3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampung, Perempuan, dan Kebimbangannya

Agus Wiratama by Agus Wiratama
October 13, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Sebenarnya kisah Grudug ini sudah basi, tidak relevan lagi! Tapi ia benar-benar merasa menyesal dengan sikapnya dulu-dulu. Ini bukan perihal yang terlalu penting, ini masalah cara yang dulu-dulu ia gunakan. Hal yang bagi kita sudah basi itu, sesungguhnya benar-benar penting baginya. Ini perihal persiapan menjelang hari raya Galungan. Di mana persiapannya yang banyak itu benar-benar menyita waktu Ibunya. Galungan-galungan sebelumnya, ia sempat mendapat celetukan dari pamannya.

“Bawakan mantu dong, biar ada yang membantu ibumu bikin banten!” kata pamannya menggoda Grudug.

Barangkali ucapan itu bukan ucapan serius, hanya bercandaan meski berkali-kali diulang. Tetapi, bagi Grudug, pengulangan itu tak bisa dianggap hanya bercandaan sehingga ia menanggapi dengan serius celetukan itu.

“Galungan selanjutnya pacarku harus pulang!” balasnya garang dalam hati.

Grudug menyampaikan niat itu pada pacarnya. Seperti juga matanya yang membara, Pacarnya juga menyambut niat baik itu. Tetapi, niat baik tak selalu berujung baik. Grudug justru khawatir beberapa menit setelah ajakan itu diterima. Seolah-olah ketika ia menyampaikan ajakannya, ia berada dalam ruang yang berbeda dan setelah disambut baik, ia kembali ke tempat sebenarnya. Ia gelisah mengingat sikap pacarnya yang belakangan kian asik berbicara tentang perempuan.

Pernah suatu kali Grudug membicarakan salah seorang tetangga. Ia sangat kagum dengan Istri tetangganya yang begitu giat bekerja pekerjaan rumah. Mulai dari memberi makan babi, bersih-bersih pekarangan rumah, membereskan segala keperluan hari raya, bahkan ia dikagumi banyak tetangga lain lantaran selalu hadir membantu tetangga yang kebetulan punya upacara. Alhasil, pacarnya melotot. Tangannya tiba-tiba terasa kekar memegang Pundak Grudug.

“Kampungmu sangat patriarki! Aku ingin berbicara dengan Ibu rumah tangga seperti itu!” Katanya dengan nada yang kencang. 

Beruntung percakapan itu bisa ia redam dan tidak berlanjut menjadi perdebatan. Ia tahu, apa yang dia ceritakan pada pacarnya adalah kenyataan yang ada di kampung. Tetapi masalahnya, perempuan seperti yang ia ceritakan itu selalu banjir pujian di kampungnya. Tetapi ia enggan melanjutkan pembicaraan, ia berhasil mengendalikan diri setidaknya untuk tidak membalas karena obrolan itu terjadi di emperan ketika membeli nasi kuning pinggir jalan. Kalau obrolan itu dilanjutkan, memang tak akan terjadi perdebatan, toh Grudug tak punya banyak bahan untuk membalas seperti pacarnya. Tapi, pacarnya pasti berbicara hingga berbuih-buih, baginya, itu membosankan.

Diakui atau tidak, yang membuat pacarnya seperti itu adalah Grudug sendiri. Inilah yang ia sesali. Inilah yang selalu ia harap bisa diulang kembali sampai-sampai ia sering berucap klise, namun sangat terasa itu dari hatinya yang paling dalam.

“Seandainya waktu bisa diulang kembali. Pacarku pasti tak seperti ini.” ucapnya dalam sunyi di hati.

Awal pertemuan mereka adalah ketika pacarnya masih sendiri. Maksudnya, jomblo. Ya normal kan? Tetapi menjadi sebuah perjuangan yang berarti ketika saingannya adalah orang-orang tampan dan bermodal pakaian keren, mobil, atau motor bagus. Sementara Grudug? Ia tak memenuhi satu pun kriteria itu, tetapi ada satu yang tak dimiliki saingannya, mulut yang agak jago.

Ia menjual segala pengetahuannya yang dangkal tapi, meski dangkal, kebanyakan orang-orang yang menjadi saingannya tidak memiliki itu. Hal yang membuat gadis itu langsung jatuh hati adalah ketika mereka duduk berdua di sebuah café,  Grudug menaikkan kaki, menyedot rokok dalam-dalam, dan mendongakkan kepala. Terlihat norak untuk ukuran café yang tumben-tumbenan ia singgahi karena mendekati gadis itu.

“Jadilah diri sendiri, orang-orang yang terlihat duduk rapi itu semua berbohong!” ia memulai kampanye dengan santai. Satu kalimat terlontar, lalu ia lanjutkan setelah menarik tangan kanan untuk mengantar rokok murah berbau pesing itu ke mulutnya.

“Kau lihatlah gadis-gadis itu? Mereka begitu riuh dengan penapilannya sendiri. Tak lain pula dengan lelakinya. Aku tak banyak tahu, tetapi kebetulan aku tahu, kau lihat baju lelaki di pojok itu? Bajunya berharga 600 ribu. Tidak seperti bajuku!” kala itu gadisnya masih menunggu kelanjutan yang akan disampaikan Grudug.

“Pasti ada kejutan,” pikir Gadisnya.

