14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cari Gelar Agar Dapat Kerja, Dapat Gelar Tak Mau Kerja

Candra Puspita Dewi by Candra Puspita Dewi
July 1, 2020
in Esai
Cari Gelar Agar Dapat Kerja, Dapat Gelar Tak Mau Kerja

Ilustrasi diolah dari sumber gambar Google

SAAT ini, pendidikan bukan barang mewah. Hampir setiap orang tua masa kini punya anggapan paten, bahwa sekolah adalah hal wajib yang harus diterima anaknya. Anak-anak punya hak untuk bersekolah.

Sekolahnya pun tidaklah sebentar. Bukan hanya dua belas tahun, tapi lebih dari itu. Bisa 16 tahun jika menempuh pendidikan S2, bisa ditambah lagi 2 tahun jika S2, ditambah lagi 4 tahun jika mau gelar doktor. Atau bisa ditambah bertahun-tahun jika tak tak lulus-lulus, atau malas mengerjakan skripsi/tesis/disertasi.

Sekolah begitu tinggi, dan belajar begitu lama, tentu ada sesuatu yang hendak dikejar. Salah satunya, apalagi kalau bukan gelar. Gelar itu biasa dimanfaatkan untuk mencari pekerjaan. Pekerjaan yang relevan dengan pendidikan yang sudah ditempuh, tentunya.

Kalau pekerjaan tidak relevan, artinya gelar tak terpakai. Pendidikan tinggi-tinggi pun sia-sia rasanya. Semisal, pernah bersekolah tinggi di sebuah universitas pendidikan, tapi, ketika bekerja malah memilih untuk tidak menjadi guru karena sesuatu dan hal-hal lain.

Kondisi seperti itu bisa saja terjadi karena ketersediaan lapangan pekerjaan yang relevan dengan pendidikan yang ditempuh tidak tersedia banyak. Kalau pun ada, mungkin sulit untuk menembusnya. Saingan begitu banyak. Ya, karena banyak yang sekolah tinggi-tinggi.

Dunia sekolah dan dunia kerja itu memang agak aneh, kadang tak nyambung. Sarjana yang punya gelar, bisa juga mendapat pekerjaan bukan semata karena pendidikannya yang cemerlang. Ada yang dapat kerja karena keberuntungan. Banyak orang yang iseng, melamar pekerjaan, coba-coba, eh tahunya dapat. Padahal saat kuliah nilainya C melulu.

Ada juga sarjana yang mendapat pekerjaan karena punya koneksi, misalnya salah satu anggota keluargnya, atau mungkin tetangganya, jadi pejabat penting yang bisa memuluskan jalan menuju kursi pekerjaan.  

Tapi, selain dua tipe peraih kerja yang tersebut di atas, syukurlah masih banyak pencari kerja yang diterima bekerja karena usaha dan kemampuannya sendiri. Lulus murrni, kata orang.

Nah, bagi kawan yang sudah coba-coba, yang tak punya koneksi atau keluarga atau tetangga pejabat, dan yang sudah berusaha tapi tak lolos-lolos juga, sudahlah jangan berkecil hati. Kalau sudah begini, yang harus dilakukan adalah terus dan teruslah berusaha.

Bukankah sering mendengar nasihat penghibur, bahwa hasil itu tidak mungkin menghianati usaha? Jadi, semangatlah. Semangat!

Tapi, kalau semua usaha sudah dilakukan dan tak juga membuahkan hasil, bagaimana kalau sebaiknya tanggalkan saja gelar yang  dipunya? Ini saran saja, lho ya. Kalau tidak setuju juga tidak apa-apa. Siapa tahu tidak rela gelar sarjananya ditanggalkan.

Oh ya, pernah tidak kalian curiga, jangan-jangan gelar itulah yang menghabat kemajuan hidup kita? Justru gelar sarjana itulah yang membuat kita tak mau bekerja sehingga tak dapat-dapat kerja? Mungkin saja gelar itu menganggu pikiran kita?

