24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Linda Christanty dan Rasa yang Janggal Tertinggal | Catatan Diskusi Semenjana

Lingkar Studi Sastra Denpasar by Lingkar Studi Sastra Denpasar
August 10, 2022
in Esai
Linda Christanty dan Rasa yang Janggal Tertinggal | Catatan Diskusi Semenjana

Linda Christanty

Bagaimana mendefinisikan getir? Bagaimana rasanya sepat? Rasanya seperti kulit jeruk, pahit agak pedas. Rasanya kelat seperti pinang, salak mentah, dan pisang mentah.

Tentu buah-buah dalam kondisi yang tidak ideal tersebut, juga beberapa bagiannya yang tak diinginkan, bukanlah sesuatu yang kita hendak cari terus menerus. Sekali saja dirasai, cukuplah ia, tak perlu diulang lagi. Namun, dengan kurang ajarnya rasa-rasa tersebut terus terbayang, bahkan dengan mudahnya terpanggil ketika ia cuma disebutkan dalam bentuk kata-kata.

Mungkin rasa seperti itulah yang umum tertinggal di kepala kita setelah menandaskan cerpen-cerpen Linda Christanty. Rasa yang aneh dan membuat tidak nyaman, rasa yang sebaiknya tak perlu dirasakan lagi. Akan tetapi, justru rasa itu pula lah yang membuatnya akan tetap ada di sana, terkenang dan tertinggal dengan janggal.

Oleh beberapa sumber, Linda kerap kali disebut sebagai seorang penutur kesedihan yang andal. Lewat cerpen-cerpennya, kesedihan seolah sehelai selimut yang tak sepenuhnya menutupi kaki-kaki kita pada pukul empat pagi. Selimut yang menghangatkan sekaligus memperbolehkan desir-desir dingin melewati pori-pori kulit. Menjadikan kita pada akhirnya terbiasa dengan dingin (atau hangat?) untuk kemudian membiarkan kita melanjutkan tidur. Membaca cerpen-cerpen Linda adalah upaya mengeja kesedihan yang hadir tidak secara megah, mengagetkan, atau membuat sedu sedan. Ia tersampaikan dengan pelan, sedikit demi sedikit, hingga kita tak sadar, justru kita lah yang telah diliputi oleh kesedihan itu.

Dunia yang Abu-Abu dari Cindhil

Bagaimanapun derajat, lapis, dan dimensinya, kesedihan tetaplah kesedihan. Ia terasa nyata kehadirannya pada tiga cerpen Linda, “Kesedihan” (Koran Tempo, 2010), “Perpisahan” (Kompas, 2011), dan “Pengelana Laut” (Kompas, 2020). Tiga cerpen ini dibincangkan dalam Seri Membincang Jalan Ninja – Semenjana #4 Lingkar Studi Sastra Denpasar pada 24 Juni 2022 lalu. Sesi ini dilalui bersama kawan-kawan yang belum pernah membaca karya Linda sebelumnya, juga mereka yang merupakan penggemar beratnya.

Kesedihan itu menyesakkan, lalu menembus yang kapiler

Penyair Avianti Armand pernah menulis resensi untuk buku kumpulan cerpen Linda yang menjadi Pemenang Kategori Fiksi Khatulistiwa Literary Awards 2010, Rahasia Selma (2010). Katanya, di balik cerpen-cerpen Linda, “…ada sesuatu yang meresahkan dan mendesak-desak… Sesuatu yang belum selesai dan tak bisa kita pahami seutuhnya…” Pendapat Avianti sangat tepat, karena kerap saya seolah ditinggalkan begitu saja dengan pertanyaan dan perasaan aneh selepas menandaskan cerpen-cerpen penulis kelahiran Bangka ini.

Cerpen “Kesedihan”, misalnya. Kisah yang ditampilkan dalam cerpen ini sebenarnya sederhana saja. Berkisah tentang sepasang (mantan) kekasih yang masih berbagi kediaman, ketika sang lelaki telah memiliki seorang baru yang hadir di kehidupannya, tersisip di antara keduanya. Akan tetapi, yang membuatnya membingungkan adalah karena keduanya memahami bahwa mereka sama-sama belum tuntas dengan perasaan masing-masing, sekaligus menyadari bahwa semuanya sudah usai.

“Hubungan menahun membuat jemu, tapi tidak semua orang berani berpisah dengan alasan itu. Anehnya, kita juga merasa ada ikatan yang lebih dalam dari apa yang tampak. Kita akan selalu seperti ini, bersama-sama, katamu. Selamanya? Ya, selamanya. Kamu menatapku, berkaca-kaca.”

