24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang Kesahajaan Lagu-lagu Franky Sahilatua dan Saudarinya

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
January 29, 2020
in Esai
Mengenang Kesahajaan Lagu-lagu Franky Sahilatua dan Saudarinya

Franky Sahilatua dan saudarinya

Kawan lihatlah di ujung perkampungan

Perempuan desa beriringan

Di desa yang bersemi warna warna indah

Rebah di ladang bunga


Suara Jane Sahilatua yang melengking khas mengiringi perjalanan saya pulang dari Singaraja kembali ke gunung tempat saya berdiam . Satu setengah jam tak terasa bersama alunan lagu lagu merdu dari duo kakak beradik Franky and Jane Sahilatua. Vokal mereka yang khas tak saya temui pada penyanyi lain di blantika musik tanah air .

Barangkali tak banyak yang ingat pada mereka, penyanyi lagu balada, lagu lagu desa. Mengapa saya bilang desa, karena lagu mereka banyak bercerita tentang suasana desa. Panen bunga, rumah kecil pinggir sungai, lelaki telanjang dada di tengah sawah dan banyak lagi. Mereka yang seumuran dengan saya pun rasany tak banyak yang suka lagu Franky and jane.

Tapi bukan itu satu satunya alasan saya menyukai lagu lagu mereka. Saya mendengarkan lagu mereka sejak masih kecil, usia sekolah dasar. Kakak yang sekolah di kota rajin menyetel lagu mereka di rumah saat pulang kampung. Lagu rumah kecil di pinggir sungai membuat saya berkhayal ingin punya rumah kecil diatas tebing di tepian tukad Sungi yang berada tak jauh dari rumah asal kami di Tabanan. Khayalan yang terbawa sampai sekian puluh tahun kemudian saat saya sudah berkeluarga.

Franky sahilatua berasal dari keluarga keturunan Maluku yang lahir dan dibesarkan di kota Surabaya. Banyak menghabiskan waktu remaja nya di daerah Grobogan, yang menjadi sumber inspirasi dari lagu lagu mereka yang indah (setidaknya menurut saya). Begitu banyak tema yang mereka sampaikan . Dari tema alam, cinta, kemanusiaan dan yang paling mendebarkan, lagu yang menunjukkan cinta mereka yang penuh pada tanah airnya Indonesia.

Tak banyak penyanyi lain dengan tema seperti mereka, Iwan Fals dan Leo Kristi barangkali yang cukup mewakili dalam tema dan produtivitas lagu. Gombloh dengan lagunya kebyar kebyar, seingat saya cuma lagu itu yang bertema cinta tanah air. Lagu Diatas 7000 kaki menginspirasi saya untuk mecintai pendakian gunung dan sudah saya tularkan kepada anak dan keponakan saya.

Satu kata yang paling menggambarkan keseluruhan lagu lagu mereka barangkali adalah kesederhanaan lirik liriknya. Coba kita simak syair lagu berikut:


            Lihatlah disana gadisku

            Perahu para penggali pasir

            Anak anak gembala bertopi koran

            Berjalan pulang ke rumah


Saya membayangkan Franky adalah Sapardi yang sedang mendendangkan puisi puisinya, Sapardi dengan cintanya, Franky dengan rumah kecilnya di pinggir sungai.

Saya mengatakan syair syair Franky sederhana, dan itu bisa bermukim lama di ingatan saya yang juga sederhana ini. Kalau berbicara keindahan syair dan aura puitisnya, barangkali Ebiet G ade dan Katon bagaskara lebih mewakili. Lagu Kapankah kita kan berlabuh- nya Ebiet G adae, atau Jiwa merapuh-nya Katon membuat kita merasakan keagungan dan keindahan kata kata yang tersaji di lagu itu.

