23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku dan Diriku

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
October 20, 2019
in Cerpen
Aku dan Diriku

Lukisan karya Komang Astiari

Cerpen Dian Ayu

Sore ini masih sama. Pantulan kaca menampilkan aku yang sedang asyik menyisir rambut. Perlahan. Helai demi helai. Persis seperti yang ibu lakukan biasanya.

“Shiva…!”

Aku menengok.

Seseorang masuk ke kamarku. Kulihat, tangan kanannya membawa tas belanja dan tangan kirinya membawa dompet hitam yang cukup lusuh.

”Kok kamu lama sekali, Sayang? Katanya mau ikut Ibu ke pasar buat masak nanti malam. Gak jadi?”

Aku memiringkan kepalaku dengan satu alis yang ikut terangkat. Apa yang dia bicarakan? Ibu? Pasar?

“Ibu, ini siapa? Aku ini Nina, bukan Shiva. Lagian siapa juga yang mau ke pasar? Ibu ini gila ya?!” Aku kesal. Aku juga bingung. Kenapa dia lancang sekali masuk ke rumahku? Dia ini siapa sebenarnya?

“Ya ampun, Shiva… Ibu mohon jangan lagi, Sayang.”

Ia mendekat ke arahku dengan gurat wajah yang sedikit khawatir. Matanya juga berkaca-kaca. Aku jelas was-was. Aku pun refleks berdiri untuk menjauh darinya. Sepertinya dia ini memang orang gila yang salah masuk ke rumahku. Apa-apaan juga terus memanggilku dengan nama Shiva?!

“Ini Ibu, Sayang. Ibumu. Ibu yang selalu menyisir rambutmu, memasakkan opor telur kesukaanmu, dan juga yang selalu menemanimu menanam bunga mawar di taman belakang. Ini ibu kamu. Ayo, kamu coba ingat ya, Sayang. Tolong kembali…!” ucapnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan, juga air mata yang perlahan menetes.

Menyisir rambut? Opor telur? Taman belakang? Dia ini sebenarnya kenapa? Demi apapun, aku benar-benar bingung. Aku mencoba berpikir dan sedikit mengingat-ingat. Ah. Tapi kenapa kepalaku mendadak menjadi sangat pusing?

*****

Aku terbangun dengan perut yang keroncongan. Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 8 pagi. Oh, ini langka. Biasanya ibu pasti sudah menggedor pintu kamarku kalau aku belum bangun pukul 7. Padahal menurutku, itu masih terlalu pagi kalau sedang musim libur begini. Hehe… mungkin ibu sedang dalam mood yang baik hari ini. Aku memutuskan bangun untuk mencuci muka dan langsung sarapan. Sungguh aku begitu lapar sekarang. Apa kemarin malam aku belum makan ya? Ah, aku lupa.

Kulihat tudung saji sudah terpasang epik di meja makan. Aku bergegas untuk mencuci mukaku dan akan segera menyantap masakan ibu. Aku benar-benar lapar!

“Bu…, Ibu di mana? Shiva lapar, Bu. Shiva udah gak kuat, rasanya mau mati karena kelaparan!” Hehehe… Aku terkikik geli karena mendramatisir ucapanku untuk menggoda ibu. Tapi sungguh, aku sudah sangat lapar. Apalagi kini aku lihat ada opor telur favoritku di meja makan. Kalau begini kan semakin lapar jadinya perutku. 

Cukup lama aku menunggu, sahutan ibu aku tidak dengar sama sekali. Di mana ibu? Apa di kamarnya? Ah, rasanya tidak mungkin. Pasti ibu sudah menyahut kalau sedang di kamarnya. Atau sedang di taman belakang? Hm, kupikir itu mungkin. Ibu pasti sedang mencabuti rumput liar yang mengganggu bunga mawarku. Makanya ibu tidak dengar. Aku pun bergegas menuju taman belakang. Mencari ibu untuk makan bersama. Rasanya tidak enak kalau makan sendiri. Kalau sama ibu kan ada teman mengobrol, apalagi kalau disuapi, nasiku berjuta kali akan terasa lebih nikmat sampai aku mau lagi dan lagi.

