2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelisik Sutasoma Dengan Panji di Budakeling — Sebuah Perjalanan Artistik

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
November 11, 2022
in Panggung
Menelisik Sutasoma Dengan Panji di Budakeling — Sebuah Perjalanan Artistik

Mengunjungi Guru Degung

Sutasoma merupakan sebuah sosok yang diimajikan sebagai simbol kedharman dan pendakian spiritual. Melalui guratan Mpu Tantular, Sutasoma tidak pernah habis untuk dikupas dan ditelusuri intinya melalui beragam sudut pandang. Sastra, tari, lukis dan patung pernah menyublimasi Sutasoma dalam mediumnya masing-masing.

Sutasoma dalam bentuk nilai menjadi sebuah patron, mempatkan pada subyek yang utama. Sutasoma dengan segala ajaran kedharman, kesederhanaan dan keikhlasannya sejalan dengan konsep Budhisme. Budhisme dengan Kasogatannya mengajarkan sebuah pelepasan menuju dimensi kenirbanaan: Nirbana, Adi Nirbana dan Parama Nirbana. Sutasoma memberikan sebuah regulasi ideal untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan.

Sutasoma dengan segala imaji keutamaan jika ditarik dalam konsep ke “panjian” merujuk pada makna kebesaran, keagungan dan kewibawaan. Dalam hidup ini kita tidak menggingkari bahwa kedharman dan kebahagiaan adalah sebuah kebesaran, keagungan dan kewibawaan yang tidak dapat dibantah keidealannya dalam hidup ini. Benang merah Sutasoma dan ke-“Panji”-an yang kemudian dipilih Panji diaktulisasikan dalam medium tari sehingga lahir gagasan Panji Masutasoma oleh Ida Ayu Wayan Arya Satyani.

Ida Ayu Wayan Arya Satyani atau dikenal dengan Dayu Ani adalah seorang penari dan koreografer yang memiliki proyeksi yang tajam dan mendalam dalam mencipta sebuah karya tari. Tajam dan mendalam memilih tema, bereksplorasi bahkan memilih musik tarinya. Koregrafer yang selalu “panik” menata gagasan yang berkecamuk untuk ditransfer dalam bentuk konkretnya.

Melalui simpul Sutasoma dan Panji, Dayu Ani menggarap sebuah komposisi tari baru yang disebut dengan Panji Masutasoma. Mengolah vokabuler Panji dalam bingkai Gambuh dengan menggunakan esensi Sutasoma dalam penguatan kualitas kekaryaan tarinya.

Sebagai seorang yang lekat dengan kepanikan mengenai aktualisasi gagasan serta kualitas karyanya, pada hari Senin tanggal 25 Juli 2022 Dayu Ani membawa rombongan penari, fotografer penata artistik serta penata gendingnya (yaitu penulis sendiri) menyusuri Desa Budakeling untuk mendapatkan esensi Sutasoma melalui Panji. Menyusuri manuskrip-manuskrip yang dianggap memiliki kapabilitas untuk memantapkan esensi gerak dan kualitas kekaryaan.

Mulai Dari Tihingan Menuju Saren

Serpihan esensi-esensi Panji dan Sutasoma dimulai dari mengunjungi seorang seniman sekaligus spititualis dari Desa Tihingan yaitu Ida Wayan Jelantik Oka. Beliau adalah seniman Gambuh Desa Budakeling yang dahulu merupakan jebolan seleksi ketat di desa tersebut pada tahun 1970.

Seniman lain yang tidak kalah penting peranannya pada Gambuh Desa Budakeling yang juga ikut seleksi saat itu adalah Ida Wayan Granoka, I Made Degung dan Ida Made Jelantik Dede. Sowan pagi itu di Pasraman Jnana Kasogatan milik dari Ida Wayan Jelantik Oka untuk mendapatkan dua hal yaitu mengevaluasi kekaryaan dan data manuskrip khususnya mengenai Panji.

Secara teknis Ida Wayan Jelantik Oka menekankan pada teknis olah vokal mekekawin dengan memberikan teori menarik dan mengolah sirkulasi pernapasan pada setiap selesai menembang frasa-frasa baris kekawin. Teknik pengolahan napas kaitannya dengan penyuaraan akan menimbulkan sugesti untuk menyampaikan gagasan estetik.

Ida Wayan Jelantik Oka juga menambahkan mengenai bentuk-bentuk suara Pranawa sebagai suara alam dan artikulasi suara “Om Kara” dalam pengolahan bunyi musik tari dari tungguhan suling Gambuh. Selain itu Ida Wayan juga memperkuat gesture tubuh para penari agar sesuai dengan karakter tokoh panji yang gagah dan berwiba.

Foto 1. Mengunjungi Ida Wayan Jelantik Oka

Setelah mengunjungi Ida Wayan Jelantik Oka, perjalanan dilanjutkan menuju kediaman Guru Made Degung tidak jauh dari griya Ida Wayan. Hanya berjarak beberapa puluh meter saja.

