22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemilik Motor Tua | Cerpen Mifta Izza

Mifta Izza by Mifta Izza
August 7, 2022
in Cerpen
Pemilik Motor Tua | Cerpen Mifta Izza

Ilustrasi tatkala.co

Deru motor mengacaukan pikiranku. Kuas yang tadinya ingin kuusapkan pada sketsa berbentuk bunga, malah menyapu zona langit. Aku berdecak. Kesal setengah mati pada pemilik motor tua yang tinggal bersebarangan denganku. Tubuhku bangkit untuk melihat sosok dengan motor tua itu. Dari jendela kamar, dapat kulihat laki-laki berusia 70 tahunan memasuki rumahnya. Aku tahu betul suara motor itu. Motor tua berwarna biru langit, dengan suara yang bising, mengingatkanku pada seseorang yang menuntutku untuk menghabiskan waktu memikirkannya.

Sekitar lima tahun yang lalu, saat itu, seorang lelaki mengantarkan sup jamur buatan ibunya. “Hai. Ibuku memasak sup jamur cukup banyak hari ini, kami tidak bisa menghabiskannya berdua saja. Jadi, tolong diterima,” katanya sembari mengulurkan tangan yang memegang satu mangkuk besar berisi sup.

Aku menerimanya tanpa ragu.

“Oh, iya. Perkenalkan, namaku Akiro. Aku tinggal bersama ibuku di seberang rumahmu. Salam kenal,” sambungnya.

Aku melirik sebentar ke arah bangunan yang sebelumnya tidak berpenghuni. Rumah itu membuatku takut saat malam hari karena tak ada cahaya yang muncul dari dalamnya. Persis seperti bangunan yang ada di film horor.

“Aku pamit dulu, permisi.”

Akiro berbalik dan bergegas pulang. Padahal aku belum menyebutkan namaku, Akiro juga tidak bertanya.  Ya sudah., mungkin lain kali kami bisa berkenalan dengan benar.

Keesokan harinya, aku mendengar suara motor tua yang tak asing di telingaku. Suara itu semakin lama semakin kencang. Saat itu, aku sedang tergesa mengaitkan tali sepatuku di samping pagar rumah. Tatkala aku mendongak, kudapati Akiro menggunakan seragam yang sama denganku.

“Ternyata kita satu sekolah. Kau mau berangkat bersamaku?” ujar Akiro.

Aku mengamatinya yang menaiki motor tua dengan kepulan asap dari knalpot.

“Tidak usah. Aku berangkat sendiri saja,” tolakku halus.

“Ah, tidak apa-apa. Jangan sungkan.”

Tepat setelah itu, ibu berteriak dari dalam rumah agar aku menerima tawaran Akiro. Alasannya biar tidak lelah jalan kaki. Canggung rasanya kalau harus berdua saja dengan orang yang belum lama dikenal. Alhasil dengan sedikit paksaan dari ibu, aku membonceng di belakang Akiro.

“Aku belum tahu namamu,” kata Akiro.

“Apa?!” teriakku di sela-sela keramaian jalan raya. Sebenarnya tidak perlu berteriak kalau motor Akiro bukanlah motor tua dengan suara bising. Wajar saja bila kami harus menaikkan suara beberapa oktaf agar terdengar satu sama lain.

“Kubilang, aku belum tahu namamu!”

“Oh, aku Yasena. Panggil Sena saja!”

Hari-hari berikutnya, Akiro selalu menghampiriku untuk berangkat ke sekolah bersama. Menaiki motor tua dengan tingkat kebisingan yang teramat sangat. Butuh waktu lama untukku bisa beradaptasi dengan itu. Setiap berangkat atau pulang sekolah, aku selalu menggerutu dalam hati. Suara motor Akiro sangat nyaring, membuat kami mencolok di area jalan raya. Kadang seseorang mengumpati kami karena asap motor Akiro yang memenuhi jalanan. Mengapa Akiro bisa punya motor seperti ini? Gemas rasanya, ingin kukatakan pada Akiro untuk mengganti mesin atau sekedar knalpotnya saja. Namun, kuberi saran pun sepertinya percuma.

“Motor ini milik penghuni lama. Kata ibu, tidak apa-apa dipakai,” ujar Akiro saat kami tengah berhenti di sebuah halte bus.

