12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membangun Lingkungan Akademis Sekolah yang Literat dengan TEKO Literasi

I Made Sudarma by I Made Sudarma
August 13, 2022
in Esai
Membangun Lingkungan Akademis Sekolah yang Literat dengan TEKO Literasi

Foto ilustrasi tatkala.co | Agus Primartha

Literasi berasal dari bahasa Latin “literatus” (littera), yang setara dengan kata letter dalam bahasa Inggris yang merujuk pada makna ‘kemampuan membaca dan menulis’. Adapun literasi dimaknai ‘kemampuan membaca dan menulis’ yang kemudian berkembang menjadi ‘kemampuan menguasai pengetahuan bidang tertentu’. Sementara itu, untuk merujuk pada orang yang mempunyai kemampuan berliterasi digunakan istilah literet (dari literate) yang dapat dimaknai ‘berpendidikan, berpendidikan baik, membaca baik, sarjana, terpelajar, bersekolah, berpengetahuan, intelektual, intelijen, terpelajar, terdidik, berbudaya, kaya informasi, canggih’ (Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2018;7).

Sekolah sebagai lembaga yang bertugas mencetak generasi yang  mampu bersaing di abad XXI, harus berupaya menghidupkan dan membudayakan gerakan literasi ini. Upaya ini bertujuan agar generasi yang lahir dari sekolah memiliki kemampuan membaca dan menulis yang sangat baik untuk mampu bersaing di abad XXI. Pada tingkat sekolah, upaya untuk menghidupkan dan membudayakan gerakan literasi ini disebut dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

GLS merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam konteks GLS ini, literasi dimaknai tidak hanya sekadar pengetahuan dan kecakapan (1) baca tulis, namun juga mencakup (2) numerasi, (3) sains, (4) digital, (5) finansial, (6) budaya dan kewargaan yang bermuara pada perilaku yang berterima dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, pelaksanaan GLS di tingkat sekolah ditengarai belum masimal. Paling tidak, ada dua masalah yang menyebabkan pelaksanaan GLS ini belum maksimal ( (Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2018;5-6). Pertama, belum berjalannya secara optimal GLS di tingkat sekolah karena beberapa guru memiliki pemahaman berbeda atau kurang memadai tentang literasi. Kedua, GLS di sekolah belum membuahkan hasil yang optimal karena kurangnya pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi guru, sehingga guru kurang memiliki kemampuan untuk menentukan strategi yang tepat untuk melaksanakan GLS ini di sekolah.

Kita Adalah Lubdaka Yang Tetap Tinggal Di Rumah

Dari beberapa strategi untuk membangun budaya literasi sekolah (Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2018;14 -17), strategi yang paling menarik untuk diterapkan adalah strategi mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademis yang literat. Dalam strategi ini, sekolah harus memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan/atau guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Namun menurut Artika (2022) strategi literasi berupa kegiatan membaca selama 15 menit, memposisikan literasi sekolah berada di luar pagar mata pelajaran masih juga belum maksimal berjalan di tingkat sekolah. Hal ini disebabkan karena strategi ini dipandang tidak penting oleh guru dan siswa karena terpisah dengan pelajaran.

Untuk menjawab masalah-masalah tersebut, mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam pembelajaran menjadi sangat penting dilakukan. Siswa dibiasakan membaca dan menemukan materi dalam bacaan yang berhubungan dengan suatu pelajaran. Strategi literasi seharusnya tampak dalam langkah-langkah pembelajaran yang terdapat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP dalam Kurikulum KTSP 2013) atau modul ajar (MA dalam Kurikulum Merdeka)  yang disusun oleh para guru.

Dalam Langkah-langkah pembelajaran yang dirancang oleh guru, kegiatan 15 menit membaca teks (guru membacakan buku dan/atau siswa dan guru membaca dalam hati) disesuaikan dengan konteks (target pembelajaran). Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke kegiatan pengembangan, dan pembelajaran yang disertai dengan tagihan berdasarkan kurikulum. Kegiatan 15 menit membaca teks yang disesuaikan dengan konteks target pembelajaran dalam mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran ini untuk selanjutnya dibuatkan akronim TEKO, yaitu teks dan konteks. TEKO merupakan strategi alternative yang dirancang oleh penulis untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran yang bisa diterapkan untuk mengembangkan budaya GLS di sekolah.

Penerapan strategi TEKO untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran harus dimulai dengan pemahaman dua konsep penting, yaitu teks dan konteks. Pertama adalah teks. Menurut Beaugrande dan Dressler, teks mengacu pada suatu peristiwa komunikatif. Teks ditransmisikan melalui saluran atau media yang sesuai dan secara ideal akan memiliki fungsi yang memenuhi tujuan komunikatif tersebut. Selain itu, teks hanya dapat dipahami dan dianalisis lebih dalam dengan kerangka tindakan dalam situasi komunikatif tersebut. Sementara itu, Luxemburg menjelaskan kalau  teks adalah ungkapan bahasa yang menurut isi, sintaksis dan pragmatik merupakan suatu kesatuan.

