3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cari Gelar Agar Dapat Kerja, Dapat Gelar Tak Mau Kerja

Candra Puspita Dewi by Candra Puspita Dewi
July 1, 2020
in Esai
Cari Gelar Agar Dapat Kerja, Dapat Gelar Tak Mau Kerja

Ilustrasi diolah dari sumber gambar Google

SAAT ini, pendidikan bukan barang mewah. Hampir setiap orang tua masa kini punya anggapan paten, bahwa sekolah adalah hal wajib yang harus diterima anaknya. Anak-anak punya hak untuk bersekolah.

Sekolahnya pun tidaklah sebentar. Bukan hanya dua belas tahun, tapi lebih dari itu. Bisa 16 tahun jika menempuh pendidikan S2, bisa ditambah lagi 2 tahun jika S2, ditambah lagi 4 tahun jika mau gelar doktor. Atau bisa ditambah bertahun-tahun jika tak tak lulus-lulus, atau malas mengerjakan skripsi/tesis/disertasi.

Sekolah begitu tinggi, dan belajar begitu lama, tentu ada sesuatu yang hendak dikejar. Salah satunya, apalagi kalau bukan gelar. Gelar itu biasa dimanfaatkan untuk mencari pekerjaan. Pekerjaan yang relevan dengan pendidikan yang sudah ditempuh, tentunya.

Kalau pekerjaan tidak relevan, artinya gelar tak terpakai. Pendidikan tinggi-tinggi pun sia-sia rasanya. Semisal, pernah bersekolah tinggi di sebuah universitas pendidikan, tapi, ketika bekerja malah memilih untuk tidak menjadi guru karena sesuatu dan hal-hal lain.

Kondisi seperti itu bisa saja terjadi karena ketersediaan lapangan pekerjaan yang relevan dengan pendidikan yang ditempuh tidak tersedia banyak. Kalau pun ada, mungkin sulit untuk menembusnya. Saingan begitu banyak. Ya, karena banyak yang sekolah tinggi-tinggi.

Dunia sekolah dan dunia kerja itu memang agak aneh, kadang tak nyambung. Sarjana yang punya gelar, bisa juga mendapat pekerjaan bukan semata karena pendidikannya yang cemerlang. Ada yang dapat kerja karena keberuntungan. Banyak orang yang iseng, melamar pekerjaan, coba-coba, eh tahunya dapat. Padahal saat kuliah nilainya C melulu.

Ada juga sarjana yang mendapat pekerjaan karena punya koneksi, misalnya salah satu anggota keluargnya, atau mungkin tetangganya, jadi pejabat penting yang bisa memuluskan jalan menuju kursi pekerjaan.  

Tapi, selain dua tipe peraih kerja yang tersebut di atas, syukurlah masih banyak pencari kerja yang diterima bekerja karena usaha dan kemampuannya sendiri. Lulus murrni, kata orang.

Nah, bagi kawan yang sudah coba-coba, yang tak punya koneksi atau keluarga atau tetangga pejabat, dan yang sudah berusaha tapi tak lolos-lolos juga, sudahlah jangan berkecil hati. Kalau sudah begini, yang harus dilakukan adalah terus dan teruslah berusaha.

Bukankah sering mendengar nasihat penghibur, bahwa hasil itu tidak mungkin menghianati usaha? Jadi, semangatlah. Semangat!

Tapi, kalau semua usaha sudah dilakukan dan tak juga membuahkan hasil, bagaimana kalau sebaiknya tanggalkan saja gelar yang  dipunya? Ini saran saja, lho ya. Kalau tidak setuju juga tidak apa-apa. Siapa tahu tidak rela gelar sarjananya ditanggalkan.

Oh ya, pernah tidak kalian curiga, jangan-jangan gelar itulah yang menghabat kemajuan hidup kita? Justru gelar sarjana itulah yang membuat kita tak mau bekerja sehingga tak dapat-dapat kerja? Mungkin saja gelar itu menganggu pikiran kita?

