2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sesolahan Ratu Paksi dalam Calonarang Bahula Duta di Catus Pata Ubud | Sebuah Sajian Tari Paksi Tunggal

Wayan Diana Putra by Wayan Diana Putra
July 21, 2022
in Khas
Sesolahan Ratu Paksi dalam Calonarang Bahula Duta di Catus Pata Ubud | Sebuah Sajian Tari Paksi Tunggal

Ratu Paksi Mesolah Tunggal di Catus Pata Ubud. | Foto Dok: Citralana Pura Batur Sari

Hari Minggu tanggal 13 Juli 2022 diselenggarakan pementasan drama tari Calonarang bagian dari Ida Betara Napak Pertiwi serangkaian Upacara Mapedudusan Agung di Pura Batur Sari, Desa Adat Ubud. Drama tari Calonarang dengan mengambil lakon Bahula Duta tersebut disajikan oleh Sekaa Gong Ghora Gurnita Desa Adat Ubud dengan beberapa penari senior di Bali diantaranya Jro Mangku Serongga, I Wayan Sukra, Bondres Celokontong Mas, Cokorda Bagus Wiranata dan penari laiinya.

Mengawali penyajian drama tari Calonarang ditarikan beberapa pelawatan sakral berupa barong ket, barong macan, barong bangkal dan jauk manis yang merupakan sesuhunan dari Desa Adat Ubud, Bentuyung Sakti, Taman Kelod dan Penestanan. Disajikan juga pertunjukan onying (tari keris) sebagai pelengkap sekaligus sebagai sarana ruwatan dengan menarikan Ida Ratu Lingsir dan Ratu Sakti sesuhunan Desa Adat Ubud. Salah satu sajian menarik yang khusus selain pertunjukan bapang barong adalah sesolahan tunggal paksi. Sesolahan tunggal paksi ini menarikan sesuhunan Ratu Paksi (topeng garuda putih) dari Banjar Taman Kelod.

Ratu Paksi merupakan salah satu pelawatan dari Pura Taman Sari, Banjar Taman Kelod yang berwujud topeng garuda (paksi) berwarna putih. Ratu Paksi juga melengkapi pelawatan lainnya berupa barong macan yang disebut Ratu Mas dan rangda merah disebut Ratu Sakti. Topeng Ratu Paksi ini merupakan buah karya dari maestro I Gusti Nyoman Lempad serta berhulu taru (asal kayu topeng) di Setra Banjar Penestanan Kelod, Sayan, Ubud.

Ratu Paksi merupakan satu-satunya sesuhunan berwujud garuda yang berada di lingkup Kelurahan Ubud. Ratu Paksi sendiri sangat dikeramatkan oleh seluruh masyarakat Banjar Taman Kelod dan masyarakat Ubud sekitarnya. Menurut salah satu tokoh yowana Banjar Taman Kelod yaitu I Gusti Ngurah Dika Pratama yang begitu intens dalam kegiatan sosial budaya mengatakan bahwa Ratu Paksi dibuat untuk melengkapi cerita Tantri dan lakon Cupak yang disajikan oleh para penglingsir Banjar Taman Kelod termasuk sesuhunan Ratu Mas (barong macan) dan Ratu Sakti (rangda merah). Sudah pasti Ratu Paksi ditarikan sebagai pemeran burung-burungan.

Foto 1. Ratu Paksi Pura Taman Sari, Br. Taman Kelod, Ubud. | Dok. ST. Udyana

Dalam perkembangannya Ratu Paksi juga ditarikan dalam drama tari Calonarang khususnya dalam penggalan cerita Keutus Rarung. Dalam cerita, Rarung sebagai murid kesayangan Ni Walunateng Dirah diutus untuk meluluhlantakkan Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Raja Airlangga. Dalam perjalanan menuju Kediri, Rarung bertemu dengan salah satu patih kepercayaan Raja Airlangga yaitu Patih Madri. Pertemuan Patih Madrid dengan Rarung ini berujung pada adu tanding yang mengeluarkan segala kesaktian yang dimiliki oleh masing-masing. Ujungnya Patih Madri dapat dikalahkan oleh Rarung setelah menjelma menjadi seekor Garuda. Penjelmaan Rarung sebagai garuda inilah yang menggunakan Ratu Paksi dalam darama tari Calonarang jika dirangkaikan dengan Ida Betara Napak Pertiwi.

Seiring perkembangannya Ratu Paksi tidak hanya ditarikan sebagai garuda atas penjelmaan Rarung namun sudah dibuatkan sebuah konsep dengan ditarikan secara tunggal dan disajikan pada rangkaian bapang barong untuk mengawali drama tari Calonarang. Hal ini dikarenakan untuk memberikan porsi yang lebih banyak untuk kepentingan artistik pertunjukan yang dirasa kurang pada saat menarikan sebagai penjelmaan Rarung sebagai garuda. Lebih lanjut Dika Pratama mengatakan Ratu Paksi ditarikan secara tunggal pertama kali pada tahun 2016 di Pura Dalem Puri Peliatan. Saat itu Ratu Paksi ditarikan oleh I Kadek Karyana, S.Sn dari Padangtegal, Ubud.

