23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
August 15, 2019
in Esai
Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Film Oeroeg (1993)

Tulisan ini saya temukan secara tidak sengaja di sebuah folder rahasia, di dalam notebook Lenovo yang saya beli di tahun 2013 lalu. Rahasia, karena selain menyimpan tugas-tugas kuliah, juga arsip-arsip kolonial Belanda berjenis Memorie van Overgive (memori serah terima jabatan) tentang Bali dan atau arsip-arsip lain yang saya dapatkan dengan membeli atau barter. Namun, sejak 2015, sudah saya museumkan, selain karena ukurannya kecil 10 inch sehingga kurang cocok dengan ukuran jari saya yang besar, kemampuan prosesornya pun telah melambat. Alih-alih mendukung mobilitas saya sehari-hari, notebook Lenovo itu lebih sering macet dan restart sendiri. Kini, notebook itu menjadi penghias lemari kosan dan saksi bisu perjuangan saya merengkuh gelar master.

Tulisan yang hadir di hadapan pembaca Tatkala berikut merupakan tugas pada matakuliah teori-teori sosial yang saya modifikasi isinya. Kebetulan saat itu saya sedang latah mempelajari teori-teori poskolonial ala Dunia Ketiga, khususnya India yang digagas oleh Homi K Babha dan Gayatri Spivak. Kelompok yang mereka dirikan dikenal dengan subaltern studies, yakni sebuah kelompok diskusi yang mendedikasikan karya-karyanya bagi emansipasi dan humanisme terhadap “orang pinggiran”.

Pada momen 17-an yang akan jatuh pada hari Sabtu, 17 Agustus 2019 dan menandai 74 tahun Indonesia merdeka, tatapan masa lalu terhadap identitas Indonesia pra kemerdekaan masih relevan untuk dibicarakan. Apalagi jika melihat dua isu yang sempat berkembang akhir-akhir ini yakni wacana “Negara Khilafah” dan “hantu PKI”. Dua isu itu akan saya bicarakan pada tulisan yang lain. Setidaknya, melalui tulisan pendek ini, jalan untuk memahami mengapa fondasi keindonesiaan terlihat rapuh, belum atau tidak pernah selesai mencapai titik terang.

Sebagai starting point yang akan membawa kita pada dimensi masa lalu pra kemerdekaan, saya awali dengan review singkat sebuah film berjudul “Oeroeg”. Film ini sempat saya jadikan bahan diskusi dengan mahasiswa di Prodi Pendidikan Sejarah pada mata kuliah Sejarah Indonesia Baru beberapa bulan belakang. Tugas mereka mudah, cukup duduk manis dan tonton filmnya sampai habis. Setelah itu, mereka saya bebankan membuat review yang sekaligus menjadi tugas Ujian Akhir Semester. Satu hal yang saya tekankan, hindari plagiasi. Bagi saya, plagiarisme adalah virus mematikan dalam dunia ilmiah dan kejahatan akademik yang susah dimaafkan. Mahasiswa yang kedapatan melakukan hal itu tidak akan saya luluskan.

Rencananya, tulisan terbaik akan saya orbitkan ke Tatkala. Namun hingga seluruh tugas saya cermati, tidak satupun yang memuaskan harapan saya. Dari pengalaman itu, hikmah yang bisa saya petik bahwa penyakit kronis yang menghinggapi sebagian besar mahasiswa  sejarah adalah kehilangan gairah membaca. Padahal aktivitas ini adalah kredo ultima yang harus dijejaki. Tradisi membaca, perlahan namun pasti mulai tersisih oleh budaya tontonan. Akibatnya, tulisan yang dibuat miskin ide dan gagasan, kekurangan narasi dan referensi. Lalu,  jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah ini adalah copypaste internet. Saya pikir, kesalahan tidak sepenuhnya dari mereka, bisa jadi saya yang kurang bisa  mendidik dengan harapan yang terlalu tinggi.

Meskipun film ini dibuat hampir 3 dekade (rilis internasional berjudul “Going Home” pada 1993, setting kolonial 1920-1950), sepertinya masih relevan dipakai untuk masa kini, khususnya dalam menakar identitas Indonesia jelang hari jadinya yang ke-74 pada 17 Agustus 2019.  Film ini berkisah tentang interaksi dua bangsa, Barat yang diwakili oleh Belanda, dan Timur oleh Indonesia. Dua tokoh utama dalam film yang terlibat pergumulan batin, Johan dan Oeroeg, berada pada identitas yang terbelah pada awal 30-an sejak gelombang necisme Bung Karno dkk beserta nasionalisme borjuis yang digagas oleh kalangan priyayi terpelajar mulai menjalari Hindia Belanda (Indonesia sekarang).

