2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengintip Perjalanan Tak Biasa di Balik Layar Mangid Podcast

Julio Saputra by Julio Saputra
February 3, 2022
in Khas
Mengintip Perjalanan Tak Biasa di Balik Layar Mangid Podcast

Eric, Adey, dan Jusma dari Mangid Podcast [Foto-foto Mangid Podcast]

Malam sudah sangat larut. Suasana Rabu, 26 Januari 2022 di Suksma Coffee, Denpasar terasa begitu sepi. Jalan raya di depannya juga nampak lenggang. Beberapa lampu di ruang-ruang tertentu sudah dipadamkan sejak tadi. Jam di dinding menunjuk pukul 11.30 Wita. Dua jam berlalu dari jam tutup biasanya. Tentu saja tidak ada lagi pengunjung yang tersisa. Namun, beberapa orang masih terlihat duduk-duduk sambil bermain kartu. Sebagian dari mereka ternyata adalah para pegawai di sana, sebagian lagi adalah teman-teman yang setia menunggu mereka tutup agar bisa pulang ke rumah bersama-sama. 

Di sisi yang lain, ada 3 orang pemuda duduk semeja. Mereka terlihat sebaya, memiliki umur yang sama. Sambil menikmati rokok elektrik dengan varian rasa kesukaan masing-masing, mereka mengobrol santai membicarakan apa yang ingin dibicarakan. Usut punya usut, mereka sedang beristirahat sejenak setelah selama kurang lebih 2 jam mengambil siniar, atau yang lebih dikenal dengan sebutan podcast, rekaman audio yang dapat didengarkan oleh khalayak umum melalui media internet. Rupanya, mereka bertiga adalah orang-orang yang ada di balik layar Mangid Podcast, sebuah podcast yang lumayan dikenal oleh sebagian anak muda di Kabupaten Gianyar, Bali.

Eric Sanjaya, Adeycpx, dan Jusma Aria, itulah nama-nama mereka. Ketiganya sudah akrab sejak lama. Tahun 2011, Adey dan Jusma bersekolah di SMP yang sama, yaitu SMPN 1 Tegalalang. Tiga tahun berselang, Adey memilih SMAN 1 Ubud sebagai tempat mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah atas, sedangkan Jusma melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Tegalalang. Meski berpisah, keduanya masih menjalin hubungan yang baik. Nah, saat itulah, Jusma bertemu dengan Eric Sanjaya dan menjadi teman satu sekolah. 

Adey, Jusma, dan Eric dalm sesi take podcast

Tak hanya sampai di sana, mereka berdua juga menjadi teman satu kampus. Setelah tamat dari SMA, keduanya mendaftarkan diri di program studi yang sama di kampus yang sama, Keduanya sama-sama mengambil Teknologi Informasi di STIKOM Bali. Jusmalah yang kemudian memperkenalkan Eric kepada Adey, dan mereka bertiga pun menjadi teman baik, jalan bersama-sama, nongkrong bersama-sama, berproses bersama-sama, saling mendukung jika yang satu sedang kesusahan dan saling menyemangati ketika yang satu sedang sedih, Namun, yang sering terjadi adalah saling ejek dan saling menertawai satu sama lain. Tak apalah. Teman baik memang begitu adanya. 

Podcast yang mereka buat boleh dikata sangat ringan. Mereka dari awal membicarakan hal-hal kecil yang terjadi di kehidupan sehari-hari sampai ke topik yang sedang hangat terjadi di sekitar dan ramai dibicarakan orang-orang. Di podcast pertama misalnya, mereka hanya membicarakan diri masing-masing, namun dengan cara yang sangat jenaka. Cara mereka bercengkrama, bersenda gurau, berlawak-lawakan, berolok-olok adalah cara-cara sahabat pada umumnya.

Mendengar Obrolan mereka memang lumayan menggelitik. Kehangatan dan kedekatan di antara ketiganya bahkan dapat dirasakan saat mendengar podcast mereka bertiga. Mereka juga tak segan-segan membenturkan realita dan harapan yang terjadi, membicarakan keresahan yang mereka alami dalam memproduksi podcast, seperti pada episode “Ngelatih Mental Jangan Ospek, tapi Buat Podcast Gak Ada Yang Dengerin”.

