14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampung, Perempuan, dan Kebimbangannya

Agus Wiratama by Agus Wiratama
October 13, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Sebenarnya kisah Grudug ini sudah basi, tidak relevan lagi! Tapi ia benar-benar merasa menyesal dengan sikapnya dulu-dulu. Ini bukan perihal yang terlalu penting, ini masalah cara yang dulu-dulu ia gunakan. Hal yang bagi kita sudah basi itu, sesungguhnya benar-benar penting baginya. Ini perihal persiapan menjelang hari raya Galungan. Di mana persiapannya yang banyak itu benar-benar menyita waktu Ibunya. Galungan-galungan sebelumnya, ia sempat mendapat celetukan dari pamannya.

“Bawakan mantu dong, biar ada yang membantu ibumu bikin banten!” kata pamannya menggoda Grudug.

Barangkali ucapan itu bukan ucapan serius, hanya bercandaan meski berkali-kali diulang. Tetapi, bagi Grudug, pengulangan itu tak bisa dianggap hanya bercandaan sehingga ia menanggapi dengan serius celetukan itu.

“Galungan selanjutnya pacarku harus pulang!” balasnya garang dalam hati.

Grudug menyampaikan niat itu pada pacarnya. Seperti juga matanya yang membara, Pacarnya juga menyambut niat baik itu. Tetapi, niat baik tak selalu berujung baik. Grudug justru khawatir beberapa menit setelah ajakan itu diterima. Seolah-olah ketika ia menyampaikan ajakannya, ia berada dalam ruang yang berbeda dan setelah disambut baik, ia kembali ke tempat sebenarnya. Ia gelisah mengingat sikap pacarnya yang belakangan kian asik berbicara tentang perempuan.

Pernah suatu kali Grudug membicarakan salah seorang tetangga. Ia sangat kagum dengan Istri tetangganya yang begitu giat bekerja pekerjaan rumah. Mulai dari memberi makan babi, bersih-bersih pekarangan rumah, membereskan segala keperluan hari raya, bahkan ia dikagumi banyak tetangga lain lantaran selalu hadir membantu tetangga yang kebetulan punya upacara. Alhasil, pacarnya melotot. Tangannya tiba-tiba terasa kekar memegang Pundak Grudug.

“Kampungmu sangat patriarki! Aku ingin berbicara dengan Ibu rumah tangga seperti itu!” Katanya dengan nada yang kencang. 

Beruntung percakapan itu bisa ia redam dan tidak berlanjut menjadi perdebatan. Ia tahu, apa yang dia ceritakan pada pacarnya adalah kenyataan yang ada di kampung. Tetapi masalahnya, perempuan seperti yang ia ceritakan itu selalu banjir pujian di kampungnya. Tetapi ia enggan melanjutkan pembicaraan, ia berhasil mengendalikan diri setidaknya untuk tidak membalas karena obrolan itu terjadi di emperan ketika membeli nasi kuning pinggir jalan. Kalau obrolan itu dilanjutkan, memang tak akan terjadi perdebatan, toh Grudug tak punya banyak bahan untuk membalas seperti pacarnya. Tapi, pacarnya pasti berbicara hingga berbuih-buih, baginya, itu membosankan.

Diakui atau tidak, yang membuat pacarnya seperti itu adalah Grudug sendiri. Inilah yang ia sesali. Inilah yang selalu ia harap bisa diulang kembali sampai-sampai ia sering berucap klise, namun sangat terasa itu dari hatinya yang paling dalam.

“Seandainya waktu bisa diulang kembali. Pacarku pasti tak seperti ini.” ucapnya dalam sunyi di hati.

Awal pertemuan mereka adalah ketika pacarnya masih sendiri. Maksudnya, jomblo. Ya normal kan? Tetapi menjadi sebuah perjuangan yang berarti ketika saingannya adalah orang-orang tampan dan bermodal pakaian keren, mobil, atau motor bagus. Sementara Grudug? Ia tak memenuhi satu pun kriteria itu, tetapi ada satu yang tak dimiliki saingannya, mulut yang agak jago.

Ia menjual segala pengetahuannya yang dangkal tapi, meski dangkal, kebanyakan orang-orang yang menjadi saingannya tidak memiliki itu. Hal yang membuat gadis itu langsung jatuh hati adalah ketika mereka duduk berdua di sebuah café,  Grudug menaikkan kaki, menyedot rokok dalam-dalam, dan mendongakkan kepala. Terlihat norak untuk ukuran café yang tumben-tumbenan ia singgahi karena mendekati gadis itu.

“Jadilah diri sendiri, orang-orang yang terlihat duduk rapi itu semua berbohong!” ia memulai kampanye dengan santai. Satu kalimat terlontar, lalu ia lanjutkan setelah menarik tangan kanan untuk mengantar rokok murah berbau pesing itu ke mulutnya.

“Kau lihatlah gadis-gadis itu? Mereka begitu riuh dengan penapilannya sendiri. Tak lain pula dengan lelakinya. Aku tak banyak tahu, tetapi kebetulan aku tahu, kau lihat baju lelaki di pojok itu? Bajunya berharga 600 ribu. Tidak seperti bajuku!” kala itu gadisnya masih menunggu kelanjutan yang akan disampaikan Grudug.

“Pasti ada kejutan,” pikir Gadisnya.

