3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang Kesahajaan Lagu-lagu Franky Sahilatua dan Saudarinya

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
January 29, 2020
in Esai
Mengenang Kesahajaan Lagu-lagu Franky Sahilatua dan Saudarinya

Franky Sahilatua dan saudarinya

Kawan lihatlah di ujung perkampungan

Perempuan desa beriringan

Di desa yang bersemi warna warna indah

Rebah di ladang bunga


Suara Jane Sahilatua yang melengking khas mengiringi perjalanan saya pulang dari Singaraja kembali ke gunung tempat saya berdiam . Satu setengah jam tak terasa bersama alunan lagu lagu merdu dari duo kakak beradik Franky and Jane Sahilatua. Vokal mereka yang khas tak saya temui pada penyanyi lain di blantika musik tanah air .

Barangkali tak banyak yang ingat pada mereka, penyanyi lagu balada, lagu lagu desa. Mengapa saya bilang desa, karena lagu mereka banyak bercerita tentang suasana desa. Panen bunga, rumah kecil pinggir sungai, lelaki telanjang dada di tengah sawah dan banyak lagi. Mereka yang seumuran dengan saya pun rasany tak banyak yang suka lagu Franky and jane.

Tapi bukan itu satu satunya alasan saya menyukai lagu lagu mereka. Saya mendengarkan lagu mereka sejak masih kecil, usia sekolah dasar. Kakak yang sekolah di kota rajin menyetel lagu mereka di rumah saat pulang kampung. Lagu rumah kecil di pinggir sungai membuat saya berkhayal ingin punya rumah kecil diatas tebing di tepian tukad Sungi yang berada tak jauh dari rumah asal kami di Tabanan. Khayalan yang terbawa sampai sekian puluh tahun kemudian saat saya sudah berkeluarga.

Franky sahilatua berasal dari keluarga keturunan Maluku yang lahir dan dibesarkan di kota Surabaya. Banyak menghabiskan waktu remaja nya di daerah Grobogan, yang menjadi sumber inspirasi dari lagu lagu mereka yang indah (setidaknya menurut saya). Begitu banyak tema yang mereka sampaikan . Dari tema alam, cinta, kemanusiaan dan yang paling mendebarkan, lagu yang menunjukkan cinta mereka yang penuh pada tanah airnya Indonesia.

Tak banyak penyanyi lain dengan tema seperti mereka, Iwan Fals dan Leo Kristi barangkali yang cukup mewakili dalam tema dan produtivitas lagu. Gombloh dengan lagunya kebyar kebyar, seingat saya cuma lagu itu yang bertema cinta tanah air. Lagu Diatas 7000 kaki menginspirasi saya untuk mecintai pendakian gunung dan sudah saya tularkan kepada anak dan keponakan saya.

Satu kata yang paling menggambarkan keseluruhan lagu lagu mereka barangkali adalah kesederhanaan lirik liriknya. Coba kita simak syair lagu berikut:


            Lihatlah disana gadisku

            Perahu para penggali pasir

            Anak anak gembala bertopi koran

            Berjalan pulang ke rumah


Saya membayangkan Franky adalah Sapardi yang sedang mendendangkan puisi puisinya, Sapardi dengan cintanya, Franky dengan rumah kecilnya di pinggir sungai.

Saya mengatakan syair syair Franky sederhana, dan itu bisa bermukim lama di ingatan saya yang juga sederhana ini. Kalau berbicara keindahan syair dan aura puitisnya, barangkali Ebiet G ade dan Katon bagaskara lebih mewakili. Lagu Kapankah kita kan berlabuh- nya Ebiet G adae, atau Jiwa merapuh-nya Katon membuat kita merasakan keagungan dan keindahan kata kata yang tersaji di lagu itu.

