3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bhūr Bhuvaḥ Svaḥ Dalam Diri

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 15, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

—Catatan Harian Sugi Lanus, 15 Oktober 2020

1. Umat Hindu sedari kecil diajak mengucapkan doa-mantra Gayatri yang isinya mendoakan kedamaian bhūr bhuvaḥ svaḥ. Lalu disebutkan bahwa bhūr bhuvaḥ svaḥ itu adalah tiga dunia. Ada yang memberi arti: Damai di bumi, damai alam leluhur, dan damai alam dewata. Pada pokoknya umat Hindu diajari sedari kecil untuk berkontribusi dan berikrar untuk menegakkan cita-cita hidup bersama dalam kedamaian, dengan terus mendoakan harmoni dunia, sampai berlapis-lapis dunia lain.

2. Selain bhūr bhuvaḥ svaḥ mengandung arti tiga lapis alam luar yang “menyangga kehidupan”, ada penjelasan lainnya yang membuat kita lebih merasa lebih dekat dengan doa-mantra ini: Di dalam diri kita ada bhūr bhuvaḥ svaḥ.

Pembagiannya sebagai berikut: 

(a) bhūr adalah “ketika kita terjaga” atau “kesadaran terjaga”; 

(b) bhuvaḥ adalah “ketika kita bermimpi” atau “kesadaran ketika bermimpi dalam tidur”; dan

(c) svaḥ adalah “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi”, “hening sunia dalam tidur” atau “deep sleep”.

Penjelasannya sebagai berikut:

(a). Bhūr adalah “ketika kita terjaga” atau “kesadaran terjaga”. Ini adalah situasi manusia melek atau terjaga, ketika berinteraksi dan berpikir, menghayal, atau ketika dalam marah, bentuk sesal dan penderitaan karena sakit dan atau senang. Ini bisa disebut sebagai “dunia paling nyata” atau kasat mata yang dialami manusia. Di sini pikiran dan tubuh harus saling menjaga dan mendukung, kalau tidak tubuh akan menjadi sakit. Jika tubuh diperalat oleh kecerobohan pikiran dan ego, ambisi dan nafsu, serta berbagai gundah-gulana manusia, tubuh akan mengalami derita dan mudah jatuh sakit atau tidak bisa berpikir jernih. Dalam “kesadaran bhūr” peran pikiran sangat penting. Pikiran bahkan bisa dikatakan mendominasi dan berebutan dengan nafsu hayali dan keinginan tubuh yang mudah tergoda.

Seseorang menunggu tumbuhnya kedewasaan pikiran dan pertumbuhan batin untuk bisa mendamaikan pikiran, ego dan nafsu badaniahnya. Berdamai dan arif bijak mendamaikan kesehatan tubuh, loncatan dan ambisi pikiran yang suka ngelantur, atau dorongan fisikal, seperti nafsu dan keinginan ketubuhan lainnya; kesemuanya membutuhkan kedewasaan memahami, agar tidak saling mengorbankan. Tubuh, pikiran, imajinasi, semuanya ingin mendapat tempat masing-masing. Seiring bertumbuhnya kedewasaan, seseorang baru bisa mendamaikannya. Jika telah muncul kedewasaan, seseorang baru bisa memahami proporsi berbagai tarikan ego, pikiran dan ketertarikannya pada berbagai hal. Membutuhkan latihan kesadaran penuh untuk bisa mendamaikan semua letupan-letupan berlebihan yang tidak penting dari segala penjuru pikiran, nafsu, imajinasi dan segala kemalasan.

(b). Kesadaran bhuvaḥ adalah kesadaran ketika kita memasuki tidur dan menemukan diri dalam mimpi. Ini adalah kegelisaan yang memenuhi pikiran ketika tidur.  “Ketika mimpi” atau “sang diri” dalam tidur kita sulit sekali dihandle atau dikontrol oleh pikiran. Ketika tidur pikiran kita seperti tidak berkuasa atau hilang. Padahal pikiran tidak tidur, tapi tetap bekerja dan berproses, mewujud dalam bentuk mimpi, yang tak lain bentuk kegelisahan berpikir. Dalam mimpi ini pikiran seperti memasuki hayal dalam tidur. Mimpi seperti halayan atau lamunanan ketika tubuh tertidur.

Tubuh tidur, pikiran melamun dan menghayal, dan atau kemana-mana tidak jelas, maka terjadi kegelisahan tidur. Bisa saja ketakutan dalam dunia nyata ketika kita terjaga, punya tanggungan kerja belum selesai, punya tunggakan, atau perasaan khawatir pada pasangan, atau kepemilikan berlebihan yang membuat kita takut kehilangan, dstnya, dll; ini membuat kita menjadi memasuki “kesadaran mimpi” yang amburadur tidak terkontrol. Tidur penuh mimpi, sering merasa bermimpi tetapi tidak kita ingat, dan kalau ingat kita menjadi sangat tidak nyaman baik ketika bermimpi, bahkan ketidaknyamanan itu terbawa ketika terjaga.

Apapun alasan kita “masuk ke kesadaran mimpi”, entah ada yang percaya itu sebagai petunjuk atau pengalaman batin dll, itulah kesadaran manusia atau diri kita dalam dunia mimpi, atau kesadaran bhuvaḥ. Biasanya orang yang tidak nyaman atau tidak damai dalam kesadaran terjaga (kesadaran Bhūr) juga tidak damai dalam tidurnya. Kesadaran terjaga (kesadaran Bhūr) berkorelasi dengan tidurnya, biasanya menyebabkan ketika tertidur akan memasuki alam tidur yang penuh mimpi tidak jelas. Mereka yang tidak tertata di “kesadaran Bhūr” ketika memasuki “kesadaran bhuvaḥ” menjadi tidak nyaman dan banyak mimpi yang tidak terjelaskan, mengganjal hati dan menyandra pikirannya di alam mimpi. Sering kali ingatan mimpinya, ketikan terjaga atau bangun, membuat bangun tidur tapi kelelahan atau uring-uringan, atau mengalami ketidaknyamanan seperti baru mengalami peristiwa buruk, walaupun secara nyata ia baru bangun tidur.

