6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harga | Cerpen Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani by Geg Ary Suharsani
March 6, 2021
in Cerpen
Harga | Cerpen Geg Ary Suharsani

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

“Ayo, pesan apa saja. Bebas.”

“Aku yang bayar.”

“Pilih yang enak-enak.”

‘Hei, Mer, jangan bengong!”

***

Made Gebi membuatku gelagapan. Dia menyodorkan daftar menu. Wangi tubuhnya menyapa hidungku.  Wangi manis nan  lembut. Aku belum pernah mencium wangi seperti ini.

“Jeg, masih bengong.“ Made Gebi menegur. Kini dia menepuk menu yang dia sodorkan. Menu itu sebenarnya sudah kubuka dari tadi. Tapi, ya, begitulah. Daftar menu kubuka tapi pikiran tidak di sana. Melayang jauh. Mencuri pandang pada jemari lentik Made Gebi. Kukunya yang panjang meruncing bercat pastel dengan corak bunga kecil-kecil. Sungguh serasi.

Kulitnya. Oh, aku sampai malu menyandingkan tanganku di sebelah tangan Made Gebi . Tangan yang telungkup di atas daftar menu itu begitu bening. Rangkaian saluran darah yang kebiruan menonjol dengan genitnya. Pelan-pelan tanganku yang kerut keriput cenderung kering, merosot ke bawah meja. Kusembunyikan di antara pahaku yang berdempetan satu sama lain.

“Sini aku bantu pilih. Sepuluh tahun sing ketemu. Jangan pilih es teh,” ujarnya cepat, saat menyadari arah tatapan mataku. Ternyata, aku menatap tulisan ice tea sedari tadi.

Cepat-cepat aku mencegah Made Gebi merebut daftar menu dari tanganku. Dia tersenyum. Bibirnya pink berkilau. Seperti ada kerlip permen fox  di sana. Refleks kuraba bibir. Ah, untungnya masih lembab, tidak ada kulit kering yang mengelupas. Kulirik cermin yang menjadi dinding ruangan ini. Lega, bibir ini tidak pucat-pucat amat. Meski tak ada kilau permen di sana. Tadi pagi ku poles lipstik matte.  Namun, sedetik kemudian pantulan tubuh kami di cermin itu menyadarkanku, kenapa tidak mengenakan pakaian terbaik hari ini. Segera kubuang pandangan dari cermin.

“Cepet juga kamu sampai sini, Mer.”

“Ya, gampanglah nyari tempat ini.”

Sejak kapan aku jadi sombong. Batinku. Aku jarang ke Kuta. Seumur-umur hidup di Bali, belum lebih dari lima kali aku ke Kuta. Apalagi ke tempat ini. Belum pernah. Tapi karena terlanjur menantang Made Gebi untuk bertemu, melalui percakapan di media sosial, aku setuju untuk ketemuan.

“Kita ketemuan di tempat paling hip di Kuta. Mai na’e!”  Made Gebi  memberi gambar senyum lebar pada tulisannya. Tak lama dia mengirimkan pesan melalui pesan pribadi. Lokasi bertemu nanti.

“Mai, na’e!” sahutku, sambil memberikan tanda jempol berderet-deret.

Lagi pula aku memang penasaran untuk bertemu langsung dengannya. Dia teman di Sekolah Menengah Pertama. Foto-foto di akun media sosialnya sungguh membuatku iri. Wajahnya makin lama makin muda dan glowing. Tirus dengan hidung mancung yang proporsional. Aku curiga itu hanya tipuan kamera jahanam. Palingan jika ketemu, tidak jauh beda dengan Made Gebi yang dulu: kulitnya coklat kusam, wajah bintik jerawat dan selera berpakaian yang parah.

Selama berhari-hari perkiraanku ini menemani dan masih bercokol hingga hari yang kami tetapkan. Aku sangat yakin, Made Gebi tidak sekeren yang ada di foto. Namun alamat yang dia berikan ternyata membawaku ke sebuah restoran mewah penuh bule. Aku mulai ragu.

Balon perkiraan itu meletus, pecahannya berpencar ke segala arah,  saat Made Gebi menyambutku di tempat parkir. Terbata aku meletakkan helm, melepaskan jaket, merapikan rambut, di bawah tatapan Made Gebi yang masih sangat aku kenal, namun dalam balutan sosok yang sungguh berbeda. Sosok Made Gebi kini benar-benar seperti yang ada di akun media sosialnya. No filter!

“I Koncreng, mana nih?” Aku celingukan, menatap ke arah pintu masuk, sambil membenahi posisi duduk. Koncreng, salah satu teman SMP yang ikut komentar ingin ketemuan. Nama sebenarnya Anggari.

“Aruh, palingan dia gak datang. Cuma asal komen, aja.” Santai Made Gebi mengibaskan tangannya. Kali ini rambutnya yang dark brown dengan sedikit warna pirang di beberapa bagian ikut terkibas. Rambutnya dulu mengembang kemerahan dan selalu dikepang dua. Sedangkan aku masih setia dengan tampilan lama. Sedari dulu hanya hitam lurus sepinggang, palingan dipotong untuk menghilangkan rambut bercabang. Penampilan yang dulu membuatku  jauh lebih menarik dari Made Gebi.

