2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membangun Lingkungan Akademis Sekolah yang Literat dengan TEKO Literasi

I Made Sudarma by I Made Sudarma
August 13, 2022
in Esai
Membangun Lingkungan Akademis Sekolah yang Literat dengan TEKO Literasi

Foto ilustrasi tatkala.co | Agus Primartha

Literasi berasal dari bahasa Latin “literatus” (littera), yang setara dengan kata letter dalam bahasa Inggris yang merujuk pada makna ‘kemampuan membaca dan menulis’. Adapun literasi dimaknai ‘kemampuan membaca dan menulis’ yang kemudian berkembang menjadi ‘kemampuan menguasai pengetahuan bidang tertentu’. Sementara itu, untuk merujuk pada orang yang mempunyai kemampuan berliterasi digunakan istilah literet (dari literate) yang dapat dimaknai ‘berpendidikan, berpendidikan baik, membaca baik, sarjana, terpelajar, bersekolah, berpengetahuan, intelektual, intelijen, terpelajar, terdidik, berbudaya, kaya informasi, canggih’ (Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2018;7).

Sekolah sebagai lembaga yang bertugas mencetak generasi yang  mampu bersaing di abad XXI, harus berupaya menghidupkan dan membudayakan gerakan literasi ini. Upaya ini bertujuan agar generasi yang lahir dari sekolah memiliki kemampuan membaca dan menulis yang sangat baik untuk mampu bersaing di abad XXI. Pada tingkat sekolah, upaya untuk menghidupkan dan membudayakan gerakan literasi ini disebut dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

GLS merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam konteks GLS ini, literasi dimaknai tidak hanya sekadar pengetahuan dan kecakapan (1) baca tulis, namun juga mencakup (2) numerasi, (3) sains, (4) digital, (5) finansial, (6) budaya dan kewargaan yang bermuara pada perilaku yang berterima dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, pelaksanaan GLS di tingkat sekolah ditengarai belum masimal. Paling tidak, ada dua masalah yang menyebabkan pelaksanaan GLS ini belum maksimal ( (Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2018;5-6). Pertama, belum berjalannya secara optimal GLS di tingkat sekolah karena beberapa guru memiliki pemahaman berbeda atau kurang memadai tentang literasi. Kedua, GLS di sekolah belum membuahkan hasil yang optimal karena kurangnya pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan literasi guru, sehingga guru kurang memiliki kemampuan untuk menentukan strategi yang tepat untuk melaksanakan GLS ini di sekolah.

Kita Adalah Lubdaka Yang Tetap Tinggal Di Rumah

Dari beberapa strategi untuk membangun budaya literasi sekolah (Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2018;14 -17), strategi yang paling menarik untuk diterapkan adalah strategi mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademis yang literat. Dalam strategi ini, sekolah harus memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan/atau guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Namun menurut Artika (2022) strategi literasi berupa kegiatan membaca selama 15 menit, memposisikan literasi sekolah berada di luar pagar mata pelajaran masih juga belum maksimal berjalan di tingkat sekolah. Hal ini disebabkan karena strategi ini dipandang tidak penting oleh guru dan siswa karena terpisah dengan pelajaran.

Untuk menjawab masalah-masalah tersebut, mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam pembelajaran menjadi sangat penting dilakukan. Siswa dibiasakan membaca dan menemukan materi dalam bacaan yang berhubungan dengan suatu pelajaran. Strategi literasi seharusnya tampak dalam langkah-langkah pembelajaran yang terdapat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP dalam Kurikulum KTSP 2013) atau modul ajar (MA dalam Kurikulum Merdeka)  yang disusun oleh para guru.

Dalam Langkah-langkah pembelajaran yang dirancang oleh guru, kegiatan 15 menit membaca teks (guru membacakan buku dan/atau siswa dan guru membaca dalam hati) disesuaikan dengan konteks (target pembelajaran). Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke kegiatan pengembangan, dan pembelajaran yang disertai dengan tagihan berdasarkan kurikulum. Kegiatan 15 menit membaca teks yang disesuaikan dengan konteks target pembelajaran dalam mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran ini untuk selanjutnya dibuatkan akronim TEKO, yaitu teks dan konteks. TEKO merupakan strategi alternative yang dirancang oleh penulis untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran yang bisa diterapkan untuk mengembangkan budaya GLS di sekolah.

Penerapan strategi TEKO untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran harus dimulai dengan pemahaman dua konsep penting, yaitu teks dan konteks. Pertama adalah teks. Menurut Beaugrande dan Dressler, teks mengacu pada suatu peristiwa komunikatif. Teks ditransmisikan melalui saluran atau media yang sesuai dan secara ideal akan memiliki fungsi yang memenuhi tujuan komunikatif tersebut. Selain itu, teks hanya dapat dipahami dan dianalisis lebih dalam dengan kerangka tindakan dalam situasi komunikatif tersebut. Sementara itu, Luxemburg menjelaskan kalau  teks adalah ungkapan bahasa yang menurut isi, sintaksis dan pragmatik merupakan suatu kesatuan.

