12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bola dan Kegagalan yang Menghantui

Komang Adnyana by Komang Adnyana
May 5, 2021
in Ulasan
Bola dan Kegagalan yang Menghantui

Foto darisitus uefa.com

Laga pertama semifinal Liga Champions 2020-2021 baru berjalan sembilan menit, ketika Timo Werner mendapat umpan cantik dari Christian Pulisic dalam kondisi yang begitu bebas di kotak penalti Real Madrid. Lalu jeger! Alih-alih menjadi gol, tendangan volinya justru mengarah tepat ke kaki kiper Los Blancos, Thibaut Courtouis.

What a big miss. A sitter missed.

Ibarat makanan empuk yang sudah terhidang di piring, tinggal menyendok dan menyuapkannya ke mulut saja, sendok masih bisa meleset. Media Inggris yang terkenal nyinyir, pundit, dan penggemar Chelsea, ramai-ramai menyayangkan peluang yang disia-siakan itu (terlepas dari penyelamatan yang dilakukan Courtouis). Sementara penggemar Madrid barangkali juga tertawa terkekeh-kekeh meledek Werner yang belakangan memang rajanya gagal mengkonversi peluang menjadi gol. Bahkan sekumpulan vidio soal peluang-peluang yang disia-siakannya sepanjang musim ini bisa dengan mudah ditemukan di youtube.

Lalu jelang leg kedua semifinal di Stamford Bridge Kamis (06/05) ini, banyak yang berandai-andai sekaligus bertanya-tanya. Andai saja tembakan Werner menjadi gol, andai saja The Blues bisa lebih klinis di depan gawang, andai saja dominasi mereka di pertandingan yang berakhir dengan imbang 1-1 itu bisa lebih dimaksimalkan, barangkali, iya… barangkali… langkah mereka menatap leg kedua sekaligus untuk lolos ke final akan lebih ringan. Keunggulan satu gol tandang saja jelas bukanlah modal yang cukup signifikan untuk bisa menghentikan tim sekelas Madrid yang sarat pengalaman di Liga Champions.   

Andai nanti Madrid berhasil mencetak satu gol saja di Stamford Bridge, sementara mesin gol Chelsea kembali seret atau bahkan mandul, dan Chelsea benar-benar gagal ke final, tidakkah tim kota London ini akan menyesali peluang Werner yang terbuang sia-sia di leg pertama? Tidakkah itu akan menjadi semacam penyesalan massal untuk para penggemar Si Biru, begitu juga untuk Werner sendiri?

Sepakbola, sekalipun dia permainan strategi, mungkin memang selalu berkelindan antara harapan-harapan, mimpi-mimpi, pengandaian-pengandaian, hiburan dan tak luput juga kesalahan, kegagalan sekaligus penyesalan. Selalu ada aksi-aksi heroik yang diharapkan bisa melampaui ambang keterbatasan sekaligus juga pengingat akan keterbatasan.

“Ada jutaan orang dengan hal yang lebih berat lainnya untuk dihadapi, daripada sekadar peluang yang disia-siakan itu. Inilah bagusnya olahraga, tak akan ada yang peduli hal itu besok.”

Thomas Tuchel, pelatih Chelsea, sebagaimana dikutip Daily Mail, boleh saja berkata begitu, untuk menghibur Werner dan menyemangati anak asuhnya. Tapi sepakbola mencatat, beberapa kesalahan dan kegagalan yang membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya bisa menyesal sekaligus mengalami malam-malam panjang yang menyesakkan, dan tidur yang tak enak bahkan setelah mereka tidak lagi aktif bermain.

 “Bahkan sampai hari ini, aku masih terjaga di tengah malam, dan bertanya-tanya, “oh kenapa”. Antara jam dua atau jam tiga pagi. Aku mengalami banyak hal bagus, tapi satu hal itu tetap saja mengganggu.”

John Terry, mantan kapten Chelsea bercerita dalam salah satu wawancara dengan media Inggris tahun lalu. Terry mengenang upayanya mengeksekusi penalti saat melawan Manchester United di final Liga Champions 2008. Di Moskow kala itu, harusnya tendangan Terry bisa membawa Chelsea merengkuh tropi Si Kuping Besar untuk pertama kalinya sepanjang sejarah setelah di pihak lawan, eksekusi penalti Cristiano Ronaldo gagal.

Naas, permukaan lapangan yang licin karena hujan, dan strateginya mengubah caranya mengeksekusi penalti menjadi mirip gaya panenka justru membuat keseimbangan tubuhnya buruk. Alhasil, ia pun terpeleset. Bola menggelincir ke samping kiri mistar gawang Edwin Van der Sar. Sang kapten tak bisa menahan emosi dan berurai air mata melihat kapten United kala itu, Rio Ferdinand yang justru akhirnya mengangkat trofi juara.