Di awal tahun 1920-an, hubungan antara Johan, si ras putih dan Oeroeg, wong pribumi (secara sarkastik dipanggil inlander) nampak mesra. Kolonialisasi Pencerahan Eropa yang dibawa diaspora Belanda ke Hindia melalui jalur perdagangan sejak era Cornelis de Houtmen 1596 hingga pembentukan Kongsi Dagang Hindia Timur VOC 1602, tidak pernah  tuntas. Meski Pencerahan melahirkan ide-ide humanisme dan egalitarianisme, sekaligus juga superioritas ras yang berakibat pada kolonisasi dan kolonialisasi seberang lautan, namun  warisan primitif the dark age masih tercecer dalam memori kolektif Eropa dan terekam dalam pola hubungan sosial yang diskriminatif juga dominatif. Khususnya teman-teman kulit putih Johan yang sering melakukan rasisme terhadap Oeroeg di dalam pergaulan. Namun tidak bagi Johan, Oeroeg bukan hanya anak dari jongoes perkebunan milik bapaknya, melainkan seseorang yang Ia anggap sahabat dan bagian terpenting yang mengisi masa-masa kecil penuh warna di Hindia Belanda.

Hubungan yang harmonis itu pada akhirnya nampak problematis dan dilematis berujung bubar. Puncaknya terlihat pada salah satu scene. Saat tengah menikmati keramaian kota, Johan dan Oereoeg dewasa mendapat perlakuan kasar dari seorang penjual sate. Si penjual mengatakan bahwa lebih baik merugi daripada harus menjual satenya kepada penjajah. Penjajah yang dimaksud di sini adalah orang berkulit putih, memakai topi dan berstelan jas. Oeroeg meradang dan membela habis-habisan Johan, namun akhirnya Ia sadar bahwa batas rasial tidak mungkin cair sampai kapanpun juga setelah melihat dengan langsung perilaku Johan yang justru memilih duduk bersama teman-teman Belandanya di sebuah ruangan bioskop yang tempat terpisah dengan bumiputera yang mereka sebut inlander.

Tensi sosial dan politik yang mengarah kepada pembentukan identitas nasional semakin meninggi tatkala Republik Indonesia lahir di masa vakum of power pada 17 Agustus 1945. Meski begitu, revolusi sosial yang dicitakan sedikit mandeg ketika Belanda datang kembali ke Hindia setelah sebelumnya mengalami kekalahan dari Jepang pada Perang Asia Pasifik 1942. Hanya karena keikusertaan Amerika dan Uni soviet, kemenangan Sekutu tinggal menunggu hari. Pada Perang Asia Pasifik, khususnya, Jepang dengan polah arogan telah membangunkan raksaa tidur Amerika Serikat melalui serangan mematikan ke pangkalan militer AS di Hawai, Pearl Harbour pada 1937. Amerika yang terikat doctrin monroe berada dalam dilema. Ikut perang atau berdiam diri. Memilih perang berarti sama saja mengubur warisan Monroe yang telah menjadi konsensus nasional. Di sisi yang lain, jika hanya berdiam diri terhadap kecongkakan Jepang, sama saja dengan membiarkan mereka mengacak-acak kedaulatan nasional Amerika. Atas nama kedaulatan nasional yang dikoyak Jepang, pilihan terbaik yang mungkin dilakukan  adalah mengkhianati warisan Monroe dan menyatakan perang terhadap koalisis Jepang, Jerman dan Italia

Penjajahan, walau bagaimanapun selalu lebih banyak dampak negatifnya daripada dampak positif,  khususnya bagi manusia yang terjajah. Dampak negatif itu di antaranya menimbulkan depersonalisasi dan alienasi kultural sosial yang dibatinkan (embodied). Depersonalisasi bukan hanya mengasingkan gagasan pencerahan tentang manusia, melainkan mengubah transparansi realitas sosial yang telah ada sebelumnya. Apabila tatanan historisitas Barat di suatu negara jajahan terganggu, yang lebih terganggu lagi adalah representasi fisik dan sosial subjek manusianya. Dalam kondisi penjajahan, humanitas yang natural akan berubah menjadi (ter) asing.

