4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota #2 – [Catatan dari Cirebon]

Andri Wikono by Andri Wikono
August 15, 2019
in Esai
Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota #2 – [Catatan dari Cirebon]

Salah satu sudut Kota Cirebon (Foto: Instagram @ cirebonbribin

Gedung-gedung dan kepala menghambur dalam senja

Mengurai dan layung-layung membara di langit barat daya

O, kota kekasih

Tekankan aku pada pusat hatimu

Di tengah kesibukanmu dan penderitaanmu

(Ibu Kota Senja, Toto S. Bachtiar: 1951)

____

Lakon Baridin-Ratminah menuju akhir. Kemat Jaran Goyang, manjur. Tirakat Baridin, tak sia-sia. Ratminah yang sudah kusut-masai pun terkatung-katung mencari dan ingin menikah dengan Baridin. Tapi saya melihat sakit hati itu masih kental pada diri Bairidin. Cintanya yang sempat ditolak secara hina oleh Ratminah, membuatnya rela menanggung keletihan purba atas puasa yang tak kunjung dituntaskan, meski kini ia bisa kapan saja memiliki Ratminah. Namun, barangkali, cinta bukan lagi pembebasan, melainkan penghancuran. Ratminah menjadi gila, dan pergi dari hidup yang ambruk. Sedang mata Baridin pun memutih, melepaskan nafasnya yang berat, dari hidup yang tak dimengerti. Keduanya tak bisa menyatu.

Tak lama, pentas Baridin-Ratminah pun usai. Orang-orang yang tak sempat memberi sawer pun menyodorkan lembaran uang atau setengah kilo beras kepada para aktor. Bi Taswen dan teman-temanya, selaku aktor dan pengiring musik itu, bersiap untuk keliling lagi: berjalan kaki. Di sepanjang jalan, mereka melagu—sebuah pemandangan syahdu yang tak kita temukan pada konsep jalan kota ala Le Corbusier. Ya, jalan yang tak punya ruang untuk pedestrian itu.

Lantaran tak memiliki trotoar di satu atau dua sisinya, konsep jalan kota ala Le Corbusier pun terang saja tak mengandung nalar interaksi dan komunikasi. Jalan kota tersebut sepenuhnya berangkat dari nalar percepatan. Ia bukanlah jalan yang terbuka kepada pelbagai konsensus. Bukanlah ruang yang longgar bagi diskursus. Sebab ia merupakan konsep jalan yang menangkis segala macam pusparagam wacana, dan karenanya hanya mengusung satu wacana tunggal, yakni efektivitas dan efesiensi laju transportasi. Dari sini kita melihat, jalan kota ala Le Corbusier bukanlah ruang demokrasi, tetapi ruang autokrasi. Si autokrat itu bernama “jalan raya”.

Tentu saja dalam ruang autokrasi, jalan menjadi tak ramah sebagai “tempat singgah”, tak layak sebagai “pasar”, dan tak pantas sebagi “rumah”. Jalan kota pun, akhirnya, bagaikan lokus tubuh outometic robot: yang tak bisa kompromi kepada penawaran-penawaran, yang menampik segala kemungkinan-kemungkinan, yang steril akan keganjilan-keganjilan. Jalan pun jelas tidak plastis: kita tak bisa berpindah-pindah antara ruang privat dan publik, karena si jalan hanya mewajibkan kita (pengguna jalan) untuk lekas-lekas melintas. Pun, pada kenyataannya, jalan ini hanya mengandung ruang privat. Di dalam ruang privat tersebut, orang-orang hanya boleh melihat dirinya sendiri: inilah konsep jalan yang menggiring orang-orang untuk berkaca dan terpukau pada wajahnya sendiri—jalan “Narcissus”. Itulah jalan yang, praktis, sepenuhnya merupakan lajur terlarang untuk berhenti dan berbagi.

Jalan kota ini seakan menegaskan bahwa manusia mesti menanggung “semuanya” sendirian. Manusia tak boleh berbagi dengan sesamanya. Manusia tak boleh berbagi duka dengan sesamanya. Manusia tak boleh berbagi suka dengan sesamanya. Manusia tak boleh memberitahu harapan-harapan kepada sesamanya. Manusia tak boleh memberitahu kekandasan-kekandasan kepada sesamanya. Manusia tak boleh menyatakan cinta kepada sesamanya. Manusia tak boleh menyatakan tak cinta kepada sesamanya. Ketahuilah, bahwa semua ini dapat menghambat laju transportasi. Pada konsep jalan ini, kita tak boleh percaya bahwa manusia itu mahluk sosial.

