3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Bakat Menggonggong”, Cerpen-Cerpen yang Mengonggong di Kepala

Wahyu Gitari Paramita by Wahyu Gitari Paramita
January 15, 2020
in Ulasan
“Bakat Menggonggong”, Cerpen-Cerpen yang Mengonggong di Kepala

Luar biasa. Dua kata itu yang bisa menggambarkan secara general bagaimana perasaan saya setelah membaca sebuah buku bersampul biru tua dengan sedikit hijau tosca terbitan Mojok yang sudah dicetak sebanyak 3 kali sejak tahun 2016.

Buku ini terdiri dari 14 cerpen buah karya Dea Anugrah. Judul buku kumpulan cerpen yang saya baca adalah “Bakat Menggonggong”. Jika dilihat dari fisik, buku ini sangat nyaman dibaca bagi saya,baik itu ketebalan bukunya, warna kertas, maupun font tulisan. Kesan saya melihat sampul pertama kali sebelum membuka isinya adalah buku ini cukup seram dan feeling saya mengatakan bahwa buku ini perlu dibaca sepenuh otak dan hati, terutama bagi saya yang jarang membaca.

Jadi secara otomatis tulisan yang saya buat ini mungkin bisa disebut ulasan sederhana sudah saya buat semampu saya.

Dalam kumpulan cerpen ini terdapat 14 judul cerpen diantaranya “Kemurkaan Pemuda E”, “Kisah Afonso”, “Kisah dan Pedoman”, “Kisah Sedih Kontemporer (VI)”, “Anjing Menggonggong,Kafilah Berlalu”, “Penembak Jitu”, “Kisah Sedih Kontemporer (XII)”, “Masalah Rumah Tangga”, “Kisah Sedih Kontemporer (XXIV)”, “Perbedaan Antara Baik dan Buruk”, “Sebuah Cerita Sedih”, “Gempa Waktu” dan “Omong Kosong yang Harus Ada”, “Tamasya Pencegah Bunuh Diri”, “Kisah Sedih Kontemporer (IX)”, dan “Acara Tengah Malam”.

Sungguh, setiap cerpen memiliki keunikannya masing-masing. Saya rasa banyak sekali cerpen yang menceritakan tentang pengalaman ataupun cerpen yang dibuat dengan mengadakan riset terlebih dahulu yang secara keseluruhan dibawakan layaknya menyampaikan sebuah presentasi kepada para pendengar, layaknya tour guide dalam setiap cerita. Salah satu keunikannya adalah menyebut kata “kita” untuk posisi pembaca yang menyebabkan saya sebagai pembaca menempatkan diri berada dalam cerita tersebut.

Cerpen pertama yang sangat membekas sekaligus menggonggong terus di kepala adalah “Kemurkaan Pemuda E”. Saya dibuat penasaran dan berpikir keras sejadi-jadinya di bacaan pertama karena hanya terus menggambarkan kegiatan Pemuda E sedetail detailnya termasuk saat membahas sandi buatan Pemuda E. Plotnya maju mundur sehingga saya seperti sepeda motor yang tengah melaju, kemudian melewatkan tanda arah, dan otomatis mundur lagi untuk mengetahui bagaimana cerita ini bisa berjalan.

Tentu yang menarik di sini adalah penggunaan kata “kita” yang saya sendiri baru pertama kali membaca. Seolah olah si pemandu cerita sedang mengajak kita tour di tengah pemutaran cerita Pemuda E dan saya merasa saya sedang berada di tenggah-tengah keberadaan si pencerita.

Lucunya dan menurut saya sangat nyelenah, Dea Anugrah memasukkan tulisan seperti promosi yang bertuliskan “Paket gratis memang hanya yang ini, tapi saya jamin paket berbayar tidak bakal mengecewakan anda. Kami punya koleksi menarik: Gelora seks pemuda e, Pemuda E dikeroyok…” Entah ini bagian dari skenario cerpen semata atau memang sedang promosi. Batas kenyataan dan imajinasi yang disampaikan di cerpen ini saya pikir kurang dari 1 mm.

Cerita kedua adalah “Kisah Alfonso” yang memiliki daya untuk menabrakkan imajinasi saya. Saya saat membaca selalu nyeletuk, “Hah, kok bisa?”. Si pencerita tampak membawakan cerita yang diselingi seperti perasaan dia sedang menceritakan pengalaman ketika ia harus mengikuti tour untuk membuat sebuah cerita nyang menembus dimensi lain cerita yang ingin disampaikan. Bayangkan, cerita yang disampaikan adalah kisah sang Alfonso, seorang penjelajah asal Eropa pada masa kerajaan di Tulang Bawang.

Tapi dengan santainya si pemandu cerita menabrak imajinasi tentang keadaan kerajaan di Lampung dan segala mitosnya tentang buaya putih besar bermata biru dengan kehadirannya dan rekan-rekan satu kerja menaiki perahu tour yang dalam 3 hari akan kembali ke Jakarta dalam rangka menulis sebuah cerita hebat. Seakan-akan kejadian zaman Alfonso dan mitosnya tak berjarak dengan masa kini, seperti menjadi satu. Memang saya tidak habis pikir, sangat di luar biasa.

Yang terakhir dari salah satu cerpen membekas di kepala berjudul “Kisah Sedih Kontemporer (IX)”. Saya pikir ini adalah puisi. Lagi lagi otak saya berputar putar, “kok bisa?” Sepenangkapan saya, cerpen ini dikemas melalui bentuk SMS. Inti cerita adalah si pria merasa perasaannya telah tenggelam dan pupus terhadap si wanita. Yang saya kagumi adalah bentuk cerpennya, melalui SMS. Brilian menurut saya. Saya seperti membaca kisah cinta ambyar yang ada di tread screenshoot chat Twitter.

Masih banyak cerpen yang sangat sangat membikin kepala berputar, cocok untuk olahraga otak dan otot dahi. Ada kebanggaan tersendiri setelah berhasil memahami walaupun hanya urutan ceritanya. Cerpen yang luar biasa. Apakah Dea Anugrah sebelum menulis kumpulan cerpen ini melakukan meditasi? Kata-kata pilihannya pun membuat saya benar benar terpukau shining shimmering splendid karena langka ditemukan di buku roman atau cerpen yang biasa saya baca. Yang bisa saya katakan adalah “Selamat” apabila kawan-kawan mulai penasaran membacanya. Saya jamin anda pun akan terpukau dengan kekhasan tulisan milik seorang Dea Anugrah.

Dalam bukunya, Dea menyertakan bonus puisi berjudul “Syarat” dan kutipan sebagai pembatas buku dan sebuah kutipan yang entah mengapa saya sangat menyukainya yang padahal itu hanya sekumpulan onggok kata. Lagi-lagi saya tidak sengaja memikirkan maksudnya. Tetapi, saya putus memikirkan ketika kembali melihat judul buku di sampul depan. “Bakat Menggonggong”, yang mungkin saja semua yang berusaha saya pikirkan dan bergumul di kepala hanyalah gonggongan belaka. [T]

Tags: BukuCerpenkumpulan cerpenresensi buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Imajinasi Tubuh dan Warga Aksara – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Budaya Mendidik Melalui Implementasi “Hidden Curriculum” di Luar Sekolah

Wahyu Gitari Paramita

Wahyu Gitari Paramita

Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Budaya Mendidik Melalui Implementasi “Hidden Curriculum” di Luar Sekolah

Budaya Mendidik Melalui Implementasi “Hidden Curriculum” di Luar Sekolah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co