Sang perempuan–si “Aku”–sepanjang cerita menunjukkan betapa berbeda dirinya dengan sang perempuan baru. Begitu pula perbedaan rutinitas yang dialami oleh tokoh laki-laki saat ini, dibandingkan dengan waktu-waktu bersamanya dulu. Kesedihan itu menguar pelan dari sebuah perpisahan yang terjadi tanpa harus berjarak waktu, tempat, atau kematian. Sebuah perpisahan yang janggal—belum tuntas bahkan hingga titik ketika cerita telah berakhir. Hal tersebut tampak dalam kutipan berikut:

“Di dapur terdengar seseorang mencuci piring-piring. Air kran kembali mengucur, deras. Kita tetap berpelukan dan tidak pernah merasa sesedih ini.

Mencari Cindhil, Menemukan Papa

Dalam cerpen “Perpisahan”, hal serupa pun kembali terlihat. Bagaimana si Aku terus mengulur waktu, membiarkan Hans terus menerus mengoceh tentang kepergian sang Ibu, seperti yang tampak dalam kutipan berikut:

”Ibu saya meninggal dengan berani.” Kali ini kamu berseru sambil mengamati permukaan sungai yang mulai bergetar. Bayangan hijau kita masih di situ.

Tuturan-tuturan panjang yang seolah tak berhenti, dan sengaja untuk terus diulur hanya agar pembaca mendapati fakta bahwa Aku sesungguhnya akan segera menyusul Ibunda Hans.

“Aku merengkuh pundakmu, mengajakmu terus melangkah, tiada berkata-kata. Kamu tertawa. Rasanya enak berjalan seperti ini. ‘Sudah lama, ya, kita tidak berjalan seperti ini.’ Kamu memelukku.

Atau kukatakan saja sekarang? Tapi aku malah bercerita tentang kematian Ayahku. Setelah dia meninggal, aku pulang ke rumah sebentar untuk menengok ibuku…”

Kesedihan yang tergambarkan di bagian akhir cerpen seolah tampil untuk menegaskan kesedihan yang sejak awal sudah menjalar. Jalaran itu terjadi dalam bentuk rekoleksi memori dari masing-masing tokoh. Ia tertampak pada lanturan-lanturan yang seolah tak kunjung selesai, layaknya kita mendengarkan orang tua bercerita.

“Udara benar-benar dingin. Patung beruang di muka satu galeri itu tampak begitu tua.

Hans, kita tidak akan bertemu lagi tahun depan atau bahkan sebelum tahun itu tiba. Setelah meninggalkan Berlin, aku akan menulis surat terakhir untukmu: tentang sel-sel penyakit yang berkembang dan menjalar dalam kesenyapan, dan hari-hari yang tidak akan kita miliki lagi di mana pun.”

Cerpen “Pengelana Laut” pun seperti sama halnya. Membacanya seperti membaca buku harian seorang anak yang ditinggal mati ayahnya dan ragam upaya sekaligus latar lainnya yang mengitari kematian tersebut. Kesedihan tembus melewati kapiler-kapiler tak kasat mata, hanya untuk meninggalkan kesepatan yang aneh di akhir cerita. Bagaimana sang Ayah mati, lalu untuk apa kenang-kenangan tersebut, dibiarkan saja.

“Besok, ia akan berangkat ke bandara untuk terbang pulang. Namun, ia akan terus menyusuri jejak ayahnya, merasakan suasana ataupun keadaan di tempat-tempat yang pernah atau mungkin dikunjungi lelaki itu, membayangkan pengalaman-pengalamannya, yang mengubah hidup mereka.”

Ketiga cerpen ini menunjukkan kecenderungan Linda yang gemar untuk bercerita dengan cara yang “tidak selesai” dan karenanya menghasilkan after taste yang janggal. Ia juga gemar menulis dengan melantur, mengalir, mengeluarkan apa-apa yang ada di kepala sang tokoh begitu saja. Seolah apa yang dikisahkan tidaklah penting, tetapi bagaimana cara ia menuturkan kisah itulah yang lebih penting. Selain itu, terlihat pula adanya upaya untuk menambahkan pengetahuan-pengetahuan atas sesuatu di dalam cerpennya. Bisa jadi pengetahuan yang umum, pengetahuan yang kerap kali membuat pembacanya merasa, “Oh jadi begitu…”

