3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

Putu Nata Kusuma by Putu Nata Kusuma
October 15, 2020
in Esai
“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

            Tempo hari saya berkesempatan mengikuti sebuah trip bernama “We Love Bali” yang diwadahi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang berlangsung dari bulan Oktober hingga November mendatang. Sederhananya, trip ini dilaksanakan untuk membangkitkan pariwisata khususnya di Bali yang keadaannya hingga hari ini masih tidak baik-baik saja. Namun pada tulisan ini saya tidak akan membahas susunan acara dari program ini karena pembaca bisa saja mencari informasi tersebut di website berbeda yang telah disediakan. Tulisan ini hanya berfokus pada apa yang saya rasakan di tiap tempat wisata yang kami kunjungi khususnya tempat wisata yang benar-benar terasa aura kesunyiannya. Ada beberapa hal menarik yang saya jumpai dan rasakan selama mengikuti trip yang berlangsung dari tanggal 11-13 Oktober kemarin. Saya menganggap bahwa perjalanan ini tiada lain adalah tentang perayaan atas sebuah kesunyian.

            Sesuai dengan nama trip ini, “WE LOVE BALI” ingin membangun sebuah branding dimana pariwisata Bali masih memiliki harapan untuk bangkit kembali dan masih baik-baik saja untuk dikunjungi oleh wisatawan. Hal ini tentu tak lepas dari pengadaan protokol kesehatan pada setiap tempat wisata. Dimulai pada hari minggu, kami berangkat dari Singaraja menuju kawasan Kintamani lalu menuju Bali Banana Cacao Park Restaurant di daerah Ubud. Sebuah restaurant dengan nuansa ala-ala warung makan tepi sawah tersebut sungguh memanjakan mata kami. Bagaimana tidak, tempat tersebut berdampingan dengan sawah dengan hamparan padi hijau serta perkebunan pisang serta coklat di sekitar area restaurant. Akan tetapi, dengan segala kenyamanan tersebut, kondisi restaurant itu sangatlah sepi. Hanya ada kami, para peserta tour yang berkunjung kesana saat itu. Disela-sela waktu makan siang disana, saya dan beberapa teman berkeliling untuk melihat keadaan restaurant. Benar-benar sepi, disana ada sebuah tempat pengolahan coklat namun tidak beroperasi mungkin dikarenakan sedikitnya pengunjung yang datang ke restaurant tersebut akibat pandemi ini. Sungguh memerihatinkan sekali keadaannya. Selepas dari Bali Banana Cacao Park Restaurant, kami menuju Bali Zoo. Di Bali Zoo, suasanya tidak terlalu ramai namun tak juga sepi akan tetapi nuansa berbeda sangat terasa dari Bali Zoo saat sebelum dan sesudah pandemi berlangsung. Bagi pembaca yang sudah pernah berkunjung ke Bali Zoo sebelum pandemi lalu sekarang kembali berkunjung kesana, saya yakin pembaca akan menyetujui apa yang saya tuliskan sebelumnya. Tak hanya sepi akan suara manusia, Bali Zoo pun sepi akan suara dari para binatangnya.

Hari kedua, kami tiba di Uluwatu sekitar pukul 3 sore. Jujur saja, ini kali pertama saya datang ke salah satu tempat pertunjukan tari Kecak paling fenomenal di Dunia ini. sebelum tiba di Uluwatu, saya terlebih dahulu sudah membayangkan bagaimana nanti kera-kera disana akan mencuri barang bawaan yang saya pegang, bagaimana nanti kera-kera tersebut dengan lincahnya melompat-lompat diatas kepala saya. Benar, setidaknya seperti itu yang saya tonton di Youtube. Musabab hal tersebut, saya pun tak membawa barang apapun manakala turun dari Bus. Namun sayang, ternyata ekspektasi saya lagi-lagi harus terpatahkan. Saya tahu bahwa kondisi Uluwatu akan sepi oleh karena pandemi, namun saya tak menyangka juga bahwa kawanan kera pun sangat sedikit yang menunjukkan dirinya. Hanya ada sekitar 2-3 ekor Kera saja yang saya lihat di Uluwatu. “Kemana perginya kera-kera disini ya? Apakah mereka juga ikutan Work From Home?” Tanya saya dalam hati. Saya merasa bahwa mungkin binatang pun turut merasakan “kesunyian” di rumahnya. Tak ada satupun manusia yang singgah ke rumah mereka selama beberapa bulan, pastilah mereka rindu rasanya diberi makan atau mencuri barang milik manusia. Sungguh sebuah kesunyian yang aneh saja bagi saya pribadi. Uluwatu benar-benar berubah saat ini.

Hari terakhir, Tanah Lot menjadi tujuan wisata kami berikutnya. Banyak kios tampak tutup disepanjang jalan menuju area Pura. Beberapa pedagang menawarkan barang dagangannya “Topi isi tulisan Bali nya pak, kasihan nanti panas disana” tawar salah seorang pedagang. “Tidak, terimakasih bu” jawab saya sembari tersenyum kecil. Beberapa saat kemudian, seorang tukang foto menghampiri saya dan teman-teman saya yang kebetulan saat itu kami sedang berfoto bersama. Tukang foto tersebut menawarkan jasa nya, “foto langsung jadi pak” tawar tukang foto tersebut. Saya pun membalasnya sambil tersenyum lagi “tidak, terimakasih pak”. Sejujurnya, saya ingin sekali sedikit tidaknya membantu salah satu pedagang yang berada disana dengan membeli barang atau memakai jasa mereka, namun disaat yang sama harga yang mereka tawarkan terbilang cukup mahal sehingga itu mengurungkan niat saya untuk membantu mereka. Pertanyaan pun muncul dalam benak saya, “sudah sepi begini, kenapa mereka menawarkan harga yang mahal kepada kami?” beberapa saat kemudian saya juga yang menjawab pertanyaan yang saya pikirkan tadi “ohh, mungkin mereka mengira kami bukan dari Bali sehingga mereka menawarkan harga sangat mahal kepada kami”. Benar, Tanah Lot dengan segala kesunyian dan keberjuangan dari para pencari Rupiah yang masih berada disana membuat saya merasa sedih dan berharap bahwa pariwisata Bali segera bangkit kembali.

Perjalanan “WE LOVE BALI” tour secara tak langsung mengajarkan saya bahkan kami tentang sebuah perubahan khususnya perubahan kondisi pariwisata. Namun lebih dari itu, perjalanan ini sesungguhnya mengajarkan kami tentang bagaimana kesunyian masih bisa dirayakan meskipun dalam kondisi seperti ini. Program ini tentunya memberikan harapan bagi penggiat usaha khususnya pada tempat-tempat yang menjadi tujuan kami. Ada sekitar 10 program yang ditawarkan yang menuju ke banyak destinasi wisata di Bali dan setiap program terdapat sekiranya lebih dari 3 kali perjalanan. Ini berarti, hampir setiap minggu dan selama dua bulan kedepan, para penggiat usaha tersebut memiliki harapan untuk masih bisa tetap hidup. Mereka masih bisa merayakan kesunyian yang selama ini menemani hari-hari mereka. Akhir kata, lekas sembuh Bali.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bhūr Bhuvaḥ Svaḥ Dalam Diri

Next Post

Pengabaian Gila-gilaan pada Orang dengan Gangguan Jiwa

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma

Putu Nata Kusuma, S.Pd., Mahasiswa S2 Pascasarjana Program Ilmu Manajemen Undiksha. Hobi: menulis, menyanyi, membuat video, dan mencintai diam-diam.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Pengabaian Gila-gilaan pada Orang dengan Gangguan Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co