5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Linda Christanty dan Rasa yang Janggal Tertinggal | Catatan Diskusi Semenjana

Lingkar Studi Sastra Denpasar by Lingkar Studi Sastra Denpasar
August 10, 2022
in Esai
Linda Christanty dan Rasa yang Janggal Tertinggal | Catatan Diskusi Semenjana

Linda Christanty

Bagaimana mendefinisikan getir? Bagaimana rasanya sepat? Rasanya seperti kulit jeruk, pahit agak pedas. Rasanya kelat seperti pinang, salak mentah, dan pisang mentah.

Tentu buah-buah dalam kondisi yang tidak ideal tersebut, juga beberapa bagiannya yang tak diinginkan, bukanlah sesuatu yang kita hendak cari terus menerus. Sekali saja dirasai, cukuplah ia, tak perlu diulang lagi. Namun, dengan kurang ajarnya rasa-rasa tersebut terus terbayang, bahkan dengan mudahnya terpanggil ketika ia cuma disebutkan dalam bentuk kata-kata.

Mungkin rasa seperti itulah yang umum tertinggal di kepala kita setelah menandaskan cerpen-cerpen Linda Christanty. Rasa yang aneh dan membuat tidak nyaman, rasa yang sebaiknya tak perlu dirasakan lagi. Akan tetapi, justru rasa itu pula lah yang membuatnya akan tetap ada di sana, terkenang dan tertinggal dengan janggal.

Oleh beberapa sumber, Linda kerap kali disebut sebagai seorang penutur kesedihan yang andal. Lewat cerpen-cerpennya, kesedihan seolah sehelai selimut yang tak sepenuhnya menutupi kaki-kaki kita pada pukul empat pagi. Selimut yang menghangatkan sekaligus memperbolehkan desir-desir dingin melewati pori-pori kulit. Menjadikan kita pada akhirnya terbiasa dengan dingin (atau hangat?) untuk kemudian membiarkan kita melanjutkan tidur. Membaca cerpen-cerpen Linda adalah upaya mengeja kesedihan yang hadir tidak secara megah, mengagetkan, atau membuat sedu sedan. Ia tersampaikan dengan pelan, sedikit demi sedikit, hingga kita tak sadar, justru kita lah yang telah diliputi oleh kesedihan itu.

Dunia yang Abu-Abu dari Cindhil

Bagaimanapun derajat, lapis, dan dimensinya, kesedihan tetaplah kesedihan. Ia terasa nyata kehadirannya pada tiga cerpen Linda, “Kesedihan” (Koran Tempo, 2010), “Perpisahan” (Kompas, 2011), dan “Pengelana Laut” (Kompas, 2020). Tiga cerpen ini dibincangkan dalam Seri Membincang Jalan Ninja – Semenjana #4 Lingkar Studi Sastra Denpasar pada 24 Juni 2022 lalu. Sesi ini dilalui bersama kawan-kawan yang belum pernah membaca karya Linda sebelumnya, juga mereka yang merupakan penggemar beratnya.

Kesedihan itu menyesakkan, lalu menembus yang kapiler

Penyair Avianti Armand pernah menulis resensi untuk buku kumpulan cerpen Linda yang menjadi Pemenang Kategori Fiksi Khatulistiwa Literary Awards 2010, Rahasia Selma (2010). Katanya, di balik cerpen-cerpen Linda, “…ada sesuatu yang meresahkan dan mendesak-desak… Sesuatu yang belum selesai dan tak bisa kita pahami seutuhnya…” Pendapat Avianti sangat tepat, karena kerap saya seolah ditinggalkan begitu saja dengan pertanyaan dan perasaan aneh selepas menandaskan cerpen-cerpen penulis kelahiran Bangka ini.

Cerpen “Kesedihan”, misalnya. Kisah yang ditampilkan dalam cerpen ini sebenarnya sederhana saja. Berkisah tentang sepasang (mantan) kekasih yang masih berbagi kediaman, ketika sang lelaki telah memiliki seorang baru yang hadir di kehidupannya, tersisip di antara keduanya. Akan tetapi, yang membuatnya membingungkan adalah karena keduanya memahami bahwa mereka sama-sama belum tuntas dengan perasaan masing-masing, sekaligus menyadari bahwa semuanya sudah usai.

“Hubungan menahun membuat jemu, tapi tidak semua orang berani berpisah dengan alasan itu. Anehnya, kita juga merasa ada ikatan yang lebih dalam dari apa yang tampak. Kita akan selalu seperti ini, bersama-sama, katamu. Selamanya? Ya, selamanya. Kamu menatapku, berkaca-kaca.”

