13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
August 15, 2019
in Esai
Alienasi, Mimikri dan Identitas Indonesia yang Terbelah – [Spesial 17 Agustus-an]

Film Oeroeg (1993)

Tulisan ini saya temukan secara tidak sengaja di sebuah folder rahasia, di dalam notebook Lenovo yang saya beli di tahun 2013 lalu. Rahasia, karena selain menyimpan tugas-tugas kuliah, juga arsip-arsip kolonial Belanda berjenis Memorie van Overgive (memori serah terima jabatan) tentang Bali dan atau arsip-arsip lain yang saya dapatkan dengan membeli atau barter. Namun, sejak 2015, sudah saya museumkan, selain karena ukurannya kecil 10 inch sehingga kurang cocok dengan ukuran jari saya yang besar, kemampuan prosesornya pun telah melambat. Alih-alih mendukung mobilitas saya sehari-hari, notebook Lenovo itu lebih sering macet dan restart sendiri. Kini, notebook itu menjadi penghias lemari kosan dan saksi bisu perjuangan saya merengkuh gelar master.

Tulisan yang hadir di hadapan pembaca Tatkala berikut merupakan tugas pada matakuliah teori-teori sosial yang saya modifikasi isinya. Kebetulan saat itu saya sedang latah mempelajari teori-teori poskolonial ala Dunia Ketiga, khususnya India yang digagas oleh Homi K Babha dan Gayatri Spivak. Kelompok yang mereka dirikan dikenal dengan subaltern studies, yakni sebuah kelompok diskusi yang mendedikasikan karya-karyanya bagi emansipasi dan humanisme terhadap “orang pinggiran”.

Pada momen 17-an yang akan jatuh pada hari Sabtu, 17 Agustus 2019 dan menandai 74 tahun Indonesia merdeka, tatapan masa lalu terhadap identitas Indonesia pra kemerdekaan masih relevan untuk dibicarakan. Apalagi jika melihat dua isu yang sempat berkembang akhir-akhir ini yakni wacana “Negara Khilafah” dan “hantu PKI”. Dua isu itu akan saya bicarakan pada tulisan yang lain. Setidaknya, melalui tulisan pendek ini, jalan untuk memahami mengapa fondasi keindonesiaan terlihat rapuh, belum atau tidak pernah selesai mencapai titik terang.

Sebagai starting point yang akan membawa kita pada dimensi masa lalu pra kemerdekaan, saya awali dengan review singkat sebuah film berjudul “Oeroeg”. Film ini sempat saya jadikan bahan diskusi dengan mahasiswa di Prodi Pendidikan Sejarah pada mata kuliah Sejarah Indonesia Baru beberapa bulan belakang. Tugas mereka mudah, cukup duduk manis dan tonton filmnya sampai habis. Setelah itu, mereka saya bebankan membuat review yang sekaligus menjadi tugas Ujian Akhir Semester. Satu hal yang saya tekankan, hindari plagiasi. Bagi saya, plagiarisme adalah virus mematikan dalam dunia ilmiah dan kejahatan akademik yang susah dimaafkan. Mahasiswa yang kedapatan melakukan hal itu tidak akan saya luluskan.

Rencananya, tulisan terbaik akan saya orbitkan ke Tatkala. Namun hingga seluruh tugas saya cermati, tidak satupun yang memuaskan harapan saya. Dari pengalaman itu, hikmah yang bisa saya petik bahwa penyakit kronis yang menghinggapi sebagian besar mahasiswa  sejarah adalah kehilangan gairah membaca. Padahal aktivitas ini adalah kredo ultima yang harus dijejaki. Tradisi membaca, perlahan namun pasti mulai tersisih oleh budaya tontonan. Akibatnya, tulisan yang dibuat miskin ide dan gagasan, kekurangan narasi dan referensi. Lalu,  jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah ini adalah copypaste internet. Saya pikir, kesalahan tidak sepenuhnya dari mereka, bisa jadi saya yang kurang bisa  mendidik dengan harapan yang terlalu tinggi.

Meskipun film ini dibuat hampir 3 dekade (rilis internasional berjudul “Going Home” pada 1993, setting kolonial 1920-1950), sepertinya masih relevan dipakai untuk masa kini, khususnya dalam menakar identitas Indonesia jelang hari jadinya yang ke-74 pada 17 Agustus 2019.  Film ini berkisah tentang interaksi dua bangsa, Barat yang diwakili oleh Belanda, dan Timur oleh Indonesia. Dua tokoh utama dalam film yang terlibat pergumulan batin, Johan dan Oeroeg, berada pada identitas yang terbelah pada awal 30-an sejak gelombang necisme Bung Karno dkk beserta nasionalisme borjuis yang digagas oleh kalangan priyayi terpelajar mulai menjalari Hindia Belanda (Indonesia sekarang).

