25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Utang | Cerpen Rastiti Era

Rastiti Era by Rastiti Era
April 10, 2021
in Cerpen
Utang | Cerpen Rastiti Era

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Tiga hari berbaring di tempat tidur membuat kepalaku pusing. Aku masih ingat malam itu cuaca dingin menusuk jari-jemariku hingga bergetar. Aku merasa tidurku akan nyenyak karena udara dingin ini membuat selimut tebalku menjalankan perannya dengan baik. Tapi malam itu bukanlah malam yang aku impikan. Malam itu berubah mencekam saat panas tiba-tiba merasuki diriku yang terbalut selimut tebal. Tak seperti biasanya aku merasakan anomali semacam ini. Leherku terasa tercekik dan keringat mengucur dari dahiku. Badanku terasa kaku dan bibirku kelu tak bersua. Mataku terasa menangkap sesuatu. Aku tak bisa membuka mata dalam ketakutan. Tapi aku tahu, ada sesuatu; makhluk berdiri tepat di hadapanku.

***

Pagi itu, aku dibangunkan oleh panggilan seorang wanita paruh baya yang datang ke rumahku, suara yang kukenal namun tak ingin kudengar, “Men Putu, keluar sebentar, aku mau pinjam seratus ribu pakai beli banten. Anakku otonan besok,” begitulah kalimat yang sekiranya aku dengar.

Aku yang masih setengah sadar tidak menghiraukan hal itu, tapi aku mendengar suara langkah kaki menuju pintu. Pasti ibuku yang menghampiri wanita paruh baya itu.

 “Mih, Mbok Kadek, pagi-pagi gini di mana aku dapet uang? Ke pasar aja belum, lagi pula aku harus bayar spp-nya Putu, Mbok. Maaf, ya,” kata ibuku yang jelas kutahu.

Dengan memelas, wanita paruh baya yang dipanggil “Mbok” alias kakak perempuan itu membalas kata-kata ibu, “Mih, lihat dong, segini susah saudaramu, apa ngga bisa ditunda dulu bayar spp-nya Putu? Jugaan lagi lama Putu ujian.” Seketika mataku terbuka lebar saat namaku disebut oleh wanita paruh baya yang biasa kupanggil “Men Kadek”.

Ibuku memasuki rumah dan memberikan uang kepada Men Kadek. Embel-embel “nyama” alias saudara membuat ibu tidak tega membiarkan kakak sepupunya, yang merupakan janda beranak empat itu kebingungan mencari pinjaman uang.

Anak-anak Men Kadek masih kecil, yang sulung baru berumur 10 tahun dan adik-adiknya masing-masing berumur 7 tahun, 5 tahun, dan si bungsu baru 2 tahun. Suami Men Kadek, Pan Gede meninggal setahun lalu karena sirosis hati. Pan Gede seorang pemabuk keras yang suka keluyuran. Keluarga mereka tidak harmonis. Masalah selalu dapat celah untuk menghampiri mereka.

Dulu, hampir setiap malam aku mendengar mereka bertengkar, kebetulan rumah kami bersebelahan. Anak-anaknya sering menangis. Bapak dan ibuku sering mendatangi mereka untuk melerai pertengkaran atau paling tidak mengajak anak-anak Men Kadek untuk tinggal sementara di rumahku.

Sementara itu, Bapak lebih sering keluar kota karena pekerjaannya. Aku dan ibu hanya tinggal berdua. Ibuku tidak bekerja, hanya mengandalkan kiriman uang dari bapak. Sebenarnya jumlah uang kiriman bapak cukup banyak, namun begitulah, setiap kali ibu ada uang yang lebih dari cukup, Men Kadek selalu saja datang tiba-tiba membawa alasan untuk meminjam uang, dan hal yang sama selalu terulang, lalu ibu harus minta uang lagi ke bapak. Aku beberapa kali marah dan melarang ibu membantu Men Kadek, hanya saja ibu selalu mengatakan hal yang sama berkali-kali.

“Meme dari kecil tak punya orang tua, diasuh sama bapaknya Men Kadek. Sudah seharusnya sekarang Meme membantu Men Kadek. Hitung-hitung balas budi.”

Aku mengerti ibu ingin membalas budi atas apa yang diberikan Bapak dari Men Kadek, hanya saja aku melihat jelas bahwa Men Kadek benar-benar memanfaatkan ibu untuk menanggung semua masalahnya. Bahkan utang yang dia bayar pun hampir selalu kurang dari yang seharusnya. Ibu lagi-lagi harus bersabar dan mengikhlaskan sisanya. Aku sempat mengadu kepada bapak dan bapak geram. Tapi, tetap saja ibu tidak tega melihat janda beranak empat itu hidup tak berkecukupan.

