12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kekerasan di Dunia Pendidikan: Coba Cek, Tersebab Siswa Bandel atau Gurunya Lapar

Candra Puspita Dewi by Candra Puspita Dewi
July 1, 2020
in Esai
Kekerasan di Dunia Pendidikan: Coba Cek, Tersebab Siswa Bandel atau Gurunya Lapar

Ilustrasi diolah dari sumber Google

SERING kita jumpai kasus kekerasan dalam dunia pendidikan. Bacalah media massa, baik media cetak, elektronik atau media online. Ada sejumlah kasus kekerasan yang diketahui karena kasusnya bergulir ke polisi atau ranah hukum.

 Kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan bukan hanya kekerasan fisik saja. Kekerasan nonfisik, seperti berkata kasar kepada siswa tak jarang juga mulai terjadi di lingkungan sekolah. Bahkan berkata kasar bisa menjadi salah satu pemicu adanya kekerasan fisik yang mungkin saja merupakan respon dari siswa atau orang tua siswa yang tidak terima atas perlakukan yang diberikan kepada anaknya.

Kasus kekerasan biasanya memang diketahui ketika sudah masuk laporan polisi dan diberitakan di media massa lalu viral di media sosial. Padahal banyak persoalan yang “tersembunyi” di sekolah-sekolah dan tak sampai dilaporkan atau tak bisa dilaporkan menjadi persoalan hukum. Persoalan itu cukuplah menjadi persoalan “rasa” dan “hati”, yang banyak orang tahu tapi tak banyak yang membicarakannya secara besar-besaran.

Kalau dipikir-pikir lagi, apa sih kira-kira yang terkadang membuat guru merasa jengkel saat mengajar? Kejengkelan yang muncul tentu disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya, karena mendapati siswa yang tidak tepat janji dalam mengumpulkan tugas. Siswa yang bandel, tak ngumpul tugas atau tak mengerjakan apa yang diminta guru, adalah satu hal yang sulit diatasi jika akar persoalan si anak tak diketahui secara pasti.

 Jika mendapati siswa bandel, lalu guru keseleo laku, marah dan kadang tak tahan untuk mencolek sedikit tubuh si siswa, maka pada saat itulah guru menjadi salah.

Tak banyak yang mengecek dengan cermat, apa yang menyebabkan guru jengkel pada saat-saat tertentu. Jika guru muda, mungkin sedang putus dengan pacar karena hal sepele, seperti tidak cukup uang untuk membeli baju, bertengkar dengan pasangan karena dapat giliran membayar listrik dan air di kos tapi belum bisa bayar.

Dan mungkin saja penyebabnya sederhana (tapi mendasar), yaitu lapar. Ya, jengkel karena lapar. Lapar ketika mengajar.

Lapar adalah perasaan ingin makan karena perut yang sedang kosong. Jika perut kosong tersebut tidak segera diisi, maka dampak yang muncul dari rasa lapar adalah hilangnya konsentrasi. Di samping itu, manusia bisa kehilangan akal sehat. Manusia akan cepat marah dan tidak sabar dalam menghadapi pekerjaannya.

Ada seorang guru kontrak yang gajinya sering ngadat bahkan hingga tiga bulan. Untuk memenuhi kebutuhannya setiap hari dan setiap bulan, seperti makan dan bayar listrik, ia nyambi ngajar di lembaga bimbingan belajar. Nah, gaji yang didapat di lembaga swasta itulah yang digunakan memenuhi hasratnya untuk makan dan kewajibannya bayar kos, listrik dan air, juga untuk beli bensin demi bisa mengajar tepat waktu di sekolah. Jika masih kurang, ya pinjam.

Pernah suatu kali sisa uang hanya cukup untuk beli bensin agar bisa lancar ke sekolah dan tentu saja tepat waktu dalam mengajar. Jika uang bensin itu dipakai beli nasi, tentunya tak akan bisa ke sekolah. Maka, karena ia guru yang baik, ia kurangi jatah makannya agar bisa beli bensin. Dan ia pun mengajar dengan perut keroncongan.

Mungkin saja hal ini yang menyebabkan seorang guru cepat tersulut emosinya. Apalagi pekerjaan seorang guru tidak sebatas menghadapi kertas-kertas dan laptop saja. Kertas dan laptop tidak bisa bicara. Tidak bisa menyampaikan segala keinginannya. Pekerjaan seorang guru melebihi itu semua.

Hampir setiap hari, guru harus berhadapan dengan manusia. Cara menghadapinya tentu tidak sama seperti menghadapi kertas dan laptop. Guru harus mendengar keinginan siswa, mendengar usulan siswa, mendengar pertanyaan-pertanyaan apa pun yang tentu harus dijawab saat itu juga. Banyak hal yang harus didengar. Banyak hal juga yang harus dipenuhi oleh seorang guru demi siswanya. Dalam kondisi apa pun dan dalam situasi bagaimana pun. Dalam keadaan lapar sekali pun. Seorang guru dituntut untuk tetap profesional.

Namun, dari peristiwa kekerasan yang pernah terjadi dalam dunia pendidikan, kita patut mempertanyakan perihal keprofesionalan seorang guru saat ini. Mengapa semangat dalam rangka mempertahankan keprofesionalan itu mulai menurun? Apakah semangat yang menurun itu dikarenakan jarang mengonsumsi vitamin, nutrizi, dan gizi yang didapat dari makanan-makanan sehat? Seperti sayur dan buah-buahan.

Bahkan ada beberapa guru yang mulai lupa alias pikun pada perannya. Mungkin saja tidak sarapan dan tidak makanlah yang memicu penyakit lupa peran tersebut. Peran bahwa seorang guru harus tetap merasa baik-baik saja ketika menghadapi siswanya.

Tentu tidak ada satu orang pun yang menginginkan kejadian itu terulang lagi. Tentunya semua orang berharap agar siswa bisa terus menerus mendapatkan didikan dan bimbingan dengan baik. Tentu juga semua orang berharap keprofesionalan guru bisa tetap terjaga. Tentu saja semua orang berharap agar guru tidak pernah lupa dengan perannya.

Nah, dari harapan-harapan itu, alangkah baiknya jika semua orang tidak membiarkan guru-guru merasa lapar agar  tetap berkonsentrasi  dan menjaga akal sehatnya saat mengajar. (T)

Tags: guruguru honorerkekerasan
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Cari Gelar Agar Dapat Kerja, Dapat Gelar Tak Mau Kerja

Next Post

Lumbung Pangan Keluarga, Wahana Meditasi Jiwa

Candra Puspita Dewi

Candra Puspita Dewi

Lulusan Undiksha Singaraja, kini jadi guru di Denpasar. Di sela mengajar, ia juga main teater di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Pangan, Hidup Mati Bangsa

Lumbung Pangan Keluarga, Wahana Meditasi Jiwa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co