Di awal tahun 1920-an, hubungan antara Johan, si ras putih dan Oeroeg, wong pribumi (secara sarkastik dipanggil inlander) nampak mesra. Kolonialisasi Pencerahan Eropa yang dibawa diaspora Belanda ke Hindia melalui jalur perdagangan sejak era Cornelis de Houtmen 1596 hingga pembentukan Kongsi Dagang Hindia Timur VOC 1602, tidak pernah  tuntas. Meski Pencerahan melahirkan ide-ide humanisme dan egalitarianisme, sekaligus juga superioritas ras yang berakibat pada kolonisasi dan kolonialisasi seberang lautan, namun  warisan primitif the dark age masih tercecer dalam memori kolektif Eropa dan terekam dalam pola hubungan sosial yang diskriminatif juga dominatif. Khususnya teman-teman kulit putih Johan yang sering melakukan rasisme terhadap Oeroeg di dalam pergaulan. Namun tidak bagi Johan, Oeroeg bukan hanya anak dari jongoes perkebunan milik bapaknya, melainkan seseorang yang Ia anggap sahabat dan bagian terpenting yang mengisi masa-masa kecil penuh warna di Hindia Belanda.

Hubungan yang harmonis itu pada akhirnya nampak problematis dan dilematis berujung bubar. Puncaknya terlihat pada salah satu scene. Saat tengah menikmati keramaian kota, Johan dan Oereoeg dewasa mendapat perlakuan kasar dari seorang penjual sate. Si penjual mengatakan bahwa lebih baik merugi daripada harus menjual satenya kepada penjajah. Penjajah yang dimaksud di sini adalah orang berkulit putih, memakai topi dan berstelan jas. Oeroeg meradang dan membela habis-habisan Johan, namun akhirnya Ia sadar bahwa batas rasial tidak mungkin cair sampai kapanpun juga setelah melihat dengan langsung perilaku Johan yang justru memilih duduk bersama teman-teman Belandanya di sebuah ruangan bioskop yang tempat terpisah dengan bumiputera yang mereka sebut inlander.

Tensi sosial dan politik yang mengarah kepada pembentukan identitas nasional semakin meninggi tatkala Republik Indonesia lahir di masa vakum of power pada 17 Agustus 1945. Meski begitu, revolusi sosial yang dicitakan sedikit mandeg ketika Belanda datang kembali ke Hindia setelah sebelumnya mengalami kekalahan dari Jepang pada Perang Asia Pasifik 1942. Hanya karena keikusertaan Amerika dan Uni soviet, kemenangan Sekutu tinggal menunggu hari. Pada Perang Asia Pasifik, khususnya, Jepang dengan polah arogan telah membangunkan raksaa tidur Amerika Serikat melalui serangan mematikan ke pangkalan militer AS di Hawai, Pearl Harbour pada 1937. Amerika yang terikat doctrin monroe berada dalam dilema. Ikut perang atau berdiam diri. Memilih perang berarti sama saja mengubur warisan Monroe yang telah menjadi konsensus nasional. Di sisi yang lain, jika hanya berdiam diri terhadap kecongkakan Jepang, sama saja dengan membiarkan mereka mengacak-acak kedaulatan nasional Amerika. Atas nama kedaulatan nasional yang dikoyak Jepang, pilihan terbaik yang mungkin dilakukan  adalah mengkhianati warisan Monroe dan menyatakan perang terhadap koalisis Jepang, Jerman dan Italia

Penjajahan, walau bagaimanapun selalu lebih banyak dampak negatifnya daripada dampak positif,  khususnya bagi manusia yang terjajah. Dampak negatif itu di antaranya menimbulkan depersonalisasi dan alienasi kultural sosial yang dibatinkan (embodied). Depersonalisasi bukan hanya mengasingkan gagasan pencerahan tentang manusia, melainkan mengubah transparansi realitas sosial yang telah ada sebelumnya. Apabila tatanan historisitas Barat di suatu negara jajahan terganggu, yang lebih terganggu lagi adalah representasi fisik dan sosial subjek manusianya. Dalam kondisi penjajahan, humanitas yang natural akan berubah menjadi (ter) asing.

