3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wartawan Kuliah di Fakultas Ekonomi, Ada yang Salah?

Komang Yudha by Komang Yudha
February 13, 2020
in Esai
Wartawan Kuliah di Fakultas Ekonomi, Ada yang Salah?

Ilustrasi: Jro Adit Alamsta

Kenapa saya belajar ilmu ekonomi? Toh juga selalu menjadi pencari berita.

Ilmu ekonomi rasanya tidak ada pengaruh dalam kehidupan dan kegiatan saya sehari-hari.Toh juga saya sudah bekerja sebagai pencari berita di salah satu televisi lokal diBali.Buat apa saya jauh- jauh berjuang,menghabiskan dana sekian juta guna meraih gelar sarjana Ekonomi.

Saya ingat sekali, awal tahun 2016 silam,Saya pertama kali ditugaskan sebagai wartawan di tanah kelahiran saya,yakni Kabupaten Buleleng.Awal tahun 2016 pula,saya pertama kalinya ikut kegiatan orientasi kehumasan yang diselenggarakan oleh Humas Pemkab Buleleng yang saat ini bernama Protokol dan Komunikasi Pimpinan.Pada waktu itu,rute yang dipilih ke Sulawesi Selatan.

Pertama kalinya, sebagai orang baru, dan bertemu dengan sejumlah rekan kerja yakni wartawan yang lebih dulu bertugas di Kabupaten Buleleng, saya mencoba menggali Latar bekalang pendidikannya. Ternyata sebagaian besar pendidikannnya sudah  tingkat D3 hingga sarjana berbagai jurusan.

Dari situlah saya berfikir, hanya saya yang saat itu belum memiliki gelar sarjana. Sedangkan tuntutan kinerja mengharuskan kita mempunyai gelar, guna mampu bersaing jika nantinya ijazah SMA/SMK sudah tidak diperlukan lagi.

Saya pun bercerita dengan rekan sekamar saya,yang pada saat itu belum saya ketahui jika orang yang saya ajak sekamar adalah Presiden Komunitas Jurnalis Buleleng ( KJB), Ketut Wiratmaja. Saya pun diberikan banyak sekali wejangan oleh beliau. Mulai dari awal berdirinya Komunitas Jurnalis Buleleng, cara-cara liputan hingga karakter-karakter dari teman-teman seperjuangan.

Tanpa sadar saya nyeletuk, menyampaikan bahwa saya akan melanjutkan pendidikan, namun masih bingung mau ke mana,dan mencari jurusan apa. Dengan cepatnya Wiratmaja langsung menelpon Rektor Universitas Panji Sakti Singaraja,yang pada waktu itu dijabat oleh Dr.Ketut Gunawan,MM. Saya terkejut,persiapan hingga dana belum ada,mau gimana? Dengan santainya Wiratmaja menjelaskan, masuk dulu bayar belakangan.

Singkat cerita,temen yang lain sudah pada mulai pembelajaran, saya masih sibuk mencari berita, guna mengisi ruang redaksi. Dua bulan berlalu, saya mulai berkuliah seperti biasa, saya sudah putuskan untuk bergabung dengan Fakultas Ekonomi dengan tujuan dan pandangan yang belum jelas. Kemana saya akan bawa gelar ini nantinya? Toh juga akan tetap menjadi seorang pencari berita.

Seperti lagunya Anak Agung Raka Sidan, semester awal 1,2,3 saya selalu rajin kuliah. Permata kuliahan pada saat itu jarang saya tinggalkan. Nah mulai pada semester 4,5,6 sudah mulai rada-rada sebulan sekali mengunjungi kampus tempat saya menuntut ilmu. Bukan karena banyaknya liputan dan kegiatan, melainkan penyakit ngekoh (malas-malasan) muncul terus di setiap jadwal perkuliahan. Ngekoh mungkin akibat saya belum tahu jawaban, kenapa saya kuliah di Fakultas Ekonomi.

Akhirnya keresahan dan kegelisahan saya mencari Jurusan Ekonomi, terjawab pada akhir semestar 6. Sebuah kenyataan bahwa pada akhirnya semua orang, cepat atau lambat, akan berurusan dengan ilmu ekonomi, contohnya uang. Terlepas dari apapun jurusan kuliah, apapun bidang ilmu yang ditekuni, apapun karya hidup, tidak ada profesi yang jauh dari uang.

Pribadi saya sebetulnya meyakini bahwa “mengejar uang” bukanlah tujuan hidup yang tepat. Kita bukan belajar untuk bekerja dengan tujuan “hanya” untuk mendapatkan uang, tapi kita belajar untuk berkarya dalam hidup, dan uang hanyalah media atau fasilitator agar kita tetap dapat berkarya dengan efektif setidaknya.

Didasari pemikiran itu, saya berkesimpulan bahwa semua orang setidaknya perlu memahami dasar-dasar ilmu ekonomi. Walaupun kelak akan berkecimpung pada bidang profesi yang kesannya “sangat jauh” dari dunia ekonomi, katakanlah seorang dokter, programmer, atlit, desainer,Youtuber, atau aktivis lingkungan sekalipun, akan tetap butuh memahami bagaimana uang bekerja.

Jadi intinya ilmu ekonomi menurut saya sebenarnya adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam menentukan pilihan yang tujuannya untuk mencapai kesejahteraan. Wah, kesannya luas sekali ya ilmu ekonomi itu, dari mulai urusan dapur sampai urusan negara. Ya, memang ilmu ekonomi itu luas sekali, kita bisa lihat dari perspektif sempit sampai yang luas. Dari mulai perekonomian individu, keluarga, perusahaan, negara, sampai skala internasional.

Kesimpulan simpel sekali menurut saya, penting banget – setidaknya kita bejalar ilmu ekonomi, apalagi meraih sarjana ekonomi. Sekali lagi, bukan karena saya mendewakan uang atau ilmu ekonomi, tapi kita perlu kondisi finansial yang sehat untuk tetap bisa berkarya, terlepas apapun bidang yang kita tekuni. Rasanya ironis sekali, jika ada orang yang berkontribusi besar dalam karya bidang ilmunya, tapi terpaksa langkahnya terhenti hanya karena kesulitan keuangan.

Itulah tujuan saya mencari dan mengejar sarjana ekonomi yang tinggal beberapa langkah lagi. Bagaimana kita bisa berkarya yang tak terlepas dari prinsip ekonomi yang begitu luasnya.

Saran buat temen-temen lainnya, terutama yang merasa bekerja di bidang yang jauh dari urusan ekonomi, jangan malu menjadi Sarjana Ekonomi. [T]

Tags: ekonomiPendidikanperswartawan
Share85TweetSendShareSend
Previous Post

Latihan Teater yang Bisa Dilakukan di Hari Valentine

Next Post

Universitas Hindu, I Gusti Bagus Sugriwa dan Lontar

Komang Yudha

Komang Yudha

Lahir di Buleleng., bercita-cita membangun desa, eh, bukannya jadi kepala desa, malah jadi wartawan

Related Posts

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails
Next Post
Universitas Hindu, I Gusti Bagus Sugriwa dan Lontar

Universitas Hindu, I Gusti Bagus Sugriwa dan Lontar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co