26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CK, Nyepi dan Ogoh-Ogoh

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
March 13, 2021
in Esai
Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]

Sewaktu SMA, ada candaan yang sempat populer di kalangan pelajar di Denpasar dalam merespon CK (circle K) sebagai tempat nongkrong anak muda 24 jam nonstop. Apabila semua tempat telah tutup, sementara kita masih ingin nongkrong, maka CK adalah jawaban paling tepat mengatasi masalah. Sebab CK selalu akan buka kapanpun, bahkan jika dunia kiamat. Yang mampu membuatnya tutup cuma satu: Nyepi! Terlebih, apabila CK berada pada jalur lintas ogoh-ogoh pada hari pengrupukan (sehari sebelum Nyepi), maka bisa dipastikan CK akan menutup lapaknya lebih awal dibarengi CK-CK lainnya.

Ketahanan CK yang terus menerus buka nonstop tentu patut diacungi jempol. Namun Nyepi yang mampu membuat CK tutup tak kalah jempolnya. Saya sengaja menyandingkan Nyepi dengan CK—bukan Nyepi dengan mall-mall, bandara, pelabuhan dan ruang publik lainnya—lantaran ada relasi yang saling tarik menarik antarkeduanya. Jika CK adalah ruang, maka Nyepi adalah waktu. Sebagai sebuah ruang, CK—serta minimarket sejenisnya—senantiasa hadir dalam keseharian. Kehadiran CK mampu menggeser posisi balai banjar sebagai tempat berkumpul anak muda Bali di masa lalu. Sementara Nyepi adalah waktu mengingatkan anak muda ini pulang menuju rumah. Berkumpul bersama keluarga untuk merayakan Catur Brata Penyepian.

CK membuka ruang pertemuan, dimana orang-orang bisa berkenalan satu sama lain hanya karena duduk di kursi yang sama; meminjam korek api; berpapasan di toilet; mengantri ketika kasir kebingungan mencari uang kecil untuk kembalian atau ketika sepasang kawan berjanji bertemu di depan CK, mengajak kawannya yang lain, lalu kawannya yang lain mengajak kawannya yang lain lagi, begitu seterusnya. Sedang Nyepi, justru berusaha menyekap akses ruang pertemuan ini. Menyediakan waktu bagi setiap orang untuk berkumpul intim dengan keluarga, menyediakan waktu renung buat bercakap dengan diri sendiri.

Dalam ‘pertarungan dua kontras ideologis’ CK dan Nyepi, yang tak kalah menarik adalah ketika kita mendudukkan posisi pengrupukan khususnya tradisi Ogoh-ogoh diantara keduanya. Jika CK adalah representasi dari ruang; Nyepi adalah representasi dari waktu; Jika Jika CK diibaratkan sebagai yang material, Nyepi boleh dikata sebagai yang eksistensial sedang Ogoh-ogoh adalah representasi ruang dan waktu itu sendiri; adalah representasi yang material sekaligus yang eksistensial.

Ogoh-ogoh menjadi representasi ruang dan waktu manakala mengusung rupa buta kala sebagai desain utama ogoh-ogoh. Sebagaimana yang kita ketahui, kala itu sendiri merupakan cerminan dari waktu. Kehadiran buta kala yang kasat mata dimaterialkan menjadi boneka raksasa ogoh-ogoh. Waktu yang dimaterialkan ini kemudian diusung dan diarak dalam setiap ruas ruang kehidupan masyarakat mulai dari balai banjar, jalanan, perempatan, hingga kuburan. Klimaksnya, di akhir arak-arakan, ogoh-ogoh dibakar jadi abu. Ogoh-ogoh yang semula dimaterialkan dibuat jadi tak ada.

Ketika  Nyepi dan Ogoh-ogoh dibaca sebagai sebuah kerja performatif, dimana masyarakat Bali ditempatkan sebagai penonton, sedang dunia yang sepi pada hari Nyepi; dunia yang riuh dan semarak saat Ogoh-ogoh diarak adalah pertunjukan itu sendiri, kita dapat merasakan perbedaan dramaturgi Nyepi dengan Ogoh-ogoh dalam menghadapi anasir luar yang hadir di Bali, yang dalam konteks ini disimbolkan sebagai CK.

Tak ada wilayah di Bali ini tanpa kehadiran CK atau minimarket sebangsanya. Sehari-hari, masyarakat senantiasa dihadapkan dengan sederet plang-plang berwarna merah-putih, kuning-merah-biru, hijau-kuning, dan beragam warna mencolok minimarket di sepanjang jalan tujuan. Nyepi jadi waktu buat kita untuk menghindari gempuran visual ini dengan cara menyepi, sedang Ogoh-ogoh seolah ingin menantang dengan membuat keriuhan.