Dari kiri ke kanan: Eric, Adey, dan Jusma berfoto bersama

Seandainya punya waktu senggang atau sedang bingung hendak melakukan apa, bolehlah sekali dua kali, atau berkali-kali podcast mereka didengarkan. Tinggal ketik “Mangid Podcast” di kolom pencarian, kemudian pilih podcast dengan foto 3 orang laki-laki berpose di tengah-tengah kamar mand. Nah, itulah mereka. Itulah podcast yang mereka buat. Oh iya, jangan lupa klik Follow agar tidak ketinggalan update-update terbaru dari mereka.

Dari Ide Merchandise sampai Ide Bisnis Makanan

Sekitar tahun 2019, Eric, Adey, dan Jusma mulai berkumpul lagi untuk membicarakan sebuah gerakan bisnis. Waktu itu, pandemi covid-19 belum mewabah. Bali masih aman-aman saja, masih ramai, masih penuh dengan kunjungan wisatawan, baik wisatawan dalam negeri maupun mancanegara. Mereka bertiga hendak menjual berbagai produk merchandise bertemakan Bali yang bisa menjadi pilihan oleh-oleh bagi para wisatawan yang datang ke Bali. Kebetulan juga, Ibunya Eric memiliki sebuah toko oleh-oleh di sekitaran Ubud. 

“Modelnya seperti baju I Love Bali, Bintang, Barong, kaya gitu lho. Tapi kita maunya buat dengan design yang berbeda. Dan ngemasarinnya di sana. Ke bule-bule. Design-design yang lain kan sebenarnya sudah standar ya. Nah kita maunya buat design yang berbeda tapi pasarnya sama. Design-design yang berbeda dari yang ada di pasaran lah. Mungkin bisa mirip-mirip.tapi tetep target pasarnya sama” ujar Jusma, atau yang terkadang dipanggil Kupang oleh kedua temannya itu menjelaskan dengan intonasi yang bagus. Ia sepertinya sudah sering berbicara dengan banyak orang.

Sayangnya, karena sesuatu dan lain hal, serta pertimbangan-pertimbangan tertentu, ide untuk membuat merchandise Bali tersebut tidak bisa terealisasikan. Setelah dipikir-pikir lagi, akhirnya mereka memutuskan untuk berbisnis di bidang makanan. Mereka ingin menjual rice box dengan berbagai varian rasa, dari lauk tradisional sampai lauk kekinian, seperti olahan ayam dengan saus salted egg atau barbeque. Tak berselang lama, bisnis tersebut pun berhasil mereka jalankan. Mereka menjual rice box tersebut dengan nama Ngajeng Kuy. Jika diartikan ke bahasa Indonesia, Ngajeng Kuy sendiri berarti sebuah ajakan untuk makan, semisal “Ayo makan”, atau “Makan Yuk”. Nama yang sangat cocok disematkan untuk bisnis makanan yang mereka jalankan. 

Kolaborasi Mangid bersama Suksma Coffee membuka Open Booth di sebuah acara kampus di Denpasar

Sebelum open booth perdana di salah satu acara kampus di Kota Denpasar,  Ngajeng Kuy meminta pendapat banyak orang. Mereka bertiga membagikan tester kepada keluarga, sahabat, teman-teman, sampai temannya teman, semua penasaran ingin mencicipi secara langsung. Katanya, rice box mereka enak, tak kalah dengan rice box lain di luar sana. Mendengar hal tersebut, mereka bertiga kemudian semakin memantapkan niat untuk open booth. Sayangnya,  kenyataan yang terjadi ternyata lebih pahit dari harapan yang ada. Produksi saat itu lebih besar daripada penjualan. Yang ada adalah sebuah kerugian. Mereka seperti pemancing yang sedang boncos, tidak mendapat ikan sama sekali.