Kalau disuruh memilih, saya pribadi lebih menikmati lagu  mereka dibandingkan misalnya musikalisasi puisi puisi Sapardi yang dinyanyikan oleh duet Ary Reda yang terkenal dan banyak penikmatnya juga. Karena menurut saya proses pembuatan lirik lagu yang dikombinasikan dengan musik itu lebih komplek sehingga bisa kita rasakan  keharmonisan dari syair dan musiknya dibandingkan puisi aku ingin yang di musikalisasi misalnya,  yang menurut saya terkesan dipaksakan. Itu pandangan awam saya seorang penikmat lagu sekaligus sastra yang masih amatir ini.

Sebuah tantangan, atau minimal kebesaran hati dari komunitas sastra kita di tanah air untuk memberikan apresiasi terhadap lirik lirik lagu mereka yang indah tersebut. Berkaca di dunia internasional pun, seorang Bob Dylan yang notabene musikus pernah mendapat nobel sastra dengan pertimbangan keindahan syair syair lagunya.

Tak ada salahnya kita di tanah air melakukan hal yang sama , meskipun dalam bentuk lain. Hal ini akan memicu penyanyi penyanyi lain untuk mengikuti jejak mereka. Sehingga akan tercipta lagu dengan lirik yang indah dan tak terdengar picisan seperti yang terjadi selama ini, dan diharapkan karya mereka akan bisa melintasi zaman. Dalam artian bisa dinikmati dalam rentang waktu yang panjang dan lintas generasi. Kita tak ingin yang terjadi pada Bondan Winarno terulang lagi. Dia yang merasa sudah banyak menghasilkan cerpen, dimuat di media massa terkemuka, tapi tak mendapat apresiasi yang cukup dari kalangan sastra, sehingga beliau pernah bertekad untuk tak menulis cerpen lagi.

Kembali pada pokok pembicaraan yang ingin saya ungkapkan disini, kesederhanaan, kehidupan bersahaja. Sebuah anti dote untuk zaman yang kian bergegas dan materialistik seperti saat ini. Seorang ikon seperti Gandi pun rasanya tak punya banyak pengikut andai dia dilahirkan di zaman ini. Tapi bagi saya pribadi lagu lagu Franky seakan sudah mengurat di nadi saya. Dalam bentuk sederhana , saat minum kopi di pagi hari saya akan memilih pisang goreng, walaupun punya uang cukup untuk beli Dunkin donut misalnya. Dan nanti andai uang saya lebih dari cukup, saya tak akan berpikir dua kali untuk melancong ke Yogyakarta bersama keluarga dibandingkan tawaran ke negeri Singa yang katanya sangat nyaman dan modern itu.

Tapi tantangan terbesar kita sebenarnya adalah menularkan sikap bersahaja itu kepada anak cucu penerus kita nanti. Saat perjalanan saya menyetel lagu lagu franky and jane, semua  anak saya termasuk ibunya pasti meneriaki saya dan saya pasti kalah votting untuk pilihan lagu. Pada kesempatan lain saat anak anak disiapkan sarapan pagi dengan menu tradisional seperti pisang goreng, lempog  atau yang sejenisnya. Mereka akan selalu bertanya dengan nada tak sabar, rotinya mana ? Melihat kenyataan ini saya hanya bisa mengurut dada.

 Untuk sedikit melipur lara, saya akan mengenang rayuan saya pada mantan pacar yang sudah jadi pendamping hidup sekarang. Bukankah hidup ini sederhana sayang ? Seperti cintaku padamu. [T]

Tags: Franky Sahilatualagulagu lamamusik
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Tercatat 23 Nama Raja pada Masa Bali Kuno – Siapa Saja Mereka?

Next Post

Tentang Perasaan-Perasaan yang Menghantui Penulis Teater yang Naskahnya Dipentaskan Pertama Kali

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Festival Penonton, Penonton Festival

Tentang Perasaan-Perasaan yang Menghantui Penulis Teater yang Naskahnya Dipentaskan Pertama Kali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co