3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelangkaan Burung Hantu di Bali

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
October 13, 2020
in Esai
Kelangkaan Burung Hantu di Bali

Saat datang di waktu menjelang mentari terbenam, banyak kendaraan sudah parkir di depan halaman ruang pameran. Di ruang terbuka berumput sebelah timur, kursi dan meja tertata untuk acara pemutaran film dan diskusi. Acara yang diadakan bertema Make Plastik History yang diselenggarakan pada bulan Januari tahun 2020, Minggu kedua di Kulidan Kitchen and Space dibuka oleh I Dewa Gede Palguna. Acara berupa nonton bareng film Pulau Plastik dan diskusi. Pameran seni tersebut menampilkan berbagai karya dengan keunikan masing masing. Ada yang dilukis dengan akrilik, cat air, dibuat di atas karton, digabungkan antara lukisan dua dimensi dengan figuran tiga dimensi hingga suatu figur dari plastik berbentuk mahluk hidup.

Berjalan di ruang galeri sambil mengamati , terdapat satu karya seni tiga dimensi yang istimewa. Karya tersebut dibuat dengan plastik bekas yang dibentuk sebagai burung hantu dan gabus yang menjadi pohon tempat tinggalnya. Saat malam hari, dua mata burung mengeluarkan cahaya putih dari lampu yang terpasang. Karya itu dibuat oleh   I Putu Eni Astiarini 

Where is My Heaven dengan ukuran 200cm x 160 cm

.Jika diterjemahkan, arti dari judulnya seperti ini: dimana surgaku. Di acara tersebut  juga ada seorang pembicara Putu Bawa Negara yang membawakan topik Seni dan Pelestarian Hutan. Karya seni ini berkaitan dengan hal tersebut. Ia merepresentasikan kelangkaan burung hantu dan habitat hutan yang rusak.

 Salah seorang warga guwang menyebutkan di tahun 1970-an burung hantu umum dijumpai di sana. Sejak revolusi hijau menyusut terus hingga tidak ada karena pertanian monokultur dengan bahan kimia serta perubahan bentang alam dimana “hutan kecil” diantara sawah menghilang.

Burung hantu memerlukan pohon untuk bersarangdan berteduh. Ketiadaan “hutan kecil” membuat burung hantu menjauh dari sawah. Bagi pemelihara burung hantu, mereka harus buat rumah buatan. Saat ini di Bali hanya satu desa yang menerapkan sawah ramah burung hantu.

Selain burung hantu celepuk berbulu putih yang dibudidayakan ada tiga spesies burung hantu liar yang jarang dijumpai di Bali. Tidak ada riwayat populasi yang jelas dari ketiga spesies ini oleh karena itu pemerintah Bali perlu merekrut ilmuwan untuk meneliti populasi yang masih tersisa di taman nasional Bali Barat. Ketiga spesies burung hantu ini juga hidup di Jawa dan Sumatera.

Beluk Ketupa (Ketupa ketupu)

 Burung ini paling menyukai tepi hutan tempat terdapat lahan terbuka untuk berburu mangsa dan kumpulan pepohonan untuk membangun sarang. Sering berburu di kawasan berair untuk menangkap ikan , katak dan udang udang kecil. Oleh karena itu sungai, rawa dan sawah menjadi tempat untuk mendapat makanan. Selain hewan air, juga memangsa mamalia kecil dan burung(1)

Beluk Jampuk (Bubo sumatranus)

Spesies ini cukup adaptatif di berbagai habitat tetapi lebih mengutamakan hutan primer yang lebat dan hutan sekunder. Bersarang juga di antara mosaic hutan dan ruang terbuka seperti rawa dan sawah. Paruhnya berwarna kuning dan bulunya abu abu(2).

Serak Bukit (Phodilus badius)

Burung hantu yang suka berada di antara hutan dan ladang pertanian. Paling aktif saat awal malam. Mangsa yang sering ditangkap adalah jangkrik, kecoak dan kadal kecil(3).

Dari ulasan singkat mengenai tiga spesies burung hantu tersebut, semuanya membutuhkan habitat hutan, ekosistem air dan sawah yang jernih, bebas pestisida dan pupuk kimia serta ruang terbuka untuk mencari makanan.

