24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekologi dalam Kata

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
November 25, 2020
in Esai
“Mungkah Saka” dan Kisah-kisah Para Pendeta

Hari Sabtu, 21 November 2020, saya diingatkan dua peringatan penting yang bermukim pada hari yang sama. Pada tanggal ini, masyarakat global memperingati Hari Pohon Sedunia atau “Arbor Day”. Arbor merupakan bahasa Latin dari pohon.

Seperti namanya, hari ini mengingatkan umat manusia terhadap pohon sebagai unsur penting penyangga lingkungan hidup. Hari Pohon Sedunia ada sebagai penghormatan untuk pecinta alam asal Amerika, J. Sterling Morton. Semasa hidupnya, aktivis yang sempat menjadi editor koran ini aktif mengkampanyekan pentingnya menanam pohon untuk kelangsungan hidup bumi. Sehingga, ia merekomendasikan ada satu hari yang secara khusus digunakan untuk menanam pohon.

Pada tanggal dan hari yang sama, kawitan saya menimba ilmu, Program Studi Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana, merayakan ulang tahun ke-62. Konon, prodi ini dibentuk 21 November 1958, beberapa bulan setelah Fakultas Sastra Udayana bagian dari Universitas Airlangga diresmikan. Maka dari itu, Sastra Jawa Kuno menjadi salah satu prodi tertua yang dimiliki Universitas Udayana. Usianya empat tahun lebih tua dibandingkan Universitas Udayana sendiri yang diresmikan tanggal 17 Agustus 1962—namun kemudian memperingati Dies Natalis pada 29 September, mengikuti peresmian Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) yang diresmikan tanggal 29 September 1958.

Prodi Sastra Jawa Kuno saat ini masih tercatat sebagai program yang sepi peminat. Memang, tak banyak orang yang tertarik pada objek kajiannya: bahasa dan sastra Jawa Kuno. Pada era milenial saat ini, bahasa Jawa Kuno memang tak lagi menjadi bahasa komunikasi. Eksistensinya hanya sebatas pada dokumen-dokumen masa lalu seperti prasasti dan digunakan dalam karya sastra tradisi seperti kidung, kakawin, parwa, kanda, babad, serta berbagai turunan alih wahananya seperti pertunjukkan wayang kulit, topeng, calonarang, dan lain-lain. Oleh karena itu, bahasa ini kemudian lebih dikenal sebagai bahasa kawi, yang artinya bahasa yang dipakai oleh para kawi atau pengarang teks tradisi. Lantaran lebih banyak eksis dalam lontar, maka bahasa Jawa Kuno dianggap sebagai bahasa yang wayah; bahasa bhuta dan dewa karena digunakan sebagai puja dalam praktik ritual masyarakat Hindu.

Lalu, mengapa bahasa Jawa Kuno yang merupakan “bahasa mati” itu dipelajari, dibuatkan ruang studi, dan dipertahankan keberadannya meski selalu sepi peminat? Sepanjang pengetahuan saya, tidak pernah sekali pun Program Sastra Jawa Kuno mendapat mahasiswa lebih dari 20 orang. Jika berbicara dalam ranah untung-rugi secara material, membuka prodi ini tentu adalah beban bagi universitas terbesar di Tanah Dewata. Peminatnya yang minim tidak akan mampu mendongkrak biaya operasional prodi, apalagi untuk mencari untung. Maka, untuk menjamin kehidupannya perlu dilakukan subsidi. Beasiswa juga harus digelontor untuk menarik minat orang masuk.

Ada banyak anggapan bahwa upaya mempertahankan hidup Prodi Sastra Jawa Kuno hanya terkait persoalan “etis kebudayaan” universitas tertua di Bali ini. Mungkin benar, tapi tidaklah seluruhnya. Jika kita kembali ke masa silam, konon visi pendirian Fakultas Sastra Udayana yang menjadi embrio Universitas Udayana adalah menjadi institusi “Pewahyu Rakyat Nusantara”. Konon, kebudayaan Bali yang diluhung merupakan sebuah “peti wasiat” yang berisi mutiara dan emas-permata kearifan peradaban Nusantara di masa silam. Dan, di sinilah bahasa dan sastra Jawa Kuno memegang peran sebagai salah satu “kunci pembuka peti wasiat” leluhur Nusantara.

Apa ini sebuah romantisme masa lalu? Bisa dimaknai iya maupun tidak. Namun yang jelas, bahasa Jawa Kuno beberapa abad yang silam merupakan lingua franca atau bahasa pergaulan bangsa-bangsa Nusantara. Maka, tidak salah jika kemudian kearifan-kearifan yan dimiliki nenek moyang di masa silam tersimpan dalam bahasa dan sastra Jawa Kuno. Jika boleh saya mengajukan analogi, lontar adalah sebuah komputer sedangkan sastra Jawa Kuno merupakan mahadata kearifan yang sewaktu-waktu bisa diunduh untuk berbagai kepentingan. Sementara, bahasa Jawa Kuno adalah deretan barisan sandi yang dipentingkan dalam langkah mengunduh data tersebut.

