6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malam yang Entah di Mana

Santi Dewi by Santi Dewi
November 16, 2019
in Cerpen
Malam yang Entah di Mana

The Dancing Goddess karya Komang Astiar

Cerpen Susanti Dewi

Malam itu adalah hari Sabtu. Wira, pacarku mengajakku untuk pergi makan malam di sebuah warung lalapan dekat kampus. Kami sangat menyukai warung lalapan itu. Selain karena sambalnya yang segar dan pedas, yang membuat warung itu spesial dan berbeda dibandingkan warung lalapan lainnya adalah ayam, sambal, gorengan tempe tahu, dan tak lupa sayur kul rebus juga kangkung yang dipadu-padankan menjadi satu dalam sebuah cobek kecil. Di kota yang kecil ini, kami jarang sekali menemukan warung lalapan yang sambalnya diulek dan dicolek langsung dari cobeknya, oleh sebab itu kami selalu datang ke warung lalapan itu jika sedang ingin makan lalapan.

Setelah selesai makan malam, Wira mengantarkanku pulang ke kos. Jarak kosku dan Wira memang cukup jauh, tapi ia selalu rela mengantar-jemputku ke manapun yang aku mau. Sesampainya di kos, Wira langsung berpamitan padaku karena harus menemui salah seorang temannya di dekat pelabuhan. Setelah Wira tak terlihat lagi, akupun tak segera masuk ke dalam kamarku.

Aku mendatangi kamar teman kosku, Nanda. Kuketuk pintunya dan ia membukakan pintu. Seperti biasanya, aku akan mengadu dan bercerita kepadanya bagaimana senangnya aku tiap kali pergi bersama Wira. Maka ia akan tertawa cekikikan mendengar ceritaku, namun juga terkadang cemberut. Ia merasa iri, karena sampai saat ini ia belum memiliki pasangan. Entah karena apa. Yang jelas, sebenarnya Nanda adalah orang yang cantik dan asik jika diajak ngobrol.  Ia memiliki banyak gebetan. Namun aku tak mengerti mengapa ia masih sendiri sampai saat ini.

Kami bersendau-gurau saat itu. Suara tawa kami beradu liar dengan obrolan-obrolan dan musik dari kumpulan laki-laki yang sedang pesta minum di salah satu kamar dekat kamarku dan Nanda. Kos kami memang bukan kos khusus perempuan. Namun seluruh penghuni kos kami adalah mahasiswa. Selama aku tinggal di kos ini, tak pernah ada kejadian aneh di kos kami. Terlebih lagi soal maling.

Bapak kos juga sangat perhatian perihal kebersihan juga keamanan kos dengan memberi tau kami agar tidak melakukan keributan yang membuat tetangga di sebelah terganggu.  Kos kami bisa dikatakan cukup aman, dan semoga akan terus begitu. Setelah lelah tertawa, aku pun balik ke kamarku untuk mengganti pakaian dan beristirahat. Nanda menutup pintunya, dan akupun menutup pintuku.

Setelah masuk kamar, aku segera mengganti pakaianku dengan piyama bermotif panda yang diberikan oleh Wira saat ulang tahunku yang ke-20. Mengenakan piyama itu membuat tanganku sangat gatal untuk melihat-lihat album ulang tahunku saat tahun lalu. Aku melihat album kenangan itu sambil senyum-senyum sendirian ketika melihat potret wajah Wira yang penuh dengan cream kue tart di wajahnya karena ulahku. Namun aku merasa cukup terganggu dengan orang-orang yang sedang minum itu.

Lambat laun, suara tawa dan obrolan mereka semakin keras dan terus mengeras. Ingin rasanya aku menghampiri mereka keluar dan menyuruh mereka untuk bubar. Namun jika aku melakukannya, mereka yang sedang dalam kondisi mabuk atau tidak itu pasti akan menjadikanku sasaran empuk. Sungguh, aku kesal sekali. Namun aku tak mungkin melakukannya. Aku mencoba tak menghiraukan suara-suara mereka dan menutup album untuk segera tidur.

