16 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

CK, Nyepi dan Ogoh-Ogoh

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
March 13, 2021
in Esai
Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]

Sewaktu SMA, ada candaan yang sempat populer di kalangan pelajar di Denpasar dalam merespon CK (circle K) sebagai tempat nongkrong anak muda 24 jam nonstop. Apabila semua tempat telah tutup, sementara kita masih ingin nongkrong, maka CK adalah jawaban paling tepat mengatasi masalah. Sebab CK selalu akan buka kapanpun, bahkan jika dunia kiamat. Yang mampu membuatnya tutup cuma satu: Nyepi! Terlebih, apabila CK berada pada jalur lintas ogoh-ogoh pada hari pengrupukan (sehari sebelum Nyepi), maka bisa dipastikan CK akan menutup lapaknya lebih awal dibarengi CK-CK lainnya.

Ketahanan CK yang terus menerus buka nonstop tentu patut diacungi jempol. Namun Nyepi yang mampu membuat CK tutup tak kalah jempolnya. Saya sengaja menyandingkan Nyepi dengan CK—bukan Nyepi dengan mall-mall, bandara, pelabuhan dan ruang publik lainnya—lantaran ada relasi yang saling tarik menarik antarkeduanya. Jika CK adalah ruang, maka Nyepi adalah waktu. Sebagai sebuah ruang, CK—serta minimarket sejenisnya—senantiasa hadir dalam keseharian. Kehadiran CK mampu menggeser posisi balai banjar sebagai tempat berkumpul anak muda Bali di masa lalu. Sementara Nyepi adalah waktu mengingatkan anak muda ini pulang menuju rumah. Berkumpul bersama keluarga untuk merayakan Catur Brata Penyepian.

CK membuka ruang pertemuan, dimana orang-orang bisa berkenalan satu sama lain hanya karena duduk di kursi yang sama; meminjam korek api; berpapasan di toilet; mengantri ketika kasir kebingungan mencari uang kecil untuk kembalian atau ketika sepasang kawan berjanji bertemu di depan CK, mengajak kawannya yang lain, lalu kawannya yang lain mengajak kawannya yang lain lagi, begitu seterusnya. Sedang Nyepi, justru berusaha menyekap akses ruang pertemuan ini. Menyediakan waktu bagi setiap orang untuk berkumpul intim dengan keluarga, menyediakan waktu renung buat bercakap dengan diri sendiri.

Dalam ‘pertarungan dua kontras ideologis’ CK dan Nyepi, yang tak kalah menarik adalah ketika kita mendudukkan posisi pengrupukan khususnya tradisi Ogoh-ogoh diantara keduanya. Jika CK adalah representasi dari ruang; Nyepi adalah representasi dari waktu; Jika Jika CK diibaratkan sebagai yang material, Nyepi boleh dikata sebagai yang eksistensial sedang Ogoh-ogoh adalah representasi ruang dan waktu itu sendiri; adalah representasi yang material sekaligus yang eksistensial.

Ogoh-ogoh menjadi representasi ruang dan waktu manakala mengusung rupa buta kala sebagai desain utama ogoh-ogoh. Sebagaimana yang kita ketahui, kala itu sendiri merupakan cerminan dari waktu. Kehadiran buta kala yang kasat mata dimaterialkan menjadi boneka raksasa ogoh-ogoh. Waktu yang dimaterialkan ini kemudian diusung dan diarak dalam setiap ruas ruang kehidupan masyarakat mulai dari balai banjar, jalanan, perempatan, hingga kuburan. Klimaksnya, di akhir arak-arakan, ogoh-ogoh dibakar jadi abu. Ogoh-ogoh yang semula dimaterialkan dibuat jadi tak ada.

Ketika  Nyepi dan Ogoh-ogoh dibaca sebagai sebuah kerja performatif, dimana masyarakat Bali ditempatkan sebagai penonton, sedang dunia yang sepi pada hari Nyepi; dunia yang riuh dan semarak saat Ogoh-ogoh diarak adalah pertunjukan itu sendiri, kita dapat merasakan perbedaan dramaturgi Nyepi dengan Ogoh-ogoh dalam menghadapi anasir luar yang hadir di Bali, yang dalam konteks ini disimbolkan sebagai CK.

Tak ada wilayah di Bali ini tanpa kehadiran CK atau minimarket sebangsanya. Sehari-hari, masyarakat senantiasa dihadapkan dengan sederet plang-plang berwarna merah-putih, kuning-merah-biru, hijau-kuning, dan beragam warna mencolok minimarket di sepanjang jalan tujuan. Nyepi jadi waktu buat kita untuk menghindari gempuran visual ini dengan cara menyepi, sedang Ogoh-ogoh seolah ingin menantang dengan membuat keriuhan.

