14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Asep Syahmid Pangrango # Upacara Air Mata, Prosa Altar Suci

Asep Syahmid Pangrango by Asep Syahmid Pangrango
January 18, 2020
in Puisi
Puisi-puisi Asep Syahmid Pangrango # Upacara Air Mata, Prosa Altar Suci

Wayan Redika. Inisiasi Sukma5, 150x150


PROSA  ALTAR SUCI


Dari balik jendela waktu

Terlihat bunga-bunga indah

Menghiasi sebuah pelaminan

Harum wangi parfum

Menapaki jejak jejak  upacara suci   


Rona mata

Sang Petualang ilmu

membias rasa bahagia

Kebahagian  paripurna orang tua

Melepas lajang sang anak


Upacara ini,

Bukan hanya sebuah harum bunga dan parade janur

Saat dua rasa cinta

Memasuki altar suci

Pernikahan

Dua jiwa

membawa  akar akar perjanjian 


Dari

balik jendela waktu

Sang Petualang Ilmu

menikmati tetes air matanya

merembas ke palung jiwa

menatap sang anak

Menaiki  jukung waktu

Berlayar ke samudera  harapan  

Melirihkan kidung kidung percintaan 

Yang tak pernah mengenal warna  


Inilah  sebuah kitab  cinta  

Dari Altar Suci

Mengikat

Sebuah prasasti  kesetiaan  yang kudus    


Tegar Beriman Cibinong, 15 Desember 2019 .


MERENUNG DI KAMPUNG PEMULUNG   (1)


Menatap wajah wajah lusuh

para pemintal  harapan

mereka tercabik

dari pergulatan hidup

yang mulai kehilangan

norma persaudaraan


 Wajah wajah lusuh

tergolek dalam kekardusan waktu

berharap mimpi keluar dari kutukan 

mereka terus

menyongsong cahaya masuk

dalam rongga zaman

yang kian memunculkan

rasa yang tak adil


katanya

negeri ini kaya akan rempah

tapi masih

ada yang makan nasi bekas


 katanya

negeri ini makmur

tapi masih

ada jiwa berumah di kardus


luka mereka

tawa para penguasa


luka mereka

tangis  ketidakberdayaan

dalam

mengarungi hidup

yang tak lagi punya warna


gelap yang mereka dapatkan

jadi potret air mata

dari  luka  para  jelata.   


 Bogor  (2019 )


MERENUNG DI KAMPUNG PEMULUNG (2)


Seorang ibu

menggendong anak balitanya

satu tangannya

menenteng tumpukan kardus

telah disusunya  dari siang hari

peluhnya jadi aroma anggur

dari sepotong hari

yang melukiskan kekuatan batu

dari kumpulan doa doa nya   


baginya

matahari  mungkin tak ramah

baginya

gerimis jadi perahu ibadah

bagi seorang ibu

yang setia

menterjemahkan nasibnya


seorang ibu

senantiasa bergumpul  dengan sampah

yang tidak dirindukan jadi sumpah

inilah fragmen

yang tak pernah ada endingnya


inilah fragmen

kekuatan  lenguh ibu

dalam memintal

cahaya terang

bagi esok dan lusa

dari sisa nafasnya

yang jadi sajadah perjuangan.


Bogor  (2019 )


 UPACARA AIR MATA


Mendung menghuyung di langit agung

air mengamuk menjalar ke tembok tembok rumah

membongkar tiang tiang listrik 

dan merabut cengkraman akar  dari batangnya

bongkahan tanah  membentang  amarah


Siapa yang berada dibalik gelendong awan

mengarak tarian hujan yang tumpah

mengirimkan luka dan air mata


Engkau yang maha kuasa

telah mengajarkan kami

soal etika

menjaga irama harmoni alam


kegelapan ini

bukan semata mata hanya sebuah peringatan

dari Mu yang maha kuasa


kegelapan ini

apakah ini azab dari  kealpaan  kita

yang tak ramah pada harmoni alam


Januari di awal bulan 2020

Kau kirimkan sejuta luka

Kau tuangkan air mata

dalam pesta yang baru saja usai


ribuan jiwa teronggok luka

ribuan nafas mengeja

hari  dengan puja dan doa

memintal kasih dari yang kuasa

meminta matahari kembali menyapa

hari hari yang gelap

hari hari yang didekap kabut duka .


Bogor, 1 Januari 2020  




PROSA  ALTAR SUCI


Dari balik jendela waktu

Terlihat bunga-bunga indah

Menghiasi sebuah pelaminan

Harum wangi parfum

Menapaki jejak jejak  upacara suci   


Rona mata

Sang Petualang ilmu

membias rasa bahagia

Kebahagian  paripurna orang tua

Melepas lajang sang anak


Upacara ini,

Bukan hanya sebuah harum bunga dan parade janur

Saat dua rasa cinta

Memasuki altar suci

Pernikahan

Dua jiwa

membawa  akar akar perjanjian 


Dari

balik jendela waktu

Sang Petualang Ilmu

menikmati tetes air matanya

merembas ke palung jiwa

menatap sang anak

Menaiki  jukung waktu

Berlayar ke samudera  harapan  

Melirihkan kidung kidung percintaan 

Yang tak pernah mengenal warna  


Inilah  sebuah kitab  cinta  

Dari Altar Suci

Mengikat

Sebuah prasasti  kesetiaan  yang kudus    


Tegar Beriman Cibinong, 15 Desember 2019 .