Alienasi kultural yang dialami masyarakat terjajah memusatkan diri pada ambivalensi identifikasi fisik yang membuatnya menderita. Tatapan manusia kulit putih, pada satu sisi dapat memporakporandakan manusia kulit hitam/berwarna. Kulit hitam/berwarna oleh kulit putih sering dituduh sebagai primitif, memiliki defisiensi intelektual, ras rusak, kanibal, akhirnya membenci eksistensi dirinya. Oleh sebab itu, dalam manusia kulit hitam/berwarna selalu timbul hasrat untuk melarikan diri dari keberadaan dirinya. Orang kulit putih pada kasus itu bisa dianggap sebagai ahlinya dalam membuat orang kulit berwarna membenci identitas dirinya.

Pertanyaannya kemudian, masih relevankah depersonalisasi dan alienasi kultural dampak buruk penjajahan dalam membaca masyarakat terjajah kontemporer, di mana penjajahan  fisik telah berakhir sejak negara-negara Dunia Ketiga memproklamirkan diri sebagai nation state baru melalui cangkokan ideologi penjajah? Jawabannya MASIH. Meski telah merdeka dan terjadi serangkaian revolusi fisik maupun sosial, jejak-jejak depersonalisasi yang telah lama menubuh itu tidak begitu saja hilang atau lenyap.  Jejak-jejak depersonalisasi dan alienasi kultural itu misalnya dapat kita lihat dari inferioritas (perasaan rendah diri) bangsa terjajah. Meski penjajahan fisik telah berlalu, namun trajektori kekuasaan beralih pada dominasi mental yang akan sangat susah dideteksi kehadirannya.

Di era kesejagatan, di mana akses informasi tidak bisa dibendung, trajektori dominasi mental berwujud iklan-iklan kecantikan, gaya hidup konsumtif, desakralisasi sekaligus sekularisasi segala bidang kehidupan. Kecanggihan pola pikir kulit putih untuk menghasilkan kebencian eksistensi diri kulit hitam/berwarna bertemu pada titik ini. Sebagai contoh adalah kelihaian kapitalisme produk penjajahan dalam mengkemas konsep “putih=cantik” dalam produk iklan kecantikan. Akibatnya, narasi cokelat atau eksotis “absen” dalam perbincangan perempuan-perempuan di Negara Dunia Ketiga. Sebagian besar perempuan yang telah terkooptasi iklan kecantikan itu akan menganggap putih sebagai tujuan, bahkan obsesi yang harus diraih. Tidak putih, akan dengan mudah dianggap asing lalu ter-asing dalam pergaulan, dibuly bahkan dicaci.

Sejalan dengan putih = cantik, kapitalisme  juga sukses mencangkokkan visualisasi instan “menjadi putih” ke dalam teknologi. Melalui AI (artificial intelligent), obsesi “putih” yang biasanya diraih dengan cara konvensional dirasa lama dan membuang banyak waktu bisa dilakukan secara instan. Produk HP Cina, Korea dan Amerika yang membanjiri pasar gadget tanah air digandrungi oleh penduduk berkode +62 ini. Selain menawarkan harga miring, juga ditopang kemampuan kamera dalam menghasilkan “putih” sempurna yang siap diunggah ke media sosial.

Dengan melihat dominasi kulit berwarna seperti Cina, Jepang dan Korea dalam industri gadget yang menghasilkan stigma putih=cantik, maka “putih” vis a vis  hitam/berwarna, tidak lagi berupa urusan fisik, namun sebuah konsep kunci untuk membaca kemajuan pola pikir manusia. Alasanya, mereka, si kulit berwarna yang kini mendominasi perekonomian dunia tidak hanya berhenti pada proses meniru (mimikri sosial), lebih daripada itu adalah menubuhkan dan lalu menerapkan cara-cara itu melebihi kemampuan yang dimiliki Barat putih kontemporer.   

