sini, makan, minum tanpa memikirkan kapan waktunya berinvestasi, nonton TV berjam-jam, Fb-an, Main game COC, dan tidur-tiduran. Sehingga Anda tidak sadar bahwa kegiatan seperti itu dapat membuat kualitas otak Anda kurang prima dan menurun.

Tentu tidak sadar bukan? Itulah akibat, jika semua pelajaran yang Anda dapat selama di bangku kuliah terlupakan begitu saja! Ini adalah sikap melempem, ini adalah bentuk sikap yang berada pada bagian zona nyaman.

Walaupun Anda telah berusaha untuk keluar dari zona nyaman melalui belajar, membaca, menonton video itu juga tidak akan pasti berhasil. Kalau buku atau sumber belajar yang Anda pegang ditangan hanya buku-buku kurang berkualitas atau tidak sesuai dengan buku penunjang karir Anda.

Saya menyadari sebagai manusia juga butuh hiburan. Namun Anda semestinya melakukan keseimbangan antara membaca buku yang membuat Anda tertawa dan membuat Anda maju dan berkembang terus.

Begitu juga yang membaca buku-buku berkualitas pun belum tentu akan berhasil karena mereka belajarnya sepotong-sepotong. Bukan salah bukunya, tapi salah Anda sendiri.

Seperti pendapat Prof. Rhenald Kasali dalam makalahnya yang berjudul tantangan Indonesia dalam Abad 21 yang mengatakan bahwa masyarakat kita saat ini cenderung hanya mampu memahami kalimat-kalimat pendek tanpa memahami isi tulisan secara menyeluruh sehingga diperolehlah pemahaman yang tidak utuh juga.

Aktivitas membaca juga masih sering kita tempatkan sebagai kebutuhan tingkat kesekian dalam kehidupan sehari-hari. Kita ketahui cerita berbeda datang dari orang-orang yang sudah menggenggam kesuksesan di bidangnya ialah karena banyaknya membaca. Tidak seperti kita yang sering merasa kekurangan waktu untuk membaca, namun mereka justru menyempatkan waktu untuk membaca demi menambah ilmu pengetahuan.

Kalaupun kegiatan membaca ini dilakukan, kita cenderung hanya mampu memahami kalimat-kalimat pendek dalam bacaan tanpa bersungguh-sungguh memahami maksud yang disampaikan penulis.

Jika Anda sekarang tidak keluar dari kebiasaan ini. Dari zona nyaman ini, maka macetlah jalan sukses Anda. Sekali lagi sikap melempem ini akan menghancurkan kesuksesan pribadi Anda. Anda sadar, banyak yang telah mengetahui hidupnya bisa berubah kearah yang lebih baik, tetapi mereka tetap saja lebih memilih untuk asyik di depan layar TV sambil menikmati tayangan-tayangan yang menggelikan.

Apakah Anda masih ingat ancaman pemerintah terhadap para Profesor yang tidak produktif? Sikap ini terjadi karena ada Profesor yang selama empat tahun tidak ada karya yang dipublikasikan, namun tunjangan sertifikasi, dan tunjangan kehormatan tetap dinikmati (Bali Post, 04/01/2017).

Ini artinya jika seorang Profesor pun tetap melempem dengan sikapnya, maka bersiaplah mengahadapi ketegasan aturan yang ada.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 juga menemukan bahwa, masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Padahal membaca buku adalah salah satu cara kita untuk membuka wawasan ketika harus keluar dari zona nyaman.

Data BPS memperlihatkan sebanyak 85,9% orang lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton TV dan 40,3% mendengarkan radio, serta 23,5% membaca Koran. Ini artinya generasi kita dalam keadaan berbahaya.

Apakah saya bukan tife pribadi yang pemalas? Dulunya iya, saya harus akui itu secara jujur. Pada akhirnya saya mulai sadar bahwa menjadi pribadi yang “melempem” itu tidak akan mengubah seluruh hidup saya seperti sekarang. Sikap itu dulunya menjadikan saya belum memiliki rumah sebagai tempat tinggal padahal sudah usia pernikahan, zona nyaman itu menjadikan saya tertimbun dalam lubang financial yang berantakan.

Benar-benar terasa miskin, frustasi, dan benar-benar merasa mejadi pengangguran yang tidak berguna. Sekali lagi,, bukannya tidak boleh melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan gaya hidup, tentu itu boleh dilakukan karena semua itu merupakan bagian dari kebutuhan manusia.