Namun begitu aku pernah sekali waktu memergoki Men Kadek memperhatikan ibuku dengan wajah yang aneh. Kala itu ibu sedang menyapu halaman depan rumah, aku membuat pekerjaan rumah di teras, dan tak sengaja ekor mataku menangkap seseorang melintasi lalu berdiri di dekat gerbang dan aku yakin, orang itu berusaha bersembunyi. Aku pura-pura tidak melihatnya, perlahan aku menjadi yakin orang itu adalah Men Kadek. Ibuku yang sedang asik menyapu tak memperhatikannya sedikit pun, tapi aku bisa melihat gelagatnya yang aneh. Dia berdiri di dekat gerbang yang agak tertutup tanaman. Matanya fokus tertuju pada ibu. Beberapa kali dia melirik ke arahku dengan bola matanya yang mirip mata kucing. Ia sepertinya menyadari bahwa aku memperhatikan gelagatnya. Melihat mata itu, nyaliku menciut, kubiarkan ia tetap di sana tanpa berkata apa-apa pada ibu. Ibu mendekat ke gerbang, dan wanita itu sepertinya bersiap-siap menyapa atau disapa ibu. Benar saja, Ibu menyapa wanita itu, yang tetap saja berdiri di depan gerbang.

“Eh Mbok Kadek, aku ngga lihat kamu di sini. Ada apa, Mbok?”

“Eh…ee.. tidak, tidak apa-apa, Luh. Ee… Aku cuma lewat, hmm.. oh iya, tadi mau ke warung Bli Wayan beli kopi tapi kopinya habis. Aku balik dulu, Luh,” katanya seperti menyembunyikan sesuatu dan sial, mata itu menatapku lagi, walau hanya sekejap, lagi-lagi membuat nyaliku mengecil.  

“Ah masa sih, Mbok? Kayaknya baru kemarin dia nyetok kopi, katanya baru datang dari Banyuatis. Cepet sekali habis, ya?”

“Ya aku ngga tau juga, ee… balik dulu ya!”

“Iya, Mbok”.

Aku menaruh curiga dan akhirnya memutuskan untuk mendatangi warung yang ada di sebelah rumahku itu. Warung Pak Yan, warung yang paling lengkap, setidaknya itu yang kutahu, Pak Yan aku pikir tak pernah kehabisan dagangan, sebab dia selalu memperhatikan barang-barangnya yang menyusut dan warung ini merupakan satu-satunya warung di banjarku.

“Me, aku mau beli jajan di warung Pak Yan dulu ya, tugasku banyak dan aku capek ngerjain.”

Aku pergi ke warung Pak Yan berbekal curiga dan diam-diam melihat stok kopi yang rupanya seperti dugaanku, masih banyak. Sepertinya, sebanjar pun belanja ketika itu masih cukup, kopi kulihat berjejer di rak kayu yang kehitaman. Di atas kayu itu kulihat berbagai ukuran seperti kopi bungkus kiloan, setengah kilo, dan kopi sachet masih tergantung di depan warung. Kuputuskan segera pulang setelah membeli es krim dan sebungkus kacang. Bukan kepalang, sesampainya di rumah hatiku semakin tidak tenang. Entah perasaan apa yang tiba-tiba menyambarku.

Suatu hari aku berkunjung ke rumah tetangga yang mengadakan upacara adat. Sebagaimana kebiasaan di kampung, aku sebaiknya berkumpul bersama para tetangga agar tak dikata kuper, bisu, atau cap-cap lain yang tak mengenakkan. Ibu-ibu berkumpul menyiapkan banten dan berbagai persiapan upacara. Mereka duduk bersila di teras rumah yang cukup luas untuk menampung belasan orang. Entah mengapa, mereka pun sibuk membicarakan Men Kadek sebagaimana pikiranku yang selalu terbayang mata yang menatapku dari balik pagar. Dan betul saja, ibuku banyak mendapat nasehat dari tetangga yang sudah tahu kebiasaan Men Kadek, yang sering meminjam uang ke ibuku, yang mengembalikan sekenanya. Ibu hanya mengiyakan dan aku tahu, setelah obrolan itu selesai, ibu akan tetap seperti sebelumnya, meminjamkan uang ke Men Kadek, dan kelak menjadi obrolan lagi, dan begitu terus berulang.  

Aku bahkan beberapa hari lalu tidak sengaja mendengar ada tetangga yang mengatakan ibuku bisa saja diguna-guna oleh Men Kadek. Jika ibu mendengar itu, tentu saja ibu akan sangat sedih. Banyak tetangga yang curiga bahwa Men Kadek belajar ngeleak: ilmu hitam. Tiba-tiba Men Kadek datang dari pintu gerbang rumah di empunya acara. Langkahnya agak tergesa-gesa, mungkin dia sadar dia terlambat datang ke acara ini. Kamen yang dia gunakan agak melorot. Baju kaosnya pun agak lusuh seperti baru saja habis diremas.