MERENUNG DI KAMPUNG PEMULUNG   (1)


Menatap wajah wajah lusuh

para pemintal  harapan

mereka tercabik

dari pergulatan hidup

yang mulai kehilangan

norma persaudaraan


 Wajah wajah lusuh

tergolek dalam kekardusan waktu

berharap mimpi keluar dari kutukan 

mereka terus

menyongsong cahaya masuk

dalam rongga zaman

yang kian memunculkan

rasa yang tak adil


katanya

negeri ini kaya akan rempah

tapi masih

ada yang makan nasi bekas


 katanya

negeri ini makmur

tapi masih

ada jiwa berumah di kardus


luka mereka

tawa para penguasa


luka mereka

tangis  ketidakberdayaan

dalam

mengarungi hidup

yang tak lagi punya warna


gelap yang mereka dapatkan

jadi potret air mata

dari  luka  para  jelata.   


 Bogor  (2019 )


MERENUNG DI KAMPUNG PEMULUNG (2)


Seorang ibu

menggendong anak balitanya

satu tangannya

menenteng tumpukan kardus

telah disusunya  dari siang hari

peluhnya jadi aroma anggur

dari sepotong hari

yang melukiskan kekuatan batu

dari kumpulan doa doa nya   


baginya

matahari  mungkin tak ramah

baginya

gerimis jadi perahu ibadah

bagi seorang ibu

yang setia

menterjemahkan nasibnya


seorang ibu

senantiasa bergumpul  dengan sampah

yang tidak dirindukan jadi sumpah

inilah fragmen

yang tak pernah ada endingnya


inilah fragmen

kekuatan  lenguh ibu

dalam memintal

cahaya terang

bagi esok dan lusa

dari sisa nafasnya

yang jadi sajadah perjuangan.


Bogor  (2019 )


 UPACARA AIR MATA


Mendung menghuyung di langit agung

air mengamuk menjalar ke tembok tembok rumah

membongkar tiang tiang listrik 

dan merabut cengkraman akar  dari batangnya

bongkahan tanah  membentang  amarah


Siapa yang berada dibalik gelendong awan

mengarak tarian hujan yang tumpah

mengirimkan luka dan air mata


Engkau yang maha kuasa

telah mengajarkan kami

soal etika

menjaga irama harmoni alam


kegelapan ini

bukan semata mata hanya sebuah peringatan

dari Mu yang maha kuasa


kegelapan ini

apakah ini azab dari  kealpaan  kita

yang tak ramah pada harmoni alam


Januari di awal bulan 2020

Kau kirimkan sejuta luka

Kau tuangkan air mata

dalam pesta yang baru saja usai


ribuan jiwa teronggok luka

ribuan nafas mengeja

hari  dengan puja dan doa

memintal kasih dari yang kuasa

meminta matahari kembali menyapa

hari hari yang gelap

hari hari yang didekap kabut duka .


Bogor, 1 Januari 2020  



Tags: Puisi
Share5TweetSendShareSend
Previous Post

Nadiem Makarim Menempuh Ujian Nasional

Next Post

Kenangan Singkat tentang Nyoman Tusthi Eddy, Nyari Bukunya Susah, Hilangnya Gampang

Asep Syahmid Pangrango

Asep Syahmid Pangrango

Semasa mahasiswa merupakan salah satu diantara aktifis sosial yang aktif di Tahun 90-an, di Kampus Seribu Jendela. Pada sekitar Tahun 1994 Beliau aktif di 'UKM Visi', Theater, Komunitas Dermaga Seni Buleleng, ia juga merupakan salah satu generasi Perintis berdirinya HMI Cabang Singaraja, pada massanya, dan kini ia menjadi bagian dari "KAHMI" Buleleng. Pernah Tercatat sebagai menjadi wartawan di media Radar Bogor, Majalah Tren Bogor (Grup Jawa Pos) Tabloid Weekend, SK Pakuan (Grup Pikiran Rakyat), Pernah Kerja di Radar Pena.Com (Grup Jawa Pos), dan pernah menjadi Media Officer Persikabo tahun 2003 sampai 2013, Humas NPCI Kabupaten Bogor, pengurus salah satu cabang olahraga di KONI Kabupaten Bogor, dan kini ia menjadi Redaktu Olahraga di Harian Jurnal Bogor.

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Kenangan Singkat tentang Nyoman Tusthi Eddy, Nyari Bukunya Susah, Hilangnya Gampang

Kenangan Singkat tentang Nyoman Tusthi Eddy, Nyari Bukunya Susah, Hilangnya Gampang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co