23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelangkaan Burung Hantu di Bali

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
October 13, 2020
in Esai
Kelangkaan Burung Hantu di Bali

Saat datang di waktu menjelang mentari terbenam, banyak kendaraan sudah parkir di depan halaman ruang pameran. Di ruang terbuka berumput sebelah timur, kursi dan meja tertata untuk acara pemutaran film dan diskusi. Acara yang diadakan bertema Make Plastik History yang diselenggarakan pada bulan Januari tahun 2020, Minggu kedua di Kulidan Kitchen and Space dibuka oleh I Dewa Gede Palguna. Acara berupa nonton bareng film Pulau Plastik dan diskusi. Pameran seni tersebut menampilkan berbagai karya dengan keunikan masing masing. Ada yang dilukis dengan akrilik, cat air, dibuat di atas karton, digabungkan antara lukisan dua dimensi dengan figuran tiga dimensi hingga suatu figur dari plastik berbentuk mahluk hidup.

Berjalan di ruang galeri sambil mengamati , terdapat satu karya seni tiga dimensi yang istimewa. Karya tersebut dibuat dengan plastik bekas yang dibentuk sebagai burung hantu dan gabus yang menjadi pohon tempat tinggalnya. Saat malam hari, dua mata burung mengeluarkan cahaya putih dari lampu yang terpasang. Karya itu dibuat oleh   I Putu Eni Astiarini 

Where is My Heaven dengan ukuran 200cm x 160 cm

.Jika diterjemahkan, arti dari judulnya seperti ini: dimana surgaku. Di acara tersebut  juga ada seorang pembicara Putu Bawa Negara yang membawakan topik Seni dan Pelestarian Hutan. Karya seni ini berkaitan dengan hal tersebut. Ia merepresentasikan kelangkaan burung hantu dan habitat hutan yang rusak.

 Salah seorang warga guwang menyebutkan di tahun 1970-an burung hantu umum dijumpai di sana. Sejak revolusi hijau menyusut terus hingga tidak ada karena pertanian monokultur dengan bahan kimia serta perubahan bentang alam dimana “hutan kecil” diantara sawah menghilang.

Burung hantu memerlukan pohon untuk bersarangdan berteduh. Ketiadaan “hutan kecil” membuat burung hantu menjauh dari sawah. Bagi pemelihara burung hantu, mereka harus buat rumah buatan. Saat ini di Bali hanya satu desa yang menerapkan sawah ramah burung hantu.

Selain burung hantu celepuk berbulu putih yang dibudidayakan ada tiga spesies burung hantu liar yang jarang dijumpai di Bali. Tidak ada riwayat populasi yang jelas dari ketiga spesies ini oleh karena itu pemerintah Bali perlu merekrut ilmuwan untuk meneliti populasi yang masih tersisa di taman nasional Bali Barat. Ketiga spesies burung hantu ini juga hidup di Jawa dan Sumatera.

Beluk Ketupa (Ketupa ketupu)

 Burung ini paling menyukai tepi hutan tempat terdapat lahan terbuka untuk berburu mangsa dan kumpulan pepohonan untuk membangun sarang. Sering berburu di kawasan berair untuk menangkap ikan , katak dan udang udang kecil. Oleh karena itu sungai, rawa dan sawah menjadi tempat untuk mendapat makanan. Selain hewan air, juga memangsa mamalia kecil dan burung(1)

Beluk Jampuk (Bubo sumatranus)

Spesies ini cukup adaptatif di berbagai habitat tetapi lebih mengutamakan hutan primer yang lebat dan hutan sekunder. Bersarang juga di antara mosaic hutan dan ruang terbuka seperti rawa dan sawah. Paruhnya berwarna kuning dan bulunya abu abu(2).

Serak Bukit (Phodilus badius)

Burung hantu yang suka berada di antara hutan dan ladang pertanian. Paling aktif saat awal malam. Mangsa yang sering ditangkap adalah jangkrik, kecoak dan kadal kecil(3).

Dari ulasan singkat mengenai tiga spesies burung hantu tersebut, semuanya membutuhkan habitat hutan, ekosistem air dan sawah yang jernih, bebas pestisida dan pupuk kimia serta ruang terbuka untuk mencari makanan.

