6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialog Bisu di Meja Makan || Cerpen Satia Guna

Satia Guna by Satia Guna
January 2, 2021
in Cerpen
Dialog Bisu di Meja Makan || Cerpen Satia Guna

Ilustrasi oleh Satia Guna

Aku menikmati kesendirian ini, aku berhalusinasi tentang berbagai alasan kesendirianku. Tubuh ini terasa dingin sekali, padahal masih berada di dekatmu, sayang, ruangan ini terasa gelap, padahal masih ada engkau yang menerangi kegelisahanku, bibir ini terasa hambar, padahal setiap saat kau cumbu selalu, dan hati ini masih sunyi padahal sudah kau buka teralinya sejak mata kita bertemu...

Pagi ini aku menikmati segelas kopi gelap dan sepiring pisang goreng serta sebungkus kesendirian, kesendirian ini benar-benar yang paling nikmat. Padahal umur perkawinan kami sudah  menginjak 25 tahun, seharusnya rumah tangga kami semakin harmonis. Entah mengapa kekacauan pikiran untuk selalu merasa sendiri ini menggerogoti seluruh hati. Entah Ia juga merasakannya tapi sama sekali tak terlihat kalau ia merasakan bahwa ia pun mengalami pesakitan ini. Pagi ini ia minta izin padaku untuk pergi ke pasar membeli keperluan dapur.

Mengapa laki-laki itu seperti termangu pagi ini. Padahal hari ini hari yang sangat cerah, harusnya ia bersemangat dan pergi berolahraga bersama teman-temannya. Laki-laki itu nampak aneh belakangan ini. Ia selalu menghabiskan waktunya bersemedi dengan lukisannya. Tak pernah ia sempat untuk mencumbuku lagi. Dasar lelaki, di saat ada suatu pekerjaan yang sulit selalu egoismenya muncul. Aku kepasar pun ia hanya menatapku dan tak berkata sepatah katapun.

Aku lelah sekali pagi ini memikirkannya dan memikirkan rasa kesendirian ini. Masih adakah cinta yang kumiliki untuknya? Atau masih adakah cinta yang ia miliki padaku? Harusnya tak ada istilah cinta lagi dalam hubungan suami istri, yang ada harusnya rasa mengerti antara satu sama lain. Hari-hariku akhir-akhir ini terasa hambar dan pernah sekali kukatakan itu pada istriku tapi ia hanya menjawab biasa saja. Apakah itu menandakan ia sudah bosan padaku atau bagaimana, aku masih mencari tahu.

Apa sulit untuk membagi senyuman bagi istrinya yang tercinta ini. Aku sungguh-sungguh sudah merasa kebingungan dengan sifatnya yang aneh itu. Sifat yang selalu tak menganggapku ada dan sifat dimana aku hanya sebuah boneka yang setiap saat bisa ia mainkan jika dibutuhkan. Apa yang sedang ia pikirkan. Hanya dapur yang bisa mengerti seorang istri, tempat di mana ia bisa menumpahkan amarahnya pada sebuah wajan dan bawang.

Ia masih saja duduk di teras dan menatapku dengan tatapan yang begitu misterius, apakah ia ingin membunuhku, aku tertawa dalam hati sembari mengaduk telur dan beberapa sayuran yang tadi sudah kubeli. Aku bagai telur dalam baskom ini dan ia adalah sayurnya. Aku yang berusaha mengandaikan Sesutu hal dengan sangat luas dan ia hanya memikirkan sesuatu secara sempit. Masihkah ia mencintaiku atau cintanya mungkin sudah pudar dimakan usia.

Aku meragu pada istriku, raguku membuatku semakin senang, apa yang terjadi. Apa yang merasuki pikiranku. Aku terbawa suasana hati, aku terlampau jauh, terlampau jauh berharap.

Aku heran dengan semua perlakuannya padaku, hatiku terbakar, hangus tak tersisa. Ia terus memperhatikan gerak-gerikku, aku merasa risih, sungguh risih.

Biar kuceritakan sedikit pertemuan kami, ini adalah pertemuan yang begitu mengesankan hatiku. Aku adalah wanita dengan rambut bergelombang, kulitku sawo matang, wajahku bulat dengan mata berbingkai, dan senyum yang dihiasi lesung pipi. Kata-kata tentang diriku tadi, bukan aku yang menerka-nerka, ia yang mengatakannya, ia mengatakannya saat pertama kami bertemu dibawah pohon berdaun bintang, berdaun harapan. Ia memegang tanganku, sangat mesra, dengan kelingkingnya yang menggapai kelingkingku, ini sebuah perjanjian, iya ini sebuah perjanjian, sebuah perjanjian yang ia sematkan dalam doanya.

Kami masih duduk-duduk di bawah pohon berdaun bintang, berdaun harapan. Ditengah ramainya orang berlalu lalang menjumpai kami dengan bisikan diiringi tawa. Apa yang mereka tertawakan? Tempat kencan kami benar bukan, di bawah lindungan, dibawah pohon berdaun bintang, berdaun harapan.

Kami adalah pasangan yang sangat romantik dalam kesederhanaan, dalam kepekatan nasib, dan kegelisahan orang-orang.

