17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CK, Nyepi dan Ogoh-Ogoh

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
March 13, 2021
in Esai
Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]

Sewaktu SMA, ada candaan yang sempat populer di kalangan pelajar di Denpasar dalam merespon CK (circle K) sebagai tempat nongkrong anak muda 24 jam nonstop. Apabila semua tempat telah tutup, sementara kita masih ingin nongkrong, maka CK adalah jawaban paling tepat mengatasi masalah. Sebab CK selalu akan buka kapanpun, bahkan jika dunia kiamat. Yang mampu membuatnya tutup cuma satu: Nyepi! Terlebih, apabila CK berada pada jalur lintas ogoh-ogoh pada hari pengrupukan (sehari sebelum Nyepi), maka bisa dipastikan CK akan menutup lapaknya lebih awal dibarengi CK-CK lainnya.

Ketahanan CK yang terus menerus buka nonstop tentu patut diacungi jempol. Namun Nyepi yang mampu membuat CK tutup tak kalah jempolnya. Saya sengaja menyandingkan Nyepi dengan CK—bukan Nyepi dengan mall-mall, bandara, pelabuhan dan ruang publik lainnya—lantaran ada relasi yang saling tarik menarik antarkeduanya. Jika CK adalah ruang, maka Nyepi adalah waktu. Sebagai sebuah ruang, CK—serta minimarket sejenisnya—senantiasa hadir dalam keseharian. Kehadiran CK mampu menggeser posisi balai banjar sebagai tempat berkumpul anak muda Bali di masa lalu. Sementara Nyepi adalah waktu mengingatkan anak muda ini pulang menuju rumah. Berkumpul bersama keluarga untuk merayakan Catur Brata Penyepian.

CK membuka ruang pertemuan, dimana orang-orang bisa berkenalan satu sama lain hanya karena duduk di kursi yang sama; meminjam korek api; berpapasan di toilet; mengantri ketika kasir kebingungan mencari uang kecil untuk kembalian atau ketika sepasang kawan berjanji bertemu di depan CK, mengajak kawannya yang lain, lalu kawannya yang lain mengajak kawannya yang lain lagi, begitu seterusnya. Sedang Nyepi, justru berusaha menyekap akses ruang pertemuan ini. Menyediakan waktu bagi setiap orang untuk berkumpul intim dengan keluarga, menyediakan waktu renung buat bercakap dengan diri sendiri.

Dalam ‘pertarungan dua kontras ideologis’ CK dan Nyepi, yang tak kalah menarik adalah ketika kita mendudukkan posisi pengrupukan khususnya tradisi Ogoh-ogoh diantara keduanya. Jika CK adalah representasi dari ruang; Nyepi adalah representasi dari waktu; Jika Jika CK diibaratkan sebagai yang material, Nyepi boleh dikata sebagai yang eksistensial sedang Ogoh-ogoh adalah representasi ruang dan waktu itu sendiri; adalah representasi yang material sekaligus yang eksistensial.

Ogoh-ogoh menjadi representasi ruang dan waktu manakala mengusung rupa buta kala sebagai desain utama ogoh-ogoh. Sebagaimana yang kita ketahui, kala itu sendiri merupakan cerminan dari waktu. Kehadiran buta kala yang kasat mata dimaterialkan menjadi boneka raksasa ogoh-ogoh. Waktu yang dimaterialkan ini kemudian diusung dan diarak dalam setiap ruas ruang kehidupan masyarakat mulai dari balai banjar, jalanan, perempatan, hingga kuburan. Klimaksnya, di akhir arak-arakan, ogoh-ogoh dibakar jadi abu. Ogoh-ogoh yang semula dimaterialkan dibuat jadi tak ada.

Ketika  Nyepi dan Ogoh-ogoh dibaca sebagai sebuah kerja performatif, dimana masyarakat Bali ditempatkan sebagai penonton, sedang dunia yang sepi pada hari Nyepi; dunia yang riuh dan semarak saat Ogoh-ogoh diarak adalah pertunjukan itu sendiri, kita dapat merasakan perbedaan dramaturgi Nyepi dengan Ogoh-ogoh dalam menghadapi anasir luar yang hadir di Bali, yang dalam konteks ini disimbolkan sebagai CK.

Tak ada wilayah di Bali ini tanpa kehadiran CK atau minimarket sebangsanya. Sehari-hari, masyarakat senantiasa dihadapkan dengan sederet plang-plang berwarna merah-putih, kuning-merah-biru, hijau-kuning, dan beragam warna mencolok minimarket di sepanjang jalan tujuan. Nyepi jadi waktu buat kita untuk menghindari gempuran visual ini dengan cara menyepi, sedang Ogoh-ogoh seolah ingin menantang dengan membuat keriuhan.