Realitas yang Politis

Membaca cerpen-cerpen Linda, kita dihadapkan pada kepingan-kepingan realitas manusia yang bisa jadi begitu dekat atau bahkan begitu jauh sebab kita kerap tak sadar akan kehadirannya. Ia menulis dengan kalimat pendek yang lugas, tetapi beberapa diksi yang sederhana juga mampu ia rangkai hingga terlihat dan terdengar puitik. Pengalamannya sebagai jurnalis memberinya andil di sini, tetapi mungkin pula karena pengaruh bacaan yang telah ia lahap sejak kecil semisal Victor Hugo, John Steinbeck, Karl May, yang karya-karya realisnya Linda tekuni dan kagumi.

Profesinya sebagai jurnalis juga mempengaruhi ide dan topik yang hendak ia sampaikan melalui cerpen. Dalam sebuah laporan khusus BBC (2013) yang membahas tentang proses kreatif penulisannya, Linda mengakui hal tersebut dengan gamblang. Ia menyebut ketika ia tidak mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk sebuah laporan jurnalistik, maka bahan-bahan tersebut dituangkannya menjadi fiksi, atau bagian darinya meskipun tidak utuh.

Keterlibatannya dalam kelompok-kelompok progresif membuat cerpen-cerpen Linda juga melek akan isu kemanusiaan dan ketidakadilan. Beberapa cerpennya bisa dengan sangat gamblang mengisahkan hal ini, misalnya “Pesta Terakhir” (2002) yang tampil dalam kumcer Kuda Terbang Maria Pinto (2004) yang memenangkan Kategori Fiksi Khatulistiwa Literary Awards 2004. Atau “ Seekor Anjing Mati di Bala Murghab” (2010) dalam kumcer dengan tajuk sama yang membawa Linda sebagai peraih Southeast Asian Writers Award pada 2013. Akan tetapi, ketika tak secara persis memperlihatkan posisinya terhadap suatu topik, cerpen-cerpen Linda pun tetap memiliki nuansa politik.

Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana

Misalnya dalam “Kesedihan”, kita bisa melihat stereotip perempuan Asia dan lelaki kulit putih. Atau dalam “Pengelana Laut”, mereka yang bergiat untuk kemaslahatan lingkungan sangat mungkin kalah diinjak para oligark dan perkara nasionalisme. Potret keluarga dalam “Perpisahan” menunjukkan bagaimana keluarga batih beroperasi dalam kehidupan sehari-hari (dan lagi, mengapa ia memilih menggunakan kematian Rosa Luxemburg, seorang sosialis Jerman, untuk membuka cerpen ini?).

Bagi Linda, semakin canggih seseorang menulis, maka semakin halus ia mampu menyampaikan suatu pesan. Semua karya mengandung “pesan politik” penulisnya, setipis apapun itu. Sesederhana membicarakan tentang keluarga, bahkan ruang privat antara satu hingga dua orang, mereka adalah unit-unit terkecil yang mencerminkan politik yang sedang berlangsung di suatu negara.

Linda Christanty begitu lihai menumpuk lapis-lapis narasi atas konstruksi sosial dalam tiap ceritanya, kerap kali membuat pembacanya tak sadar bahwa: ada suatu hal besar yang laten di dalamnya; dan getir dan sepat itu sudah terlebih dahulu terkecap dalam kepala. Mungkin memang inilah rasa ketidakadilan dalam hidup, dan Linda memastikan rasa tersebut terejawantahkan dalam cerita-cerita yang ia tulis. Membuatnya tertinggal dengan janggal di kepala, senantiasa. Sebab sesungguhnya Linda memang tak pernah berniat untuk menulis cerita-cerita sedih, tetapi memang itulah yang terjadi hampir setiap hidup dari kita. [T]

Penulis: Oktaria Asmarani

Oktaria Asmarani
Tags: Linda ChristantyLingkar Studi Sastra Denpasarsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ini Alasan Kenapa Bupati Suradnyana Minta KONI Tambah Hadiah Lomba Gerak Jalan

Next Post

Nungkalik: Fragmentasi Kelahiran dari Tubuh yang Terluka

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar (LSD) adalah sebuah kelompok belajar yang meneropong sebagian kecil dari lanskap besar Sastra Indonesia. Temui mereka di Instagram: @lingkarstudisastra.dps

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Nungkalik: Fragmentasi Kelahiran dari Tubuh yang Terluka

Nungkalik: Fragmentasi Kelahiran dari Tubuh yang Terluka

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co