Sebab, pernah ada seorang teman, sarjana, yang menolak mentah-mentah anjuran saya untuk menjadi cleaning servis di sebuah instansi. Padahal, dia sedang membutuhkan biaya untuk hidup.

Bukan bermaksud memberi pekerjaan yang jelek. Saya pikir dia menerima karena sebelumnya dia bilang dengan sangat dramatis, tragis dan memprihatinkan kalau ia benar-benar sedang butuh uang.

“Masak aku sarjana, kerjanya jadi tukang bersih-bersih,” kata dia, sang sarjana.

Nah, itu membuktikan bahwa gelar bisa membuat kita tidak bergerak. Tak punya ide. Tak kreatif. Gelar bisa menjadi beban bagi pemiliknya.

Sebagian besar orang memilih untuk bersekolah tinggi dan mengejar sebuah gelar hanya untuk mengubah nasib mereka. Mengubah nasib mungkin maksudnya menjadi pekerja kantoran. Lalu, kalau itu-itu saja yang ingin dicapai, padahal sudah tidak ada harapan lagi, apakah kita mau, sebagian waktu hanya dihabiskan untuk menunggu?

Menunggu pekerjaan yang tak datang-datang itu sama seperti menunggu kekasih yang tak jua mau diajak menikah padahal umur sudah tidak bisa diajak kompromi. Ya boro-boro sang kekasih mau diajak nikah, wong kerja saja belum.

Kita bisa lupa pada sekolah tinggi, tapi tak boleh lupa pada tujuan kita bersekolah tinggi. Yakni untuk mengubah nasib. Nasib baik, tentunya. Kalau tidak mendapat pekerjaan yang dinginkan sampai berbulan-bulan lamanya, demi bisa menjadi pegawai kantor, apa itu disebut nasib baik? Kalau tidak mendapat penghasilan selama berbulan-bulan, apa itu juga disebut nasib baik?

Untuk sementara ini, lakukan pekerjaan yang ada saja. Yang tersedia. Kalau ada lowongan menjadi pedagang, kasir, atau cleaning servis, ya diambil saja. Ya, meski pun status dari orang yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan macam itu tidak cukup keren, tapi pekerjaan-pekerjaan itu halal.

Kadang-kadang, hidup tidak melulu soal status. Meski pun kita sering mendengar bahwa di mana-mana lingkungan mementingkan status. Buktinya saja bekerja di mana dan sebagai apa adalah dua pertanyaan yang masih berserakan di lingkungan sekitar. Ya itu wajar-wajar saja.

Sebab, pertanyaan macam begitu kadang serius, kadang juga untuk berbasa-basi. Ya kalau hanya basa-basi saja, mau pekerjaan kita buruh cuci baju sekali pun, mereka tak akan hirau. Tapi, kalau serius ingin tahu dan memberikan penilaian terhadap diri kita, bagaimana? Pertanyaan mereka cukup menjadi ancaman untuk kalian pasti.

Dalam keadaan seperti ini, mendengar memang penting dan baik. Begitu pula lingkungan. Bertanya, berbasa-basi, berbicara, itu juga baik. Tapi, buat kita, percayalah bahwa ada yang patut didengar, ada yang tidak patut. Sama seperti berbicara, ada yang patut dibicarakan,  ada juga yang tidak. (T)

Tags: karirPendidikan
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Dukung Musik dan Pertunjukan Bali di New Normal – berawal dari pesan berujung gotong royong membangun panggung

Next Post

Kekerasan di Dunia Pendidikan: Coba Cek, Tersebab Siswa Bandel atau Gurunya Lapar

Candra Puspita Dewi

Candra Puspita Dewi

Lulusan Undiksha Singaraja, kini jadi guru di Denpasar. Di sela mengajar, ia juga main teater di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Kekerasan di Dunia Pendidikan: Coba Cek, Tersebab Siswa Bandel atau Gurunya Lapar

Kekerasan di Dunia Pendidikan: Coba Cek, Tersebab Siswa Bandel atau Gurunya Lapar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co