Akan tetapi ada suatu hal lebih yang bisa kamu lakukan di sela-sela waktu kesibukan Anda yaitu melakukan hal-hal yang kreatif, menjadi pribadi yang produktif, dan mengembangkan diri untuk menjadi individu yang berguna bagi masyarakat.

Jalankan kegiatan yang bisa Anda lakukan agar otak tidak melempem dan tetap dalam kondisi fresh. Mulai sekarang biasakan membaca, baik itu novel, komik, ensiklopedia, berita di Koran dan media lainnya. Manfaat dari membaca buku, selain untuk membuat otak Anda semakin terasah. Aktivitas baca juga akan menambah wawasan serta daya imajinasi Anda. Dengan membaca, sel-sel otak akan kembali aktif dan menyusun kembali memori-memori yang pernah Anda alami.

Membaca juga dapat menyeimbangkan kondisi otak kanan dan otak kiri Anda. Tidak harus setiap hari penuh, cukup dengan 1 jam saja dalam sehari satu buku sudah cukup untuk mengasah otak Anda.

Jika dirasa buku di rumah telah habis, tidak usah pusing-pusing, Anda masih bisa mengunjungi perpustakaan umum yang ada di kota Anda atau dengan meminjam buku seorang teman. Jika tidak ada perpustakaan Anda masih bisa mencari sejuta informasi yang ada di Internet sana, tapi selalu diingat untuk membaca dalam kondisi yang dianjurkan, seperti membaca dalam tempat yang cukup cahaya dan sambil duduk bukan tiduran.

Disela-sela waktu senggang, berilah waktu untuk berkomunikasi dengan tetangga, teman, dan keluarga Anda. Aktivitas mencari pekerjaan tidak menuntut Anda untuk berleha-leha di rumah dan menunggu hingga hasil panggilan wawancara.

Cobalah keluar dan sapalah tetangga Anda atau main kerumah teman Anda. Aktivitas seperti ini tentu akan melatih otak Anda dalam segi berkomunikasi, karena pada dasarnya ilmu komunikasi merupakan ilmu yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Anda juga bisa menceritakan keluh kesah Anda kepada mereka, siapa tahu mereka punya info lowongan baru atau punya akses jaringan pemberi kerja baru untuk Anda.

Ikutilah kursus yang disenangi untuk tetap menjaga otak Anda dalam Kondisi Prima. Kursus Anda tidak harus berbayar untuk meningkatkan keahlian yang Anda punya.

Kursus Anda akan berguna untuk menambah skill yang Anda punya, ikut kursus seperti ini juga akan membuat otak Anda dalam move on lagi. Misalkan Anda tertarik untuk ikut kursus menulis, maka ikutilah. Setelah itu, cobalah untuk belajar menulis apapun yang Anda senangi kedalam bentuk artikel atau buku.

Sikap yang melempem jauh lebih buruk daripada tindakan Anda yang pergi meninggalkan rumah bersama teman-teman terbaik Anda untuk jalan-jalan ke pegunungan, sawah, laut, dan danau-danau yang penuh dengan ikan-ikan. Anda tak harus pergi ke mall. Karena itu bisa menghabiskan tabungan yang telah Anda simpan.

Jelajahlah wisata alam, tempat indah seperti itu, akan bermanfaat untuk otak Anda. Nuansa alam itu akan menjadikan jiwa Anda serta kondisi emosional Anda masuk dalam kondisi lebih tenang, karena tempat-tempat seperti ini menghadirkan aura positif yang akan terpancar dalam diri.

Bergeraklah ke arah yang Anda cita-citakan. Jauhkan diri dari sikap melempem yang sedikitpun tidak akan memberi arti apa-apa dalam hidup Anda.[T]

Post Pandemic Effect: Rendahnya Literasi Siswa
Literasi di Tempat Rekreasi
Tanamkan Nilai-Nilai Anti Korupsi Melalui Integritas dan Literasi
Tags: gaya hidupkiat suksesLiterasiPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kita Kerap Lupa 1 Guru, Di Luar 4 Guru yang Kita Hormati

Next Post

Improvisasi Tokoh 1 | Cerpen Nyoman Sukaya Sukawati

Putu Susila Darma

Putu Susila Darma

Bernama lengkap I Putu Susila Darma. Magister Pendidikan Dasar yang lahir di Patas Gerokgak, Buleleng. Tinggal di Singaraja, Bali

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Improvisasi Tokoh 1 | Cerpen Nyoman Sukaya Sukawati

Improvisasi Tokoh 1 | Cerpen Nyoman Sukaya Sukawati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co