25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bhūr Bhuvaḥ Svaḥ Dalam Diri

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 15, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

—Catatan Harian Sugi Lanus, 15 Oktober 2020

1. Umat Hindu sedari kecil diajak mengucapkan doa-mantra Gayatri yang isinya mendoakan kedamaian bhūr bhuvaḥ svaḥ. Lalu disebutkan bahwa bhūr bhuvaḥ svaḥ itu adalah tiga dunia. Ada yang memberi arti: Damai di bumi, damai alam leluhur, dan damai alam dewata. Pada pokoknya umat Hindu diajari sedari kecil untuk berkontribusi dan berikrar untuk menegakkan cita-cita hidup bersama dalam kedamaian, dengan terus mendoakan harmoni dunia, sampai berlapis-lapis dunia lain.

2. Selain bhūr bhuvaḥ svaḥ mengandung arti tiga lapis alam luar yang “menyangga kehidupan”, ada penjelasan lainnya yang membuat kita lebih merasa lebih dekat dengan doa-mantra ini: Di dalam diri kita ada bhūr bhuvaḥ svaḥ.

Pembagiannya sebagai berikut: 

(a) bhūr adalah “ketika kita terjaga” atau “kesadaran terjaga”; 

(b) bhuvaḥ adalah “ketika kita bermimpi” atau “kesadaran ketika bermimpi dalam tidur”; dan

(c) svaḥ adalah “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi”, “hening sunia dalam tidur” atau “deep sleep”.

Penjelasannya sebagai berikut:

(a). Bhūr adalah “ketika kita terjaga” atau “kesadaran terjaga”. Ini adalah situasi manusia melek atau terjaga, ketika berinteraksi dan berpikir, menghayal, atau ketika dalam marah, bentuk sesal dan penderitaan karena sakit dan atau senang. Ini bisa disebut sebagai “dunia paling nyata” atau kasat mata yang dialami manusia. Di sini pikiran dan tubuh harus saling menjaga dan mendukung, kalau tidak tubuh akan menjadi sakit. Jika tubuh diperalat oleh kecerobohan pikiran dan ego, ambisi dan nafsu, serta berbagai gundah-gulana manusia, tubuh akan mengalami derita dan mudah jatuh sakit atau tidak bisa berpikir jernih. Dalam “kesadaran bhūr” peran pikiran sangat penting. Pikiran bahkan bisa dikatakan mendominasi dan berebutan dengan nafsu hayali dan keinginan tubuh yang mudah tergoda.

Seseorang menunggu tumbuhnya kedewasaan pikiran dan pertumbuhan batin untuk bisa mendamaikan pikiran, ego dan nafsu badaniahnya. Berdamai dan arif bijak mendamaikan kesehatan tubuh, loncatan dan ambisi pikiran yang suka ngelantur, atau dorongan fisikal, seperti nafsu dan keinginan ketubuhan lainnya; kesemuanya membutuhkan kedewasaan memahami, agar tidak saling mengorbankan. Tubuh, pikiran, imajinasi, semuanya ingin mendapat tempat masing-masing. Seiring bertumbuhnya kedewasaan, seseorang baru bisa mendamaikannya. Jika telah muncul kedewasaan, seseorang baru bisa memahami proporsi berbagai tarikan ego, pikiran dan ketertarikannya pada berbagai hal. Membutuhkan latihan kesadaran penuh untuk bisa mendamaikan semua letupan-letupan berlebihan yang tidak penting dari segala penjuru pikiran, nafsu, imajinasi dan segala kemalasan.

(b). Kesadaran bhuvaḥ adalah kesadaran ketika kita memasuki tidur dan menemukan diri dalam mimpi. Ini adalah kegelisaan yang memenuhi pikiran ketika tidur.  “Ketika mimpi” atau “sang diri” dalam tidur kita sulit sekali dihandle atau dikontrol oleh pikiran. Ketika tidur pikiran kita seperti tidak berkuasa atau hilang. Padahal pikiran tidak tidur, tapi tetap bekerja dan berproses, mewujud dalam bentuk mimpi, yang tak lain bentuk kegelisahan berpikir. Dalam mimpi ini pikiran seperti memasuki hayal dalam tidur. Mimpi seperti halayan atau lamunanan ketika tubuh tertidur.

Tubuh tidur, pikiran melamun dan menghayal, dan atau kemana-mana tidak jelas, maka terjadi kegelisahan tidur. Bisa saja ketakutan dalam dunia nyata ketika kita terjaga, punya tanggungan kerja belum selesai, punya tunggakan, atau perasaan khawatir pada pasangan, atau kepemilikan berlebihan yang membuat kita takut kehilangan, dstnya, dll; ini membuat kita menjadi memasuki “kesadaran mimpi” yang amburadur tidak terkontrol. Tidur penuh mimpi, sering merasa bermimpi tetapi tidak kita ingat, dan kalau ingat kita menjadi sangat tidak nyaman baik ketika bermimpi, bahkan ketidaknyamanan itu terbawa ketika terjaga.

Apapun alasan kita “masuk ke kesadaran mimpi”, entah ada yang percaya itu sebagai petunjuk atau pengalaman batin dll, itulah kesadaran manusia atau diri kita dalam dunia mimpi, atau kesadaran bhuvaḥ. Biasanya orang yang tidak nyaman atau tidak damai dalam kesadaran terjaga (kesadaran Bhūr) juga tidak damai dalam tidurnya. Kesadaran terjaga (kesadaran Bhūr) berkorelasi dengan tidurnya, biasanya menyebabkan ketika tertidur akan memasuki alam tidur yang penuh mimpi tidak jelas. Mereka yang tidak tertata di “kesadaran Bhūr” ketika memasuki “kesadaran bhuvaḥ” menjadi tidak nyaman dan banyak mimpi yang tidak terjelaskan, mengganjal hati dan menyandra pikirannya di alam mimpi. Sering kali ingatan mimpinya, ketikan terjaga atau bangun, membuat bangun tidur tapi kelelahan atau uring-uringan, atau mengalami ketidaknyamanan seperti baru mengalami peristiwa buruk, walaupun secara nyata ia baru bangun tidur.

