12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemilik Motor Tua | Cerpen Mifta Izza

Mifta Izza by Mifta Izza
August 7, 2022
in Cerpen
Pemilik Motor Tua | Cerpen Mifta Izza

Ilustrasi tatkala.co

Deru motor mengacaukan pikiranku. Kuas yang tadinya ingin kuusapkan pada sketsa berbentuk bunga, malah menyapu zona langit. Aku berdecak. Kesal setengah mati pada pemilik motor tua yang tinggal bersebarangan denganku. Tubuhku bangkit untuk melihat sosok dengan motor tua itu. Dari jendela kamar, dapat kulihat laki-laki berusia 70 tahunan memasuki rumahnya. Aku tahu betul suara motor itu. Motor tua berwarna biru langit, dengan suara yang bising, mengingatkanku pada seseorang yang menuntutku untuk menghabiskan waktu memikirkannya.

Sekitar lima tahun yang lalu, saat itu, seorang lelaki mengantarkan sup jamur buatan ibunya. “Hai. Ibuku memasak sup jamur cukup banyak hari ini, kami tidak bisa menghabiskannya berdua saja. Jadi, tolong diterima,” katanya sembari mengulurkan tangan yang memegang satu mangkuk besar berisi sup.

Aku menerimanya tanpa ragu.

“Oh, iya. Perkenalkan, namaku Akiro. Aku tinggal bersama ibuku di seberang rumahmu. Salam kenal,” sambungnya.

Aku melirik sebentar ke arah bangunan yang sebelumnya tidak berpenghuni. Rumah itu membuatku takut saat malam hari karena tak ada cahaya yang muncul dari dalamnya. Persis seperti bangunan yang ada di film horor.

“Aku pamit dulu, permisi.”

Akiro berbalik dan bergegas pulang. Padahal aku belum menyebutkan namaku, Akiro juga tidak bertanya.  Ya sudah., mungkin lain kali kami bisa berkenalan dengan benar.

Keesokan harinya, aku mendengar suara motor tua yang tak asing di telingaku. Suara itu semakin lama semakin kencang. Saat itu, aku sedang tergesa mengaitkan tali sepatuku di samping pagar rumah. Tatkala aku mendongak, kudapati Akiro menggunakan seragam yang sama denganku.

“Ternyata kita satu sekolah. Kau mau berangkat bersamaku?” ujar Akiro.

Aku mengamatinya yang menaiki motor tua dengan kepulan asap dari knalpot.

“Tidak usah. Aku berangkat sendiri saja,” tolakku halus.

“Ah, tidak apa-apa. Jangan sungkan.”

Tepat setelah itu, ibu berteriak dari dalam rumah agar aku menerima tawaran Akiro. Alasannya biar tidak lelah jalan kaki. Canggung rasanya kalau harus berdua saja dengan orang yang belum lama dikenal. Alhasil dengan sedikit paksaan dari ibu, aku membonceng di belakang Akiro.

“Aku belum tahu namamu,” kata Akiro.

“Apa?!” teriakku di sela-sela keramaian jalan raya. Sebenarnya tidak perlu berteriak kalau motor Akiro bukanlah motor tua dengan suara bising. Wajar saja bila kami harus menaikkan suara beberapa oktaf agar terdengar satu sama lain.

“Kubilang, aku belum tahu namamu!”

“Oh, aku Yasena. Panggil Sena saja!”

Hari-hari berikutnya, Akiro selalu menghampiriku untuk berangkat ke sekolah bersama. Menaiki motor tua dengan tingkat kebisingan yang teramat sangat. Butuh waktu lama untukku bisa beradaptasi dengan itu. Setiap berangkat atau pulang sekolah, aku selalu menggerutu dalam hati. Suara motor Akiro sangat nyaring, membuat kami mencolok di area jalan raya. Kadang seseorang mengumpati kami karena asap motor Akiro yang memenuhi jalanan. Mengapa Akiro bisa punya motor seperti ini? Gemas rasanya, ingin kukatakan pada Akiro untuk mengganti mesin atau sekedar knalpotnya saja. Namun, kuberi saran pun sepertinya percuma.

“Motor ini milik penghuni lama. Kata ibu, tidak apa-apa dipakai,” ujar Akiro saat kami tengah berhenti di sebuah halte bus.

