14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengintip Perjalanan Tak Biasa di Balik Layar Mangid Podcast

Julio Saputra by Julio Saputra
February 3, 2022
in Khas
Mengintip Perjalanan Tak Biasa di Balik Layar Mangid Podcast

Eric, Adey, dan Jusma dari Mangid Podcast [Foto-foto Mangid Podcast]

Malam sudah sangat larut. Suasana Rabu, 26 Januari 2022 di Suksma Coffee, Denpasar terasa begitu sepi. Jalan raya di depannya juga nampak lenggang. Beberapa lampu di ruang-ruang tertentu sudah dipadamkan sejak tadi. Jam di dinding menunjuk pukul 11.30 Wita. Dua jam berlalu dari jam tutup biasanya. Tentu saja tidak ada lagi pengunjung yang tersisa. Namun, beberapa orang masih terlihat duduk-duduk sambil bermain kartu. Sebagian dari mereka ternyata adalah para pegawai di sana, sebagian lagi adalah teman-teman yang setia menunggu mereka tutup agar bisa pulang ke rumah bersama-sama. 

Di sisi yang lain, ada 3 orang pemuda duduk semeja. Mereka terlihat sebaya, memiliki umur yang sama. Sambil menikmati rokok elektrik dengan varian rasa kesukaan masing-masing, mereka mengobrol santai membicarakan apa yang ingin dibicarakan. Usut punya usut, mereka sedang beristirahat sejenak setelah selama kurang lebih 2 jam mengambil siniar, atau yang lebih dikenal dengan sebutan podcast, rekaman audio yang dapat didengarkan oleh khalayak umum melalui media internet. Rupanya, mereka bertiga adalah orang-orang yang ada di balik layar Mangid Podcast, sebuah podcast yang lumayan dikenal oleh sebagian anak muda di Kabupaten Gianyar, Bali.

Eric Sanjaya, Adeycpx, dan Jusma Aria, itulah nama-nama mereka. Ketiganya sudah akrab sejak lama. Tahun 2011, Adey dan Jusma bersekolah di SMP yang sama, yaitu SMPN 1 Tegalalang. Tiga tahun berselang, Adey memilih SMAN 1 Ubud sebagai tempat mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah atas, sedangkan Jusma melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Tegalalang. Meski berpisah, keduanya masih menjalin hubungan yang baik. Nah, saat itulah, Jusma bertemu dengan Eric Sanjaya dan menjadi teman satu sekolah. 

Adey, Jusma, dan Eric dalm sesi take podcast

Tak hanya sampai di sana, mereka berdua juga menjadi teman satu kampus. Setelah tamat dari SMA, keduanya mendaftarkan diri di program studi yang sama di kampus yang sama, Keduanya sama-sama mengambil Teknologi Informasi di STIKOM Bali. Jusmalah yang kemudian memperkenalkan Eric kepada Adey, dan mereka bertiga pun menjadi teman baik, jalan bersama-sama, nongkrong bersama-sama, berproses bersama-sama, saling mendukung jika yang satu sedang kesusahan dan saling menyemangati ketika yang satu sedang sedih, Namun, yang sering terjadi adalah saling ejek dan saling menertawai satu sama lain. Tak apalah. Teman baik memang begitu adanya. 

Podcast yang mereka buat boleh dikata sangat ringan. Mereka dari awal membicarakan hal-hal kecil yang terjadi di kehidupan sehari-hari sampai ke topik yang sedang hangat terjadi di sekitar dan ramai dibicarakan orang-orang. Di podcast pertama misalnya, mereka hanya membicarakan diri masing-masing, namun dengan cara yang sangat jenaka. Cara mereka bercengkrama, bersenda gurau, berlawak-lawakan, berolok-olok adalah cara-cara sahabat pada umumnya.

Mendengar Obrolan mereka memang lumayan menggelitik. Kehangatan dan kedekatan di antara ketiganya bahkan dapat dirasakan saat mendengar podcast mereka bertiga. Mereka juga tak segan-segan membenturkan realita dan harapan yang terjadi, membicarakan keresahan yang mereka alami dalam memproduksi podcast, seperti pada episode “Ngelatih Mental Jangan Ospek, tapi Buat Podcast Gak Ada Yang Dengerin”.

