26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cari Gelar Agar Dapat Kerja, Dapat Gelar Tak Mau Kerja

Candra Puspita Dewi by Candra Puspita Dewi
July 1, 2020
in Esai
Cari Gelar Agar Dapat Kerja, Dapat Gelar Tak Mau Kerja

Ilustrasi diolah dari sumber gambar Google

SAAT ini, pendidikan bukan barang mewah. Hampir setiap orang tua masa kini punya anggapan paten, bahwa sekolah adalah hal wajib yang harus diterima anaknya. Anak-anak punya hak untuk bersekolah.

Sekolahnya pun tidaklah sebentar. Bukan hanya dua belas tahun, tapi lebih dari itu. Bisa 16 tahun jika menempuh pendidikan S2, bisa ditambah lagi 2 tahun jika S2, ditambah lagi 4 tahun jika mau gelar doktor. Atau bisa ditambah bertahun-tahun jika tak tak lulus-lulus, atau malas mengerjakan skripsi/tesis/disertasi.

Sekolah begitu tinggi, dan belajar begitu lama, tentu ada sesuatu yang hendak dikejar. Salah satunya, apalagi kalau bukan gelar. Gelar itu biasa dimanfaatkan untuk mencari pekerjaan. Pekerjaan yang relevan dengan pendidikan yang sudah ditempuh, tentunya.

Kalau pekerjaan tidak relevan, artinya gelar tak terpakai. Pendidikan tinggi-tinggi pun sia-sia rasanya. Semisal, pernah bersekolah tinggi di sebuah universitas pendidikan, tapi, ketika bekerja malah memilih untuk tidak menjadi guru karena sesuatu dan hal-hal lain.

Kondisi seperti itu bisa saja terjadi karena ketersediaan lapangan pekerjaan yang relevan dengan pendidikan yang ditempuh tidak tersedia banyak. Kalau pun ada, mungkin sulit untuk menembusnya. Saingan begitu banyak. Ya, karena banyak yang sekolah tinggi-tinggi.

Dunia sekolah dan dunia kerja itu memang agak aneh, kadang tak nyambung. Sarjana yang punya gelar, bisa juga mendapat pekerjaan bukan semata karena pendidikannya yang cemerlang. Ada yang dapat kerja karena keberuntungan. Banyak orang yang iseng, melamar pekerjaan, coba-coba, eh tahunya dapat. Padahal saat kuliah nilainya C melulu.

Ada juga sarjana yang mendapat pekerjaan karena punya koneksi, misalnya salah satu anggota keluargnya, atau mungkin tetangganya, jadi pejabat penting yang bisa memuluskan jalan menuju kursi pekerjaan.  

Tapi, selain dua tipe peraih kerja yang tersebut di atas, syukurlah masih banyak pencari kerja yang diterima bekerja karena usaha dan kemampuannya sendiri. Lulus murrni, kata orang.

Nah, bagi kawan yang sudah coba-coba, yang tak punya koneksi atau keluarga atau tetangga pejabat, dan yang sudah berusaha tapi tak lolos-lolos juga, sudahlah jangan berkecil hati. Kalau sudah begini, yang harus dilakukan adalah terus dan teruslah berusaha.

Bukankah sering mendengar nasihat penghibur, bahwa hasil itu tidak mungkin menghianati usaha? Jadi, semangatlah. Semangat!

Tapi, kalau semua usaha sudah dilakukan dan tak juga membuahkan hasil, bagaimana kalau sebaiknya tanggalkan saja gelar yang  dipunya? Ini saran saja, lho ya. Kalau tidak setuju juga tidak apa-apa. Siapa tahu tidak rela gelar sarjananya ditanggalkan.

Oh ya, pernah tidak kalian curiga, jangan-jangan gelar itulah yang menghabat kemajuan hidup kita? Justru gelar sarjana itulah yang membuat kita tak mau bekerja sehingga tak dapat-dapat kerja? Mungkin saja gelar itu menganggu pikiran kita?

