2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
March 13, 2021
in Esai
Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Ilustrasi diambil dari potongan poster pentas Teater Kalangan berjudul Bebunyian

Nang Kocong dan Pan Gobyah tiba agak malam di kafe. Seorang waiters menghampiri dan menyapa ragu-ragu, “Om Swastyastu Bapak, maaf nggih, sesuai protokol terbaru pencegahan Covid, saat ini kami tidak boleh melayani makan di tempat karena telah lewat jam delapan.”

“Kami tidak makan, hanya mau minum.” sahut Pan Gobyah.

“Inggih Pak. Kami dilarang pemerintah melayani tamu di tempat. Kalau dibungkus bisa. Minumannya kami bungkus saja ya.”

“Kalau begitu, kami hanya duduk-duduk saja sebentar,” sahut Nang Kocong, “Bawakan kami dua gelas minuman, hanya dua gelas, juga sedikit makanan ringan. Letakkan saja di bawah meja, di dekat kaki kami, jangan di atas meja supaya tidak terlihat,” Nang Kocong memberi ide.

Waiters mengangguk pelan.

“Nanti kalau gelasnya sudah kosong, tinggal kamu bawakan lagi gelas baru.”

“Saya akan duduk di sini saja, dia di seberang meja, dalam jarak aman. Kursi yang bertanda silang tak akan kami duduki,” sambung Pan Gobyah sambil membenahi tali maskernya yang merosot.

Waiters berlalu menyiapkan dua gelas minuman kesukaan kedua pelanggan itu.

“Setelah selesai di sini, saya minta satu botol, dibungkus ya untuk persediaan Nyepi di rumah,” pinta Nang Kocong kepada waiters.

“Cong, Nyepi besok kamu tidak puasa, kok bawa minuman ke rumah?” tanya Pan Gobyah heran.

“Sebagai persiapan saja. Palingan juga minum sedikit-sedikit di sela-sela puasa.”

“Yaih! Itu sama saja bohong, Cong. Puasa ya puasa, tidak boleh minum walau cuma sedikit.”

“Nanti aku minum di kamar saja supaya tidak dilihat orang.”

“Apa kamu mengerti makna Nyepi?”

“Ngertilah, kan sudah sering ditulis orang di medsos,” jawab Nang Kocong.

“Itu hari suci yang unik. Hanya di Bali orang menyambut tahun baru dengan menyepi di rumah.”

“Benar.”

“Apa pendapatmu mengenai Nyepi?”

“Ya, berdiam diri di rumah selama 24 jam seperti yang biasa kita lakukan.”

“Maksudku, maknanya, menurutmu.”

“Ya, gitu-gitu aja sih.”

“Gimana?”

“Nyepi itu semacam alegori pembelajaran tentang pencarian atau pencerahan manusia Bali.”

Waiters kembali dengan gelas di tangan. Dia sudah beberapa kali bolak-balik, pergi dengan membawa gelas kosong kemudian datang menyerahkan dua gelas yang telah diisi ulang.

Suck Cafe cukup lengang. Sesekali ada pesanan delivery lewat Gojek. Bulan mati di langit. Malam agak murung di bawah mendung yang menggantung.

“Pencerahan? Dengan Nyepi kita kemudian tercerahkan?”

“Tidak begitu. Nyepi itu ya ritual, tradisi, sama seperti ritual lainnya, ada makna tersiratnya, semacam skenario seperti yang aku bilang.”

“Skenario ngarang-ngarang dan cocoklogi a la Nang Kocong? Hahaha…” Pan Gobyah tergelak, sisa minuman muncrat dari mulutnya. “Menurutku, itu hanya cara khas kita dalam menyambut Tahun Baru Saka, dengan menghening, tanpa hura-hura. Beda dengan Tahun Baru Masehi yang disambut dengan riang gembira.”

“Ya, memang begitu,” sahut Nang Kocong, “Hanya saja ada skenario di baliknya dan itu adalah tentang ajaran hidup yang pantas direnungkan.”

“Rentetan Nyepi sudah jelas dimulai dengan Upacara Melasti, kemudian Pangerupukan, lalu Nyepi dan terakhir Ngembak Geni. Kukira itu rangkaian upacara keagamaan saja.”

“Melasti itu simbol, begitu juga Pangerupukan, Nyepi dan Ngembak Geni. Semua itu simbol. Simbol tentang diri kita.”

“Bisa diuraikan maksudnya?” desak Pan Gobyah.