Dari kiri ke kanan: Eric, Adey, dan Jusma berfoto bersama

Seandainya punya waktu senggang atau sedang bingung hendak melakukan apa, bolehlah sekali dua kali, atau berkali-kali podcast mereka didengarkan. Tinggal ketik “Mangid Podcast” di kolom pencarian, kemudian pilih podcast dengan foto 3 orang laki-laki berpose di tengah-tengah kamar mand. Nah, itulah mereka. Itulah podcast yang mereka buat. Oh iya, jangan lupa klik Follow agar tidak ketinggalan update-update terbaru dari mereka.

Dari Ide Merchandise sampai Ide Bisnis Makanan

Sekitar tahun 2019, Eric, Adey, dan Jusma mulai berkumpul lagi untuk membicarakan sebuah gerakan bisnis. Waktu itu, pandemi covid-19 belum mewabah. Bali masih aman-aman saja, masih ramai, masih penuh dengan kunjungan wisatawan, baik wisatawan dalam negeri maupun mancanegara. Mereka bertiga hendak menjual berbagai produk merchandise bertemakan Bali yang bisa menjadi pilihan oleh-oleh bagi para wisatawan yang datang ke Bali. Kebetulan juga, Ibunya Eric memiliki sebuah toko oleh-oleh di sekitaran Ubud. 

“Modelnya seperti baju I Love Bali, Bintang, Barong, kaya gitu lho. Tapi kita maunya buat dengan design yang berbeda. Dan ngemasarinnya di sana. Ke bule-bule. Design-design yang lain kan sebenarnya sudah standar ya. Nah kita maunya buat design yang berbeda tapi pasarnya sama. Design-design yang berbeda dari yang ada di pasaran lah. Mungkin bisa mirip-mirip.tapi tetep target pasarnya sama” ujar Jusma, atau yang terkadang dipanggil Kupang oleh kedua temannya itu menjelaskan dengan intonasi yang bagus. Ia sepertinya sudah sering berbicara dengan banyak orang.

Sayangnya, karena sesuatu dan lain hal, serta pertimbangan-pertimbangan tertentu, ide untuk membuat merchandise Bali tersebut tidak bisa terealisasikan. Setelah dipikir-pikir lagi, akhirnya mereka memutuskan untuk berbisnis di bidang makanan. Mereka ingin menjual rice box dengan berbagai varian rasa, dari lauk tradisional sampai lauk kekinian, seperti olahan ayam dengan saus salted egg atau barbeque. Tak berselang lama, bisnis tersebut pun berhasil mereka jalankan. Mereka menjual rice box tersebut dengan nama Ngajeng Kuy. Jika diartikan ke bahasa Indonesia, Ngajeng Kuy sendiri berarti sebuah ajakan untuk makan, semisal “Ayo makan”, atau “Makan Yuk”. Nama yang sangat cocok disematkan untuk bisnis makanan yang mereka jalankan. 

Kolaborasi Mangid bersama Suksma Coffee membuka Open Booth di sebuah acara kampus di Denpasar

Sebelum open booth perdana di salah satu acara kampus di Kota Denpasar,  Ngajeng Kuy meminta pendapat banyak orang. Mereka bertiga membagikan tester kepada keluarga, sahabat, teman-teman, sampai temannya teman, semua penasaran ingin mencicipi secara langsung. Katanya, rice box mereka enak, tak kalah dengan rice box lain di luar sana. Mendengar hal tersebut, mereka bertiga kemudian semakin memantapkan niat untuk open booth. Sayangnya,  kenyataan yang terjadi ternyata lebih pahit dari harapan yang ada. Produksi saat itu lebih besar daripada penjualan. Yang ada adalah sebuah kerugian. Mereka seperti pemancing yang sedang boncos, tidak mendapat ikan sama sekali.