Album foto itu aku letakkan kembali diatas rak kayu dan kembali ke tempat tidur. Saat aku baru saja menarik selimut, hp yang aku letakkan di sebelah bantalku tiba-tiba bergetar. Aku memang tidak pernah mengaktifkan nada dering hp-ku. Karena aku pikir, itu akan sangat mengganggu jika hp-ku tiba-tiba berbunyi keras saat aku tengah berada dalam suatu acara atau sedang melakukan kegiatan yang penting. Mendengar getaran itu, aku segera mengambil hp-ku. Kulihat ternyata Nanda yang menelepon. Ada apa ini? Baru saja bertemu, kok sekarang dia meneleponku? Sudah satu kos, gaya-gayaan pakai nelepon segala lagi, pikirku sebelum mengangkat telponnya.

Pertanyaan-pertanyaan yang tumbuh di pikiranku aku tebas segera dengan mengangkat teleponnya.

“Hallo. Kenapa, Nan?”, Ku dengar napasnya terengah-engah seperti orang asma.

“Kei, kok… aku… napasku…” Perkataannya terbata-bata. Sepertinya ia sangat susah untuk bicara.

“Kamu kenapa, Nan?” Kupertegas lagi pertanyaanku namun ia tak menjawab. Terdengar napasnya ditarik dan dihela sangat panjang. Jantungku berdebar, aku khawatir terjadi hal yang tidak-tidak kepadanya.  “Tunggu, Nan. Aku ke kamarmu sekarang”. Segera ku taruh hp-ku dan menuju kamar Nanda, lagi. Aku sangat panik. Sampai-sampai aku lupa menutup pintu kamarku.

            Aku berjalan setengah berlari menuju kamar Nanda. Ketika aku sampai di depan kamarnya, aku segera membuka pintunya. Pintu kamarnya belum terkunci. Kulihat ia duduk di atas kasur sambil menutup wajahnya dengan tangan. Kuraih tangannya dan mencoba untuk membuka.

“Kamu kenapa, Nan?” tanyaku.

Ia melepaskan tangannya dari wajah dan berpindah ke dadanya. “Napasku, Kei. Aku susah bernapas. Sesak”.

Napasnya sangat berat, ia linglung dan panik. Napasnya semakin tak terkendali. “Tenang, Nan. Atur napasmu. Tenang, ayo minum air dulu!” .

Ia segera bangkit dan menyambet sebuah gelas. Ia terlalu panik dengan apa yang terjadi pada dirinya, ia seperti ingin segera menemukan cara agar sesaknya lekas hilang. Gelas di tadahkan di bawah pipa pompa air. Dengan napas yang sangat susah, ia terus memompa air agar keluar dari galon.

“Sudah, Nan. Kau diam saja. Biar aku yang memompa airnya!”

Ia tak menghiraukan omonganku, ia terus memompa dengan napas yang sangat sulit. Benar saja, belum beberapa detik ia memompa, gelasnya terlepas dari tangan. Tubuhnya melemas. Matanya terpejam. Tangannya mencengkram kuat dadanya. Napasnya tak bisa lagi dikendalikan. Jantungku semakin berdebar, tubuhku gemetar melihat keadaannya. Aku berusaha menopang tubuh Nanda dari belakang.

“Nannnn… sadar! Hei, atur napasmu! Nan, dengarkan aku. Sekarang kamu tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan pelan-pelan. Tarik… hembuskan… tarik… hembuskan…”

Ia berusaha mendengarkan omonganku dan berusaha untuk mengatur napasnya. Namun Ia tak berhasil. Matanya masih terpejam. Ia menangis. Tubuhnya meronta-ronta karena kesulitan bernapas.