Saat Nyepi, CK tutup lantaran adanya larangan adat, ditambah peraturan pemerintah yang seolah meneguhkan agama dan adat sebagai hierarki tertinggi yang mesti dihormati oleh segala macam kepentingan ekonomi, sosial dan politik. Sementara saat ogoh-ogoh diarak, tutupnya CK lebih banyak disebabkan karena kekhawatiran para pemilik dan pegawai CK yang akan menghadapi mobilitas masa pengarak dan penonton ogoh-ogoh.

Jika pawai ogoh-ogoh tercipta serupa festival-festival pariwisata pemerintah yang digelar biasanya, kehadiran masa pengarak dan penonton ogoh-ogoh tentu tentu jadi bernilai karena memberi keuntungan bagi CK dan minimarket sejenisnya. Sebagaimana masa festival umumnya, mereka mesti tunduk pada sirkulasi acara; gerak-geriknya terpantau melalui kamera CCTV, melalui pengawasan ketat tim keamanan; bahkan kapan dan dimana mesti parkir, berjalan, buang air kecil, berbelanja, hingga pemilihan spot pertunjukan dikontrol sedemikian rupa oleh panitia penyelenggara. Sedang pawai ogoh-ogoh bekerja dengan desain yang jauh berbeda.

Pawai ogoh-ogoh lebih banyak bergerak dalam serangkaian improvisasi pengarak dan penonton. Mulai dari area depan bank, mal, pertokoan yang sebelumnya tertutup rantai, tiba-tiba saja jebol menjadi tempat bebas parkir; jalan raya berubah fungsi jadi jalan masa pengarak dan penonton; area hijau tengah jalan jadi tempat istirahat; bahkan kerangka baliho jadi spot duduk paling asyik menyaksikan raksasa ogoh-ogoh digoyang-goyangkan, diputar setiap perempatan jalan; mendaki-daki lampu tinggi jalanan.

Segala peristiwa ini, termediasi dalam serangkaian improvisasi masa. Tak terbelenggu dengan sirkulasi acara, pantauan CCTV, pengawasan tim keamanan, atau segala macam aturan pihak penyelenggara. Maka masa-masa yang bergerak dalam kerja improvisasi ini, takkan bisa dikendalikan sebagaimana hari-hari biasanya. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Bagi CK, ini tentu bukan lagi keuntungan bagi mereka, melainkan musibah yang sedapat mungkin mesti dihindari.

Ogoh-ogoh dan Nyepi, meski keduanya sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, namun tampak mempunyai nalar kerja yang jauh berbeda, khususnya jika dikaitkan dengan eksistensi CK. Ogoh-ogoh menghadapkan kita pada dunia reflek yang penuh respon, bergerak berdasar intuisi dan serangkaian improvisasi. Saat CK tengah berusaha memenuhi setiap lahan publik masyarakat yang kosong, menggeser posisi balai banjar sebagai tempat alternatif berkumpul anak muda, ogoh-ogoh jadi sebab untuk mengaktivasi kembali fungsi balai banjar, menjadi simbol mobilitas bagaimana semestinya masa merespon kenyataan.

Sedang Nyepi adalah dunia refleksi, yang mencurigai kenyataan sebagai ilusi. Saat sebagian sudut jalanan dipenuhi cahaya lampu plang CK, kita diajak diam sejenak (amati lelungan), menyadari bahwa terang paling jujur adalah gelap (amati geni). Saat kebahagiaan diinterpretasi dengan nilai ekonomi, maka diam (amati karya) jadi alasan untuk memikirkan apa sesungguhnya kebahagiaan (amati lelanguan) sejati.

Ogoh-ogoh dan Nyepi, meski sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, namun keduanya tampak diinterpretasi dengan cara berbeda. Dalam surat edaran lembaga agama dan adat serta peraturan pemerintah, dikatakan pengarakan ogoh-ogoh 2021 ditiadakan. Dalam konteks pandemi Covid-19 yang melanda, tentu keputusan ini memang tidak dapat dihindarkan. Namun jika alasannya lantaran pengarakan ogoh-ogoh bukan merupakan rangkaian wajib Hari Suci Nyepi, alangkah ciutnya proyeksi kita memandang hari suci.

Tak bisakah kita menempatkan Ogoh-ogoh dan Nyepi sebagai perayaan yang sama sucinya? Sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, sama-sama memberi nilai masyarakat dalam menatap kenyataan Bali hari ini. [T]

Denpasar, 2021

KLIK ARTIKEL LAIN DARI WAYAN SUMAHARDIKA

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]
Tags: baliHari Raya Nyepiogoh-ogohrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Magnetisme Personal Antarpuisi Putri Adityarini–Manik Sukadana

Next Post

Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails
Next Post
Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Misteri di Balik Lagu Ogoh-Ogoh

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia
Panggung

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi
Panggung

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
Dari Duta SMA ke Duta Besar
Esai

Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026
Tualang

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co