24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membangun Lingkungan Akademis Sekolah yang Literat dengan TEKO Literasi

I Made Sudarma by I Made Sudarma
August 13, 2022
in Esai
Membangun Lingkungan Akademis Sekolah yang Literat dengan TEKO Literasi

Foto ilustrasi tatkala.co | Agus Primartha

Literasi berasal dari bahasa Latin “literatus” (littera), yang setara dengan kata letter dalam bahasa Inggris yang merujuk pada makna ‘kemampuan membaca dan menulis’. Adapun literasi dimaknai ‘kemampuan membaca dan menulis’ yang kemudian berkembang menjadi ‘kemampuan menguasai pengetahuan bidang tertentu’. Sementara itu, untuk merujuk pada orang yang mempunyai kemampuan berliterasi digunakan istilah literet (dari literate) yang dapat dimaknai ‘berpendidikan, berpendidikan baik, membaca baik, sarjana, terpelajar, bersekolah, berpengetahuan, intelektual, intelijen, terpelajar, terdidik, berbudaya, kaya informasi, canggih’ (Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2018;7).

Sekolah sebagai lembaga yang bertugas mencetak generasi yang  mampu bersaing di abad XXI, harus berupaya menghidupkan dan membudayakan gerakan literasi ini. Upaya ini bertujuan agar generasi yang lahir dari sekolah memiliki kemampuan membaca dan menulis yang sangat baik untuk mampu bersaing di abad XXI. Pada tingkat sekolah, upaya untuk menghidupkan dan membudayakan gerakan literasi ini disebut dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

GLS merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam konteks GLS ini, literasi dimaknai tidak hanya sekadar pengetahuan dan kecakapan (1) baca tulis, namun juga mencakup (2) numerasi, (3) sains, (4) digital, (5) finansial, (6) budaya dan kewargaan yang bermuara pada perilaku yang berterima dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, pelaksanaan GLS di tingkat sekolah ditengarai belum masimal. Paling tidak, ada dua masalah yang menyebabkan pelaksanaan GLS ini belum maksimal ( (Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2018;5-6). Pertama, belum berjalannya secara optimal GLS di tingkat sekolah karena beberapa guru memiliki pemahaman berbeda atau kurang memadai tentang literasi. Kedua, GLS di sekolah belum membuahkan hasil yang optimal karena kurangnya pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi guru, sehingga guru kurang memiliki kemampuan untuk menentukan strategi yang tepat untuk melaksanakan GLS ini di sekolah.

Kita Adalah Lubdaka Yang Tetap Tinggal Di Rumah

Dari beberapa strategi untuk membangun budaya literasi sekolah (Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2018;14 -17), strategi yang paling menarik untuk diterapkan adalah strategi mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademis yang literat. Dalam strategi ini, sekolah harus memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan/atau guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Namun menurut Artika (2022) strategi literasi berupa kegiatan membaca selama 15 menit, memposisikan literasi sekolah berada di luar pagar mata pelajaran masih juga belum maksimal berjalan di tingkat sekolah. Hal ini disebabkan karena strategi ini dipandang tidak penting oleh guru dan siswa karena terpisah dengan pelajaran.

Untuk menjawab masalah-masalah tersebut, mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam pembelajaran menjadi sangat penting dilakukan. Siswa dibiasakan membaca dan menemukan materi dalam bacaan yang berhubungan dengan suatu pelajaran. Strategi literasi seharusnya tampak dalam langkah-langkah pembelajaran yang terdapat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP dalam Kurikulum KTSP 2013) atau modul ajar (MA dalam Kurikulum Merdeka)  yang disusun oleh para guru.

Dalam Langkah-langkah pembelajaran yang dirancang oleh guru, kegiatan 15 menit membaca teks (guru membacakan buku dan/atau siswa dan guru membaca dalam hati) disesuaikan dengan konteks (target pembelajaran). Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke kegiatan pengembangan, dan pembelajaran yang disertai dengan tagihan berdasarkan kurikulum. Kegiatan 15 menit membaca teks yang disesuaikan dengan konteks target pembelajaran dalam mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran ini untuk selanjutnya dibuatkan akronim TEKO, yaitu teks dan konteks. TEKO merupakan strategi alternative yang dirancang oleh penulis untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran yang bisa diterapkan untuk mengembangkan budaya GLS di sekolah.

Penerapan strategi TEKO untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran harus dimulai dengan pemahaman dua konsep penting, yaitu teks dan konteks. Pertama adalah teks. Menurut Beaugrande dan Dressler, teks mengacu pada suatu peristiwa komunikatif. Teks ditransmisikan melalui saluran atau media yang sesuai dan secara ideal akan memiliki fungsi yang memenuhi tujuan komunikatif tersebut. Selain itu, teks hanya dapat dipahami dan dianalisis lebih dalam dengan kerangka tindakan dalam situasi komunikatif tersebut. Sementara itu, Luxemburg menjelaskan kalau  teks adalah ungkapan bahasa yang menurut isi, sintaksis dan pragmatik merupakan suatu kesatuan.