Foto 2. Ratu Paksi Mesolah Tunggal Pertama Kali di Pura Dalem Puri, Peliatan. | Dok: Dika Pratama

Struktur Pertunjukan Tari Paksi Tunggal oleh Ratu Paksi Pada Calonaran Bahula Duta di Catus Pata Desa Adat Ubud

Tari tunggal yang dimaksud adalah penyajian tari oleh satu orang penari dari awal sampai akhir. Adapun struktur pertunjukan dari tari paksi tunggal dengan menggunakan Ratu Paksi, Pura Taman Sari, Banjar Taman Kelod Ubud menggunakan tiga palet yaitu pepeson, pengadeng dan pekaad.  Malam itu Ratu Paksi ditarikan oleh salah satu penari dan koreografer muda Ubud yaitu Gede Agus Krisna Dwipayana. Gending tari paksi tunggal diciptakan oleh I Wayan Sudirana serta ditata kembali aksentuasinya oleh Dewa Putu Rai serta disajikan oleh penabuh dari Sekaa Gong Ghora Gurnita dengan menggunakan gamelan Semara Pegulingan Saih Lima milik Puri Agung Ubud.

Pada bagian pepeson diawali dengan gegebug kendang wangsit yang dilanjutkan kekebyaran dalam bingkai bebatelan, setelah itu langsung menuju pada bagian gending pepeson. Pada bagian pepeson didominasi oleh gerakan agem dan metandang dengan properti kampid (sayap). Pedum karang menjadi arah pengolahan penyusunan agem dan perpindahan agem. Gerakan nengkleng dan mekecos menjadi salah satu ornamentasi yang digunakan pada bagian pepeson.

Karakter lincah dari mimesis burung garuda yang tangkas menjadi pilihan dinamika dari bagian pepeson. Gede Krisna tampil sangat agresif dalam menarikan Ratu Paksi pada bagian pepeson. Penulis melihat terdapat kekuatan kuda-kuda kaki dari Gede Krisna untuk menyajikan ornament nengkleng dan mekecos, hal ini diperkuat dari pengalaman Gede Krisna yang mumpuni pada tari putra keras yang menekankan pada kekuatan betis dan tumit.

Olahan kampid dari Gede Krisna dalam menimbulkan kesan kepakan sayap burung juga terasa gemulai namun dengan ujung aksentuasi yang tegas. Gerakan kinetis Gede Krisna dalam memainkan properti kampid juga diperkaya dengan sentuhan pengalaman menarikan tokoh kera-keraan sehingga dimensi kibasan menjadi lebih bervariasi. Dalam wawancara singkat dengan Gede Krisna, menambahkan bahwa pada pepeson juga disajikan gerakan kepala (kipekan) dengan proyeksi perpidahan yang cepat dan aksentuasi pendek-pendek istilah Bali disebut merengang untuk menghasilkan kesan burung mencari dahan untuk bertengger.

Foto 3. Ratu Paksi Mesolah Tunggal di Catus Pata Ubud. | Dok: Citralana Pura Batur Sari

Pada bagian pengadeng didominasi oleh pengolahan nafas untuk memulihkan stamina setelah bergerak lincah pada bagian pepeson. Bagian pengadeng dengan posisi jongkok untuk mengambarkan situasi burung yang sedang beristirahat. Sesekali dilakukan gerakan membersihkan bulu dalam istilah Bali dsiebut dengan nyiksik bulu.

Dinamika pada bagian pengadeng dihadirkan dengan cara ngeseh dengan intensitas gerakan sedang serta pindah agem dan pedum karang. Dalam pengadeng ini secara teknis merupakan sebuah bagian untuk mengistirahatkan seluruh kinetis otot setelah bergerak dengan intensitas tinggi pada bagian pepeson yang disebut dengan ngunda bayu. Ngunda Bayu dimaknai sebagai menstimulir dan pengaturan energi, kapan harus diberikan energi kuat, kapan harus menurunkan energi dan kapan harus memberikan energi sedang. Nama bagian pengadeng yang diambil dari kata adeng berarti pelan merupakan gagasan memberikan tempo pelan sehingga terdapat ruang untuk mengaplikasikan teknik ngunda bayu itu sendiri.