Siang itu, hujan turun sangat deras. Jadi, karena kami tidak membawa mantel, kami harus berteduh agar tidak kehujanan. Akiro memberiku jaket yang dikenakannya. Aku sempat menolak, tapi dia memaksa.

“Pakai saja. Aku tidak mau kau sakit. Nanti aku yang dimarahi ibumu.”

Begitu banyak kisah yang tidak dapat dituliskan atau bahkan diungkapkan dengan kata. Di atas motor, Akiro akan bercerita banyak hal. Mengenai dirinya yang disukai oleh banyak teman perempuannya, mengenai dirinya yang tidak suka makanan pedas, tidak suka buah pepaya, dan lain-lain. Cerita itu, disampaikan Akiro dengan setengah berteriak tentunya. Mengobrol ala kami sangatlah berbeda, bukan?

Hingga suatu hari sepulang sekolah, Akiro mengatakan suatu hal yang membuatku terpukul.

“Sena, setelah lulus nanti, aku akan pindah. Kau tahu sendiri kampung halamanku adalah Jepang, kan? Kurasa, aku akan kembali kesana. Sudah bertahun-tahun aku dan ibu berkelana di Indonesia.”

Aku memilih untuk pura-pura tuli, pura-pura bisu, dan pura-pura buta. Bahkan jika boleh aku ingin pura-pura mati. Selama itu, tatkala aku hanya bisa melihat punggung Akiro yang bercerita banyak hal di atas motor, aku menyadari sesuatu. Aku tidak ingin kehilangan Akiro.

“Apakah kita masih bisa bertemu lagi?” tanyaku pada Akiro.

“Masih. Biarkan takdir yang bekerja.”

Di atas motor tua itu, aku merasakan getir perpisahan dengan Akiro. Kukira aku dan Akiro akan selamanya berada di sini. Bersama-sama dalam waktu yang lama, membuatku benar-benar terikat dengannya.  Seharusnya aku tahu, Akiro tidak pernah main-main dengan ucapannya. Namun aku bodoh dengan menganggap itu sebagai lelucon. Terang saja, setelah acara kelulusan itu, rumah seberang sana tidak berpenghuni lagi.

Ketika hari telah berganti, tak kudapati Akiro dengan motor tuanya di depan rumahku. Payah sekali Akiro tidak meninggalkan nomor telepon, alamat surel, atau apa pun yang bisa menjadi media untuk kami berkomunikasi. Bahkan dia tidak mengatakan kota mana yang menjadi persinggahannya di Jepang. Mengingat itu, aku merutuki diri sendiri. Mengapa aku tidak pernah bertanya pada Akiro? Aku hanya membiarkan dirinya bercerita sambil berteriak di atas motor tanpa kutahu bagaimana raut wajahnya saat itu.

Beribu penyesalan menguasai diriku. Semakin bertambah dari waktu ke waktu. Hingga pada suatu pagi aku mendengar suara motor tua itu kembali, aku bergegas melihat ke depan rumah. Mana tahu Akiro datang kemari. Tapi naas, yang kulihat hanya seorang pria tua—yang bernama kakek Mahmud—dengan motor itu. Rupanya rumah seberang telah ditempati oleh orang lain.

Setiap hari aku harus mendengarkan suara motor tua yang dikendarai oleh kakek Mahmud. Kalau aku beruntung, aku bisa melihatnya berboncengan dengan istrinya. Benar-benar mengingatkanku pada Akiro. Bagaimana kabarnya? Saat ini tengah bekerja atau melanjutkan pendidikan?

Semua hal tentang Akiro begitu saja terlintas dalam benakku. Berjatuhan layaknya air yang turun saat musim penghujan. Bersama itu, aku memiliki keinginan untuk menyusul Akiro. Setelah aku meraih gelar sarjana, aku akan mencari Akiro dengan dalih melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Keinginan itu bertumbuh seiring dengan deru motor tua yang kudengar setiap harinya.

Madiun, 2 Juli 2022

_____

Klik untuk baca cerpen lain

Mahar Nikah Paling Mahal | Cerpen Ni Wayan Wijayanti
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ngadi Nugroho | Kita Adalah Pendatang Asing

Next Post

Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali

Mifta Izza

Mifta Izza

Lahir di Madiun, 23 April 2002. Tinggal di Madiun, Jawa Timur

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Dari “Kulit Kera Piduka”,  Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali

Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co