24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota #2 – [Catatan dari Cirebon]

Andri Wikono by Andri Wikono
August 15, 2019
in Esai
Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota #2 – [Catatan dari Cirebon]

Salah satu sudut Kota Cirebon (Foto: Instagram @ cirebonbribin

Gedung-gedung dan kepala menghambur dalam senja

Mengurai dan layung-layung membara di langit barat daya

O, kota kekasih

Tekankan aku pada pusat hatimu

Di tengah kesibukanmu dan penderitaanmu

(Ibu Kota Senja, Toto S. Bachtiar: 1951)

____

Lakon Baridin-Ratminah menuju akhir. Kemat Jaran Goyang, manjur. Tirakat Baridin, tak sia-sia. Ratminah yang sudah kusut-masai pun terkatung-katung mencari dan ingin menikah dengan Baridin. Tapi saya melihat sakit hati itu masih kental pada diri Bairidin. Cintanya yang sempat ditolak secara hina oleh Ratminah, membuatnya rela menanggung keletihan purba atas puasa yang tak kunjung dituntaskan, meski kini ia bisa kapan saja memiliki Ratminah. Namun, barangkali, cinta bukan lagi pembebasan, melainkan penghancuran. Ratminah menjadi gila, dan pergi dari hidup yang ambruk. Sedang mata Baridin pun memutih, melepaskan nafasnya yang berat, dari hidup yang tak dimengerti. Keduanya tak bisa menyatu.

Tak lama, pentas Baridin-Ratminah pun usai. Orang-orang yang tak sempat memberi sawer pun menyodorkan lembaran uang atau setengah kilo beras kepada para aktor. Bi Taswen dan teman-temanya, selaku aktor dan pengiring musik itu, bersiap untuk keliling lagi: berjalan kaki. Di sepanjang jalan, mereka melagu—sebuah pemandangan syahdu yang tak kita temukan pada konsep jalan kota ala Le Corbusier. Ya, jalan yang tak punya ruang untuk pedestrian itu.

Lantaran tak memiliki trotoar di satu atau dua sisinya, konsep jalan kota ala Le Corbusier pun terang saja tak mengandung nalar interaksi dan komunikasi. Jalan kota tersebut sepenuhnya berangkat dari nalar percepatan. Ia bukanlah jalan yang terbuka kepada pelbagai konsensus. Bukanlah ruang yang longgar bagi diskursus. Sebab ia merupakan konsep jalan yang menangkis segala macam pusparagam wacana, dan karenanya hanya mengusung satu wacana tunggal, yakni efektivitas dan efesiensi laju transportasi. Dari sini kita melihat, jalan kota ala Le Corbusier bukanlah ruang demokrasi, tetapi ruang autokrasi. Si autokrat itu bernama “jalan raya”.

Tentu saja dalam ruang autokrasi, jalan menjadi tak ramah sebagai “tempat singgah”, tak layak sebagai “pasar”, dan tak pantas sebagi “rumah”. Jalan kota pun, akhirnya, bagaikan lokus tubuh outometic robot: yang tak bisa kompromi kepada penawaran-penawaran, yang menampik segala kemungkinan-kemungkinan, yang steril akan keganjilan-keganjilan. Jalan pun jelas tidak plastis: kita tak bisa berpindah-pindah antara ruang privat dan publik, karena si jalan hanya mewajibkan kita (pengguna jalan) untuk lekas-lekas melintas. Pun, pada kenyataannya, jalan ini hanya mengandung ruang privat. Di dalam ruang privat tersebut, orang-orang hanya boleh melihat dirinya sendiri: inilah konsep jalan yang menggiring orang-orang untuk berkaca dan terpukau pada wajahnya sendiri—jalan “Narcissus”. Itulah jalan yang, praktis, sepenuhnya merupakan lajur terlarang untuk berhenti dan berbagi.

Jalan kota ini seakan menegaskan bahwa manusia mesti menanggung “semuanya” sendirian. Manusia tak boleh berbagi dengan sesamanya. Manusia tak boleh berbagi duka dengan sesamanya. Manusia tak boleh berbagi suka dengan sesamanya. Manusia tak boleh memberitahu harapan-harapan kepada sesamanya. Manusia tak boleh memberitahu kekandasan-kekandasan kepada sesamanya. Manusia tak boleh menyatakan cinta kepada sesamanya. Manusia tak boleh menyatakan tak cinta kepada sesamanya. Ketahuilah, bahwa semua ini dapat menghambat laju transportasi. Pada konsep jalan ini, kita tak boleh percaya bahwa manusia itu mahluk sosial.

