24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Bagaimana Peristiwa ‘65 Disembunyikan Lewat Karya Sastra

Ahmad Anif Alhaki by Ahmad Anif Alhaki
November 2, 2019
in Ulasan
Membaca Bagaimana Peristiwa ‘65 Disembunyikan Lewat Karya Sastra
  • Judul Buku                  :  Khotbah
  • Penulis                         : Dwi S Wibowo
  • Penerbit                       : Alpha Centauri
  • ISBN                           : 978-602-3092-29-1
  • Jumlah halaman          : 111

____

Sebagaimana diketahui, kajian mimesis memandang karya seni sebagai tiruan dari kenyataan. Maka dari itu, fenomena sosial termasuk salah satu bahan konstruksi karya seni. Menurut Aristoteles, ketika meniru realita sebenarnya, seniman terlibat dalam proses kreatif untuk menciptakan karya[1]. Dengan demikian, karya seni bukanlah sebenarnya realita, melainkan cerminan kenyataan melalui olah pikir dan imajinasi manusia. Karya seni memiliki macam kategori, salah satunya adalah karya sastra. Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat oleh status sosial tertentu[2]. Ikatan status sosial tersebut akan mepengaruhinya dalam menciptakan karya. 

Mengingat bahwa dunia dalam karya sastra merupakan tiruan (mimesis) atas peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (imatitation of reality), maka sering kali dinyatakan bahwa karya sastra merupakan dokumen sosial[3]. Dalam perspektif ini karya sastra adalah sebagai manifestasi kenyataan sosial karena mencatat rekam jejak realitas sosial pada masa tertentu.

Fenomena sosial masa lalu pun bisa saja hadir dalam karya sastra sekarang ini meskipun memiliki rentang waktu panjang dengan fenomena sosial yang diangkatnya sebagai tema. Salah satu sastrawan yang mengangkat tema sosial lama pada karyanya adalah Dwi S Wibowo. Hal itu itu bisa ditemukan dalam antologi cerita pendeknya berjudul Khotbah. Namun, bukan berarti bahwa tema tersebut sudah basi dan tanpa ada hubungan lagi dengan persoalan di masa kini.

Khotbah karya Dwi S Wibowo terbit tahun 2016. Buku yang tebalnya 111 halaman ini terdiri atas 11 cerita pendek. Beberapa tema yang diangkat dalam ceritanya berhubungan dengan peristiwa kelam negeri ini. Salah satunya, yang paling menonjol, adalah tragedi ‘65 yang sampai detik ini masih menyisakan tanda tanya. Tema tersebut dapat ditemui dalam cerpen berjudul “Terumbu Kepala” dan “Belulang Sunyi”.

“Terumbu Kepala” bercerita tentang nelayan yang menemukan tumpukan tulang kepala manusia di dasar perairan Segara Anakan saat mencari ikan. Hal itu kemudian membuatnya ditembak mati oleh polisi yang sedang patroli di tempat ia menemukan tumpukan tulang kepala manusia. Sementara itu, “Belulang Sunyi” bercerita tentang seorang bernama Sunardian Pranoto Wongso yang menemukan tumpukan tulang manusia di dasar Sungai Serayu saat menuruti mimpinya bahwa akan mendapatkan harta di sana. Kemudian Sunardian Pranoto Wongso diancam untuk tidak membuka persoalan tentang tumpukan tulang manusia yang ditemukannya.

Menariknya, dalam buku kumpulan cerita pendek Khotbah karya Dwi S Wibowo tersebut, beberapa cerita yang menyingung peristiwa terkait ‘65, tidak menggambarkan bagaimana peristiwa itu terjadi, tetapi bagaimana peritiwa tersebut disembunyikan. Hal ini berbeda dengan sastrawan yang mengalami peristiwa ’65, seperti Martin Aleida dan Putu Oka Sukanta. Karya-karya Martin Aleida dan Putu Oka Sukanta terkait peristiwa ‘65 lebih banyak mengambarkan bagaimana kejadian dan beban psikologis yang dialami korban. Sebut saja dalam cerpen “Tanah Air” karya Martin Aleida, peraih penghargaan cerpen terbaik Kompas 2016, digambarkan beban psikologi korban eksil atas peristiwa ‘65.  Sementara itu, dalam cerpen “Surat Undangan” karya Putu Oka Sukanta, digambarkan proses penangkapan korban dengan dalih surat undangan. Namun, dalam cerpen “Terumbu Kepala” dan “Belulang Sunyi” karya Dwi S Wibowo yang hidup di masa setelah peristiwa ‘65, lebih digambarkan penyebab-penyebab peristiwa itu kabur dan tersembunyi.