(c). Alam svaḥ adalah “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi”, “hening sunia dalam tidur” atau “deep sleep”.

Bisa tidur tanpa mimpi dan bisa masuk “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi” adalah bonus besar dalam hidup. Ini dikatakan sama dengan pengalaman meditasi mendalam. Mereka yang tertidur pulas dan hening seperti bayi, sesungguhnya “terhubung” dengan “Sumber Kehidupan”.

“Alam svaḥ” dalam diri manusia itu antara ada, tapi juga tiada.

Dalam “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi” manusia menyentuh titik persentuhan dengan kesadaran terdalam alam semesta. Ini terjadi ketika memasuki ambang batas tidur tanpa mimpi, dan masuk ke dalamnya lagi terjaga di sana, dalam sunyi hening tiada terperi, gemilang dan damai yang paling dalam. Tidak terlukis kata tapi ada sesuatu yang sadar di sana. Tidak bermimpi, tapi keheningan pulas yang sangat dalam.

3. Terjaga, tidur bermimpi, tidur hening tanpa mimpi — itulah dalam diri kita sebagai bhūr bhuvaḥ svaḥ. Bisakah semuanya dalam “situasi damai”? Ketika kita damai dalam kenyataan hidup, dalam ambang mimpi pun damai, dalam ketiadaan-ingatan dalam tidur lelap kita damai. Tiga alam kesadaran itu damai. Nasihat pustaka leluhur, tiga alam kesadaran ini diharapkan bisa damai.

4. Ada pula yang menyebutkan bahwa ketiga alam ini terkait dengan SARIRA TRAYA:  Sthula sarira (badan kasar); Suksma sarira (badan halus) dan Karana Sarira (tubuh lapisan terdalam sebagai ‘penyebab’).

Lapis alam, lapis kesadaran, lapis sarira, terangkum dalam ungkapan bhūr bhuvaḥ svaḥ di dan dalam diri manusia.

5. Lebih jauh, kenapa ada kata “dhīmahi” dalam doa-mantra Gayatri? “Dhīmahi” = Marilah bemeditasi padanya. Muasal katanya: “dhī”. Ada pula dalam kata “samadhī”. Berpusat pada “dhī” = pikiran. Seorang yogi atau sesorang yang menjalani disiplin mendalam dalam tradisi yoga, bergerak lebih jauh lagi. Setelah berhasil mendamaikan tiga lapis alam kesadaran itu— bhūr bhuvaḥ svaḥ— dalam yoga ia “melampaui tidur tanpa mimpi”. Alam kesadaran ini hanya bisa dimasuki lewat yoga. Baik yoga dalam sikap duduk dari terjaga, atau kesadaran penuh (mindfullness) dalam setiap langkah sehari-hari, atau yoga dengan memasuki tidur, atau disebut sebagai yoga nidra. Dalam pustaka yogi yang diwariskan di Bali dan Jawa, alam melampaui ketiga ini disebut “turya” — bagian keempat. Ini bukanlah terjaga, bukan bermimpi, ataupun bukan tidur nyenyak. Sebelum sampai ke sana, menurut para guru batin yang menulis ajaran tattwa kuno, harus dipahami bahwa di antara tiga alam tersebut ada semacam titik temu atau ambangnya. Atau persimpangan antara salah satu dari tiga kesadaran atau alam tersebut, yaitu: Antara bangun dan bermimpi, antara bermimpi dan tidur nyenyak, dan antara tidur nyenyak dan bangun. Ada semacam jembatan titik-titik hubung jadi perantara di sana. Tiga kesadaran itu ditambah dengan “turya” menjadi 4 alam atau bagian. Kemudian, mereka yang disebut sebagai mencapai tingkatan tertinggi manusia, setelah melampaui 4 alam ini, ia masuk ke tahapan ke 5, yang disebut “turiyatita” — alam atau kesadaran di luar Turiya. Turiyatita ini disebut juga sebagai “śunya” — keadaan di mana seseorang mencapai pembebasan atau dikenal sebagai “jivanmukti” atau “moksha”.

6. Doa sehari-hari yang berisi doa kedamaian bhūr bhuvaḥ svaḥ bisa bersifat keluar diri, sekaligus ke dalam diri. Bhūr bhuvaḥ svaḥ sebagai tiga dunia luar, sekaligus lapis dalam diri. Lalu ditutup dengan “dhiyo yo naḥ pracodayāt”

dhiyoḥ = intelek, kemampuan rohaniah di dalam tubuh, aktivitas hidup

yoḥ = yang

naḥ = milik kita, dari kita

pracodayāt = untuk bergerak ke arah tertentu

cod = untuk memindahkan (sesuatu / seseorang) ke arah tertentu

pra = awalan “maju, maju”

pracud = “untuk memajukan (sesuatu / seseorang)”

Puncak doa-mantra ini memberi petunjuk dan arahan agar dunia di luar diri didamaikan dalam doa, lalu dunia atau alam di dalam diri didamaikan, menuju pemanunggalan luar-dalam, menaiki tangga diri memasuki dan menaiki kesadaran, “dhī” dan “dhiyoḥ”. Dari intelek yang mendalam dan bercahaya menuju esensi cahaya — “śunya” — atau “Turiyatita”.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sedarah, Jembatan Pencari dan Pendonor Plasma Pasien Covid-19

Next Post

“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co