14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota #2 – [Catatan dari Cirebon]

Andri Wikono by Andri Wikono
August 15, 2019
in Esai
Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota #2 – [Catatan dari Cirebon]

Salah satu sudut Kota Cirebon (Foto: Instagram @ cirebonbribin

Gedung-gedung dan kepala menghambur dalam senja

Mengurai dan layung-layung membara di langit barat daya

O, kota kekasih

Tekankan aku pada pusat hatimu

Di tengah kesibukanmu dan penderitaanmu

(Ibu Kota Senja, Toto S. Bachtiar: 1951)

____

Lakon Baridin-Ratminah menuju akhir. Kemat Jaran Goyang, manjur. Tirakat Baridin, tak sia-sia. Ratminah yang sudah kusut-masai pun terkatung-katung mencari dan ingin menikah dengan Baridin. Tapi saya melihat sakit hati itu masih kental pada diri Bairidin. Cintanya yang sempat ditolak secara hina oleh Ratminah, membuatnya rela menanggung keletihan purba atas puasa yang tak kunjung dituntaskan, meski kini ia bisa kapan saja memiliki Ratminah. Namun, barangkali, cinta bukan lagi pembebasan, melainkan penghancuran. Ratminah menjadi gila, dan pergi dari hidup yang ambruk. Sedang mata Baridin pun memutih, melepaskan nafasnya yang berat, dari hidup yang tak dimengerti. Keduanya tak bisa menyatu.

Tak lama, pentas Baridin-Ratminah pun usai. Orang-orang yang tak sempat memberi sawer pun menyodorkan lembaran uang atau setengah kilo beras kepada para aktor. Bi Taswen dan teman-temanya, selaku aktor dan pengiring musik itu, bersiap untuk keliling lagi: berjalan kaki. Di sepanjang jalan, mereka melagu—sebuah pemandangan syahdu yang tak kita temukan pada konsep jalan kota ala Le Corbusier. Ya, jalan yang tak punya ruang untuk pedestrian itu.

Lantaran tak memiliki trotoar di satu atau dua sisinya, konsep jalan kota ala Le Corbusier pun terang saja tak mengandung nalar interaksi dan komunikasi. Jalan kota tersebut sepenuhnya berangkat dari nalar percepatan. Ia bukanlah jalan yang terbuka kepada pelbagai konsensus. Bukanlah ruang yang longgar bagi diskursus. Sebab ia merupakan konsep jalan yang menangkis segala macam pusparagam wacana, dan karenanya hanya mengusung satu wacana tunggal, yakni efektivitas dan efesiensi laju transportasi. Dari sini kita melihat, jalan kota ala Le Corbusier bukanlah ruang demokrasi, tetapi ruang autokrasi. Si autokrat itu bernama “jalan raya”.

Tentu saja dalam ruang autokrasi, jalan menjadi tak ramah sebagai “tempat singgah”, tak layak sebagai “pasar”, dan tak pantas sebagi “rumah”. Jalan kota pun, akhirnya, bagaikan lokus tubuh outometic robot: yang tak bisa kompromi kepada penawaran-penawaran, yang menampik segala kemungkinan-kemungkinan, yang steril akan keganjilan-keganjilan. Jalan pun jelas tidak plastis: kita tak bisa berpindah-pindah antara ruang privat dan publik, karena si jalan hanya mewajibkan kita (pengguna jalan) untuk lekas-lekas melintas. Pun, pada kenyataannya, jalan ini hanya mengandung ruang privat. Di dalam ruang privat tersebut, orang-orang hanya boleh melihat dirinya sendiri: inilah konsep jalan yang menggiring orang-orang untuk berkaca dan terpukau pada wajahnya sendiri—jalan “Narcissus”. Itulah jalan yang, praktis, sepenuhnya merupakan lajur terlarang untuk berhenti dan berbagi.

Jalan kota ini seakan menegaskan bahwa manusia mesti menanggung “semuanya” sendirian. Manusia tak boleh berbagi dengan sesamanya. Manusia tak boleh berbagi duka dengan sesamanya. Manusia tak boleh berbagi suka dengan sesamanya. Manusia tak boleh memberitahu harapan-harapan kepada sesamanya. Manusia tak boleh memberitahu kekandasan-kekandasan kepada sesamanya. Manusia tak boleh menyatakan cinta kepada sesamanya. Manusia tak boleh menyatakan tak cinta kepada sesamanya. Ketahuilah, bahwa semua ini dapat menghambat laju transportasi. Pada konsep jalan ini, kita tak boleh percaya bahwa manusia itu mahluk sosial.

