24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku dan Diriku

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
October 20, 2019
in Cerpen
Aku dan Diriku

Lukisan karya Komang Astiari

Cerpen Dian Ayu

Sore ini masih sama. Pantulan kaca menampilkan aku yang sedang asyik menyisir rambut. Perlahan. Helai demi helai. Persis seperti yang ibu lakukan biasanya.

“Shiva…!”

Aku menengok.

Seseorang masuk ke kamarku. Kulihat, tangan kanannya membawa tas belanja dan tangan kirinya membawa dompet hitam yang cukup lusuh.

”Kok kamu lama sekali, Sayang? Katanya mau ikut Ibu ke pasar buat masak nanti malam. Gak jadi?”

Aku memiringkan kepalaku dengan satu alis yang ikut terangkat. Apa yang dia bicarakan? Ibu? Pasar?

“Ibu, ini siapa? Aku ini Nina, bukan Shiva. Lagian siapa juga yang mau ke pasar? Ibu ini gila ya?!” Aku kesal. Aku juga bingung. Kenapa dia lancang sekali masuk ke rumahku? Dia ini siapa sebenarnya?

“Ya ampun, Shiva… Ibu mohon jangan lagi, Sayang.”

Ia mendekat ke arahku dengan gurat wajah yang sedikit khawatir. Matanya juga berkaca-kaca. Aku jelas was-was. Aku pun refleks berdiri untuk menjauh darinya. Sepertinya dia ini memang orang gila yang salah masuk ke rumahku. Apa-apaan juga terus memanggilku dengan nama Shiva?!

“Ini Ibu, Sayang. Ibumu. Ibu yang selalu menyisir rambutmu, memasakkan opor telur kesukaanmu, dan juga yang selalu menemanimu menanam bunga mawar di taman belakang. Ini ibu kamu. Ayo, kamu coba ingat ya, Sayang. Tolong kembali…!” ucapnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan, juga air mata yang perlahan menetes.

Menyisir rambut? Opor telur? Taman belakang? Dia ini sebenarnya kenapa? Demi apapun, aku benar-benar bingung. Aku mencoba berpikir dan sedikit mengingat-ingat. Ah. Tapi kenapa kepalaku mendadak menjadi sangat pusing?

*****

Aku terbangun dengan perut yang keroncongan. Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 8 pagi. Oh, ini langka. Biasanya ibu pasti sudah menggedor pintu kamarku kalau aku belum bangun pukul 7. Padahal menurutku, itu masih terlalu pagi kalau sedang musim libur begini. Hehe… mungkin ibu sedang dalam mood yang baik hari ini. Aku memutuskan bangun untuk mencuci muka dan langsung sarapan. Sungguh aku begitu lapar sekarang. Apa kemarin malam aku belum makan ya? Ah, aku lupa.

Kulihat tudung saji sudah terpasang epik di meja makan. Aku bergegas untuk mencuci mukaku dan akan segera menyantap masakan ibu. Aku benar-benar lapar!

“Bu…, Ibu di mana? Shiva lapar, Bu. Shiva udah gak kuat, rasanya mau mati karena kelaparan!” Hehehe… Aku terkikik geli karena mendramatisir ucapanku untuk menggoda ibu. Tapi sungguh, aku sudah sangat lapar. Apalagi kini aku lihat ada opor telur favoritku di meja makan. Kalau begini kan semakin lapar jadinya perutku. 

Cukup lama aku menunggu, sahutan ibu aku tidak dengar sama sekali. Di mana ibu? Apa di kamarnya? Ah, rasanya tidak mungkin. Pasti ibu sudah menyahut kalau sedang di kamarnya. Atau sedang di taman belakang? Hm, kupikir itu mungkin. Ibu pasti sedang mencabuti rumput liar yang mengganggu bunga mawarku. Makanya ibu tidak dengar. Aku pun bergegas menuju taman belakang. Mencari ibu untuk makan bersama. Rasanya tidak enak kalau makan sendiri. Kalau sama ibu kan ada teman mengobrol, apalagi kalau disuapi, nasiku berjuta kali akan terasa lebih nikmat sampai aku mau lagi dan lagi.

