24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tercatat 23 Nama Raja pada Masa Bali Kuno – Siapa Saja Mereka?

IKS Wira Darma by IKS Wira Darma
January 29, 2020
in Esai
Tercatat 23 Nama Raja pada Masa Bali Kuno – Siapa Saja Mereka?

Arca sejoli di Pura Pucak Penulisan dan Arca Wisnu di Pura Gelang Agung Desa Getasan

Nama-nama raja Bali Kuno yang dikenal sampai saat ini seperti raja Udayana, raja Jaya Pangus dan raja Astasura Ratnabumibanten bersumber dari prasasti-prasasti yang ditemukan di Bali. Suatu prasasti dapat memberikan gambaran yang lengkap dari suatu pranata sosial masyarakat atau hanya sebagian kecil, tergantung dari kelengkapannya.

Terkadang, temuan prasasti bersifat fragmentaris, sehingga informasi yang terkandung tidak banyak. Secara umum, prasasti yang lengkap memiliki unsur-unsur yang terdiri atas bagian pembukaan, bagian isi, dan bagian penutup.

Bagian pembukaan biasanya berisi (a) angka tahun dan unsur penanggalannya, (b) nama atau gelar raja yang memerintahkan pengeluaran prasasti, dan (c) nama pejabat yang menerima perintah raja.

Bagian isi biasanya berisi (a) sambandha, yaitu sebab-sebab dikeluarkannya prasasti, (b) keputusan raja yang biasanya berisi tentang keringanan dan atau pembebasan pajak, (c) hak dan kewajiban penduduk desa yang menerima anugerah keputusan tersebut, (d) aturan pembagian waris, dan (e) batas-batas desa.

Bagian penutup biasanya berisi (a) saksi-saksi yang terdiri atas pejabat tingkat pusat dan daerah, (b) para dewa yang diserukan sebagai saksi turunnya keputusan tersebut, (c) sapatha, yaitu kutukan bagi mereka yang berani melanggar ketetapan yang termuat dalam prasasti tersebut.

Prasasti-prasasti tersebut lebih banyak ditulis dalam sebuah lempengan tembaga dan juga batu dan tersebar di beberapa tempat di Bali. Prasasti ini menggunakan huruf Bali Kuno, Jawa Kuno dan Kadiri Kwadrat. Bahasanya pula berbeda-beda, seperti Bali Kuno, Jawa Kuno dan Sansekerta. Selain itu prasasti merupakan sesuatu yang sangat dikeramatkan oleh masyarakat Bali, diupacarai dan dipercaya dapat melindungi desa tempat prasasti itu berada.

Membaca prasasti memerlukan keahlian khusus mengenai pengetahuan bahasa dan huruf, serta pula wajib memilih hari baik dan juga melaksanakan upacara khusus. Untuk itu membaca secara langsung prasasti memiliki tantangan yang cukup rumit. Walaupun begitu sudah cukup banyak prasasti yang berhasil dibaca oleh para peneliti dari dulu hingga sekarang ini. Orang yang ahli dalam prasasti ini dikenal dengan nama Efigraf. Dari pembacaan prasasti itulah nama-nama raja yang pernah memerintah Bali Kuno dapat diketahui. 

Lalu sebenarnya pada masa Bali Kuno, ada berapa raja yang sempat memerintah? Dari prasasti-prasasti yang sudah ditemukan sampai saat ini, menyebutkan ada 23 nama raja yang sempat memerintah pada masa Bali Kuno. Istilah Bali Kuno digunakan oleh para peneliti untuk menyebut Bali sebelum adanya pengaruh kekuasaan Majapahit di Bali.

