3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Perasaan-Perasaan yang Menghantui Penulis Teater yang Naskahnya Dipentaskan Pertama Kali

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
January 29, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Katakanlah buah hati orang tua adalah anak-anaknya, maka naskah teater adalah buah karya penulis teater itu sendiri. Melihat orang tua yang menjaga dan merawat anaknya penuh kasih, sampai memantau buah hatinya saat berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah, sebenarnya mirip dengan perasaan seorang penulis naskah teater merelakan buah karyanya untuk dimainkan khalayak publik. Jika buah hati adalah anak biologis, buah karya adalah anak rohani. Keduanya punya persamaan yang utama, yakni sama-sama berperan sebagai anak.

Penulis naskah dalam hal ini mungkin salah satu yang paling beruntung karena diberi kesempatan ganda menjadi orang tua, yakni orang tua biologis sekaligus orang tua rohani. Layaknya orang tua yang punya penyikapan dan perlakuan beragam terhadap anak biologisnya, beragam pula penyikapan dan perlakuan penulis naskah kepada anak rohaninya. Ada penulis naskah yang pasrah, diapakan saja anaknya, ya boleh-boleh saja. Adapula penulis yang begitu protektif terhadap naskah, semisal adegan dalam naskah tak boleh dipotong, setiap kata adalah darah, hati-hati pada makna dan pemenggalan, perhatikan struktur dramatik teks dan berjibun tata tertib lain yang mesti ditaati. Saking protektif dan menggebunya, kadang omongan penulis jenis ini justru jauh lebih banyak dibanding dengan naskahnya sendiri yang ternyata cuma seiprit.

Perihal kuantitas, ada penulis yang terus melahirkan anak, brojol hampir setiap hari. Di sisi lain, ada juga yang seperti program KB, cukup punya satu sampai dua anak seumur hidup. Bahkan tak sedikit yang mandul, uniknya tetap menganggap diri sebagai orang tua. Ya.. Minimal orang tua bagi anak segala bangsalah.. Yang paling miris mungkin adalah orang tua yang tak jelas siapa dan dimana anaknya, tapi suka sekali menggurui para calon orang tua tentang cara-cara membuat anak yang baik dan benar. Dari sekian ragam orang tua ini, termasuk orang tua manakah saya kemudian?

Pertanyaan ini kontan saja muncul ketika menyaksikan kawan-kawan Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha memainkan naskah saya dalam acara Parade Teater Canasta November lalu. “Dongeng-dongeng yang Tersesat di Sekitar kita”, merupakan anak rohani yang pertama kali saya tawarkan untuk dipentaskan oleh orang lain. Waktu itu, kawan-kawan Teater Kampus Seribu Jendela, sempat menanyakan naskah apa yang sekiranya cocok mencerminkan ‘Mitos’ sebagai tema dalam parade. Kontan saja saya jawab, ‘bagaimana kalau pakai naskahku saja?’

Naskah yang saya tulis pada tahun 2016 ini memang sudah sejak lama teronggok dalam laptop. Tak pernah sekalipun ada niat mementaskannya. Saya merasa naskah ini belum jadi seutuhnya, ingin sekali memperbaiki, tapi apa yang mesti diubah? Ada semacam kemumetan, harus diapakan lagi agar naskah bisa rampung. Paling tidak, rampung menurut penilaian saya sendiri. Berulang kali dibaca, berulang kali hasilnya sama. Meminta orang lain buat membaca sudah tak mungkin. Lagipula, siapa yang mau membaca naskah teater yang tebalnya minta ampun dan membosankan bukan main?

Namun sebagai orang tua, betapa berdosanya saya jika terus membiarkan anak terkungkung dalam laptop. Sebab fitrah naskah teater sejatinya memang untuk dipanggungkan. Persoalannya, saya pribadi masih belum percaya diri untuk mementaskannya sendiri. Mau menawari naskah pada kawan untuk dimainkan, takut dikira pamer. Kalau menunggu diminta orang, sudah jelas pasti tak ada. Apa untungnya mementaskan naskah saya yang notabene masih amatiran ini? Lebih baik mementaskan naskah sendiri. Jelek bagusnya, toh juga karya sendiri. Atau memainkan naskah dari dramawan yang sudah mumpuni. Itu jauh lebih menjanjikan. Paling tidak naskah-naskah karya dramawan ini sudah teruji secara struktur, gagasan, dan bentuk cerita. Sudah matang sebagai naskah, sudah layak untuk dipentaskan.

Maka setelah menimbang dan berpikir untung rugi, jadilah saya memberanikan diri menawari kawan-kawan untuk mementaskan naskah saya. Adalah Dian Ayu Lestari sebagai sutradara, seorang mahasiswi Prodi Manajemen Undiksha semester III. Pada deretan aktor ada Desia, Lala, Yuni Febri, Listya, Irhas, Kurnia, Yoga, Oga, Haruto, dan Indra. Sementara artistik dan musik ditata oleh Wahyu, Dede, dan Jagad. Dalam proses yang hampir dua bulan itu, mereka sempat menanyakan bagaimana harus membedah naskah ini? Apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada naskah?

