4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Linda Christanty dan Rasa yang Janggal Tertinggal | Catatan Diskusi Semenjana

Lingkar Studi Sastra Denpasar by Lingkar Studi Sastra Denpasar
August 10, 2022
in Esai
Linda Christanty dan Rasa yang Janggal Tertinggal | Catatan Diskusi Semenjana

Linda Christanty

Bagaimana mendefinisikan getir? Bagaimana rasanya sepat? Rasanya seperti kulit jeruk, pahit agak pedas. Rasanya kelat seperti pinang, salak mentah, dan pisang mentah.

Tentu buah-buah dalam kondisi yang tidak ideal tersebut, juga beberapa bagiannya yang tak diinginkan, bukanlah sesuatu yang kita hendak cari terus menerus. Sekali saja dirasai, cukuplah ia, tak perlu diulang lagi. Namun, dengan kurang ajarnya rasa-rasa tersebut terus terbayang, bahkan dengan mudahnya terpanggil ketika ia cuma disebutkan dalam bentuk kata-kata.

Mungkin rasa seperti itulah yang umum tertinggal di kepala kita setelah menandaskan cerpen-cerpen Linda Christanty. Rasa yang aneh dan membuat tidak nyaman, rasa yang sebaiknya tak perlu dirasakan lagi. Akan tetapi, justru rasa itu pula lah yang membuatnya akan tetap ada di sana, terkenang dan tertinggal dengan janggal.

Oleh beberapa sumber, Linda kerap kali disebut sebagai seorang penutur kesedihan yang andal. Lewat cerpen-cerpennya, kesedihan seolah sehelai selimut yang tak sepenuhnya menutupi kaki-kaki kita pada pukul empat pagi. Selimut yang menghangatkan sekaligus memperbolehkan desir-desir dingin melewati pori-pori kulit. Menjadikan kita pada akhirnya terbiasa dengan dingin (atau hangat?) untuk kemudian membiarkan kita melanjutkan tidur. Membaca cerpen-cerpen Linda adalah upaya mengeja kesedihan yang hadir tidak secara megah, mengagetkan, atau membuat sedu sedan. Ia tersampaikan dengan pelan, sedikit demi sedikit, hingga kita tak sadar, justru kita lah yang telah diliputi oleh kesedihan itu.

Dunia yang Abu-Abu dari Cindhil

Bagaimanapun derajat, lapis, dan dimensinya, kesedihan tetaplah kesedihan. Ia terasa nyata kehadirannya pada tiga cerpen Linda, “Kesedihan” (Koran Tempo, 2010), “Perpisahan” (Kompas, 2011), dan “Pengelana Laut” (Kompas, 2020). Tiga cerpen ini dibincangkan dalam Seri Membincang Jalan Ninja – Semenjana #4 Lingkar Studi Sastra Denpasar pada 24 Juni 2022 lalu. Sesi ini dilalui bersama kawan-kawan yang belum pernah membaca karya Linda sebelumnya, juga mereka yang merupakan penggemar beratnya.

Kesedihan itu menyesakkan, lalu menembus yang kapiler

Penyair Avianti Armand pernah menulis resensi untuk buku kumpulan cerpen Linda yang menjadi Pemenang Kategori Fiksi Khatulistiwa Literary Awards 2010, Rahasia Selma (2010). Katanya, di balik cerpen-cerpen Linda, “…ada sesuatu yang meresahkan dan mendesak-desak… Sesuatu yang belum selesai dan tak bisa kita pahami seutuhnya…” Pendapat Avianti sangat tepat, karena kerap saya seolah ditinggalkan begitu saja dengan pertanyaan dan perasaan aneh selepas menandaskan cerpen-cerpen penulis kelahiran Bangka ini.

Cerpen “Kesedihan”, misalnya. Kisah yang ditampilkan dalam cerpen ini sebenarnya sederhana saja. Berkisah tentang sepasang (mantan) kekasih yang masih berbagi kediaman, ketika sang lelaki telah memiliki seorang baru yang hadir di kehidupannya, tersisip di antara keduanya. Akan tetapi, yang membuatnya membingungkan adalah karena keduanya memahami bahwa mereka sama-sama belum tuntas dengan perasaan masing-masing, sekaligus menyadari bahwa semuanya sudah usai.

“Hubungan menahun membuat jemu, tapi tidak semua orang berani berpisah dengan alasan itu. Anehnya, kita juga merasa ada ikatan yang lebih dalam dari apa yang tampak. Kita akan selalu seperti ini, bersama-sama, katamu. Selamanya? Ya, selamanya. Kamu menatapku, berkaca-kaca.”