Prasasti pertama yang memuat nama raja adalah prasasti Blanjong (835 Ç) dengan nama Raja Sri Kesari Warmadewa yang merupakan cikal bakal dari dinasti Warmadewa di Bali. Prasasti lain yang menyebut nama raja itu, yakni Prasasti Panempahan dan Prasasti Malet Gede (835 Ç). Setelah raja Sri Kesari Warmadewa, yang memerintah Bali adalah Sang Ratu Sri Ugrasena. Raja Ugrasena mengeluarkan prasasti-prasastinya tahun 837-864 Ç (915-942 M). Sedikitnya ada sembilan buah prasasti yang dikeluarkan, dan semuanya berbahasa bahasa Bali Kuno. Prasasti-prasasti yang dimaksud adalah prasasti Srokadan (837 Ç), Babahan I (839 Ç), Sembiran AI (844 Ç), Pengotan AI (846 Ç), Batunya AI (855 Ç), Dausa, Pura Bukit Indrakila AI (857 Ç), Serai AI (858 Ç), Dausa, Pura Bukit Indrakila BI (864 Ç), Gobleg, Pura Batur A.

Pengganti Raja Ugrasena adalah Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmadewa yang memerintah bersama dengan permaisurinya yaitu Sri Subhadrika Dharmmadewi pada kurun waktu 877-889 Ç (955-977 M). Sedikitnya ada 4 prasasti yang memuat nama raja suami-istri tersebut, yakni prasasti Manik Liu AI (877 Ç), Manik Liu BI (877 Ç), Manik Liu C (877 Ç), Kintamani A (889 Ç). Pada tahun 882 Ç muncul seorang raja lain yang bernama Sang Ratu Sri Indra Jayasingha Warmmadewa. Raja ini dapat diketahui dari sebuah prasasti, yaitu prasasti Manukaya (882 Ç). Raja berikutnya bergelar Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa, satu-satunya prasasti atas nama raja tersebut adalah prasasti Sembiran AII (897 Ç).

Pengganti Raja Janasadhu Warmadewa adalah seorang raja perempuan bernama Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Satu-satunya prasasti menyebut nama raja ini adalah prasasti Gobleg, Pura Desa II (905 Ç).  Setelah masa pemerintahan Sri Wijaya Mahadewi berakhir, muncul seorang raja bernama Sri Dharmodayana Warmadewa yang memerintah bersama permaisurinya Sri Gunapriyadharmapatni. Kiprah raja suami istri itu termuat dalam beberapa prasasti, yakni Prasasti Bebetin A I (911 Ç), Serai AII (915 Ç), Buwahan A (916 Ç), Sading A (923 Ç). Dalam prasasti, nama Gunapriyadharmapatni lebih dahulu disebutkan daripada Udayana. Pada tahun 933 Ç terbit sebuah prasasti atas nama raja Udayana sendiri, tanpa permaisurinya, yakni Prasasti Batur, Pura Abang A (933 Ç). Setelah raja Udayana, muncul nama raja Ratu Sri Sang Ajna Dewi yang mengeluarkan prasasti Sembiran AIII (938 Ç). Kemudian diganti oleh pemerintahan Paduka Haji Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa yang mengeluarkan prasasti-prasasti antara lain Prasasti Batuan (944 Ç), Prasasti Sawan AI (945 Ç), Tengkulak A (945 Ç), Buwahan B (947 Ç).

Setelah pemerintahan raja Marakata, selanjutnya diganti oleh Paduka Haji Anak Wungsu yang memerintah tahun 971-999 Ç. Raja yang memerintah terlama diantara raja-raja pada jaman Bali Kuno. Ada 31 prasasti dikeluarkannya atau yang dapat diidentifikasikan sebagai prasasti-prasasti yang terbit pada masa pemerintahannya. Raja Anak Wungsu diganti oleh Sri Maharaja Sri Walaprabhu yang memerintah tahun 1001-1010 Ç,  yang mengeluarkan tiga buah prasasti yaitu Prasasti Babahan II, prasasti Ababi A, prasati Klandis. Pengganti Sri Walaprabhu adalah Paduka Sri Maharaja Sri Çlendukirana Isana Gunadharmma Lakumidhara Wijayatunggadewi. Gelar ini terbaca dalam prasasti Pengotan BI (1010 Ç) dan Pengotan BII (1023 Ç). Kemudian diganti oleh Paduka Haji Sri Maharaja Sri Suradhipa (1037-1041 Ç) dengan mengeluarkan prasasti-prasasti Gobleg, Pura Desa III (1037 Ç), Angsari B (1041 Ç), Ababi, dan Tengkulak D.