Lebih lagi, barangkali, oleh jalan Le Corbusier, kita jauh lebih tak boleh meyakini bahwa manusia itu mahluk ekologis: mahluk (manusia) yang bergantung juga pada alam—sebab tak ada daun-daun merimbun di jalan kota itu, tak ada tangkai-tangkai yang memayungi jalan raya itu, dan percayalah, tak ada rumput yang bisa hidup lama dan hijau segar di sana. Mungkin saja, sehelai daun tua atau setangkai ranting renta yang mbluruk di jalan kota tersebut, dapat menghambat laju kendaraan. Hmm, betapa ini jalan, sungguh antroposentris-individualis; suatu watak yang (jika tak terkontrol atau kelewat batas) dapat bergerak menuju jurang paling berbahaya yakni, alienasi—simtom frustrasi yang berujung pada ke-chaos-an hidup, sebagai pribadi atau bahkan massa: di sini, kehidupan bagai terkocok dalam botol cuka.

Tentu saja tak serta-merta jalan kota ini mendorong para remaja kota bergabung atau membentuk geng motor yang suka merampok tahu gejrot atau tjampolay, misalnya. Jalan kota pun tak serta-merta menginisiasi orang untuk menubrukkan diri ke mobil pengangkut sampah. Jalan kota tak serta-merta menerbitkan ide pada seseorang untuk menenggak bensin. Jalan kota tak serta-merta menginspirasi seseorang untuk melakukan serangkaian kejahatan atau apa yang dianggap jahat, tak serta-merta menciptakan seseorang untuk bertindak brutal atau apa yang dianggap brutal. Jalan kota tak serta-merta melahirkan seseorang skizofrenik maupun masokhis. Juga, oleh karena jalan kota, tak serta-merta membuat orang mengurung diri seharian di kamar mandi dengan keran yang mengguyuri kepalanya seraya teriak-teriak: homo homini lupus! homo homini lupus! homo homini lupus!

Kita mafhum, bahwa ada kompleksitas di belakang tiap-tiap tindakan “abnormal” di atas. Kita boleh mengurai sebab-sebab atas tindakan-tindakan tersebut yang, anggaplah sebuah “kejahatan” (terhadap diri sendiri atau orang lain), dengan melintasi sejumlah pisau analisis model demonologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi, hingga biologi. Kita patut curiga bahwa muskil-lah “kejahatan” itu terjadi hanya karena konsep ruang jalan kota. Itu maya. Namun, bukankah sesuatu yang maya pun akan nyata bila tak pernah direnungkan?

Tapi juga, bukankah kejahatan pun tidak merupakan sesuatu yang datang dari planet terjauh, atau lahir dari ruang-ruang hampa? Jadi, andai bukan sebab utama dan besar, dan lebih pantas sebagai suatu sebab yang renik tak kasat mata, konsep ruang jalan kota yang “dingin tak peduli” itu tetaplah dasar pijakan yang, mungkin rapuh, mungkin juga rawan—tapi ada. Bagaimana pun juga, kulit kita akan kepanasan jika tersengat matahari di siang hari, misalnya, dan bahkan bisa saja hati pun ikut resah karena hawa gerah. Itu berarti, tata kota, atau tata jalan, sedikit-banyak memengaruhi tubuh dan jiwa kita.

Tak ada pentas Baridin-Ratminah di jalan kota jenis ini. Pentas Baridin-Ratminah terjadi hanya jika pada ruang yang mengandung kolektivitas dan intimitas yang kuat. Sementara jalan kota ala Le Corbusier, tak punya dua hal tersebut; ia jalan individual yang dituntut untuk bergerak cepat. Satu pengecualian: jika jalan tersebut mengadopsi trotoar.

Kita tahu, trotoar, yang memiliki nalar interaksi-komunikasi, bertentangan dengan nalar jalan kota di dekatnya. Namun keduanya bisa hidup berdampingan, ibarat dua sisi yang berlainan dalam satu “koin” yang sama. Ruang bagi pedestrian, setidaknya berusaha menekan ketergesahan jalan kota. Ia bisa menjadi feminimitas di samping maskulinitas jalan kota, menjadi yin bagi yang jalan kota. Trotoar menawarkan ruang intimitas di dekat jalan kota yang serba berlalu. Trotoar menawarkan ruang demokrasi di samping jalan kota yang autokrasi itu. Dengan begitu, trotoar adalah ikhtiar merawat kemanusiaan manusia, atau justru memperkembangkannya. 

Di Kota Cirebon, di sepanjang jalan protokol, misalnya di Jl. Cipto Mangunkusumo, Jl. Kesambi, atau Jl. Kartini, Bi Taswen dan teman-temannya masih belum hadir. Kota Cirebon memang bukan penganut Le Corbusier, karena kita tahu bahwa kota ini punya trotoar. Masalahnya, trotoar itu masih belum maksimal. Pancangan berupa tiang-tiang listrik, tegalan pohon, bongkahan batu, halte yang kurang menarik dan kadang karatan, baliho-baliho Parpol, gerobak pedagang kaki lima, bahkan warung semi permanen, memadati trotoar yang seukuran duri ikan bandeng, yang tingginya semata kaki, yang permukaannya lebih sering bopeng; terasa gersang-berlepotan-debu di tengah knalpot yang sesekali menyemburkan asap hitam bagai “kentut” cumi-cumi.

