13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

9 Sajak IDK Raka Kusuma | Menara Cinta, Hutan Hujan

IDK Raka Kusuma by IDK Raka Kusuma
September 10, 2022
in Puisi
9 Sajak IDK Raka Kusuma | Menara Cinta, Hutan Hujan

MENARA CINTA

di pantaimu laut Lovina
akan kubangun menara cinta
senantiasa menggemakan suara
bercerita tanpa jeda
percintaan abadi perindu dan pencinta
perairan raya

jangan dera aku
aku bukan anak seterumu
si juru sihir
mengayuh biduk batu
kau kutuk jadi serpihan sampan beku
berserakan sepanjang pasir
sebelum menyihirmu
jadi bentangan air luas
senantiasa menggemakan
dengan keras
suara-suara kebencian

aku keturunan penyair mulia
penjelajah samudera

di air menulis tanpa jeda
larik dan bait bercahaya
mengumandang kata-kata mutiara
tantang mencintai dan dicintai
tentang dicintai dan mencintai

di pantaimu laut Lovina
akan kubangun menara cinta
tetap tegak walau berkali-kali langit menimpa

KISAH KENANGAN

walaupun dingin
hangat sekujur badan
tiupan angin
mengurai sinar bulan
jadi kisah kenangan

dia melukis pada cahaya
lambang cinta yang sudah ada
aku melukis pada cahaya
lambang cinta yang belum ada

dia menulis pada cahaya
yang sudah ada
jadi bagian dunia
aku menulis pada cahaya
yang belum ada
dimunculkan ada
jadi bagian semesta

bersama menulis pada cahaya
yang sudah ada
dan lama terlihat
dan belum ada
dimunculkan ada dan terlihat
angin mencatat
dan memberi tempat
pada semua jiwa
pada penjuru semua

bersama menukilkan janji pada pawana
menyatukan berbingkai sinar purnama

sampai kini tak ada tangan
yang memisahkan
yang bisa memisahkan

semakin dingin
semakin hangat badan
tiupan angin
mengurai sinar bulan
jadi kebahagian
 

CERITA BAGI CHEF NARITA

yang menggoreng ombak berdebur
siang ini di dapur
juru masak bertubuh laut
ganggang tumbuh lebat di rambut

dengan kuali terumbu
berlapis karang
memperdengar deru
berlari kencang

di atas tungku menyembulkan nyala merah
dari rangka kapal patah
berabad-abad karam
setelah topan dahsyat menghantam
terbakar dan tenggelam

bunyi menghentak
dan bunyi gemeretak
bunyi sulingan arus deras
bertahun-tahun mengeras
ditaburkan dengan keras

adapun desis yang jelas terdengar
isyarat agar datang menyaksikan
saat tersaji sebagai hidangan
di atas meja dari lempengan
gelombang beku terdampar

kau, aku, hanya berhak menatap
tak berhak menyantap

kita bahan santapan
menunggu giliran

NYANYIAN LIBERO

bersama bola sepanjang badan
bersama bola sepanjang bayangan
ke mana-mana mencari lapangan
bertahun-tahun, belum menemukan

juga mencari
sampai ke tepi pagi
juga mencari
sampai ke tepi siang
juga mencari
sampai ke tepi malam
juga mencari
sampai ke tepi terang
juga mencari
sampai ke tepi kelam
bahkan mencari
tanpa berhenti berjalan
sampai ke tepi wilayah impian

ketika kepada dunia bertanya
kuterima jawaban
cari dalam raga
dari dalam bayangan
pemain bernama Sang Maha

ketika kutanya
berada di mana
jawaban kuterima
di mana-mana

bersama bola sepanjang badan
bersama bola sepanjang bayangan
aku cemas sesat ke wilayah angan
seketika menjelma kenangan

PANGKUANMU

pangkuanMu adalah musim
tempat keteduhan kekal bermukim

tapi jalan ke tempatMu berada
licin dan berbahaya
terbentang di udara, tipis
lebih tipis dari gerimis

sebab menganga di bawahnya
jurang tak kasat mata
bagaimana langkah kuayun
agar tak tergelincir dan terjun
ke kedalaman tak terhingga

semua pangkuan yang kududuki
lebih panas dari api
cemas jadi abu
belum sedetik tegak kembali aku

ada di pangkuanMu
kurindukan selalu
sambil membayangkan dipangku ibu

ditinggalkannya aku
memangku debu
sepanjang waktu

Bunda Semesta
walau tidak dengan kata
beritahu dengan tanda
tempatMu berada
agar aku Kau pangku segera