Kerugian tersebut membawa suasana yang dingin di tengah-tengah ketiganya. Mereka saling membisu dalam waktu yang lumayan lama. Hal tersebut sebenarnya sangat bisa dimaklumi. Waktu itu, mereka masih muda. Ego mereka sedang tinggi-tingginya, saling menyalahkan satu sama lain sampai akhirnya mereka belajar dari kesalahan yang dibuat bersama.

Mereka boleh saja bersedih, tapi tidak menyerah begitu saja. Mereka kemudian mengubah konsep, dari yang awalnya berjualan sendiri lalu mulai berkolaborasi, bergandeng tangan dengan Suksma Coffee. Kebetulan, salah seorang sepupunya Eric menjadi owner dari kedai kopi tersebut. Kebetulan juga, saat itu ada sebuah event yang diadakan oleh kampus tempat Eric dan Jusma menimba ilmu. Mereka pun akhirnya open booth di sana. Keuntungannya dibagi rata, setengah ke mereka, setengah lagi ke Suksma Coffee. Setelah itu, mereka tetap open booth di event-event yang lain. Sampai akhirnya pandemi covid-19 mewabah di Indonesia dan akhirnya mereka lama berdiam di rumah masing-masing. 

Memulai Podcast

Setelah sekian purnama berlalu, akhirnya mereka bertemu kembali bertiga. Di sana Adey kemudian mencetuskan ide untuk membuat sebuah podcast. Saat itu, podcast memang sedang sangat hype di Indonesia. Eric awalnya skeptis dengan hal tersebut, begitu juga Jusma, tidak terlalu bersemangat. Namun Adey tak pernah berhenti mencoba meyakinkan keduanya. 

“Pokoknya ikut-ikut saja, coba-coba saja. Take pertama kita pun lewat HP. Waktu itu Agustus 2020. Episode pertama kita judulnya the introduction. Nah setelah itu kita rajin nge-take-nya. Setiap minggu kita take. Kebetulan waktu itu juga tidak terlalu banyak kegiatan seperti sekarang. Masih kuliah-kuliah saja. Kuliah juga gitu-gitu saja. Akhirnya nyari kegiatan lain terus buatlah podcast.” ujar Adey sambil sesekali bermesraan dengan pacarnya. Sungguh, kehangatan di antara keduanya berpotensi membuat iri siapa saja yang melihatnya.

Merchandise Mangid Podcast

Mereka bertiga memilih Mangid Podcast sebagai nama yang akan digunakan terus ke depannya. Tak banyak yang tahu apa arti kata Mangid. Namun, kata mereka, kata Mangid sudah sangat lumrah dan dikenal banyak orang, khususnya di Gianyar. Mangid berarti nakal, jahil, bandel, tidak terkendali, tidak dapat diatur, tidak taat, hiperaktif, yang suka bermain-main, dan sebagainya.

Lewat nama itu, mereka ingin memberitahu dunia bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat suka bermain bersundagurau, sangat suka melakukan pergerakan, dan suka mendobrak hal-hal tertentu. Analogi seperti membuat sebuah lukisan. Jika orang-orang biasanya melukis di atas kanvas, maka orang-orang Mangid akan melukis di atas tembok. Kalau pun ada orang yang meminta mereka diam, kalem, tenang, polos, dan sebagainya, sudah pasti mereka tidak akan bisa, karena pada dasarnya, mereka adalah orang-orang Mangid, alias tidak bisa diam. Ke-mangid-an mereka bisa dilihat dari projek-projek yang sudah mereka buat, salah satunya adalah podcast ini.

Adey, yang waktu itu memakai baju kaos bertuliskan “Fuck Adey” kembali bercerita. Katanya, mereka bertiga sempat take podcast sampai akhir tahun. Kemudian memulai Season 2 namun hanya sempat 3 kali take sebelum vakum selama kurang lebih 6 bulan. 

Vakumnya mereka bukan karena kehabisan ide, kehilangan semangat, atau sebagainya. Tapi karena sedang mempersiapkan merchandise bertemakan Mangid People. Lagi-lagi, ide ini dicetuskan oleh Adey. Ia ingin membeli alat-alat yang memang mendukung untuk perkembangan podcast mereka, seperti microphone, mixer, dan lain-lain.