Lebih lagi, barangkali, oleh jalan Le Corbusier, kita jauh lebih tak boleh meyakini bahwa manusia itu mahluk ekologis: mahluk (manusia) yang bergantung juga pada alam—sebab tak ada daun-daun merimbun di jalan kota itu, tak ada tangkai-tangkai yang memayungi jalan raya itu, dan percayalah, tak ada rumput yang bisa hidup lama dan hijau segar di sana. Mungkin saja, sehelai daun tua atau setangkai ranting renta yang mbluruk di jalan kota tersebut, dapat menghambat laju kendaraan. Hmm, betapa ini jalan, sungguh antroposentris-individualis; suatu watak yang (jika tak terkontrol atau kelewat batas) dapat bergerak menuju jurang paling berbahaya yakni, alienasi—simtom frustrasi yang berujung pada ke-chaos-an hidup, sebagai pribadi atau bahkan massa: di sini, kehidupan bagai terkocok dalam botol cuka.

Tentu saja tak serta-merta jalan kota ini mendorong para remaja kota bergabung atau membentuk geng motor yang suka merampok tahu gejrot atau tjampolay, misalnya. Jalan kota pun tak serta-merta menginisiasi orang untuk menubrukkan diri ke mobil pengangkut sampah. Jalan kota tak serta-merta menerbitkan ide pada seseorang untuk menenggak bensin. Jalan kota tak serta-merta menginspirasi seseorang untuk melakukan serangkaian kejahatan atau apa yang dianggap jahat, tak serta-merta menciptakan seseorang untuk bertindak brutal atau apa yang dianggap brutal. Jalan kota tak serta-merta melahirkan seseorang skizofrenik maupun masokhis. Juga, oleh karena jalan kota, tak serta-merta membuat orang mengurung diri seharian di kamar mandi dengan keran yang mengguyuri kepalanya seraya teriak-teriak: homo homini lupus! homo homini lupus! homo homini lupus!

Kita mafhum, bahwa ada kompleksitas di belakang tiap-tiap tindakan “abnormal” di atas. Kita boleh mengurai sebab-sebab atas tindakan-tindakan tersebut yang, anggaplah sebuah “kejahatan” (terhadap diri sendiri atau orang lain), dengan melintasi sejumlah pisau analisis model demonologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi, hingga biologi. Kita patut curiga bahwa muskil-lah “kejahatan” itu terjadi hanya karena konsep ruang jalan kota. Itu maya. Namun, bukankah sesuatu yang maya pun akan nyata bila tak pernah direnungkan?

Tapi juga, bukankah kejahatan pun tidak merupakan sesuatu yang datang dari planet terjauh, atau lahir dari ruang-ruang hampa? Jadi, andai bukan sebab utama dan besar, dan lebih pantas sebagai suatu sebab yang renik tak kasat mata, konsep ruang jalan kota yang “dingin tak peduli” itu tetaplah dasar pijakan yang, mungkin rapuh, mungkin juga rawan—tapi ada. Bagaimana pun juga, kulit kita akan kepanasan jika tersengat matahari di siang hari, misalnya, dan bahkan bisa saja hati pun ikut resah karena hawa gerah. Itu berarti, tata kota, atau tata jalan, sedikit-banyak memengaruhi tubuh dan jiwa kita.

Tak ada pentas Baridin-Ratminah di jalan kota jenis ini. Pentas Baridin-Ratminah terjadi hanya jika pada ruang yang mengandung kolektivitas dan intimitas yang kuat. Sementara jalan kota ala Le Corbusier, tak punya dua hal tersebut; ia jalan individual yang dituntut untuk bergerak cepat. Satu pengecualian: jika jalan tersebut mengadopsi trotoar.

Kita tahu, trotoar, yang memiliki nalar interaksi-komunikasi, bertentangan dengan nalar jalan kota di dekatnya. Namun keduanya bisa hidup berdampingan, ibarat dua sisi yang berlainan dalam satu “koin” yang sama. Ruang bagi pedestrian, setidaknya berusaha menekan ketergesahan jalan kota. Ia bisa menjadi feminimitas di samping maskulinitas jalan kota, menjadi yin bagi yang jalan kota. Trotoar menawarkan ruang intimitas di dekat jalan kota yang serba berlalu. Trotoar menawarkan ruang demokrasi di samping jalan kota yang autokrasi itu. Dengan begitu, trotoar adalah ikhtiar merawat kemanusiaan manusia, atau justru memperkembangkannya. 

Di Kota Cirebon, di sepanjang jalan protokol, misalnya di Jl. Cipto Mangunkusumo, Jl. Kesambi, atau Jl. Kartini, Bi Taswen dan teman-temannya masih belum hadir. Kota Cirebon memang bukan penganut Le Corbusier, karena kita tahu bahwa kota ini punya trotoar. Masalahnya, trotoar itu masih belum maksimal. Pancangan berupa tiang-tiang listrik, tegalan pohon, bongkahan batu, halte yang kurang menarik dan kadang karatan, baliho-baliho Parpol, gerobak pedagang kaki lima, bahkan warung semi permanen, memadati trotoar yang seukuran duri ikan bandeng, yang tingginya semata kaki, yang permukaannya lebih sering bopeng; terasa gersang-berlepotan-debu di tengah knalpot yang sesekali menyemburkan asap hitam bagai “kentut” cumi-cumi.

