13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nitya Yuli Pratistha | Bangga Jadi Hindu, Bangga Jadi Jawa

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 24, 2021
in Persona
Nitya Yuli Pratistha | Bangga Jadi Hindu, Bangga Jadi Jawa

Nitya Yuli Pratistha

Belakangan di media sosial, terutama pada akun-akun media sosial bernapaskan Hindu, terlihat kerap ada video dharmawacana sliwar-sliwer dan disebarkan berkali-kali dari laman ke laman.

Video itu biasa-biasa saja, digarap dengan sangat sederhana sebagaimana kebanyakan video dharmawacana Hindu yang bisa dibuat oleh siapa saja, di Bali atau di sejumlah tempat di Indonesia. Tapi kenapa video itu banyak dibagikan berkali-kali, dan mendapatkan banyak komentar dari nitizen?

Apakah karena yang melakukan dharmawacana itu seorang gadis muda, cantik, berpakaian kebaya sederhana dengan bija di keningnya? Tampaknya bukan karena itu. Di Bali banyak gadis muda jago berdharmawacana, banyak yang berparas cantik pula, tapi tak terlalu luar biasa sambutan dari nitizen di media sosial. Biasa-biasa saja.

Lalu apa istimewanya video dharmawacana yang kita bicarakan ini?

Dharmawacana ini istimewa dan mendapatkan perhatian besar dari penikmat media sosial, mungkin karena kombinasi gambar dan bahasa dalam video itu masih dianggap unik. Dalam video itu ada seorang gadis muda, berbusana ke Pura sebagaimana layaknya gadis Hindu, ada bija di keningnya, dan wajahnya sangat nusantara.

Gadis itu adalah Nitya Yuli Pratistha. Ia lahir dan tinggal di Tegal Rejo, Desa Jarak, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Nitya, begitu kemudian gadis itu dipanggil, dalam dharmawacananya berbicara dalam Bahasa Jawa. Bukan Jawa Kuno, tapi benar-benar Bahasa Jawa, yakni bahasa yang biasa digunakan dalam pergaulan sehari-hari di desa-desa di Jawa. Meski dalam video yang lain gadis itu kerap juga menggunakan Bahasa Indonesia, tapi logat dan dialeknya tetaplah sangat terasa amat Jawa. Itu mungkin yang dianggap menarik, terutama oleh nitizen di Bali.

Saya pun jadi penasaran. Lewat akun facebook bernama Kerta Bumi, saya mendapatkan nomor WA Nitya. Kerta Bumi, selain akun yang menayangkan sejumlah video Nitya di youtube, juga aktif membagikan video itu di media sosial lainnya seperti di grup-grup facebook.

Saya menyapanya lewat WA, berbasa-basi, lalu minta bercakap-cakap tentang video dharmawacana itu. Nitya adalah gadis yang santun dan hati-hati dalam menjawab menjawab pertanyaan saya, bahkan kadang kata-kata yang diujarkan terasa jauh lebih matang dari usianya.

Nitya yuli Pratistha saat menyampaikan dharmawacana di sebuah Pura

Inilah nukilan-nukilan percakapan itu:

  • Sejak kapan Nitya menjadi pe-dharmawacana?

Sebenarnya saya bukan pe-dharmawacana, saya masih belajar. Masih belum bisa disebut sebagai pedharmawacana.

  • Kalau begitu pertanyaan saya ubah. Bagaimana ceritanya tertarik belajar dharmawacana?

Saya mengawali bidang dharmawacana dimulai sejak usia 16 tahun, waktu itu saya mengikuti lomba UDG (Utsawa Dharma Gita) lintas kecamatan. Kecamatan Wonosalam, Kecamatan Kandangan dan Kecamatan Kasembon (di Kabupaten Jombang). Di situ saya astungkara mendapatkan juara tiga dalam bidang dharmawacana. Awalnya saya sempat tidak yakin mengikuti lomba tersebut, tapi berkat dorongan dari kedua orang tua akhirnya saya maju mengikuti lomba. Dan berkelanjutan ke tahun berikutnya.

  • Lalu, setelah itu mulai tertarik menekuni dharmawacana hingga di Pura?