Caranya adalah dengan menjual merchandise berupa baju kaos dengan sistem open PO (pre order). Mereka terlebih dahulu harus benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang, mulai dari design baju yang akan dibuat, bahan yang akan digunakan, tempat yang akan memproduksi, dan masih banyak lagi. Di awal-awal, mereka tidak mau berekspektasi terlalu besar. Takut kecewa lagi seperti kerugian yang terjadi sebelum-sebelumnya. Untungnya, ada banyak yang berminat untuk membeli merchandise mereka, dan keuntungan yang didapat pun sangat lumayan. Cukup untuk membeli alat-alat penunjang podcast yang mereka inginkan. Puji Syukur, saat ini mereka sudah take podcast dengan alat-alat yang sangat mendukung.

Ide-Ide Baru dan Manfaat yang Dipetik

Sebagai kelompok/grup yang bergerak di bidang kreatif, rasanya tidak lengkap jika tidak ada ide-ide baru di setiap prosesnya. Eric, Jusma, dan Adey juga mencoba ide-ide baru untuk mengembangkan podcast mereka. Mereka membuat segmen bertajuk “Kle Nok”, sebuah episode khusus yang mengundang orang-orang tertentu untuk berbagi insight dan wawasan mereka kepada para pendengar.. Topik yang dibicarakan lebih mengkhusus pada hal-hal tertentu saja. Eric dan Adey juga punya segmen sendiri, namanya MGND TALK. Di sana mereka berdua mengobrol apa saja, dengan cara mereka yang jenaka.

Ada juga segmen dengan nama Mangid Take Over alis Mangid Podcast diambil alih oleh orang lain. Di sana, mereka bertiga tidak ikut menjadi pembawa acara/pembawa podcast, tapi digantikan sementara oleh guest star atau bintang tamu tertentu. Dengan kata lain, mereka bertiga mengundang Host Tamu untuk menggantikan mereka sementara. Dari segmen-segmen yang mereka buat, harapannya Mangid Podcast semakin dikenal luas dan semakin didengar oleh banyak orang. Kedua segmen tersebut masih sering dilakukan, terlebih Mangid Podcast pernah berganti akun karena suatu dan lain hal, sehingga mereka harus mengulang kembali algoritma dari awal agar podcast mereka didengar banyak orang.

Lewat Mangid Podcast yang mereka bangun bersama ini, masing-masing dari mereka secara pribadi mengaku mendapat manfaatnya masing-masing. Eric Sanjaya misalnya, pria jangkung dengan tinggi badan 180 cm itu mengaku podcast membantunya untuk mengasah kemampuan public speaking pada dirinya. 

“Kalau aku secara pribadi sih ngerasa Mangid Podcast ini memberikan maaft. Skill public speaking jadi nambah. Jadi meningkat. Sekarang jadi lebih percaya diri jugakalau missal harus berbicara kepada publik atau berbicara di hadapan umum. Kalau dulu tu agak kacau. Agak gak berani ngomong karena ngerasa gak bagus.” Ujar Eric. Akhir-ahir ini ia memang sering bertemu dan berhadapan dengan orang banyak, terutama saat ia dipercaya menjadi koordinator live streaming di acara bergengsi Ubud Writers and Readers Festival tahun lalu.

Sesi ngobrol bersama membahasa proses kreatif di balik Mangid Podcast dan sebagainya

Beda lagi dengan Jusma, ia merasa memiliki pergaulan yang lebih luas karena mengenal dan berteman dengan orang-orang baru yang menjadi bintang tamu di podcast mereka. Dari sana, ia juga belajar banyak hal. Karena satu orang membawa satu perspektif yang berbeda. Semakin banyak perspektif, semakin banyak pula hal yang bisa diketahui. Semakin banyak hal yang diketahui, semakin bertambah juga pengetahuan dan wawasannya. Meski bukan wawasan yang prestigious seperti ilmu ekonomi, ilmu sosial, ilmu politik dan sebagainya, baginya hal tersebut sudah cukup untuk lebih membukakan pikirannya dan membantunya memandang suatu hal dari sudut yang lebih luas. Ia juga mengaku mendengar cerita orang-orang adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.