Dari kedua pengertian teks tersebut, dapat disimpulkan bahwa teks merupakan peristiwa komunikatif melalui saluran atau media yang sesuai dan secara ideal menurut isi, sintaksis, dan pragmatik. Kedua adalah pengertian konteks. Menurut KBBI, konteks adalah situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian. Dari pengertian teks dan konteks tersebut, dapat dipahami bahwa teks dan konteks dalam startegi TEKO merupakan peristiwa komunikatif melalui saluran atau media yang sesuai dan ideal menurut isi, sintaksis, dan pragmatik yang ada hubungan (berkaitan) dengan materi pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

Dengan demikian, untuk mengintegrasikan literasi dengan strategi TEKO dalam pembelajaran, guru harus menyiapkan dan mempertimbangkan teks sesuai dengan konteks pembelajaran yang akan diberikan.  Perlakuan terhadap teks yang dihubungkan dengan konteks pembelajaran harus tercermin dalam langkah-langkah pembelajaran yang dibuat dalam RPP atau MA.  Sebagai contoh penerapan strategi TEKO untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran IPA di tingkat SMP. Misalnya, pembelajaran pada Kompetensi Dasar (KD) Menerapkan konsep pengukuran berbagai besaran dengan menggunaan satuan standar (baku), dengan tujuan pembelajaran peserta didik mampu menentukan satuan ukur yang tepat, yang selanjutnya disebut sebagai konteks.

Dari konteks itu, maka guru IPA dapat menyiapkan dan mempertimbangkan teks yang sesuai untuk integrasi literasi dalam pembelajaran. Teks yang bisa dibuat atau disiapkan, misalnya seperti teks berikut.

JAKARTA, KOMPAS.com – Di usia senjanya, Darmo masih saja rutin berjalan kaki puluhan kilometer setiap hari untuk menawarkan jasa timbang berat badan dan tensi darah. Bapak enam anak ini mengaku sering dibujuk oleh anak-anaknya yang sudah dewasa untuk berhenti bekerja. Namun, ia menolak dengan dalih masih mampu berjalan kaki dan mencari nafkah. “Umur saya ada sepertinya 80 tahunan. Saya masih mau kerja, masih kuat jalan kaki,” ujarnya seperti dilansir TribunJakarta.com, Kamis (4/3/2021).
Darmo mengaku sudah menjalani profesi sebagai tukang ukur berat badan dan tensi sejak1992. Kini, ia memiliki banyak langganan yang setia menunggu kedatangannya setiap hari. Kawasan Industri Pulogebang, Kanal Banjir Timur (KBT), Kalimalang, dan Duren Sawit adalah kawasan yang ia jajal setiap hari untuk menawarkan jasanya. “Saya bilang juga sama anak kalau sudah ada langganan. Jadi benar-benar belum mau berhenti kerja,” imbuhnya.
Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Darmo mengaku sudah tidak se-ngotot itu lagi dalam bekerja. Ia tidak akan memaksakan diri untuk berjalan di bawah panas terik ataupun hujan jika memang sudah Lelah berjalan.
Meski gigih dalam bekerja, Darmo ternyata tidak mematok harga untuk setiap pelanggannya. Mereka bebas membayar seikhlasnya. Tak jarang juga Darmo membiarkan sejumlah orang, terutama anak-anak, untuk menimbang berat badan secara gratis. “Ini seikhlasnya. Rezeki enggak akan tertukar. Kalau pun ada anak-anak yang mau coba gratis ya tidak apa-apa,” ungkapnya.
Dalam sehari, pria yang tinggal di kawasan Pulogebang ini bisa membawa uang minimal Rp 50 ribu usai bekerja dari pagi hingga menjelang magrib.

Dalam aplikasi TEKO untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran IPA (konteks) dengan teks di atas, guru harus memasukkan langkah-langkah literasi (memahami teks) di awal pembelajaran dalam RPP atau MA yang dibuatnya. Langkah-langkah itu dapat berupa penyediaan waktu 15 menit bagi siswa untuk membaca dan memahami teks tersebut sebelum pembelajaran inti dilaksanakan. Untuk mengukur pemahaman siswa terhadap teks yang dibacanya, dapat dipandu dengan beberapa pertanyaan berikut. (1) Siapa yang diceritakan dalam teks tersebut? (2) Apa pekerjaan tokoh yang diceritakan dalam teks tersebut? (3) Apa yang dilakukan oleh tokoh untuk menawarkan pekerjaanya kepada pelanggan?

Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe

Setelah langkah ini dilakukan dan setalah siswa mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan teks, yaitu (1) Darmo, (2) Penyedia jasa timbang berat badan, dan (3) Berjalan kaki puluhan kilometer. Langkah selanjutnya adalah masuk ke pembelajaran inti dengan mengaitkan isi teks dengan materi (konteks) yang akan dipelajari, yaitu menerapkan konsep pengukuran berbagai besaran dengan penggunaan satuan standar (baku). Guru dapat mengaitkan materi (konteks) dengan teks yang sudah dibaca oleh siswa dari beberapa kata kunci yang ada dalam teks, misalnya berat badan dan kilometer. Dengan demikian, teks yang telah dibaca dan dipahami (literasi) oleh siswa dapat diintegrasikan dalam pembelajaran (konteks) IPA.

Demikianlah aplikasi TEKO (Teks dan Konteks) di kelas untuk mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran. Harapannya adalah TEKO menjadi strategi alternatif untuk menjawab permasalahan pelaksanaan GLS yang masih rendah di tingkat sekolah. Sehingga, mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademis yang literat bisa terwujud dengan cara mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran dengan strategi TEKO. Bagaimana? [T]

Tags: Literasiliterasi sekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Next Post

Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

I Made Sudarma

I Made Sudarma

Kepala SMP Negeri Satu Atap 2 Batukandik

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

Puisi-puisi Ni Wayan Kristina | Lenyap, Sudut Jendela Surga

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co