“Yah... Shiva kemarin kambuh lagi. Ibu takut, Yah. Takut kalau Shiva yang sebenarnya bakalan hilang. Coba Ayah dulu gak sekeras itu sama mimpi Shiva. Pasti gak bakal jadi kaya gini, Yah.Dia itu cuma mau jadi guru buat anak-anak. Tapi Ayah malah terlalu maksa dia buat ngikutin Ayah. Jadi dokter. Ayah juga sama sekali gak bisa kendaliin emosi Ayah. Selalu main pukul. Shiva perempuan, Yah. Seharusnya Ayah sadar. Ayah juga gak pernah dengar apa kata Ibu. Lihat kan, sekarang Shiva malah jadi kaya gini. Dia trauma. Dia terus terngiang-ngiang. Ibu gak tega. Ibu bener-bener takut, Yah. Ibu masih butuh Ayah buat bantu jaga anak kita.”

Suara ibu bergetar. Ibu menangis. Kulihat tangannya membawa foto ayah. Ibu sedang rindu ayah. Simpulku. Tapi, mendengar ibu bicara seperti itu membuat hatiku sesak. Ibu sedang takut akan penyakitku. Ibu sedang sedih karena aku. Ini semua karena aku. Aku buat ibu kecewa. Aku buat ibu menderita. Ini karena aku. Kuulangi lagi, ini karena aku. Aku dan selalu aku! Aku memang anak yang tidak bisa diandalkan. Tak bisa membuat orang tua ku bahagia walau dengan hal kecil sekali pun.

Aku terlalu memaksakan kehendakku untuk menjadi guru. Padahal ayah selalu ingin aku menjadi dokter sepertinya. Aku memang anak yang tak diharapkan. Makanya ayah selalu memukulku kan? Ayah juga sering menampar juga menjambak kapan pun aku membangkang. Ini bukan salah ayahku yang tempramental. Ini juga bukan salah ayahku yang ingin aku menjadi dokter.  Ini karena aku! Aku yang tak patuh. Aku yang tak mengerti apa kemauan ayah. Aku yang tak mengerti apa sebenarnya maksud ayah. Aku yang bodoh karena ego tinggi ku yang selalu ingin ku penuhi. Ini karena aku, aku, aku,aku dan selalu aku!

“Argh!” Kepalaku pusing. Mataku berkunang-kunang. Siapa wanita paruh baya yang sedang berjongkok dengan daster bunga-bunga itu? Kenapa juga aku ada di taman?

“Shiva?!”

Kulihat wanita itu terkejut melihatku. Kenapa dia memanggilku Shiva? Sedang apa sebenarnya dia d irumahku? Mengapa ia menangis? Ada begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku. Kepalaku semakin pusing. Sialan.

“Hei… Kamu kenapa Shiva? Kamu dengar omongan Ibu ya? Tolong Shiva, jangan dipikirkan ya.” Wanita itu gelagapan. Suaranya semakin bergetar tertahan. Air matanya semakin deras berjatuhan.

“Aku Fikri! Siapa kamu?! Kenapa bisa masuk kerumahku!” Aku menepis tangannya yang berusaha memegang wajahku. Lancang sekali wanita ini, pikirku.

”Sayang, kamu ini Shiva. Bukan Fikri. Dan juga ini Ibu, Shiva. Ibu kamu. Ibu mohon, jangan seperti ini lagi. Ibu takut. Shiva…”

”Argh! Banyak bicara! Sudah kubilang kan, aku ini Fikri! Bukan Shiva! Apa juga yang kamu katakan? Aku tak mengerti. Lebih baik kamu pergi sekarang juga!” Aku menuju kedalam rumah. Kepalaku sakit. Kupingku panas mendengar ocehan tak masuk akalnya.

“Tenang, Sayang, kamu harus tenang. Tolong jangan ingat-ingat tentang ayah lagi. Di sini ada Ibu, Sayang, Ibu janji akan menjagamu!”

