3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Perasaan-Perasaan yang Menghantui Penulis Teater yang Naskahnya Dipentaskan Pertama Kali

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
January 29, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Katakanlah buah hati orang tua adalah anak-anaknya, maka naskah teater adalah buah karya penulis teater itu sendiri. Melihat orang tua yang menjaga dan merawat anaknya penuh kasih, sampai memantau buah hatinya saat berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah, sebenarnya mirip dengan perasaan seorang penulis naskah teater merelakan buah karyanya untuk dimainkan khalayak publik. Jika buah hati adalah anak biologis, buah karya adalah anak rohani. Keduanya punya persamaan yang utama, yakni sama-sama berperan sebagai anak.

Penulis naskah dalam hal ini mungkin salah satu yang paling beruntung karena diberi kesempatan ganda menjadi orang tua, yakni orang tua biologis sekaligus orang tua rohani. Layaknya orang tua yang punya penyikapan dan perlakuan beragam terhadap anak biologisnya, beragam pula penyikapan dan perlakuan penulis naskah kepada anak rohaninya. Ada penulis naskah yang pasrah, diapakan saja anaknya, ya boleh-boleh saja. Adapula penulis yang begitu protektif terhadap naskah, semisal adegan dalam naskah tak boleh dipotong, setiap kata adalah darah, hati-hati pada makna dan pemenggalan, perhatikan struktur dramatik teks dan berjibun tata tertib lain yang mesti ditaati. Saking protektif dan menggebunya, kadang omongan penulis jenis ini justru jauh lebih banyak dibanding dengan naskahnya sendiri yang ternyata cuma seiprit.

Perihal kuantitas, ada penulis yang terus melahirkan anak, brojol hampir setiap hari. Di sisi lain, ada juga yang seperti program KB, cukup punya satu sampai dua anak seumur hidup. Bahkan tak sedikit yang mandul, uniknya tetap menganggap diri sebagai orang tua. Ya.. Minimal orang tua bagi anak segala bangsalah.. Yang paling miris mungkin adalah orang tua yang tak jelas siapa dan dimana anaknya, tapi suka sekali menggurui para calon orang tua tentang cara-cara membuat anak yang baik dan benar. Dari sekian ragam orang tua ini, termasuk orang tua manakah saya kemudian?

Pertanyaan ini kontan saja muncul ketika menyaksikan kawan-kawan Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha memainkan naskah saya dalam acara Parade Teater Canasta November lalu. “Dongeng-dongeng yang Tersesat di Sekitar kita”, merupakan anak rohani yang pertama kali saya tawarkan untuk dipentaskan oleh orang lain. Waktu itu, kawan-kawan Teater Kampus Seribu Jendela, sempat menanyakan naskah apa yang sekiranya cocok mencerminkan ‘Mitos’ sebagai tema dalam parade. Kontan saja saya jawab, ‘bagaimana kalau pakai naskahku saja?’

Naskah yang saya tulis pada tahun 2016 ini memang sudah sejak lama teronggok dalam laptop. Tak pernah sekalipun ada niat mementaskannya. Saya merasa naskah ini belum jadi seutuhnya, ingin sekali memperbaiki, tapi apa yang mesti diubah? Ada semacam kemumetan, harus diapakan lagi agar naskah bisa rampung. Paling tidak, rampung menurut penilaian saya sendiri. Berulang kali dibaca, berulang kali hasilnya sama. Meminta orang lain buat membaca sudah tak mungkin. Lagipula, siapa yang mau membaca naskah teater yang tebalnya minta ampun dan membosankan bukan main?

Namun sebagai orang tua, betapa berdosanya saya jika terus membiarkan anak terkungkung dalam laptop. Sebab fitrah naskah teater sejatinya memang untuk dipanggungkan. Persoalannya, saya pribadi masih belum percaya diri untuk mementaskannya sendiri. Mau menawari naskah pada kawan untuk dimainkan, takut dikira pamer. Kalau menunggu diminta orang, sudah jelas pasti tak ada. Apa untungnya mementaskan naskah saya yang notabene masih amatiran ini? Lebih baik mementaskan naskah sendiri. Jelek bagusnya, toh juga karya sendiri. Atau memainkan naskah dari dramawan yang sudah mumpuni. Itu jauh lebih menjanjikan. Paling tidak naskah-naskah karya dramawan ini sudah teruji secara struktur, gagasan, dan bentuk cerita. Sudah matang sebagai naskah, sudah layak untuk dipentaskan.

Maka setelah menimbang dan berpikir untung rugi, jadilah saya memberanikan diri menawari kawan-kawan untuk mementaskan naskah saya. Adalah Dian Ayu Lestari sebagai sutradara, seorang mahasiswi Prodi Manajemen Undiksha semester III. Pada deretan aktor ada Desia, Lala, Yuni Febri, Listya, Irhas, Kurnia, Yoga, Oga, Haruto, dan Indra. Sementara artistik dan musik ditata oleh Wahyu, Dede, dan Jagad. Dalam proses yang hampir dua bulan itu, mereka sempat menanyakan bagaimana harus membedah naskah ini? Apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada naskah?

