4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mie Pangsit Merta Sari, Legenda Mie dari Kawasan Taman Lila Singaraja

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
November 12, 2021
in Khas
Mie Pangsit Merta Sari, Legenda Mie dari Kawasan Taman Lila Singaraja

Ko Tji Kang di depan Rumah Makan Merta Sari

Layaknya kota lain di Bali, Singaraja juga tak luput dari serangan kuliner pop. Hal ini bisa terlihat dari menjamurnya gerai makan kekinian yang tidak hanya fokus dalam menjual makanan, namun juga menjadikannya tempat nongkrong yang mengasyikan bagi selera kaum milenial. Lidah pelanggan tidak hanya dimanjakan dengan cita rasa, namun juga fasilitas perangkat wifi gratis untuk penambah alasan agar mereka betah tinggal berlama-lama dan memesan makanan lagi dan lagi.

Satu di antara olahanan makanan yang ditawarkan adalah mie. Bahkan di Singaraja sendiri ada banyak gerai makanan yang khusus menjual olahan mie kekinian. Untuk urusan selera dan rasa, kini hadir berbagai varian mie dengan keunikan selera pedas yang dibagi menjadi berlevel-level dan bahkan dengan nama-nama yang unik, mie setan misalnya.

Namun tunggu dulu, sebelum mie-mie kekinian ini bermunculan, ternyata di Singaraja terdapat olahan mie yang bisa dianggap legenda kuliner dan masih ada hingga hari ini. Tidak sedikit orang dari luar daerah datang khusus ke Bali Utara untuk menikmati kuliner yang satu ini.

Mau tahu mie apa itu? Jawabannya adalah mie pangsit di Warung atau Rumah Makan Merta Sari. Masakan yang masuk kategori chinese food ini menjadi legenda di Bali Utara. Pangsit sendiri dibuat dari adonan berbahan dasar tepung terigu yang dibentuk sedemikian rupa dengan cincangan daging babi di dalamnya.

***

Beberapa waktu yang lalu, saat jam istirahat kantor, saya memutuskan untuk pergi mencari makan siang. Sedari awal, saya tidak pernah berpikir kalau nantinya saya akan mampir di sebuah tempat makan yang terletak di kawasan Taman Lila itu. Namanya adalah Merta Sari, tepatnya di Jalan A. Yani No. 25 D Taman Lila, Singaraja Bali.

Derap kaki saya melangkah ke tempat makan yang terletak di paling pojok timur Kawasan Taman Lila. Dengan perut yang keroncongan, saya masuk diantara pintu tua yang berwarna biru menuju meja makan yang sangat bersih, mengkilat dan sudah berjejer rapi, lengkap dengan kursi tua. Kursi itu konon sudah ada sebelum sang pengelola lahir.

Tempat ini memang dibiarkan seperti sedia kala, tentu saja untuk merawat kenangan-kenangan lama, sembari berharap tempat ini akan berjaya kembali seperti saat sang kakek mulai merintisnya.

Ko Tji Kang, dialah pengelola tempat makanan ini, bersama adiknya Ko Tji Go. Mereka melanjutkan usaha ini dengan dedikasi yang sangat tinggi, merawat tempat sekaligus merawat resep warisan leluhur. Mereka mengambil alih usaha ini sejak tahun 2006, tepat saat ayah mereka yang bernama Tan Kok Pwee pergi untuk selamanya.

Mie pangsit di Rumah Makan Merta Sari

Ko Tji Kang, pria yang memiliki anak semata wayang ini sangat ramah, dia menghampiri saya untuk memberikan daftar menu mulai dari makanan hingga minuman. Saat itu saya memesan bakwan campur babi, isinya bakwan, mie dan pangsit tentunya dengan baluran kuah kaldu balung babi. Saya memesan dengan sepiring nasi putih ditemani teh hangat.

Saya sangat menikmatinya, secara perlahan saya mengambil kuahnya dengan sendok sembari menyeruputnya. Lalu saya tambahkan sedikit sambal, dan kecap manis Meliwis yang sudah tersedia di meja.

Saya nikmati bagian per bagian mulai dari mie, bakwan, hingga pangsitnya. Benar-benar nikmat dan lezat. Semua tercampur dengan sempurna, dan lidah terasa dimanjakan dengan kenikmatan tiada tara. Tak terasa hidangan telah habis, sementara saya menunggu beberapa saat membiarkan semua makanan tercerna dengan sempurna.

***

Terbersit kemudian keinginan untuk mengobrol lebih jauh dengan Ko Tji Kang, sembari mengulik lebih jauh cerita di balik tempat makan ini. Oleh Ko Tji Kang saya dipersilahkan untuk pindah tempat duduk dan dia membuatkan kopi Bali untuk bisa kami nikmati bersama.

