2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membongkar Produk Budaya yang Menjadi Landasan Kekerasan

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
November 20, 2019
in Ulasan
Membongkar Produk Budaya yang Menjadi Landasan Kekerasan
  • Judul              : Kekerasan Budaya Pasca 1965
  • Penulis            : Wijaya Herlambang
  • Penerbit          : Marjin Kiri
  • Cetakan          : Ketiga, Februari 2019
  • ISBN               : 978-979-1260-43-5
  • Halaman         : viii + 333 hlm

_____

Runtuhnya rezim Orde Baru memberi ruang kepada kita untuk menelisik lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa politik 1965. Terutama, bagi para ahli untuk melakukan penelusuran dan pelacakan ulang, mendekonstruksi, maupun mengangkat ke permukaan sesuatu yang selama ini tertutupi. Hal tersebut kemudian ditandai dengan banyaknya muncul buku sejarah, sosial, kajian akademik, sastra, film, teater, maupun diskusi dan forum yang mengangkat tema peristiwa kelam dan terbesar dalam sejarah modern Indonesia itu.

Upaya semacam itu sudah tentu tidak mungkin bisa dilakukan saat Orde Baru masih hidup dan berkuasa, di mana setiap arus informasi, fakta, dan kehendak membicarakan secara jujur tentang peristiwa itu dikekang sedemikian rupa. Sehingga yang terjadi adalah informasi tunggal, narasi tunggal, dan kebenaran tunggal, yakni versi pemerintah. Dan sudah pasti ada segudang fakta yang disembunyikan.

Jika banyak akademisi menelisik dan riset lebih terpusat ke seputar peristiwa; baik motif, dalang, detik-detik malam 30 September, maupun tentang pembantaian massal orang-orang komunis Indonesia dan simpatisannya pasca pembunuhan tujuh jenderal yang dianggap sebagai bagian dari kudeta itu, Wijaya Herlambang melakukan upaya berbeda dalam melihat persoalan tragedi 30 September 1965.

Melalui bukunya Kekerasan Budaya Pasca 1965, lelaki yang menyelesaikan studinya di University of Queensland dengan disertasi “Cultural Violence: Its Practice and Challenge in Indonesia” (2011) ini lebih banyak menekankan penelitian terhadap produk budaya yang berkait-kelindan dengan peristiwa yang menjadi akhir kekuasaan Sukarno itu, yaitu tentang bagaimana Orde Baru membangun landasan ideologi Anti-Komunisme melalui sastra dan film.

Anti-Komunisme, bahkan kekerasan terhadap orang komunis dan selalu dijadikan musuh imajiner bersama tidak hadir serta merta begitu saja, atau sebatas hasil dari kampanye politik. Ada lantasan budaya yang melegitimasi praktik-praktik kekerasan fisik yang terjadi pasca 1965 yang disponsori negara. Yaitu lewat produk budaya, dalam hal ini adalah sastra dan film. Sehingga apa yang menimpa para korban seolah dianggap sudah seharusnya. Inilah logika yang dibangun oleh rezim Orde Baru, melalui agresi kebudayaan untuk melawan komunisme. Dalam kata lain telah terjadi “kekerasa budaya”, yang secara definitif menurut Johan Guntung dalam Culture Violence (1996)seperti yang dikutip Wijaya Herlambang (Hal. 35) adalah: “Aspek-aspek kebudayaan, bidang-bidang simbolis dari keberadaan kita—seperti agama dan ideologi, bahasa dan seni, pengetahuan empiris dan pengetahuan formal (logika, matematika)—yang dapat digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi kekerasan langsung dan struktural.”

Penemuan Wijaya Herlambang dalam Kekerasan Budaya Pasca 1965 tentu menarik sekaligus membuka kesadaran baru kepada kita, bahwa Anti-Komunisme sekaligus praktik-praktik kekerasan langsung dan struktural terhadapnya tidak dilandasi oleh narasi politik semata. Tetapi lebih jauh dari itu, melalui sesuatu yang sangat halus dan samar serta masuk ke aspek-aspek kehidupan dengan subtil, yaitu produk budaya melalui agen-agen kebudayaan Orde Baru. Inilah kemudian yang dinamakan sebagai “kekerasan budaya/kekerasan tak langsung” yang imbasnya tentu lebih besar ketimbang kekerasan langsung. Sebab, kekerasan tak langsung sebagai kerangka berpikir sekaligus legitimasi memicu terjadinya kekerasan langsung secara terus menerus.

Meskipun banyak produk kebudayaan yang dihasilkan rezim Orde Baru dalam mempromosikan budaya Anti-Komunisme, seperti ideologi negara, museum, monumen, diaroma, folklor, lembaga agama, buku-buku pegangan siswa, dan materi penalaran, Wijaya Herlambang dalam buku ini lebih menyoroti produk budaya berupa film dan sastra, terutama Film Penumpasan Pengkhianatan G30 S PKI (1984) yang disutradarai Arifin C. Noer sebagai media propaganda utama pemerintah Orde Baru—yang rutin dipropagandakan dengan ditayangkannya di televisi nasional setiap tahun sepanjang 1984-1998—dan novel yang diadaptasi Arswendo Atmowiloto dari film tersebut. Turut dibicarakan tentang sepak terjang kelompok-kelompok kebudayaan kontemporer, terutama para penggiat sastra yang tergabung dalam Manifes Kebudayaan dan derivat atau simpatisannya, yang telah turut melanggengkan budaya Anti-Komunisme dan secara tidak langsung juga berkontribusi memberikan landasan budaya atas kekerasan fisik yang telah terjadi atau sedang terjadi.