Ketertarikan saya, di sini saya pribadi bisa memberikan sedikit pencerahan kepada orang lain dengan pengetahuan saya yang terbatas. Bagi saya beryadnya yang paling mulia adalah berbagi pengetahuan meskipun tidak banyak asal bisa bermanfaat. Akhirnya saya memutuskan untuk menekuni bidang ini dengan pemahaman saya yang terbatas dan dibantu kedua orang tua saya

  • Dari mana mendapatkan materi-materi untuk dharmawacana?

Kalau materi semua orang pasti dari buku terlebih dahulu, namun buku hanyalah digunakan sebagai pemahaman materi yang akan dibawakan (bukan hanya saya), lalu bagaimana kita bisa menjelaskan materi tersebut dengan bahasa kita sendiri, mengolah pikiran kita dengan pegangan dari buku tadi.

  • Yang lain, misalnya belajar cara mengelola pola pikir, gensture, mengolah kata, intonasi, menguasai panggung, dan sebagainya, dari mana belajar seperti itu?

Dari diri sendiri dan dibantu orang tua. Bagi saya bagian tersulitnya adalah bagian mengolah kata, karena setiap kata yang akan saya ucapkan harus berhati-hati, jangan sampai nanti menyinggung orang lain nanti efeknya ke diri saya sendiri. Menjadi seorang pe-dharmawacana menurut saya harus mengasah keberanian dalam diri terlebih dahulu sebelum tampil di depan orang banyak. Awalnya memang susah tapi semakin terbiasa pasti akan mudah. Anggap semua audien adalah orang tua kita sendiri.

  • Wah, top itu. Apakah media sosial, atau sejenisnya juga menjadi tempat belajar?

Kalau media sosial bisa juga dibuat sebagai media belajar. Apalagi di jaman sekarang ini teknologi juga sudah maju jadi mempermudah untuk proses belajar. Kalau saya menggunakan media sosial untuk tempat belajar, saya akui, iya. Terutamanya media sosial youtube di situ banyak pedharmawacana yang sudah hebat, bisa jadi panutan saya bagaimana cara menyampaikan materi ketika di depan umat agar lebih terasa.

  • Saat dharmawacana, mana lebih asyik menggunakan bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia?

Kalau saya nyaman dengan keduannya. Bahasa Jawa saya gunakan ketika canda gurauan. Bahasa Indonesia saya gunakan untuk menyampaikan keseluruhan materi saya. Bahasa Jawa juga saya gunakan sebagai bukti kalau saya berasal dari Jawa, dan kodratnya orang Jawa di manapun itu jangan meninggalkan nilai leluhurnya termasuk bahasa Jawa juga nilai leluhur yang masih ada sampai sekarang dan sampai kapan pun itu. Sebagai bukti juga kalau saya bangga menjadi orang Jawa.

Sangat juga bangga menjadi Hindu, bagi saya Hindu itu damai, sejuk, indah jika di resapi. Sama halnya seperti agama lainnya juga. Saya juga mengagumi agama non Hindu. Kebetulan di Jombang tempat saya tinggal terkenal dengan sebutan Kota Santri, itu menambah kebangangan saya menjadi orang Hindu Jawa. Karena apa? Di luar sana banyak orang yang kagum dengan Hindu lalu kenapa saya tidak bangga dengan Hindu, yang notabene agama yang saya peluk sejak lahir. Hindu tidak bisa dijelaskan dengan kalimat atau bahasa apapun.

  • Bisa bahasa Bali?

Bahasa Bali saya tidak bisa, mungkin hanya pengucapan terimakasih saja yang saya bisa. Maklum saya bukan orang Bali, hehehe

  • Apa belajar juga dari pe-dharmawacana dari Bali? Misalnya belajar soal gaya atau apa?

Kalau itu saya belum pernah, saya masih belajar dari pendharmawacana Jawa saja, seperti Pak Miswanto. Beliau pendharmawacana hebat, panutan bagi saya. Pak Putu Gede Suardana juga.

  • Siapa beliau itu?