Trotoar itu ada, namun belum ramah dan membuat siapa pun nyaman di sana, apalagi bagi disabilitas. Ia belum merupakan trotoar yang dianggap rumah bagi orang-orang yang terusir dan melata. Ia belum matang sebagai trotoar yang menggugah para seniman jalan raya. Ia belum penuh inspirasi para sastrawan. Ia belum menjelma trotoar yang membuat sebuah kota menjadi—menukil selarik puisi Remy Sylado (?)—“kota yang bernyanyi”. Membayangkan trotoar yang maksimal, adalah mengimajinasikan bahwa para musafir yang datang, tidak takut tersesat di kota ini. Di situ, kota telah dianggap rumah. Rasanya, tidak mungkin kita takut tersesat di rumah sendiri.

Melihat kenyataan fungsi trotoar di jalan protokol Kota Cirebon yang belum maksimal, izinkan saya untuk menganggap  jalanan Kota Cirebon itu telah condong pada konsep jalan Le Corbusier. Sehingga potensi ke-chaos-an yang dikandung dalam konsep jalan Le Corbusier, dimiliki pula oleh jalan-jalan di Kota Cirebon. Mungkin potensi tersebut setengahnya lah.

Namun saya tak bakal menunggu datangnya trotoar ideal itu di Kota Cirebon. Saya putuskan untuk mendahuluinya dengan berjalan di atas trotoar yang tak sempurna di sana. Saya berusaha mencerap jiwa kota ini, mengenal kembali masa lalu, masa kini, dan masa depan yang ada padanya dalam setiap langkah. Bunyi-bunyi klakson yang nyaring dan bersahutan, udara kotor yang berkelindan, serta risiko kecelakaan yang mengintai, akan saya terima. Bawalah saya pada kejadian-kejadian yang mungkin aneh, lucu, atau menyedihkan yang ada pada kota ini. Bawalah saya pada percakapan-percakapan yang spontan atau intim pada setiap tikungan. Bawalah saya pada grafiti-grafiti yang lekat di sebagian dinding-dinding kota.


BACA JUGA:

  • Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota – [Catatan dari Cirebon]

Saya akan berjalan kaki, dan ke luar dari kaca helm atau jendela mobil. Dengan berjalan kaki, saya ingin tahu wajah-wajah orang di dalam kota ini secara langsung. Saya ingin tahu keringat yang membasahi punggung tukang becak. Saya ingin merasakan peluh para pekerja yang pulang ketika senja. Saya ingin memahami tiap beban derita yang dialami oleh orang-orang di dalamnya. Saya ingin berusaha mengenal harapan orang-orang di sana.

Semoga saja dengan sesekali berjalan kaki di trotoar yang tak sempurna milik kota ini, saya diyakinkan, bahwa seperti dalam cerpen Di Ujung karya Nukila Amal: dalam gang-gang kota yang kumuh sekalipun, ternyata ada sehelai daun yang menampung sebutir embun bercahaya—masih ada kemanusiaan di sana. Lalu, dengan perasaan tenang dan mata berbinar, kita pun berbisik, “Semua akan baik-baik saja.”

Saya pun akan berjalan agar bisa menikmati Baridin-Ratminah, tidak di jalan kota memang, tapi mungkin di bioskop, dalam bentuk film, atau di sebuah latar yang lengang di dalam mall. Saya pun bisa menikmatinya lewat CD, radio, atau video di youtube. Tapi barangkali, suatu saat, perasaan rindu akan lakon Baridin-Ratminah yang dipentaskan di jalan, seperti di jalan kampung, tumbuh juga. Ketika itu saya tidak tahu, apa grup semacam Bi Taswen dan kawan-kawannya masih ada. [T]

Tags: Baridin-RatminahCirebonkebudayaanKota
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Statistik, Napasnya Sang Ekonom

Next Post

Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Andri Wikono

Andri Wikono

Terlahir di Indramayu. Lulusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia ini merupakan pegiat salah satu komunitas sastra di Cirebon, Senja Sastra. Menulis puisi, cerpen, dan esai di media massa dan antologi bersama. Terakhir kali, cerpennya yang bejudul Menunggang Burok, Kami Tinggalkan Hutan untuk Terakhir Kali, masuk dalam antologi 50 Cerpen Tani yang diadakan Panitia Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional Festival Tjimanoek 2018 dan dengan juri Linda Christanty, Afrizal Malna, dan Kedung Darma Romansha.

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah - [Spesial 17 Agustus-an]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co