Saya jawab, “terserah kalian bagaimana membedah dan mementaskannya. Naskah boleh diobrak-abrik, dipreteli, diapakan saja, bebas! Yang penting pentasnya bagus!”

Mereka cuma membalas, “Hehehehe.. Kami usahakan, Kak.”

Tak sabar rasanya ingin melihat seperti apa naskah saya diwujudkan. Perspektif seperti apa yang ditawarkan? Adakah yang akan berubah? Saya jadi berdebar-debar dibuatnya. Setelahnya, setiap ada waktu saya sempatkan diri untuk bertanya, “bagaimana perkembangan pentasnya? Uda bagus pentasnya?” Dan selama itu  pula hanya dijawab dengan “hehehehe…”

“Pah! Betapa tak meyakinkannya mereka”, pikir saya.

Sebagai penulis naskah, tak bisa dipungkiri, kita punya harapan besar terhadap pentas. Ada rasa geregetan apabila pentas nantinya tak sesuai dengan imajinasi dan keinginan estetik kita sebagai penulis. Di puncak penasaran dan geretan saya pada naskah inilah, siang hari sebelum pentas, cepat-cepat saya ke Canasta agar dapat melihat mereka gladi. Di tengah semangat yang menggebu untuk menyaksikan mereka, sialnya latihan justru cuma bolak-balik pada satu adegan saja. Itupun hanya adegan bernyanyi yang diulang-ulang karena sang vokalis sumbang menyanyikannya. Waduh, saya jadi berpikir, jangan-jangan mereka salah menginterpretasi naskah saya?

Ingin sekali rasanya meminta mereka mengulang adegan dari awal sampai akhir agar saya sendiri dapat menyaksikan hasilnya. Ingin sekali rasanya menambahkan properti pentas di atas panggung yang bagi saya belum cukup maksimal dieksplorasi, ingin sekali rasanya mengoreksi akting para pemainnya, ingin sekali rasanya menyampaikan keinginan estetik yang saya harapkan dalam naskah, menceritakan latar belakang di balik naskah itu dibuat, dan realisasinya di atas panggung. Keinginan-keinginan ini kemudian lagi-lagi dibenturkan pada pertanyaan, “kalau mesti menuruti keinginanmu, kenapa bukan kamu saja yang menyutradarai pentas? Kenapa bukan kamu saja yang jadi aktor? Kenapa bukan kamu saja yang mengisi semua lini dalam pertunjukan?”

Sebab setiap orang punya caranya sendiri mengeksekusi dan mengeksplorasi suatu naskah. Saat naskah dilepaskan ke ruang publik, saat itulah penulis dikatakan mati. Perannya sebagai penulis seketika berganti menjadi pembaca. Ia tak ada bedanya dengan pembaca lain yang menikmati karyanya. Pun demikian dengan interpretasi penulis sendiri terhadap karyanya, sama saja kedudukannya dengan interpretasi para pembaca lainnya. Ia sudah tak punya kontrol yang cukup buat memantau ke mana arah karyanya terbawa, apalagi mengikat interpretasi orang-orang dalam membaca karyanya. Kualitasnya persis dengan keikhlasan dan kepercayaan orang tua melepas anaknya ke jalanan. Bertemu dengan berbagai macam orang yang mempunyai latar belakang, kelas, sosial, kultur bahkan sejarah berpikir yang berbeda.

Demikian pula pertemuan naskah saya dengan kawan-kawan Teater Kampus Seribu Jendela. Saya tak lagi punya hak dan kewajiban mengatur naskah. Saya adalah penonton, yang fungsi, kedudukan, dan nilainya sama seperti penonton yang dudk di sebelah saya. Di halaman Canasta, pada permainan panggung khusuk dan sederhana, kawan-kawan yang semula saya sangsingkan ternyata cukup berhasil memikat penonton. Beberapa penonton memuji bagaimana mereka memanggungkan naskah. Berbekal evaluasi terhadap naskah di sana-sini, saya jadi bersemangat. Keinginan menulis dan menyempurnakan naskah kian menggebu-gebu. Di akhir diskusi, salah satu audiens bertanya, siapa yang membuat naskah ini? Kawan-kawanpun menjawab bahwa itu adalah naskah karya saya, sayangnya di poster pentas mereka lupa mencantumkan. Perasaan ini saudara-saudara, tahukah bagaimana rasanya? Rasanya sama seperti seorang ayah yang anaknya berhasil jadi juara kelas. Lalu orang-orang menoleh kepada saya. “Ooo.. jadi itu anakmu ya, Sum?” [T]

Denpasar, 2020

Tags: kritikkritik teaternaskah teaterTeater
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Mengenang Kesahajaan Lagu-lagu Franky Sahilatua dan Saudarinya

Next Post

Tokoh Tersebut Menjelma Sebagai Bangunan-Bangunan – Catatan Aktor dalam Film “MITRA”

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Tokoh Tersebut Menjelma Sebagai Bangunan-Bangunan – Catatan Aktor dalam Film “MITRA”

Tokoh Tersebut Menjelma Sebagai Bangunan-Bangunan - Catatan Aktor dalam Film “MITRA”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co