14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“The Flu”, “The Contagion”, dll. — Menonton Film Pandemi untuk Selamat dari Pandemi

Vincent Chandra by Vincent Chandra
April 19, 2020
in Ulasan
“The Flu”, “The Contagion”, dll. — Menonton Film Pandemi untuk Selamat dari Pandemi

Ilustrasi: Vincent Chandra

Sebuah kontainer berisi puluhan imigran gelap diselundupkan oleh oknum mafia ke sebuah daerah di Korea Selatan. Setelah tiba dan dibuka, mafia-mafia ini hanya menemukan tubuh-tubuh imigran gelap yang tergeletak, tikus-tikus yang sedang menggerogoti tubuh imigran, serta bau busuk yang tajam dari dalam kontainer.

Salah seorang imigran yang selamat secara tidak sengaja menularkan virus kepada salah seorang mafia sebelum akhirnya berhasil kabur ke tengah kota. Keesokannya mafia ini mulai batuk keras ditengah keramaian. Lewat mafia tadi akhirnya virus ini viral ke beberapa bagian dunia hanya dalam hitungan hari, dan mengakibatkan seisi kota harus diisolasi.

Warga mulai panik, yang terjangkit tidak tertangani, warga kehilangan kepercayaan pada pemerintah, pemerintah cemas dan kebingungan, warga yang diisolasi menolak tertib, pemerintah akhirnya terpaksa mengambil sikap dengan menembak warganya sendiri, setelah beberapa hari sejak wabah muncul, sebuah antibody untuk membunuh virus itu akhirnya dapat ditemukan.

Insiden tadi adalah pokok cerita dari film The Flu yang sekilas memprediksikan kondisi dunia hari ini. Jelas tidak sepenuhnya, kadang terkesan melebihkan, namun setidaknya ada kemiripan dengan penggambaran psikologis masyarakatnya selama menghadapi pandemi. Film-film serupa ini seperti The Contagion, Outbreak, I Am Legend (salah satu film favorit saya), Children of Men, The Happening, World War Z, Train To Busan, dan Bird Box pula mencoba menggambarkan realitas sosial dunia hari ini versi masing-masing.

Semua film itu beberapa diantaranya benar terinspirasi dari kasus-kasus nyata yang sebelumnya terjadi. Tidak heran bila didalamnya tampak banyak wujud tindakan yang masuk akal dan layak kita coba untuk menyelamatkan diri dari krisis ini. Terdengar lebih optimis, film-film ini berpotensi membantu kita untuk selamat dan menanggani pandemi bila kita jeli menangkap nilai-nilai penting yang ada didalamnya. Sebaliknya menimbulkan ketakutan dan kecemasan berlebihan bila kita salah memaknai film-film tadi. Saya sendiri memaknai film ini sebagai kunci jawaban dari persoalan pandemi ini, yang kemudian lebih tepat kita pakai untuk mengevaluasi 1 bulan keadaan kita belakangan selama pandemi.

Mari kita coba kupas mengapa film-film ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita selama pandemi? The Contagion misalnya. Film ini menggunakan alur yang amat ilmiah untuk menggambarkan bagaimana penularan virus dapat terjadi dari hewan ke manusia. Ia juga menjelaskan dengan detil bagaimana virus dapat menular lewat objek yang disentuh korban penularan.

Lebih akurat lagi, film ini menunjukkan bagaimana mereka melacak jejak korban yang terinfeksi, kemudian mengidentifikasi, mengisolasi, dan memantaunya. Pengerjaan film ini melibatkan ahli medis dan ilmuwan, sehingga isu yang dibangun terasa nyata dan tidak terkesan dibesar-besarkan. Mereka percaya diri bahwa krisis seperti di hari ini akan datang cepat atau lambat.

Di film Outbreak, kita dapat melihat bagaimana sebuah protokol lapangan dijalankan dengan baik. Pemerintah menanggapi virus yang teridentifikasi dengan serius. Di film lainnya, mainstream namun tetap relevan. Mereka menggambarkan para tenaga medis dan militer yang kelelahan demi melindungi masyarakat, menangani warga yang frustasi dan panik, serta kesigapan pemerintah dalam mengambil keputusan. Semua itu tampak seperti hint yang diberikan kepada kita untuk siap menghadapi tragedi ini.

Satu lagi elemen yang tidak kalah penting, ada harapan dan energi positif yang ditularkan di tiap-tiap film tadi. Kita bisa melihat para tenaga medis yang melalui tahap panjang untuk memecahkan persoalan pandemi. Kita dapat melihat negara-negara bersatu dan saling membantu. Hingga pada akhir film para pasien dapat pulih kembali dan menemui keluarganya. Bukankah sekilas ini mirip dengan yang baru-baru ini terjadi di dunia kita? Film-film ini seolah ingin mengingatkan kita, bahwa disamping suramnya hari dan kerasnya tragedi, ada keindahan yang sedang ditunjukkan oleh manusia.

Krisis rasionalitas selama pandemi

Kesemua film tadi juga punya satu kemiripan yang selalu hadir sebagai resep utama agar masyarakat kebanyakan mau berlama-lama menikmati film, yaitu peristiwa yang dramatis. Dengan takaran dramatis yang tepat, film-film tadi sukses menarik kita ke dalam gravitasi imaji para pembuat film sehingga betah berlama-lama dan terus terbayang-bayang. Ceritanya yang mendebarkan secara tidak sadar punya kemiripan pada masyarakat kebanyakan dengan karakteristik kepribadain dramatis yang membuat mereka haus akan adrenalin. Ibarat naik roller coaster, ada rasa takut, tegang, menyenangkan, lega, dan menagihkan yang dicari-cari (tidak heran jika acara televisi nasional seperti termihik-mihik dan sejenisnya begitu digemari masyarakat kebanyakan).

