26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nungkalik: Fragmentasi Kelahiran dari Tubuh yang Terluka

tatkala by tatkala
August 10, 2022
in Pertanian
Nungkalik: Fragmentasi Kelahiran dari Tubuh yang Terluka

Dramatic dance performance berjudul Nungkalik dari Kitapoleng Deaf

Rabu 10 Agustus 2022 –Berawal gelap, di sunyi seluruh ruang, cahaya menyala dari sebuah pintu. Di pintu putih cahaya yang bisa dibayangkan sebagai pintu kelahiran itu, nampak kepompong tubuh lelaki. Ia menggeliat dalam kondisi terbalik serupa kelelawar, menggantung; nungkalik. Suara-suara terdengar dari kejauhan menjelma bisik, atau barangkali pula begitu dekat serupa mantra. Lelaki itu membuka kain-kain yang membungkus seluruh tubuhnya, mencari jalan kepulangan sekaligus keberangkatan.

Begitulah dramatic dance performance berjudul Nungkalik dari Kitapoleng Deaf bermula. Nungkalik adalah sebuah kisah yang ditata Jasmine Okubo berdasarkan pengalaman pribadi Wahyu, lelaki itu, yang seluruh penampilnya melibatkan teman tuli. Di panggung itu, Wahyu menatap sekeliling. Pandangannya teduh, tatapannya tulus. Sesekali, ia meremas jari. Di jari-jari itulah ia menyimpan suaranya. Dengan jari-jari itulah ia mulai berkisah.

Wahyu lahir dengan kondisi fisik normal. Ia tumbuh dengan normal, tak ada bedanya. Ia memiliki hidung yang sama untuk bernafas, bibir yang sama untuk berbicara, telinga yang sama untuk mendengar. Itu yang disangka banyak orang, dan Wahyu berharap itu benar. Tapi setelah ulang tahun pertama, orang tuanya mengabarkan bahwa ia ada kelainan: tidak bisa bicara, juga mendengar.

Dalam karya berdasarkan naskah yang ditulis Wendra Wijaya, Wahyu mengajak penonton berbincang. Tapi tentu saja, suaranya tak terdengar. Ia memang tak bisa mengeluarkan suara, tapi bukan berarti ia malas dan lemah. Ia pernah bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan, namun ia tak terluka. Di akhir fragmen, sebuah teks muncul dari layar visual: Saya Wahyu dan saya kuat, walau kadang tak berdaya. Bisakah kita berteman, walau tanpa suara?

Wahyu terguncang, jatuh sedalam-dalamnya. Pasca percobaan bunuh diri, Wahyu menjumpai Kanda Pat, empat saudara berwujud halus yang selalu mengiringi roh (sukma) manusia dari dilahirkan hingga meninggal. Ia berkeluh tentang hidup yang tak adil, mengeluhkan intimidasi, diskriminasi, sekaligus krisis kepercayaan yang dialami.

Adegan ini diterjemahkan secara apik oleh Dibal Ranuh sebagai artistic director,  dengan memainkan visual art bersama Aditya dari Apik Creative. Dalam visualisasi itu, nampak benar upaya menerjemahkan perasaan-perasaan terdalam seorang Wahyu; ada nganga luka dalam keriangan. Seperti Wahyu yang menutup luka-luka dalam tubuhnya dalam tawa dan penerimaan yang utuh. Adakah sepi yang lebih sepi selain kematian berkali-kali? Perasaan ini selalu lekat dalam tubuhnya yang terluka. Dalam tubuhnya yang menyimpan percik, namun selalu siap berkobar dalam nyala yang cemerlang.

Kelahiran

Pintu selalu terbuka bagi segala keresahan. Dalam tubuhnya yang terluka, tangan-tangan gaib meraih Wahyu menuju arah cahaya. Salsa, Yogi, dan Ayu, para penari bisu-tuli itu, menjadi bayang-bayang dari pengalaman hidupnya. Mereka menari, melepas keresahan hati dalam imaji musik yang diciptakan Yogi Sukawiadnyana. Di sekelilingnya, di tengah diskriminasi dan intimidasi yang dialaminya, Wahyu tidaklah sendiri. Di luar sana, masih banyak yang mengalami nasib serupa. Dan di luar sana, masih banyak pula orang yang peduli terhadap penyandang disabilitas seperti Wahyu, Salsa, Yogi, juga Ayu. Tak banyak memang, tapi mereka ada. Mereka selalu ada, walau kadang tak terlihat.