Seorang wanita muda berpakaian putih hitam hadir di meja kami. Dia membawa dua piring putih besar. Makanan disajikan di meja. Itu steak. Aku memandang Made Gebi, diam-diam dia sudah memesan makanan.

“Kamu kelamaan milih.” Dia nyengir. Sorot matanya, gerak bibirnya, benar-benar masih Made Gebi kawan SMP-ku. Membuatku masih merasa akrab dan merasa nyaman untuk tetap melanjutkan percakapan.

“Semuanya enak-enak. Sampai bingung milih.” Aku memberikan alasan. Mulai keceplosan, padahal mati-matian aku mencoba untuk tidak memuji.

“Ini tempat kesukaanku. Semuanya memang enak. Cocok harga dengan rasanya,” terang Made Gebi sambil mengangsurkan piring steak ke hadapanku. Steak itu hadir dalam wujud daging tebal yang segar dengan lumuran bumbu berwarna coklat dilengkapi merica hitam. Asap tipis masih mengepul di atas daging.

“Coba steak-nya. Nanti boleh nyoba lagi yang lain.” Made Gebi berkata seolah steak ukuran besar ini tetap akan membuatku kelaparan. Aku hanya tertawa sambil mengambil pisau steak. Mengiris daging tebal perlahan, melumuri dengan saos, kemudian memasukkan ke mulutku. Steak itu menyentuh lidahku. Aku mulai mengunyah. Dan … mih, sungguh berbeda dengan steak yang pernah aku makan. Benar-benar lembut, gurih, segar,  dan hangat. Belum pernah kumakan yang seperti ini.

“Enak banget ini. Sering makan di sini sama keluarga, Geb?” Akhirnya aku memuji. Steak ini membuatku jujur.

“Nggak juga, sih.”

“Terus sama siapa biasanya?”

“Tergantung, bisa sama temen, seperti sekarang, bisa juga sendiri.”

“Wih, sendiri makan di sini, nggak merasa sayang,  makan enak sendirian? Hehehe ….” Aku terkekeh.

“Ah, biasa aja. Lama-lama biasa.” Made Gebi berujar pelan, sambil melempar pandangannya ke pot bunga, menghindari tatapanku.

“Suamimu sibuk, ya?”

“Steve, nggak sibuk. Tapi sibuk banget! Sekarang di Jakarta, besok di Kalimantan, tiga hari kemudian di Singapura. Aku bahkan udah lupa gimana rasanya dipeluk dia. Hahahaha ….” Made Gebi tergelak. Sepintas seperti menertawai diri sendiri. Aku memilih berkata o yang panjang.

“Anak-anak, di mana?” Dasar, mulut ini tidak bisa diam.

“Di kampungnya Steve. Study di sana, supaya tetap gaul sama orang-orang bule.” Made Gebi mencomot kentang dari piring putih di hadapannya.

“Keren.” Aku bergumam. Terbayang dua anakku yang sekolah di kampung. Teringat dulu Made Gebi begitu kampungan. Heran juga, kenapa Steve mau menjadikannya istri.

“Hehehe … keren, ya, Mer? Kadang aku merasa aneh. Orang-orang merasa ini keren. Keren dimananya, ya? Tapi aku terima aja, deh dibilang keren … hahaha ….” Tawa Made Gebi kembali berderai. Kali ini aku ikut tertawa. Lebih karena aku bingung melihat dia yang bingung.

“Semuanya ada harganya, Mer. Steak yang kamu makan tadi. Ada harga ada rasa. Menu yang lain,  cobain deh. Harganya sebanding dengan rasanya.”

“Kamu bilang aku keren, keren juga ada harganya. Sing ade ane cuma-cuma.” Kali ini dia menyandarkan tubuhnya. Sinar lampu restoran ini membuat tubuhnya makin berkilau.

“Steve, jarang banget di rumah. Palingan di rumah hanya setengah hari. Habis itu pergi. Sibuk ngurus usaha yang ada di mana-mana.” Kali ini Made Gebi mengalihkan pandangan ke sekelompok bule di seberang meja kami.

“Yang penting kartu ATM dan kartu kredit selalu ready. Nggak masalah sendirian kemana-mana. Aku ke salon, perawatan wajah dan badan. Menicure pedicure. Aku juga harus menghargai diriku sendiri.” Made Gebi bicara sambil menatap lurus ke arahku. Aku jengah, memilih untuk menunduk sambil mengaduk minumanku.

Tiba-tiba Made Gebi melambaikan tangan. Seorang laki-laki muda datang mendekat. Dia sama wanginya dengan teman lamaku ini. Wangi yang begitu maskulin.

Made Gebi berdiri, menyambut laki-laki itu. Mereka duduk bersebelahan, tangan laki-laki itu masih memeluk mesra pinggang kawan lamaku ini.

Mataku sepertinya tak mampu menyembunyikan rasa penasaran.

“Kesepian juga ada harganya.” Made Gebi mengerling.

Aku menunduk, melanjutkan mengiris steak yang sudah dingin. Sembari mengira-ngira seberapa dalam kesepian Made Gebi. [T]

  • Denpasar, Maret 2021

____

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Next Post

Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Geg Ary Suharsani

Geg Ary Suharsani

penulis karya jurnalistik dan sastra

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co