Saya jawab, “terserah kalian bagaimana membedah dan mementaskannya. Naskah boleh diobrak-abrik, dipreteli, diapakan saja, bebas! Yang penting pentasnya bagus!”

Mereka cuma membalas, “Hehehehe.. Kami usahakan, Kak.”

Tak sabar rasanya ingin melihat seperti apa naskah saya diwujudkan. Perspektif seperti apa yang ditawarkan? Adakah yang akan berubah? Saya jadi berdebar-debar dibuatnya. Setelahnya, setiap ada waktu saya sempatkan diri untuk bertanya, “bagaimana perkembangan pentasnya? Uda bagus pentasnya?” Dan selama itu  pula hanya dijawab dengan “hehehehe…”

“Pah! Betapa tak meyakinkannya mereka”, pikir saya.

Sebagai penulis naskah, tak bisa dipungkiri, kita punya harapan besar terhadap pentas. Ada rasa geregetan apabila pentas nantinya tak sesuai dengan imajinasi dan keinginan estetik kita sebagai penulis. Di puncak penasaran dan geretan saya pada naskah inilah, siang hari sebelum pentas, cepat-cepat saya ke Canasta agar dapat melihat mereka gladi. Di tengah semangat yang menggebu untuk menyaksikan mereka, sialnya latihan justru cuma bolak-balik pada satu adegan saja. Itupun hanya adegan bernyanyi yang diulang-ulang karena sang vokalis sumbang menyanyikannya. Waduh, saya jadi berpikir, jangan-jangan mereka salah menginterpretasi naskah saya?

Ingin sekali rasanya meminta mereka mengulang adegan dari awal sampai akhir agar saya sendiri dapat menyaksikan hasilnya. Ingin sekali rasanya menambahkan properti pentas di atas panggung yang bagi saya belum cukup maksimal dieksplorasi, ingin sekali rasanya mengoreksi akting para pemainnya, ingin sekali rasanya menyampaikan keinginan estetik yang saya harapkan dalam naskah, menceritakan latar belakang di balik naskah itu dibuat, dan realisasinya di atas panggung. Keinginan-keinginan ini kemudian lagi-lagi dibenturkan pada pertanyaan, “kalau mesti menuruti keinginanmu, kenapa bukan kamu saja yang menyutradarai pentas? Kenapa bukan kamu saja yang jadi aktor? Kenapa bukan kamu saja yang mengisi semua lini dalam pertunjukan?”

Sebab setiap orang punya caranya sendiri mengeksekusi dan mengeksplorasi suatu naskah. Saat naskah dilepaskan ke ruang publik, saat itulah penulis dikatakan mati. Perannya sebagai penulis seketika berganti menjadi pembaca. Ia tak ada bedanya dengan pembaca lain yang menikmati karyanya. Pun demikian dengan interpretasi penulis sendiri terhadap karyanya, sama saja kedudukannya dengan interpretasi para pembaca lainnya. Ia sudah tak punya kontrol yang cukup buat memantau ke mana arah karyanya terbawa, apalagi mengikat interpretasi orang-orang dalam membaca karyanya. Kualitasnya persis dengan keikhlasan dan kepercayaan orang tua melepas anaknya ke jalanan. Bertemu dengan berbagai macam orang yang mempunyai latar belakang, kelas, sosial, kultur bahkan sejarah berpikir yang berbeda.

Demikian pula pertemuan naskah saya dengan kawan-kawan Teater Kampus Seribu Jendela. Saya tak lagi punya hak dan kewajiban mengatur naskah. Saya adalah penonton, yang fungsi, kedudukan, dan nilainya sama seperti penonton yang dudk di sebelah saya. Di halaman Canasta, pada permainan panggung khusuk dan sederhana, kawan-kawan yang semula saya sangsingkan ternyata cukup berhasil memikat penonton. Beberapa penonton memuji bagaimana mereka memanggungkan naskah. Berbekal evaluasi terhadap naskah di sana-sini, saya jadi bersemangat. Keinginan menulis dan menyempurnakan naskah kian menggebu-gebu. Di akhir diskusi, salah satu audiens bertanya, siapa yang membuat naskah ini? Kawan-kawanpun menjawab bahwa itu adalah naskah karya saya, sayangnya di poster pentas mereka lupa mencantumkan. Perasaan ini saudara-saudara, tahukah bagaimana rasanya? Rasanya sama seperti seorang ayah yang anaknya berhasil jadi juara kelas. Lalu orang-orang menoleh kepada saya. “Ooo.. jadi itu anakmu ya, Sum?” [T]

Denpasar, 2020

Tags: kritikkritik teaternaskah teaterTeater
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Mengenang Kesahajaan Lagu-lagu Franky Sahilatua dan Saudarinya

Next Post

Tokoh Tersebut Menjelma Sebagai Bangunan-Bangunan – Catatan Aktor dalam Film “MITRA”

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Tokoh Tersebut Menjelma Sebagai Bangunan-Bangunan – Catatan Aktor dalam Film “MITRA”

Tokoh Tersebut Menjelma Sebagai Bangunan-Bangunan - Catatan Aktor dalam Film “MITRA”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co