Beliau-beliau adalah pedharmawacana dari Jawa Timur juga. Panutan saya, guru saya juga

  • Kalau dihitung-hitung, sudah berapa kali dharmawacana di depan umat yang banyak?

Saya?

  • Ya

Kalau saya berdharmawacana di depan umat sudah lebih dari delapan kali, belum kehitung waktu ikut lomba. Ketika ikut lomba kan juga di depan banyak umat.

  • Oh, ya ya. Di Pura apa saja Nitya ber-dahrmawacana?

Di tempat saya di Pura Giri Anjasmoro, juga di Pura Guna Dharma, Pura Amerta Buana, Pura Kertabumi Gresik. Yang lainnya saya lupa nama Pura-nya heheheh.

***

Nitya yuli Pratistha saat menyampaikan dharmawacana di sebuah Pura

Nitya Yuli Pratistha hidup di daerah cukup terpencil. Dari Desa Jarak, tempat tinggalnya, dia harus menempuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di kota Kecamatan Wonosalam. Lebih jauh dari, untuk ke ibukota di Jombang ia harus menempuh waktu sekitar 3 jam dengan melewati banyak desa dan hutan di pinggir jalan, melewati tempat wisata juga.

Nitya yang lahir di Kediri, 26 Juli 2000 itu tinggal bersama ayahnya, Sumilir, dan ibunya Eko Warti Ning Tyas. Ia juga punya adik perempuan, Puja Agni Pratistha.

Desa tempat ia tinggal berada di daerah pegunungan. Kata Nitya, penjual makanan saja tidak ada, ada hanya tetangga. Kalau orang bilang masuk daerah sini seperti berada di pinggir jurang. “Kalau hujan dingin banget. Sejuk udaranya, banyak pepohonan, dekat dengan sungai,” kata Nitya.

Sebagaimana layaknya anak-anak di desa, Nitya memiliki masa kanak-kanak yang indah. “Masa anak-anak saya dulu, saya sering banget main sama anak seumuran saya, di situ kami sering bertengkar atas hal sepele hehehehe. Mandi di sungai, pulang sekolah jalan kaki bareng-bareng kalau ada mobil truk dan pickup lewat selalu dikasi tebengan hahaha,” ceritanya.

Cerita lucu, ia pernah juga ngompol di dalam kelas karena ketakutan melihat guru marah sama salah satu temannya di kelas. “Waktu masih TK saya nakal banget, jajan harus banyak, gak mau beli sekalian terus buat nanti, maunya beli yang baru. Kalau difoto ndak pernah bisa senyum. Banyak masa kecil yang sudah saya lewati. Sekarang sudah besar-besar semua malu kalau mengingat masa kacil dulu,” katanya.

Masa remajanya bagaimana? “Masa remaja saya ketika memasuki SMP saya suka tidur kalau guru sedang menjelaskan. Apalagi kalau waktunya bahasa Jawa, di situ banyak teman-teman saya yang sampai ketiduran pulas,” kenangnya.  

Ketika belajar kelompok bukannya belajar malah main ke sawah. “Tapi di situ saya sangat menyukai pelajaran agama dari kecil sampai remaja dan sampai sekarang saya sangat menyukai pelajaran agama. Dan ketika memasuki remaja ya biasa anak remaja pada umumnya, mulai mengenal yang namanya cinta monyet,” katanya.

Hehe. Cinta monyet memang ada di mana-mana.

***

Salah satu video dharmawacana Nitya Yuli Pratistha yang diunggah Kerta Bumi
  • Oh, ya, Bapak katanya seorang pemangku di Pura. Bagaimana Nitya memandang sosok ayah?

Iya betul ayah saya seorang pemangku, saya biasa memanggil beliau dengan sebutan Bapak. Beliau dan ibu saya adalah orang yang selalu menemani saya dalam berproses dari tahun 2016 sampai sekarang. Bapak saya adalah guru saya, setiap materi yang akan saya bawakan (dalam dharmawacana) saya diskusikan dengan beliau. Lalu beliau membantu menyempurnakan kalimat saya yang kurang pas. Bapak dan ibu saya adalah orang pertama yang berada di belakang saya untuk mendorong saya, berada di depan saya ketika banyak orang yang ingin menjatuhkan, berada di samping saya untuk selalu menemani saya dalam berproses sehingga mendapatkan hasil seperti sekarang tidak luput bimbingan dan arahan dari beliau.