Setelah berakhir masa pemerintahan Raja Suradhipa, secara beruntuun memerintah di Bali empat orang raja yang menggunakan unsur jaya dalam gelarnya, yaitu (1) Paduka Sri Maharaja Sri Jayasakti tahun 1055-1072 Ç (1133-1150 M), (2) Paduka Sri Maharaja Sri Ragajaya tahun 1077 Ç (1155 M), (3) Paduka Sri Maharaja Sri Jayapangus  Arkajacihna tahun 1099-1103 Ç (1178-1181 M), dan (4) Paduka Sri Maharaja Haji Ekajayalancana beserta ibunya, yaitu Paduka Sri Arjaryya Dengjayaketana yang mengeluarkan prasastinya pada tahun 1122 Ç (1200 M).

Pada akhir masa Bali Kuno, masih terjadi lima kali pergantian raja. Bhatara Parameswara Sri Wirama (1126 Ç) terbaca dalam prasasti Pura Kehen C, Bhatara Parameswara Hyang ning Hyang Adidewalancana (1182 Ç) terbaca dalam prasasti Bulihan B, Bhatara Sri Mahaguru (1246-1247 Ç), mengeluarkan tiga buah prasasti, namun memuat gelarnya berbeda-beda. Dalam prasasti Srokadan (1246 Ç) disebut dengan Paduka Bhatara Guru yang memerintah bersama-sama dengan cucunya (putunira), yakni Paduka Aji Sri Tarunajaya. Dalam prasasti Cempaga C (1246 Ç) disebut dengan gelar Paduka Bhatara Sri Mahaguru dan dalam prasati Tumbu (1247 Ç) Paduka Sri Maharaja Sri Bhatara Mahaguru Dharmmotungga Warmadewa. Selanjutnya Paduka Tara SriWalajayakattaningrat (1250 Ç) terbaca dalam prasasti Selumbung, dan terakhir Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabhumibanten (1259-1265 Ç). Gelar ini terbaca dalam prasasti Langgahan yang berangka tahun 1259 Ç.

Selain nama-nama raja yang telah disebutkan di atas, dalam prasasti Pengotan E (1218 Ç) dan Sukawana D (1222 Ç) terbaca nama rajapatih bernama Kbo Parud. Apabila dilihat dari angka tahun prasasti yang dikeluarkan, maka rajapatih ini mengisi kekosongan pemerintahan setelah masa pemerintahan Raja Adidewalancana. [T]


Sumber:

  • Astra. I Gde Semadi. 1997. “Birokrasi Pemerintahan Bali Kuno Abad XII-XIII”. Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
  • Ardika, I Wayan,  I Gde Parimartha, A.A Bagus Wirawan. 2013.Sejarah Bali: Dari Prasejarah Hingga Modern. Denpasar: Udayana University Press
  • Goris, Roelof. 1954. Prasasti Bali I. Bandung: N.V. Masa Baru.
  • Goris, Roelof. 1954. Prasasti Bali II. Bandung: N.V. Masa Baru.
  • Suhadi, Machi. 1979. Himpunan Prasasti Bali Koleksi R. Goris dan Ketut Ginarsa. Jakarta
  • Tim Peneliti. 2004. Himpunan Prasasti-Prasasti Masa Pemerintahan Raja Jaya Pangus. Dinas Kebudayaan Provinsi Bali
Tags: bali kunoprasastirajasejarah
Share816TweetSendShareSend
Previous Post

Oleg Tambulilingan dari “Sleeping Beauty”, dan Perubahan-Perubahannya Kemudian

Next Post

Mengenang Kesahajaan Lagu-lagu Franky Sahilatua dan Saudarinya

IKS Wira Darma

IKS Wira Darma

Lahir di Selat Tengah, Ds Selat, Susut-Bangli 19 Juni 1995. Memiliki latar belakang pendidikan Arkeologi di Universitas Udayana, tamat tahun 2019. Saat ini mencoba menjadi penulis dan peneliti.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mengenang Kesahajaan Lagu-lagu Franky Sahilatua dan Saudarinya

Mengenang Kesahajaan Lagu-lagu Franky Sahilatua dan Saudarinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co