Pimpinan produksi Pranita Dewi menjelaskan, Nungkalik yang telah di pentaskan pada Sabtu (6/8) di Museum Nasional Jogjakarta dalam program Artjog 2022 itu membuka ruang kesadaran bagi siapa pun yang menyaksikannya. Mereka merasakan suara-suara terbenam yang memanggil-manggil, dan mampu disuarakan Wahyu di atas panggung pertunjukan. Salah seorang penonton, Fai, yang juga disabilitas asal Boyolali mengatakan kisah dan perasaan-perasaan yang dialami Wahyu sama persis dengan apa yang dirasakannya selama ini.

“Teman-teman tuli berusaha menunjukkan kemampuan yang awalnya diremehkan oleh orang-orang dengar yang menganggap kita berbeda, gak bisa setara, diskriminasi. Banyak banget cacian dan makian, juga kekecewaan. Tapi kita berusaha menampilkan kemampuan kita. Sangat-sangat berusaha. Dan di panggung ini, kalian menunjukkan bakat kalian sebagai penari, sangat-sangat membuat merinding. Sangat terasa,” katanya melalui bahasa isyarat seraya berharap isu-isu ini bisa dibawa kemana-mana.

Anif dari Komunitas Bawayang Jogjakarta mengatakan pertunjukan yang diawali dengan kesunyian di dunia yang ramai ini membuatnya merinding. Juga tentang upaya mereka menunjukkan keberanian, untuk menghadapi orang-yang yang menganggap teman tuli berbeda karena memiliki kemampuan. Ia berharap, Kitapoleng bisa membawa isu-isu ini sampai ke internasional dan membawa kesadaran luas untuk memutus stigma bagi teman tuli.

Sementara Koreografer Jasmine Okubo menjelaskan kehadiran dirinya dalam panggung Nungkalik bisa dikatakan hampir 90 persen tidak ada gunanya. Metode yang ia terapkan bagi teman-teman tuli ini adalah dengan cara melepas apa yang mereka rasakan. “Ada beberapa metode yang sifatnya conducting benar-benar bermanfaat. Tapi saya itu lebih ke bagian-bagian tertentu yang harus ada klik-nya antara koreografi dan musik. Jadi hampir 90 persen saya di sana itu gak ngapa-ngapain. Cuma, saya kadang menjadi Ibu mereka. Jadi kalau saya gak ada mereka panik,” jelasnya.

Jasmine menambahkan, terkadang ia melepas teman-teman tuli dalam pertunjukan. Mereka pun sesungguhnya bisa membawakan tarian selayaknya orang normal. “Kelebihan teman tuli, mereka bisa menari secara konsisten sebab mampu menjaga dan mempertahankan tempo musik yang sama dalam diri mereka masing-masing,” pungkasnya.

Pertunjukan Nungkalik malam itu ditutup dengan adegan sarat makna. Di sebuah kendi berisi air, ia membenamkan dirinya. Ia memurnikan dirinya, mengurai segala kemelekatan dalam diri sebab air dipercaya sebagai media penyucian. Fragmen ini disempurnakan oleh kidung dari Peni Candra Rini. Suaranya yang menyayat adalah nyanyian keresahan dalam tubuh yang terluka. Suaranya yang nyaring-tajam serupa keinginan untuk melepas kelemahan menjadi kekuatan. Di kendi itu pula Wahyu memotong rambutnya, membebaskan diri dari kemelekatan sebelumnya untuk memulai kehidupan dalam kemurnian, kemuliaan dan keyakinan akan penerimaan hidup yang lebih sempurna.

Pertunjukan Nungkalik di panggung itu berakhir sudah. Namun pertunjukan Wahyu, Salsa, Yogi, Ayu, dan teman tuli juga disabilitas lainnya masih akan terus berlanjut, entah sampai kapan.

Barangkali, hingga diskriminasi dan intimidasi tak ada lagi dan suara-suara mereka bermekaran di setiap hati.[T][Ole/*]

Tags: seni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Linda Christanty dan Rasa yang Janggal Tertinggal | Catatan Diskusi Semenjana

Next Post

Antitesis Dunia Lisan, Sensasi Dunia Tulis, Merambah Dunia Pengetahuan, Merespons Tulisan, dan Peristiwa Cerita

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

by tatkala
August 3, 2025
0
Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

KABUPATEN Buleleng, Bali, menorehkan tonggak baru dalam ketahanan pangan dengan menyelenggarakan panen perdana varietas padi unggulan lokal, Semeton Buleleng, pada...