Bahkan disebut-sebut, momen yang dikenal sebagai John Terry’s penalty slip ini menjadi salah satu cikal bakal munculnya era meme-meme lucu yang kemudian bersliweran di lini masa media sosial setiap kali ada kejadian menarik di dunia olahraga. Ada juga yang menyebutnya sebagai kelahiran komedi gelap online dalam dunia sepakbola. Sesuatu yang berat dalam sejarah karier sang pemain tentunya, namun kenangan manis sekaligus lucu bagi suporter rival.    

 Tapi sebagai penggemar Chelsea, saya juga pernah ikut-ikutan terhibur ketika ramai-ramainya orang membicarakan tentang terpelesetnya Steven Gerrard yang dianggap sebagai pemicu kegagalan Liverpool meraih gelar Liga Premier Inggris pada 2014 yang sejatinya sudah dinanti-nantikan sejak lama. Musim masih menyisakan tiga pertandingan ketika itu, dan The Reds unggul lima poin atas Chelsea di puncak klasemen. Kemenangan dari Chelsea akan menambah jarak di pucuk klasemen sekaligus cukup hasil imbang sebetulnya untuk membuat Chelsea keluar dari kontestasi juara.

Apes, di penghujung babak pertama, dalam kondisi tanpa tekanan, Gerrad salah mengantisipasi umpan Mamadou Sakho, dan saat mencoba mengejar, ia terpeleset, bola lebih dulu diserobot Demba Ba untuk kemudian menjebol gawang Simon Mignolet. Chelsea menang 2-0, dan di akhir musim Manchester City yang juara. Jarang sekali skipper sekelas Gerrard melakukan kesalahan mendasar seperti itu, apalagi di saat-saat krusial. Sontak media heboh, pundit heboh, dan betapa tipis batas antara pihak yang pedih dan ria. The agony and the ecstasy. Bahkan hingga kini, insiden Gerrard’s slip ini masih sering sekali menjadi bahan cemoohan antar suporter. Potongan klipnya bersliweran di sana-sini.

“Aku sudah mengacuhkannya, tapi terus saja kembali, sepanjang waktu,” kata Gerrard mengenang peristiwa itu, bertahun-tahun setelahnya, setelah dia jadi manajer Rangers sekali pun. “Kariermu membawamu ke titik rendah sesekali. Akan mudah jika bisa seperti mengangkat karpet, lalu membenamkan dibawahnya dan kita tidak pernah memikirkannya lagi. Tapi aku pikir itu tidak akan pernah terjadi,” lanjutnya lagi, sembari mencoba berdamai.

Membandingkan peluang yang disia-siakan Werner, dengan kegagalan dua orang itu, dan juga masih banyak lagi mungkin kegagalan dan kesalahan pemain lain pada momen-momen yang jauh lebih krusial, barangkali tak berimbang dan tak penting-penting amat mengingat dampaknya yang memang belum terasa saat ini. Toh, baru fase semifinal. Tapi satu kesamaan yang bisa jadi ingin dinikmati sebagai penggemar sepakbola, adalah determinasi setelah kegagalan itu. Determinasi.

Tulisan kecil ini pasti bias, karena saya penggemar Chelsea. Tapi tak mengapa. Tak ada yang meragukan pengalaman Madrid, rajanya Eropa dengan 13 gelar Liga Champions dan juara empat kali dalam tujuh musim terakhir, plus sederet pemain sarat pengalaman. Los Blancos dan Zinedine Zidane tidak akan bertamu ke Stamford Bridge tanpa rencana dan tidak akan mudah menyerah sebagaimana mereka menyingkirkan Liverpool.

Saya masih berharap, Chelsea bisa meredam trio gelandang Luka Modric, Toni Kroos, dan Casemiro seperti laga pertama, meski disadari, tak mungkin mereka mau terjebak pada hal yang sama untuk kedua kalinya (bermain high pressing dan meninggalkan lubang di lini tengah). Pun untuk urusan menjaga lebih ketat striker veteran macam Karim Benzema, yang dalam sepersekian detik kesempatan bisa mengubah keadaan. Dan syukur-syukur setelah laga kedua berakhir nanti, saya tidak memiliki banyak pengandaian yang menggantung-gantung dan menghantu-hantui.  [T]

Tags: ChelseaLIga ChampionReal Madridsepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GeNose dan Tahu Bulat Digoreng Dadakan

Next Post

Arya Sugiartha & Kun Adnyana | Dua Pendekar Seni Tukaran Kursi dan Pedang

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Arya Sugiartha & Kun Adnyana | Dua Pendekar Seni Tukaran Kursi dan Pedang

Arya Sugiartha & Kun Adnyana | Dua Pendekar Seni Tukaran Kursi dan Pedang

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co