Bapak saya yang selalu mengajarkan kepada saya nilai-nilai dalam Hindu, menuntun saya bagaimana cara menjadi pedharmawacana, yang selalu mengingatkan bahwa kalimat yang akan saya sampaikan jangan sampai menyinggung orang lain. Bapak saya orang pertama yang menegur saya ketika saya menyimpang dari ajaran dharma. Untuk bapak dan ibu yang selalu menemani saya dalam berproses, saya belum bisa memberikan apa-apa melebihi pengorbanan dan perjuangan beliau, tapi hasil ini bukan untuk saya, ini untuk kedua orang tua saya.

Apresiasi dari banyak orang bukan untuk saya, tapi di berikan kepada orang tua saya. Saya tidak bisa memberikan materi, tapi dengan ini saya bisa mengangkat derajat orang tua saya, yang mungkin pernah direndahkan oleh orang lain, dan sekarang bisa mendidik anaknya menjadi suatu mahakarya yang tidak pernah dibayangkan.

  • Wah, sungguh senang mendengarnya. Selain dengan keluarga, bagaimana pergaulan Nitya di luar, terutama dengan orang-orang yang berbeda keyakinan?

Di Wonosalam ada tiga agama, yaitu Kristen, Hindu dan Muslim. Kami sangat hidup rukun, saling bertoleransi, menghargai satu sama lain. Tidak pernah membedakan apa agamamu ketika kita sudah berkumpul menjadi satu.

  • Secara formal Nitya belajar agama Hindu di sekolah umum?

Iya waktu saya SD saya sekolah di sekolah umum, di situ pelajaran agamanya seputar dasar keyakinan agama Hindu atau Panca Sradha.dan hanya diajarkan tentang doa dan beberapa materi seperti Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana. Waktu itu keterbatasan guru agama juga.

  • Di SMP bagaimana?

Kalau di SMP kebetulan saya masuk SMP yang masuk wilayah Kabupaten Kediri. Di situ banyak pengalaman soal agama. Di SMP di sana banyak praktek membuat jejahitan juga, semua tentang Hindu diajarkan di SMP tersebut.

  • Terus, SMA?

Kalau SMA saya ikut kejar paket C programnya pemerintah bagi yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Di situ sekolah umum juga kalau soal pendidikan agama tidak ada jadi setelah SMP saya belajar agama hanya dari bapak saya dan dibantu buku buku yang saya punya.

  • Kenapa Nitya saat itu tak melanjutkan ke SMA umum?

Waktu itu saya pernah melanjutkan ke SMA di Malang, baru dua bulan saya keluar karena saya tidak betah tinggal di asrama. Dan akhirnya memutuskan ikut kejar paket C

  • Nitya tak ada rencana melanjutkan kuliah?

Nggih saya ada rencana melanjutkan kuliah. Tat astu svaha kalau tak ada halangan dan Tuhan menghendaki.

***

Nitya Yuli Pratistha ingin melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi Agama Hindu yang ada di daerah Jawa Timur. Ia punya cita-cita menjadi guru agama Hindu. Agar Hindu semakin berkembang terutama di Kabupaten Jombang sendiri. “Awignamastu kalau tidak ada halangan dan Tuhan memberikan ijin tahun ini saya akan masuk kuliah,” katanya.

Dan atikel ini punya harapan besar agar pembaca yang dermawan bisa membantu untuk memperlancar tercapainya cita-cita Nitya Yuli Pratistha… [T]

___

BACA JUGA CATATAN HARIAN SUGI LANUS

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha
Tags: balihinduintelektual hindujawaJawa Timur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selasa Pakai Endek | Mari Ingat Kembali Buleleng Endek Carnaval

Next Post

Patah hati? Yuk “Move On” dengan Konsep Kimia | tatkalamuda

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Patah hati? Yuk “Move On” dengan Konsep Kimia | tatkalamuda

Patah hati? Yuk “Move On” dengan Konsep Kimia | tatkalamuda

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co