Trotoar itu ada, namun belum ramah dan membuat siapa pun nyaman di sana, apalagi bagi disabilitas. Ia belum merupakan trotoar yang dianggap rumah bagi orang-orang yang terusir dan melata. Ia belum matang sebagai trotoar yang menggugah para seniman jalan raya. Ia belum penuh inspirasi para sastrawan. Ia belum menjelma trotoar yang membuat sebuah kota menjadi—menukil selarik puisi Remy Sylado (?)—“kota yang bernyanyi”. Membayangkan trotoar yang maksimal, adalah mengimajinasikan bahwa para musafir yang datang, tidak takut tersesat di kota ini. Di situ, kota telah dianggap rumah. Rasanya, tidak mungkin kita takut tersesat di rumah sendiri.

Melihat kenyataan fungsi trotoar di jalan protokol Kota Cirebon yang belum maksimal, izinkan saya untuk menganggap  jalanan Kota Cirebon itu telah condong pada konsep jalan Le Corbusier. Sehingga potensi ke-chaos-an yang dikandung dalam konsep jalan Le Corbusier, dimiliki pula oleh jalan-jalan di Kota Cirebon. Mungkin potensi tersebut setengahnya lah.

Namun saya tak bakal menunggu datangnya trotoar ideal itu di Kota Cirebon. Saya putuskan untuk mendahuluinya dengan berjalan di atas trotoar yang tak sempurna di sana. Saya berusaha mencerap jiwa kota ini, mengenal kembali masa lalu, masa kini, dan masa depan yang ada padanya dalam setiap langkah. Bunyi-bunyi klakson yang nyaring dan bersahutan, udara kotor yang berkelindan, serta risiko kecelakaan yang mengintai, akan saya terima. Bawalah saya pada kejadian-kejadian yang mungkin aneh, lucu, atau menyedihkan yang ada pada kota ini. Bawalah saya pada percakapan-percakapan yang spontan atau intim pada setiap tikungan. Bawalah saya pada grafiti-grafiti yang lekat di sebagian dinding-dinding kota.


BACA JUGA:

  • Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota – [Catatan dari Cirebon]

Saya akan berjalan kaki, dan ke luar dari kaca helm atau jendela mobil. Dengan berjalan kaki, saya ingin tahu wajah-wajah orang di dalam kota ini secara langsung. Saya ingin tahu keringat yang membasahi punggung tukang becak. Saya ingin merasakan peluh para pekerja yang pulang ketika senja. Saya ingin memahami tiap beban derita yang dialami oleh orang-orang di dalamnya. Saya ingin berusaha mengenal harapan orang-orang di sana.

Semoga saja dengan sesekali berjalan kaki di trotoar yang tak sempurna milik kota ini, saya diyakinkan, bahwa seperti dalam cerpen Di Ujung karya Nukila Amal: dalam gang-gang kota yang kumuh sekalipun, ternyata ada sehelai daun yang menampung sebutir embun bercahaya—masih ada kemanusiaan di sana. Lalu, dengan perasaan tenang dan mata berbinar, kita pun berbisik, “Semua akan baik-baik saja.”

Saya pun akan berjalan agar bisa menikmati Baridin-Ratminah, tidak di jalan kota memang, tapi mungkin di bioskop, dalam bentuk film, atau di sebuah latar yang lengang di dalam mall. Saya pun bisa menikmatinya lewat CD, radio, atau video di youtube. Tapi barangkali, suatu saat, perasaan rindu akan lakon Baridin-Ratminah yang dipentaskan di jalan, seperti di jalan kampung, tumbuh juga. Ketika itu saya tidak tahu, apa grup semacam Bi Taswen dan kawan-kawannya masih ada. [T]

Tags: Baridin-RatminahCirebonkebudayaanKota
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Statistik, Napasnya Sang Ekonom

Next Post

Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Andri Wikono

Andri Wikono

Terlahir di Indramayu. Lulusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia ini merupakan pegiat salah satu komunitas sastra di Cirebon, Senja Sastra. Menulis puisi, cerpen, dan esai di media massa dan antologi bersama. Terakhir kali, cerpennya yang bejudul Menunggang Burok, Kami Tinggalkan Hutan untuk Terakhir Kali, masuk dalam antologi 50 Cerpen Tani yang diadakan Panitia Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional Festival Tjimanoek 2018 dan dengan juri Linda Christanty, Afrizal Malna, dan Kedung Darma Romansha.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah - [Spesial 17 Agustus-an]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co