14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bola dan Kegagalan yang Menghantui

Komang Adnyana by Komang Adnyana
May 5, 2021
in Ulasan
Bola dan Kegagalan yang Menghantui

Foto darisitus uefa.com

Laga pertama semifinal Liga Champions 2020-2021 baru berjalan sembilan menit, ketika Timo Werner mendapat umpan cantik dari Christian Pulisic dalam kondisi yang begitu bebas di kotak penalti Real Madrid. Lalu jeger! Alih-alih menjadi gol, tendangan volinya justru mengarah tepat ke kaki kiper Los Blancos, Thibaut Courtouis.

What a big miss. A sitter missed.

Ibarat makanan empuk yang sudah terhidang di piring, tinggal menyendok dan menyuapkannya ke mulut saja, sendok masih bisa meleset. Media Inggris yang terkenal nyinyir, pundit, dan penggemar Chelsea, ramai-ramai menyayangkan peluang yang disia-siakan itu (terlepas dari penyelamatan yang dilakukan Courtouis). Sementara penggemar Madrid barangkali juga tertawa terkekeh-kekeh meledek Werner yang belakangan memang rajanya gagal mengkonversi peluang menjadi gol. Bahkan sekumpulan vidio soal peluang-peluang yang disia-siakannya sepanjang musim ini bisa dengan mudah ditemukan di youtube.

Lalu jelang leg kedua semifinal di Stamford Bridge Kamis (06/05) ini, banyak yang berandai-andai sekaligus bertanya-tanya. Andai saja tembakan Werner menjadi gol, andai saja The Blues bisa lebih klinis di depan gawang, andai saja dominasi mereka di pertandingan yang berakhir dengan imbang 1-1 itu bisa lebih dimaksimalkan, barangkali, iya… barangkali… langkah mereka menatap leg kedua sekaligus untuk lolos ke final akan lebih ringan. Keunggulan satu gol tandang saja jelas bukanlah modal yang cukup signifikan untuk bisa menghentikan tim sekelas Madrid yang sarat pengalaman di Liga Champions.   

Andai nanti Madrid berhasil mencetak satu gol saja di Stamford Bridge, sementara mesin gol Chelsea kembali seret atau bahkan mandul, dan Chelsea benar-benar gagal ke final, tidakkah tim kota London ini akan menyesali peluang Werner yang terbuang sia-sia di leg pertama? Tidakkah itu akan menjadi semacam penyesalan massal untuk para penggemar Si Biru, begitu juga untuk Werner sendiri?

Sepakbola, sekalipun dia permainan strategi, mungkin memang selalu berkelindan antara harapan-harapan, mimpi-mimpi, pengandaian-pengandaian, hiburan dan tak luput juga kesalahan, kegagalan sekaligus penyesalan. Selalu ada aksi-aksi heroik yang diharapkan bisa melampaui ambang keterbatasan sekaligus juga pengingat akan keterbatasan.

“Ada jutaan orang dengan hal yang lebih berat lainnya untuk dihadapi, daripada sekadar peluang yang disia-siakan itu. Inilah bagusnya olahraga, tak akan ada yang peduli hal itu besok.”

Thomas Tuchel, pelatih Chelsea, sebagaimana dikutip Daily Mail, boleh saja berkata begitu, untuk menghibur Werner dan menyemangati anak asuhnya. Tapi sepakbola mencatat, beberapa kesalahan dan kegagalan yang membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya bisa menyesal sekaligus mengalami malam-malam panjang yang menyesakkan, dan tidur yang tak enak bahkan setelah mereka tidak lagi aktif bermain.

 “Bahkan sampai hari ini, aku masih terjaga di tengah malam, dan bertanya-tanya, “oh kenapa”. Antara jam dua atau jam tiga pagi. Aku mengalami banyak hal bagus, tapi satu hal itu tetap saja mengganggu.”

John Terry, mantan kapten Chelsea bercerita dalam salah satu wawancara dengan media Inggris tahun lalu. Terry mengenang upayanya mengeksekusi penalti saat melawan Manchester United di final Liga Champions 2008. Di Moskow kala itu, harusnya tendangan Terry bisa membawa Chelsea merengkuh tropi Si Kuping Besar untuk pertama kalinya sepanjang sejarah setelah di pihak lawan, eksekusi penalti Cristiano Ronaldo gagal.

Naas, permukaan lapangan yang licin karena hujan, dan strateginya mengubah caranya mengeksekusi penalti menjadi mirip gaya panenka justru membuat keseimbangan tubuhnya buruk. Alhasil, ia pun terpeleset. Bola menggelincir ke samping kiri mistar gawang Edwin Van der Sar. Sang kapten tak bisa menahan emosi dan berurai air mata melihat kapten United kala itu, Rio Ferdinand yang justru akhirnya mengangkat trofi juara.