Alienasi identitas telah membuat keberadaan seseorang menjadi terbelah, membayangi dirinya sebagai manusia terjajah yang merupakan refleksi dari kegelapannya. Oleh sebab itu, manusia terjajah memiliki hasrat untuk keluar dan melarikan diri, lalu masuk ke dalam identitas lain yang diidealkan. Agar  eksis, terjajah harus masuk ke dalam ruang, tubuh, pikiran, dan pandangan penjajah. Di era pasca kolonial dimana penjajahan fisik tidak lagi menjadi “hantu” yang menakutkan dan digantikan dengan penjajahan mental, sosial dan kebudayaan dalam wujud iklan televisi dan media cetak, 

Selain alienasi, mimikri sebagai bentuk perlawanan dari terjajah tidak bisa dikesampingkan. Mimikri mengandung dua pengertian. Pertama, mimikri dalam kategori biologis merupakan kemampuan jenis binatang tertentu seperti kupu-kupu untuk menyerupai jenis lain yang lebih kuat atau yang mempunyai daya pertahanan lebih besar. Kemampuan ini dapat pula berarti kemampuan mengubah warna diri menjadi seperti warna daun dan bagian tanaman lain suatu tumbuhan. Kedua, konsep mimikri yang dipakai Homi K. Babha mengacu pada mimikri dalam kategori bahasa. Mimikri dalam konteks kolonial dipahami sebagai hasrat (desire) atau identifikasi dari terjajah menjadi sama dengan penjajah, tetapi tidak sepenuhnya. Ia hadir sebagai aktualisasi perbedaan.

Meski demikian, mimikri sebagai sebuah analisis untuk membedah fenomena identifikasi terjajah terhadap penjajah ternyata mengandung ambivalensi, di satu sisi terjajah berhasrat membangun identitas sejenis, namun di saat bersamaan menegasikan perbedaan dengan penjajah. Ambivalensi dapat dilihat pada dua hal.  Pertama, mimikri adalah suatu strategi yang rumit untuk menata kembali, mengatur, mendisiplinkan, dan mencocokkan diri dengan penjajah sebagai visualisasi kekuatannya. Kedua, mimikri juga merupakan ketidakcocokan, sebuah perbedaan atau perlawanan yang melekat pada fungsi strategis kekuatan dominasi kolonial.

Upaya yang sangat mungkin dilakukan terjajah untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai the part of penjajah bukan saja melalui bahasa, melainkan lebih banyak melalui gaya hidup sebagai manifestasi dari hasrat terjajah untuk menyesuaikan diri dengan kehendak zaman, mencapai kemajuan, dan menempatkan diri sama dengan bangsa penjajah. Salah satu bentuk gaya hidup terjajah nampak pada ketertarikan terhadap busana Eropa. Praktik-praktik berpakaian pemuda Indonesia yang telah mendapatkan pendidikan Barat itu melahirkan apa yang dikenal dengan busana necis. Gaya ini dipelopori pemuda Indonesia periode 1900-an seperti Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Menjelang 1940-an, ketika  gelombang nasionalisme semakin kuat pengaruhnya, Soekarno mempelopori necisme lokal, maksudnya meniru busana Barat, namun pada saat yang bersamaan menegasikannya dengan peci yang dikenakan di kepala sebagai sebentuk identitas perlawanan terhadap penjajahan Barat.

Titik persinggungan antara mempelajari Barat namun di saat yang bersamaan tetap memancangkan perbedaan identitas adalah kemunculan kelas menengah, atau yang sering disebut elit priyayi. Mereka adalah sebuah kelas dimana pada tubuhnya mengalir darah lokal, akan tetapi cita rasa, pandangan, moral, dan intektualnya adalah Barat. Dalam kasus Indonesia, karena keistimewaan kedudukannya dalam struktur sosial, mereka dengan leluasa mendapatkan akses modernitas Barat dan nilai-niai pencerahan Eropa melalui pelayanan pendidikan. Ambiguitas dan ambivalensi identitas terjajah yang diwakili kelas menengah semakin nampak manakala dengan bermodal pendidikan Barat, secara frontal menggunakan ide-ide itu untuk melawan Barat. Ideologi nasionalisme misalnya bisa dikatakan sebagai kegiatan konsumsi kaum priyayi Indonesia terhadap produk Barat. Alasannya, nasionalisme sebagai sistem ide, adalah fenomena termutakhir masyarakat Eropa sejak abad XIX yang mendorong lahirnya negara-bangsa baru menggantikan kerajaan-kerajaan feodal. [T]

Tags: filmFilm OeroegkemerdekaanPendidikansejarah
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Tak Ada Baridin-Ratminah di Jalan Kota #2 – [Catatan dari Cirebon]

Next Post

Novel Psycho-thriller yang Mencekam, “Rainbow Cake”, Dibedah di JKP Denpasar

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Novel Psycho-thriller yang Mencekam, “Rainbow Cake”, Dibedah di JKP Denpasar

Novel Psycho-thriller yang Mencekam, “Rainbow Cake”, Dibedah di JKP Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co