Saat Nyepi, CK tutup lantaran adanya larangan adat, ditambah peraturan pemerintah yang seolah meneguhkan agama dan adat sebagai hierarki tertinggi yang mesti dihormati oleh segala macam kepentingan ekonomi, sosial dan politik. Sementara saat ogoh-ogoh diarak, tutupnya CK lebih banyak disebabkan karena kekhawatiran para pemilik dan pegawai CK yang akan menghadapi mobilitas masa pengarak dan penonton ogoh-ogoh.

Jika pawai ogoh-ogoh tercipta serupa festival-festival pariwisata pemerintah yang digelar biasanya, kehadiran masa pengarak dan penonton ogoh-ogoh tentu tentu jadi bernilai karena memberi keuntungan bagi CK dan minimarket sejenisnya. Sebagaimana masa festival umumnya, mereka mesti tunduk pada sirkulasi acara; gerak-geriknya terpantau melalui kamera CCTV, melalui pengawasan ketat tim keamanan; bahkan kapan dan dimana mesti parkir, berjalan, buang air kecil, berbelanja, hingga pemilihan spot pertunjukan dikontrol sedemikian rupa oleh panitia penyelenggara. Sedang pawai ogoh-ogoh bekerja dengan desain yang jauh berbeda.

Pawai ogoh-ogoh lebih banyak bergerak dalam serangkaian improvisasi pengarak dan penonton. Mulai dari area depan bank, mal, pertokoan yang sebelumnya tertutup rantai, tiba-tiba saja jebol menjadi tempat bebas parkir; jalan raya berubah fungsi jadi jalan masa pengarak dan penonton; area hijau tengah jalan jadi tempat istirahat; bahkan kerangka baliho jadi spot duduk paling asyik menyaksikan raksasa ogoh-ogoh digoyang-goyangkan, diputar setiap perempatan jalan; mendaki-daki lampu tinggi jalanan.

Segala peristiwa ini, termediasi dalam serangkaian improvisasi masa. Tak terbelenggu dengan sirkulasi acara, pantauan CCTV, pengawasan tim keamanan, atau segala macam aturan pihak penyelenggara. Maka masa-masa yang bergerak dalam kerja improvisasi ini, takkan bisa dikendalikan sebagaimana hari-hari biasanya. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Bagi CK, ini tentu bukan lagi keuntungan bagi mereka, melainkan musibah yang sedapat mungkin mesti dihindari.

Ogoh-ogoh dan Nyepi, meski keduanya sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, namun tampak mempunyai nalar kerja yang jauh berbeda, khususnya jika dikaitkan dengan eksistensi CK. Ogoh-ogoh menghadapkan kita pada dunia reflek yang penuh respon, bergerak berdasar intuisi dan serangkaian improvisasi. Saat CK tengah berusaha memenuhi setiap lahan publik masyarakat yang kosong, menggeser posisi balai banjar sebagai tempat alternatif berkumpul anak muda, ogoh-ogoh jadi sebab untuk mengaktivasi kembali fungsi balai banjar, menjadi simbol mobilitas bagaimana semestinya masa merespon kenyataan.

Sedang Nyepi adalah dunia refleksi, yang mencurigai kenyataan sebagai ilusi. Saat sebagian sudut jalanan dipenuhi cahaya lampu plang CK, kita diajak diam sejenak (amati lelungan), menyadari bahwa terang paling jujur adalah gelap (amati geni). Saat kebahagiaan diinterpretasi dengan nilai ekonomi, maka diam (amati karya) jadi alasan untuk memikirkan apa sesungguhnya kebahagiaan (amati lelanguan) sejati.

Ogoh-ogoh dan Nyepi, meski sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, namun keduanya tampak diinterpretasi dengan cara berbeda. Dalam surat edaran lembaga agama dan adat serta peraturan pemerintah, dikatakan pengarakan ogoh-ogoh 2021 ditiadakan. Dalam konteks pandemi Covid-19 yang melanda, tentu keputusan ini memang tidak dapat dihindarkan. Namun jika alasannya lantaran pengarakan ogoh-ogoh bukan merupakan rangkaian wajib Hari Suci Nyepi, alangkah ciutnya proyeksi kita memandang hari suci.

Tak bisakah kita menempatkan Ogoh-ogoh dan Nyepi sebagai perayaan yang sama sucinya? Sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, sama-sama memberi nilai masyarakat dalam menatap kenyataan Bali hari ini. [T]

Denpasar, 2021

KLIK ARTIKEL LAIN DARI WAYAN SUMAHARDIKA

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]
Tags: baliHari Raya Nyepiogoh-ogohrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Magnetisme Personal Antarpuisi Putri Adityarini–Manik Sukadana

Next Post

Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co