23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemilik Motor Tua | Cerpen Mifta Izza

Mifta Izza by Mifta Izza
August 7, 2022
in Cerpen
Pemilik Motor Tua | Cerpen Mifta Izza

Ilustrasi tatkala.co

Deru motor mengacaukan pikiranku. Kuas yang tadinya ingin kuusapkan pada sketsa berbentuk bunga, malah menyapu zona langit. Aku berdecak. Kesal setengah mati pada pemilik motor tua yang tinggal bersebarangan denganku. Tubuhku bangkit untuk melihat sosok dengan motor tua itu. Dari jendela kamar, dapat kulihat laki-laki berusia 70 tahunan memasuki rumahnya. Aku tahu betul suara motor itu. Motor tua berwarna biru langit, dengan suara yang bising, mengingatkanku pada seseorang yang menuntutku untuk menghabiskan waktu memikirkannya.

Sekitar lima tahun yang lalu, saat itu, seorang lelaki mengantarkan sup jamur buatan ibunya. “Hai. Ibuku memasak sup jamur cukup banyak hari ini, kami tidak bisa menghabiskannya berdua saja. Jadi, tolong diterima,” katanya sembari mengulurkan tangan yang memegang satu mangkuk besar berisi sup.

Aku menerimanya tanpa ragu.

“Oh, iya. Perkenalkan, namaku Akiro. Aku tinggal bersama ibuku di seberang rumahmu. Salam kenal,” sambungnya.

Aku melirik sebentar ke arah bangunan yang sebelumnya tidak berpenghuni. Rumah itu membuatku takut saat malam hari karena tak ada cahaya yang muncul dari dalamnya. Persis seperti bangunan yang ada di film horor.

“Aku pamit dulu, permisi.”

Akiro berbalik dan bergegas pulang. Padahal aku belum menyebutkan namaku, Akiro juga tidak bertanya.  Ya sudah., mungkin lain kali kami bisa berkenalan dengan benar.

Keesokan harinya, aku mendengar suara motor tua yang tak asing di telingaku. Suara itu semakin lama semakin kencang. Saat itu, aku sedang tergesa mengaitkan tali sepatuku di samping pagar rumah. Tatkala aku mendongak, kudapati Akiro menggunakan seragam yang sama denganku.

“Ternyata kita satu sekolah. Kau mau berangkat bersamaku?” ujar Akiro.

Aku mengamatinya yang menaiki motor tua dengan kepulan asap dari knalpot.

“Tidak usah. Aku berangkat sendiri saja,” tolakku halus.

“Ah, tidak apa-apa. Jangan sungkan.”

Tepat setelah itu, ibu berteriak dari dalam rumah agar aku menerima tawaran Akiro. Alasannya biar tidak lelah jalan kaki. Canggung rasanya kalau harus berdua saja dengan orang yang belum lama dikenal. Alhasil dengan sedikit paksaan dari ibu, aku membonceng di belakang Akiro.

“Aku belum tahu namamu,” kata Akiro.

“Apa?!” teriakku di sela-sela keramaian jalan raya. Sebenarnya tidak perlu berteriak kalau motor Akiro bukanlah motor tua dengan suara bising. Wajar saja bila kami harus menaikkan suara beberapa oktaf agar terdengar satu sama lain.

“Kubilang, aku belum tahu namamu!”

“Oh, aku Yasena. Panggil Sena saja!”

Hari-hari berikutnya, Akiro selalu menghampiriku untuk berangkat ke sekolah bersama. Menaiki motor tua dengan tingkat kebisingan yang teramat sangat. Butuh waktu lama untukku bisa beradaptasi dengan itu. Setiap berangkat atau pulang sekolah, aku selalu menggerutu dalam hati. Suara motor Akiro sangat nyaring, membuat kami mencolok di area jalan raya. Kadang seseorang mengumpati kami karena asap motor Akiro yang memenuhi jalanan. Mengapa Akiro bisa punya motor seperti ini? Gemas rasanya, ingin kukatakan pada Akiro untuk mengganti mesin atau sekedar knalpotnya saja. Namun, kuberi saran pun sepertinya percuma.

“Motor ini milik penghuni lama. Kata ibu, tidak apa-apa dipakai,” ujar Akiro saat kami tengah berhenti di sebuah halte bus.

Siang itu, hujan turun sangat deras. Jadi, karena kami tidak membawa mantel, kami harus berteduh agar tidak kehujanan. Akiro memberiku jaket yang dikenakannya. Aku sempat menolak, tapi dia memaksa.