Di tengah isak tangis dan napasnya, tiba-tiba ia berkata, “Aduhhh, Kei.. tanganku… tanganku tak bisa bergerak. Tanganku, Kei… ” Kulihat kedua tangannya terbujur kaku ke depan. Jari-jari tangannya menyatu. Aku berusaha membuka jari-jari tangannya, namun sama sekali tidak bisa. Kurasakan tangannya seperti besi. Keras dan kaku.

Aku semakin panik. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan dengan kondisi Nanda yang seperti itu. Yang terus aku lakukan hanyalah menyuruh Nanda agar mengatur napasnya. Aku sangat takut. Lalu tiba-tiba Nanda berteriak sangat keras “Aaaaaaa….!”

Teriakannya memenuhi seluruh ruangan. Keras sekali. Pekikan suaranya memecah malam. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Tiba-tiba ia berteriak lagi “Aaaaaaa…!”

Oh, ya Tuhan. Aku ketakutan bukan main. Tubuhku gemetar menopang tubuhnya. Badanku berkeringat panas dingin. Aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya padanya, suaraku menjadi parau, ku goyangkan tubuhnya untuk membuatnya sadar bahwa aku di sampingnya “Hei! Nan, kamu kenapa? Kenapa, Nan? Ayo bicara!”. Napasnya tersengal-sengal tak karuan.

Pintu kamar Nanda masih terbuka saat aku masuk, aku menoleh keluar bermaksud meminta bantuan kepada yang lain. Namun saat aku menoleh keluar, kulihat ternyata orang-orang sudah berkerumun di depan kamar Nanda. Juga orang-orang yang sedang pesta minum tadi. Mereka datang ke kamar Nanda karena mendengar teriakan keras dari Nanda. Kepala-kepala mereka mendengak-dengok penasaran namun tak berani untuk masuk. Jelas bagiku, siapa yang tidak terkejut dan penasaran ketika mendengar sebuah teriakan kencang di tengah malam begini? Beberapa penghuni kos lain juga berdatangan. Yesi, tetangga kamar sebelah Nanda masuk dan menghampiri kami.

“Nanda kenapa, Kei?”

“Aku tak tau, Yes. Katanya sesak, tangannya kaku tak bisa digerakkan!”

“Kita bawa ke rumah sakit saja, Kei. Aku takut kalau kita biarkan di sini, sesaknya akan semakin menjadi-jadi!”

“Tapi bagaimana caranya, Yes?”

“Itu di luar ada Arka, minta bantuan dia saja!”

“Tapi Arka dan teman-temannya baru saja pesta minum, Yes.  Kurasa mereka mabuk. Apa tidak bahaya nanti di jalan? Aku takut Arka oleng saat mengendarai motor, apalagi membonceng Nanda. Tidak… tidak…!”

“Kita tidak punya pilihan lain, Kei. Kau mau Nanda kenapa-napa di sini? Lagipula Arka terlihat sadar-sadar saja. Sudah, biar aku yang memintanya!”

Aku tak punya pilihan lain. Arka yang sedari-tadi dengak-dengok di depan pintu, akhirnya menawarkan diri lebih dahulu sebelum Yesi memintanya.

“Ayo bawa ke rumah sakit saja, biar kuantar!”

Kami tak berpikir panjang. Segera kuambil jaket dan celana panjang dari lemari Nanda. Yesi memegang tubuh Nanda, dan aku berusaha memakaikan jaket dan celana panjang kepadanya. Arka segera menyiapkan motornya agar lebih dekat di depan kamar Nanda. Entah kenapa kami tak kepikiran untuk memanggil ambulance. Ah tapi yang pasti, motor jauh lebih cepat.

Aku segera berlari ke kamarku untuk mengambil dompet dan memakai jaket. Arka dan motornya telah siap di depan kamar Nanda. Nanda yang sangat lunglai dan masih dengan napasnya yang terengah-engah, diangkat naik ke atas motor oleh salah satu teman Arka yang bertubuh kekar. Setelah Nanda di atas motor, aku menyusul dibelakangnya. Aku memegangi Nanda dari belakang. Nanda berada di tengah-tengahku dan Arka. Kami berangkat. Motor melaju kilat di tengah jalan yang sepi.