Siang itu, hujan turun sangat deras. Jadi, karena kami tidak membawa mantel, kami harus berteduh agar tidak kehujanan. Akiro memberiku jaket yang dikenakannya. Aku sempat menolak, tapi dia memaksa.

“Pakai saja. Aku tidak mau kau sakit. Nanti aku yang dimarahi ibumu.”

Begitu banyak kisah yang tidak dapat dituliskan atau bahkan diungkapkan dengan kata. Di atas motor, Akiro akan bercerita banyak hal. Mengenai dirinya yang disukai oleh banyak teman perempuannya, mengenai dirinya yang tidak suka makanan pedas, tidak suka buah pepaya, dan lain-lain. Cerita itu, disampaikan Akiro dengan setengah berteriak tentunya. Mengobrol ala kami sangatlah berbeda, bukan?

Hingga suatu hari sepulang sekolah, Akiro mengatakan suatu hal yang membuatku terpukul.

“Sena, setelah lulus nanti, aku akan pindah. Kau tahu sendiri kampung halamanku adalah Jepang, kan? Kurasa, aku akan kembali kesana. Sudah bertahun-tahun aku dan ibu berkelana di Indonesia.”

Aku memilih untuk pura-pura tuli, pura-pura bisu, dan pura-pura buta. Bahkan jika boleh aku ingin pura-pura mati. Selama itu, tatkala aku hanya bisa melihat punggung Akiro yang bercerita banyak hal di atas motor, aku menyadari sesuatu. Aku tidak ingin kehilangan Akiro.

“Apakah kita masih bisa bertemu lagi?” tanyaku pada Akiro.

“Masih. Biarkan takdir yang bekerja.”

Di atas motor tua itu, aku merasakan getir perpisahan dengan Akiro. Kukira aku dan Akiro akan selamanya berada di sini. Bersama-sama dalam waktu yang lama, membuatku benar-benar terikat dengannya.  Seharusnya aku tahu, Akiro tidak pernah main-main dengan ucapannya. Namun aku bodoh dengan menganggap itu sebagai lelucon. Terang saja, setelah acara kelulusan itu, rumah seberang sana tidak berpenghuni lagi.

Ketika hari telah berganti, tak kudapati Akiro dengan motor tuanya di depan rumahku. Payah sekali Akiro tidak meninggalkan nomor telepon, alamat surel, atau apa pun yang bisa menjadi media untuk kami berkomunikasi. Bahkan dia tidak mengatakan kota mana yang menjadi persinggahannya di Jepang. Mengingat itu, aku merutuki diri sendiri. Mengapa aku tidak pernah bertanya pada Akiro? Aku hanya membiarkan dirinya bercerita sambil berteriak di atas motor tanpa kutahu bagaimana raut wajahnya saat itu.

Beribu penyesalan menguasai diriku. Semakin bertambah dari waktu ke waktu. Hingga pada suatu pagi aku mendengar suara motor tua itu kembali, aku bergegas melihat ke depan rumah. Mana tahu Akiro datang kemari. Tapi naas, yang kulihat hanya seorang pria tua—yang bernama kakek Mahmud—dengan motor itu. Rupanya rumah seberang telah ditempati oleh orang lain.

Setiap hari aku harus mendengarkan suara motor tua yang dikendarai oleh kakek Mahmud. Kalau aku beruntung, aku bisa melihatnya berboncengan dengan istrinya. Benar-benar mengingatkanku pada Akiro. Bagaimana kabarnya? Saat ini tengah bekerja atau melanjutkan pendidikan?

Semua hal tentang Akiro begitu saja terlintas dalam benakku. Berjatuhan layaknya air yang turun saat musim penghujan. Bersama itu, aku memiliki keinginan untuk menyusul Akiro. Setelah aku meraih gelar sarjana, aku akan mencari Akiro dengan dalih melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Keinginan itu bertumbuh seiring dengan deru motor tua yang kudengar setiap harinya.

Madiun, 2 Juli 2022

_____

Klik untuk baca cerpen lain

Mahar Nikah Paling Mahal | Cerpen Ni Wayan Wijayanti
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ngadi Nugroho | Kita Adalah Pendatang Asing

Next Post

Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali

Mifta Izza

Mifta Izza

Lahir di Madiun, 23 April 2002. Tinggal di Madiun, Jawa Timur

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Dari “Kulit Kera Piduka”,  Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali

Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co