17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Latihan Teater yang Bisa Dilakukan di Hari Valentine

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 13, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Ini bulan sudah Februari. Bulan perayaan cinta. Yang dalam dunia muda-mudi dirayakan setiap tanggal 14 sebagai hari Valentine. Di hari Valentine inilah begitu banyak macam cinta bisa kita saksikan, mulai di jalanan, taman kota, kafe, hingga beranda facebook. Mengamati muda-mudi yang merayakan cinta di hari Valentine. seperti menonton teater dengan berjibun lakon romantis di dalamnya. Cerita boleh jadi berkisar tentang persiapan, pertemuan, atau perjalanan cinta dengan segala macam persoalan yang menyertai. Sedang tokoh utamanya, tentu saja adalah pasangan pemuda dan pemudi itu sendiri.

Bagaimana para pemuda dan pemudi menanti hari Valentine, barangkali akan sama kualitasnya seperti perasaan Sampek dan Engtay menanti hari perjanjian tiba untuk bertemu menjalin cinta. Melihat para pemuda yang lalu lalang sepanjang jalan, keluar masuk toko bunga, menggendong sebungkus besar kado boneka dan kotak coklat, seperti menyaksikan Romeo yang mabuk kepayang pada Juliet. Sementara membayangkan pemudi memilih pakaian yang pas, berkaca, menata dan merias diri menanti kekasihnya adalah membayangkan rasa gugup, kangen, dan haru Dewi Sita yang campur aduk menunggu datang jemputan Rama di Alengka.

Situasi-situasi tersebut, jika ingin dipertentangan, tentu akan banyak ditemukan perbedaannya. Namun jika ingin dicari kemungkinan dalam konteks pemanggungan teater, perasaan cinta yang bertebar di hari Valentine ini sesungguhnya dapat menjadi bahan belajar aktor dalam melatih kesadaran, khususnya tentang laku manusia sebagai makhluk yang senantiasa memiliki hasrat mencintai dan dicintai. Mengingat dalam lakon teater itu sendiri, sedikit banyak pasti menghadirkan cinta di dalamnya. Walau bukan sebagai tema utama, minimal menjadi pemanis cerita. Mulai dari cinta tak terbalas, cinta beda kelas, cinta segi tiga, cinta pura-pura, cinta eksistensialis dan berbagai jenis cinta lainnya.

Perihal adegan percintaan, Iswadi Pratama, sutradara Teater Satu Lampung sempat menunjukan bagaimana cara membangun impuls dalam diri aktor dengan menggunakan pendekatan akting Stanislavsky. Ceritanya kebetulan adalah dua orang kekasih yang akan berpisah. Diputarkan oleh Iswadi sebuah musik romantis kepada hadirin. Sementara kedua peserta lain yang berperan sebagai tokoh dibiarkan melakukan tindakan bebas sewajarnya. Pada menit selanjutnya, kedua aktor mulai diberi arahan yang runut dalam rangka membangun situasi adegan. Dengan pelan dan sabar, dituntunnya mereka untuk menghayati segala tindakan satu persatu untuk kemudian sampai pada adegan perpisahan.

Begitu berkesan latihan tersebut sampai kini. Bukan lantaran akting kedua aktor yang mengharu biru. Melainkan dalam workshop yang digelar di Kampus Padjajaran, Jawa Barat 2013 lalu itulah, untuk pertama kalinya benar-benar dibuat ngeh akan pentingnya metode latihan pemeranan.  Pada sederet kasus, seringkali pertunjukan hanya menyoal konsep pemanggungan dan spektakel pentas. Sedang kerja-kerja mempersiapkan peran adalah urusan kesekian. Karena itu juga motif-motif tentang cinta yang notabene begitu sederhana sekalipun biasanya luput pula dibedah dan didiskusikan dalam dapur kelompok teater.

Pada pentas semacam ini, cinta cenderung diintrepretasi sebatas menerima dan menolak perasaan. Lebih-lebih segala tindakan yang dihadirkan adalah laku-laku klise. Apabila tokoh-tokohnya saling menerima, saling mencintai misalnya, laku yang dihadirkan umumnya ditandai dengan berpengangan tangan, berpelukan, sampai ciuman kening. Sementara pada adegan menolak cinta, biasanya akan ditunjukan dengan bloking pemain yang saling berjauhan, tatapan sinis tokoh yang menolak dengan melipat tangannya penuh keangkuhan. Semua seperti dibuat-dibuat. Palsu. Tak wajar.

Tak ada impuls dalam diri aktor. Tak ada muatan emosi yang membuat getar hati penonton. Bagaimana bisa membuat penonton bergetar? Jika dialog “aku cinta padamu” hanya dihafal lalu diucapkan sekadarnya. Bagaimana bisa menghidupkan panggung pertunjukan? Apabila buket bunga di genggaman aktor hanya disikapi sebagai properti pentas. Hal ini tentu berlainan ketika menyaksikan laku cinta muda-mudi di sekitar saat merayakan Valentine.

