24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
March 13, 2021
in Esai
Nyepi | Percakapan dari Sebuah Kafe

Ilustrasi diambil dari potongan poster pentas Teater Kalangan berjudul Bebunyian

Nang Kocong dan Pan Gobyah tiba agak malam di kafe. Seorang waiters menghampiri dan menyapa ragu-ragu, “Om Swastyastu Bapak, maaf nggih, sesuai protokol terbaru pencegahan Covid, saat ini kami tidak boleh melayani makan di tempat karena telah lewat jam delapan.”

“Kami tidak makan, hanya mau minum.” sahut Pan Gobyah.

“Inggih Pak. Kami dilarang pemerintah melayani tamu di tempat. Kalau dibungkus bisa. Minumannya kami bungkus saja ya.”

“Kalau begitu, kami hanya duduk-duduk saja sebentar,” sahut Nang Kocong, “Bawakan kami dua gelas minuman, hanya dua gelas, juga sedikit makanan ringan. Letakkan saja di bawah meja, di dekat kaki kami, jangan di atas meja supaya tidak terlihat,” Nang Kocong memberi ide.

Waiters mengangguk pelan.

“Nanti kalau gelasnya sudah kosong, tinggal kamu bawakan lagi gelas baru.”

“Saya akan duduk di sini saja, dia di seberang meja, dalam jarak aman. Kursi yang bertanda silang tak akan kami duduki,” sambung Pan Gobyah sambil membenahi tali maskernya yang merosot.

Waiters berlalu menyiapkan dua gelas minuman kesukaan kedua pelanggan itu.

“Setelah selesai di sini, saya minta satu botol, dibungkus ya untuk persediaan Nyepi di rumah,” pinta Nang Kocong kepada waiters.

“Cong, Nyepi besok kamu tidak puasa, kok bawa minuman ke rumah?” tanya Pan Gobyah heran.

“Sebagai persiapan saja. Palingan juga minum sedikit-sedikit di sela-sela puasa.”

“Yaih! Itu sama saja bohong, Cong. Puasa ya puasa, tidak boleh minum walau cuma sedikit.”

“Nanti aku minum di kamar saja supaya tidak dilihat orang.”

“Apa kamu mengerti makna Nyepi?”

“Ngertilah, kan sudah sering ditulis orang di medsos,” jawab Nang Kocong.

“Itu hari suci yang unik. Hanya di Bali orang menyambut tahun baru dengan menyepi di rumah.”

“Benar.”

“Apa pendapatmu mengenai Nyepi?”

“Ya, berdiam diri di rumah selama 24 jam seperti yang biasa kita lakukan.”

“Maksudku, maknanya, menurutmu.”

“Ya, gitu-gitu aja sih.”

“Gimana?”

“Nyepi itu semacam alegori pembelajaran tentang pencarian atau pencerahan manusia Bali.”

Waiters kembali dengan gelas di tangan. Dia sudah beberapa kali bolak-balik, pergi dengan membawa gelas kosong kemudian datang menyerahkan dua gelas yang telah diisi ulang.

Suck Cafe cukup lengang. Sesekali ada pesanan delivery lewat Gojek. Bulan mati di langit. Malam agak murung di bawah mendung yang menggantung.

“Pencerahan? Dengan Nyepi kita kemudian tercerahkan?”

“Tidak begitu. Nyepi itu ya ritual, tradisi, sama seperti ritual lainnya, ada makna tersiratnya, semacam skenario seperti yang aku bilang.”

“Skenario ngarang-ngarang dan cocoklogi a la Nang Kocong? Hahaha…” Pan Gobyah tergelak, sisa minuman muncrat dari mulutnya. “Menurutku, itu hanya cara khas kita dalam menyambut Tahun Baru Saka, dengan menghening, tanpa hura-hura. Beda dengan Tahun Baru Masehi yang disambut dengan riang gembira.”

“Ya, memang begitu,” sahut Nang Kocong, “Hanya saja ada skenario di baliknya dan itu adalah tentang ajaran hidup yang pantas direnungkan.”

“Rentetan Nyepi sudah jelas dimulai dengan Upacara Melasti, kemudian Pangerupukan, lalu Nyepi dan terakhir Ngembak Geni. Kukira itu rangkaian upacara keagamaan saja.”

“Melasti itu simbol, begitu juga Pangerupukan, Nyepi dan Ngembak Geni. Semua itu simbol. Simbol tentang diri kita.”

“Bisa diuraikan maksudnya?” desak Pan Gobyah.