Tak diketahui pasti oleh Ko Tji Kang, kapan rumah makan Merta Sari didirikan oleh almarhum sang kakek, Tan Thian Tjhoei. Hanya saja dia memperkirakan kalau rumah makan ini sudah ada sebelum ayahnya, alm. Tan Kok Pwee, lahir di tahun 1946. Jadi, bisa dikira-kira bahwa usia dari rumah makan ini sudah sekitar 75 tahun lebih.

Saya baru tahu ternyata menu makanan yang menjadi andalan di tempat ini adalah mie pangsit. Sayang sekali saya mengetahuinya setelah saya menikmati bakwan campur babinya. Tapi saya berjanji, beberapa hari lagi saya akan datang lagi kesana untuk mencicipi mie pangsit pavorit di tempat ini bersama keluarga sambil merayakan hari ulang tahun istri.

Jangan diragukan lagi, soal resep, hingga saat ini Ko Tji Kang dan adiknya sangat serius, detail dan teliti soal rasa, kualitas bahan dan cara pengerjaan. Mereka memastikan bahan yang digunakan dalam kualitas yang sangat segar, tidak boleh ada bahan makanan yang basi dan semua dibuat seperlunya.

Bagi mereka, kualitas adalah segalanya, dan itu yang menjadi keyakinan mereka untuk menjaga kesetiaan dari pelanggan yang sudah berpuluh-puluh tahun mempercayakan seleranya pada tempat makan ini. Kulit pangsit, mie dan juga bakwan mereka buat sendiri, bahkan Ko Tji Kang menyampaikan pada saya bahwa alat yang digunakan untuk membuat bahan makanan ini masih menggunakan alat tradisonal warisan kakeknya.

Ko Tji Kang menambahkan bahwa kegemarannya terhadap keterampilan memasak sudah terpatri sejak dia masih kecil, dia sangat senang membantu ayahnya dalam menyiapkan menu yang dipesan oleh pelanggan mereka kala itu.

Bagi Ko Tji Kang, memasak itu adalah seni menikmati proses, tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan instan dan semua itu mesti harus disajikan dengan mengikuti kata hati, romantis dan spiritual sekali bukan?

***

Beberapa hari setelah kunjungan pertama, akhirnya tepat saat perayaan hari ulang tahun istri, tanggal 07 Nopember 2021 saya menepati janji untuk mampir kembali menikmati makan malam di tempat ini. Saya dijamu oleh Ko Tji Go. Saya memutuskan untuk memesan mie pangsit, sementara istri memesan kolobak bersama nasi putih.

Saya menyampaikan kepada istri perihal sejarah perjalanan rumah makan ini, istri sangat terheran-heran karena sudah puluhan tahun lamanya usaha ini bisa terus bertahan walau ditengah himpitan selera pasar yang kian berkembang. Mereka tetap konsisten dengan nilai-nilai yang mereka peroleh dari leluhurnya, dan menolak menyerah untuk urusan kualitas.

Setelah beberapa lama, Ko Tji Go datang dengan menu yang sudah kami pesan. Kami menikmati hidangan yang ada, istri menikmati kolobak dengan nasinya, sementara saya menikmati mie pangsit dengan menyeruput kuah mie pangsitnya telebih dahulu. Rasa kuahnya tidak terlalu sepek seperti masakan Bali pada umumnya. Rasanya sangat lembut.

Tetapi soal rasa tetap diserahkan kepada penikmat. Kalau mau pedas, tinggal tambah sambal, kalau mau manis tambah kecap manis, begitu juga dengan asin. Kemerdekaan rasa diserahkan kepada kita. Semangkuk mie pangsit ini dijual dengan harga Rp. 18.000.

Lantas saya menikmati mienya secara pelahan, rasanya sangat datar, akan lebih berasa jika dinikmati bersama dengan kuahnya. Rasa pangsit juga seperti itu, lembut dan teksturnya sangat halus, kecuali kita mengigit bagian dari daging isi dari pangsitnya, sangat gurih.

Ada hal yang menarik yang mesti saya ceritakan, bahwa masakan di tempat ini menggunakan perasa alami yang langsung dibuat dari olahan sari tebu, jadi sangat aman bagi kesehatan. Sekadar informasi tambahan, tempat ini buka setiap hari, mulai jam 9 pagi hingga 9 malam (kecuali hari raya Chinese). [T]

Tags: bulelengkulinerkuliner legendarisSingarajaTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Run To Care” Bersama 900 Pelari, Tempuh 150 KM, Bangkitkan Semangat Ribuan Anak SOS Children’s Villages Indonesia

Next Post

Puisi-puisi I Made Suantha | Silaturrahmi Kupukupu

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi I Made Suantha | Silaturrahmi Kupukupu

Puisi-puisi I Made Suantha | Silaturrahmi Kupukupu

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co