Kami sampai di rumah sakit. Arka memakirkan motornya tepat di depan ruang IGD. Di depan ruang IGD, ada beberapa orang yang sedang menunggu sanak saudaranya yang mungkin sedang dirawat di dalam. Kami menjadi pusat perhatian. Melihat kedatangan kami, langsung saja para perawat dan petugas rumah sakit membawakan sebuah ranjang dorong yang biasa digunakan untuk menangani pasien yang gawat darurat. Salah satu petugas segera mengangkat Nanda dari atas motor dan dipindahkan ke ranjang pasien. Napas nanda masih terengah-engah. Tangannya masih terbujur kaku ke depan. Ranjang didorong masuk ke dalam ruangan oleh para perawat. Mereka berjalan cepat. Aku dan Arka menyusul di belakang.

Di dalam ruang IGD, Nanda ditempatkan di sebuah kamar yang hanya dibatasi oleh korden-korden biru. Seorang dokter dan perawat datang dengan peralatannya. Perawat itu segera memasangkan selang oksigen di hidung Nanda. Dengan tergesa-gesa, dokter memasangkan alat cek tensi dan bertanya padaku.

“Apa temanmu ini memang punya asma?”

Aku berpikir sebentar dan menjawab “Tidak, Dok, saya tau dia. Dia tidak pernah punya penyakit asma!”

Dokter itu terdiam, ia tak membalas jawabanku. Lalu beberapa detik kemudian ia berkata “Tolong tinggalkan kami, kami akan melakukan pemeriksaan!”

Korden ditutup rapat. Aku dan Arka menunggu di luar ruang IGD.

Aku dan Arka terdiam, mungkin Arka sedang memikirkan hal yang sama denganku. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku cemas sekali, jantungku masih berdebar-debar. Tiba-tiba terdengar keributan dari dalam.

“Aaaaaaaa…!”

Orang-orang berteriak riuh sekali. Para dokter dan perawat berhamburan lari ke luar ruangan. Begitu juga pasien-pasien, mereka didorong lari keluar oleh para petugas. Raut wajah mereka terlihat sangat ketakutan. Aku yang sedari tadi berada di luar bersama Arka merasa sangat kebingungan. Apa sebenarnya yang terjadi di dalam. Aku berusaha mengejar dokter yang tadi memeriksa Nanda. Aku berlari mengejarnya, dokter itu terjatuh.

“Ada apa, Dok? Mengapa semuanya berlari keluar dan terlihat sangat ketakutan?”

Dokter itu menggelengkan kepala, keringat bercucuran di pelipisnya “Temanmu itu…” Bibir dokter itu gemetar,

“Ada apa dengannya, Dok?”

Belum sempat ia menjawab pertanyaanku, ia lari terbirit-birit meninggalkan rumah sakit.

Kami bergegas masuk ke dalam. Di dalam ruang IGD telah sepi. Tak ada satupun perawat atau dokter yang masih tersisa. Aku dan arka menuju ruangan Nanda. Langkah kami terhenti sebentar. Kulihat ruang korden itu membiaskan sinar cahaya putih yang menyilaukan.

“Ada apa ini, Ar? Mengapa tempat Nanda bercahaya seperti itu?”

“Aku tak tau. Ah, mataku sangat silau!”

“Ayo, Ar. Kita lihat keadaan Nanda”

Kami berusaha melawan cahaya silau itu. Ketika kubuka korden yang masih tertutup rapat, ku lihat tubuh Nanda setengah melayang. Napasnya terengah-engah. Matanya terpejam, dan tubuhnya mengeluarkan cahaya putih yang sangat terang. Aku dan Arka sangat shock. Kami takut sejadi-jadinya. Badan kami gemetaran. Aku tak bisa menjelaskan perasaanku melihat kejadian ini. Kami tak berani mendekati Nanda, pelan-pelan kami memundurkan langkah.

