3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Ida Bagus Dharmadiaksa | Biarlah Kita Abadi Begini

Ida Bagus Dharmadiaksa by Ida Bagus Dharmadiaksa
November 12, 2022
in Puisi
Puisi-puisi Ida Bagus Dharmadiaksa | Biarlah Kita Abadi Begini

Ida Bagus Dharmadiaksa | Foto: Istimewa

BIARLAH KITA ABADI BEGINI

Nama abadi pada sebuah hati adalah yang mengubah pemberang menjadi penyair dan mengubah segala petir dan badai menjadi nyanyian di antara bunga-bunga

Wajah abadi pada sebuah hati adalah yang mengubah api menjadi air mengalir dan pelepas dahaga bagi singa lapar yang luka

Rindu abadi pada sebuah hati adalah yang ditakdirkan terpisah oleh jarak dan waktu tiada batas, meski masing-masing memendam kata-kata yang tak mungkin terkatakan sepanjang langit masih biru.

Pantai Langit Jingga, 26 September 2022

KESUNYIAN

Menangis hanya mengganggu kesunyian saja, karena tak lagi mendengar bisikan mesra dan pelukan masa lalu

Kesunyian itu mahal di era hiruk pikuk ini karena semua tiada lelah memerjuangkan kelangsungan desah nafas dan menjaga irama detak jantungnya agar tak lenyap ditelan keputusasaan

(Ingin merenung dalam sunyi namun apa daya terganggu hiruk pikuk siapa saja yang ingin memenangkan pertempuran)

Kesunyian itu mengundang sejarah buat mengenang betapa gigih perjuangannya menyatukan jiwamu dan jiwanya menjadi satu jiwa

(Namun sayang jiwamu tak menyatu dengan jiwaku)

Kesunyian adalah kesunyian namun mampu menghitung sejauh mana kesetiaan itu hidup di hati.

Pantai Langit Jingga, 29 September 2022

LANGIT DAN LAUT

Saling memimpikan dan tak saling bertemu adalah langit dan laut, ketika gagal mengikat janji buat menyatukan deru langit dengan debur ombak

Tidak menyatu akan membiarkan langit dengan derunya dan laut dengan debur ombaknya

Bila pun saling tatap akan terbaca di mata masing-masing sejauh mana mimpi dan rindu yang membelenggu seumur langit dan laut, yang sesungguhnya berkata-kata hanya dalam hati yang telah remuk redam.

Pantai Langit Jingga, 4 Oktober 2022

JADI ABU ATAU DEBU

Bila jadi abu atau debu taburlah di laut sunyi tanpa ucapan selamat tinggal karena laut adalah rumah pemersatu semua masa depan abu atau debu

Hidup sudah selesai entah pernah ceritanya dijadikan sandiwara atau sandiwara dijadikan nyata

Tak ada yang tertinggal kecuali luka-luka siapa saja yang pernah tersakiti dan belum tentu pulih meski abu atau debu sudah menyatu dengan samudera biru.

(Katakan kamu memaafkanku agar samudera biru mengantarku ke mana saja dengan gembira).

Pantai Langit Jingga, 8 Oktober 2022

HATI YANG HILANG

Bila sayap masih kuat berkepak dan leher masih sanggup menyangga kepala, akan kujelajah angkasa mencari tahu di mana hati tertinggal dan tak pernah sampai pada tujuannya

Sesungguhnya sudah kubelah dada buat menunjukkan hati yang masih segar untuk kuhadiahkan buat menemani hatinya

Apadaya hati ini masih hilang ditelan zaman dan sampai kedua sayapku patah tak akan ditemukan

Bila hati itu ditemukan barangkali sudah menjadi batu dan terlambat membasuhnya dengan air mata.

Pantai Karang Sanur, 12 Oktober 2022

TELAH KUBELAH DADAKU

Aku tak punya sepatu dari kulit rusa atau dari gelas kaca dan hanya punya dada yang kubelah buat mengurai ada apa dalam dadaku

Namun kamu tak suka isi dadaku.karena tak ada masa depan dan hanya menemukan hutan belantara gelap gulita tanpa sinar setitik pun

Kamu memunggungiku dari delapan penjuru mata angin, dan tak pernah tahu bagaimana perjalananku menantang badai dan mencari secercah sinar di hutan belantara di bawah ancaman taring-taring singa lapar.