Obrolan ibu-ibu itu berhenti seketika, dari yang tadinya sibuk berbisik dan saling mendekat, menjadi tiba-tiba bubar satu per satu. Beberapa orang nampak mencari kesibukan lain. Ada juga yang tiba-tiba mengaku kebelet pipis atau membantu kesibukan di dapur. Tetangga yang merasa canggung akhirnya menyapa Men Kadek dengan nada yang berpura-pura ramah. Air muka Men Kadek yang awalnya juga canggung perlahan nampak lebih santai. Acara pun berlanjut, aku membantu tetanggaku menyiapkan segala persiapan upacara.

Sesampainya di rumah, sekali lagi aku bertanya pada ibuku “Me, sudah dengar kata tetangga? semua sudah tahu, Meme belum paham juga?  Kalo aku jadi Meme aku ngga bakal ngasi Men Kadek minjem uang. Bapak juga udah capek ngeliat tapi kasian sama Meme. Aku tak suka ada orang yang buat Meme susah gini!”

Ibu tak menjawab dan melihat ke arah pintu. Tiba-tiba, di sana berdiri Men Kadek dengan bola mata itu lagi, tapi kali ini lebih lebar seakan merangsek keluar dari kelopaknya. Sorot matanya tajam seperti pisau yang baru diasah. Nafasnya tak teratur. Aku diam membisu. Matanya tepat mengarah padaku yang kaku berdiri di pintu rumah. Dia keluar dari halaman rumahku dengan langkah tergesa-gesa. Dan ibu menjadi pelamun setelah kejadian itu.

Malam itu, hawa kamarku sedikit lebih panas dari biasanya. Aku sudah sangat mengantuk, kelopak mata rasanya begitu berat, tapi aku tidak bisa tidur. Keringat bercucuran membasahi wajahku. Tiba-tiba leherku… leherku serasa tercekik. Aku ingin berteriak tapi entah kenapa sangat sulit bagiku untuk mengeluarkan suara. Aku melihat bayangan makhluk yang sangat menyeramkan. Bayangan itu seakan berada tepat di atas badanku yang terlentang di tempat tidur. Sial, aku tak bisa berteriak. Bayangan itu melebihi ukuran orang dewasa dengan badan yang kekar dan rambutnya terurai acak-acakan, tapi tinggi, melebihi orang dewasa umumnya, dan tak ada orang dewasa memiliki gigi panjang seperti itu.

Bayangan itu meloncat lalu seakan-akan menari di depanku. Geraknya lincah dan beberapa kali aku serasa mendengar tawa dalam tidurku. Aku menggigil. Ingin sekali rasanya aku bangun. Tapi aku bahkan tidak tahu apakah ini mimpi atau tidak. Tak lagi bisa kubedakan, mana mimpi mana kenyataan. Mata itu, mata kucing, mata pisau, mata yang ingin keluar itu, aku mengenalnya. Ya…ya…aku tahu mata itu. Mata itu pernah menatapku!

Dan Sepertinya kasurku sudah basah oleh keringat. Aku berusaha berteriak kencang. Tapi, aku tidak bisa melihat apa pun. Semuanya gelap. Semakin gelap dan setelah itu aku tak ingat apa-apa. Dari ibu, aku baru tahu, aku tak sadar selama tiga hari. Aku tidak mengerti, aku berusaha mengingat, tapi entah mengapa ingatan membawaku pada Men Kadek melihat ke arahku saat aku adu mulut dengan ibu di depan rumah. Pandangannya menyeramkan, seperti haus dan ingin melumatku habis-habis. Sejak itu juga kami tak pernah bertemu lagi dan ibu juga tak menceritakan apa-apa tentang Men Kadek yang tak pernah datang lagi. [T]

  • Banten: sarana upacara dalam agama Hindu
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Ruhma Ruksalana Huurul’in | Lakon Penari, Hikayat Serdadu

Next Post

Tatkala Pandemi, (Bali) Jangan Berhenti Menggelar Ritual Seni dan Budaya

Rastiti Era

Rastiti Era

Biasa dipanggil Era, adalah penikmat teh, kopi, susu, dan buku. Mengulas buku melalui Podcast Sahabat Buku. Kini tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Punya hobi unik: berteman dengan siapa saja. Silakan hubungi di Instagram @rastiti_era.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Tatkala Pandemi, (Bali) Jangan Berhenti Menggelar Ritual Seni dan Budaya

Tatkala Pandemi, (Bali) Jangan Berhenti Menggelar Ritual Seni dan Budaya

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co