Kerugian tersebut membawa suasana yang dingin di tengah-tengah ketiganya. Mereka saling membisu dalam waktu yang lumayan lama. Hal tersebut sebenarnya sangat bisa dimaklumi. Waktu itu, mereka masih muda. Ego mereka sedang tinggi-tingginya, saling menyalahkan satu sama lain sampai akhirnya mereka belajar dari kesalahan yang dibuat bersama.

Mereka boleh saja bersedih, tapi tidak menyerah begitu saja. Mereka kemudian mengubah konsep, dari yang awalnya berjualan sendiri lalu mulai berkolaborasi, bergandeng tangan dengan Suksma Coffee. Kebetulan, salah seorang sepupunya Eric menjadi owner dari kedai kopi tersebut. Kebetulan juga, saat itu ada sebuah event yang diadakan oleh kampus tempat Eric dan Jusma menimba ilmu. Mereka pun akhirnya open booth di sana. Keuntungannya dibagi rata, setengah ke mereka, setengah lagi ke Suksma Coffee. Setelah itu, mereka tetap open booth di event-event yang lain. Sampai akhirnya pandemi covid-19 mewabah di Indonesia dan akhirnya mereka lama berdiam di rumah masing-masing. 

Memulai Podcast

Setelah sekian purnama berlalu, akhirnya mereka bertemu kembali bertiga. Di sana Adey kemudian mencetuskan ide untuk membuat sebuah podcast. Saat itu, podcast memang sedang sangat hype di Indonesia. Eric awalnya skeptis dengan hal tersebut, begitu juga Jusma, tidak terlalu bersemangat. Namun Adey tak pernah berhenti mencoba meyakinkan keduanya. 

“Pokoknya ikut-ikut saja, coba-coba saja. Take pertama kita pun lewat HP. Waktu itu Agustus 2020. Episode pertama kita judulnya the introduction. Nah setelah itu kita rajin nge-take-nya. Setiap minggu kita take. Kebetulan waktu itu juga tidak terlalu banyak kegiatan seperti sekarang. Masih kuliah-kuliah saja. Kuliah juga gitu-gitu saja. Akhirnya nyari kegiatan lain terus buatlah podcast.” ujar Adey sambil sesekali bermesraan dengan pacarnya. Sungguh, kehangatan di antara keduanya berpotensi membuat iri siapa saja yang melihatnya.

Merchandise Mangid Podcast

Mereka bertiga memilih Mangid Podcast sebagai nama yang akan digunakan terus ke depannya. Tak banyak yang tahu apa arti kata Mangid. Namun, kata mereka, kata Mangid sudah sangat lumrah dan dikenal banyak orang, khususnya di Gianyar. Mangid berarti nakal, jahil, bandel, tidak terkendali, tidak dapat diatur, tidak taat, hiperaktif, yang suka bermain-main, dan sebagainya.

Lewat nama itu, mereka ingin memberitahu dunia bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat suka bermain bersundagurau, sangat suka melakukan pergerakan, dan suka mendobrak hal-hal tertentu. Analogi seperti membuat sebuah lukisan. Jika orang-orang biasanya melukis di atas kanvas, maka orang-orang Mangid akan melukis di atas tembok. Kalau pun ada orang yang meminta mereka diam, kalem, tenang, polos, dan sebagainya, sudah pasti mereka tidak akan bisa, karena pada dasarnya, mereka adalah orang-orang Mangid, alias tidak bisa diam. Ke-mangid-an mereka bisa dilihat dari projek-projek yang sudah mereka buat, salah satunya adalah podcast ini.

Adey, yang waktu itu memakai baju kaos bertuliskan “Fuck Adey” kembali bercerita. Katanya, mereka bertiga sempat take podcast sampai akhir tahun. Kemudian memulai Season 2 namun hanya sempat 3 kali take sebelum vakum selama kurang lebih 6 bulan. 

Vakumnya mereka bukan karena kehabisan ide, kehilangan semangat, atau sebagainya. Tapi karena sedang mempersiapkan merchandise bertemakan Mangid People. Lagi-lagi, ide ini dicetuskan oleh Adey. Ia ingin membeli alat-alat yang memang mendukung untuk perkembangan podcast mereka, seperti microphone, mixer, dan lain-lain.