DESA MASA TUA

di desa masa tua
yang tampak tak biasa

pohon-pohon tak ada tengadah
dahan dan cabang merendah
mengarah ke tanah
menunjuk guguran daun telungkup
makin kuncup

burung-burung menghinggapi
sayap melekat pada diri
pejaman mata
menunjukkan tak pernah terjaga

semak, perdu, rumput, semua terlihat
berwarna coklat

di jalan tak ada melintas
di udara tak ada memintas

di langit barat sana
tak ada warna jingga
tak ada lembayung sebagai tanda
yang tiada kembali ke tiada
untuk kembali ada

di desa masa tua
yang terdengar suara tak biasa
di angin berderai
di sini waktu segera usai

JALAN IBU

jalan ibu
luas, rata
terang selalu
sebab siang senantiasa

di tepinya anak-anak bermain
bertukar tangkap angin
tidak dengan tangan raga
dengan tangan jiwa

memintamu ikut dalam permainan
tak berkesudahan
memintamu turut dalam keriangan
tak pernah membosankan

teruslah melangkah
menuju bilik cerah
dindingnya berisi nukilan
bayi dalam buaian
bocah di atas pangkuan
besar selalu dirindukan

ikuti marka jalan, semua
menunjuk ke arah sana

teruslah melangkah
menuju bilik cerah
lama menanti
minta kau masuki
minta selamanya kau huni

ada merindukanmu di situ
yang melahirkan
yang membesarkan
pada kehidupanmu dulu

WANITA PERIANG BERDADA BIDANG

wanita periang
berdada bidang
menyebut awal jalan Denpasar
dada perempuan dalam BH besar
menjulang ke angkasa patung besar payudara
dengan bentuk mempesona

berjarak dekat dengannya
pembagi jalan sempurna
melaju di kiri atau kanannya
bertemu lingkaran
dengan serat saling berkelindan

belok kiri jalan terus
belok kanan jalan terus
sampai di ujung jalan terbelah dua
dipisah lubang menawan
ditumbuhi gerumbul mempesona
memantulkan aroma belum pernah ada

melintas di kiri atau kanan
menikung ke kiri atau kanan
bertemu jalan simpang siur
para pengemudi
membunyikan klakson dengan teratur
para pejalan kaki saling memberi tanda
tanda keakraban dengan jentikan ibu jari
dan jari tengah ke udara
berkali-kali ke udara

terus melaju bertemu gundukan
serupa batu di ujungnya cekungan
tak membahayakan yang melintas
dengan langkah pelan
dengan laju kendaraan pelan
atau dengan langkah kaki keras
dengan laju kendaraan kencang
sekencang air mengalir deras
akhirnya bersua
jalan lima jalur
lima lajur
terbentang di ujungnya
perhentian sunyi
pemberhentian abadi

HUTAN HUJAN

: Kadek Kayu Hujan

hutan hujan
hutan bercucuran
tanpa ranting cabang
dahan, daun dan batang

akar di langit menjalar
melingkar-lingkar

burung yang menghinggapi tanpa bercak
kaki, bulu, tubuh, sayap, paruh mengalir
memperdengar suara gemercak
sulit diduga saatnya berakhir

yang menjamah
di telapak tangannya
tertera denah
dan beberapa nama
pohon yang ada di sana

yang menyusuri
sekujur dipenuhi
peta dan nama
semua pohon di sana
juga tanda pohon tertua
berabad-abad di sana

bila ingin tahu asal-usul hutan ini
masuki pohon paling tinggi
tumbuh di areal paling tepi
berjalan dari bawah, tiba di puncak berdiri

kau pun tahu: bermula dari benih
setitik air sangat jernih

_____

BACA puisi-puisi lain:

Puisi-puisi Santi Dewi | Sebuah Wajah yang Tak Pernah Bisa Kulukis
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Kota Menjelma Kata | Catatan Film “Walking Through Words” dalam Minikino Film Week 8

Next Post

Kastil Perpustakaan | Cerpen Dikablek

IDK Raka Kusuma

IDK Raka Kusuma

Lahir di Klungkung, 21 November 1957. Menulis dalam bahasa Bali dan Indonesia

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Kastil Perpustakaan | Cerpen Dikablek

Kastil Perpustakaan | Cerpen Dikablek

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co