2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Magnetisme Personal Antarpuisi Putri Adityarini–Manik Sukadana

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
March 13, 2021
in Ulasan
Magnetisme Personal Antarpuisi Putri Adityarini–Manik Sukadana

Penulis puisi adalah magnet. Segala peristiwa ditarik dan dipilah. Sepenuhnya penciptaan realitas hanya ada dalam mesin imajinasinya yang menghasilkan kontruksi psikologis berupa puisi. Dalam hal ini, puisi bekerja sebagai medium pertukaran realitas. Sakit hati ditukar dengan larik puisi, kerinduan ditukar sajak liris, dan luka duka dibalas romantik. Hal itu bisa disepakati sebagai magnetisme personal. William Atkinson menerangkan bahwa magnetisme personal ini sangat berkaitan dengan kesadaran, daya tarik mental, pengaruh pribadi, pesona, emosi, dan ide estetis. Kedua antologi terbitan Mahima Intitute ini tentu akan menarik minat pembacanya.

Pada antologi Sepasang Paket Pertemuan karya Putri Adityarini dan antologi Nanti, Kau Ingin Nama Anak Kita Siapa? karya Manik Sukadana, bila disandingkan dapat menciptakan pola-pola kesadaran magnestis personal. Di antaranya (1) kesadaran menarik peristiwa (2) kesadaran mengolah emosi, dan (3) kesadaran estetis. Ketiga hal ini memicu pembaca memasuki ingatan penulis tentang kriris diri, keraguan, juga kesabaran. Hal inilah yang menjadi magnestis personal seorang penulis puisi. Proses penguraian ingatan itu tentu dilakukan secara sadar oleh kedua penulis ini. Putri Adityarini dan Manik Sukadana mempunyai teknik dan rasa estetisnya sendiri. Cara kedua penulis merawat mental, dan mengeram penderitaan juga berbeda.

Pada antologi puisi Sepasang Paket Pertemuan karya Putri Adityarini, diksi yang dihadirkan begitu ramah, sabar, dan santun. Tidak ada niatan untuk mengingkari kaidah kebahasaan. Nampak jelas ranum peristiwa kemanusiaan yang ditariknya. Sedangkan puisi-puisi Manik Sukadana menawarkan hal-hal misterius. Masih ada peluang yang luas untuk diinterpretasikan. Contoh pada puisi berikut,


Kaki-kaki mereka serupa mata kail

tertancap kuat pada tanggul-tanggul penjaga pantai

 atau pada mulut ikan

hasil tarian para nelayan  (Anak-Anak Pelabuhan , hal.1)


Puisi Anak-Anak Pelabuhan ini hasil dari Putri Adityarini membidik ingatannya. Kemudian dengan kesadaran, emosi  diolah menjadi diksi yang matang dan jelas acuannya. Berbeda suasananya dengan diksi-diksi dari Manik Sukadana,


Kutuangkan tetes permata.

Suap tawa. Jeda melampau.

Sudahkah bulir bintang itu mencapai ujung rambut

     lautmu?

Hanya aku yang tak tahu (Hidangan Pertama, hal.6)


Pada puisi Hidangan Pertama terlihat Manik membidik ingatan yang penuh tanda tanya, pertanyaan, dan pernyataan yang kerap dihadirkan. Di sini pembaca ditarik untuk menerka-nerka pesan apa yang hendak disampaikan penulis. Terlebih pada puisi Mi-Nah-Pi-Di-To,


Mi

Pada air botol plastik tumpah itu, ada bening kebaikan hati daun jati. Terkuak aroma purba yang juga tersimpan dalam pekat sumur bor penuh sesak, terserak.

 Memenuhi ruang selaput tipis (Mi-Nah-Pi-Di-To, hal. 29)


Puisi ini mengandung daya tariknya. Estetika puisi ini terlihat dari penamaan judul dan sub judul. Pembaca diberikan ruang luas dalam menginterpretasikannya, puisi ini sangat personal, hanya penulis yang mengetahui relitasnya. Sementara puisi Adityarini kuat dengan emosi yang matang, diksi yang kuat.

Kamboja-kamboja tua di rumah kita tengah mencoba menawar harga waktu        

pada penjual jarum jam di ujung jalan agar lebih banyak kanak-kanak mencuri teduh daunannya (Sajak Pagringsingan II, hal.53)


Daya tarik puisi ini sangat terlihat ketika penulis piawai mendeskripsikan detail peristiwa. Tidak terlalu banyak idom yang dipaksakan. Larik kanak-kanak mencuri teduh daunnya merupakan diksi magis yang membuat pembaca ditenangkan dan diberikan ruang bernapas. Sementara itu, kesadaran mengolah emosi berusaha ditampilkan oleh Manik Sukadana pada puisi Perasaan Aneh Itu.


