25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota #2 – [Catatan dari Cirebon]

Andri Wikono by Andri Wikono
August 15, 2019
in Esai
Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota #2 – [Catatan dari Cirebon]

Salah satu sudut Kota Cirebon (Foto: Instagram @ cirebonbribin

Gedung-gedung dan kepala menghambur dalam senja

Mengurai dan layung-layung membara di langit barat daya

O, kota kekasih

Tekankan aku pada pusat hatimu

Di tengah kesibukanmu dan penderitaanmu

(Ibu Kota Senja, Toto S. Bachtiar: 1951)

____

Lakon Baridin-Ratminah menuju akhir. Kemat Jaran Goyang, manjur. Tirakat Baridin, tak sia-sia. Ratminah yang sudah kusut-masai pun terkatung-katung mencari dan ingin menikah dengan Baridin. Tapi saya melihat sakit hati itu masih kental pada diri Bairidin. Cintanya yang sempat ditolak secara hina oleh Ratminah, membuatnya rela menanggung keletihan purba atas puasa yang tak kunjung dituntaskan, meski kini ia bisa kapan saja memiliki Ratminah. Namun, barangkali, cinta bukan lagi pembebasan, melainkan penghancuran. Ratminah menjadi gila, dan pergi dari hidup yang ambruk. Sedang mata Baridin pun memutih, melepaskan nafasnya yang berat, dari hidup yang tak dimengerti. Keduanya tak bisa menyatu.

Tak lama, pentas Baridin-Ratminah pun usai. Orang-orang yang tak sempat memberi sawer pun menyodorkan lembaran uang atau setengah kilo beras kepada para aktor. Bi Taswen dan teman-temanya, selaku aktor dan pengiring musik itu, bersiap untuk keliling lagi: berjalan kaki. Di sepanjang jalan, mereka melagu—sebuah pemandangan syahdu yang tak kita temukan pada konsep jalan kota ala Le Corbusier. Ya, jalan yang tak punya ruang untuk pedestrian itu.

Lantaran tak memiliki trotoar di satu atau dua sisinya, konsep jalan kota ala Le Corbusier pun terang saja tak mengandung nalar interaksi dan komunikasi. Jalan kota tersebut sepenuhnya berangkat dari nalar percepatan. Ia bukanlah jalan yang terbuka kepada pelbagai konsensus. Bukanlah ruang yang longgar bagi diskursus. Sebab ia merupakan konsep jalan yang menangkis segala macam pusparagam wacana, dan karenanya hanya mengusung satu wacana tunggal, yakni efektivitas dan efesiensi laju transportasi. Dari sini kita melihat, jalan kota ala Le Corbusier bukanlah ruang demokrasi, tetapi ruang autokrasi. Si autokrat itu bernama “jalan raya”.

Tentu saja dalam ruang autokrasi, jalan menjadi tak ramah sebagai “tempat singgah”, tak layak sebagai “pasar”, dan tak pantas sebagi “rumah”. Jalan kota pun, akhirnya, bagaikan lokus tubuh outometic robot: yang tak bisa kompromi kepada penawaran-penawaran, yang menampik segala kemungkinan-kemungkinan, yang steril akan keganjilan-keganjilan. Jalan pun jelas tidak plastis: kita tak bisa berpindah-pindah antara ruang privat dan publik, karena si jalan hanya mewajibkan kita (pengguna jalan) untuk lekas-lekas melintas. Pun, pada kenyataannya, jalan ini hanya mengandung ruang privat. Di dalam ruang privat tersebut, orang-orang hanya boleh melihat dirinya sendiri: inilah konsep jalan yang menggiring orang-orang untuk berkaca dan terpukau pada wajahnya sendiri—jalan “Narcissus”. Itulah jalan yang, praktis, sepenuhnya merupakan lajur terlarang untuk berhenti dan berbagi.

Jalan kota ini seakan menegaskan bahwa manusia mesti menanggung “semuanya” sendirian. Manusia tak boleh berbagi dengan sesamanya. Manusia tak boleh berbagi duka dengan sesamanya. Manusia tak boleh berbagi suka dengan sesamanya. Manusia tak boleh memberitahu harapan-harapan kepada sesamanya. Manusia tak boleh memberitahu kekandasan-kekandasan kepada sesamanya. Manusia tak boleh menyatakan cinta kepada sesamanya. Manusia tak boleh menyatakan tak cinta kepada sesamanya. Ketahuilah, bahwa semua ini dapat menghambat laju transportasi. Pada konsep jalan ini, kita tak boleh percaya bahwa manusia itu mahluk sosial.

