28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu Inklusif Nusantara, Paham Eksklusif & Potensi Benturannya

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 13, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Akhir Tahun Śaka 1942


Pernahkah berpikir kenapa dalam sejarah panjang kedatangannya Hindu ke Nusantara tidak ada jejak benturan dengan suku-suku yang telah memiliki sistem religi kuno Nusantara?

Pernahkah bertanya kenapa Hindu (Sanatana Dharma) yang menyebar ke Nusantara tidak pernah berambisi menghapus nama atau istilah Sanghyang atau Hyang, atau nama-nama dalam bahasa Nusantara lainnya?

Kenapa tidak pernah pembawa ajaran Sanatana Dharma menyalahkan dan menganggap sesat kepercayaan pada leluhur yang telah mengakar di religi Nusantara?

Kenapa bahkan setelah suku-suku Nusantara menerima Hindu mereka tetap memelihara istilah kedewataan masing-masing suku, dan tumbuh bersama mengembangkan berbagai ritual yang telah ada, dipertahankan dan diterima sebagai bagian dari Hinduisme?

1.

Hinduisme yang berkembang dan menyebar di Nusantara adalah Hindu inklusif yang berpaham ADVAITA VEDANTA.

Berdasarkan bukti arkeologis, terhitung setidaknya semenjak tahun 300 Sebelum Masehi di sisi barat Sumatera, awal abad masehi di pulau Jawa, dan sekitar tahun 500 Sebelum Masehi ditemukan peninggalan pengaruh dagang Arikamedu (pusat perdagangan kuno India Selatan) di pesisir Bali Utara (tepatnya Julah-Sembiran), telah terjadi relasi damai India Kuno dan Nusantara.

Baik paham Saiwa (paham Siwa) dan Waisnawa (paham Wisnu dan awataranya) kuno yang berkembang di Nusantara berpaham ADVAITA VEDANTA. Apa itu advaita vedanta? Apa hubungannya dengan semangat inklusivisme Hindu Nusantara?

Secara umum bisa dijelaskan sbb:

Advaita sering diterjemahkan sebagai “non-dualitas,” tetapi terjemahan yang lebih memadai adalah “non-secondness.” Artinya, tidak ada realitas lain selain Yang Tertinggi (Brahman), bahwa “Realitas tidak dibentuk oleh bagian-bagian,” atau “Realitas tidak terbelah-belah”, maksudnya bahwa tidak ada dualitas antara Esensi, atau Wujud, dari Atman dan Brahman.

Kata Vedānta adalah komposisi dari dua kata Sansekerta: “Weda” mengacu pada ‘seluruh korpus teks Weda’ atau semua ajaran Weda tertulis dan lisan, dan kata “anta” berarti ‘akhir’. Arti dari “Vedānta” bisa disederhanakan sebagai ‘kulminasi dari veda’ atau “pengetahuan tertinggi dari veda”. Vedānta dalam filsafat Hindu merupakan salah satu dari enam aliran filsafat Hindu ortodoks.

Pandangan mendasar dari paham ADVAITA VEDANTA yang berkembang di Nusantara adalah apa pun yang disembah atau dipercaya oleh suku-suku di Nusantara, di balik nama-nama pujaan aau dewata yang disembah oleh suku-suku itu “ada landasan realitas terdalam yang hakiki” yang tidak lain dalam istilah Sanatana Dharma dikenal dengan nama Brahman.

ADVAITA VEDANTA — yang menjiwai Saiva Siddhanta yang teks dan ajarannya berkembang di Nusantara — adalah ajaran, sikap dan cara pandangan yang melihat bahwa suku-suku Nusantara dan bangsa lain di luar Bharata Warsa (India Kuno), apa pun nama dan kepercayaan kedewataan yang mengakui Yang Maha Mulia itu juga mendapat berkah, karunia atau anugraha dari Brahman. Brahman hadir memenuhi jagat raya dan semua di balik yang tampak dan yang tidak tampak, dan anugraha Brahman bekerja juga di kalangan mereka yang mungkin belum mengenal istilah Brahman.

Tidak masalah apakah seseorang tidak mengenal istilah Brahman, sepanjang ia mengenal dan memahami esensi yang dirujuk atau yang dimaksud dalam istilah Brahman, seseorang berpotensi bisa mencapai manunggal dengan Brahman. Bisa saja ia menyebut Sanghyang, kalau yang dirujuk adalah “esensi dan hakikat” yang sama dengan Brahman, ia telah memahami esensi dari Sanatana Dharma.

