4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kita Semua Pribumi, Cuma Alien yang Non Pribumi

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
February 18, 2020
in Esai
Kita Semua Pribumi, Cuma Alien yang Non Pribumi

“Kita semua pribumi, cuma alien yang non pribumi”

Sebaris kata-kata satire ini tertulis pada kaos yang dibuat toleh tim kreatif Yayasan Sesama, Singaraja. Kaos berwarna merah terang dan hijau pisang ini tampak dipakai anak-anak muda yang tergabung sebagai relawan maupun masyarakat yang memberi simpati dan dukungan untuk kegiatan yayasan ini. Punya motto Tat Twam Asi (Aku adalah kamu dan kamu adalah aku), yayasan ini membawa misi “melayani sesama dengan semangat pluralisme”.

Kuat sekali pesan yang disampaiakan gerakan anak-anak muda yang beraneka latar belakang ini, terutama dari kalangan medis dan paramedis, yaitu ajakan tentang kepedulain terhadapa sesama yang lemah membutuhkan bantuan, juga menjaga indahnya spirit toleransi kebhinekaan. Istilah pribumi tampaknya tercetus dari keprihatinan terhadap konstelasi politik identitas yang sedemikian vulgar dari pertarungan satu pilkada di negeri ini, pilkada DKI Jakarta yang telah menarik perhatian seluruh bangsa bahkan masyarakat luar negeri.

Pribumi, kata-kata ini dapat memiliki ribuan makna. Saya takkan membahasnya dari sisi etimologi, namun ingin mencoba ikut bermain pada tataran persepsinya yang sedemikian dinamis. Jika pribumi secara sederhana dimaksudkan sebagai penduduk asli maka ia akan berseteru dengan batas geografis maupun entitas etnis. Dengan pribumi maka akan ada pendatang. Ini hanya akan cukup mudah disematkan kepada pendatang yang berbeda ras dan datang dari jauh.

Misalnya orang-orang kulit putih yang datang dari benua Eropa, baik untuk berdagang maupun menjajah bangsa Indonesia. Namun bagaimana dengan masyarakat Melayu yang sama-sama tinggal di perbatasan RI-Malaysia di pulau Kalimantan (Borneo), sebagian orang Indonesia, sebagian orang Malaysia. Yang mana pribumi? Atau jika penduduk di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng adalah Bali Asli, pribumi, maka masyarakat di luar Desa Pedawa adalah pendatang. Dalam hal ini memang ada bukti-bukti sejarah kedatangan leluhur mereka dari pulau Jawa, pelarian kerajaan Majapahit. Lalu, jika mereka yang sama etnis saja ternyata ada pribuminya dan ada pendatangnya, bagaiman dengan etnis China dan Arab di Singaraja? 

Betul sepertinya gagasan anak-anak di Yayasan Sesama, kita semua di planet biru adalah pribumi. Jika mengacu pada teori evolusi Darwin, bahkan dengan spesies lain pun dulu kita berangkat dari satu garis start yang sama. Primata, semua mamalia hingga pepohonan hujan tropis pun adalah pribumi yang punya hak atas tanah airnya. Penduduk mana saja adalah pribumi saat disandingkan dengan pendatang. Saat itu mungkin saja orang-orang China hadir ke Nusantara sebagai pendatang untuk berdagang, di lain waktu mungkin orang-orang Indonesia pergi ke China sebagai pendatang untuk belajar.

Dan betul juga gagasan mereka, hanya jika ada alien yang tiba-tiba datang menginvasi bumi, barulah kita seluruh penduduk dunia merasa satu sebagai pribumi. Mirip seperti agresi virus corona baru (Covid-19) yang sedang meneror dunia, telah memaksa bangsa-bangsa di bumi mulai sedikit tergerak untuk berangkulan. Kita adalah pendatang ketika berkunjung ke hutan belantara di pedalaman Kalimanatan, saat seluruh vegetasi di sana adalah pribuminya. Maka pribumi seharusnya adalah istilah remeh untuk membedakan orang yang kebetulan mendapat kunjungan dari yang lain. Ia tak pernah merujuk pada ahlak dan kwalitas insani, kecuali kita telah menciptakannya dari pikiran yang tak adil.

Pikiran tak adil, ia lah yang kelak akan menghancurkan dunia. Ia boleh saja tak tampak, namun ia ada di mana-mana pada setiap saat. Bahkan kebencian pun tak pernah dapat terwujud saat belum mendapat restu dari pikiran. Pikiran dalam bangunan tubuh manusia berada pada singgasananya yang tertinggi. Ia dekat dengan Tuhan, maka hanya agama yang sanggup berurusan dengannya. Karena agama wakil Tuhan di bumi, maka agama harus memasukkan Tuhan ke dalam pikiran setiap manusia. Betulkah demikian? Bagaimana jika yang dimasukkan adalah iblis? Maka yang terjadi adalah abad kegelapan.

Istilah Zaman Kegelapan muncul setelah perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan di kawasan Eropa mengalami stagnasi atau bahkan kemunduran akibat dari kuatnya posisi gereja di segala bidang kehidupan masyarakat Eropa saat itu. Segala hal yang tidak berhubungan dengan agama dianggap melanggar hukum. Hal itu semakin menghambat perkembangan ilmu pengetahuan empiris dan teori-teori baru. Ilmuwan masyur Galileo Galilei adalah korban paling fenomenal dari kelamnya abad kegelapan atas penemuannya tentang tata surya yang berlawanan dengan keyakinan gereja.

Perang Salib (1095-14920) merupakan salah satu perang paling dikenal sepanjang sejarah. Perang ini tak hanya ditujukan untuk memperebutkan kota suci, Yerusalem, namun secara tersirat dianggap sebagai perang suci antara dua agama besar, yaitu Islam dan Kristen. Peperangan yang terhitung hingga delapan babak dalam sejarah dunia ini bukanlah peperangan biasa, ia diyakini sebagai perjuangan demi memperoleh pengampuanan atas segala dosa yang telah mereka akui.

Kini, satu perjuangan yang dilakukan oleh ISIS (Islamic State in Iraq and Syria), bukan lagi hanya melawan agama lain yang dianggap kafir, mereka bahkan tak rag-ragu lagi memenggal leher orang-orang yang seagama namun tak seiman. Dalam tayangan video-video pelatihan kombatan ISIS yang menakutkan dan telah menebar mimpi buruk, iblis telah disemai sejak dalam pikiran kanak-kanak. Pikiran begitu dekat dengan Tuhan, pun dengan iblis. Pada akhirnya kita akan selalu kembali pada ucapan Budha, “Dirimu adalah apa yang engkau pikirkan”. [T]

Tags: agamapribumiYayasan Sesama
Share88TweetSendShareSend
Previous Post

Setelah Pergub 80/2018, Adakah Bahasa Bali Aga Diberi Panggung Bukan Dipunggungi?

Next Post

Kekerasan

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kekuasaan

Kekerasan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co