“Melasti atau mencari air suci di laut, atau ngamet sarining amerta ring telenging segara. Laut itu simbol embang, spirit, kedalaman rohani, sunia, suatu “wilayah” tanpa mata angin, inti tapak dara, pusat yang netral dari perempatan. Secara spiritual ini simbol pusat kehidupan, sumber pengetahuan. Ingat kisah Dewa Ruci saat Bima mencari tirta kamandalu di samudera? Itulah simbol diri mencari Sang Diri Sejati, mencari pengetahuan sejati. Begitulah kira-kira antara lain pesan dari Upacara Melasti. Ini wilayah spiritmu yang harus kamu kelola sebagai manusia Bali.”

“Ruwet, Cong.”

“Kemudian Pangerupukan. Ini untuk mengingatkan pada hidup keseharian kita yang terikat hukum ruang dan waktu, pada hukum Panca Maha Buta, pada energi dasar yang menggerakkan kehidupan yang secara tradisi dikenal dengan nama Butakala. Butakala inilah juga sumber musuh dalam diri yang disebut Sad Ripu. Upacara Pangerupukan yang berlangsung sehari sebelum Nyepi itu dimaksudkan sebagai pengingat terhadap keberadaan Sad Ripu dalam dirimu.”

“Kalau Sad Ripu aku tahu Cong. Itu enam musuh dalam diri, yaitu kama, sifat yang dikuasai nafsu. Lobha, sifat serakah. Krodha, sifat kejam atau pemarah. Mada, sifat mabuk atau kegilaan. Moha, bingung, angkuh. Matsarya, dengki. Begitu kan?

“Ya, begitu katanya. Sad Ripu itu yang harus kamu somia dengan pengetahuan. Kemudian kita memasuki Hari Nyepi. Ini waktu merenung, meditasi, menjalankan Catur Brata Penyepian.”

“Catur Brata Penyepian, amati geni, tidak menyalakan api. Amati karya, tidak bekerja. Amati lelanguan, tidak mencari hiburan. Amati lelungaan, tidak bepergian. Aku hafal di luar kepala, Cong.”

“Amati geni. Geni atau api itu simbol pikiran atau kecerdasan. Ini maknanya kamu diminta mengistirahatkan sejenak pikiranmu dan mulai merenungkan apakah selama ini pikiranmu telah dikuasai Sad Ripu? Ini yang harus kamu hayati. Amati karya, kamu diminta menghentikan sejenak aktivitas kerjamu, kewajiban profesimu, dan mulai merenungkan apakah selama ini kerjamu itu dikuasai oleh sifat Sad Ripu? Amati lelanguan, kamu diminta merenung apakah kesenangan-kesenangan yang kamu lakukan ternyata sesuatu yang hanya didorong oleh sifat Sad Ripumu? Terakhir, amati lelungaan. Ini bukan hanya bermakna tidak bepergian, tetapi bagaimana interaksimu dengan orang di luar dirimu. Kamu diminta merenungkan apakah selama ini interaksimu, hubunganmu, kerja samamu dengan orang lain atau masyarakat luas telah digerakkan oleh motif yang dikuasai sifat Sad Ripu? Saat menyepi, dalam keheningan batin, kita akan lebih mudah melihat cahaya diri.”

“Itu namanya lidah tak bertulang, Cong.”

“Inilah yang mesti kamu hayati saat Nyepi. Jika kamu dapat mengenali sifat-sifat Sad Ripu-mu maka kini saatnya kamu netralisir dengan pengetahuan spiritualmu, pengetahuan cinta kasih, pengetahuan kebenaran, atau juga dikenal dengan istilah tapa, brata, yoga, yakni sifat suci, setia, teguh dan berkesadaran dewata.”

“Tapi saat Ngembak Geni tetap saja kita pesta dan minum-minum, pergi ke Pasar Majelangu, bersenang-senang, sebagai tanda berhasil menjalankan Nyepi.”

“Ngembak Geni itu maknanya tercerahkan. Setelah melasti atau menghayati pengetahuan kebenaran atau cinta kasih, dan menyadari keberadaan Butakala atau Sad Ripu dalam diri, lalu menetralisirnya dan meneguhkan atau menginternalisasikan pengetahuan dan nilai-nilai kedewataan dalam diri maka itulah namanya kamu Ngembak Geni menjadi seorang yang tercerahkan, tidak dikuasai sifat Sad Ripu, dan siap menjalani kehidupan di Tahun Baru.”

“Ya deh, terserah kamu, Cong. Sekarang kita bayar dulu minumannya lalu pulang sebelum Satgas Covid ke sini” [T]

Tags: Hari Raya Nyepirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Next Post

Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co