Oleh karena itu, masyarakat yang terlahir sebagai bagian dari tradisi suku Batak, Dayak-Kaharingan, Toraja, Kei, Sasak, Bali, Jawa-Sunda, dll, yang telah memeluk Hindu dari jaman lampau, sampai periode menjelang kemerdekaan tidak banyak yang mengenal istilah Brahman. Ini bukan ada masalah sama sekali. Sepanjang telah mengenal istilah dalam bahasa dan ungkapan lokal yang esensinya merujuk pada Yang Mutlak Tertinggi Tunggal Maha Segala-nya itu, maka sudah dengan sendirinya mengerti esensi Brahman yang dimaksud.

Dengan semangat inklusif tersebut para guru suci atau maharsi yang membawa ajaran Sanatana Dharma ke Nusantara tidak menggebu-gebu berambisi melakukan “Indianisasi” peristilahan dan ritual di Nusantara. Tugas utama dari para Rsi terdahulu adalah menemukan “spirit kesadaran Sanatana Dharma” yang tumbuh dalam religi-religi Nusantara, untuk kemudian dirawat dan didampingi, untuk bertumbuh mendewasa bersama dengan Sanatana Dharma.

2.

Para pembawa ajaran Siwaisme kuno, dan juga pembawa ajaran Saiwa-Wesnawa, yang semuanya berpaham ADVAITA VEDANTA, datang pertama kali ke Nusantara menerima dan mengakui keberadaan ruh-ruh dan konsepsi religi Nusantara yang telah ada. Para leluhur pembawa Sanatana Dharma berpaham Advaita Vedanta memahami bahwa ada kerja keilahian dan kemuliaan Brahman di balik semua religi-religi purba Nusantara. Sekalipun tidak menyebut Brahman, tapi menyebut dengan bahasa suku masing-masing, seperti Hyang Tunggal, Hyang Licin, Taya, dstnya, dipahami bahwa di baliknya ada keesaan dan kemanunggalan Brahman yang hakiki.

Aliran perguruan Sanatana Dharma yang berbasis garis silsilah perguruan (parampara) dan keluarga (gotra), seperti Agastya Gotra (parampara/silsilah diksa para pewaris ajaran Rasi Agastya) dan Markandeya Gotra (parampara/silsilah diksa para pewaris ajaran Rsi Markandeya) yang dipercaya sebagai pembawa ajaran Sanatana Dharma ke Nusantara secara prinsip menganut paham ADVAITA VEDANTA. Ajaran Saiwa dan Waisnawa tidak dipertentangkan, ditambah dengan Jina dan Buddhisme, dipertemukan dalam bingkai ADVAITA VEDANTA.

3.

Sementara itu, religi suku-suku Nusantara sebagian besar bersifat panteisme (pantheisme). Yang secara harafiah mengandung arti bahwa “Tuhan adalah Semuanya” dan “Semua adalah Tuhan”. Suku-suku di Nusantara punya kesadaran mendalam bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Maha Pencipta dan di dalamnya Maha Pencipta terus bekerja dalam alam dan diri manusia. Bahwa Alam Semesta, atau alam beserta isinya, termasuk manusia di dalamnya, dan Tuhan adalah “manunggal”.

Pandangan panteisme ini di kalangan suku-suku di Nusantara berbaur dengan pandangan panenteisme, yang meyakini bahwa alam adalah bagian dari Tuhan.

Pertemuan paham ADVAITA VEDANTA dengan religi suku-suku Nusantara — yang berkecenderungan memiliki pandangan panteisme yang berbaur dengan pandangan panenteisme — menyebabkan kedua belah pihak tidak pernah saling berbenturan, malah saling sambut, saling melengkapi. Dari sisi pandangan Siwaisme yang ADVAITA VEDANTA, religi purba Nusantara dilihat memiliki potensi kemuliaan yang mana di balik religi suku-suku ini ada esensi Brahman. Demikian juga dari sudut pandang suku-suku kuno Nusantara, kedatangan ajaran ADVAITA VEDANTA bukan ancaman, tapi melengkapi bahkan “menambahkan perbendaharaan Sungsungan/Sesembahan”. Jika disederhanakan, kalau sekelompok orang menganut paham panteisme diberitahu ada istilah Dewata lain dan konsepsi lain dengan berbagai dewa-dewa lain boleh dipilih sebagai dewata, maka pengetahuan kedewataan baru ini adalah “bonus”. Tambahan informasi yang memperkaya pemahaman yang telah mereka miliki. Bukan ancaman.

