21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepuluh Tahun Setelah Si Kerudung Merah Membunuh Seekor Serigala | Cerpen Surya Gemilang

Surya Gemilang by Surya Gemilang
February 26, 2022
in Cerpen
Sepuluh Tahun Setelah Si Kerudung Merah Membunuh Seekor Serigala | Cerpen Surya Gemilang

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Aku tak akan menghampiri rumah si Kerudung Merah jika bukan karena hantu ayahku; ia mati sepuluh tahun lalu dengan perut penuh bebatu.

Ayahku serigala yang baik—setidaknya semasa ia hidup. Waktu itu di hutan sedang sepi hewan buruan, para manusia pemburu lebih cepat membabat rusa dan kijang dan apa pun yang bisa kami makan, dan Ayah memberikan kesemua jatah makanannya untuk aku yang terus menangis karena kelaparan di gua. Dan setelah aku terlelap saking kenyangnya, Ayah berkeliling hutan mencari makanan untuk dirinya, dan ia menemukan seorang gadis berkerudung merah, gadis yang membawa berbagai kue dan beberapa botol anggur dalam keranjang untuk nenek yang sakit, dan Ayah tak tahu bahwa gadis selugu itu dapat membawa maut padanya. Seusai menceritakan tentang kematiannya untuk kali pertama padaku, beberapa jam setelah maut datang padanya, hantu Ayah berkata, “Saat besar nanti, kau akan memasukkan batu-batu ke perut gadis itu.” Setelah itu hantu Ayah pergi, kupikir untuk selama-lamanya.

Kini hantu Ayah kembali padaku, setelah sepuluh tahun tak pernah muncul; ia mengatakan Ibu si Kerudung Merah sedang sekarat, “Dan perutnya menunggu batu-batuan.” Kupikir harusnya aku memasukkan batu-batu ke perut si Kerudung Merah, bukan ke perut ibunya. Namun hantu Ayah ingin pembalasan dendamnya lebih dahsyat: aku tetap harus memasukkan batu-batu ke perut si Kerudung Merah setelah perut ibunya, entah di hari yang sama atau hari yang lain.

Aku bukan serigala pendendam, jadi kuusir saja hantu Ayah dari guaku; aku ingin menghabiskan waktu bersama istri dan anak-anakku, aku ingin fokus membentuk koloni baru, aku ingin fokus menyelamatkan koloniku dari para manusia pemburu. Tetapi tak ada hantu pendendam yang suka melihat anaknya menjadi bukan pendendam: saban tidur aku selalu bermimpi buruk, dan kuyakin hantu Ayah-lah yang memasukkan mimpi itu menuju kepalaku.

Aku melihat Ayah tidur nyenyak di kasur di sebuah rumah kayu, itu pasti rumah Nenek si Kerudung Merah; perut Ayah buncit dan ia mengenakan pakaian wanita tua tersebut, tiba-tiba seorang pemburu memasuki kamar itu dengan terkejut. Pemburu itu buru-buru menenangkan diri, ia mengeluarkan gunting dan membelah perut ayahku, serigala itu tak terbangun mungkin sebab ia terlalu kenyang, dan dari perutnya keluarlah si Kerudung Merah serta neneknya, tubuh mereka basah oleh cairan asam. Lalu si Kerudung Merah berlari keluar rumah sejenak, sebelum kembali dengan batu-batuan dalam dekapannya yang penuh, dan ia memasukkan bebatu ke perut ayahku, sebelum menjahit perut serigala malang itu dengan rapi dan rapat. Kemudian tibalah bagian mengerikan itu: si Kerudung Merah membangunkan Ayah, serigala itu terkejut dan langsung berlari keluar sembari menahan sakit, dan aku dapat merasakan betul kesakitan dalam perutnya yang berat, seakan akulah yang berlari di sana dengan perut penuh bebatu. Akhirnya Ayah tumbang di setapak hutan dan napasku terasa memberat, terasa tercekik—perutku terasa akan dirobek dari dalam![1]

Mimpi itu tak datang sekali; ia datang setiap aku tidur; rasa sakit tetap bertahan pada perutku bahkan berjam-jam setelah aku terjaga, dan aku tersadar: hantu Ayah benar-benar mendendam pada si Kerudung Merah—jangan sampai mendendam juga ia padaku, karena penolakanku untuk membalaskan dendamnya.