Dari kedua pengertian teks tersebut, dapat disimpulkan bahwa teks merupakan peristiwa komunikatif melalui saluran atau media yang sesuai dan secara ideal menurut isi, sintaksis, dan pragmatik. Kedua adalah pengertian konteks. Menurut KBBI, konteks adalah situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Dari pengertian teks dan konteks tersebut, dapat dipahami bahwa teks dan konteks dalam startegi TEKO merupakan peristiwa komunikatif melalui saluran atau media yang sesuai dan ideal menurut isi, sintaksis, dan pragmatik yang ada hubungan (berkaitan) dengan materi pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

Dengan demikian, untuk mengintegrasikan literasi dengan strategi TEKO dalam pembelajaran, guru harus menyiapkan dan mempertimbangkan teks sesuai dengan konteks pembelajaran yang akan diberikan.  Perlakuan terhadap teks yang dihubungkan dengan konteks pembelajaran harus tercermin dalam langkah-langkah pembelajaran yang dibuat dalam RPP atau MA.  Sebagai contoh penerapan strategi TEKO untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran IPA di tingkat SMP. Misalnya, pembelajaran pada Kompetensi Dasar (KD) Menerapkan konsep pengukuran berbagai besaran dengan menggunaan satuan standar (baku), dengan tujuan pembelajaran peserta didik mampu menentukan satuan ukur yang tepat, yang selanjutnya disebut sebagai konteks.

Dari konteks itu, maka guru IPA dapat menyiapkan dan mempertimbangkan teks yang sesuai untuk integrasi literasi dalam pembelajaran. Teks yang bisa dibuat atau disiapkan, misalnya seperti teks berikut.

JAKARTA, KOMPAS.com – Di usia senjanya, Darmo masih saja rutin berjalan kaki puluhan kilometer setiap hari untuk menawarkan jasa timbang berat badan dan tensi darah. Bapak enam anak ini mengaku sering dibujuk oleh anak-anaknya yang sudah dewasa untuk berhenti bekerja. Namun, ia menolak dengan dalih masih mampu berjalan kaki dan mencari nafkah. “Umur saya ada sepertinya 80 tahunan. Saya masih mau kerja, masih kuat jalan kaki,” ujarnya seperti dilansir TribunJakarta.com, Kamis (4/3/2021).
Darmo mengaku sudah menjalani profesi sebagai tukang ukur berat badan dan tensi sejak1992. Kini, ia memiliki banyak langganan yang setia menunggu kedatangannya setiap hari. Kawasan Industri Pulogebang, Kanal Banjir Timur (KBT), Kalimalang, dan Duren Sawit adalah kawasan yang ia jajal setiap hari untuk menawarkan jasanya. “Saya bilang juga sama anak kalau sudah ada langganan. Jadi benar-benar belum mau berhenti kerja,” imbuhnya.
Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Darmo mengaku sudah tidak se-ngotot itu lagi dalam bekerja. Ia tidak akan memaksakan diri untuk berjalan di bawah panas terik ataupun hujan jika memang sudah Lelah berjalan.
Meski gigih dalam bekerja, Darmo ternyata tidak mematok harga untuk setiap pelanggannya. Mereka bebas membayar seikhlasnya. Tak jarang juga Darmo membiarkan sejumlah orang, terutama anak-anak, untuk menimbang berat badan secara gratis. “Ini seikhlasnya. Rezeki enggak akan tertukar. Kalau pun ada anak-anak yang mau coba gratis ya tidak apa-apa,” ungkapnya.
Dalam sehari, pria yang tinggal di kawasan Pulogebang ini bisa membawa uang minimal Rp 50 ribu usai bekerja dari pagi hingga menjelang magrib.

Dalam aplikasi TEKO untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran IPA (konteks) dengan teks di atas, guru harus memasukkan langkah-langkah literasi (memahami teks) di awal pembelajaran dalam RPP atau MA yang dibuatnya. Langkah-langkah itu dapat berupa penyediaan waktu 15 menit bagi siswa untuk membaca dan memahami teks tersebut sebelum pembelajaran inti dilaksanakan. Untuk mengukur pemahaman siswa terhadap teks yang dibacanya, dapat dipandu dengan beberapa pertanyaan berikut. (1) Siapa yang diceritakan dalam teks tersebut? (2) Apa pekerjaan tokoh yang diceritakan dalam teks tersebut? (3) Apa yang dilakukan oleh tokoh untuk menawarkan pekerjaanya kepada pelanggan?

Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe

Setelah langkah ini dilakukan dan setalah siswa mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan teks, yaitu (1) Darmo, (2) Penyedia jasa timbang berat badan, dan (3) Berjalan kaki puluhan kilometer. Langkah selanjutnya adalah masuk ke pembelajaran inti dengan mengaitkan isi teks dengan materi (konteks) yang akan dipelajari, yaitu menerapkan konsep pengukuran berbagai besaran dengan penggunaan satuan standar (baku). Guru dapat mengaitkan materi (konteks) dengan teks yang sudah dibaca oleh siswa dari beberapa kata kunci yang ada dalam teks, misalnya berat badan dan kilometer. Dengan demikian, teks yang telah dibaca dan dipahami (literasi) oleh siswa dapat diintegrasikan dalam pembelajaran (konteks) IPA.

Demikianlah aplikasi TEKO (Teks dan Konteks) di kelas untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran. Harapannya adalah TEKO menjadi strategi alternatif untuk menjawab permasalahan pelaksanaan GLS yang masih rendah di tingkat sekolah. Sehingga, mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademis yang literat bisa terwujud dengan cara mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran dengan strategi TEKO. Bagaimana? [T]

Tags: Literasiliterasi sekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Next Post

Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

I Made Sudarma

I Made Sudarma

Kepala SMP Negeri Satu Atap 2 Batukandik

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co