Kalau disuruh memilih, saya pribadi lebih menikmati lagu  mereka dibandingkan misalnya musikalisasi puisi puisi Sapardi yang dinyanyikan oleh duet Ary Reda yang terkenal dan banyak penikmatnya juga. Karena menurut saya proses pembuatan lirik lagu yang dikombinasikan dengan musik itu lebih komplek sehingga bisa kita rasakan  keharmonisan dari syair dan musiknya dibandingkan puisi aku ingin yang di musikalisasi misalnya,  yang menurut saya terkesan dipaksakan. Itu pandangan awam saya seorang penikmat lagu sekaligus sastra yang masih amatir ini.

Sebuah tantangan, atau minimal kebesaran hati dari komunitas sastra kita di tanah air untuk memberikan apresiasi terhadap lirik lirik lagu mereka yang indah tersebut. Berkaca di dunia internasional pun, seorang Bob Dylan yang notabene musikus pernah mendapat nobel sastra dengan pertimbangan keindahan syair syair lagunya.

Tak ada salahnya kita di tanah air melakukan hal yang sama , meskipun dalam bentuk lain. Hal ini akan memicu penyanyi penyanyi lain untuk mengikuti jejak mereka. Sehingga akan tercipta lagu dengan lirik yang indah dan tak terdengar picisan seperti yang terjadi selama ini, dan diharapkan karya mereka akan bisa melintasi zaman. Dalam artian bisa dinikmati dalam rentang waktu yang panjang dan lintas generasi. Kita tak ingin yang terjadi pada Bondan Winarno terulang lagi. Dia yang merasa sudah banyak menghasilkan cerpen, dimuat di media massa terkemuka, tapi tak mendapat apresiasi yang cukup dari kalangan sastra, sehingga beliau pernah bertekad untuk tak menulis cerpen lagi.

Kembali pada pokok pembicaraan yang ingin saya ungkapkan disini, kesederhanaan, kehidupan bersahaja. Sebuah anti dote untuk zaman yang kian bergegas dan materialistik seperti saat ini. Seorang ikon seperti Gandi pun rasanya tak punya banyak pengikut andai dia dilahirkan di zaman ini. Tapi bagi saya pribadi lagu lagu Franky seakan sudah mengurat di nadi saya. Dalam bentuk sederhana , saat minum kopi di pagi hari saya akan memilih pisang goreng, walaupun punya uang cukup untuk beli Dunkin donut misalnya. Dan nanti andai uang saya lebih dari cukup, saya tak akan berpikir dua kali untuk melancong ke Yogyakarta bersama keluarga dibandingkan tawaran ke negeri Singa yang katanya sangat nyaman dan modern itu.

Tapi tantangan terbesar kita sebenarnya adalah menularkan sikap bersahaja itu kepada anak cucu penerus kita nanti. Saat perjalanan saya menyetel lagu lagu franky and jane, semua  anak saya termasuk ibunya pasti meneriaki saya dan saya pasti kalah votting untuk pilihan lagu. Pada kesempatan lain saat anak anak disiapkan sarapan pagi dengan menu tradisional seperti pisang goreng, lempog  atau yang sejenisnya. Mereka akan selalu bertanya dengan nada tak sabar, rotinya mana ? Melihat kenyataan ini saya hanya bisa mengurut dada.

 Untuk sedikit melipur lara, saya akan mengenang rayuan saya pada mantan pacar yang sudah jadi pendamping hidup sekarang. Bukankah hidup ini sederhana sayang ? Seperti cintaku padamu. [T]

Tags: Franky Sahilatualagulagu lamamusik
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Tercatat 23 Nama Raja pada Masa Bali Kuno – Siapa Saja Mereka?

Next Post

Tentang Perasaan-Perasaan yang Menghantui Penulis Teater yang Naskahnya Dipentaskan Pertama Kali

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Festival Penonton, Penonton Festival

Tentang Perasaan-Perasaan yang Menghantui Penulis Teater yang Naskahnya Dipentaskan Pertama Kali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co