Alienasi kultural yang dialami masyarakat terjajah memusatkan diri pada ambivalensi identifikasi fisik yang membuatnya menderita. Tatapan manusia kulit putih, pada satu sisi dapat memporakporandakan manusia kulit hitam/berwarna. Kulit hitam/berwarna oleh kulit putih sering dituduh sebagai primitif, memiliki defisiensi intelektual, ras rusak, kanibal, akhirnya membenci eksistensi dirinya. Oleh sebab itu, dalam manusia kulit hitam/berwarna selalu timbul hasrat untuk melarikan diri dari keberadaan dirinya. Orang kulit putih pada kasus itu bisa dianggap sebagai ahlinya dalam membuat orang kulit berwarna membenci identitas dirinya.

Pertanyaannya kemudian, masih relevankah depersonalisasi dan alienasi kultural dampak buruk penjajahan dalam membaca masyarakat terjajah kontemporer, di mana penjajahan  fisik telah berakhir sejak negara-negara Dunia Ketiga memproklamirkan diri sebagai nation state baru melalui cangkokan ideologi penjajah? Jawabannya MASIH. Meski telah merdeka dan terjadi serangkaian revolusi fisik maupun sosial, jejak-jejak depersonalisasi yang telah lama menubuh itu tidak begitu saja hilang atau lenyap.  Jejak-jejak depersonalisasi dan alienasi kultural itu misalnya dapat kita lihat dari inferioritas (perasaan rendah diri) bangsa terjajah. Meski penjajahan fisik telah berlalu, namun trajektori kekuasaan beralih pada dominasi mental yang akan sangat susah dideteksi kehadirannya.

Di era kesejagatan, di mana akses informasi tidak bisa dibendung, trajektori dominasi mental berwujud iklan-iklan kecantikan, gaya hidup konsumtif, desakralisasi sekaligus sekularisasi segala bidang kehidupan. Kecanggihan pola pikir kulit putih untuk menghasilkan kebencian eksistensi diri kulit hitam/berwarna bertemu pada titik ini. Sebagai contoh adalah kelihaian kapitalisme produk penjajahan dalam mengkemas konsep “putih=cantik” dalam produk iklan kecantikan. Akibatnya, narasi cokelat atau eksotis “absen” dalam perbincangan perempuan-perempuan di Negara Dunia Ketiga. Sebagian besar perempuan yang telah terkooptasi iklan kecantikan itu akan menganggap putih sebagai tujuan, bahkan obsesi yang harus diraih. Tidak putih, akan dengan mudah dianggap asing lalu ter-asing dalam pergaulan, dibuly bahkan dicaci.

Sejalan dengan putih = cantik, kapitalisme  juga sukses mencangkokkan visualisasi instan “menjadi putih” ke dalam teknologi. Melalui AI (artificial intelligent), obsesi “putih” yang biasanya diraih dengan cara konvensional dirasa lama dan membuang banyak waktu bisa dilakukan secara instan. Produk HP Cina, Korea dan Amerika yang membanjiri pasar gadget tanah air digandrungi oleh penduduk berkode +62 ini. Selain menawarkan harga miring, juga ditopang kemampuan kamera dalam menghasilkan “putih” sempurna yang siap diunggah ke media sosial.

Dengan melihat dominasi kulit berwarna seperti Cina, Jepang dan Korea dalam industri gadget yang menghasilkan stigma putih=cantik, maka “putih” vis a vis  hitam/berwarna, tidak lagi berupa urusan fisik, namun sebuah konsep kunci untuk membaca kemajuan pola pikir manusia. Alasanya, mereka, si kulit berwarna yang kini mendominasi perekonomian dunia tidak hanya berhenti pada proses meniru (mimikri sosial), lebih daripada itu adalah menubuhkan dan lalu menerapkan cara-cara itu melebihi kemampuan yang dimiliki Barat putih kontemporer.   