Satu kearifan yang bisa kita unduh dari mahadata sastra Jawa Kuno yang relevan untuk memperingati Hari Pohon Sedunia adalah kearifan ekologinya. Dalam alam pikir Jawa Kuno, sebagaimana diungkapkan Zoetmulder (1985), alam bagi penyair tidak hanya terkesan oleh kemiripan sifat antara alam dan manusia. Lebih jauh, bagi penyair alam merupakan reaksi dengan cara manusiawi serta bentuk manusiawi. Alam merupakan reaksi dengan cara manusiawi dan mengambil bagian dalam perasaan manusia yang bergerak di tengah-tengah alam.

Kakawin Ramayana menjadi contoh yang baik untuk mengetahui cara pandang Jawa Kuno terhadap alam lingkungan. Sargah II kakawin tertua ini secara sempurna menggambarkan keindahan alam dengan penggambaran telaga penuh lotus dengan pohon memayungi hutan. Jika kita mau menilai secara jujur, bagian tersebut turut menerangkan bahwa sosok yang kita sebut sebagai raksasa adalah para penjaga nafas hutan.

Bait 27 misalnya, menjelaskan setelah Sang Rama berhasil membunuh Sang Tatakakya, para pemanfaat hutan tampak semakin berani menjelajah hutan. Harimau, singa, juga para pertapa kecil begitu leluasa berkeliaran di tengah hutan. Sifat mereka berbeda sekali ketika Sang Tatakakya masih hidup. Kala itu mereka semua tiarap, berpikir dua kali untuk mengusik hutan.

Sementara itu, pada bait ke-40, Sang Marica, pemimpin dari para raksasa, ketika didakwa sebagai perusak yadnya yang dilakukan para resi di tengah hutan hanya demi kepentingan makanan dan perhiasan, secara tegas dan bernas menyatakan bahwa dirinya tak perlu daging, emas, maupun makanan.  Apa yang dilakukannya tak lain terkait dengan swadharma sebagai raksasa yang memang wajib merusak—peradaban—dunia, kemudian mengembalikannya menjadi belantara [Nyan rāt kabeh ya rabhasāngkwa taman paśeśā; wehêngku tang bhuwana dadya alas ya śunyā; āpan swabhāwa mami rākṣasa sāhaseng rāt; nā lingnya śighra sumahur nrêpa putra Rāma (Semua dunia ini hendakku rusak hingga tak bersisa; kujadikanlah dunia ini menjadi hutan yang sepi; sebab kewajiban kami para raksasa memerangi dunia; demikian katanya, dengan cepat raja putra, Rama, menjawab)].

Demikianlah raksasa dijelaskan menjadi pancang kelestarian hutan. Lalu, tidakkah mungkin sosok harimau, singa, dan pertapa yang dimaksud penyair adalah mereka yang mengeksploitasi hutan? Jika demikian, hakekatnya sangat penting menjaga rasa takut demi kebaikan bersama. Sementara, sikap Marica yang merusak demi kepentingan hutan tentu lebih mulia dibanding sikap manusia yang berlaku sebaliknya. Saat ini bukannya banyak manusia yang mengorbankan alam demi legalitas makmur sentosa?

Lebih jauh, tentang akibat dari tata kelola lingkungan yang salah, Kakawin Siwaratrikalpa memberikan cermin yang tak kalah menarik. Umumnya, kakawin yang dijadikan landasan pelaksanaan Brata Siwaratri ini lebih sering dinilai sebagai simbol pencapaian spiritual. Padahal, jika dibaca dengan cara berbeda dari dogma yang selama ini ditawarkan, Si Lubdaka yang malang secara jelas diceritakan melihat kerusakan lingkungan hidup sesaat sebelum masuk hutan.

Sang kawi menjelaskan pemburu malang itu melihat sawah yang rusak, pasraman yang roboh, dan aliran air yang tak lagi diperhatikan. Akibatnya, pada hari yang malang itu Lubdaka harus mengusap dada lantaran tak berhasil mendapatkan satu pun hewan buruan.

Apa mungkin fragmen itu menunjukkan kondisi ketidakstabilan ekosistem akibat tata kelola yang salah, sehingga tak lagi ada sumber makanan yang bisa menunjang kehidupan manusia. Dan, Si Lubdaka ternyata beruntung, kemudian melakukan introspeksi mendalam dan pada akhirnya diselamatkan oleh Sang Hyang Nilakanta. Lalu, apakah kita bisa menjadi Lubdaka selanjutnya? Persoalan bisa dan tidak, dengan berat tak mampu saya jawab. Tapi, rasa-rasanya kita belum terlambat.

Demikianlah beberapa kearifan sastra Jawa Kuno yang sekiranya relevan dan reflektif digunakan untuk memperingati 21 November. Selamat Hari Pohon Sedunia, selamat HUT ke-62 Prodi Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana. [JPDB]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemilihan Langsung Dari Perspektif Konflik

Next Post

“Minta Tolong” dan “Jangan Baper”, Kata-kata Ampuh Untuk Mencuci Otak Para Karyawan!

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
“Minta Tolong” dan “Jangan Baper”, Kata-kata Ampuh Untuk Mencuci Otak Para Karyawan!

“Minta Tolong” dan “Jangan Baper”, Kata-kata Ampuh Untuk Mencuci Otak Para Karyawan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co