Guru Made Degung biasa dipanggil Guru Degung. Dari Guru Degung, kami menggali bagaimana pentingnya gesture tubuh utamanya menjaga tulang punggung agar tetap tegap. Posisi tegap menjadi syarat utama dari karakter tokoh panji. Posisi tubuh yang tegap menurut Guru Degung dibentuk melalui yoga. Yoga untuk menyeimbangkan tubuh ketika bergerak sehingga gesture tubuh dapat terjaga sesuai dengan karakter Panji.

Kunjungan pada kedua guru atau tokoh yang memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai Gambuh gaya Budakeling mendapatkan “asupan secara teknis”. Namun pengetahuan secara teknis perlu dikuatkan lagi dengan elemen-elemen yang bersifat pendalaman.

Pendalaman spiritual menjadi pilihan dengan mengunjungi Mrajan Ageng Grya Buda Keling. Sesuai dengan kepercayaan kebudayaan Desa Budakeling, disana berstana Ida Betara Panji Landung yang diyakini sebagai pusat taksu dari kesenian khususnya kesenian Gambuh. Dalam kegiatan persembahyangan di Mrajan Ageng Grya Buda Keling adalah sebagai wujud pendalaman spiritual mengenai nilai-nilai rasa, filosofi dan makna-makna terkait dengan Gambuh khususnya karakter panji.

Ida Betara Panji Landung merupakan legitimasi atas sosok spiritual yang menaungi taksu dari kesenian Gambuh yang memiliki koneksi dengan Puri Karangasem. Perlu diketahui bahwa antara Desa Budakeling dengan Puri Karangasem memiliki hubungan yang sangat erat. Puri Karangasem bertindak sebagai masenas sedangkan Desa Budakeling sebagai laboratorium kreativitasnya. Pada kegiatan tersebut kita menyerahkan diri kita yang wadag dalam keadaan masih dasar untuk dapat dipikirkan serta dihayati lebih dalam lagi sehingga betul-betul dapat menginternalisasi penjiwaan.

Foto 4. Belajar Burdah di Desa Saren Jawa

Selesai dengan menanam elemen spiritual langkah selanjutnya adalah mengasah kedalaman spiritual itu untuk melangkah pada bentangan penjiwaan yang lebih luas. Secara lebih luas mengunjungi “semeton” Muslim Saren Jawa. Semeton Saren Jawa adalah sebuah masyarakat dengan berkeyakinan Muslim dalam lingkup kebudayaan Hindu-Bali yang kental.

Mereka memiliki kesenian yang dinamakan Burdah. Burdah yang berarti senandung ini merupakan sebuah kesenian perkusi berupa permainan rampak gendang untuk menyertai syair-syair pujian yang bersumber dari kitab Al-Quran utamanya pada ayat Barazanji. Uniknya tembang sholawatan ini menggunakan laras Bebali dengan mengadopsi cengkok pupuh-pupuh. Adapun lagu-lagu yang dibawakan adalah Deng-Dang, Maskumambang dan yang lainnya.

Dari kawan-kawan Saren Jawa kami belajar mengenai keterbukaan. Keterbukaan dalam mengolah unsur-unsur menarik yang ada di luar untuk dapat ditarik ke dalam internal kreatifitas kita. Hal ini perlu untuk dapar menemukan penemuan-penemuan baru yang relevan untuk dapat mengembangkan jati diri dari Panji yang begitu luwes, terbuka dan universal.

Foto 2. Mengunjungi Guru Degung 

  Foto 3. Mengunjungi Ida Wayan Granoka

Akhirnya dari Tihingan menuju Saren kami melalui bentangan teknis, spiritual hingga keterbukaan. Teknis membentuk garis dari sebuah kekaryaan. Spritual untuk memberikan jiwa, dinamika dan nilai dalam kekaryaan. Terakhir keterbukaan adalah sebagai bahan untuk memperkaya sebuah kekaryaan.

Panji Masutasoma adalah sebuah wadah untuk mengasah teknis, spiritual berserta keterbukaan yang tidak terbatas untuk proses penciptaan dimasa yang akan datang. [T]

Tari Panji Masutasoma: Memaknai Kemerdekaan, Memerdekakan Makna-makna
Air, Tirtha (Patirtan), Toya (Patoyan), & Beji dalam Tradisi Jawa Kuna
Kearifan Lokal Bali dalam Merawat Vitalitas Hidup Sastra Panji
Tags: Cerita PanjiDesa BudakelingGambuh BudakelingISI Denpasarkesenian baliSastra Panjiseni pertunjukanTari Gambuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Tugu Singa, 484 Atlet Porprov Buleleng Berangkat ke Medan Tanding

Next Post

Wiryangga Selangga: Ada Ancaman Virus Mosaik Pada Budidaya Melon di Bali

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Wiryangga Selangga: Ada Ancaman Virus Mosaik Pada Budidaya Melon di Bali

Wiryangga Selangga: Ada Ancaman Virus Mosaik Pada Budidaya Melon di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co