“Yah... Shiva kemarin kambuh lagi. Ibu takut, Yah. Takut kalau Shiva yang sebenarnya bakalan hilang. Coba Ayah dulu gak sekeras itu sama mimpi Shiva. Pasti gak bakal jadi kaya gini, Yah.Dia itu cuma mau jadi guru buat anak-anak. Tapi Ayah malah terlalu maksa dia buat ngikutin Ayah. Jadi dokter. Ayah juga sama sekali gak bisa kendaliin emosi Ayah. Selalu main pukul. Shiva perempuan, Yah. Seharusnya Ayah sadar. Ayah juga gak pernah dengar apa kata Ibu. Lihat kan, sekarang Shiva malah jadi kaya gini. Dia trauma. Dia terus terngiang-ngiang. Ibu gak tega. Ibu bener-bener takut, Yah. Ibu masih butuh Ayah buat bantu jaga anak kita.”

Suara ibu bergetar. Ibu menangis. Kulihat tangannya membawa foto ayah. Ibu sedang rindu ayah. Simpulku. Tapi, mendengar ibu bicara seperti itu membuat hatiku sesak. Ibu sedang takut akan penyakitku. Ibu sedang sedih karena aku. Ini semua karena aku. Aku buat ibu kecewa. Aku buat ibu menderita. Ini karena aku. Kuulangi lagi, ini karena aku. Aku dan selalu aku! Aku memang anak yang tidak bisa diandalkan. Tak bisa membuat orang tua ku bahagia walau dengan hal kecil sekali pun.

Aku terlalu memaksakan kehendakku untuk menjadi guru. Padahal ayah selalu ingin aku menjadi dokter sepertinya. Aku memang anak yang tak diharapkan. Makanya ayah selalu memukulku kan? Ayah juga sering menampar juga menjambak kapan pun aku membangkang. Ini bukan salah ayahku yang tempramental. Ini juga bukan salah ayahku yang ingin aku menjadi dokter.  Ini karena aku! Aku yang tak patuh. Aku yang tak mengerti apa kemauan ayah. Aku yang tak mengerti apa sebenarnya maksud ayah. Aku yang bodoh karena ego tinggi ku yang selalu ingin ku penuhi. Ini karena aku, aku, aku,aku dan selalu aku!

“Argh!” Kepalaku pusing. Mataku berkunang-kunang. Siapa wanita paruh baya yang sedang berjongkok dengan daster bunga-bunga itu? Kenapa juga aku ada di taman?

“Shiva?!”

Kulihat wanita itu terkejut melihatku. Kenapa dia memanggilku Shiva? Sedang apa sebenarnya dia d irumahku? Mengapa ia menangis? Ada begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku. Kepalaku semakin pusing. Sialan.

“Hei… Kamu kenapa Shiva? Kamu dengar omongan Ibu ya? Tolong Shiva, jangan dipikirkan ya.” Wanita itu gelagapan. Suaranya semakin bergetar tertahan. Air matanya semakin deras berjatuhan.

“Aku Fikri! Siapa kamu?! Kenapa bisa masuk kerumahku!” Aku menepis tangannya yang berusaha memegang wajahku. Lancang sekali wanita ini, pikirku.

”Sayang, kamu ini Shiva. Bukan Fikri. Dan juga ini Ibu, Shiva. Ibu kamu. Ibu mohon, jangan seperti ini lagi. Ibu takut. Shiva…”

”Argh! Banyak bicara! Sudah kubilang kan, aku ini Fikri! Bukan Shiva! Apa juga yang kamu katakan? Aku tak mengerti. Lebih baik kamu pergi sekarang juga!” Aku menuju kedalam rumah. Kepalaku sakit. Kupingku panas mendengar ocehan tak masuk akalnya.

“Tenang, Sayang, kamu harus tenang. Tolong jangan ingat-ingat tentang ayah lagi. Di sini ada Ibu, Sayang, Ibu janji akan menjagamu!”