“Tapi kau harus tahu, sebagian besar gadis-gadis yang sekarang dipuja dan dibuat luluh oleh kemegahan itu akan menjadi ibu rumah tangga yang dilarang banyak hal sama lelakinya. Berbeda denganku, seandainya kau menerimaku, aku tak akan membutakanmu dengan kemegahan, aku akan memberimu kebebasan. Membebaskanmu menjalani pilihan sendiri.” Gadis itu masih diam saja meski kepalanya mengangguk ragu.

“Apa kau pernah membaca feminisme?” tanya Grudug.

“Apa itu?” jawab gadisnya gugup.

Grudug yang memang tahu sangat dangkal tentang itu, tentu memilih posisi aman. Dia menjawab dengan celah yang tidak akan membalik posisi dan membuatnya terlihat bodoh.

“Kau harus membaca itu! Nanti aku bawakan bukunya. Perempuan itu harus bebas! Perempuan harus menentukan pilihannya sendiri! Jangan mau diatur lelaki! Jika aku jadi kekasihmu, Kebebasan adalah milikmu, aku pun akan demikian! Tapi kalau kau memilih yang lain, aku akan sedih, sebab tak pasti kebebasamu, tapi tak akan menuntutmu untuk memilihku. Kau harus siap menjadi ibu rumah tangga yang diatur banyak oleh lelakimu.” Belum selesai Grudug bicara, gadisnya ingin bertanya, tapi Grudug tak mau mendengar sebab itu berbahaya. Ia langsung melanjutkan promosi diri dari pengetahuan cetek itu.

“Tapi sebelum kau memilih, tanyakan lelaki yang mendekatimu, ‘tahu feminisme gak? Sejauh mana kau memahaminya?’ kalau tidak mending kau tinggalkan lelaki itu!”

Kalau saudara-saudara melihat wajahnya yang masih mendongak, kakinya yang diangkat satu di atas kursi, dan tangannya yang menggenggam sebuah rokok, dan pastinya tahu pengetahuannya yang dangkal namun diobral, saudara pasti muak. Ingin melempar sepatu atau sandal saudara pada wajahnya. Tapi, saya sendiri paham, dia lagi PDKT. Ya, biarlah dia seperti itu agar tak jomblo lama-lama.

Alhasil, yang kita anggap memuakkan itu sungguh jurus ampuh! Beberapa hari setelah peristiwa itu, Grudug diterima, lelaki yang menjadi saingan Grudug benar-benar ditanya perihal feminisme dan kebetulan tak ada yang tahu! Ajaib! Atau beruntung? Entahlah, tapi hal ini bisa kita pandang baik, karena semenjak itu, pacarnya yang baru kuliah mulai banyak membaca tentang feminisme, mendengar ceramah dari beberapa akun di youtube yang gemar berbicara itu, dan rajin membaca buku-buku yang dibawakan Grudug untuk meluluhkan gadis itu.

Bertahun-tahun berlalu, pacarnya masih saja kepincut dengan topik yang sama. Pengetahuannya semakin dalam, pehamannya semakin jelas. Bahkan, gadis yang telah menjadi pacarnya itu lebih gentol berbicara tentang perempuan hingga bisa menceramahi Grudug! Sialan, dalam hal ini saya akui Grudug memang jago! Jago melipir! Setiap dia diajak ngobrol tentang feminisme maka dia akan menjawab, “Aku sudah selesai dengan Gender, biarlah aku fokus dengan cita-citaku. Feminisme sudah menjadi bagian hidupku, bukan hanya di kepala seperti kau!”

Untuk masalah ini, Grudug masih bisa melipir dan beralih ke topik lain. Tapi, bagaimana kalau pacarnya turut ke kampungnya dan menolak segala hal yang dikerjakan ibunya? Atau ketika ia dimintai tolong melakukan sesuatu, dia justru ceramah, atau bila tidak, ia justru menolak? Tentu ini tak akan memenuhi kriteria sebagai menantu idaman.

Itulah celakanya, Grudug ingat pacarnya semakin getol menceramahi orang-orang, teman-temannya, adik-adiknya, bahkan setiap orang yang mulai akrab dengannya diceramahi tentang feminisme. Grudug jadi bimbang, seandainya ibunya diceramahi oleh pacarnya, apa yang akan terjadi pada keluarga Grudug? Bagaimana kalau ibunya mulai berontak dengan ayahnya? Bagaimana kalau ibunya menjadi berubah seperti yang dikatakan pacarnya ke beberapa orang? Bagaimana kalau ia justru banyak bertanya ‘mengapa harus mengerjakan ini/itu’ ketika ibunya sedang mengerjakan sarana upacara? Bagaimana kalau ia menolak ketika dimintai tolong memberi makan babi-babinya? Bagaimana kalau, aaah, banyak sekali ketakutan Grudug sehingga lama ia terlihat bengong dan menyesali caranya mendekati gadis yang kini telah menjadi pacarnya.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kelangkaan Burung Hantu di Bali

Next Post

Sedarah, Jembatan Pencari dan Pendonor Plasma Pasien Covid-19

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Sedarah, Jembatan Pencari dan Pendonor Plasma Pasien Covid-19

Sedarah, Jembatan Pencari dan Pendonor Plasma Pasien Covid-19

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co