2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

AjeNg Bali Tour by AjeNg Bali Tour
March 13, 2021
in Esai
Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Okid Kres dan Yan Bero dalam video klip lagu Ogoh-ogoh

Apakah yang paling dinanti masyarakat Bali saat perayaan Nyepi? Tak lain tak bukan, jawabannya tentulah satu: Ogoh-ogoh! Boleh dikata ogoh-ogoh adalah salah satu perayaan terbesar, ter-serentak, tergawat yang bukan hanya digemari satu dua kelompok, melainkan seluruh lapisan masyarakat. Dari yang tua sampai muda, laki perempuan, dajan peken dauh peken, dan seantero wilayah Bali dari yang terpencar sampai yang terpencil.

Bicara soal ogoh-ogoh tentu tak bisa dilepaskan dari lagu Ogoh-ogoh yang dinyanyikan duo legendaris Okid Kres dan Yan Bero. Tak ada pecinta ogoh-ogoh yang tak tahu dengan lagu ini. Lagu yang populer di tahun 90-an ini adalah icon wajib yang biasanya diputar di radio, TV, dan balai banjar terdekat di kota semeton untuk memotivasi semangat para pemuda mengerjakan ogoh-ogoh. Seperti sayur tanpa garam, seperti dikau tanpa cinta dariku, demikian kehadiran lagu ogoh-ogoh selalu menggenapi perayaan menyambut pawai ogoh-ogoh.

Namun, tahukah semeton? Ternyata di balik lagu ogoh-ogoh ini, ada banyak misteri yang tersimpan di dalamnya. Misteri yang tak kalah seramnya dibandingkan fenomena ogoh-ogoh yang tiba-tiba hidup ketika dihaturkan canang. Misteri yang tak kalah misteriusnya dengan ending cerita Misteri Gunung Merapi bagaimana nasib Kalagondang di akhir cerita?

Berikut adalah beberapa misteri yang tersimpan di balik lagu Ogoh-ogoh.

Misteri Okid Kres dan Yan Bero

Sebagaimana yang tercantum dalam video klip ogoh-ogoh, lagu ini dinyanyikan oleh Okid Kres dan Yan Bero. Jika menelusuri jejak duo penyanyi ini, kita akan menemukan misteri di balik keduanya. Bagi semeton musisi balai banjar, tentu sudah tak asing lagi dengan lagu ‘Kidung Kasmaran’. Lagu yang populer dengan reff lagu suwe sampun beli mengantosang, yang kemudian ditimpali dengan kata beibeh! ini dinyanyikan oleh Okid Kres.

Siapakah Okid Kres? Mengutip dari blog seniman dewata, Okid Kres sebenarnya bernama asli I Nyoman Ardika (alm). Diko begitu kerap ia disapa, adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan Ni Ketut Netri dan I Ketut Retu Penyanyi kelahiran 18 Agustus 1961, mengenyam pendidikan di SD 8 Pemecutan, SLUB 1 Saraswati, SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa Denpasar) dan Universitas Udayana Jurusan Prodi Seni Rupa dan Desain Bidang Ilmu Seni Murni. Menikah pada Desember 1990. Mempunyai tiga orang putra yakni, I Putu Gita Aristia, I Made Ganis Santika, dan I Nyoman Gilang Gandira. Diko meninggal pada 17 September 2004 .

Sejak tahun 90-an, Okid Kres sudah mulai mengembangkan karya musiknya. Nama Okid Kres sendiri diambil dari nama panggilan Diko yang dibalik menjadi Okid. Yang menjadi misteri adalah, darimanakah sebenarnya kata Kres ini diambil? Apakah Kres berasal dari Kresendo, yang berarti perubahan dinamika dari suara lembut menjadi keras? Apakah itu juga yang membuat kedua lagu yang beda dinamika ini menjadi terkenal? Kidung Kasmara yang lembut meluluhlantakan hati dengan Ogoh-ogoh yang keras gagah perkasa?

Misteri lain adalah pasangan duet beliau, yaitu Yan Bero. Tak seperti Okid Kres yang sulit ditemukan biodatanya, Yan Bero bahkan sangat-sangat sulit dicari beritanya. Padahal kalau dilihat dalam skema musik, nama Yan Bero selalu disebut sebagai penyanyi top era 80-an bersama Ketut Bimbo, Yong Sagita, dan Yan Stereo. Yang lebih misterinya lagi, kenapa beliau menamai dirinya Yan Bero? Padahal vocal Yan Bero sendiri begitu pas padu mengental jadi satu kesatuan dengan Okid Kres yang terdengar legit di telinga.

____

Video Klip Lagu Ogoh-ogoh

___

Lirik Lagu Ogoh-ogoh

Misteri yang kedua adalah lirik lagu Ogoh-ogoh itu sendiri. Cobalah simak!


Tilem kesanga nyaluk sandikala

Bulane mengkeb di durin ambune

Galang obor traktak nyinarin gumi

Uyut suryak tetabuhan gambelan beleganjur, saling ceburin.