Pantai Langit Jingga, 17 Oktober 2022

LANGIT DAN HATI

Pernah kutanya pada langit, di manakah ujungnya, dan langit menjawab ujungnya ada di sudut hati
Langit pun bertanya padaku, di mana hatiku yang pernah hilang di saat menggapai bulan di balik kabut hitam

Aku tak bisa menjawab karena tak tahu, adakah yang mencuri hatiku di kala masih digulung kabut hitam?

Pantai Langit Jingga, 20 Oktober 2022

RAJAWALI

  • Kata Penghiburnya: NASIB

Sebagai burung rajawali penjaga sarang, terlihat gagah perkasa dengan kekuasaannya di antara burung-burung kecil

Apadaya kekuasaannya hanyalah sebutan di balik pintu, yang tak tahu mangsa apa dibuat pesta oleh burung-burung kecil

Rajawali menggigil kelaparan di tengah hujan badai di antara burung-burung pipit yang berpesta pora dari pagi sampai malam

Sebagai penjaga sarang, harus semakin kuat melindungi sarangnya karena tanggung jawab tak bisa hanya dari balik pintu.

Pantai Langit Jingga, 4 November 2022

HIDUP DI BAWAH LANGIT BIRU

Hidup adalah gunung berhias lengkungan pelangi

Di bawah langit biru, bermain dengan warna-warni pelangi
Bila malam tiba, bermain dengan bintang dan bulan

Besok pagi ditunggu matahari dengan senyum cintanya
Begitu indahnya hidup di bawah langit biru

Pada lereng gunung terhampar taman bunga warna-warni dengan kupu-kupunya

Menuju puncak ada tantangan jurang dengan batu cadasnya
Masih beranikah menuju puncak?

Lereng sampai puncak, seindah mimpi bermain di taman bunga, meski magma masih menyimpan api pemusnah cita-cita

Bila tiba saatnya langit akan menunjukkan hidup itu apa dan bagaimana

Masih sanggupkah mendaki gunung sampai puncak ?
Jurang dan batu cadas akan menantang
Api magma sudah menunggu meski tak tahu kapan memunculkan api petaka

Matahari telah membakar semangat perjuangan
Bulan telah memperindah nuansa kegelapan
Bintang-bintang menunjukkan cita-cita setinggi langit
Sudahkah bertekad meraihnya dengan penuh cinta?

HATI DAN MATA

Menatap dengan hati dan berpikir dengan mata adalah membongkar jeroan tubuh dan jiwa sesungguhnya

Hati dan mata mampu menguliti lapis demi lapis daging tubuh siapa saja sampai melihat jiwa apa yang sembunyi di baliknya

Mata adalah jendela hati dan hati adalah manifestasi kejujuran hakiki.
Aku tak tahu tentang hatimu, karena selalu berbalik arah setiap bertemu di pantai ketika menghirup udara pagi.

Pantai Langit Jingga, 7 November 2022

HIDUP

Hidup itu seni
Seni itu hidup
Hidup dan seni adalah kehidupan

Manis dan pahit
Panas dan dingin
Penyemangat jiwa
Pemerkuat kehidupan.

Pantai Langit Jingga, 12 November 2022

[][][]

BACA puisi-puisi lain

Karya Rupa dan Puisi-puisi Bakti Wiyasa | Purnama Kapat
Puisi-puisi Ketut Yuliarsa | Air Danau Gunung
Puisi-puisi GM Sukawidana | Pulang ke Ubud, Sajak Tanah Ibu
9 Sajak IDK Raka Kusuma | Menara Cinta, Hutan Hujan
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Wayang Wahya, Kelir Tanpa Batas”, Keluasan Ekspresi Jero Dalang I Ketut Sudiana

Next Post

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Ida Bagus Dharmadiaksa

Ida Bagus Dharmadiaksa

Drs.Ida Bagus Dharmadiaksa, MSi.,Ak.,CA. Lahir di Denpasar, 21 Agustus 1956. Menulis karya sastra berupa puisi sejak tahun 1976 serta pernah memenangkan beberapa kali lomba penulisan puisi. Telah menerbitkan buku kumpulan puisi "Ijinkan Aku Memuisikanmu" yang akan diluncurkan akhir tahun 2022. Beberapa puisinya disertakan pada buku antologi puisi “Blengbong”. Ia adalah pensiunan dosen FEB Unud, dan kini menjadi Ketua Yayasan Widya Dharma Shanti Denpasar yang menaungi ITB Stikom Bali, SMKTI Bali Global, Poltek dan Bisma Informatika.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co