                Sebagai predator puncak, burung hantu dan burung pemangsa mengendalikan populasi hewan pengerat, kadal,dan hewan kecil lainnya. Juga dapat dijadikan indikator kualitas air dimana saat banyak burung pemangsa tinggal di tepi sungai atau rawa  berarti di situ mangsanya mencukupi dan layak konsumsi. Jika terjadi gangguan serius pada ekosistem maka menurunya populasi burung pemangsa menjadi alarm untuk meningkatkan kualitas air dan hutan.

Saat ini sawah di Bali termasuk Guwang didominasi oleh monokultur. Dalam ekologi, monokultur rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Di beberapa daerah burung hantu dianggap penanda sumber air. Setiap burung pemangsa membutuhkan pepohonan dan “hutan kecil”. Maka memulihkan keanekaragaman dan populasi burung pemangsa di Bali berarti memulihkan sebagian besar keragaman hayati dan meningkatkan cadangan air tanah. Air sungai, danau dan sawah perlu dijernihkan supaya ikan, kodok dan udang udangan (krustasea) berkembang biak agar burung hantu hidup layak. Ada juga potensi yang belum dilirik dan digali yaitu ekowisata pengamatan burung.

Pemulihan burung hantu dan burung pemangsa harus berjalan beriringan dengan usaha menerapkan kedaulatan pangan seperti di desa burung hantu Tabanan. Perlu diperluas jadi skala besar. Pertanian yang memulihkan dan memperbaharui akan memperkaya keragaman hayati. Untuk mewujudkan ini perlu dilakukan reformasi agrarian dimana para komunitas dan petani kecil menjadi pemeran utama dalam pelestarian dan pemulihan. Pemerintah adalah fasilitator. Rakyat yang bergerak dengan kearifan. Agroekologi adalah upaya menyatukan pelestarian, pemulihan ekologi dengan kedaulatan pangan.

Hutan dan sawah adalah bagian integral ekologi Bali sejak ribuan tahun lalu. Oleh karena itu metode produksi di sawah dan hutan harus terus menerus diperbaharui untuk meningkatkan keragaman hayati. Pemulihan hutan tidak hanya sekedar penanaman pohon. Hutan harus menjadi habitat yang layak untuk burung pemangsa. Ekosistem yang tinggi keragaman hayati akan lebih stabil dan tangguh dalam menghadapi bencana.

Jadi di sini ada langkah teknis penerapan agroekologi serta pengolahan sumber daya pertanian termasuk sisa tanaman dan hewan serta langkah politik antara lain reforma agrarian  dan regulasi untuk melindungi petani kecil yang mana tanah dikelola berbasis komunitas secara demokratis sehingga mereka bukan hanya buruh upahan tapi bagian dari lahan tempat mereka bermata pencaharian yang pada akhirnya muncul motivasi dari dalam diri mereka untuk memperkaya keragaman hayati dan meningkatkan kualitas lingkungan, dan peran pemerintah dalam memfasilitasi agroekologi.

Gerakan akar rumput petani agroekologi dan partisipasi dalam konservasi perlu dibangun. Gerakan tersebut harus saling terintegrasi bukan hanya sebagai pulau yang terisolir. Keberhasilan petani di desa burung hantu harusnya mendorong petani di desa lain melakukan langkah serupa dan berinovasi.

Untuk itu peran teknis dengan teknologi dan ilmu pengetahuan serta peran politik dari pemerintah dan perjuangan politik masyarakat akar rumput harus berjalan beriringan. Pemerintah dapat memfasilitasi distribusi beras ramah burung hantu. Ini akan memberdayakan petani dan memperluas praktek agroekologi. Para sarjana teknik dapat merancang peralatan mesin untuk mengolah produksi sawah demi meningkatkan nilai ekonomi komunitas petani. Mungkin akan semakin banyak burung bersarang hingga sawah itu jadi surga untuk burung.  Setelah itu terwujud komunitas desa dapat bangun penginapan yang dikelola komunitas untuk memperkenalkan keragaman hayati dan kearifan di situ dalam bentuk pariwisata berkelanjutan dan berkeadilan.

Sumber:

  1. Strange, Morten. 2012. A Photographic Guide to Birds of Indonesia Second Edition. Hong Kong. Turtle Publishing. Page 200
  2. Ibid.
  3. Ibid. Page 198
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Layangan dan Tawa yang Abadi

Next Post

Kampung, Perempuan, dan Kebimbangannya

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Kampung, Perempuan, dan Kebimbangannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co