Bahkan disebut-sebut, momen yang dikenal sebagai John Terry’s penalty slip ini menjadi salah satu cikal bakal munculnya era meme-meme lucu yang kemudian bersliweran di lini masa media sosial setiap kali ada kejadian menarik di dunia olahraga. Ada juga yang menyebutnya sebagai kelahiran komedi gelap online dalam dunia sepakbola. Sesuatu yang berat dalam sejarah karier sang pemain tentunya, namun kenangan manis sekaligus lucu bagi suporter rival.    

 Tapi sebagai penggemar Chelsea, saya juga pernah ikut-ikutan terhibur ketika ramai-ramainya orang membicarakan tentang terpelesetnya Steven Gerrard yang dianggap sebagai pemicu kegagalan Liverpool meraih gelar Liga Premier Inggris pada 2014 yang sejatinya sudah dinanti-nantikan sejak lama. Musim masih menyisakan tiga pertandingan ketika itu, dan The Reds unggul lima poin atas Chelsea di puncak klasemen. Kemenangan dari Chelsea akan menambah jarak di pucuk klasemen sekaligus cukup hasil imbang sebetulnya untuk membuat Chelsea keluar dari kontestasi juara.

Apes, di penghujung babak pertama, dalam kondisi tanpa tekanan, Gerrad salah mengantisipasi umpan Mamadou Sakho, dan saat mencoba mengejar, ia terpeleset, bola lebih dulu diserobot Demba Ba untuk kemudian menjebol gawang Simon Mignolet. Chelsea menang 2-0, dan di akhir musim Manchester City yang juara. Jarang sekali skipper sekelas Gerrard melakukan kesalahan mendasar seperti itu, apalagi di saat-saat krusial. Sontak media heboh, pundit heboh, dan betapa tipis batas antara pihak yang pedih dan ria. The agony and the ecstasy. Bahkan hingga kini, insiden Gerrard’s slip ini masih sering sekali menjadi bahan cemoohan antar suporter. Potongan klipnya bersliweran di sana-sini.

“Aku sudah mengacuhkannya, tapi terus saja kembali, sepanjang waktu,” kata Gerrard mengenang peristiwa itu, bertahun-tahun setelahnya, setelah dia jadi manajer Rangers sekali pun. “Kariermu membawamu ke titik rendah sesekali. Akan mudah jika bisa seperti mengangkat karpet, lalu membenamkan dibawahnya dan kita tidak pernah memikirkannya lagi. Tapi aku pikir itu tidak akan pernah terjadi,” lanjutnya lagi, sembari mencoba berdamai.

Membandingkan peluang yang disia-siakan Werner, dengan kegagalan dua orang itu, dan juga masih banyak lagi mungkin kegagalan dan kesalahan pemain lain pada momen-momen yang jauh lebih krusial, barangkali tak berimbang dan tak penting-penting amat mengingat dampaknya yang memang belum terasa saat ini. Toh, baru fase semifinal. Tapi satu kesamaan yang bisa jadi ingin dinikmati sebagai penggemar sepakbola, adalah determinasi setelah kegagalan itu. Determinasi.

Tulisan kecil ini pasti bias, karena saya penggemar Chelsea. Tapi tak mengapa. Tak ada yang meragukan pengalaman Madrid, rajanya Eropa dengan 13 gelar Liga Champions dan juara empat kali dalam tujuh musim terakhir, plus sederet pemain sarat pengalaman. Los Blancos dan Zinedine Zidane tidak akan bertamu ke Stamford Bridge tanpa rencana dan tidak akan mudah menyerah sebagaimana mereka menyingkirkan Liverpool.

Saya masih berharap, Chelsea bisa meredam trio gelandang Luka Modric, Toni Kroos, dan Casemiro seperti laga pertama, meski disadari, tak mungkin mereka mau terjebak pada hal yang sama untuk kedua kalinya (bermain high pressing dan meninggalkan lubang di lini tengah). Pun untuk urusan menjaga lebih ketat striker veteran macam Karim Benzema, yang dalam sepersekian detik kesempatan bisa mengubah keadaan. Dan syukur-syukur setelah laga kedua berakhir nanti, saya tidak memiliki banyak pengandaian yang menggantung-gantung dan menghantu-hantui.  [T]

Tags: ChelseaLIga ChampionReal Madridsepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GeNose dan Tahu Bulat Digoreng Dadakan

Next Post

Arya Sugiartha & Kun Adnyana | Dua Pendekar Seni Tukaran Kursi dan Pedang

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Arya Sugiartha & Kun Adnyana | Dua Pendekar Seni Tukaran Kursi dan Pedang

Arya Sugiartha & Kun Adnyana | Dua Pendekar Seni Tukaran Kursi dan Pedang

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co