14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
March 13, 2021
in Esai
Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Ilustrasi diambil dari potongan poster pentas Teater Kalangan berjudul Bebunyian

Nang Kocong dan Pan Gobyah tiba agak malam di kafe. Seorang waiters menghampiri dan menyapa ragu-ragu, “Om Swastyastu Bapak, maaf nggih, sesuai protokol terbaru pencegahan Covid, saat ini kami tidak boleh melayani makan di tempat karena telah lewat jam delapan.”

“Kami tidak makan, hanya mau minum.” sahut Pan Gobyah.

“Inggih Pak. Kami dilarang pemerintah melayani tamu di tempat. Kalau dibungkus bisa. Minumannya kami bungkus saja ya.”

“Kalau begitu, kami hanya duduk-duduk saja sebentar,” sahut Nang Kocong, “Bawakan kami dua gelas minuman, hanya dua gelas, juga sedikit makanan ringan. Letakkan saja di bawah meja, di dekat kaki kami, jangan di atas meja supaya tidak terlihat,” Nang Kocong memberi ide.

Waiters mengangguk pelan.

“Nanti kalau gelasnya sudah kosong, tinggal kamu bawakan lagi gelas baru.”

“Saya akan duduk di sini saja, dia di seberang meja, dalam jarak aman. Kursi yang bertanda silang tak akan kami duduki,” sambung Pan Gobyah sambil membenahi tali maskernya yang merosot.

Waiters berlalu menyiapkan dua gelas minuman kesukaan kedua pelanggan itu.

“Setelah selesai di sini, saya minta satu botol, dibungkus ya untuk persediaan Nyepi di rumah,” pinta Nang Kocong kepada waiters.

“Cong, Nyepi besok kamu tidak puasa, kok bawa minuman ke rumah?” tanya Pan Gobyah heran.

“Sebagai persiapan saja. Palingan juga minum sedikit-sedikit di sela-sela puasa.”

“Yaih! Itu sama saja bohong, Cong. Puasa ya puasa, tidak boleh minum walau cuma sedikit.”

“Nanti aku minum di kamar saja supaya tidak dilihat orang.”

“Apa kamu mengerti makna Nyepi?”

“Ngertilah, kan sudah sering ditulis orang di medsos,” jawab Nang Kocong.

“Itu hari suci yang unik. Hanya di Bali orang menyambut tahun baru dengan menyepi di rumah.”

“Benar.”

“Apa pendapatmu mengenai Nyepi?”

“Ya, berdiam diri di rumah selama 24 jam seperti yang biasa kita lakukan.”

“Maksudku, maknanya, menurutmu.”

“Ya, gitu-gitu aja sih.”

“Gimana?”

“Nyepi itu semacam alegori pembelajaran tentang pencarian atau pencerahan manusia Bali.”

Waiters kembali dengan gelas di tangan. Dia sudah beberapa kali bolak-balik, pergi dengan membawa gelas kosong kemudian datang menyerahkan dua gelas yang telah diisi ulang.

Suck Cafe cukup lengang. Sesekali ada pesanan delivery lewat Gojek. Bulan mati di langit. Malam agak murung di bawah mendung yang menggantung.

“Pencerahan? Dengan Nyepi kita kemudian tercerahkan?”

“Tidak begitu. Nyepi itu ya ritual, tradisi, sama seperti ritual lainnya, ada makna tersiratnya, semacam skenario seperti yang aku bilang.”

“Skenario ngarang-ngarang dan cocoklogi a la Nang Kocong? Hahaha…” Pan Gobyah tergelak, sisa minuman muncrat dari mulutnya. “Menurutku, itu hanya cara khas kita dalam menyambut Tahun Baru Saka, dengan menghening, tanpa hura-hura. Beda dengan Tahun Baru Masehi yang disambut dengan riang gembira.”

“Ya, memang begitu,” sahut Nang Kocong, “Hanya saja ada skenario di baliknya dan itu adalah tentang ajaran hidup yang pantas direnungkan.”

“Rentetan Nyepi sudah jelas dimulai dengan Upacara Melasti, kemudian Pangerupukan, lalu Nyepi dan terakhir Ngembak Geni. Kukira itu rangkaian upacara keagamaan saja.”

“Melasti itu simbol, begitu juga Pangerupukan, Nyepi dan Ngembak Geni. Semua itu simbol. Simbol tentang diri kita.”

“Bisa diuraikan maksudnya?” desak Pan Gobyah.