Caranya adalah dengan menjual merchandise berupa baju kaos dengan sistem open PO (pre order). Mereka terlebih dahulu harus benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang, mulai dari design baju yang akan dibuat, bahan yang akan digunakan, tempat yang akan memproduksi, dan masih banyak lagi. Di awal-awal, mereka tidak mau berekspektasi terlalu besar. Takut kecewa lagi seperti kerugian yang terjadi sebelum-sebelumnya. Untungnya, ada banyak yang berminat untuk membeli merchandise mereka, dan keuntungan yang didapat pun sangat lumayan. Cukup untuk membeli alat-alat penunjang podcast yang mereka inginkan. Puji Syukur, saat ini mereka sudah take podcast dengan alat-alat yang sangat mendukung.

Ide-Ide Baru dan Manfaat yang Dipetik

Sebagai kelompok/grup yang bergerak di bidang kreatif, rasanya tidak lengkap jika tidak ada ide-ide baru di setiap prosesnya. Eric, Jusma, dan Adey juga mencoba ide-ide baru untuk mengembangkan podcast mereka. Mereka membuat segmen bertajuk “Kle Nok”, sebuah episode khusus yang mengundang orang-orang tertentu untuk berbagi insight dan wawasan mereka kepada para pendengar.. Topik yang dibicarakan lebih mengkhusus pada hal-hal tertentu saja. Eric dan Adey juga punya segmen sendiri, namanya MGND TALK. Di sana mereka berdua mengobrol apa saja, dengan cara mereka yang jenaka.

Ada juga segmen dengan nama Mangid Take Over alis Mangid Podcast diambil alih oleh orang lain. Di sana, mereka bertiga tidak ikut menjadi pembawa acara/pembawa podcast, tapi digantikan sementara oleh guest star atau bintang tamu tertentu. Dengan kata lain, mereka bertiga mengundang Host Tamu untuk menggantikan mereka sementara. Dari segmen-segmen yang mereka buat, harapannya Mangid Podcast semakin dikenal luas dan semakin didengar oleh banyak orang. Kedua segmen tersebut masih sering dilakukan, terlebih Mangid Podcast pernah berganti akun karena suatu dan lain hal, sehingga mereka harus mengulang kembali algoritma dari awal agar podcast mereka didengar banyak orang.

Lewat Mangid Podcast yang mereka bangun bersama ini, masing-masing dari mereka secara pribadi mengaku mendapat manfaatnya masing-masing. Eric Sanjaya misalnya, pria jangkung dengan tinggi badan 180 cm itu mengaku podcast membantunya untuk mengasah kemampuan public speaking pada dirinya. 

“Kalau aku secara pribadi sih ngerasa Mangid Podcast ini memberikan maaft. Skill public speaking jadi nambah. Jadi meningkat. Sekarang jadi lebih percaya diri jugakalau missal harus berbicara kepada publik atau berbicara di hadapan umum. Kalau dulu tu agak kacau. Agak gak berani ngomong karena ngerasa gak bagus.” Ujar Eric. Akhir-ahir ini ia memang sering bertemu dan berhadapan dengan orang banyak, terutama saat ia dipercaya menjadi koordinator live streaming di acara bergengsi Ubud Writers and Readers Festival tahun lalu.

Sesi ngobrol bersama membahasa proses kreatif di balik Mangid Podcast dan sebagainya

Beda lagi dengan Jusma, ia merasa memiliki pergaulan yang lebih luas karena mengenal dan berteman dengan orang-orang baru yang menjadi bintang tamu di podcast mereka. Dari sana, ia juga belajar banyak hal. Karena satu orang membawa satu perspektif yang berbeda. Semakin banyak perspektif, semakin banyak pula hal yang bisa diketahui. Semakin banyak hal yang diketahui, semakin bertambah juga pengetahuan dan wawasannya. Meski bukan wawasan yang prestigious seperti ilmu ekonomi, ilmu sosial, ilmu politik dan sebagainya, baginya hal tersebut sudah cukup untuk lebih membukakan pikirannya dan membantunya memandang suatu hal dari sudut yang lebih luas. Ia juga mengaku mendengar cerita orang-orang adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.