“Tapi kau harus tahu, sebagian besar gadis-gadis yang sekarang dipuja dan dibuat luluh oleh kemegahan itu akan menjadi ibu rumah tangga yang dilarang banyak hal sama lelakinya. Berbeda denganku, seandainya kau menerimaku, aku tak akan membutakanmu dengan kemegahan, aku akan memberimu kebebasan. Membebaskanmu menjalani pilihan sendiri.” Gadis itu masih diam saja meski kepalanya mengangguk ragu.

“Apa kau pernah membaca feminisme?” tanya Grudug.

“Apa itu?” jawab gadisnya gugup.

Grudug yang memang tahu sangat dangkal tentang itu, tentu memilih posisi aman. Dia menjawab dengan celah yang tidak akan membalik posisi dan membuatnya terlihat bodoh.

“Kau harus membaca itu! Nanti aku bawakan bukunya. Perempuan itu harus bebas! Perempuan harus menentukan pilihannya sendiri! Jangan mau diatur lelaki! Jika aku jadi kekasihmu, Kebebasan adalah milikmu, aku pun akan demikian! Tapi kalau kau memilih yang lain, aku akan sedih, sebab tak pasti kebebasamu, tapi tak akan menuntutmu untuk memilihku. Kau harus siap menjadi ibu rumah tangga yang diatur banyak oleh lelakimu.” Belum selesai Grudug bicara, gadisnya ingin bertanya, tapi Grudug tak mau mendengar sebab itu berbahaya. Ia langsung melanjutkan promosi diri dari pengetahuan cetek itu.

“Tapi sebelum kau memilih, tanyakan lelaki yang mendekatimu, ‘tahu feminisme gak? Sejauh mana kau memahaminya?’ kalau tidak mending kau tinggalkan lelaki itu!”

Kalau saudara-saudara melihat wajahnya yang masih mendongak, kakinya yang diangkat satu di atas kursi, dan tangannya yang menggenggam sebuah rokok, dan pastinya tahu pengetahuannya yang dangkal namun diobral, saudara pasti muak. Ingin melempar sepatu atau sandal saudara pada wajahnya. Tapi, saya sendiri paham, dia lagi PDKT. Ya, biarlah dia seperti itu agar tak jomblo lama-lama.

Alhasil, yang kita anggap memuakkan itu sungguh jurus ampuh! Beberapa hari setelah peristiwa itu, Grudug diterima, lelaki yang menjadi saingan Grudug benar-benar ditanya perihal feminisme dan kebetulan tak ada yang tahu! Ajaib! Atau beruntung? Entahlah, tapi hal ini bisa kita pandang baik, karena semenjak itu, pacarnya yang baru kuliah mulai banyak membaca tentang feminisme, mendengar ceramah dari beberapa akun di youtube yang gemar berbicara itu, dan rajin membaca buku-buku yang dibawakan Grudug untuk meluluhkan gadis itu.

Bertahun-tahun berlalu, pacarnya masih saja kepincut dengan topik yang sama. Pengetahuannya semakin dalam, pehamannya semakin jelas. Bahkan, gadis yang telah menjadi pacarnya itu lebih gentol berbicara tentang perempuan hingga bisa menceramahi Grudug! Sialan, dalam hal ini saya akui Grudug memang jago! Jago melipir! Setiap dia diajak ngobrol tentang feminisme maka dia akan menjawab, “Aku sudah selesai dengan Gender, biarlah aku fokus dengan cita-citaku. Feminisme sudah menjadi bagian hidupku, bukan hanya di kepala seperti kau!”

Untuk masalah ini, Grudug masih bisa melipir dan beralih ke topik lain. Tapi, bagaimana kalau pacarnya turut ke kampungnya dan menolak segala hal yang dikerjakan ibunya? Atau ketika ia dimintai tolong melakukan sesuatu, dia justru ceramah, atau bila tidak, ia justru menolak? Tentu ini tak akan memenuhi kriteria sebagai menantu idaman.

Itulah celakanya, Grudug ingat pacarnya semakin getol menceramahi orang-orang, teman-temannya, adik-adiknya, bahkan setiap orang yang mulai akrab dengannya diceramahi tentang feminisme. Grudug jadi bimbang, seandainya ibunya diceramahi oleh pacarnya, apa yang akan terjadi pada keluarga Grudug? Bagaimana kalau ibunya mulai berontak dengan ayahnya? Bagaimana kalau ibunya menjadi berubah seperti yang dikatakan pacarnya ke beberapa orang? Bagaimana kalau ia justru banyak bertanya ‘mengapa harus mengerjakan ini/itu’ ketika ibunya sedang mengerjakan sarana upacara? Bagaimana kalau ia menolak ketika dimintai tolong memberi makan babi-babinya? Bagaimana kalau, aaah, banyak sekali ketakutan Grudug sehingga lama ia terlihat bengong dan menyesali caranya mendekati gadis yang kini telah menjadi pacarnya.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kelangkaan Burung Hantu di Bali

Next Post

Sedarah, Jembatan Pencari dan Pendonor Plasma Pasien Covid-19

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Sedarah, Jembatan Pencari dan Pendonor Plasma Pasien Covid-19

Sedarah, Jembatan Pencari dan Pendonor Plasma Pasien Covid-19

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co