Lebih lagi, barangkali, oleh jalan Le Corbusier, kita jauh lebih tak boleh meyakini bahwa manusia itu mahluk ekologis: mahluk (manusia) yang bergantung juga pada alam—sebab tak ada daun-daun merimbun di jalan kota itu, tak ada tangkai-tangkai yang memayungi jalan raya itu, dan percayalah, tak ada rumput yang bisa hidup lama dan hijau segar di sana. Mungkin saja, sehelai daun tua atau setangkai ranting renta yang mbluruk di jalan kota tersebut, dapat menghambat laju kendaraan. Hmm, betapa ini jalan, sungguh antroposentris-individualis; suatu watak yang (jika tak terkontrol atau kelewat batas) dapat bergerak menuju jurang paling berbahaya yakni, alienasi—simtom frustrasi yang berujung pada ke-chaos-an hidup, sebagai pribadi atau bahkan massa: di sini, kehidupan bagai terkocok dalam botol cuka.

Tentu saja tak serta-merta jalan kota ini mendorong para remaja kota bergabung atau membentuk geng motor yang suka merampok tahu gejrot atau tjampolay, misalnya. Jalan kota pun tak serta-merta menginisiasi orang untuk menubrukkan diri ke mobil pengangkut sampah. Jalan kota tak serta-merta menerbitkan ide pada seseorang untuk menenggak bensin. Jalan kota tak serta-merta menginspirasi seseorang untuk melakukan serangkaian kejahatan atau apa yang dianggap jahat, tak serta-merta menciptakan seseorang untuk bertindak brutal atau apa yang dianggap brutal. Jalan kota tak serta-merta melahirkan seseorang skizofrenik maupun masokhis. Juga, oleh karena jalan kota, tak serta-merta membuat orang mengurung diri seharian di kamar mandi dengan keran yang mengguyuri kepalanya seraya teriak-teriak: homo homini lupus! homo homini lupus! homo homini lupus!

Kita mafhum, bahwa ada kompleksitas di belakang tiap-tiap tindakan “abnormal” di atas. Kita boleh mengurai sebab-sebab atas tindakan-tindakan tersebut yang, anggaplah sebuah “kejahatan” (terhadap diri sendiri atau orang lain), dengan melintasi sejumlah pisau analisis model demonologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi, hingga biologi. Kita patut curiga bahwa muskil-lah “kejahatan” itu terjadi hanya karena konsep ruang jalan kota. Itu maya. Namun, bukankah sesuatu yang maya pun akan nyata bila tak pernah direnungkan?

Tapi juga, bukankah kejahatan pun tidak merupakan sesuatu yang datang dari planet terjauh, atau lahir dari ruang-ruang hampa? Jadi, andai bukan sebab utama dan besar, dan lebih pantas sebagai suatu sebab yang renik tak kasat mata, konsep ruang jalan kota yang “dingin tak peduli” itu tetaplah dasar pijakan yang, mungkin rapuh, mungkin juga rawan—tapi ada. Bagaimana pun juga, kulit kita akan kepanasan jika tersengat matahari di siang hari, misalnya, dan bahkan bisa saja hati pun ikut resah karena hawa gerah. Itu berarti, tata kota, atau tata jalan, sedikit-banyak memengaruhi tubuh dan jiwa kita.

Tak ada pentas Baridin-Ratminah di jalan kota jenis ini. Pentas Baridin-Ratminah terjadi hanya jika pada ruang yang mengandung kolektivitas dan intimitas yang kuat. Sementara jalan kota ala Le Corbusier, tak punya dua hal tersebut; ia jalan individual yang dituntut untuk bergerak cepat. Satu pengecualian: jika jalan tersebut mengadopsi trotoar.

Kita tahu, trotoar, yang memiliki nalar interaksi-komunikasi, bertentangan dengan nalar jalan kota di dekatnya. Namun keduanya bisa hidup berdampingan, ibarat dua sisi yang berlainan dalam satu “koin” yang sama. Ruang bagi pedestrian, setidaknya berusaha menekan ketergesahan jalan kota. Ia bisa menjadi feminimitas di samping maskulinitas jalan kota, menjadi yin bagi yang jalan kota. Trotoar menawarkan ruang intimitas di dekat jalan kota yang serba berlalu. Trotoar menawarkan ruang demokrasi di samping jalan kota yang autokrasi itu. Dengan begitu, trotoar adalah ikhtiar merawat kemanusiaan manusia, atau justru memperkembangkannya. 

Di Kota Cirebon, di sepanjang jalan protokol, misalnya di Jl. Cipto Mangunkusumo, Jl. Kesambi, atau Jl. Kartini, Bi Taswen dan teman-temannya masih belum hadir. Kota Cirebon memang bukan penganut Le Corbusier, karena kita tahu bahwa kota ini punya trotoar. Masalahnya, trotoar itu masih belum maksimal. Pancangan berupa tiang-tiang listrik, tegalan pohon, bongkahan batu, halte yang kurang menarik dan kadang karatan, baliho-baliho Parpol, gerobak pedagang kaki lima, bahkan warung semi permanen, memadati trotoar yang seukuran duri ikan bandeng, yang tingginya semata kaki, yang permukaannya lebih sering bopeng; terasa gersang-berlepotan-debu di tengah knalpot yang sesekali menyemburkan asap hitam bagai “kentut” cumi-cumi.