Sebab, pernah ada seorang teman, sarjana, yang menolak mentah-mentah anjuran saya untuk menjadi cleaning servis di sebuah instansi. Padahal, dia sedang membutuhkan biaya untuk hidup.

Bukan bermaksud memberi pekerjaan yang jelek. Saya pikir dia menerima karena sebelumnya dia bilang dengan sangat dramatis, tragis dan memprihatinkan kalau ia benar-benar sedang butuh uang.

“Masak aku sarjana, kerjanya jadi tukang bersih-bersih,” kata dia, sang sarjana.

Nah, itu membuktikan bahwa gelar bisa membuat kita tidak bergerak. Tak punya ide. Tak kreatif. Gelar bisa menjadi beban bagi pemiliknya.

Sebagian besar orang memilih untuk bersekolah tinggi dan mengejar sebuah gelar hanya untuk mengubah nasib mereka. Mengubah nasib mungkin maksudnya menjadi pekerja kantoran. Lalu, kalau itu-itu saja yang ingin dicapai, padahal sudah tidak ada harapan lagi, apakah kita mau, sebagian waktu hanya dihabiskan untuk menunggu?

Menunggu pekerjaan yang tak datang-datang itu sama seperti menunggu kekasih yang tak jua mau diajak menikah padahal umur sudah tidak bisa diajak kompromi. Ya boro-boro sang kekasih mau diajak nikah, wong kerja saja belum.

Kita bisa lupa pada sekolah tinggi, tapi tak boleh lupa pada tujuan kita bersekolah tinggi. Yakni untuk mengubah nasib. Nasib baik, tentunya. Kalau tidak mendapat pekerjaan yang dinginkan sampai berbulan-bulan lamanya, demi bisa menjadi pegawai kantor, apa itu disebut nasib baik? Kalau tidak mendapat penghasilan selama berbulan-bulan, apa itu juga disebut nasib baik?

Untuk sementara ini, lakukan pekerjaan yang ada saja. Yang tersedia. Kalau ada lowongan menjadi pedagang, kasir, atau cleaning servis, ya diambil saja. Ya, meski pun status dari orang yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan macam itu tidak cukup keren, tapi pekerjaan-pekerjaan itu halal.

Kadang-kadang, hidup tidak melulu soal status. Meski pun kita sering mendengar bahwa di mana-mana lingkungan mementingkan status. Buktinya saja bekerja di mana dan sebagai apa adalah dua pertanyaan yang masih berserakan di lingkungan sekitar. Ya itu wajar-wajar saja.

Sebab, pertanyaan macam begitu kadang serius, kadang juga untuk berbasa-basi. Ya kalau hanya basa-basi saja, mau pekerjaan kita buruh cuci baju sekali pun, mereka tak akan hirau. Tapi, kalau serius ingin tahu dan memberikan penilaian terhadap diri kita, bagaimana? Pertanyaan mereka cukup menjadi ancaman untuk kalian pasti.

Dalam keadaan seperti ini, mendengar memang penting dan baik. Begitu pula lingkungan. Bertanya, berbasa-basi, berbicara, itu juga baik. Tapi, buat kita, percayalah bahwa ada yang patut didengar, ada yang tidak patut. Sama seperti berbicara, ada yang patut dibicarakan,  ada juga yang tidak. (T)

Tags: karirPendidikan
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Dukung Musik dan Pertunjukan Bali di New Normal – berawal dari pesan berujung gotong royong membangun panggung

Next Post

Kekerasan di Dunia Pendidikan: Coba Cek, Tersebab Siswa Bandel atau Gurunya Lapar

Candra Puspita Dewi

Candra Puspita Dewi

Lulusan Undiksha Singaraja, kini jadi guru di Denpasar. Di sela mengajar, ia juga main teater di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Kekerasan di Dunia Pendidikan: Coba Cek, Tersebab Siswa Bandel atau Gurunya Lapar

Kekerasan di Dunia Pendidikan: Coba Cek, Tersebab Siswa Bandel atau Gurunya Lapar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co