Di sisi lain, lewat Mangid Podcast Adey mengaku menjadi lebih produktif. Jika ada waktu luang, ia bisa menghabiskan waktu luangnya dengan proses yang kreatif. Lebih baik membuat podcast ketimbang buang-buang waktu melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Saat berproses kreatif membuat podcast, ia juga menjadi lebih profesional saat menghadapi suatu masalah. Adey adalah orang yang memiliki banyak ide dan semangat yang tinggi. Ketika ide-idenya tidak mendapat respon dari Eric dan Jusma, tidak mungkin ia langsung memusuhi mereka begitu saja. Sedih sudah pasti, kesal sudah tentu, namun ia tetap profesional mencoba menyambungkan pemikiran ketiganya, meski sesekali mereka saling membisu saat sebelum mengambil podcast. Pada dasarnya, mereka bertiga memang saling berselisih paham, namun tak sampai berlarut-larut menjadi musuh, karena mereka bertiga tahu apa yang harus mereka lakukan.

Berbagai Respon dan Rencana ke Depan

Ada banyak respon yang mereka dapatkan saat pertama kali meluncurkan Mangid Podcast. Beberapa teman-teman mereka mendukung dan mengapresiasi apa yang telah dan apa yang masih mereka kerjakan. Sebagian lagi sepertinya belum terlalu paham dengan podcast. Masih banyak yang beranggapan podcast hanya ada di youtube. Padahal podcast juga bisa dinikmati di platform lain, Spotify misalnya. Nah, ada juga yang beranggapan harus memiliki Spotify Premium agar bisa mendengarkan podcast mereka. Padahal, Mangid Podcast dapat didengarkan secara gratis, baik dengan Spotify biasa ataupun Spotify Premium. Ada juga orang-orang yang mungkin merendahkan podcasct mereka. Dianggap tidak menghasilkan apa-apa, hanya buang-buang waktu, dan sebagainya.

Bagi Eric, Jusma, dan Adey, Mangid Podcast memang belum membawa penghasilan, namun segala sesuatu memang harus dikerjakan dari awal, secara pelan-pelan, tidak mengharapkan penghasilan begitu saja. Yang terpenting proses yang mereka jalani dan mereka bisa belajar dari kesalahan yang ada untuk memperbaiki diri dan bisa menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

Ke depannya, mereka berencana untuk mengembangkan Mangid Podcast ke ranah yang lebih luas. Tidak hanya dengan audio saja, tapi juga dengan visual. Sehingga podcast mereka menjadi lebih menarik, bisa diunggah di youtube, dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Tentu saja, mereka masih akan mengeksplorasi ide-ide baru yang bisa menjadikan podcast mereka lebih baik lagi dan lebih berkualitas lagi.

Jalanan sudah benar-benar lenggang. Waktu itu pukul 00.30 Wita. Hari dan tanggal sudah berganti. Mata mereka juga terlihat berat, ingin beristirahat. Obrolan mereka sudah cukup banyak, pun sudah cukup padat. Karena sudah dirasa cukup hari itu, mereka kemudian memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang, mereka bertiga saling mengingatkan satu sama lain “Besok ketemu lagi. Masih banyak PR yang harus dikerjakan”. [T]

Tags: hiburanMangid Podcastmedia sosialPodcast
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sandyagita “Ranu Murti”, Kisah Perjalanan Air dalam Nyanyian, Musik dan Tari

Next Post

Cerita Pohon Prasi di Nusa Penida | Dulu Jadi “Mimis Bedil”, Kini Nyaris Tak Dikenal

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Pohon Prasi di Nusa Penida | Dulu Jadi “Mimis Bedil”, Kini Nyaris Tak Dikenal

Cerita Pohon Prasi di Nusa Penida | Dulu Jadi “Mimis Bedil”, Kini Nyaris Tak Dikenal

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co