Bagian pekaad merupakan bagian akhir dari struktur tarian tunggal Ratu Paksi ini. Bagian ini bermaksud untuk menyajikan konklusi dari bagian sebelumnya dan untuk mengakhiri rangkaian susunan olahan gerak. Dalam sajian tari tunggal Ratu Paksi ini pada bagian pekaad mengambil tema gerakan mekeber (terbang). Tema mekeber (terbang) ini dipilih untuk menggambarkan bahwa sang burung setelah menunjukan karakter tangkas dan lemah gemulainya maka sudah saatnya untuk pergi untuk mencari dahan atau ranting baru lagi.

Penyajian tema mekeber ini ditunjang oleh beberapa teknik tari putra keras yaitu kombinasi gerakan nyregseg dengan posisi kaki menjinjit. Gerakan nyregseg  serta kaki menjinjit ini memerlukan kekuatan telapak kaki yang ekstra, mengingat tumpuan seluruh badan terpusat pada jari kaki dengan tekanan penahan pada bagian betis. Disamping itu juga teknik menjinjit ini disertai juga dengan posisi berpindah dengan menyeret kaki (nyregseg) untuk berpindah tempat. Selain itu untuk memperkuat gerakan terbang ini disertai dengan gerakan tangan mentang (membentang) dan variasi ngaduk (mengaduk) dengan properti kampid.

Foto 4. Ratu Paksi Pada Bagian Pengadeng. | Dok: Citralana Pura Batur Sari

Busana Tari Tunggal Ratu Paksi

Busana dari tari tungal Ratu Paksi ini didesain oleh Gede Krisna sendiri bersama Dika Pratama. Pengerjaannya melibatkan seluruh Sekehe Teruna Udyana Banjar Taman Kelod. Secara umum busana dari tari tunggal Ratu Paksi ini masih menggunakan kaidah busana paksi konvensional Bali seperti hanlnya pada sendratari Ramayana. Menggunakan gelungan mekendoan, baju, badong, lamak, awir, jaler, gelang kana, stewel ditambah dengan properti kampid dan ikut. Walaupun masih dalam bingkai susunan busana Paksi konvensional terdapat beberapa pembaharuan dari segi ornamentasi dan warna.

Pada bagian ornamentasi terdapat dua hal yaitu memodifikasi hiasan pada tepian badong, awir, lamak serta pada properti kampid dan ikut. Pada bagian ujuang badong, awir dan lamak biasanya menggunakan bola-bola berbahan benang wol diganti dengan uang kepeng. Kesan bulat masih dipertahakan namun hanya berubah pada bidang dimensi dari bulat cembung menjadi bulat pipih. Hiasan ukiran pada awir menambahkan tatahan kulit yang diprada. Pada bagian properti kampid dan ikut yang terdapat sebuah modifikasi yang lebih banyak.

Properti kampid dibuat lebih memanjang dengan bentuk sedikit oval. Memasukkan bulu merak sebagai hiasan kampid mengganti tatahan kulit dan kaca untuk memunculkan kesan bulu sisik. Kuer pada tepian bawah kampid dibuat menjadi dua bagian yaitu bagian atas dan bagian bawah (memanakan). Bagian atas memiliki dimensi yang lebih panjang sedangkan bagian bawah lebih pendek. Disertai dengan aksentuasi pewarnaan emas dari sentukan prada dan warna putih dengan teknik sigaran (gradasi) warna biru pada bulu sayap. Pada bagian ikut menghadirkan bulu burung secara riil berwarna flat putih menggantikan kumpulan umbul-umbul warna warni secara konvensional.

Foto 5. Busana Ratu Paksi. | Dok: ST.Udyana

Dari segi pemilihan warna didominasi oleh tiga warna secara garis besar yaitu putih, hitam dan emas. Warna putih adalah turunan dari warna prerai (topeng) dari Ratu Paksi yang berwarna putih. Logikanya mengingat kepala sebagai bagian utama maka dominasi warna dimulai dari bagian itu pula. Warna hitam dipilih sebagai warna penyeimbang dari warna putih sekaligus untuk menguatkan pantulan warna emas dari prada. Warna emas sendiri dipilih untuk menghasilkan pancaran sinar disamping juga sebagai penegas pola ornament-ornamen pada seluruh hiasan. Mengingat hiasan prerai dan gelungan dihiasi dengan aksentuasi emas dan prada.

Foto 6. Kampid Ratu Paksi. | Dok: ST.Udyana

Tags: baliseni pertunjukanUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Pakeliran Tutur Candra Bherawa | Proses Penciptaan Karya Teater Bertolak Dari Penjelajahan Teater Tradisi Bali

Next Post

RSUD Buleleng Kini Punya Gedung Hemodialisa | Apa Itu Hemodialisa?

Wayan Diana Putra

Wayan Diana Putra

I Wayan Diana Putra, S.Sn., M.Sn. Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Komposer Gamelan Bali.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
RSUD Buleleng Kini Punya Gedung Hemodialisa | Apa Itu Hemodialisa?

RSUD Buleleng Kini Punya Gedung Hemodialisa | Apa Itu Hemodialisa?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co