3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Gede Suardana by Gede Suardana
March 13, 2021
in Esai
Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Gde Suardana

Nyepi Tahun Caka 1943 di tengah pandemi menjadi momen baik untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan manusa Bali. Menengok sejenak ke belakang untuk melihat jejak langkah kita, mana yang lurus dan yang mana keliru.

Salah satu sudut refleksi yang menarik adalah laku manusia Bali terhadap budaya seiring gemerlap industri pariwisata.

Kini, saat pariwisata kita mati suri, waktunya kita berjalan kembali ke masa lalu, di mana budaya Bali belum dijamah industri pariwisata. Kita bisa melihat kembali bagaimana laku tetua dan leluhur memperlakukan budaya.

Pertanyaan yang patut kita ajukan adalah, apakah laku kita terhadap budaya lebih baik dari tetua dan leluhur?

Modifikasi Budaya Sakral

Bali memiliki beragam budaya sakral. Kita lakoni secara turun temurun. Budaya itu diciptakan para tetua. Dicipta dari wujud rasa cinta dan syukur kepada dewata. Sadarkah, bahwa kita yang mewarisi budaya itu dan kita kemudian yang bisa merusaknya?

Peneliti kebudayaan Bali McKein (1974) menyebutkan bahwa seiring perkembangan pariwisata, terjadi pergeseran dalam pertunjukan budaya Bali.

Dari segi penonton, terdapat tiga penonton pertunjukan berbasis budaya Bali. Yaitu, para penonton dari alam nisaka (dewata, betara-betari, leluhur), warga yang memiliki upakara, dan wisatawan.

Sebelum industri pariwisata mengepung Bali, pertunjukan ritual sakral, seperti Calon Arang, Tari Legong, Tari Sang Hyang Dedari pada saat upacara agama (odalan) di pura, penontonnya  adalah dari alam dewa-dewa, widiadari-widiadari, dan para leluhur.

Mereka  tidak terlihat kasat mata.  Kehadirannya dirasakan (orang Bali menggangap mereka sebagai makluk dari surga). Kehadirannya dengan segala manifestasinya, diundang dan diharap-harapkan dan dialami dalam banyak pertunjukan ritual sakral di Bali.

Misalnya saja, ketika upacara yang dilakukan untuk memuliakan makluk halus yang baik serta mengusir yang jahat, mungkin akan terjadi peristiwa kesurupan. Jika ada orang mengalami kesurupan, maka kejadian tersebut dianggap sebagai pertanda bahwa batara telah berkenan turun ke dunia manusia. Guna menyatakan kehadirannya yang biasanya tidak nampak itu, maka roh halus itu, mungkin akan meminta sajian makanan dan minuman atau persembahan khusus.

McKean (1974) menyatakan bahwa alam luhur atau alam gaib itu merupakan motivasi dan rasion d’etre yang sangat menentukan bagi penonton lainnya, maka penonton yang lain pun hadir. Penonton itu merupakan orang-orang desa hadir baik pada setiap odalan maupun pada upacara-upacara lain, memenuhi tempat sekitar pertunjukan (arena). Semakin ramai penonton, semakin tinggi penilaian orang Bali terhadap upacara itu.

Kategori ketiga dari tontotan terjadi pda pertunjukan yang mengikutsertakan orang asing atau wisatawan menjadi penonton. Kehadiran mereka sangat diharapkan, didorong dan disambut, selama mereka masih memperlihatkan cara-cara yang dipandang hormat oleh umum baik dari segi pakaian maupun kata-kata.

Penonton ritual sakral bertambah sejak jaman kolonial, di mana turisme telah berkembang di Bali. Terutama di daerah Badung, Ubud, Sanur, dan Kuta.

Di daerah wisata itu kegiatan pertunjukan disediakan untuk wisatawan di samping kegiatan upacara yang telah umum, seperti Hari Raya Galungan dan Kuningan, potong gigi, dan melasti menjelang Hari Raya Nyepi yang merupakan semacam tontotan.

Berkembang pula tontonan yang dijadwalkan, seperti pertunjukan tari Barong dan Rangda, Legong, Sanghyang Dedari, hingga yang paling popular tari Kecak atau Mongkey Dance.

Salah satu di antara transaksi-transaksi yang penting bagi orang Bali sudah jelas, yaitu segi ekonomi berapakah penghasilan pada malam pertunjukan itu. Wisatawan membayar untuk diperkenankan memasuki alam mitos orang Bali, menjadi penonton serta mengalami seni budayanya itu. Dalam pertunjukan khusus yang diadakan untuk para tamu asing itu, penonton alam halus dan penonton lokal akan menduduki tempat kedua, meskipun dibuat sesajen-sesajen.

Kehadiran penonton wisatawan dalam pertunjukan yang digelar reguler sebagai bentuk komodifikasi yang dilakukan masyarakat Bali terhadap budaya sakral.

Dalam perkembangannya industri pariwisata yang semakin besar, kegiatan modifikasi semakin membesar dan tak terkontrol.  Manusia Bali kini tak sadar bahwa aktivitas itu telah memudarkan kesakralan budaya Bali. Sebuah budaya yang disegani  dan dikagumi dunia pun  mulai memudar.

Motif pertunjukan semakin mengalami pergeseran. Dari tujuannya utamanya adalah dipersembahkan kepada dewata untuk mendapatkan kemakmuran bergeser disajikan kepada turis untuk mendapatkan dalar.

Kini, pandemi Covid-19 seakan membawa kembali Bali ke masa lalu. Tidak ada lagi wisatawan yang menikmati Bali. Hilir mudik di berbagai objek wisata. Menikmati matahari terbit dan tenggelam. Atau berpesta di kawasan Kuta.

Selama satu tahun, pandemi berlalu, hampir tidak turis mancanegara yang berkunjung ke Bali. Data BPS menyebutkan, jumlah turis yang datang ke Bali sejak April-Desember 2020 hanya sebanyak 808 orang. Bandingkan saja dengan tahun 2019, di tahun yang sama bisa mencapai 5-6 juta turis. Bali pun tidak akan melihat  lagi turis ke Bali selama tahun 2021. Bali telah ditutup dari kedatangan turis asing hingga 2022.

Tidak hadirnya turis, maka Bali seolah kembali ke masa dulu ketika belum ada turis. Saat ini, kita mulai merasakan pertunjukan sakral Bali tanpa kehadiran turis mancanegara. Tidak ada lagi turis yang memotret mengabadikan ritual sakral di sepanjang jalan desa.

Sadarkah kita, bahwa kita  kembali melakukan ritual yang ditonton oleh para dewata, betara-betari, leluhur, mahluk halus dan warga yang menggelar ritual itu.

Semoga perayaan Nyepi di tengah pandemi ini memberikan kesadaran kepada manusia Bali untuk memperlakukan budayanya seperti tetua dan leluhur. Segala bentuk ritual kembali dipersembahkan secara tulus kepada dewata untuk memohon perlindungan dan keselamatan manusia Bali dari wabah global ini bukan demi gemerincing dolar.

Astungkara! [T]

Tags: Hari Raya NyepiPariwisataupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hindu Inklusif Nusantara, Paham Eksklusif & Potensi Benturannya

Next Post

Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co