Sang perempuan–si “Aku”–sepanjang cerita menunjukkan betapa berbeda dirinya dengan sang perempuan baru. Begitu pula perbedaan rutinitas yang dialami oleh tokoh laki-laki saat ini, dibandingkan dengan waktu-waktu bersamanya dulu. Kesedihan itu menguar pelan dari sebuah perpisahan yang terjadi tanpa harus berjarak waktu, tempat, atau kematian. Sebuah perpisahan yang janggal—belum tuntas bahkan hingga titik ketika cerita telah berakhir. Hal tersebut tampak dalam kutipan berikut:

“Di dapur terdengar seseorang mencuci piring-piring. Air kran kembali mengucur, deras. Kita tetap berpelukan dan tidak pernah merasa sesedih ini.

Mencari Cindhil, Menemukan Papa

Dalam cerpen “Perpisahan”, hal serupa pun kembali terlihat. Bagaimana si Aku terus mengulur waktu, membiarkan Hans terus menerus mengoceh tentang kepergian sang Ibu, seperti yang tampak dalam kutipan berikut:

”Ibu saya meninggal dengan berani.” Kali ini kamu berseru sambil mengamati permukaan sungai yang mulai bergetar. Bayangan hijau kita masih di situ.

Tuturan-tuturan panjang yang seolah tak berhenti, dan sengaja untuk terus diulur hanya agar pembaca mendapati fakta bahwa Aku sesungguhnya akan segera menyusul Ibunda Hans.

“Aku merengkuh pundakmu, mengajakmu terus melangkah, tiada berkata-kata. Kamu tertawa. Rasanya enak berjalan seperti ini. ‘Sudah lama, ya, kita tidak berjalan seperti ini.’ Kamu memelukku.

Atau kukatakan saja sekarang? Tapi aku malah bercerita tentang kematian Ayahku. Setelah dia meninggal, aku pulang ke rumah sebentar untuk menengok ibuku…”

Kesedihan yang tergambarkan di bagian akhir cerpen seolah tampil untuk menegaskan kesedihan yang sejak awal sudah menjalar. Jalaran itu terjadi dalam bentuk rekoleksi memori dari masing-masing tokoh. Ia tertampak pada lanturan-lanturan yang seolah tak kunjung selesai, layaknya kita mendengarkan orang tua bercerita.

“Udara benar-benar dingin. Patung beruang di muka satu galeri itu tampak begitu tua.

Hans, kita tidak akan bertemu lagi tahun depan atau bahkan sebelum tahun itu tiba. Setelah meninggalkan Berlin, aku akan menulis surat terakhir untukmu: tentang sel-sel penyakit yang berkembang dan menjalar dalam kesenyapan, dan hari-hari yang tidak akan kita miliki lagi di mana pun.”

Cerpen “Pengelana Laut” pun seperti sama halnya. Membacanya seperti membaca buku harian seorang anak yang ditinggal mati ayahnya dan ragam upaya sekaligus latar lainnya yang mengitari kematian tersebut. Kesedihan tembus melewati kapiler-kapiler tak kasat mata, hanya untuk meninggalkan kesepatan yang aneh di akhir cerita. Bagaimana sang Ayah mati, lalu untuk apa kenang-kenangan tersebut, dibiarkan saja.

“Besok, ia akan berangkat ke bandara untuk terbang pulang. Namun, ia akan terus menyusuri jejak ayahnya, merasakan suasana ataupun keadaan di tempat-tempat yang pernah atau mungkin dikunjungi lelaki itu, membayangkan pengalaman-pengalamannya, yang mengubah hidup mereka.”

Ketiga cerpen ini menunjukkan kecenderungan Linda yang gemar untuk bercerita dengan cara yang “tidak selesai” dan karenanya menghasilkan after taste yang janggal. Ia juga gemar menulis dengan melantur, mengalir, mengeluarkan apa-apa yang ada di kepala sang tokoh begitu saja. Seolah apa yang dikisahkan tidaklah penting, tetapi bagaimana cara ia menuturkan kisah itulah yang lebih penting. Selain itu, terlihat pula adanya upaya untuk menambahkan pengetahuan-pengetahuan atas sesuatu di dalam cerpennya. Bisa jadi pengetahuan yang umum, pengetahuan yang kerap kali membuat pembacanya merasa, “Oh jadi begitu…”

