24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
October 15, 2020
in Esai
“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

            Tempo hari saya berkesempatan mengikuti sebuah trip bernama “We Love Bali” yang diwadahi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang berlangsung dari bulan Oktober hingga November mendatang. Sederhananya, trip ini dilaksanakan untuk membangkitkan pariwisata khususnya di Bali yang keadaannya hingga hari ini masih tidak baik-baik saja. Namun pada tulisan ini saya tidak akan membahas susunan acara dari program ini karena pembaca bisa saja mencari informasi tersebut di website berbeda yang telah disediakan. Tulisan ini hanya berfokus pada apa yang saya rasakan di tiap tempat wisata yang kami kunjungi khususnya tempat wisata yang benar-benar terasa aura kesunyiannya. Ada beberapa hal menarik yang saya jumpai dan rasakan selama mengikuti trip yang berlangsung dari tanggal 11-13 Oktober kemarin. Saya menganggap bahwa perjalanan ini tiada lain adalah tentang perayaan atas sebuah kesunyian.

            Sesuai dengan nama trip ini, “WE LOVE BALI” ingin membangun sebuah branding dimana pariwisata Bali masih memiliki harapan untuk bangkit kembali dan masih baik-baik saja untuk dikunjungi oleh wisatawan. Hal ini tentu tak lepas dari pengadaan protokol kesehatan pada setiap tempat wisata. Dimulai pada hari minggu, kami berangkat dari Singaraja menuju kawasan Kintamani lalu menuju Bali Banana Cacao Park Restaurant di daerah Ubud. Sebuah restaurant dengan nuansa ala-ala warung makan tepi sawah tersebut sungguh memanjakan mata kami. Bagaimana tidak, tempat tersebut berdampingan dengan sawah dengan hamparan padi hijau serta perkebunan pisang serta coklat di sekitar area restaurant. Akan tetapi, dengan segala kenyamanan tersebut, kondisi restaurant itu sangatlah sepi. Hanya ada kami, para peserta tour yang berkunjung kesana saat itu. Disela-sela waktu makan siang disana, saya dan beberapa teman berkeliling untuk melihat keadaan restaurant. Benar-benar sepi, disana ada sebuah tempat pengolahan coklat namun tidak beroperasi mungkin dikarenakan sedikitnya pengunjung yang datang ke restaurant tersebut akibat pandemi ini. Sungguh memerihatinkan sekali keadaannya. Selepas dari Bali Banana Cacao Park Restaurant, kami menuju Bali Zoo. Di Bali Zoo, suasanya tidak terlalu ramai namun tak juga sepi akan tetapi nuansa berbeda sangat terasa dari Bali Zoo saat sebelum dan sesudah pandemi berlangsung. Bagi pembaca yang sudah pernah berkunjung ke Bali Zoo sebelum pandemi lalu sekarang kembali berkunjung kesana, saya yakin pembaca akan menyetujui apa yang saya tuliskan sebelumnya. Tak hanya sepi akan suara manusia, Bali Zoo pun sepi akan suara dari para binatangnya.

Hari kedua, kami tiba di Uluwatu sekitar pukul 3 sore. Jujur saja, ini kali pertama saya datang ke salah satu tempat pertunjukan tari Kecak paling fenomenal di Dunia ini. sebelum tiba di Uluwatu, saya terlebih dahulu sudah membayangkan bagaimana nanti kera-kera disana akan mencuri barang bawaan yang saya pegang, bagaimana nanti kera-kera tersebut dengan lincahnya melompat-lompat diatas kepala saya. Benar, setidaknya seperti itu yang saya tonton di Youtube. Musabab hal tersebut, saya pun tak membawa barang apapun manakala turun dari Bus. Namun sayang, ternyata ekspektasi saya lagi-lagi harus terpatahkan. Saya tahu bahwa kondisi Uluwatu akan sepi oleh karena pandemi, namun saya tak menyangka juga bahwa kawanan kera pun sangat sedikit yang menunjukkan dirinya. Hanya ada sekitar 2-3 ekor Kera saja yang saya lihat di Uluwatu. “Kemana perginya kera-kera disini ya? Apakah mereka juga ikutan Work From Home?” Tanya saya dalam hati. Saya merasa bahwa mungkin binatang pun turut merasakan “kesunyian” di rumahnya. Tak ada satupun manusia yang singgah ke rumah mereka selama beberapa bulan, pastilah mereka rindu rasanya diberi makan atau mencuri barang milik manusia. Sungguh sebuah kesunyian yang aneh saja bagi saya pribadi. Uluwatu benar-benar berubah saat ini.

Hari terakhir, Tanah Lot menjadi tujuan wisata kami berikutnya. Banyak kios tampak tutup disepanjang jalan menuju area Pura. Beberapa pedagang menawarkan barang dagangannya “Topi isi tulisan Bali nya pak, kasihan nanti panas disana” tawar salah seorang pedagang. “Tidak, terimakasih bu” jawab saya sembari tersenyum kecil. Beberapa saat kemudian, seorang tukang foto menghampiri saya dan teman-teman saya yang kebetulan saat itu kami sedang berfoto bersama. Tukang foto tersebut menawarkan jasa nya, “foto langsung jadi pak” tawar tukang foto tersebut. Saya pun membalasnya sambil tersenyum lagi “tidak, terimakasih pak”. Sejujurnya, saya ingin sekali sedikit tidaknya membantu salah satu pedagang yang berada disana dengan membeli barang atau memakai jasa mereka, namun disaat yang sama harga yang mereka tawarkan terbilang cukup mahal sehingga itu mengurungkan niat saya untuk membantu mereka. Pertanyaan pun muncul dalam benak saya, “sudah sepi begini, kenapa mereka menawarkan harga yang mahal kepada kami?” beberapa saat kemudian saya juga yang menjawab pertanyaan yang saya pikirkan tadi “ohh, mungkin mereka mengira kami bukan dari Bali sehingga mereka menawarkan harga sangat mahal kepada kami”. Benar, Tanah Lot dengan segala kesunyian dan keberjuangan dari para pencari Rupiah yang masih berada disana membuat saya merasa sedih dan berharap bahwa pariwisata Bali segera bangkit kembali.

Perjalanan “WE LOVE BALI” tour secara tak langsung mengajarkan saya bahkan kami tentang sebuah perubahan khususnya perubahan kondisi pariwisata. Namun lebih dari itu, perjalanan ini sesungguhnya mengajarkan kami tentang bagaimana kesunyian masih bisa dirayakan meskipun dalam kondisi seperti ini. Program ini tentunya memberikan harapan bagi penggiat usaha khususnya pada tempat-tempat yang menjadi tujuan kami. Ada sekitar 10 program yang ditawarkan yang menuju ke banyak destinasi wisata di Bali dan setiap program terdapat sekiranya lebih dari 3 kali perjalanan. Ini berarti, hampir setiap minggu dan selama dua bulan kedepan, para penggiat usaha tersebut memiliki harapan untuk masih bisa tetap hidup. Mereka masih bisa merayakan kesunyian yang selama ini menemani hari-hari mereka. Akhir kata, lekas sembuh Bali.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bhūr Bhuvaḥ Svaḥ Dalam Diri

Next Post

Pengabaian Gila-gilaan pada Orang dengan Gangguan Jiwa

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Pengabaian Gila-gilaan pada Orang dengan Gangguan Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co