Lebih lagi, barangkali, oleh jalan Le Corbusier, kita jauh lebih tak boleh meyakini bahwa manusia itu mahluk ekologis: mahluk (manusia) yang bergantung juga pada alam—sebab tak ada daun-daun merimbun di jalan kota itu, tak ada tangkai-tangkai yang memayungi jalan raya itu, dan percayalah, tak ada rumput yang bisa hidup lama dan hijau segar di sana. Mungkin saja, sehelai daun tua atau setangkai ranting renta yang mbluruk di jalan kota tersebut, dapat menghambat laju kendaraan. Hmm, betapa ini jalan, sungguh antroposentris-individualis; suatu watak yang (jika tak terkontrol atau kelewat batas) dapat bergerak menuju jurang paling berbahaya yakni, alienasi—simtom frustrasi yang berujung pada ke-chaos-an hidup, sebagai pribadi atau bahkan massa: di sini, kehidupan bagai terkocok dalam botol cuka.

Tentu saja tak serta-merta jalan kota ini mendorong para remaja kota bergabung atau membentuk geng motor yang suka merampok tahu gejrot atau tjampolay, misalnya. Jalan kota pun tak serta-merta menginisiasi orang untuk menubrukkan diri ke mobil pengangkut sampah. Jalan kota tak serta-merta menerbitkan ide pada seseorang untuk menenggak bensin. Jalan kota tak serta-merta menginspirasi seseorang untuk melakukan serangkaian kejahatan atau apa yang dianggap jahat, tak serta-merta menciptakan seseorang untuk bertindak brutal atau apa yang dianggap brutal. Jalan kota tak serta-merta melahirkan seseorang skizofrenik maupun masokhis. Juga, oleh karena jalan kota, tak serta-merta membuat orang mengurung diri seharian di kamar mandi dengan keran yang mengguyuri kepalanya seraya teriak-teriak: homo homini lupus! homo homini lupus! homo homini lupus!

Kita mafhum, bahwa ada kompleksitas di belakang tiap-tiap tindakan “abnormal” di atas. Kita boleh mengurai sebab-sebab atas tindakan-tindakan tersebut yang, anggaplah sebuah “kejahatan” (terhadap diri sendiri atau orang lain), dengan melintasi sejumlah pisau analisis model demonologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi, hingga biologi. Kita patut curiga bahwa muskil-lah “kejahatan” itu terjadi hanya karena konsep ruang jalan kota. Itu maya. Namun, bukankah sesuatu yang maya pun akan nyata bila tak pernah direnungkan?

Tapi juga, bukankah kejahatan pun tidak merupakan sesuatu yang datang dari planet terjauh, atau lahir dari ruang-ruang hampa? Jadi, andai bukan sebab utama dan besar, dan lebih pantas sebagai suatu sebab yang renik tak kasat mata, konsep ruang jalan kota yang “dingin tak peduli” itu tetaplah dasar pijakan yang, mungkin rapuh, mungkin juga rawan—tapi ada. Bagaimana pun juga, kulit kita akan kepanasan jika tersengat matahari di siang hari, misalnya, dan bahkan bisa saja hati pun ikut resah karena hawa gerah. Itu berarti, tata kota, atau tata jalan, sedikit-banyak memengaruhi tubuh dan jiwa kita.

Tak ada pentas Baridin-Ratminah di jalan kota jenis ini. Pentas Baridin-Ratminah terjadi hanya jika pada ruang yang mengandung kolektivitas dan intimitas yang kuat. Sementara jalan kota ala Le Corbusier, tak punya dua hal tersebut; ia jalan individual yang dituntut untuk bergerak cepat. Satu pengecualian: jika jalan tersebut mengadopsi trotoar.

Kita tahu, trotoar, yang memiliki nalar interaksi-komunikasi, bertentangan dengan nalar jalan kota di dekatnya. Namun keduanya bisa hidup berdampingan, ibarat dua sisi yang berlainan dalam satu “koin” yang sama. Ruang bagi pedestrian, setidaknya berusaha menekan ketergesahan jalan kota. Ia bisa menjadi feminimitas di samping maskulinitas jalan kota, menjadi yin bagi yang jalan kota. Trotoar menawarkan ruang intimitas di dekat jalan kota yang serba berlalu. Trotoar menawarkan ruang demokrasi di samping jalan kota yang autokrasi itu. Dengan begitu, trotoar adalah ikhtiar merawat kemanusiaan manusia, atau justru memperkembangkannya. 

Di Kota Cirebon, di sepanjang jalan protokol, misalnya di Jl. Cipto Mangunkusumo, Jl. Kesambi, atau Jl. Kartini, Bi Taswen dan teman-temannya masih belum hadir. Kota Cirebon memang bukan penganut Le Corbusier, karena kita tahu bahwa kota ini punya trotoar. Masalahnya, trotoar itu masih belum maksimal. Pancangan berupa tiang-tiang listrik, tegalan pohon, bongkahan batu, halte yang kurang menarik dan kadang karatan, baliho-baliho Parpol, gerobak pedagang kaki lima, bahkan warung semi permanen, memadati trotoar yang seukuran duri ikan bandeng, yang tingginya semata kaki, yang permukaannya lebih sering bopeng; terasa gersang-berlepotan-debu di tengah knalpot yang sesekali menyemburkan asap hitam bagai “kentut” cumi-cumi.