(c). Alam svaḥ adalah “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi”, “hening sunia dalam tidur” atau “deep sleep”.

Bisa tidur tanpa mimpi dan bisa masuk “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi” adalah bonus besar dalam hidup. Ini dikatakan sama dengan pengalaman meditasi mendalam. Mereka yang tertidur pulas dan hening seperti bayi, sesungguhnya “terhubung” dengan “Sumber Kehidupan”.

“Alam svaḥ” dalam diri manusia itu antara ada, tapi juga tiada.

Dalam “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi” manusia menyentuh titik persentuhan dengan kesadaran terdalam alam semesta. Ini terjadi ketika memasuki ambang batas tidur tanpa mimpi, dan masuk ke dalamnya lagi terjaga di sana, dalam sunyi hening tiada terperi, gemilang dan damai yang paling dalam. Tidak terlukis kata tapi ada sesuatu yang sadar di sana. Tidak bermimpi, tapi keheningan pulas yang sangat dalam.

3. Terjaga, tidur bermimpi, tidur hening tanpa mimpi — itulah dalam diri kita sebagai bhūr bhuvaḥ svaḥ. Bisakah semuanya dalam “situasi damai”? Ketika kita damai dalam kenyataan hidup, dalam ambang mimpi pun damai, dalam ketiadaan-ingatan dalam tidur lelap kita damai. Tiga alam kesadaran itu damai. Nasihat pustaka leluhur, tiga alam kesadaran ini diharapkan bisa damai.

4. Ada pula yang menyebutkan bahwa ketiga alam ini terkait dengan SARIRA TRAYA:  Sthula sarira (badan kasar); Suksma sarira (badan halus) dan Karana Sarira (tubuh lapisan terdalam sebagai ‘penyebab’).

Lapis alam, lapis kesadaran, lapis sarira, terangkum dalam ungkapan bhūr bhuvaḥ svaḥ di dan dalam diri manusia.

5. Lebih jauh, kenapa ada kata “dhīmahi” dalam doa-mantra Gayatri? “Dhīmahi” = Marilah bemeditasi padanya. Muasal katanya: “dhī”. Ada pula dalam kata “samadhī”. Berpusat pada “dhī” = pikiran. Seorang yogi atau sesorang yang menjalani disiplin mendalam dalam tradisi yoga, bergerak lebih jauh lagi. Setelah berhasil mendamaikan tiga lapis alam kesadaran itu— bhūr bhuvaḥ svaḥ— dalam yoga ia “melampaui tidur tanpa mimpi”. Alam kesadaran ini hanya bisa dimasuki lewat yoga. Baik yoga dalam sikap duduk dari terjaga, atau kesadaran penuh (mindfullness) dalam setiap langkah sehari-hari, atau yoga dengan memasuki tidur, atau disebut sebagai yoga nidra. Dalam pustaka yogi yang diwariskan di Bali dan Jawa, alam melampaui ketiga ini disebut “turya” — bagian keempat. Ini bukanlah terjaga, bukan bermimpi, ataupun bukan tidur nyenyak. Sebelum sampai ke sana, menurut para guru batin yang menulis ajaran tattwa kuno, harus dipahami bahwa di antara tiga alam tersebut ada semacam titik temu atau ambangnya. Atau persimpangan antara salah satu dari tiga kesadaran atau alam tersebut, yaitu: Antara bangun dan bermimpi, antara bermimpi dan tidur nyenyak, dan antara tidur nyenyak dan bangun. Ada semacam jembatan titik-titik hubung jadi perantara di sana. Tiga kesadaran itu ditambah dengan “turya” menjadi 4 alam atau bagian. Kemudian, mereka yang disebut sebagai mencapai tingkatan tertinggi manusia, setelah melampaui 4 alam ini, ia masuk ke tahapan ke 5, yang disebut “turiyatita” — alam atau kesadaran di luar Turiya. Turiyatita ini disebut juga sebagai “śunya” — keadaan di mana seseorang mencapai pembebasan atau dikenal sebagai “jivanmukti” atau “moksha”.

6. Doa sehari-hari yang berisi doa kedamaian bhūr bhuvaḥ svaḥ bisa bersifat keluar diri, sekaligus ke dalam diri. Bhūr bhuvaḥ svaḥ sebagai tiga dunia luar, sekaligus lapis dalam diri. Lalu ditutup dengan “dhiyo yo naḥ pracodayāt”

dhiyoḥ = intelek, kemampuan rohaniah di dalam tubuh, aktivitas hidup

yoḥ = yang

naḥ = milik kita, dari kita

pracodayāt = untuk bergerak ke arah tertentu

cod = untuk memindahkan (sesuatu / seseorang) ke arah tertentu

pra = awalan “maju, maju”

pracud = “untuk memajukan (sesuatu / seseorang)”

Puncak doa-mantra ini memberi petunjuk dan arahan agar dunia di luar diri didamaikan dalam doa, lalu dunia atau alam di dalam diri didamaikan, menuju pemanunggalan luar-dalam, menaiki tangga diri memasuki dan menaiki kesadaran, “dhī” dan “dhiyoḥ”. Dari intelek yang mendalam dan bercahaya menuju esensi cahaya — “śunya” — atau “Turiyatita”.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sedarah, Jembatan Pencari dan Pendonor Plasma Pasien Covid-19

Next Post

“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co