Dari kedua pengertian teks tersebut, dapat disimpulkan bahwa teks merupakan peristiwa komunikatif melalui saluran atau media yang sesuai dan secara ideal menurut isi, sintaksis, dan pragmatik. Kedua adalah pengertian konteks. Menurut KBBI, konteks adalah situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Dari pengertian teks dan konteks tersebut, dapat dipahami bahwa teks dan konteks dalam startegi TEKO merupakan peristiwa komunikatif melalui saluran atau media yang sesuai dan ideal menurut isi, sintaksis, dan pragmatik yang ada hubungan (berkaitan) dengan materi pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

Dengan demikian, untuk mengintegrasikan literasi dengan strategi TEKO dalam pembelajaran, guru harus menyiapkan dan mempertimbangkan teks sesuai dengan konteks pembelajaran yang akan diberikan.  Perlakuan terhadap teks yang dihubungkan dengan konteks pembelajaran harus tercermin dalam langkah-langkah pembelajaran yang dibuat dalam RPP atau MA.  Sebagai contoh penerapan strategi TEKO untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran IPA di tingkat SMP. Misalnya, pembelajaran pada Kompetensi Dasar (KD) Menerapkan konsep pengukuran berbagai besaran dengan menggunaan satuan standar (baku), dengan tujuan pembelajaran peserta didik mampu menentukan satuan ukur yang tepat, yang selanjutnya disebut sebagai konteks.

Dari konteks itu, maka guru IPA dapat menyiapkan dan mempertimbangkan teks yang sesuai untuk integrasi literasi dalam pembelajaran. Teks yang bisa dibuat atau disiapkan, misalnya seperti teks berikut.

JAKARTA, KOMPAS.com – Di usia senjanya, Darmo masih saja rutin berjalan kaki puluhan kilometer setiap hari untuk menawarkan jasa timbang berat badan dan tensi darah. Bapak enam anak ini mengaku sering dibujuk oleh anak-anaknya yang sudah dewasa untuk berhenti bekerja. Namun, ia menolak dengan dalih masih mampu berjalan kaki dan mencari nafkah. “Umur saya ada sepertinya 80 tahunan. Saya masih mau kerja, masih kuat jalan kaki,” ujarnya seperti dilansir TribunJakarta.com, Kamis (4/3/2021).
Darmo mengaku sudah menjalani profesi sebagai tukang ukur berat badan dan tensi sejak1992. Kini, ia memiliki banyak langganan yang setia menunggu kedatangannya setiap hari. Kawasan Industri Pulogebang, Kanal Banjir Timur (KBT), Kalimalang, dan Duren Sawit adalah kawasan yang ia jajal setiap hari untuk menawarkan jasanya. “Saya bilang juga sama anak kalau sudah ada langganan. Jadi benar-benar belum mau berhenti kerja,” imbuhnya.
Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Darmo mengaku sudah tidak se-ngotot itu lagi dalam bekerja. Ia tidak akan memaksakan diri untuk berjalan di bawah panas terik ataupun hujan jika memang sudah Lelah berjalan.
Meski gigih dalam bekerja, Darmo ternyata tidak mematok harga untuk setiap pelanggannya. Mereka bebas membayar seikhlasnya. Tak jarang juga Darmo membiarkan sejumlah orang, terutama anak-anak, untuk menimbang berat badan secara gratis. “Ini seikhlasnya. Rezeki enggak akan tertukar. Kalau pun ada anak-anak yang mau coba gratis ya tidak apa-apa,” ungkapnya.
Dalam sehari, pria yang tinggal di kawasan Pulogebang ini bisa membawa uang minimal Rp 50 ribu usai bekerja dari pagi hingga menjelang magrib.

Dalam aplikasi TEKO untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran IPA (konteks) dengan teks di atas, guru harus memasukkan langkah-langkah literasi (memahami teks) di awal pembelajaran dalam RPP atau MA yang dibuatnya. Langkah-langkah itu dapat berupa penyediaan waktu 15 menit bagi siswa untuk membaca dan memahami teks tersebut sebelum pembelajaran inti dilaksanakan. Untuk mengukur pemahaman siswa terhadap teks yang dibacanya, dapat dipandu dengan beberapa pertanyaan berikut. (1) Siapa yang diceritakan dalam teks tersebut? (2) Apa pekerjaan tokoh yang diceritakan dalam teks tersebut? (3) Apa yang dilakukan oleh tokoh untuk menawarkan pekerjaanya kepada pelanggan?

Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe

Setelah langkah ini dilakukan dan setalah siswa mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan teks, yaitu (1) Darmo, (2) Penyedia jasa timbang berat badan, dan (3) Berjalan kaki puluhan kilometer. Langkah selanjutnya adalah masuk ke pembelajaran inti dengan mengaitkan isi teks dengan materi (konteks) yang akan dipelajari, yaitu menerapkan konsep pengukuran berbagai besaran dengan penggunaan satuan standar (baku). Guru dapat mengaitkan materi (konteks) dengan teks yang sudah dibaca oleh siswa dari beberapa kata kunci yang ada dalam teks, misalnya berat badan dan kilometer. Dengan demikian, teks yang telah dibaca dan dipahami (literasi) oleh siswa dapat diintegrasikan dalam pembelajaran (konteks) IPA.

Demikianlah aplikasi TEKO (Teks dan Konteks) di kelas untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran. Harapannya adalah TEKO menjadi strategi alternatif untuk menjawab permasalahan pelaksanaan GLS yang masih rendah di tingkat sekolah. Sehingga, mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademis yang literat bisa terwujud dengan cara mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran dengan strategi TEKO. Bagaimana? [T]

Tags: Literasiliterasi sekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Next Post

Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

I Made Sudarma

I Made Sudarma

Kepala SMP Negeri Satu Atap 2 Batukandik

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co