“Cukup!” Aku menghentikan langkah wanita yang kini mengikutiku ke kamar. Sialan. Mendengar kata ayah membuat ingatanku semakin melayang-layang. Rasa sakit malah semakin terasa nyata. Tanda merah-merah kebiruan bekas pukulan ayah terus menghantuiku. Kepalaku semakin bertambah sakit. Mata ku panas entah mengapa ingin menangis.

“Shiva…”

“Pergi!” Aku mendorong bahunya kesal. Lalu berbalik lagi ke dalam kamar dan menuju lemari besar. Kubuka  laci sebelah kanan. Kuambil silet, lalu kusilang-silangkan di tanganku. Demi apapun, aku mohon hilangkan ingatan tentang rasa sakit dari ayahku. Aku tak sanggup lagi dengan semua ini.

“Aah… S-sakit…!”Aku menangis merasakan sakit pada tanganku. Aku juga menangis karena mengingat perlakuan ayah kepadaku. Aku hanya ingin dukungan. Bukannya penyiksaan seperti ini. Sakit. Sakit sekali. Sampai aku ingin mati. Aku tak kuat.

“Shiva! Berhenti!” Wanita itu menangis semakin menjadi sambil merampas silet ku dengan begitu cepat. Ia membuangnya, lalu memelukku dengan begitu erat.

“Arg !  Apa yang kau lakukan!” Aku mendorongnya kasar. Melempar semua benda yang ada d idekatku untuk menghilangkan rasa sakit juga ingatan-ingatan sialan yang selalu menggangguku.

“Shiva! Kamu harus dengar Ibu! Cukup!” Ia susah payah berdiri lalu memelukku lagi. Aku berontak. Memukul-mukul tubuhnya yang semakin mengeratkan pelukannya.

“Hei… dengar Ibu. Kamu di sini sudah aman. Semua sayang sama kamu. Gak ada lagi yang menghalangi mimpimu. Tolong. Kamu harus kuat Shiva. Jangan kalah sama pikiranmu. Ibu sayang kamu… Sayang sekali, Shiva.”

Ia terus memeluk ku erat sambil mengusap lembut rambutku. Hangat. Nyaman. Namun Kepalaku terus bertambah sakit. Kaki ku melemas. Mataku juga semakin berat ingin tertutup.

*****

“Iya. Dok, akhir-akhir ini Shiva memang sering kambuh lagi. Kemarin sama persis seperti dua bulan lalu yang ia menyayat tangannya dengan silet. Saya tidak tega terus melihat anak saya seperti ini. Bagaimana cara menyembuhkannya, Dok? Tolong saya, Dok. Saya mohon.”

“Maaf, Bu Natya, Dissociative Identity Disorder ini memang tidak bisa disembuhkan, Bu. Hanya bisa diterapi untuk meminamilisir kemungkinan pasien kambuh. Selain terapi, Ibu Natya harus lebih memperhatikannya lagi, Bu. Jangan sampai ia berada dalam keadaan tertekan ataupun melihat keadaan yang mengingatkannya dengan kejadian yang membuatnya trauma. Kalau dia teringat lagi akan kenangan buruk yang sudah terjadi sebelumnya, itulah yang akan menyebabkan kepribadian lainnya muncul. Ini merupakan respon otak sebagai mekanisme pertahanan diri. Jadi saya sarankan, Ibu harus lebih berhati-hati menjaga Shiva agar kemungkinan ia untuk mengingat kejadian dahulu itu tidak terjadi.”

Air mataku merembes jatuh mendengar perbincangan Ibu dengan Dokter Sani, teman Ayah yang sering mengobatiku. Kulihat tangan kiriku yang terdapat bekas sayatan silet. Aku pasti kambuh lagi. Aku pasti menyakiti Ibu lagi. Air mataku semakin mengalir. Jujur saja aku lelah dalam keadaan seperti ini. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Aku yang asli. Bukannya aku yang selalu berganti-ganti pribadi karena terperangkap oleh masa lalu.  [T]

Tags: Cerpen
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Seni Pelajar Jembrana, Ekspresi Anak Muda Negaroa

Next Post

TAWON

Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari

Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
RIPUH

TAWON

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co