***

Rumah keluarga si Kerudung Merah berdiri di tepi hutan dan malam itu aku menyusup ke semak-semak di halaman belakang, lalu melalui celah gorden aku melihat wanita tua itu mengerang di ranjang, si Kerudung Merah menyuapinya sesuatu, dan dari tatapannya kutahu ia berharap tak perlu lagi menyuapinya apa pun. Mereka hanya tinggal berdua di situ—entah ke manakah ayah si Kerudung Merah. Ketika sang ibu terlelap dan lampu dipadamkan dan si Kerudung Merah keluar dari kamar itu, diam-diam aku membuka jendela dan menyusup dengan batu-batu memenuhi dekapanku.

Dari wanita itu menyeruak aroma tahi. Selimutnya pada bagian kaki tersibak sedikit dan dari sanalah aroma itu menyeruak. Aku menatap sekeliling dan cahaya bulan yang masuk dari lubang udara jatuh ke cermin; aku melihat wajahku di sana, mataku tak pernah semerah itu: mesti itu sepasang mata serigala yang sedang di bawah pengaruh hantu pendendam. Di samping cermin terdapat sebuntal benang jahit di atas meja, jarum-jarum menancap pada buntalan itu, pentul-pentul merahnya berkilau tertimpa cahaya bulan.

Aku menyibak selimut sang wanita perlahan; ia mengenakan daster biru dan roknya terangkat hampir sampai ke pinggul, popoknya kembung dan aroma tahi merobek lubang hidungku. Mungkin ini kutukan hewan berpenciuman tajam: kami agak lemah di hadapan wanita sekarat yang berak di popok. Tapi tak ada waktu untuk kalah dari tahi di popok; aku menaikkan dasternya sampai sedada, kulit perutnya begitu tipis, aku hampir dapat melihat jeroannya di balik sana, yang berdenyut-denyut memompa tahi. Kuku telunjukku mencuat, dan dengan hati-hati aku menyayat perut wanita itu secara vertikal, wanita itu tak terbangun mungkin sebab terlalu kenyang, dan aroma jeroannya bahkan lebih terkutuk ketimbang tahinya. Lalu aku memasukkan batu-batu ke dalam perutnya, satu per satu dan penuh kehati-hatian, aku—dan ayahku—tak mau ia terbangun tidak pada waktunya. Dan setelah kesemua batu kumasukkan, aku mengambil sebuntal benang di meja dan menjahit perutnya serapi-serapat mungkin, dan ia tampak persis wanita hamil yang mengandung mautnya sendiri.

Sesaat aku ragu untuk membangunkannya; toh, ia akan mati tanpa kubangunkan—aku bisa mendengar napasnya yang semakin lama semakin berat. Tetapi ketika aku melirik ke cermin lagi, bukan saja sepasang mataku semakin merah, aku melihat hantu Ayah berdiri di belakangku, ia mendekatkan moncongnya ke kupingku, ia berbisik, “Jangan lewatkan bagian yang paling seru.”

Aku menjilat darah di kuku telunjuk, dan aku menyalakan lampu, dan aku mengguncang-guncang kasur, tetapi wanita itu tak terbangun. Aku menampar-nampar pipinya, dan ia hanya berkedip lemah sebelum kembali tertidur. Akhirnya aku menyiram wajahnya dengan air dari teko di nakas, dan ia pun terbelalak di hadapan taring-taringku. Ia segera menjerit dan berguling dari kasur. Ia tak sanggup berdiri, tentu saja; aku melangkah ke sampingnya dan ia tetap memekik dan ia tetap terbaring di lantai dan ia akan mati seperti itu.