Korban dalam tragedi ‘65 masih kabur dan tersembunyi. Angka-angka yang mencatat jumlah korban dari peristiwa itu masih beraneka ragam. Menurut Liputan Khusus Tempo edisi 1—7 Oktober 2012, dikabarkan bahwa tidak ada angka pasti tentang jumlah korban pembantaian PKI pada 1965. Pada Desember 1965, Soekarno pernah membentuk komisi pencari fakta yang dipimpin oleh Menteri Negara Oie Tjoe Tat untuk mencari tahu jumlah korban pembantain. Namun, karena tidak leluasa bekerja dan khawatir pada reaksi tentara, komisi itu menyimpulkan 78 ribu orang terbunuh. Namun, angka tersebut dipercaya terlalu kecil. Laporan dari Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban menyebutkan korban tewas sekitar 1 juta jiwa. Menurut mantan Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat, Sarwo Edhi Wibowo, setidaknya ada 3 juta orang terbunuh, sedangkan para aktivis kiri mempercayai 2 juta orang yang terbunuh[4].

Hingga hari ini dampak negatif peristiwa ‘65 tidak hilang begitu saja. Kondisi yang memprihatinkan ternyata mengikat para korban dan keluarga korban secara turun menurun. Peristiwa 1965—1966 memiliki dampak sangat merugikan bagi para korban hingga mengalami penderitaan mental (psikologis) maupun tindakan diskriminasi di bidang hak sipil dan politik serta dalam bidang hak ekonomi, sosial, dan budaya[5].

Setelah masa kekuasaan Soeharto berakhir, muncul berbagai macam kalangan dan kelompok masyarakat yang menuntut hak mereka sebagai korban dari kekuasaan Orde Baru. Salah satunya adalah International People’s Tribunal (IPT) yang merupakan badan legal-formal yang dibentuk dalam rangka menyelenggarakan Pengadilan Publik Internasional pada Kejahatan Terhadap Kemanusiaan 1965 dan kegiatan advokasi lainnya terkait kasus 1965. Yayasan International People’s Tribunal secara resmi berdiri pada 18 Maret 2014 di Belanda dan memiliki sekretariat yang berlokasi di kota Amsterdam. Yayasan IPT 65 sendiri memiliki tujuan memperbaiki kecenderungan sejarah yang menyepelekan dan mengaburkan kejahatan-kejahatan dalam peristiwa 1965 di Indonesia[5].

Fareza Rahman (2018: 35) mengatakan bahwa temuan serta putusan dari hasil persidangan publik internasional 1965 yang berlangsung pada 10—13 November 2015 dan dibacakan selang sembilan bulan pascapersidangan. Laporan dari keputusan final pengadilan publik internasional 1965 ini memuat 10 temuan tindakan pelanggaran HAM berat seperti kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan genosida. Dari 10 temuan tersebut, Indonesia dinyatakan bersalah dan harus bertanggung jawab atas pelanggaran HAM berat yang telah terjadi. Sepuluh temuan tersebut adalah pembunuhan, pemenjaraan, penyiksaan, perbudakan, penghilangan paksa, kekerasan seksual, pengasingan, propaganda, keterlibatan negara lain, dan genosida (IPT 65 2017)[5].