Sekancan kala, kali sewengkon Bali

Nyinahyang rupa ogah-ogah mecaling renggah

Ade ane merupa manusa muah raksasa

Ogah-ogah ogoh-ogoh kala-kali lumang-lumang

Ogah-ogah ogoh-ogoh ngiterin Desa

Ogah-ogah ogoh-ogoh kala-kali lumang-lumang

Ogah-ogah ogoh-ogoh ngiterin Kota


Jika dibaca, dapat dilihat begitu puitis sesungguhnya lagu Ogoh-ogoh ini Di dalamnya ada memakai personifikasi misalnya. Pada lirik bulane mengkeb di durin ambune, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti bulan yang sembunyi di balik awan. Di sini tampak bulan diumpamakan seumpama manusia yang bersembunyi. Pertanyaannya, kenapa bulan ini sembunyi? Apakah ia malu bertemu banyak orang? Atau takut dengan rupa ogoh-ogoh yang seram?

Menjadi misteri ketika membandingkannya dengan lirik lagu Bali kebanyakan saat ini yang memakai bahasa Indonesia campur-campur dengan bahasa Inggris. Pertanyaannya, apakah Okid Kres dan Yan Bero waktu itu tidak bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Apakah mereka saat itu belum mengenal les bahasa Inggris? Sehingga tidak ada kosakata yang mencampurkan lirik lagunya dengan bahasa Indonesia atau dengan bahasa Inggris?

Misteri Ogoh-ogoh Menaiki Roket

Dalam menit awal video, kita akan melihat Ogoh-ogoh Rakasasa kurus cungkring  tengah menaiki sebuah roket bertuliskan USA bergambar bendera Amerika. Apakah sebenarnya pesan yang ingin disampaikan? Ada konspirasi apakah di baliknya? Jika Ogoh-ogoh kita umpamakan sebagai simbol orang Bali, apakah di tahun tersebut ada rencana Bali ingin menjajah Amerika?

Misteri Koreo Ogoh-ogoh

Yang tak kalah menarik jika melihat video klip ogoh-ogoh, adalah sorot wajah para penabuh beleganjur. Khususnya pada pemuda yang memegang klenong. Tampak dalam video ia tengah cemberut. Pertanyaannya, apa sesungguhnya penyebab ia bisa cemberut? Apakah karena sebenarnya ia ingin jadi pemukul gong? Karena jika dilihat diantara semua penabuh, hanya pemain gong yang terlihat enjoy dan sangat bersemangat.

Beberapa koreo dari Okid Kres dan Yan Bero juga nampak belum serempak dan seirama. Misalnya dalam lirik ngeraris ida memargi, salah satu tangan penyanyi direntangkan ke kanan tapi agak lambat. Ada juga pada lirik ogah-ogah ogoh-ogoh, satu penyanyi terlalu cepat menengok kawan mainnya. Serta saat sampunang je ngerebeda salah satu tampak lebih cepat keluar dibanding yang lainnya.

Apakah itu memang model koreo Bali ala 90-an? Kalau demikian, tentu akan sangat berbahaya jika mereka bernyanyi, menari, atau menabuh dengan gaya seperti itu di zaman sekarang karena pasti para penabuh dan penyanyi ini tidak akan pernah lolos Pesta Kesenian Bali, yang mana koreografi penari dan penabuh diatur sedemikian rupa, sampai cara untuk mengulum senyumpun jadi tak ada beda satu sama lain.

Baju Ogoh-ogoh

Misteri lainnya adalah baju ogoh-ogoh yang dikenakan oleh para pemain dalam video klip. Apa sebenarnya tulisan lengkapnya? Adakah tulisannya sing punyah sing mulih? Atau I Love Tunang Timpal? Di manakah mereka menyablon kostum baju ogoh-ogoh ini? Bagaimana nasib tukang sablon ini sekarang? Apakah sudah masih bertahan di zaman covid ini? Atau sudah berganti bisnis menjadi pembuat endek? Mengikuti perkembangan zaman.

Terkahir, adalah misteri yang mimin sendiri begitu penasarannya setiap kali memutar video klip ogoh-ogoh dari tahun ke tahun, yakni yang mana sebenarnya Okid Kres? Yang mana sebenarnya Yan Bero? Keduanya terlihat mirip di mata mimin. Sudah tiang cari-cari gambar penyanyinya di google, di youtube, di facebook, jek tetap sing jelas… Mohon klarifikasinya… eh, petunjuknya maksudnya niki semetoooonnnn…… [T_T]

Tags: baliHari Raya NyepiLagu Pop Baliogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

CK, Nyepi dan Ogoh-Ogoh

Next Post

Hindu Inklusif Nusantara, Paham Eksklusif & Potensi Benturannya

AjeNg Bali Tour

AjeNg Bali Tour

Penyedia jasa tour & travel narasi Bali alternatif

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Hindu Inklusif Nusantara, Paham Eksklusif & Potensi Benturannya

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co