3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
March 13, 2021
in Esai
Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Ilustrasi diambil dari potongan poster pentas Teater Kalangan berjudul Bebunyian

Nang Kocong dan Pan Gobyah tiba agak malam di kafe. Seorang waiters menghampiri dan menyapa ragu-ragu, “Om Swastyastu Bapak, maaf nggih, sesuai protokol terbaru pencegahan Covid, saat ini kami tidak boleh melayani makan di tempat karena telah lewat jam delapan.”

“Kami tidak makan, hanya mau minum.” sahut Pan Gobyah.

“Inggih Pak. Kami dilarang pemerintah melayani tamu di tempat. Kalau dibungkus bisa. Minumannya kami bungkus saja ya.”

“Kalau begitu, kami hanya duduk-duduk saja sebentar,” sahut Nang Kocong, “Bawakan kami dua gelas minuman, hanya dua gelas, juga sedikit makanan ringan. Letakkan saja di bawah meja, di dekat kaki kami, jangan di atas meja supaya tidak terlihat,” Nang Kocong memberi ide.

Waiters mengangguk pelan.

“Nanti kalau gelasnya sudah kosong, tinggal kamu bawakan lagi gelas baru.”

“Saya akan duduk di sini saja, dia di seberang meja, dalam jarak aman. Kursi yang bertanda silang tak akan kami duduki,” sambung Pan Gobyah sambil membenahi tali maskernya yang merosot.

Waiters berlalu menyiapkan dua gelas minuman kesukaan kedua pelanggan itu.

“Setelah selesai di sini, saya minta satu botol, dibungkus ya untuk persediaan Nyepi di rumah,” pinta Nang Kocong kepada waiters.

“Cong, Nyepi besok kamu tidak puasa, kok bawa minuman ke rumah?” tanya Pan Gobyah heran.

“Sebagai persiapan saja. Palingan juga minum sedikit-sedikit di sela-sela puasa.”

“Yaih! Itu sama saja bohong, Cong. Puasa ya puasa, tidak boleh minum walau cuma sedikit.”

“Nanti aku minum di kamar saja supaya tidak dilihat orang.”

“Apa kamu mengerti makna Nyepi?”

“Ngertilah, kan sudah sering ditulis orang di medsos,” jawab Nang Kocong.

“Itu hari suci yang unik. Hanya di Bali orang menyambut tahun baru dengan menyepi di rumah.”

“Benar.”

“Apa pendapatmu mengenai Nyepi?”

“Ya, berdiam diri di rumah selama 24 jam seperti yang biasa kita lakukan.”

“Maksudku, maknanya, menurutmu.”

“Ya, gitu-gitu aja sih.”

“Gimana?”

“Nyepi itu semacam alegori pembelajaran tentang pencarian atau pencerahan manusia Bali.”

Waiters kembali dengan gelas di tangan. Dia sudah beberapa kali bolak-balik, pergi dengan membawa gelas kosong kemudian datang menyerahkan dua gelas yang telah diisi ulang.

Suck Cafe cukup lengang. Sesekali ada pesanan delivery lewat Gojek. Bulan mati di langit. Malam agak murung di bawah mendung yang menggantung.

“Pencerahan? Dengan Nyepi kita kemudian tercerahkan?”

“Tidak begitu. Nyepi itu ya ritual, tradisi, sama seperti ritual lainnya, ada makna tersiratnya, semacam skenario seperti yang aku bilang.”

“Skenario ngarang-ngarang dan cocoklogi a la Nang Kocong? Hahaha…” Pan Gobyah tergelak, sisa minuman muncrat dari mulutnya. “Menurutku, itu hanya cara khas kita dalam menyambut Tahun Baru Saka, dengan menghening, tanpa hura-hura. Beda dengan Tahun Baru Masehi yang disambut dengan riang gembira.”

“Ya, memang begitu,” sahut Nang Kocong, “Hanya saja ada skenario di baliknya dan itu adalah tentang ajaran hidup yang pantas direnungkan.”

“Rentetan Nyepi sudah jelas dimulai dengan Upacara Melasti, kemudian Pangerupukan, lalu Nyepi dan terakhir Ngembak Geni. Kukira itu rangkaian upacara keagamaan saja.”

“Melasti itu simbol, begitu juga Pangerupukan, Nyepi dan Ngembak Geni. Semua itu simbol. Simbol tentang diri kita.”

“Bisa diuraikan maksudnya?” desak Pan Gobyah.