Biarkan juga aku bercerita tentang masa-masa saat kita bertemu. Aku adalah, ah sudahlah. Bentuk tubuh seorang laki-laki tak harus kusampaikan. Laki-laki tak menarik untuk diceritakan. Bentuk tubuh lelaki tak menarik untuk diceritakan, yang lebih menarik diceritakan adalah kehebatan laki-laki. Baik, aku akan menceritakan tentang kehebatanku. Aku adalah seorang seniman propaganda yang sangat apik mengatur sandiwara. Aku orang hebat. Semua orang mengaggumi seniku, aku seorang laki-laki multitalenta, aku bisa menari, aku bisa melukis, aku berteater, menulis, ah semua aku bisa, tapi hanya satu yang tak aku bisa, yaitu membahagiakan hati perempuan. Beralih dari cerita kehidupanku. Wanita merupakan mahluk yang pelik, penuh dengan liku, penuh ranjau yang harus dilalui oleh seorang laki-laki. Wanita selalu menikmati hal-hal yang berbau romantik, semiotik, artistik, apalah yang tik..tik..tik, seperti rintik hujan di pagi hari, begitulah perempuan, seperti rintik hujan di pagi hari, hanya rintik tapi membasahi. Hei, aku menceritakanmu lebih baik dari pada dirimu, KAU TAHU!

Aku tahu ia sangat pandai mengatur sandiwara di rumah, ia seorang aktor teater wajarlah rumah dijadikan sebagai panggungnya. Ia mengatur tatanan lampu di rumah, mengatur dekorasinya agar terlihat lebih artistik, jujur ini membuatku muak. Wanita ia bilang menyukai hal-hal yang berbau artistik, cuiihhh, kami lebih suka hal-hal yang berbau romantik_SAMA SAJA.

Ia kenapa lagi minggu ini, selalu bermuram durja. Masakannya tak seenak seminggu yang lalu, empat hari yang lalu, dan dua hari yang lalu. Nasinya hambar, memang nasi itu hambar tapi tak seperti biasanya, sangat hambar bahkan dingin sedingin tangannya menuangi air ke gelasku, apakah ia berselingkuh, apa benar? Apa iya? Aku penasaran.

Hari ini aku memasakan nasi sisa kemarin padanya, semoga ia menikmati kehambaran hati ini. Menikmati piluku. Menuanginya air dingin membeku agar merogoh isi kepalanya yang selalu penuh api cemburu. Kau tahu sayang rambutmu yang gondrong itu perlu dicukur rapi, saat bercinta rambutmu itu membuat tubuhku geli.

Setiap hari aku selalu disuruh untuk mencukur rambutku, hei apa dia buta, rambut gondrongku ini memiliki kharisma tersendiri, kharisma yang membuat orang menjadi tahu aku seniman, bukan hanya rambut gondrongku, tapi wajahku yang berkarakter juga menambah aura senimanku keluar. Kau tak tahu apa-apa, ini bukan fhasion, ini jati diri.

Pagi yang cerah hari ini mereka berdua duduk berhadapan di meja makan, memandang satu sama lain, memandang mata, tangan bahu, hingga hati masing-masing. Suara tak terdengar di meja makan, suara tak terdengar di antara mereka. Yang terdengar hanyalah isi hati mereka yang tengah beradu.

Aku masih bertanya dalam hati, apakah istriku berselingkuh, apakah benar ia sudah mencintai pria lain, pria yang lebih gagah dariku, pria yang mengutamakan istrinya daripada lukisan istrinya. Memandangi manis istrinya bukan menambahkan rasa manis itu pada lukisan.

Ia berfikir aku selingkuh, ia pikir aku menghianatinya. Menghianati cinta yang sudah kubangun bertahun-tahun. Jawabanya tentu saja IYA. Iya aku berselingkuh, berselingkuh untuk kepentingannya. Untuk cerita-cerita yang akan ia tulis pada catatan hariannya yang ia kunci rapat-rapat dan takada satupun orang yang boleh melihatnya termasuk aku. ISTRINYA.

Jadi benar ia berselingkuh, jadi selama ini ia menghianati cintaku, menghianati janji yang kita buat di bawah pohon berdaun bintang, berdaun ah.. harapan katanya. Harapan yang seolah-olah pupus hanya karena disapu rasa curiga dan pengkhianatan, tapi, tapi aku menikmati ini, inilah puncak konflik yang aku tunggu-tunggu, di mana aku yang menderita, penderitaan ini sangat nikmat. Nikmat sekali, aku tersenyum sendiri seperti orang gila tapi sedikit waras. Ia berselingkuh. Aku penasaran dengan siapa ia berselingkuh, mungkinkah dengan sahabatku sendiri, atau dengan adikku, kakakku, ayolah kumohon orang terdekat, agar konfliknya semakin menarik, aku mencintai saat-saat seperti ini. Aku menikmatinya.

Iya, aku memang berselingkuh, berselingkuh dengan sahabatnya, yang lebih mapan, yang lebih mencintai wanita daripada lukisan wanita yang dicintainya. Tatanan rambut lebih rapi. Memakai jas, celana casual, dengan kemeja lengan panjang yang menawan, bagaimana? Bagus kan kalau seorang wanita yang menceritakan keindahan laki-laki, tak sepertimu yang hanya diam memandangi lekuk indah tubuhku pada lukisanmu itu. Aku muak suamiku yang tercinta, suamiku yang penuh dengan hal-hal romantik yang hanya kau nikmati sendiri tanpa kau bagi denganku. Kita sudahi saja untuk hari ini suamiku.

Mereka saling menatap satu sama lain, di tengah meja bundar itu, ditengah riuh suara sendok dan piring, dengan pemanis gemericik air kran, tetes demi tetes, yang mengiri mereka dalam dialog bisu yang setiap hari terjadi, mereka diam, hanya memandang, tertawa, tersenyum, menangis, namun tak berkata, hanya hati mereka berdialog di atas meja makan, di bawah alam sadar. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kiki Sulistyo || Hantu Rima, Pigmen Bunyi, Martiria

Next Post

Dewa Komang Yudi || Mengubah Lilin Menjadi Obor

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Dewa Komang Yudi || Mengubah Lilin Menjadi Obor

Dewa Komang Yudi || Mengubah Lilin Menjadi Obor

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co