“Melasti atau mencari air suci di laut, atau ngamet sarining amerta ring telenging segara. Laut itu simbol embang, spirit, kedalaman rohani, sunia, suatu “wilayah” tanpa mata angin, inti tapak dara, pusat yang netral dari perempatan. Secara spiritual ini simbol pusat kehidupan, sumber pengetahuan. Ingat kisah Dewa Ruci saat Bima mencari tirta kamandalu di samudera? Itulah simbol diri mencari Sang Diri Sejati, mencari pengetahuan sejati. Begitulah kira-kira antara lain pesan dari Upacara Melasti. Ini wilayah spiritmu yang harus kamu kelola sebagai manusia Bali.”

“Ruwet, Cong.”

“Kemudian Pangerupukan. Ini untuk mengingatkan pada hidup keseharian kita yang terikat hukum ruang dan waktu, pada hukum Panca Maha Buta, pada energi dasar yang menggerakkan kehidupan yang secara tradisi dikenal dengan nama Butakala. Butakala inilah juga sumber musuh dalam diri yang disebut Sad Ripu. Upacara Pangerupukan yang berlangsung sehari sebelum Nyepi itu dimaksudkan sebagai pengingat terhadap keberadaan Sad Ripu dalam dirimu.”

“Kalau Sad Ripu aku tahu Cong. Itu enam musuh dalam diri, yaitu kama, sifat yang dikuasai nafsu. Lobha, sifat serakah. Krodha, sifat kejam atau pemarah. Mada, sifat mabuk atau kegilaan. Moha, bingung, angkuh. Matsarya, dengki. Begitu kan?

“Ya, begitu katanya. Sad Ripu itu yang harus kamu somia dengan pengetahuan. Kemudian kita memasuki Hari Nyepi. Ini waktu merenung, meditasi, menjalankan Catur Brata Penyepian.”

“Catur Brata Penyepian, amati geni, tidak menyalakan api. Amati karya, tidak bekerja. Amati lelanguan, tidak mencari hiburan. Amati lelungaan, tidak bepergian. Aku hafal di luar kepala, Cong.”

“Amati geni. Geni atau api itu simbol pikiran atau kecerdasan. Ini maknanya kamu diminta mengistirahatkan sejenak pikiranmu dan mulai merenungkan apakah selama ini pikiranmu telah dikuasai Sad Ripu? Ini yang harus kamu hayati. Amati karya, kamu diminta menghentikan sejenak aktivitas kerjamu, kewajiban profesimu, dan mulai merenungkan apakah selama ini kerjamu itu dikuasai oleh sifat Sad Ripu? Amati lelanguan, kamu diminta merenung apakah kesenangan-kesenangan yang kamu lakukan ternyata sesuatu yang hanya didorong oleh sifat Sad Ripumu? Terakhir, amati lelungaan. Ini bukan hanya bermakna tidak bepergian, tetapi bagaimana interaksimu dengan orang di luar dirimu. Kamu diminta merenungkan apakah selama ini interaksimu, hubunganmu, kerja samamu dengan orang lain atau masyarakat luas telah digerakkan oleh motif yang dikuasai sifat Sad Ripu? Saat menyepi, dalam keheningan batin, kita akan lebih mudah melihat cahaya diri.”

“Itu namanya lidah tak bertulang, Cong.”

“Inilah yang mesti kamu hayati saat Nyepi. Jika kamu dapat mengenali sifat-sifat Sad Ripu-mu maka kini saatnya kamu netralisir dengan pengetahuan spiritualmu, pengetahuan cinta kasih, pengetahuan kebenaran, atau juga dikenal dengan istilah tapa, brata, yoga, yakni sifat suci, setia, teguh dan berkesadaran dewata.”

“Tapi saat Ngembak Geni tetap saja kita pesta dan minum-minum, pergi ke Pasar Majelangu, bersenang-senang, sebagai tanda berhasil menjalankan Nyepi.”

“Ngembak Geni itu maknanya tercerahkan. Setelah melasti atau menghayati pengetahuan kebenaran atau cinta kasih, dan menyadari keberadaan Butakala atau Sad Ripu dalam diri, lalu menetralisirnya dan meneguhkan atau menginternalisasikan pengetahuan dan nilai-nilai kedewataan dalam diri maka itulah namanya kamu Ngembak Geni menjadi seorang yang tercerahkan, tidak dikuasai sifat Sad Ripu, dan siap menjalani kehidupan di Tahun Baru.”

“Ya deh, terserah kamu, Cong. Sekarang kita bayar dulu minumannya lalu pulang sebelum Satgas Covid ke sini” [T]

Tags: Hari Raya Nyepirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanpa Wisatawan, Ritual Nyepi (Kembali) Hanya Dipertontonkan kepada Dewata

Next Post

Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Akar Pohon Keheningan | Renungan Nyepi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co