“Melasti atau mencari air suci di laut, atau ngamet sarining amerta ring telenging segara. Laut itu simbol embang, spirit, kedalaman rohani, sunia, suatu “wilayah” tanpa mata angin, inti tapak dara, pusat yang netral dari perempatan. Secara spiritual ini simbol pusat kehidupan, sumber pengetahuan. Ingat kisah Dewa Ruci saat Bima mencari tirta kamandalu di samudera? Itulah simbol diri mencari Sang Diri Sejati, mencari pengetahuan sejati. Begitulah kira-kira antara lain pesan dari Upacara Melasti. Ini wilayah spiritmu yang harus kamu kelola sebagai manusia Bali.”

“Ruwet, Cong.”

“Kemudian Pangerupukan. Ini untuk mengingatkan pada hidup keseharian kita yang terikat hukum ruang dan waktu, pada hukum Panca Maha Buta, pada energi dasar yang menggerakkan kehidupan yang secara tradisi dikenal dengan nama Butakala. Butakala inilah juga sumber musuh dalam diri yang disebut Sad Ripu. Upacara Pangerupukan yang berlangsung sehari sebelum Nyepi itu dimaksudkan sebagai pengingat terhadap keberadaan Sad Ripu dalam dirimu.”

“Kalau Sad Ripu aku tahu Cong. Itu enam musuh dalam diri, yaitu kama, sifat yang dikuasai nafsu. Lobha, sifat serakah. Krodha, sifat kejam atau pemarah. Mada, sifat mabuk atau kegilaan. Moha, bingung, angkuh. Matsarya, dengki. Begitu kan?

“Ya, begitu katanya. Sad Ripu itu yang harus kamu somia dengan pengetahuan. Kemudian kita memasuki Hari Nyepi. Ini waktu merenung, meditasi, menjalankan Catur Brata Penyepian.”

“Catur Brata Penyepian, amati geni, tidak menyalakan api. Amati karya, tidak bekerja. Amati lelanguan, tidak mencari hiburan. Amati lelungaan, tidak bepergian. Aku hafal di luar kepala, Cong.”

“Amati geni. Geni atau api itu simbol pikiran atau kecerdasan. Ini maknanya kamu diminta mengistirahatkan sejenak pikiranmu dan mulai merenungkan apakah selama ini pikiranmu telah dikuasai Sad Ripu? Ini yang harus kamu hayati. Amati karya, kamu diminta menghentikan sejenak aktivitas kerjamu, kewajiban profesimu, dan mulai merenungkan apakah selama ini kerjamu itu dikuasai oleh sifat Sad Ripu? Amati lelanguan, kamu diminta merenung apakah kesenangan-kesenangan yang kamu lakukan ternyata sesuatu yang hanya didorong oleh sifat Sad Ripumu? Terakhir, amati lelungaan. Ini bukan hanya bermakna tidak bepergian, tetapi bagaimana interaksimu dengan orang di luar dirimu. Kamu diminta merenungkan apakah selama ini interaksimu, hubunganmu, kerja samamu dengan orang lain atau masyarakat luas telah digerakkan oleh motif yang dikuasai sifat Sad Ripu? Saat menyepi, dalam keheningan batin, kita akan lebih mudah melihat cahaya diri.”

“Itu namanya lidah tak bertulang, Cong.”

“Inilah yang mesti kamu hayati saat Nyepi. Jika kamu dapat mengenali sifat-sifat Sad Ripu-mu maka kini saatnya kamu netralisir dengan pengetahuan spiritualmu, pengetahuan cinta kasih, pengetahuan kebenaran, atau juga dikenal dengan istilah tapa, brata, yoga, yakni sifat suci, setia, teguh dan berkesadaran dewata.”

“Tapi saat Ngembak Geni tetap saja kita pesta dan minum-minum, pergi ke Pasar Majelangu, bersenang-senang, sebagai tanda berhasil menjalankan Nyepi.”

“Ngembak Geni itu maknanya tercerahkan. Setelah melasti atau menghayati pengetahuan kebenaran atau cinta kasih, dan menyadari keberadaan Butakala atau Sad Ripu dalam diri, lalu menetralisirnya dan meneguhkan atau menginternalisasikan pengetahuan dan nilai-nilai kedewataan dalam diri maka itulah namanya kamu Ngembak Geni menjadi seorang yang tercerahkan, tidak dikuasai sifat Sad Ripu, dan siap menjalani kehidupan di Tahun Baru.”

“Ya deh, terserah kamu, Cong. Sekarang kita bayar dulu minumannya lalu pulang sebelum Satgas Covid ke sini” [T]

Tags: Hari Raya Nyepirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Next Post

Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co