Saat Nyepi, CK tutup lantaran adanya larangan adat, ditambah peraturan pemerintah yang seolah meneguhkan agama dan adat sebagai hierarki tertinggi yang mesti dihormati oleh segala macam kepentingan ekonomi, sosial dan politik. Sementara saat ogoh-ogoh diarak, tutupnya CK lebih banyak disebabkan karena kekhawatiran para pemilik dan pegawai CK yang akan menghadapi mobilitas masa pengarak dan penonton ogoh-ogoh.

Jika pawai ogoh-ogoh tercipta serupa festival-festival pariwisata pemerintah yang digelar biasanya, kehadiran masa pengarak dan penonton ogoh-ogoh tentu tentu jadi bernilai karena memberi keuntungan bagi CK dan minimarket sejenisnya. Sebagaimana masa festival umumnya, mereka mesti tunduk pada sirkulasi acara; gerak-geriknya terpantau melalui kamera CCTV, melalui pengawasan ketat tim keamanan; bahkan kapan dan dimana mesti parkir, berjalan, buang air kecil, berbelanja, hingga pemilihan spot pertunjukan dikontrol sedemikian rupa oleh panitia penyelenggara. Sedang pawai ogoh-ogoh bekerja dengan desain yang jauh berbeda.

Pawai ogoh-ogoh lebih banyak bergerak dalam serangkaian improvisasi pengarak dan penonton. Mulai dari area depan bank, mal, pertokoan yang sebelumnya tertutup rantai, tiba-tiba saja jebol menjadi tempat bebas parkir; jalan raya berubah fungsi jadi jalan masa pengarak dan penonton; area hijau tengah jalan jadi tempat istirahat; bahkan kerangka baliho jadi spot duduk paling asyik menyaksikan raksasa ogoh-ogoh digoyang-goyangkan, diputar setiap perempatan jalan; mendaki-daki lampu tinggi jalanan.

Segala peristiwa ini, termediasi dalam serangkaian improvisasi masa. Tak terbelenggu dengan sirkulasi acara, pantauan CCTV, pengawasan tim keamanan, atau segala macam aturan pihak penyelenggara. Maka masa-masa yang bergerak dalam kerja improvisasi ini, takkan bisa dikendalikan sebagaimana hari-hari biasanya. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Bagi CK, ini tentu bukan lagi keuntungan bagi mereka, melainkan musibah yang sedapat mungkin mesti dihindari.

Ogoh-ogoh dan Nyepi, meski keduanya sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, namun tampak mempunyai nalar kerja yang jauh berbeda, khususnya jika dikaitkan dengan eksistensi CK. Ogoh-ogoh menghadapkan kita pada dunia reflek yang penuh respon, bergerak berdasar intuisi dan serangkaian improvisasi. Saat CK tengah berusaha memenuhi setiap lahan publik masyarakat yang kosong, menggeser posisi balai banjar sebagai tempat alternatif berkumpul anak muda, ogoh-ogoh jadi sebab untuk mengaktivasi kembali fungsi balai banjar, menjadi simbol mobilitas bagaimana semestinya masa merespon kenyataan.

Sedang Nyepi adalah dunia refleksi, yang mencurigai kenyataan sebagai ilusi. Saat sebagian sudut jalanan dipenuhi cahaya lampu plang CK, kita diajak diam sejenak (amati lelungan), menyadari bahwa terang paling jujur adalah gelap (amati geni). Saat kebahagiaan diinterpretasi dengan nilai ekonomi, maka diam (amati karya) jadi alasan untuk memikirkan apa sesungguhnya kebahagiaan (amati lelanguan) sejati.

Ogoh-ogoh dan Nyepi, meski sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, namun keduanya tampak diinterpretasi dengan cara berbeda. Dalam surat edaran lembaga agama dan adat serta peraturan pemerintah, dikatakan pengarakan ogoh-ogoh 2021 ditiadakan. Dalam konteks pandemi Covid-19 yang melanda, tentu keputusan ini memang tidak dapat dihindarkan. Namun jika alasannya lantaran pengarakan ogoh-ogoh bukan merupakan rangkaian wajib Hari Suci Nyepi, alangkah ciutnya proyeksi kita memandang hari suci.

Tak bisakah kita menempatkan Ogoh-ogoh dan Nyepi sebagai perayaan yang sama sucinya? Sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, sama-sama memberi nilai masyarakat dalam menatap kenyataan Bali hari ini. [T]

Denpasar, 2021

KLIK ARTIKEL LAIN DARI WAYAN SUMAHARDIKA

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]
Tags: baliHari Raya Nyepiogoh-ogohrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Magnetisme Personal Antarpuisi Putri Adityarini–Manik Sukadana

Next Post

Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co