Sang perempuan–si “Aku”–sepanjang cerita menunjukkan betapa berbeda dirinya dengan sang perempuan baru. Begitu pula perbedaan rutinitas yang dialami oleh tokoh laki-laki saat ini, dibandingkan dengan waktu-waktu bersamanya dulu. Kesedihan itu menguar pelan dari sebuah perpisahan yang terjadi tanpa harus berjarak waktu, tempat, atau kematian. Sebuah perpisahan yang janggal—belum tuntas bahkan hingga titik ketika cerita telah berakhir. Hal tersebut tampak dalam kutipan berikut:

“Di dapur terdengar seseorang mencuci piring-piring. Air kran kembali mengucur, deras. Kita tetap berpelukan dan tidak pernah merasa sesedih ini.

Mencari Cindhil, Menemukan Papa

Dalam cerpen “Perpisahan”, hal serupa pun kembali terlihat. Bagaimana si Aku terus mengulur waktu, membiarkan Hans terus menerus mengoceh tentang kepergian sang Ibu, seperti yang tampak dalam kutipan berikut:

”Ibu saya meninggal dengan berani.” Kali ini kamu berseru sambil mengamati permukaan sungai yang mulai bergetar. Bayangan hijau kita masih di situ.

Tuturan-tuturan panjang yang seolah tak berhenti, dan sengaja untuk terus diulur hanya agar pembaca mendapati fakta bahwa Aku sesungguhnya akan segera menyusul Ibunda Hans.

“Aku merengkuh pundakmu, mengajakmu terus melangkah, tiada berkata-kata. Kamu tertawa. Rasanya enak berjalan seperti ini. ‘Sudah lama, ya, kita tidak berjalan seperti ini.’ Kamu memelukku.

Atau kukatakan saja sekarang? Tapi aku malah bercerita tentang kematian Ayahku. Setelah dia meninggal, aku pulang ke rumah sebentar untuk menengok ibuku…”

Kesedihan yang tergambarkan di bagian akhir cerpen seolah tampil untuk menegaskan kesedihan yang sejak awal sudah menjalar. Jalaran itu terjadi dalam bentuk rekoleksi memori dari masing-masing tokoh. Ia tertampak pada lanturan-lanturan yang seolah tak kunjung selesai, layaknya kita mendengarkan orang tua bercerita.

“Udara benar-benar dingin. Patung beruang di muka satu galeri itu tampak begitu tua.

Hans, kita tidak akan bertemu lagi tahun depan atau bahkan sebelum tahun itu tiba. Setelah meninggalkan Berlin, aku akan menulis surat terakhir untukmu: tentang sel-sel penyakit yang berkembang dan menjalar dalam kesenyapan, dan hari-hari yang tidak akan kita miliki lagi di mana pun.”

Cerpen “Pengelana Laut” pun seperti sama halnya. Membacanya seperti membaca buku harian seorang anak yang ditinggal mati ayahnya dan ragam upaya sekaligus latar lainnya yang mengitari kematian tersebut. Kesedihan tembus melewati kapiler-kapiler tak kasat mata, hanya untuk meninggalkan kesepatan yang aneh di akhir cerita. Bagaimana sang Ayah mati, lalu untuk apa kenang-kenangan tersebut, dibiarkan saja.

“Besok, ia akan berangkat ke bandara untuk terbang pulang. Namun, ia akan terus menyusuri jejak ayahnya, merasakan suasana ataupun keadaan di tempat-tempat yang pernah atau mungkin dikunjungi lelaki itu, membayangkan pengalaman-pengalamannya, yang mengubah hidup mereka.”

Ketiga cerpen ini menunjukkan kecenderungan Linda yang gemar untuk bercerita dengan cara yang “tidak selesai” dan karenanya menghasilkan after taste yang janggal. Ia juga gemar menulis dengan melantur, mengalir, mengeluarkan apa-apa yang ada di kepala sang tokoh begitu saja. Seolah apa yang dikisahkan tidaklah penting, tetapi bagaimana cara ia menuturkan kisah itulah yang lebih penting. Selain itu, terlihat pula adanya upaya untuk menambahkan pengetahuan-pengetahuan atas sesuatu di dalam cerpennya. Bisa jadi pengetahuan yang umum, pengetahuan yang kerap kali membuat pembacanya merasa, “Oh jadi begitu…”

Realitas yang Politis

Membaca cerpen-cerpen Linda, kita dihadapkan pada kepingan-kepingan realitas manusia yang bisa jadi begitu dekat atau bahkan begitu jauh sebab kita kerap tak sadar akan kehadirannya. Ia menulis dengan kalimat pendek yang lugas, tetapi beberapa diksi yang sederhana juga mampu ia rangkai hingga terlihat dan terdengar puitik. Pengalamannya sebagai jurnalis memberinya andil di sini, tetapi mungkin pula karena pengaruh bacaan yang telah ia lahap sejak kecil semisal Victor Hugo, John Steinbeck, Karl May, yang karya-karya realisnya Linda tekuni dan kagumi.