Sebelum dan sesampainya hari Valentine, debar cinta telah dipupuk sedikit demi sedikit. Dengan sabar sang pemuda sudah menyisihkan uangnya setiap hari untuk dibelikan bunga. Hemat makan, hemat minum, hemat rokok. Sembari menyisihkan uang, ia cari desain buket terbaik yang sekiranya mampu meluruhkan hati pujaannya.  Saat uang sudah terkumpul, pemuda itu mesti merelakan diri buat berdesakan, mengantri karena saking banyaknya pembeli di toko tersebut. Usai berdesakkan, ia tersendat-sendat di jalan yang macet oleh pasangan-pasangan lain. Pemuda itu terus saja melaju menuju rumah perempuan. Kian dekat menuju rumah, kian cepat detak jantungnya. Pada buket bunga inilah, ia endapkan sepenuhnya perasaan, harapan, dan cita-cita, hingga akhirnya sampai pada pernyataan cinta pada kekasih.

Dalam konteks ini, pernyataan cinta sang pemuda kepada kekasihnya tentu akan jauh kualitasnya jika dibanding dengan ungkapan cinta ala kadar dari seorang aktor dengan lawan mainnya. Tak ada motif yang lahir dari batinnya. Padahal, menurut Iswadi, motif memiliki peranan penting dalam menentukan sasaran kreatif peran. Tiga jenis sasaran yang dimaksud adalah sasaran mekanis, sasaran naluriah, dan sasaran psikologis. Ketiga sasaran ini menjadi salah satu hal penting yang mesti dipahami aktor dalam upaya menumbuhkan impuls dalam permainan.

Sasaran mekanis merupakan kebiasaan-kebiasaan yang lazim dilakukan sehari-hari tanpa adanya muatan motif tertentu. Contohnya ketika mengucapkan sayang sehari-hari pada kekasih. Tak ada cinta di dalamnya. Tak ada getar di ucapannya. Sebab sudah terlalu sering kita menggunakannya hingga menjadi kebiasaan sehari-hari. Sementara ketika mengucap sayang pada kekasih setelah lama kita tinggalkan bekerja di luar kota adalah salah satu contoh sasaran naluriah yang di dalamnya mengandung muatan psikologis berupa rasa gembira.

Pada sasaran psikologis lebih kompleks lagi, karena mengandung motif emosi yang lebih dalam dan muncul dari kesadaran. Sasaran psikologis misalnya terjadi ketika mengucap sayang untuk meminta maaf kepada kekasih setelah kemarin malam sempat kepergok selingkuh dengan perempuan lain.

Kendati telah dipilah dan diuraikan sedemikian rupa, ketiga jenis sasaran ini memang cukup sulit untuk dibedakan terlebih saat melakukan rutinitas sehari-hari. Sebab ketiganya saling berkelindan dan kerap muncul dalam waktu yang hampir berdekatan sehingga mesti dipilah dengan hati-hati dan penuh kesadaran. Maka di sinilah pentingnya hari Valentine, khususnya bagi para aktor yang kehilangan motif bagaimana caranya mengungkapkan rasa cintanya di atas panggung.

Merayakan Valentine bersama kekasih barangkali menjadi ruang belajar untuk mengenali jenis-jenis motif dan sasaran kreatif peran. Caranya? Segeralah kau luangkan diri mengunjungi toko bunga dan coklat. Pilih satu yang cocok untuk kekasihmu. Adakah debar cinta yang masih bergelora saat menyerahkannya pada kekasih? Yang hadir sebagai motif psikologis? Atau jangan-jangan bunga, coklat dan kata cinta yang terucapkan terasa kosong? Sama sekali tak mengandung muatan motif apapun? Jika benar demikian, belilah satu lagi buket bunga untuk diserahkan kepada mantan. Rasakanlah motif emosi yang memenuhi batinmu. Jika toh masih tetap tak terasa motif yang hadir, paling tidak kau akan merasakan pukulan tiba-tiba dari kekasih baru mantanmu.

Nah! Itulah yang disebut sebagai motif dan sasaran! Motif psikologis, dengan pukulan yang merupakan sasaran naluriah sebagai tanda amarah yang ditujukan kekasih sang mantan pada dirimu! Bangsat ci! Rayu ci tunang cang! [T]

Denpasar, 2020

Tags: Hari ValentineTeater
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Mari Pelihara Babi Hitam Agar Kembali Jadi Tuan Rumah di Bali

Next Post

Wartawan Kuliah di Fakultas Ekonomi, Ada yang Salah?

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Wartawan Kuliah di Fakultas Ekonomi, Ada yang Salah?

Wartawan Kuliah di Fakultas Ekonomi, Ada yang Salah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co