“Melasti atau mencari air suci di laut, atau ngamet sarining amerta ring telenging segara. Laut itu simbol embang, spirit, kedalaman rohani, sunia, suatu “wilayah” tanpa mata angin, inti tapak dara, pusat yang netral dari perempatan. Secara spiritual ini simbol pusat kehidupan, sumber pengetahuan. Ingat kisah Dewa Ruci saat Bima mencari tirta kamandalu di samudera? Itulah simbol diri mencari Sang Diri Sejati, mencari pengetahuan sejati. Begitulah kira-kira antara lain pesan dari Upacara Melasti. Ini wilayah spiritmu yang harus kamu kelola sebagai manusia Bali.”

“Ruwet, Cong.”

“Kemudian Pangerupukan. Ini untuk mengingatkan pada hidup keseharian kita yang terikat hukum ruang dan waktu, pada hukum Panca Maha Buta, pada energi dasar yang menggerakkan kehidupan yang secara tradisi dikenal dengan nama Butakala. Butakala inilah juga sumber musuh dalam diri yang disebut Sad Ripu. Upacara Pangerupukan yang berlangsung sehari sebelum Nyepi itu dimaksudkan sebagai pengingat terhadap keberadaan Sad Ripu dalam dirimu.”

“Kalau Sad Ripu aku tahu Cong. Itu enam musuh dalam diri, yaitu kama, sifat yang dikuasai nafsu. Lobha, sifat serakah. Krodha, sifat kejam atau pemarah. Mada, sifat mabuk atau kegilaan. Moha, bingung, angkuh. Matsarya, dengki. Begitu kan?

“Ya, begitu katanya. Sad Ripu itu yang harus kamu somia dengan pengetahuan. Kemudian kita memasuki Hari Nyepi. Ini waktu merenung, meditasi, menjalankan Catur Brata Penyepian.”

“Catur Brata Penyepian, amati geni, tidak menyalakan api. Amati karya, tidak bekerja. Amati lelanguan, tidak mencari hiburan. Amati lelungaan, tidak bepergian. Aku hafal di luar kepala, Cong.”

“Amati geni. Geni atau api itu simbol pikiran atau kecerdasan. Ini maknanya kamu diminta mengistirahatkan sejenak pikiranmu dan mulai merenungkan apakah selama ini pikiranmu telah dikuasai Sad Ripu? Ini yang harus kamu hayati. Amati karya, kamu diminta menghentikan sejenak aktivitas kerjamu, kewajiban profesimu, dan mulai merenungkan apakah selama ini kerjamu itu dikuasai oleh sifat Sad Ripu? Amati lelanguan, kamu diminta merenung apakah kesenangan-kesenangan yang kamu lakukan ternyata sesuatu yang hanya didorong oleh sifat Sad Ripumu? Terakhir, amati lelungaan. Ini bukan hanya bermakna tidak bepergian, tetapi bagaimana interaksimu dengan orang di luar dirimu. Kamu diminta merenungkan apakah selama ini interaksimu, hubunganmu, kerja samamu dengan orang lain atau masyarakat luas telah digerakkan oleh motif yang dikuasai sifat Sad Ripu? Saat menyepi, dalam keheningan batin, kita akan lebih mudah melihat cahaya diri.”

“Itu namanya lidah tak bertulang, Cong.”

“Inilah yang mesti kamu hayati saat Nyepi. Jika kamu dapat mengenali sifat-sifat Sad Ripu-mu maka kini saatnya kamu netralisir dengan pengetahuan spiritualmu, pengetahuan cinta kasih, pengetahuan kebenaran, atau juga dikenal dengan istilah tapa, brata, yoga, yakni sifat suci, setia, teguh dan berkesadaran dewata.”

“Tapi saat Ngembak Geni tetap saja kita pesta dan minum-minum, pergi ke Pasar Majelangu, bersenang-senang, sebagai tanda berhasil menjalankan Nyepi.”

“Ngembak Geni itu maknanya tercerahkan. Setelah melasti atau menghayati pengetahuan kebenaran atau cinta kasih, dan menyadari keberadaan Butakala atau Sad Ripu dalam diri, lalu menetralisirnya dan meneguhkan atau menginternalisasikan pengetahuan dan nilai-nilai kedewataan dalam diri maka itulah namanya kamu Ngembak Geni menjadi seorang yang tercerahkan, tidak dikuasai sifat Sad Ripu, dan siap menjalani kehidupan di Tahun Baru.”

“Ya deh, terserah kamu, Cong. Sekarang kita bayar dulu minumannya lalu pulang sebelum Satgas Covid ke sini” [T]

Tags: Hari Raya Nyepirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Next Post

Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co