14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
October 15, 2020
in Esai
“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

            Tempo hari saya berkesempatan mengikuti sebuah trip bernama “We Love Bali” yang diwadahi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang berlangsung dari bulan Oktober hingga November mendatang. Sederhananya, trip ini dilaksanakan untuk membangkitkan pariwisata khususnya di Bali yang keadaannya hingga hari ini masih tidak baik-baik saja. Namun pada tulisan ini saya tidak akan membahas susunan acara dari program ini karena pembaca bisa saja mencari informasi tersebut di website berbeda yang telah disediakan. Tulisan ini hanya berfokus pada apa yang saya rasakan di tiap tempat wisata yang kami kunjungi khususnya tempat wisata yang benar-benar terasa aura kesunyiannya. Ada beberapa hal menarik yang saya jumpai dan rasakan selama mengikuti trip yang berlangsung dari tanggal 11-13 Oktober kemarin. Saya menganggap bahwa perjalanan ini tiada lain adalah tentang perayaan atas sebuah kesunyian.

            Sesuai dengan nama trip ini, “WE LOVE BALI” ingin membangun sebuah branding dimana pariwisata Bali masih memiliki harapan untuk bangkit kembali dan masih baik-baik saja untuk dikunjungi oleh wisatawan. Hal ini tentu tak lepas dari pengadaan protokol kesehatan pada setiap tempat wisata. Dimulai pada hari minggu, kami berangkat dari Singaraja menuju kawasan Kintamani lalu menuju Bali Banana Cacao Park Restaurant di daerah Ubud. Sebuah restaurant dengan nuansa ala-ala warung makan tepi sawah tersebut sungguh memanjakan mata kami. Bagaimana tidak, tempat tersebut berdampingan dengan sawah dengan hamparan padi hijau serta perkebunan pisang serta coklat di sekitar area restaurant. Akan tetapi, dengan segala kenyamanan tersebut, kondisi restaurant itu sangatlah sepi. Hanya ada kami, para peserta tour yang berkunjung kesana saat itu. Disela-sela waktu makan siang disana, saya dan beberapa teman berkeliling untuk melihat keadaan restaurant. Benar-benar sepi, disana ada sebuah tempat pengolahan coklat namun tidak beroperasi mungkin dikarenakan sedikitnya pengunjung yang datang ke restaurant tersebut akibat pandemi ini. Sungguh memerihatinkan sekali keadaannya. Selepas dari Bali Banana Cacao Park Restaurant, kami menuju Bali Zoo. Di Bali Zoo, suasanya tidak terlalu ramai namun tak juga sepi akan tetapi nuansa berbeda sangat terasa dari Bali Zoo saat sebelum dan sesudah pandemi berlangsung. Bagi pembaca yang sudah pernah berkunjung ke Bali Zoo sebelum pandemi lalu sekarang kembali berkunjung kesana, saya yakin pembaca akan menyetujui apa yang saya tuliskan sebelumnya. Tak hanya sepi akan suara manusia, Bali Zoo pun sepi akan suara dari para binatangnya.

Hari kedua, kami tiba di Uluwatu sekitar pukul 3 sore. Jujur saja, ini kali pertama saya datang ke salah satu tempat pertunjukan tari Kecak paling fenomenal di Dunia ini. sebelum tiba di Uluwatu, saya terlebih dahulu sudah membayangkan bagaimana nanti kera-kera disana akan mencuri barang bawaan yang saya pegang, bagaimana nanti kera-kera tersebut dengan lincahnya melompat-lompat diatas kepala saya. Benar, setidaknya seperti itu yang saya tonton di Youtube. Musabab hal tersebut, saya pun tak membawa barang apapun manakala turun dari Bus. Namun sayang, ternyata ekspektasi saya lagi-lagi harus terpatahkan. Saya tahu bahwa kondisi Uluwatu akan sepi oleh karena pandemi, namun saya tak menyangka juga bahwa kawanan kera pun sangat sedikit yang menunjukkan dirinya. Hanya ada sekitar 2-3 ekor Kera saja yang saya lihat di Uluwatu. “Kemana perginya kera-kera disini ya? Apakah mereka juga ikutan Work From Home?” Tanya saya dalam hati. Saya merasa bahwa mungkin binatang pun turut merasakan “kesunyian” di rumahnya. Tak ada satupun manusia yang singgah ke rumah mereka selama beberapa bulan, pastilah mereka rindu rasanya diberi makan atau mencuri barang milik manusia. Sungguh sebuah kesunyian yang aneh saja bagi saya pribadi. Uluwatu benar-benar berubah saat ini.

Hari terakhir, Tanah Lot menjadi tujuan wisata kami berikutnya. Banyak kios tampak tutup disepanjang jalan menuju area Pura. Beberapa pedagang menawarkan barang dagangannya “Topi isi tulisan Bali nya pak, kasihan nanti panas disana” tawar salah seorang pedagang. “Tidak, terimakasih bu” jawab saya sembari tersenyum kecil. Beberapa saat kemudian, seorang tukang foto menghampiri saya dan teman-teman saya yang kebetulan saat itu kami sedang berfoto bersama. Tukang foto tersebut menawarkan jasa nya, “foto langsung jadi pak” tawar tukang foto tersebut. Saya pun membalasnya sambil tersenyum lagi “tidak, terimakasih pak”. Sejujurnya, saya ingin sekali sedikit tidaknya membantu salah satu pedagang yang berada disana dengan membeli barang atau memakai jasa mereka, namun disaat yang sama harga yang mereka tawarkan terbilang cukup mahal sehingga itu mengurungkan niat saya untuk membantu mereka. Pertanyaan pun muncul dalam benak saya, “sudah sepi begini, kenapa mereka menawarkan harga yang mahal kepada kami?” beberapa saat kemudian saya juga yang menjawab pertanyaan yang saya pikirkan tadi “ohh, mungkin mereka mengira kami bukan dari Bali sehingga mereka menawarkan harga sangat mahal kepada kami”. Benar, Tanah Lot dengan segala kesunyian dan keberjuangan dari para pencari Rupiah yang masih berada disana membuat saya merasa sedih dan berharap bahwa pariwisata Bali segera bangkit kembali.

Perjalanan “WE LOVE BALI” tour secara tak langsung mengajarkan saya bahkan kami tentang sebuah perubahan khususnya perubahan kondisi pariwisata. Namun lebih dari itu, perjalanan ini sesungguhnya mengajarkan kami tentang bagaimana kesunyian masih bisa dirayakan meskipun dalam kondisi seperti ini. Program ini tentunya memberikan harapan bagi penggiat usaha khususnya pada tempat-tempat yang menjadi tujuan kami. Ada sekitar 10 program yang ditawarkan yang menuju ke banyak destinasi wisata di Bali dan setiap program terdapat sekiranya lebih dari 3 kali perjalanan. Ini berarti, hampir setiap minggu dan selama dua bulan kedepan, para penggiat usaha tersebut memiliki harapan untuk masih bisa tetap hidup. Mereka masih bisa merayakan kesunyian yang selama ini menemani hari-hari mereka. Akhir kata, lekas sembuh Bali.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bhūr Bhuvaḥ Svaḥ Dalam Diri

Next Post

Pengabaian Gila-gilaan pada Orang dengan Gangguan Jiwa

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Pengabaian Gila-gilaan pada Orang dengan Gangguan Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co