Sebab, pernah ada seorang teman, sarjana, yang menolak mentah-mentah anjuran saya untuk menjadi cleaning servis di sebuah instansi. Padahal, dia sedang membutuhkan biaya untuk hidup.

Bukan bermaksud memberi pekerjaan yang jelek. Saya pikir dia menerima karena sebelumnya dia bilang dengan sangat dramatis, tragis dan memprihatinkan kalau ia benar-benar sedang butuh uang.

“Masak aku sarjana, kerjanya jadi tukang bersih-bersih,” kata dia, sang sarjana.

Nah, itu membuktikan bahwa gelar bisa membuat kita tidak bergerak. Tak punya ide. Tak kreatif. Gelar bisa menjadi beban bagi pemiliknya.

Sebagian besar orang memilih untuk bersekolah tinggi dan mengejar sebuah gelar hanya untuk mengubah nasib mereka. Mengubah nasib mungkin maksudnya menjadi pekerja kantoran. Lalu, kalau itu-itu saja yang ingin dicapai, padahal sudah tidak ada harapan lagi, apakah kita mau, sebagian waktu hanya dihabiskan untuk menunggu?

Menunggu pekerjaan yang tak datang-datang itu sama seperti menunggu kekasih yang tak jua mau diajak menikah padahal umur sudah tidak bisa diajak kompromi. Ya boro-boro sang kekasih mau diajak nikah, wong kerja saja belum.

Kita bisa lupa pada sekolah tinggi, tapi tak boleh lupa pada tujuan kita bersekolah tinggi. Yakni untuk mengubah nasib. Nasib baik, tentunya. Kalau tidak mendapat pekerjaan yang dinginkan sampai berbulan-bulan lamanya, demi bisa menjadi pegawai kantor, apa itu disebut nasib baik? Kalau tidak mendapat penghasilan selama berbulan-bulan, apa itu juga disebut nasib baik?

Untuk sementara ini, lakukan pekerjaan yang ada saja. Yang tersedia. Kalau ada lowongan menjadi pedagang, kasir, atau cleaning servis, ya diambil saja. Ya, meski pun status dari orang yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan macam itu tidak cukup keren, tapi pekerjaan-pekerjaan itu halal.

Kadang-kadang, hidup tidak melulu soal status. Meski pun kita sering mendengar bahwa di mana-mana lingkungan mementingkan status. Buktinya saja bekerja di mana dan sebagai apa adalah dua pertanyaan yang masih berserakan di lingkungan sekitar. Ya itu wajar-wajar saja.

Sebab, pertanyaan macam begitu kadang serius, kadang juga untuk berbasa-basi. Ya kalau hanya basa-basi saja, mau pekerjaan kita buruh cuci baju sekali pun, mereka tak akan hirau. Tapi, kalau serius ingin tahu dan memberikan penilaian terhadap diri kita, bagaimana? Pertanyaan mereka cukup menjadi ancaman untuk kalian pasti.

Dalam keadaan seperti ini, mendengar memang penting dan baik. Begitu pula lingkungan. Bertanya, berbasa-basi, berbicara, itu juga baik. Tapi, buat kita, percayalah bahwa ada yang patut didengar, ada yang tidak patut. Sama seperti berbicara, ada yang patut dibicarakan,  ada juga yang tidak. (T)

Tags: karirPendidikan
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Dukung Musik dan Pertunjukan Bali di New Normal – berawal dari pesan berujung gotong royong membangun panggung

Next Post

Kekerasan di Dunia Pendidikan: Coba Cek, Tersebab Siswa Bandel atau Gurunya Lapar

Candra Puspita Dewi

Candra Puspita Dewi

Lulusan Undiksha Singaraja, kini jadi guru di Denpasar. Di sela mengajar, ia juga main teater di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Kekerasan di Dunia Pendidikan: Coba Cek, Tersebab Siswa Bandel atau Gurunya Lapar

Kekerasan di Dunia Pendidikan: Coba Cek, Tersebab Siswa Bandel atau Gurunya Lapar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co