Tiba-tiba Nanda memekik kencang “Aaaaaaa!!!!”.

Nanda menghilang bersama cahaya. Ruangan sepi, kami berdiri tercengang.

Oh, ya Tuhan. Apa yang baru saja aku lihat? Aku tak percaya dengan kejadian ini. Mengapa ia menghilang dan pergi secepat ini dan dengan cara seperti ini? Apa yang akan aku katakan pada orang tuanya nanti? Oh, ya Tuhan… aku telah kehilangan temanku itu. Sahabat baikku. Rasanya sesak sekali, Dadaku sakit. Hatiku hancur sehancur-hancurnya. Bodoh! Mengapa aku tak bisa menjaga temanku? Mengapa aku harus mengikuti permintaan Yesy dan Arka untuk membawanya ke rumah sakit? Kalau tidak, pasti tidak akan begini jadinya. Rumah sakit sialan! Rumah sakit terkutuk! Bangsat! Air mataku mengalir deras.

Kutoleh Arka masih tercengang dengan mulut menganga. Aku menangis tersedu-sedu, kupukul-pukul pundak Arka sambil menghujat rumah sakit terkutuk itu.

Arka tersadar dari rasa shock-nya, “Sudahlah, Kei. Jujur saja aku masih sangat tak percaya dengan hal ini. Tapi Nanda sudah tidak ada, Kei. Kita adalah saksinya. Kita sendiri yang menyaksikannya. Ikhlaskan Nanda pergi, Kei. Mari kita pulang!”

Sepanjang perjalanan pulang , aku menangis tak tertahankan. Bagaimana bisa aku merelakan hal ini begitu saja? Bagaimana aku bisa ikhlas menerima kepergian sahabatku? Tuhan, mengapa kau beri Nanda jalan hidup yang seperti ini? Aku tak bisa menerima kejadian ini, Tuhan.

Sesampainya di kos, Arka melepas helmnya dan membantu melepas helmku juga. Wajahnya lesu, tapi ia berusaha terlihat tegar di hadapanku. Aku menelepon orang tua Nanda untuk menjelaskan semuanya. Aku mendengar dari telepon orang tua Nanda panik dan beteriak-teriak. Mereka akan segera datang.

Sambil menunggu orang tua Nanda, aku terduduk di kursi di teras kamar.

“Sudah, Kei. Lebih baik kau istirahat sekarang. Mari kita doakan saja yang terbaik untuknya!” kata Arka sembari berjalan menuju kamarnya.

Bangsat! Aku masih tak percaya dengan semua ini. Air mataku kembali mengalir deras. Ku lihat kamar Nanda tertutup. Lampu kamarnya masih menyala terang seperti saat kami meninggalkannya tadi. Aku memutuskan untuk tidur di kamarnya malam ini. Aku sangat menyayangi sahabatku itu, aku masih tak bisa menerima bahwa aku telah kehilangannya. Setidaknya, aku ingin tidur bersama kenangan dan barang-barangnya malam ini. Kubuka pintu kamarnya yang tak terkunci. Betapa terkejutnya aku ketika melihat Nanda ada di dalam dan bertanya padaku.

“Dari mana kamu pagi-pagi buta begini, Kei? Kok pakai jaket segala?”

Kamar sunyi dan senyap.

Tags: Cerpen
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Juru Masak Tampan: Wayan Koster

Next Post

Memimpin Atas Dasar Tri Ulahing Budhi

Santi Dewi

Santi Dewi

Lahir di Kalimantan, 02 Mei 2000. Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Saat ini aktif dalam Teater Kampus Seribu Jendela. Suka menyanyi, teater, dan melukis wajah.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Memimpin Atas Dasar Tri Ulahing Budhi

Memimpin Atas Dasar Tri Ulahing Budhi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co