“Cukup!” Aku menghentikan langkah wanita yang kini mengikutiku ke kamar. Sialan. Mendengar kata ayah membuat ingatanku semakin melayang-layang. Rasa sakit malah semakin terasa nyata. Tanda merah-merah kebiruan bekas pukulan ayah terus menghantuiku. Kepalaku semakin bertambah sakit. Mata ku panas entah mengapa ingin menangis.

“Shiva…”

“Pergi!” Aku mendorong bahunya kesal. Lalu berbalik lagi ke dalam kamar dan menuju lemari besar. Kubuka  laci sebelah kanan. Kuambil silet, lalu kusilang-silangkan di tanganku. Demi apapun, aku mohon hilangkan ingatan tentang rasa sakit dari ayahku. Aku tak sanggup lagi dengan semua ini.

“Aah… S-sakit…!”Aku menangis merasakan sakit pada tanganku. Aku juga menangis karena mengingat perlakuan ayah kepadaku. Aku hanya ingin dukungan. Bukannya penyiksaan seperti ini. Sakit. Sakit sekali. Sampai aku ingin mati. Aku tak kuat.

“Shiva! Berhenti!” Wanita itu menangis semakin menjadi sambil merampas silet ku dengan begitu cepat. Ia membuangnya, lalu memelukku dengan begitu erat.

“Arg !  Apa yang kau lakukan!” Aku mendorongnya kasar. Melempar semua benda yang ada d idekatku untuk menghilangkan rasa sakit juga ingatan-ingatan sialan yang selalu menggangguku.

“Shiva! Kamu harus dengar Ibu! Cukup!” Ia susah payah berdiri lalu memelukku lagi. Aku berontak. Memukul-mukul tubuhnya yang semakin mengeratkan pelukannya.

“Hei… dengar Ibu. Kamu di sini sudah aman. Semua sayang sama kamu. Gak ada lagi yang menghalangi mimpimu. Tolong. Kamu harus kuat Shiva. Jangan kalah sama pikiranmu. Ibu sayang kamu… Sayang sekali, Shiva.”

Ia terus memeluk ku erat sambil mengusap lembut rambutku. Hangat. Nyaman. Namun Kepalaku terus bertambah sakit. Kaki ku melemas. Mataku juga semakin berat ingin tertutup.

*****

“Iya. Dok, akhir-akhir ini Shiva memang sering kambuh lagi. Kemarin sama persis seperti dua bulan lalu yang ia menyayat tangannya dengan silet. Saya tidak tega terus melihat anak saya seperti ini. Bagaimana cara menyembuhkannya, Dok? Tolong saya, Dok. Saya mohon.”

“Maaf, Bu Natya, Dissociative Identity Disorder ini memang tidak bisa disembuhkan, Bu. Hanya bisa diterapi untuk meminamilisir kemungkinan pasien kambuh. Selain terapi, Ibu Natya harus lebih memperhatikannya lagi, Bu. Jangan sampai ia berada dalam keadaan tertekan ataupun melihat keadaan yang mengingatkannya dengan kejadian yang membuatnya trauma. Kalau dia teringat lagi akan kenangan buruk yang sudah terjadi sebelumnya, itulah yang akan menyebabkan kepribadian lainnya muncul. Ini merupakan respon otak sebagai mekanisme pertahanan diri. Jadi saya sarankan, Ibu harus lebih berhati-hati menjaga Shiva agar kemungkinan ia untuk mengingat kejadian dahulu itu tidak terjadi.”

Air mataku merembes jatuh mendengar perbincangan Ibu dengan Dokter Sani, teman Ayah yang sering mengobatiku. Kulihat tangan kiriku yang terdapat bekas sayatan silet. Aku pasti kambuh lagi. Aku pasti menyakiti Ibu lagi. Air mataku semakin mengalir. Jujur saja aku lelah dalam keadaan seperti ini. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Aku yang asli. Bukannya aku yang selalu berganti-ganti pribadi karena terperangkap oleh masa lalu.  [T]

Tags: Cerpen
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Seni Pelajar Jembrana, Ekspresi Anak Muda Negaroa

Next Post

TAWON

Dian Ayu Lestari

Dian Ayu Lestari

Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
RIPUH

TAWON

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co