                Sebagai predator puncak, burung hantu dan burung pemangsa mengendalikan populasi hewan pengerat, kadal,dan hewan kecil lainnya. Juga dapat dijadikan indikator kualitas air dimana saat banyak burung pemangsa tinggal di tepi sungai atau rawa  berarti di situ mangsanya mencukupi dan layak konsumsi. Jika terjadi gangguan serius pada ekosistem maka menurunya populasi burung pemangsa menjadi alarm untuk meningkatkan kualitas air dan hutan.

Saat ini sawah di Bali termasuk Guwang didominasi oleh monokultur. Dalam ekologi, monokultur rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Di beberapa daerah burung hantu dianggap penanda sumber air. Setiap burung pemangsa membutuhkan pepohonan dan “hutan kecil”. Maka memulihkan keanekaragaman dan populasi burung pemangsa di Bali berarti memulihkan sebagian besar keragaman hayati dan meningkatkan cadangan air tanah. Air sungai, danau dan sawah perlu dijernihkan supaya ikan, kodok dan udang udangan (krustasea) berkembang biak agar burung hantu hidup layak. Ada juga potensi yang belum dilirik dan digali yaitu ekowisata pengamatan burung.

Pemulihan burung hantu dan burung pemangsa harus berjalan beriringan dengan usaha menerapkan kedaulatan pangan seperti di desa burung hantu Tabanan. Perlu diperluas jadi skala besar. Pertanian yang memulihkan dan memperbaharui akan memperkaya keragaman hayati. Untuk mewujudkan ini perlu dilakukan reformasi agrarian dimana para komunitas dan petani kecil menjadi pemeran utama dalam pelestarian dan pemulihan. Pemerintah adalah fasilitator. Rakyat yang bergerak dengan kearifan. Agroekologi adalah upaya menyatukan pelestarian, pemulihan ekologi dengan kedaulatan pangan.

Hutan dan sawah adalah bagian integral ekologi Bali sejak ribuan tahun lalu. Oleh karena itu metode produksi di sawah dan hutan harus terus menerus diperbaharui untuk meningkatkan keragaman hayati. Pemulihan hutan tidak hanya sekedar penanaman pohon. Hutan harus menjadi habitat yang layak untuk burung pemangsa. Ekosistem yang tinggi keragaman hayati akan lebih stabil dan tangguh dalam menghadapi bencana.

Jadi di sini ada langkah teknis penerapan agroekologi serta pengolahan sumber daya pertanian termasuk sisa tanaman dan hewan serta langkah politik antara lain reforma agrarian  dan regulasi untuk melindungi petani kecil yang mana tanah dikelola berbasis komunitas secara demokratis sehingga mereka bukan hanya buruh upahan tapi bagian dari lahan tempat mereka bermata pencaharian yang pada akhirnya muncul motivasi dari dalam diri mereka untuk memperkaya keragaman hayati dan meningkatkan kualitas lingkungan, dan peran pemerintah dalam memfasilitasi agroekologi.

Gerakan akar rumput petani agroekologi dan partisipasi dalam konservasi perlu dibangun. Gerakan tersebut harus saling terintegrasi bukan hanya sebagai pulau yang terisolir. Keberhasilan petani di desa burung hantu harusnya mendorong petani di desa lain melakukan langkah serupa dan berinovasi.

Untuk itu peran teknis dengan teknologi dan ilmu pengetahuan serta peran politik dari pemerintah dan perjuangan politik masyarakat akar rumput harus berjalan beriringan. Pemerintah dapat memfasilitasi distribusi beras ramah burung hantu. Ini akan memberdayakan petani dan memperluas praktek agroekologi. Para sarjana teknik dapat merancang peralatan mesin untuk mengolah produksi sawah demi meningkatkan nilai ekonomi komunitas petani. Mungkin akan semakin banyak burung bersarang hingga sawah itu jadi surga untuk burung.  Setelah itu terwujud komunitas desa dapat bangun penginapan yang dikelola komunitas untuk memperkenalkan keragaman hayati dan kearifan di situ dalam bentuk pariwisata berkelanjutan dan berkeadilan.

Sumber:

  1. Strange, Morten. 2012. A Photographic Guide to Birds of Indonesia Second Edition. Hong Kong. Turtle Publishing. Page 200
  2. Ibid.
  3. Ibid. Page 198
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Layangan dan Tawa yang Abadi

Next Post

Kampung, Perempuan, dan Kebimbangannya

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Kampung, Perempuan, dan Kebimbangannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co