3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

PEMBANTU

Oka Rusmini by Oka Rusmini
November 5, 2019
in Esai
RIPUH

Edisi 4/11/2019

KOPLAK duduk terdiam di ruang kerjanya. Sambil memandang dengan serius wajah Presiden dan Wakil Presiden yang baru saja dilantik. Beban berat terasa terurai dan terkuras dari pikiran Koplak. Pertarungan politik memperebutkan kursi orang nomor satu di negeri ini benar-benar menguras energi. Berita-berita isinya makian-makian saja. Koplak tidak habis pikir, kok bisa masyarakat Indonesia selama ini kan terkenal karena kesantunanya. Masyarakat yang “konon” menjunjung tinggi budaya, angtiba-tiba karena masalah kontestasi jadi terlihat begitu “barbar” menakutkan. Koplak sering bergidik jika membaca beragam berita-berita, dan percakapan yang datang kepadanya seperti tsunami.

            Sebagai lelaki desa, dibesarkan di desa, dan tumbuh di desa Koplak tidak habis pikir dengan narasi-narasi yang dibuat orang-orang di media sosial. Sebagai lelaki desa yang kebetulan memiliki sedikit wewenang dan “kekuasaan” Koplak jadi tidak habis pikir, padahal orang-orang yang hidup di kota itu memiliki fasilitas dan akses yang begitu luas. Jaringan internet juga bagus. Koplak saja baru tahu, bahwa nonton film bisa dilakukan di komputer bukan di TV, bahkan belakangan Koplak diajarkan oleh Kemitir bisa memilih dan mendengarkan lagu-lagu masa lalu tanpa memerlukan tape, cukup dengan telepon genggam dan alat yang ditempel di kuping. Jadi tidak menganggu orang lain. Ah, hidup di jaman modern ini kadang-kadang memang membuat Koplak gelagapan. Seperti ditenggelamkan ke sungai.

            “Teknologi berkembang begitu pesat, lihatlah acara TV, cucu-cucuku pun tidak ada yang tertarik menonton TV, waktu luang diisi melihat telepon genggam. Di dalam telepon itu konon sudah ada beragam hal yang bisa dinikmati cucuku. Makanya saat ini kita tidak akan menemukan anak-anak yang berkeliaran di lapangan berdebu. Anak-anak yang tumbuh dengan keringat dan debu seperti kita sudah tidak ada lagi, Koplak. Anak-anak sekarang hanya sibuk dengan gawai, tidak bisa dilarang. Jika dilarang terus menerus biasanya mereka stres. Kau pernah baca kan di koran lokal, hanya karena tidak dibelikan telepon gengggam seorang siswa SMP kelas tujuh sudah bisa meniatkan dan melakukan bunuh diri, dengan menggantung lehernya dengan selendang di atas pintu kamarnya. Saat ini memang jaman sudah gila.” Keluh sahabat Koplak sungguh-sungguh.

            “Bukan jaman gila, kita saja yang tua yang tidak paham perubahan.” Sahut suara yang lain.

            “Bisa jadi seperti itu. Tetapi aku juga tidak habis pikir, bukan anak-anak saja yang aneh saat ini. Para tokoh politik juga kulihat aneh-aneh. Lihatlah, bagaimana mereka rebutan untuk menjadi pembantu presiden. Dari berita yang kubaca, para tokoh partai itu telah menyetor 300 nama untuk dipilih oleh presiden menjadi pembantu presiden. Nunas iwang , mohon maaf sebesar-sebesarnya ini, kok aneh juga mereka berebut jadi pembantu. Mana ada beberapa yang main paksa minta jadi pembantu dibidang ini-itu dengan sedikit memaksa. Katanya menjadi pembantu presiden itu hak hak prerogatif presiden, faktanya presiden mumet dan ruwet juga menyusun kabinet. Katanya tidak minta, katanya bebas dan terserah presiden. Setelah terbentuk 34 orang kok banyak yang nyinyir, walaupun dengan kalimat yang dibungkus-bungkus. Tidak kecewa, tetapi bersuara sedikit nyelekit. Jadi jangan disalahkan jika anak-anak milenial itu asik dengan pikirannya sendiri. soalnya contoh di depan mata belum ada,” Sahut sahabat koplak yang lain.

            Koplak kembali menatap foto baru yang baru saja dipasang sekretaris desa di depan mejanya, jadi jika Koplak bekerja di kantor desa, hal pertama yang dia lihat adalah foto terbaru presiden dan wakil presiden.

            Dengan keluguan seorang lelaki desa Koplak berusaha sedikit berbisik kepada foto presiden yang tergantung rapi di depan mejanya, jadi siapa saja yang masuk ke dalam ruangan Koplak, akan disambut oleh dua buah foto berukuran cukup besar itu. Presiden dan Wakil Presiden yang kelihatan lebih fresh dan segar. Bahkan Koplak merasa foto presiden tahun ini terlihat lebih gaya dan presiden juga terlihat lebih santai, agak berbeda dengan foto tahun lalu, wajah presiden seperti menyorotkan dan memberi kabar bahwa beliau sedikit linglung dan bingung. Semoga ini bukan pikiran koplak saja, karena Koplak bisa membayangkan ada 300 pembantu yang disiapkan partai, harus diperas jadi 34. Bayangkan saja? Apakah itu bukan pekerjaan yang mengerikan? Alangkah hebatnya presiden mampu bertahan dengan beragam “kenyinyiran” tentu ada saja kata-kata yang mendengung seperti tawon. Koplak menarik nafas sambil berdiri meregangkan tubuhnya dan menatap mata sang presiden.

            Ajarkan saya memilih orang-orang tepat untuk saja jadikan pembantu Pak Presiden. Koplak berkata pelan setengah berbisik, berharap foto yang diajak bicara mengeluarkan tips untuknya sebagai Kades sebuah desa yang meminta petunjuk bisa memilih pembantu yang bisa diajak kerja.

            Satu jam, dua jam, tiga jam foto di depn Koplak belum menunjukkan tanda-tanda memberi petunjuk. Koplak menguap. Sambil menutup mulutnya cepat-cepat, Koplak merasa malu mengantuk. Koplak masih berdiri sampai kakinya pegal. Petunjuk belum juga datang. Pawisik belum juga terurai.

            Saya pulang dulu pak Presiden, kantor mau tutup. Mohon diperhatikan permintaan saya. Koplak berkata sangat pelan, lalu Koplak berdiri kemudian mengangguk memberi hormat. Hampir saja tasnya tertinggal. [T]

Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Relasi Tubuh Sanggar Seni Kelakar dengan Puisi Sungai Karya Kim Al Ghozali

Next Post

Diksa

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Diksa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co