Pandemi Covid-19 yang kini melanda dunia seolah-olah adalah tiket gratis untuk naik roller coaster tersebut. Celakanya, tidak sedikit orang yang suka gratisan. Alhasil tiket laku keras hingga sold out. Mereka pun menikmati wahana pandemi sambil lupa mengencangkan safety belt.

Dari film The Flu, secara gamblang diisyaratkan bahwa segala konflik yang terjadi selama pandemi diakibatkan oleh kepanikan atau kecemasan masyarakatnya. Sementara dalam realita walau tidak sedramatis film, hal serupa juga terjadi setelah pandemi dinyatakan berhasil masuk ke dalam negeri. Masyarakat mulai panik dan mempersiapkan diri dengan memborong sejumlah barang di pasar dan supermarket.

Pada minggu pertama, komoditas masker, hand sanitizer, dan tisu menjadi langka. Minggu selanjutnya, masyarakat berebut makanan dan sembako, penimbunan barang-barang terjadi, dan masyarakat terpaksa membeli kembali barang-barang timbunan dengan harga yang telah meningkat beberapa kali lipat. Kepanikan membuat mereka percaya bahwa membuang uang untuk membeli barang yang dapat melindungi mereka itu sepadan.

Kita sepakati fenomena ini sebagai kepanikan yang irasional, atau kepanikan yang berlebihan dan tidak perlu. Kepanikan dan ketakutan yang muncul memicu kita bertindak dengan tidak bijak. Memang perlu mempersiapkan diri untuk hal yang tidak kita ketahui, namun jika dilakukan dengan panik maka hanya akan menimbulkan kerugian.

Ketika kita melihat beberapa orang dengan panik memborong sembako saat di pasar, dorongan untuk melakukan hal persis juga akan muncul pada diri kita. Kondisi panik ini timbul dengan efek bola salju, memancing orang yang melihat untuk berpartisipasi. Ilustrasi yang pertama ini seperti yang ditunjukkan dalam film The Contagion. Ini cukup menjelaskan bagaimana kepanikan dapat mewabah hanya dalam waktu singkat.

Menurut para ahli tindakan tadi hanyalah sebuah reaksi alamiah untuk menyelamatkan diri, suatu cara untuk mengontrol ketidaktahuan dan ketidakpastian atas sebuah situasi. Dalam situasi seperti ini, biasanya kita kehilangan kemampuan untuk berpikir tenang dan rasional. Sehingga rasa panik menjadi satu-satunya alternatif yang mengatur gerak kita.

Kepanikan juga muncul pada masyarakat yang terlalu mengikuti perkembangan berita. Baik informasinya benar atau tidak, ia tetap akan menimbulkan kepanikan. Untuk sekarang kita perlu membatasi konsumsi informasi ini, sekaligus menahan diri untuk terus menyinggung berita didalam percakapan sehari-hari, sesekali ya boleh. Yang terpenting adalah lebih mengarahkan fokus kepada upaya diri masing-masing dalam menjaga kesehatan dan keluarga. Untuk masalah ini saya ingin mengutip nasihat dari seorang teman, “Boleh waspada tapi jangan sampai ketakutan. Be mindfull on where we put our hands, but also on where we put our attention”.

Kita jelas tidak mau berakhir seperti didalam film-film dramatis kebanyakan. Walau sebenarnya dapat selamat dari wabah, kita malah apes karena kepanikan sendiri, lebih apes lagi jika dikarenakan kepanikan orang lain. Saya mengerti betul bahwa terkadang kepanikan itu ada diluar kendali kita. Tapi mari belajar berpikir rasional, setidaknya sampai pandemi ini berakhir. Perkara pencegahan, salah satu caranya tergolong biasa, kita hanya cukup tahu cara cuci tangan yang baik saja. Sebenarnya sesederhana itu. Tapi masyarakat kebanyakan seolah tidak rela. Mereka percaya untuk peristiwa yang dramatis perlu pula reaksi yang dramatis.

Dibalik banyaknya berita buruk yang kita dengar dan lihat, ke-chaos-an, tragedi yang menggunung.. ada hal baik yang juga sedang terjadi. Orang-orang saling menyemangati dan bernyangi bersama lewat balkon rumah, mereka punya waktu lebih banyak untuk berkumpul dengan keluarga, negara-negara bersatu dan saling membantu, anak-anak muda bergerak bersama membagikan kebahagiaan, lewat tenaga, dana, dan pikiran. Semua ini maknanya untuk menyembuhkan kecemasan kita, untuk mebangkitkan optimisme kita.

Dibanding akhir cerita dalam film Train to Busan yang menyisakan beberapa warga yang selamat akibat saling membunuh, rasanya kita semua lebih mengharapkan akhir yang melegakan serupa akhir dalam film The Contagion. Vaksin ditemukan, masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa, pergi kemanapun tidak perlu lagi merasa panik, jabat tangan dan pelukan hangat legal kembali. Untuk sampai disana akan memerlukan perjalanan yang panjang. Selama kita tetap keep on track, mendengar himbauan pemerintah, saling percaya dan menjaga, tetap penuh harapan dan optimis, maka hari dimana kita bisa bertemu sapa secara langsung akan tiba lebih cepat tanpa kita sadari. Semoga.[T]

Tags: covid 19filmpandemivirusvirus corona
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Kolaborasi LPD dan Pekerja Migran Membangun Desa

Next Post

Sukses Simon Sinek Menginspirasi Lewat “Start With Why”

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menuntut Keadilan Sejarah Melalui “Menjerat Gus Dur” Virdika Rizky Utama

Sukses Simon Sinek Menginspirasi Lewat “Start With Why”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co