2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Gede Suardana by Gede Suardana
March 13, 2021
in Esai
Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Gde Suardana

Nyepi Tahun Caka 1943 di tengah pandemi menjadi momen baik untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan manusa Bali. Menengok sejenak ke belakang untuk melihat jejak langkah kita, mana yang lurus dan yang mana keliru.

Salah satu sudut refleksi yang menarik adalah laku manusia Bali terhadap budaya seiring gemerlap industri pariwisata.

Kini, saat pariwisata kita mati suri, waktunya kita berjalan kembali ke masa lalu, di mana budaya Bali belum dijamah industri pariwisata. Kita bisa melihat kembali bagaimana laku tetua dan leluhur memperlakukan budaya.

Pertanyaan yang patut kita ajukan adalah, apakah laku kita terhadap budaya lebih baik dari tetua dan leluhur?

Modifikasi Budaya Sakral

Bali memiliki beragam budaya sakral. Kita lakoni secara turun temurun. Budaya itu diciptakan para tetua. Dicipta dari wujud rasa cinta dan syukur kepada dewata. Sadarkah, bahwa kita yang mewarisi budaya itu dan kita kemudian yang bisa merusaknya?

Peneliti kebudayaan Bali McKein (1974) menyebutkan bahwa seiring perkembangan pariwisata, terjadi pergeseran dalam pertunjukan budaya Bali.

Dari segi penonton, terdapat tiga penonton pertunjukan berbasis budaya Bali. Yaitu, para penonton dari alam nisaka (dewata, betara-betari, leluhur), warga yang memiliki upakara, dan wisatawan.

Sebelum industri pariwisata mengepung Bali, pertunjukan ritual sakral, seperti Calon Arang, Tari Legong, Tari Sang Hyang Dedari pada saat upacara agama (odalan) di pura, penontonnya  adalah dari alam dewa-dewa, widiadari-widiadari, dan para leluhur.

Mereka  tidak terlihat kasat mata.  Kehadirannya dirasakan (orang Bali menggangap mereka sebagai makluk dari surga). Kehadirannya dengan segala manifestasinya, diundang dan diharap-harapkan dan dialami dalam banyak pertunjukan ritual sakral di Bali.

Misalnya saja, ketika upacara yang dilakukan untuk memuliakan makluk halus yang baik serta mengusir yang jahat, mungkin akan terjadi peristiwa kesurupan. Jika ada orang mengalami kesurupan, maka kejadian tersebut dianggap sebagai pertanda bahwa batara telah berkenan turun ke dunia manusia. Guna menyatakan kehadirannya yang biasanya tidak nampak itu, maka roh halus itu, mungkin akan meminta sajian makanan dan minuman atau persembahan khusus.

McKean (1974) menyatakan bahwa alam luhur atau alam gaib itu merupakan motivasi dan rasion d’etre yang sangat menentukan bagi penonton lainnya, maka penonton yang lain pun hadir. Penonton itu merupakan orang-orang desa hadir baik pada setiap odalan maupun pada upacara-upacara lain, memenuhi tempat sekitar pertunjukan (arena). Semakin ramai penonton, semakin tinggi penilaian orang Bali terhadap upacara itu.

Kategori ketiga dari tontotan terjadi pda pertunjukan yang mengikutsertakan orang asing atau wisatawan menjadi penonton. Kehadiran mereka sangat diharapkan, didorong dan disambut, selama mereka masih memperlihatkan cara-cara yang dipandang hormat oleh umum baik dari segi pakaian maupun kata-kata.

Penonton ritual sakral bertambah sejak jaman kolonial, di mana turisme telah berkembang di Bali. Terutama di daerah Badung, Ubud, Sanur, dan Kuta.

Di daerah wisata itu kegiatan pertunjukan disediakan untuk wisatawan di samping kegiatan upacara yang telah umum, seperti Hari Raya Galungan dan Kuningan, potong gigi, dan melasti menjelang Hari Raya Nyepi yang merupakan semacam tontotan.

Berkembang pula tontonan yang dijadwalkan, seperti pertunjukan tari Barong dan Rangda, Legong, Sanghyang Dedari, hingga yang paling popular tari Kecak atau Mongkey Dance.

Salah satu di antara transaksi-transaksi yang penting bagi orang Bali sudah jelas, yaitu segi ekonomi berapakah penghasilan pada malam pertunjukan itu. Wisatawan membayar untuk diperkenankan memasuki alam mitos orang Bali, menjadi penonton serta mengalami seni budayanya itu. Dalam pertunjukan khusus yang diadakan untuk para tamu asing itu, penonton alam halus dan penonton lokal akan menduduki tempat kedua, meskipun dibuat sesajen-sesajen.

Kehadiran penonton wisatawan dalam pertunjukan yang digelar reguler sebagai bentuk komodifikasi yang dilakukan masyarakat Bali terhadap budaya sakral.

Dalam perkembangannya industri pariwisata yang semakin besar, kegiatan modifikasi semakin membesar dan tak terkontrol.  Manusia Bali kini tak sadar bahwa aktivitas itu telah memudarkan kesakralan budaya Bali. Sebuah budaya yang disegani  dan dikagumi dunia pun  mulai memudar.

Motif pertunjukan semakin mengalami pergeseran. Dari tujuannya utamanya adalah dipersembahkan kepada dewata untuk mendapatkan kemakmuran bergeser disajikan kepada turis untuk mendapatkan dalar.

Kini, pandemi Covid-19 seakan membawa kembali Bali ke masa lalu. Tidak ada lagi wisatawan yang menikmati Bali. Hilir mudik di berbagai objek wisata. Menikmati matahari terbit dan tenggelam. Atau berpesta di kawasan Kuta.

Selama satu tahun, pandemi berlalu, hampir tidak turis mancanegara yang berkunjung ke Bali. Data BPS menyebutkan, jumlah turis yang datang ke Bali sejak April-Desember 2020 hanya sebanyak 808 orang. Bandingkan saja dengan tahun 2019, di tahun yang sama bisa mencapai 5-6 juta turis. Bali pun tidak akan melihat  lagi turis ke Bali selama tahun 2021. Bali telah ditutup dari kedatangan turis asing hingga 2022.

Tidak hadirnya turis, maka Bali seolah kembali ke masa dulu ketika belum ada turis. Saat ini, kita mulai merasakan pertunjukan sakral Bali tanpa kehadiran turis mancanegara. Tidak ada lagi turis yang memotret mengabadikan ritual sakral di sepanjang jalan desa.

Sadarkah kita, bahwa kita  kembali melakukan ritual yang ditonton oleh para dewata, betara-betari, leluhur, mahluk halus dan warga yang menggelar ritual itu.

Semoga perayaan Nyepi di tengah pandemi ini memberikan kesadaran kepada manusia Bali untuk memperlakukan budayanya seperti tetua dan leluhur. Segala bentuk ritual kembali dipersembahkan secara tulus kepada dewata untuk memohon perlindungan dan keselamatan manusia Bali dari wabah global ini bukan demi gemerincing dolar.

Astungkara! [T]

Tags: Hari Raya NyepiPariwisataupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hindu Inklusif Nusantara, Paham Eksklusif & Potensi Benturannya

Next Post

Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Gede Suardana

Gede Suardana

Mantan wartawan, kini akademisi Undiknas Denpasar

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co