Di sisi lain, lewat Mangid Podcast Adey mengaku menjadi lebih produktif. Jika ada waktu luang, ia bisa menghabiskan waktu luangnya dengan proses yang kreatif. Lebih baik membuat podcast ketimbang buang-buang waktu melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Saat berproses kreatif membuat podcast, ia juga menjadi lebih profesional saat menghadapi suatu masalah. Adey adalah orang yang memiliki banyak ide dan semangat yang tinggi. Ketika ide-idenya tidak mendapat respon dari Eric dan Jusma, tidak mungkin ia langsung memusuhi mereka begitu saja. Sedih sudah pasti, kesal sudah tentu, namun ia tetap profesional mencoba menyambungkan pemikiran ketiganya, meski sesekali mereka saling membisu saat sebelum mengambil podcast. Pada dasarnya, mereka bertiga memang saling berselisih paham, namun tak sampai berlarut-larut menjadi musuh, karena mereka bertiga tahu apa yang harus mereka lakukan.

Berbagai Respon dan Rencana ke Depan

Ada banyak respon yang mereka dapatkan saat pertama kali meluncurkan Mangid Podcast. Beberapa teman-teman mereka mendukung dan mengapresiasi apa yang telah dan apa yang masih mereka kerjakan. Sebagian lagi sepertinya belum terlalu paham dengan podcast. Masih banyak yang beranggapan podcast hanya ada di youtube. Padahal podcast juga bisa dinikmati di platform lain, Spotify misalnya. Nah, ada juga yang beranggapan harus memiliki Spotify Premium agar bisa mendengarkan podcast mereka. Padahal, Mangid Podcast dapat didengarkan secara gratis, baik dengan Spotify biasa ataupun Spotify Premium. Ada juga orang-orang yang mungkin merendahkan podcasct mereka. Dianggap tidak menghasilkan apa-apa, hanya buang-buang waktu, dan sebagainya.

Bagi Eric, Jusma, dan Adey, Mangid Podcast memang belum membawa penghasilan, namun segala sesuatu memang harus dikerjakan dari awal, secara pelan-pelan, tidak mengharapkan penghasilan begitu saja. Yang terpenting proses yang mereka jalani dan mereka bisa belajar dari kesalahan yang ada untuk memperbaiki diri dan bisa menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

Ke depannya, mereka berencana untuk mengembangkan Mangid Podcast ke ranah yang lebih luas. Tidak hanya dengan audio saja, tapi juga dengan visual. Sehingga podcast mereka menjadi lebih menarik, bisa diunggah di youtube, dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Tentu saja, mereka masih akan mengeksplorasi ide-ide baru yang bisa menjadikan podcast mereka lebih baik lagi dan lebih berkualitas lagi.

Jalanan sudah benar-benar lenggang. Waktu itu pukul 00.30 Wita. Hari dan tanggal sudah berganti. Mata mereka juga terlihat berat, ingin beristirahat. Obrolan mereka sudah cukup banyak, pun sudah cukup padat. Karena sudah dirasa cukup hari itu, mereka kemudian memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang, mereka bertiga saling mengingatkan satu sama lain “Besok ketemu lagi. Masih banyak PR yang harus dikerjakan”. [T]

Tags: hiburanMangid Podcastmedia sosialPodcast
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sandyagita “Ranu Murti”, Kisah Perjalanan Air dalam Nyanyian, Musik dan Tari

Next Post

Cerita Pohon Prasi di Nusa Penida | Dulu Jadi “Mimis Bedil”, Kini Nyaris Tak Dikenal

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Cerita Pohon Prasi di Nusa Penida | Dulu Jadi “Mimis Bedil”, Kini Nyaris Tak Dikenal

Cerita Pohon Prasi di Nusa Penida | Dulu Jadi “Mimis Bedil”, Kini Nyaris Tak Dikenal

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co