Profesinya sebagai jurnalis juga mempengaruhi ide dan topik yang hendak ia sampaikan melalui cerpen. Dalam sebuah laporan khusus BBC (2013) yang membahas tentang proses kreatif penulisannya, Linda mengakui hal tersebut dengan gamblang. Ia menyebut ketika ia tidak mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk sebuah laporan jurnalistik, maka bahan-bahan tersebut dituangkannya menjadi fiksi, atau bagian darinya meskipun tidak utuh.

Keterlibatannya dalam kelompok-kelompok progresif membuat cerpen-cerpen Linda juga melek akan isu kemanusiaan dan ketidakadilan. Beberapa cerpennya bisa dengan sangat gamblang mengisahkan hal ini, misalnya “Pesta Terakhir” (2002) yang tampil dalam kumcer Kuda Terbang Maria Pinto (2004) yang memenangkan Kategori Fiksi Khatulistiwa Literary Awards 2004. Atau “ Seekor Anjing Mati di Bala Murghab” (2010) dalam kumcer dengan tajuk sama yang membawa Linda sebagai peraih Southeast Asian Writers Award pada 2013. Akan tetapi, ketika tak secara persis memperlihatkan posisinya terhadap suatu topik, cerpen-cerpen Linda pun tetap memiliki nuansa politik.

Meneropong Hamsad Rangkuti dari Pusaran Kota Denpasar | Catatan Diskusi Semenjana

Misalnya dalam “Kesedihan”, kita bisa melihat stereotip perempuan Asia dan lelaki kulit putih. Atau dalam “Pengelana Laut”, mereka yang bergiat untuk kemaslahatan lingkungan sangat mungkin kalah diinjak para oligark dan perkara nasionalisme. Potret keluarga dalam “Perpisahan” menunjukkan bagaimana keluarga batih beroperasi dalam kehidupan sehari-hari (dan lagi, mengapa ia memilih menggunakan kematian Rosa Luxemburg, seorang sosialis Jerman, untuk membuka cerpen ini?).

Bagi Linda, semakin canggih seseorang menulis, maka semakin halus ia mampu menyampaikan suatu pesan. Semua karya mengandung “pesan politik” penulisnya, setipis apapun itu. Sesederhana membicarakan tentang keluarga, bahkan ruang privat antara satu hingga dua orang, mereka adalah unit-unit terkecil yang mencerminkan politik yang sedang berlangsung di suatu negara.

Linda Christanty begitu lihai menumpuk lapis-lapis narasi atas konstruksi sosial dalam tiap ceritanya, kerap kali membuat pembacanya tak sadar bahwa: ada suatu hal besar yang laten di dalamnya; dan getir dan sepat itu sudah terlebih dahulu terkecap dalam kepala. Mungkin memang inilah rasa ketidakadilan dalam hidup, dan Linda memastikan rasa tersebut terejawantahkan dalam cerita-cerita yang ia tulis. Membuatnya tertinggal dengan janggal di kepala, senantiasa. Sebab sesungguhnya Linda memang tak pernah berniat untuk menulis cerita-cerita sedih, tetapi memang itulah yang terjadi hampir setiap hidup dari kita. [T]

Penulis: Oktaria Asmarani

Oktaria Asmarani
Tags: Linda ChristantyLingkar Studi Sastra Denpasarsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ini Alasan Kenapa Bupati Suradnyana Minta KONI Tambah Hadiah Lomba Gerak Jalan

Next Post

Nungkalik: Fragmentasi Kelahiran dari Tubuh yang Terluka

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar

Lingkar Studi Sastra Denpasar (LSD) adalah sebuah kelompok belajar yang meneropong sebagian kecil dari lanskap besar Sastra Indonesia. Temui mereka di Instagram: @lingkarstudisastra.dps

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Nungkalik: Fragmentasi Kelahiran dari Tubuh yang Terluka

Nungkalik: Fragmentasi Kelahiran dari Tubuh yang Terluka

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co