Ada fakta-fakta menarik, bahkan dikatakan cukup mengejutkan dari riset Wijaya Herlambang dalam buku ini, yaitu peran penting para brokerkebudayaan di Indonesia untuk Barat. Broker ini berada di bawah bimbingan langsung CIA melalui underbouw-nya: CCF (Congress for Culture Freedom), di mana para kacung imperialisme barat didikte untuk menentukan kebudayaan Indonesia pasca 1965 dengan membangun liberalisme dan memusnahkan komitmen sosial-politik dalam kesenian atau kebudayaan (baca: realisme sosialis) di satu sisi, dan di sisi lain turut memberi legitimasi anti-komunisme melalui produk-produk budaya yang mereka hasilkan.

Barat (Amerika Serikat and the gank) sebagaimana kita tahu, punya agenda khusus di Indonesia, yaitu ingin membangun dominasi kapitalisme-nya demi mengeruk sumber daya alam dan keuntungan lainnya. Namun, hal itu selalu gagal karena komitmen politik dan kecondongannya Sukarno pada paham kiri, terutama komunisme, sebagai penentang utama kapitalisme. Untuk memuluskan agendanya, Barat mesti meruntuhkan kekuasaan Sukarno dan memusnahkan komunisme yang menjadi musuh imperialisme dan kapitalisme-nya. Maka, selain melakukan pelbagai upaya melalui strategi politik dan menemukan momentum pada tahun 1965, Barat melalui CIA-nya juga melakukan kampanye anti-komunisme lewat kebudayaan, sekaligus untuk membentuk kebudayaan nasional yang berorientasi liberal.

Sebagaimana hasil riset Wijaya Herlambang, selain kerja sama dengan tokoh-tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) dengan menyediakan beasiswa untuk dididik sesuai doktrin ekonomi AS, upaya juga dilakukan oleh Amerika Serikat dengan mendekati beberapa intelektual-sastrawan saat itu, seperti Mochtar Lubis, Arif Budiman, Wiratmo Soekito,Taufik Ismail, sampai yang termuda: Goenawan Muhammad. Di kemudian hari mereka menjadi penggagas sekaligus penanda-tangan “Manifes Kebudayaan”, sebuah konsep kebudayaan mengusung humanisme universal yang selalu mengasosiasikan diri dengan konsep “l’art pour l’art” (seni untuk seni) sebagai tandingan terhadap seni yang politis. Dan di tahun yang tidak terlalu jauh mereka juga mendirikan majalah Horison, majalah yang selanjutnya mempunyai peran penting membentuk orientasi budaya, terutama sastra, dengan gaya sesuai keinginan barat.     

Bahkan Wijaya Herlambang menemukan fakta adanya hubungan khusus antara pemimpin penting CCF, Kats dengan Goenawan Muhamad. Keduanya menjadi rekan kerja, meski kemudian Kats lebih banyak mendikte Goenawan Muhamad agar memenuhi keinginannya. Misal, permintaan penerjemahan buku-buku produk Barat yang dianggap memiliki gagasan yang menjauhkan publik dari paham komunisme dengan imbalan uang untuk Goenawan Muhamad sebesar $50 di awal kerja.    

Begitu pun kelompok kebudayaan populer lainnya yang berupaya membendung dan mendekonstruksi Anti-Komunisme turut disinggung oleh Wijaya Herlambang di buku ini. Di antaranya adalah JAKER (Jaringan Kerja Kesenian Rakyat) yang dimotori oleh penyair Wiji Thukul, dan kemudian KSI (Komunitas Sastra Indonesia) yang melahirkan majalah boemipoetra, serta para aktivis kebudayaan dan politik sepanjang era Orde Baru. Kelompok inilah yang punya upaya perlawanan dan destabilisasi hegemoni Orde Baru dengan ideologi Anti-Komunisnya.

Di bagian akhir buku, penulis secara khusus mendedah novel September karya Noorca M. Massardi. Menurut Wijaya Herlambang, novel tersebut yang paling relevan dalam kaitannya dengan diskusi tentang bagaimana sastra memiliki andil dalam proses dekonstruksi versi resmi peristiwa 1965 dan ideologi Anti-Komunis warisan Orde Baru. Isinya yang fundamental menjadi narasi alternatif sekaligus perlawanan terhadap kekerasan budaya terutama lewat sastra dan film yang selalu dikampayekan Orde Baru untuk melegitimasi kekerasan fisik, yang sampai saat ini masih hidup, sekalipun Orde Baru sendiri telah runtuh dua puluh satu tahun silam.

Tentu, buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 ini layak dibaca oleh siapa pun, karena isinya akan membawa pada kesadaran (atau minimal perspektif) baru, bahwa budaya yang kita kenal—mungkin sebagian dari kita ikut menjalaninya—adalah tidak serta merta lahir begitu saja. Tetapi mempunyai riwayat panjang dengan pergelutan-pergelutan politik yang melingkupinya; bahkan di baliknya banyak manusia yang dirugikan dan dikorbankan. [T] 

Tags: BudayaBukuKomunisPolitikresensiresensi buku
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Sirik dan Benci, Mungkin Tanda-tanda ODGJ

Next Post

Imbas Pariwisata, Nusa Penida Mendadak “Kebule-Bulenan”

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Imbas Pariwisata, Nusa Penida Mendadak “Kebule-Bulenan”

Imbas Pariwisata, Nusa Penida Mendadak “Kebule-Bulenan”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co