Trotoar itu ada, namun belum ramah dan membuat siapa pun nyaman di sana, apalagi bagi disabilitas. Ia belum merupakan trotoar yang dianggap rumah bagi orang-orang yang terusir dan melata. Ia belum matang sebagai trotoar yang menggugah para seniman jalan raya. Ia belum penuh inspirasi para sastrawan. Ia belum menjelma trotoar yang membuat sebuah kota menjadi—menukil selarik puisi Remy Sylado (?)—“kota yang bernyanyi”. Membayangkan trotoar yang maksimal, adalah mengimajinasikan bahwa para musafir yang datang, tidak takut tersesat di kota ini. Di situ, kota telah dianggap rumah. Rasanya, tidak mungkin kita takut tersesat di rumah sendiri.

Melihat kenyataan fungsi trotoar di jalan protokol Kota Cirebon yang belum maksimal, izinkan saya untuk menganggap  jalanan Kota Cirebon itu telah condong pada konsep jalan Le Corbusier. Sehingga potensi ke-chaos-an yang dikandung dalam konsep jalan Le Corbusier, dimiliki pula oleh jalan-jalan di Kota Cirebon. Mungkin potensi tersebut setengahnya lah.

Namun saya tak bakal menunggu datangnya trotoar ideal itu di Kota Cirebon. Saya putuskan untuk mendahuluinya dengan berjalan di atas trotoar yang tak sempurna di sana. Saya berusaha mencerap jiwa kota ini, mengenal kembali masa lalu, masa kini, dan masa depan yang ada padanya dalam setiap langkah. Bunyi-bunyi klakson yang nyaring dan bersahutan, udara kotor yang berkelindan, serta risiko kecelakaan yang mengintai, akan saya terima. Bawalah saya pada kejadian-kejadian yang mungkin aneh, lucu, atau menyedihkan yang ada pada kota ini. Bawalah saya pada percakapan-percakapan yang spontan atau intim pada setiap tikungan. Bawalah saya pada grafiti-grafiti yang lekat di sebagian dinding-dinding kota.


BACA JUGA:

  • Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota – [Catatan dari Cirebon]

Saya akan berjalan kaki, dan ke luar dari kaca helm atau jendela mobil. Dengan berjalan kaki, saya ingin tahu wajah-wajah orang di dalam kota ini secara langsung. Saya ingin tahu keringat yang membasahi punggung tukang becak. Saya ingin merasakan peluh para pekerja yang pulang ketika senja. Saya ingin memahami tiap beban derita yang dialami oleh orang-orang di dalamnya. Saya ingin berusaha mengenal harapan orang-orang di sana.

Semoga saja dengan sesekali berjalan kaki di trotoar yang tak sempurna milik kota ini, saya diyakinkan, bahwa seperti dalam cerpen Di Ujung karya Nukila Amal: dalam gang-gang kota yang kumuh sekalipun, ternyata ada sehelai daun yang menampung sebutir embun bercahaya—masih ada kemanusiaan di sana. Lalu, dengan perasaan tenang dan mata berbinar, kita pun berbisik, “Semua akan baik-baik saja.”

Saya pun akan berjalan agar bisa menikmati Baridin-Ratminah, tidak di jalan kota memang, tapi mungkin di bioskop, dalam bentuk film, atau di sebuah latar yang lengang di dalam mall. Saya pun bisa menikmatinya lewat CD, radio, atau video di youtube. Tapi barangkali, suatu saat, perasaan rindu akan lakon Baridin-Ratminah yang dipentaskan di jalan, seperti di jalan kampung, tumbuh juga. Ketika itu saya tidak tahu, apa grup semacam Bi Taswen dan kawan-kawannya masih ada. [T]

Tags: Baridin-RatminahCirebonkebudayaanKota
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Statistik, Napasnya Sang Ekonom

Next Post

Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Andri Wikono

Andri Wikono

Terlahir di Indramayu. Lulusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia ini merupakan pegiat salah satu komunitas sastra di Cirebon, Senja Sastra. Menulis puisi, cerpen, dan esai di media massa dan antologi bersama. Terakhir kali, cerpennya yang bejudul Menunggang Burok, Kami Tinggalkan Hutan untuk Terakhir Kali, masuk dalam antologi 50 Cerpen Tani yang diadakan Panitia Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional Festival Tjimanoek 2018 dan dengan juri Linda Christanty, Afrizal Malna, dan Kedung Darma Romansha.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah - [Spesial 17 Agustus-an]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co