Pelanggaran yang direspon dalam cerpen “Terumbu Kepala”dan “Belulang Sunyi”, salah satunya, adalah genosida. Hal tersebut tersirat dalam ceritanya, yaitu  menemukan tumpukan tulang para korban. Namun, jumlah korban masih menjadi tanda tanya karena variasi angka-angka penelitian terkait jumlah korban terbunuh. Yang diangkat dalam cerita pendek ini adalah persoalan alasan peristiwa itu masih menjadi tanda tanya sampai saat ini. Dwi S Wibowo sebagai pencipta karya meletakkan dasar bahwa semua itu tidak lepas dari upaya untuk menyembunyikan korban-korban peristiwa ‘65. Berikut adalah kutipan cerita pendek “Terumbu Kepala”.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya seorang di antara mereka, mungkin komandannya.

“Kepala, Pak! Banyak kepala di bawah sana.” Antara takut dan gugup, ia menceritakan apa yang baru saja dilihatnya di dalam air.

Dengan ekspresi dingin, komandan itu menjawab, “Ya, kami sudah tahu.” tangannya segera meraih pistol di pinggang, dan…

Membaca cerita tersebut secara utuh akan membawa kesimpulan bahwa matinya nelayan dalam cerita itu disebabkan oleh ketakutan akan terbukanya rahasia yang sengaja disembunyikan. Hal serupa juga digambarkan dalam cerita pendek berjudul “Belulang Sunyi”. Berikut kutipan “Belulang Sunyi” yang menggambarkan bagaimana ancaman untuk tidak membuka persoalan terkait korban ‘65 yang penuh dengan tanda tanya itu.

“Jangan membuka luka lama,” bentak seorang dari mereka yang memakai penutup muka, “atau kamu akan memiliki luka baru!”

Sunardian ditodong kepalanya.

Semua kutipan di atas diambil dari kedua cerpen yang sama-sama mengangkat tema terkait peristiwa kelam ‘65. Membaca kedua cerita dalam kumpulan cerpen Khotbah tersebut seakan membaca tentang bagaimana peristiwa kelam ‘65 itu sengaja disembunyikan.

Dwi S Wibowo telah mengangkat isu sosial ke dalam cerpennya. Isu sosial yang diangkat ke dalam beberapa cerpen yang memiliki rentang waktu jauh sebelum ia lahir tentunya ditempa oleh literatur dan cerita yang didapatkannya. Bahan yang didapatkan tersebut sesuai dengan yang disampaikan Aristoteles: ketika meniru realita, sebenarnya seniman terlibat dalam proses kreatif. Maka dari itu, Dwi S Wibowo membubuhi karyanya dengan kreativitas tersendiri. Kreativitas tersebut merespons mengapa tragedi ‘65 masih menyisakan ragam tanda tanya. Kemudian sampailah pada persoalan bahwa korban terkait peristiwa ‘65 sengaja disembunyikan. Pertanyaannya adalah: siapa yang menyembunyikan?

Rujukan:

  • Darma, Budi. 2019. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
  • Purwadi. 2009. Pengkajian Sastra Jawa. Yogyakarta: Pura Pustaka.
  • Emzir, Rohman. 2016. Teori dan Pengajaran Sastra. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
  • Dikutip dari Liputan Khusus Tempo edisi 1-7 Oktober 2012.
  • Rahman, Fareza. 2018. Peran Internasional People’s Tribunal 1965 dalam Upaya Advokasi Korban Peristiwa 1965-1966 Indonesia. Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Vol. 7.
Tags: Bukuresensi buku
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

“Menanam Puisi di Emperan Matamu” – Melihat Esa Menanam Kata-Kata Tak Biasa

Next Post

Pasca Minikino Film Week 5: Bali International Short Film Festival Gelar Workshop dan Layar Tancap di Lombok

Ahmad Anif Alhaki

Ahmad Anif Alhaki

Biasa dipanggil Anif. Lahir di Sumatera Barat. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa di jurusan Penidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Tak tahu hobinya apa, tapi merasa senang menulis.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pasca Minikino Film Week 5: Bali International Short Film Festival Gelar Workshop dan Layar Tancap di Lombok

Pasca Minikino Film Week 5: Bali International Short Film Festival Gelar Workshop dan Layar Tancap di Lombok

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co