Alienasi identitas telah membuat keberadaan seseorang menjadi terbelah, membayangi dirinya sebagai manusia terjajah yang merupakan refleksi dari kegelapannya. Oleh sebab itu, manusia terjajah memiliki hasrat untuk keluar dan melarikan diri, lalu masuk ke dalam identitas lain yang diidealkan. Agar  eksis, terjajah harus masuk ke dalam ruang, tubuh, pikiran, dan pandangan penjajah. Di era pasca kolonial dimana penjajahan fisik tidak lagi menjadi “hantu” yang menakutkan dan digantikan dengan penjajahan mental, sosial dan kebudayaan dalam wujud iklan televisi dan media cetak, 

Selain alienasi, mimikri sebagai bentuk perlawanan dari terjajah tidak bisa dikesampingkan. Mimikri mengandung dua pengertian. Pertama, mimikri dalam kategori biologis merupakan kemampuan jenis binatang tertentu seperti kupu-kupu untuk menyerupai jenis lain yang lebih kuat atau yang mempunyai daya pertahanan lebih besar. Kemampuan ini dapat pula berarti kemampuan mengubah warna diri menjadi seperti warna daun dan bagian tanaman lain suatu tumbuhan. Kedua, konsep mimikri yang dipakai Homi K. Babha mengacu pada mimikri dalam kategori bahasa. Mimikri dalam konteks kolonial dipahami sebagai hasrat (desire) atau identifikasi dari terjajah menjadi sama dengan penjajah, tetapi tidak sepenuhnya. Ia hadir sebagai aktualisasi perbedaan.

Meski demikian, mimikri sebagai sebuah analisis untuk membedah fenomena identifikasi terjajah terhadap penjajah ternyata mengandung ambivalensi, di satu sisi terjajah berhasrat membangun identitas sejenis, namun di saat bersamaan menegasikan perbedaan dengan penjajah. Ambivalensi dapat dilihat pada dua hal.  Pertama, mimikri adalah suatu strategi yang rumit untuk menata kembali, mengatur, mendisiplinkan, dan mencocokkan diri dengan penjajah sebagai visualisasi kekuatannya. Kedua, mimikri juga merupakan ketidakcocokan, sebuah perbedaan atau perlawanan yang melekat pada fungsi strategis kekuatan dominasi kolonial.

Upaya yang sangat mungkin dilakukan terjajah untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai the part of penjajah bukan saja melalui bahasa, melainkan lebih banyak melalui gaya hidup sebagai manifestasi dari hasrat terjajah untuk menyesuaikan diri dengan kehendak zaman, mencapai kemajuan, dan menempatkan diri sama dengan bangsa penjajah. Salah satu bentuk gaya hidup terjajah nampak pada ketertarikan terhadap busana Eropa. Praktik-praktik berpakaian pemuda Indonesia yang telah mendapatkan pendidikan Barat itu melahirkan apa yang dikenal dengan busana necis. Gaya ini dipelopori pemuda Indonesia periode 1900-an seperti Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Menjelang 1940-an, ketika  gelombang nasionalisme semakin kuat pengaruhnya, Soekarno mempelopori necisme lokal, maksudnya meniru busana Barat, namun pada saat yang bersamaan menegasikannya dengan peci yang dikenakan di kepala sebagai sebentuk identitas perlawanan terhadap penjajahan Barat.

Titik persinggungan antara mempelajari Barat namun di saat yang bersamaan tetap memancangkan perbedaan identitas adalah kemunculan kelas menengah, atau yang sering disebut elit priyayi. Mereka adalah sebuah kelas dimana pada tubuhnya mengalir darah lokal, akan tetapi cita rasa, pandangan, moral, dan intektualnya adalah Barat. Dalam kasus Indonesia, karena keistimewaan kedudukannya dalam struktur sosial, mereka dengan leluasa mendapatkan akses modernitas Barat dan nilai-niai pencerahan Eropa melalui pelayanan pendidikan. Ambiguitas dan ambivalensi identitas terjajah yang diwakili kelas menengah semakin nampak manakala dengan bermodal pendidikan Barat, secara frontal menggunakan ide-ide itu untuk melawan Barat. Ideologi nasionalisme misalnya bisa dikatakan sebagai kegiatan konsumsi kaum priyayi Indonesia terhadap produk Barat. Alasannya, nasionalisme sebagai sistem ide, adalah fenomena termutakhir masyarakat Eropa sejak abad XIX yang mendorong lahirnya negara-bangsa baru menggantikan kerajaan-kerajaan feodal. [T]

Tags: filmFilm OeroegkemerdekaanPendidikansejarah
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota #2 – [Catatan dari Cirebon]

Next Post

Novel Psycho-thriller yang Mencekam, “Rainbow Cake”, Dibedah di JKP Denpasar

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Novel Psycho-thriller yang Mencekam, “Rainbow Cake”, Dibedah di JKP Denpasar

Novel Psycho-thriller yang Mencekam, “Rainbow Cake”, Dibedah di JKP Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co