Sebagai contoh: Punden Berundak dan Menhir tidak dipertentangkan dengan Percandian dan Lingga. Pengarcaan dewata ajaran Sanatana Dharma tidak pernah dipertentangkan dengan pemuliaan “pratima suci” dari leluhur Nusantara. Keduanya adalah perwujudan luar yang bisa saling menggantikan. Semua ritual dan sebutan pada kedewataan dalam suku-suku Nusantara adalah “perbedaan bahasa” untuk memuliakan Hyang Maha Mulia, hakikat Dewata yang universal sama. Semua tatacara persembahyangan pada Mulajadi na Bolon,  Hyang Taya, Hyang Guru, Hyang Maha Mulia, yang ada dalam suku-suku Nusantara diterima sebagai cara memuliakan Brahman.

4.

Nusantara mungkin tidak akan pernah dijiwai Hinduisme jika saja yang dahulu datang adalah Hinduisme ekslusif. Apakah itu Hinduisme ekslusif? Hinduisme ekslusif adalah paham yang akarnya Hinduisme tapi berkembang dan mengarah belakangan mengusung ekslusivisme, menjadi fanatik menganggap satu nama Tuhan atau satu figur saja yang disembah kelompoknya yang “superior” dan yang lain dianggap “inferior” bahkan keliru.  Demikian juga dalam pembacaan teks suci atau interpretasi kitab, interpretasi kelompoknya disebut sebagai “superior”, paling dianggap benar, di luar kelompoknya dianggap “inferior”. Jika Hinduisme ekslusif yang datang ke Nusantara di masa lalu, maka tidak bisa dibayangkan Hinduisme bisa diterima di tengah suku-suku kuno di Nusantara. Hinduisme inklusif, bukan ekslusif, yang menorehkan sejarah penting yang penuh kedamaian dalam sejarah religi di Nusantara.

Beberapa suku di Nusantara yang sekarang secara formalnya menganut Hindu, masih cukup kuat memegang konsepsi religi kuno Nusantara, yang secara spirit berpaham panteisme, dan berbaur dengan pandangan panenteisme, hanya bisa nyaman dengan ajaran Hindu berpaham ADVAITA VEDANTA atau paham Hindu inklusif. Jika ada pihak-pihak yang membelokkan ke ajaran yang bersifat ekslusif, yang mengajarkan hanya satu interpretasi kitabnya saja yang paling benar, atau hanya satu nama Tuhan saja paling “superior”, bisa dipastikan akan ditolak dan memunculkan benturan internal umat.

5.

Inklusivisme Hindu di Nusantara telah melalui jalan panjang, berjalan dan bertumbuh bersama dengan religi-religi kuno suku-suku Nusantara, yang telah ada bertumbuh jauh sebelum kedatangan Hinduisme. Hanya dengan memahami dua sisi yang bisa saling berjumpa ini, dalam jiwa insklusivisme Hindu — bukan dengan mengembangkan dan menyebarkan ekslusivisme Hindu — masyarakat kita akan bertumbuh sehat tanpa benturan internal. Munculnya potensi benturan, terjadinya gesekan mengarah benturan, atau penolakan keras, serta kegaduhan internal umat Hindu di Nusantara bisa diinvestigasi dan bisa dimonitor titik sentrumnya terletak pada seberapa agresif penyebaran “Hindu berpaham ekslusif” menyebar dan berkembang, pasang ancang-ancang menguasai institusi dan komunitas Hindu di Indonesia. Ini bisa melebar, bukan akan menimbulkan kejadian benturan internal, tapi akan berkembang ke benturan eksternal dengan agama lain jika paham Hindu ekslusif berkembang menjadi paham mayoritas di kalangan Hindu di Nusantara.

Tags: hinduHindu InklusifHindu Nusantaraintelektual hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Next Post

Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails
Next Post
Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co