Trotoar itu ada, namun belum ramah dan membuat siapa pun nyaman di sana, apalagi bagi disabilitas. Ia belum merupakan trotoar yang dianggap rumah bagi orang-orang yang terusir dan melata. Ia belum matang sebagai trotoar yang menggugah para seniman jalan raya. Ia belum penuh inspirasi para sastrawan. Ia belum menjelma trotoar yang membuat sebuah kota menjadi—menukil selarik puisi Remy Sylado (?)—“kota yang bernyanyi”. Membayangkan trotoar yang maksimal, adalah mengimajinasikan bahwa para musafir yang datang, tidak takut tersesat di kota ini. Di situ, kota telah dianggap rumah. Rasanya, tidak mungkin kita takut tersesat di rumah sendiri.

Melihat kenyataan fungsi trotoar di jalan protokol Kota Cirebon yang belum maksimal, izinkan saya untuk menganggap  jalanan Kota Cirebon itu telah condong pada konsep jalan Le Corbusier. Sehingga potensi ke-chaos-an yang dikandung dalam konsep jalan Le Corbusier, dimiliki pula oleh jalan-jalan di Kota Cirebon. Mungkin potensi tersebut setengahnya lah.

Namun saya tak bakal menunggu datangnya trotoar ideal itu di Kota Cirebon. Saya putuskan untuk mendahuluinya dengan berjalan di atas trotoar yang tak sempurna di sana. Saya berusaha mencerap jiwa kota ini, mengenal kembali masa lalu, masa kini, dan masa depan yang ada padanya dalam setiap langkah. Bunyi-bunyi klakson yang nyaring dan bersahutan, udara kotor yang berkelindan, serta risiko kecelakaan yang mengintai, akan saya terima. Bawalah saya pada kejadian-kejadian yang mungkin aneh, lucu, atau menyedihkan yang ada pada kota ini. Bawalah saya pada percakapan-percakapan yang spontan atau intim pada setiap tikungan. Bawalah saya pada grafiti-grafiti yang lekat di sebagian dinding-dinding kota.


BACA JUGA:

  • Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota – [Catatan dari Cirebon]

Saya akan berjalan kaki, dan ke luar dari kaca helm atau jendela mobil. Dengan berjalan kaki, saya ingin tahu wajah-wajah orang di dalam kota ini secara langsung. Saya ingin tahu keringat yang membasahi punggung tukang becak. Saya ingin merasakan peluh para pekerja yang pulang ketika senja. Saya ingin memahami tiap beban derita yang dialami oleh orang-orang di dalamnya. Saya ingin berusaha mengenal harapan orang-orang di sana.

Semoga saja dengan sesekali berjalan kaki di trotoar yang tak sempurna milik kota ini, saya diyakinkan, bahwa seperti dalam cerpen Di Ujung karya Nukila Amal: dalam gang-gang kota yang kumuh sekalipun, ternyata ada sehelai daun yang menampung sebutir embun bercahaya—masih ada kemanusiaan di sana. Lalu, dengan perasaan tenang dan mata berbinar, kita pun berbisik, “Semua akan baik-baik saja.”

Saya pun akan berjalan agar bisa menikmati Baridin-Ratminah, tidak di jalan kota memang, tapi mungkin di bioskop, dalam bentuk film, atau di sebuah latar yang lengang di dalam mall. Saya pun bisa menikmatinya lewat CD, radio, atau video di youtube. Tapi barangkali, suatu saat, perasaan rindu akan lakon Baridin-Ratminah yang dipentaskan di jalan, seperti di jalan kampung, tumbuh juga. Ketika itu saya tidak tahu, apa grup semacam Bi Taswen dan kawan-kawannya masih ada. [T]

Tags: Baridin-RatminahCirebonkebudayaanKota
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Statistik, Napasnya Sang Ekonom

Next Post

Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Andri Wikono

Andri Wikono

Terlahir di Indramayu. Lulusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia ini merupakan pegiat salah satu komunitas sastra di Cirebon, Senja Sastra. Menulis puisi, cerpen, dan esai di media massa dan antologi bersama. Terakhir kali, cerpennya yang bejudul Menunggang Burok, Kami Tinggalkan Hutan untuk Terakhir Kali, masuk dalam antologi 50 Cerpen Tani yang diadakan Panitia Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional Festival Tjimanoek 2018 dan dengan juri Linda Christanty, Afrizal Malna, dan Kedung Darma Romansha.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah - [Spesial 17 Agustus-an]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co