Read moreDetails

Inovasi Fermentasi Limbah Tandusan Sebagai Pakan Ternak

by Redaksi Tatkala Denpasar
May 15, 2024
0
Inovasi Fermentasi Limbah Tandusan Sebagai Pakan Ternak

DENPASAR | TATKALA.CO – Limbah tandusan (proses pembuatan minyak kelapa secara tradisional ternyata bisa difermentasi untuk makanan ternak. Inovasi itu...

Read moreDetails

Sorgum Makin Populer di Buleleng, Kini Panen Perdana di Desa Telaga

by Redaksi Tatkala Buleleng
April 3, 2024
0
Sorgum Makin Populer di Buleleng, Kini Panen Perdana di Desa Telaga

SORGUM tampaknya makin populer di Buleleng. Banyak petani yang mulai menanamnya, dan makanan berbahan sorgum sudah mulai dikenal. Di Desa...

Read moreDetails

Alih Fungsi Sawah Tidak Terkendali: Subak Hilang, Wisatawan Tidak akan Datang

by Redaksi Tatkala Denpasar
February 6, 2024
0
Alih Fungsi Sawah Tidak Terkendali: Subak Hilang, Wisatawan Tidak akan Datang

DENPASAR | TATKALA.CO --- Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Prof. Dr. I Wayan Budiasa, S.P., M.P., IPU, ASEAN Eng....

Read moreDetails

Desa Marga Dauh Puri, Tabanan, “Melamar” Sebagai Desa Binaan Fakultas Pertanian Unud

by Redaksi Tatkala Tabanan
January 24, 2024
0
Desa Marga Dauh Puri, Tabanan, “Melamar” Sebagai Desa Binaan Fakultas Pertanian Unud

TABANAN | TATKALA.CO -- Untuk keempat kali Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM FP Unud) menyelenggarakan Agricamp di Desa Marga...

Read moreDetails

Gagal Panen, Ada Asuransi Pertanian

by Redaksi Tatkala Buleleng
November 8, 2023
0
Gagal Panen, Ada Asuransi Pertanian

KINI ada asuransi untuk petani. Jika panen gagal, petani bisa tenang. Teorinya sesederhana itu. Tapia pa itu asuransi pertanian? Program...

Read moreDetails

Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

by tatkala
October 16, 2023
0
Pepaya Bisa Jadi Bahan Bakar Masa Depan

PEPAYA termasuk buah tropis yang memiliki kepentingan komersial karena nilai nutrisi dan pengobatannya yang tinggi. Biji dan kulit pepaya yang...

Read moreDetails

Wine dari Jeruk Siam Kintamani

by tatkala
October 13, 2023
0
Wine dari Jeruk Siam Kintamani

WINE bukan hanya dari buah anggur. Kini terdapat upaya pengembangan minuman wine yang diolah dari buah jeruk siam. Pengolahan jeruk...

Read moreDetails

Subak Kulub Atas Tampaksiring Sudah Setahun Kekeringan Tanpa Solusi

by tatkala
September 20, 2023
0
Subak Kulub Atas Tampaksiring Sudah Setahun Kekeringan Tanpa Solusi

BAGAIMANA bisa subak sampai kekeringan? Itu pertanyaan yang aneh. Tapi ada yang lebih aneh, sudah tahu subak mengalami kekeringan, tapi...

Read moreDetails

Intelektual Jepang Memperkenalkan Teknologi Ratoon-rice Kepada Petani Padi di Jatiluwih

by tatkala
September 5, 2023
0
Intelektual Jepang Memperkenalkan Teknologi Ratoon-rice Kepada Petani Padi di Jatiluwih

DI JEPANG tidak ada subak. Itu sudah jelas. Oleh karenanya, saat pengabdian masyarakat di Subak Jatiluwih, Tabanan, mahasiswa Universitas Meiji,...

Read moreDetails
Next Post
Antitesis Dunia Lisan, Sensasi Dunia Tulis,  Merambah Dunia Pengetahuan,  Merespons Tulisan, dan Peristiwa Cerita

Antitesis Dunia Lisan, Sensasi Dunia Tulis, Merambah Dunia Pengetahuan, Merespons Tulisan, dan Peristiwa Cerita

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co