“Pakai saja. Aku tidak mau kau sakit. Nanti aku yang dimarahi ibumu.”

Begitu banyak kisah yang tidak dapat dituliskan atau bahkan diungkapkan dengan kata. Di atas motor, Akiro akan bercerita banyak hal. Mengenai dirinya yang disukai oleh banyak teman perempuannya, mengenai dirinya yang tidak suka makanan pedas, tidak suka buah pepaya, dan lain-lain. Cerita itu, disampaikan Akiro dengan setengah berteriak tentunya. Mengobrol ala kami sangatlah berbeda, bukan?

Hingga suatu hari sepulang sekolah, Akiro mengatakan suatu hal yang membuatku terpukul.

“Sena, setelah lulus nanti, aku akan pindah. Kau tahu sendiri kampung halamanku adalah Jepang, kan? Kurasa, aku akan kembali kesana. Sudah bertahun-tahun aku dan ibu berkelana di Indonesia.”

Aku memilih untuk pura-pura tuli, pura-pura bisu, dan pura-pura buta. Bahkan jika boleh aku ingin pura-pura mati. Selama itu, tatkala aku hanya bisa melihat punggung Akiro yang bercerita banyak hal di atas motor, aku menyadari sesuatu. Aku tidak ingin kehilangan Akiro.

“Apakah kita masih bisa bertemu lagi?” tanyaku pada Akiro.

“Masih. Biarkan takdir yang bekerja.”

Di atas motor tua itu, aku merasakan getir perpisahan dengan Akiro. Kukira aku dan Akiro akan selamanya berada di sini. Bersama-sama dalam waktu yang lama, membuatku benar-benar terikat dengannya.  Seharusnya aku tahu, Akiro tidak pernah main-main dengan ucapannya. Namun aku bodoh dengan menganggap itu sebagai lelucon. Terang saja, setelah acara kelulusan itu, rumah seberang sana tidak berpenghuni lagi.

Ketika hari telah berganti, tak kudapati Akiro dengan motor tuanya di depan rumahku. Payah sekali Akiro tidak meninggalkan nomor telepon, alamat surel, atau apa pun yang bisa menjadi media untuk kami berkomunikasi. Bahkan dia tidak mengatakan kota mana yang menjadi persinggahannya di Jepang. Mengingat itu, aku merutuki diri sendiri. Mengapa aku tidak pernah bertanya pada Akiro? Aku hanya membiarkan dirinya bercerita sambil berteriak di atas motor tanpa kutahu bagaimana raut wajahnya saat itu.

Beribu penyesalan menguasai diriku. Semakin bertambah dari waktu ke waktu. Hingga pada suatu pagi aku mendengar suara motor tua itu kembali, aku bergegas melihat ke depan rumah. Mana tahu Akiro datang kemari. Tapi naas, yang kulihat hanya seorang pria tua—yang bernama kakek Mahmud—dengan motor itu. Rupanya rumah seberang telah ditempati oleh orang lain.

Setiap hari aku harus mendengarkan suara motor tua yang dikendarai oleh kakek Mahmud. Kalau aku beruntung, aku bisa melihatnya berboncengan dengan istrinya. Benar-benar mengingatkanku pada Akiro. Bagaimana kabarnya? Saat ini tengah bekerja atau melanjutkan pendidikan?

Semua hal tentang Akiro begitu saja terlintas dalam benakku. Berjatuhan layaknya air yang turun saat musim penghujan. Bersama itu, aku memiliki keinginan untuk menyusul Akiro. Setelah aku meraih gelar sarjana, aku akan mencari Akiro dengan dalih melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Keinginan itu bertumbuh seiring dengan deru motor tua yang kudengar setiap harinya.

Madiun, 2 Juli 2022

_____

Klik untuk baca cerpen lain

Mahar Nikah Paling Mahal | Cerpen Ni Wayan Wijayanti
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ngadi Nugroho | Kita Adalah Pendatang Asing

Next Post

Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali

Mifta Izza

Mifta Izza

Lahir di Madiun, 23 April 2002. Tinggal di Madiun, Jawa Timur

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Dari “Kulit Kera Piduka”,  Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali

Dari “Kulit Kera Piduka”, Membaca Cerita Rempah dalam Karya Sastra Indonesia dan Teks Tradisional di Bali

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co