Apakah itu?

Mampu mendobrak masa kanak-kanak. Membangun luka. Menamai pikiran.

Melampaui jiwa. Membangunkanku. Menidurkanku. Di manakah itu?

Seperti mimipi, keindahan dan kengerian menjadi tak terkendali.

Mencumbui setiap permintaan. Kapankah itu?

Aku tidak tahu. Ia seperti cinta. Ada setiap saat. Siapakah itu? (Perasaan Aneh Itu, hal.34)


Dalam puisi ini Manik seperti disesatkan oleh emosinya, hingga bermunculan pertanyaan kontemplatif ini. Inilah daya tarik yang dihadirkan Manik. Pembaca diajak mempertanyakan hal-hal janggal di hidupnya. Pertanyaan dan pernyataan atas keragu-raguan itu tidak banya hadir dalam puisi Adityarini. Namun, puisi Kotak Kaca Masa Lalu mampu menghadirkan nilai estetis rima dan kenyamanan suasana nostalgia kanak-kanak.


sesekali kami atur siasat

agar jangkau tangan-tangan kecil kami

 pada rasa manis paling jujur

yang pernah dirasakan hidup (Kotak Kaca Masa Lalu, hal.23)


Pada kutipan ini penulis menggugah mental pembaca dengan menghadirkan kenangan masa kanak. Bahasa yang efektif dan inutuitif. Puisi-puisi Putri Adityarini mengalir dan menentukan muaranya. Elemen air yang sangat terasa. Sejuk, menenangkan. Sedangkan Manik Sukadana mengajak pembaca bermain teka-teki, magis, misterius. Elemen udara terasa. Tidak bisa dikekang, tidak bisa ditentukan segera bentuknya.

Hal menarik lainnya, kedua antologi ini memuat puisi perjalanan.


pergimu, ibu membuat pulangku

tak akan sama lagi terasa

atau aku yang belum cukup tahu siapa di antara kita

yang benar-benar pergi

atau yang sudah benar-benar pulang (Pada Suatu Perjalanan Menuju Negara, hal.39)


Puisi Adityarini ini mengingtakan kita pada makna mendasar dari kepulangan. Kata pulang bermakna luas. Pulang sebagai rumah, atau pulang yang berarti wafat. Olahan emosi kepergian ini membuat pembaca tergugah hatinya untuk menyadari makna kepergian. Sejalan dengan itu, pada puisi Perempuan dalam Bis 2, Manik membidik persitiwa dan emosi seorang perempuan di bis.


Kubayangkan,

ia selalu melakukan pemberhentian itu pada kamar dan

lelaki yang membuat wajahnya terlihat tua.

Kemudian memandu alam yang menyewanya.

Terpuaskan. Tertidur. Terbangun. Terulang. (Perempuan dalam Bis 2, hal.33)


Perempuan di dalam bis, melakukan pemberhentian dan pengulangan. Hal-hal romantisme perjalanan. Mesin Imajinasi Manik bekerja sangat cekatan pada fase ini. Pembaca bisa merasakan peristiwa dan makna tentang kejenuhan pengulangan aktivitas, atau sekadar menyadari bahwa kita tidak akan pernah benar-benar berhenti selama masih dalam fase perjalanan dan pengulangan.

Masing-masing antologi memiliki magnetisme personalnya. Puisi Putri Adityarini mekar dengan keseimbangan menakar emosi, mengolah peristiwa, dan memberikan estetika rima. Sementara itu, Manik Sukadana dengan berani menawarkan ide estetis dalam pembuatan judul, sub judul, hingga teknik penulisan puisi. Harapan kedepan tentu masih dibentangkan. Banyak celah yang masih bisa dikupas dan diupayakan hadir. Masih banyak ranah yang perlu diberikan ruang dan kehadiran tema lebih terbuka. Tidak terjebak pada persoalan personal, perjalanan, dan nostalgia. Sebagai magnetis personal puisi ini sudah berhasil, dan akan menarik banyak pembacanya. [T]

  • Artikel ini disampaikan dalam acara Mahima March March March di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Minggu 7 Maret 2021
Tags: Komunitas Mahimakumpulan puisiPuisiresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rony Fernandez | Roti di Meja Keluarga

Next Post

CK, Nyepi dan Ogoh-Ogoh

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Siasat Kerja Panggung Digital

CK, Nyepi dan Ogoh-Ogoh

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co