Realitas yang Politis

Membaca cerpen-cerpen Linda, kita dihadapkan pada kepingan-kepingan realitas manusia yang bisa jadi begitu dekat atau bahkan begitu jauh sebab kita kerap tak sadar akan kehadirannya. Ia menulis dengan kalimat pendek yang lugas, tetapi beberapa diksi yang sederhana juga mampu ia rangkai hingga terlihat dan terdengar puitik. Pengalamannya sebagai jurnalis memberinya andil di sini, tetapi mungkin pula karena pengaruh bacaan yang telah ia lahap sejak kecil semisal Victor Hugo, John Steinbeck, Karl May, yang karya-karya realisnya Linda tekuni dan kagumi.

Profesinya sebagai jurnalis juga mempengaruhi ide dan topik yang hendak ia sampaikan melalui cerpen. Dalam sebuah laporan khusus BBC (2013) yang membahas tentang proses kreatif penulisannya, Linda mengakui hal tersebut dengan gamblang. Ia menyebut ketika ia tidak mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk sebuah laporan jurnalistik, maka bahan-bahan tersebut dituangkannya menjadi fiksi, atau bagian darinya meskipun tidak utuh.

Keterlibatannya dalam kelompok-kelompok progresif membuat cerpen-cerpen Linda juga melek akan isu kemanusiaan dan ketidakadilan. Beberapa cerpennya bisa dengan sangat gamblang mengisahkan hal ini, misalnya “Pesta Terakhir” (2002) yang tampil dalam kumcer Kuda Terbang Maria Pinto (2004) yang memenangkan Kategori Fiksi Khatulistiwa Literary Awards 2004. Atau “ Seekor Anjing Mati di Bala Murghab” (2010) dalam kumcer dengan tajuk sama yang membawa Linda sebagai peraih Southeast Asian Writers Award pada 2013. Akan tetapi, ketika tak secara persis memperlihatkan posisinya terhadap suatu topik, cerpen-cerpen Linda pun tetap memiliki nuansa politik.

Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana

Misalnya dalam “Kesedihan”, kita bisa melihat stereotip perempuan Asia dan lelaki kulit putih. Atau dalam “Pengelana Laut”, mereka yang bergiat untuk kemaslahatan lingkungan sangat mungkin kalah diinjak para oligark dan perkara nasionalisme. Potret keluarga dalam “Perpisahan” menunjukkan bagaimana keluarga batih beroperasi dalam kehidupan sehari-hari (dan lagi, mengapa ia memilih menggunakan kematian Rosa Luxemburg, seorang sosialis Jerman, untuk membuka cerpen ini?).

Bagi Linda, semakin canggih seseorang menulis, maka semakin halus ia mampu menyampaikan suatu pesan. Semua karya mengandung “pesan politik” penulisnya, setipis apapun itu. Sesederhana membicarakan tentang keluarga, bahkan ruang privat antara satu hingga dua orang, mereka adalah unit-unit terkecil yang mencerminkan politik yang sedang berlangsung di suatu negara.

Linda Christanty begitu lihai menumpuk lapis-lapis narasi atas konstruksi sosial dalam tiap ceritanya, kerap kali membuat pembacanya tak sadar bahwa: ada suatu hal besar yang laten di dalamnya; dan getir dan sepat itu sudah terlebih dahulu terkecap dalam kepala. Mungkin memang inilah rasa ketidakadilan dalam hidup, dan Linda memastikan rasa tersebut terejawantahkan dalam cerita-cerita yang ia tulis. Membuatnya tertinggal dengan janggal di kepala, senantiasa. Sebab sesungguhnya Linda memang tak pernah berniat untuk menulis cerita-cerita sedih, tetapi memang itulah yang terjadi hampir setiap hidup dari kita. [T]

Penulis: Oktaria Asmarani

Oktaria Asmarani
Tags: Linda ChristantyLingkar Studi Sastra Denpasarsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ini Alasan Kenapa Bupati Suradnyana Minta KONI Tambah Hadiah Lomba Gerak Jalan

Next Post

Nungkalik: Fragmentasi Kelahiran dari Tubuh yang Terluka

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar (LSD) adalah sebuah kelompok belajar yang meneropong sebagian kecil dari lanskap besar Sastra Indonesia. Temui mereka di Instagram: @lingkarstudisastra.dps

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Nungkalik: Fragmentasi Kelahiran dari Tubuh yang Terluka

Nungkalik: Fragmentasi Kelahiran dari Tubuh yang Terluka

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co