Pintu dibuka: si Kerudung Merah menodongkan senapan padaku. Moncong senapannya terus menatapku lekat, tetapi perempuan itu berganti-gantian menatapku dan sang ibu yang perutnya penuh bebatu. Aku berpaling ke cermin: mataku tak lagi merah, dan hantu Ayah tak ada di mana pun. Ia hanya ingin melihat Ibu si Kerudung Merah mati; ia tak berani melihatku mati. Setidaknya mati di ujung senapan jauh lebih baik ketimbang mati dengan perut penuh bebatu.

Dan tiba-tiba senapan meletus.

Tubuhku masih utuh. Tapi perut wanita itu terkoyak peluru—batu-batu di dalam sana terlihat, dan dari batu-batu itu pandangan si Kerudung Merah teralih padaku. Aku tak tahu arti tatapannya. Kemudian ia meletakkan senapan di lantai, ia mendekati mayat ibunya—aku menyingkir agar tak menghalanginya—dan ia mencoba membopongnya ke kasur. Baru terangkat sedikit, ia langsung menjatuhkan tubuh wanita itu. Ia mencoba hal serupa dua kali lagi dan gagal, lantas ia memasukkan tangan ke lubang peluru di perut ibunya, ia mengambil segenggam batu dan dengan gerakan cepat melemparnya ke kepalaku.

Dahiku hangat. Aku menyentuhnya dan darah tercetak pada rambut di telapak tanganku. Kupikir sebentar kemudian darah akan mengguyur mata dan moncongku, tetapi tidak—kepalaku tak berdarah dan yang ada di tanganku hanyalah darah yang menempel di batu itu.

“Bisa bantu aku …?” ucap si Kerudung Merah.

Kami pun bersama-sama mengangkat mayat ke kasur, dan gadis itu menutupi sekujur tubuh sang ibu dengan selimut biru yang dengan cepat memerah. Gadis itu menunduk dan menggumamkan sesuatu, barangkali ia berdoa. Ketika keseluruhan selimut memerah dan basah, bentuk mayat itu tercetak jelas pada selimut.

Si Kerudung Merah memungut senapannya. Ia tak menembakku; ia menyampirkannya di pundak. Dan, sepasang matanya memerah; sepasang matanya menatapku lekat. Tetapi aku masih tak tahu apa arti tatapannya; aku hanya tahu itu tatapan manusia yang terluka—tak beda jauh dengan tatapan hewan yang terluka—dan ia mengangguk padaku, sebelum ia keluar dari kamar ibunya. “Sampai jumpa lagi,” kata si Kerudung Merah dari balik pintu, suaranya parau.

Aku mematikan lampu, dan aku keluar lewat jendela, dan aku kembali ke guaku. Aku tak berminat memasukkan batu-batu ke perut si Kerudung Merah. Lebih baik aku memasukkan batu-batu ke perut hantu ayahku ketimbang ke perut perempuan itu. Tetapi perut hantu tak bisa dibelah, dan hantu pendendam tak berhenti mengirim mimpi buruk padaku. Aku mulai terbiasa dengan sakit yang melekat bahkan berjam-jam setelah aku terjaga. Sakit itu tak seberapa ketimbang rasa bersalahku sebab memasukkan bebatu ke perut wanita itu.

Semoga si Kerudung Merah tak bermimpi buruk. Semoga ia tak memimpikan kesakitan terakhir sang ibu. [T]


[1] Bagian tragis yang menimpa Ayah si Serigala ini adalah akhir dari Little Red Riding Hood versi Grimm bersaudara; beberapa pengarang lain mempunyai versi akhir cerita yang lain.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Mettarini | Rinduku Bergayut, Ke Mana Kubawa Lari

Next Post

“Idea-Puisika” & “Idea-Masa Lalu”

Surya Gemilang

Surya Gemilang

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Antologi cerpen tunggal pertamanya berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Tulisan-tulisannya yang lain dapat dijumpai di lebih dari delapan antologi bersama dan sejumlah media massa.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
“Idea-Puisika” & “Idea-Masa Lalu”

“Idea-Puisika” & “Idea-Masa Lalu”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co